LOGINmet pagi, lanjut yaa
“Banyak bacot kamu!” bentak salah satu dari empat orang penjahat ini dengan geram.Rasman yang sudah menduga sejak awal kalau mereka ini pasti merupakan musuh besar dari Sania alias Alice, tanpa ada keraguan sedikit pun langsung bergerak secepat kilat.Sambil satu tangan kokohnya tetap memegang erat menjaga kepala baby Stefani di dadanya, tubuh tegap Rasman berputar cepat.Dia melayangkan sebuah tendangan yang sangat kuat, lalu kaki panjangnya bergerak berputar 180 derajat menyapu udara. Brakkk!Dua orang penjahat langsung tumbang dan terkapar sekaligus di atas aspal trotoar. Di saat yang bersamaan, Raj gercep mencabut pistol taktisnya dan...Dorr.. dorr...!Dua kali tembakan Raj langsung telat mengenai kaki kedua orang penjahat lainnya, padahal awalnya sasaran yang dibidik oleh si pangeran ondel-ondel itu adalah bagian dada tubuh mereka.Ya, apa boleh buat, efek panik membuat bidikannya melosot ke bawah!Tapi di saat yang bersamaan, Rasman berseru dengan sangat keras, memerintahkan a
“Sudahlah brother, itung-itung latihan, kan kelak ente juga akan jadi papa, jadi bila istri ente kecapekan, kan bisa gantian tuhh,” olok Raj.Mau tidak mau, dengan langkah kaki yang teramat kaku dan pasrah, si flamboyan kakap ini terpaksa menggendong baby Stefani menuju ke arah kamar mandi mewah hotel bintang lima tersebut.Otak genius sang agen FBI mendadak mati kutu, dia bisa meretas satelit dan menembak jitu kepala penculik dari atas motor sport yang melayang, tapi menghadapi bak mandi air hangat lengkap dengan bebek karet dan sabun bayi antipari, Rasman benar-benar merasa sedang berada di ambang pertempuran terbesar dalam hidupnya...Raj heran juga, kenapa Rasman lama sekali memandikan si baby montok ini di dalam kamar mandi mewah hotel ini.Dari luar malah terdengar suara tawa renyah dan celotehan riang di antara keduanya di dalam kamar mandi mewah tersebut.Begitu Raj melangkah masuk untuk melihat bagaimana sebenarnya cara Rasman memandikan si bayi montok ini, tawa Raj langsung m
“Nah, kan! Aku bilang juga apa, Brother? Agaknya papa asli dari anak ini mukanya atau minimal bentuk badannya mirip banget sama kamu. Buktinya lihat sendiri tuh, dia tahu mana dada bidang yang asli kaya raya, pantesan langsung nempel terus!” bisik Raj kembali menyeringai nakal menahan tawa.Rasman sendiri sampai dibuat tidak bisa bicara apa-apa lagi untuk membela diri. Dan begitulah nasib sang flamboyan muda sepanjang hari itu...Sampai waktu beranjak malam, setiap kali tubuhnya berpisah atau ditaruh menjauh dari Rasman, si baby Stefani ini pasti akan langsung terbangun dan berubah menjadi sangat cerewet.Tetapi, begitu dada bidang Rasman memeluknya lagi dengan hangat, dia akan langsung kembali bobok dengan teramat tenang.Sambil menyandarkan punggung kokohnya di sofa dengan baby Stefani yang tertidur pulas mendusel nyaman di atas kaus singlet putihnya, sepasang mata elang Rasman tetap menatap tajam ke arah layar laptop siber milik Raj.Di balik suasana komedi kamar hotel bintang lima
Sesampainya mereka di dalam kamar hotel mewah kembali, Rasman terpaksa harus mengambil alih laptop canggih milik mereka untuk mulai melakukan pelacakan siber tingkat tinggi demi memburu posisi terbaru dari Jack Bone, Si Mata Satu, dan juga Sania Pandya alias Alice.Gara-garanya, Raj harus menjaga baby Stefani.Di sela-sela jemarinya yang bergerak cepat mengetik di atas papan ketik, Rasman... malah hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Raj yang justru sedang sibuk asyik bercanda ria dengan si baby montok ini.Lucunya, baby Stefani tampak sering terkekeh-kekeh geli sendiri setiap kali Raj melancarkan candaan konyol dengan wajah hebohnya di atas ranjang.“Raj, gantian dong! Capek banget aku di depan komputer terus. Tinggalkan dulu si bayi itu, biar sekarang aku yang menjaga baby Stefani bergantian!” cetus Rasman sembari meregangkan otot-otot dada bidangnya yang terasa pegal.Kali ini mereka memang harus kerja keras lacak pelarian musuh-musuhnya, sebab pihak musuh pun gunakan b
Rasman dan Raj kini sudah sampai di sebuah flat yang dimaksud oleh Alice. Flat penyamaran ini terletak di lantai dua sebuah bangunan tua.Berkali-kali Raj memencet tombol bel di samping kusen pintu, tetapi tetap tidak ada jawaban atau tanda-tangan kehidupan dari arah dalam.“Bagaimana ini, Brother?” tanya Raj cemas sambil memandang ke arah Rasman.Belum sempat Rasman menjawab pertanyaan sahabatnya itu, sekonyong-konyong datang melangkah seorang wanita setengah tua dari arah lorong tangga.“Kalian berdua yang bernama Raj dan Rasman, bukan?” tanyanya dengan logat lokal.“Benar, itu saya dan ini sahabat saya, Rasman. Ada apa, Mama?” sahut Raj gercep menggunakan bahasa Hindi yang fasih.“Tadi Sania menitipkan kunci ini padaku. Katanya, kalau kalian berdua yang datang ke sini, kunci ini harus segera diserahkan pada kalian,” kata si Mama atau bibi tetangga flat ini menjelaskan.Raj pun langsung menerima anak kunci tersebut dari tangannya. Dan tepat setelah si Mama itu melangkah pergi menjauh
Raj langsung terperanjat kaget, buru-buru melipat setengah layar laptop canggihnya dengan wajah yang mendadak memerah karena salah tingkah.Begitu dia mendongak melirik ke arah atas, jantung si pangeran ondel-ondel ini rasanya mendadak mau copot.Wanita cantik yang berdiri di depannya itu mengenakan gaun malam kasual sewarna madu yang sangat ketat, menonjolkan bentuk dada dan lekuk pinggulnya yang teramat ranum.Rambut panjangnya yang wangi berembus halus ditiup angin pendingin ruangan kafe, menyemburkan aroma parfum melati bercampur musk yang sangat sensual.Ditambah lagi, sepasang mata bulat besarnya yang tajam sedang menatap lurus ke arah Raj dengan sebuah senyuman misterius yang teramat dingin di bibir sensualnya.Dialah... Alice Aurelli Khan alias Sania Pandya! Sang ular betina pembunuh bayaran dari kelompok The Viper yang tadi sore membawa kabur duit 25 juta dolar milik Rasman!“Hmm... Menonton pertunjukan gratis yang teramat panas di siang bolong, Tuan Raj?” sapa Alice dengan su







