LOGINmet pagi, lanjut yaa
Saat ini, ia hanya mengenakan kemeja motif lengan pendek yang halus dan celana jins selutut—potongan gaya santai yang lebih mirip seperti orang yang hendak pergi jalan-jalan sore ke mal kota besar.Fisiknya pun tidak intimidatif. Kepalanya sudah setengah botak di bagian depan, dengan perut yang tampak sedikit gendut.Harus diakui wajahnya terlihat cukup tampan untuk pria seusianya, dengan tinggi badan berkisar sekitar 168 sentimeter."Mirip mafia...?" batin Rasman.Pria inilah Tungkai, yang selama ini menjadi momok menakutkan bagi warga Kampung Muara Asih.“Rasman Dewantara... ganteng dan berwibawa, mirip 100 persen dengan Jenderal Satria dan Jenderal Salman..hmm dan yang satunya lagi siapa?” cetus Tungkai sembari mengarahkan pandangannya untuk menatap wajah tampan Irman.Sebuah senyuman simpatik yang tampak begitu ramah terkembang di bibir pria paruh baya itu, seolah-olah sedang menyambut sahabat lama yang berkunjung ke rumahnya.“Saya Irman Dewantara. Adiknya Bang Rasman,” sahut Irm
Di halaman yang luas ini terlihat berjejer 10 buah mobil yang rata-rata premium, di depan Rasman juga berdiri sebuah rumah mewah bertingkat dua.Di situasi genting di mana orang biasa pasti akan memilih kabur atau gemetar, Irman lagi-lagi dibuat takjub oleh mentalitas abangnya.Remaja itu harus mengakui dalam hati bahwa Rasman adalah pria sejati yang benar-benar tidak mengenal kamus rasa takut.Tanpa keraguan satu senti pun, Rasman justru melangkah tegap, masuk melewati gerbang yang terbuka itu dan berjalan langsung ke tengah-tengah kepungan musuh.“Hmm... Bagus. Setidaknya kalian masih memiliki sedikit itikad baik untuk menerimaku di sini,” cetus Rasman kalem.Suaranya yang datar bergaung di pekarangan yang mendadak sunyi, sarat akan nada meremehkan yang sangat berani.Matanya terkunci pada seorang pria yang berdiri di paling depan, bertindak sebagai pimpinan barisan.Pria itu berusia sekitar 35 tahun, dengan kedua lengan yang dipenuhi tato hitam tebal bermotif kasar.Dari gestur tubu
“Bang, lihat. Agaknya itu rumahnya. Hebat juga si preman kampung ini, rumahnya gede banget, pakai pagar beton kokoh lagi,” cetus Irman.Matanya menyipit memindai arsitektur bangunan di depan mereka yang tampak kontras dengan rumah panggung warga sekitar. Rumah itu layaknya benteng kecil di tengah keterasingan desa.“Waspada, Irman. Pelankan gerakanmu. Aku yakin anak buahnya pasti banyak di dalam,” bisik Rasman, suaranya mendadak berubah mendalam dan dingin.Aura santai seorang abang lenyap seketika, berganti total menjadi sosok mantan agen FBI yang siap mencabut nyawa.Dengan gerakan dingin yang sangat terlatih di balik jaket kulitnya, tangan kanan Rasman menarik keluar pistol semi-otomatis berizin resmi miliknya.Ia memeriksa magasin, memastikan peluru sudah bertengger di kamar senapan, lalu mengokangnya dengan bunyi klik yang presisi dan mematikan.Irman seketika terpengaruh oleh perubahan aura abangnya yang mendadak dingin dan mematikan.Secara otomatis, mental petualang di dalam da
Suasana di sudut dapur yang remang-remang itu kian membara. Ketukan ritme jantung keduanya berpacu beriringan dengan deru napas yang memburu.Logika Rasman sudah benar-benar lumpuh, digantikan oleh gelora yang menuntut kepuasan. Tangan kekarnya bergerak turun, meraba pinggul Bulan, dan perlahan hendak menyusup ke balik daster tipis itu untuk menanggalkan 'segitiga bermuda' yang menjadi benteng terakhir tubuh molek sang janda jelita.Bulan sendiri sudah memejamkan mata, pasrah dan siap menyerahkan segalanya pada malam yang dingin ini.Namun, tepat di saat puncak gairah itu hampir tak terbendung...“Upsss... Maaf!” sebuah suara cengengesan memecah keheningan dengan sangat tidak sopan.Deg!Bulan dan Rasman seketika tersentak laksana disengat lebah. Jantung mereka serasa melompat ke tenggorokan.Demi mendengar suara familiar itu, Bulan dengan gerakan panik luar biasa langsung mendorong dada bidang Rasman sekuat tenaga hingga cengkeraman pria itu terlepas.Tanpa berani menoleh sedikit pun
“M-maaf Bulan! Aku benar-benar minta maaf, aku pikir tadi di dalam tidak ada orang!” seru Rasman dengan suara berbisik yang gugup, panik yang jarang sekali melanda seorang mantan agen lapangan.Bukannya langsung keluar dari toilet ini, Rasman malah tetap bertahan dan...matanya terus menatap bagian bawah yang aduhai ini.“B-Bang...t-tolong keluar dulu..!” pinta Bulan yang juga kaget campur malu-malu meong di tatap segitunya oleh pemuda yang menarik hatinya ini.“Ohh...i-ya m-maaf!”Rasman lalu buru-buru menarik tubuhnya mundur dan menutup kembali pintu kayu tersebut.Namun, sebelum kesadarannya pulih total, insting dasar lelakinya—atau yang biasa disebut 'mata biawak'— tadi sudah tanpa sengaja justru bergulir turun, menatap lurus ke arah bagian bawah tubuh Bulan yang terekspos bebas di depan matanya.Kulitnya yang putih bersih kontras dengan remang toilet, menyajikan pemandangan terlarang yang seketika membuat darah di sekujur tubuh Rasman berdesir dan jakunnya kontan naik turun...“Due
Ia kemudian memberi isyarat halus kepada Bulan. “Sekarang, sebaiknya Pak Ukai istirahat dulu. Biarkan obatnya bekerja penuh,” tambah Rasman setelah melihat pria tua itu sudah beberapa kali menguap karena kantuk yang mulai menyerang, efek obat.“Baiklah, Nak Rasman... Nak Irman. Terima kasih banyak. Malam ini kalian silakan tinggal di rumah ini. Anggap saja rumah sendiri. Nanti kalian akan dilayani oleh kedua anak gadisku ini,” kata Ukai dengan suara yang kian lirih.Ia sempat menambahkan dengan nada sendu bahwa istrinya telah meninggal dunia sejak dua tahun yang lalu, meninggalkan dirinya hanya bersama Bulan dan Sulin.Bulan dan Sulin kemudian mengantar kedua pemuda kota itu menuju ke kamar depan. Sebuah kamar panggung yang cukup luas dan bersih, yang selama ini memang dikhususkan bagi tamu-tamu kehormatan yang berkunjung ke rumah kepala adat.Setelah meletakkan ransel-nya, seakan-akan sudah ada kesepakatan tidak tertulis di antara mereka, pembagian tugas pun terjadi secara alami.Suli







