ログインSuasana di dalam ballroom hotel terasa begitu menyesakkan bagi Arianna. Lampu kristal yang berkilau, denting gelas sampanye, dan tawa basa-basi para tamu seolah mengepungnya.
Mario terus menggenggam pinggangnya, memamerkannya pada setiap kolega bisnis seolah ia adalah piala kemenangan yang baru saja dimenangkan dari taruhan mahal. "Caruso! Jadi ini alasan kau menghilang dari peredaran beberapa minggu terakhir?" Seorang pria paruh baya dengan perut buncit mendekat, matanya menatap Arianna dengan binar yang tidak sopan. "Luar biasa. Kau selalu tahu cara memilih koleksi terbaik." Mario tidak tersenyum, namun ia menarik Arianna lebih rapat ke sisinya, membiarkan tangan besarnya mendekap pinggang Arianna yang terekspos. "Perkenalkan, ini Arianna," ucap Mario dengan nada datar yang penuh penekanan. "Istriku." Terdengar gumaman terkejut dari beberapa pria di lingkaran itu. Mereka menatap Arianna dari ujung kepala hingga kaki, seolah sedang menilai harga dari perhiasan hidup yang dibawa Mario. "Cantik sekali. Kau sangat beruntung, Mario," sahut kolega lainnya. "Tapi... sepertinya aku pernah melihat wajah ini sebelumnya. Bukankah dia terlihat sangat mirip dengan—" "Dia tidak terlihat seperti siapa pun," potong Mario cepat, suaranya mendingin hingga beberapa derajat. Cengkeramannya di pinggang Arianna mengeras, membuat gadis itu menahan ringisannya. "Arianna adalah milikku sendiri. Dan aku tidak suka jika ada yang membandingkan milikku dengan hal lain." Arianna hanya bisa menunduk, mencoba mengatur napasnya yang mulai tidak beraturan. Ia merasa seperti pajangan yang sedang dilelang. Pembicaraan itu terus berlanjut tentang saham dan ekspansi bisnis, seolah Arianna hanyalah patung yang kebetulan berdiri di sana. "Permisi, aku perlu ke toilet sebentar," bisik Arianna akhirnya, suaranya hampir hilang. Mario menoleh, menatapnya tajam seolah menilai apakah Arianna sedang mencoba melarikan diri. "Lima menit. Jangan membuatku menjemputmu, Arianna." Arianna tidak menjawab. Ia segera melangkah pergi, menjauh dari kerumunan yang membuatnya merasa tercekik. Di dalam toilet yang sunyi, ia menatap pantulannya di cermin. Riasan tebal itu memang menutupi memarnya, tapi tidak bisa menyembunyikan luka di matanya. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan jantungnya sebelum kembali keluar. Namun, saat ia baru saja berbelok di koridor yang agak sepi menuju ballroom, tubuhnya menabrak sesuatu yang keras. "Ah!" Arianna terhuyung ke belakang. Belahan tinggi pada gaunnya membuat keseimbangannya goyah. Sebelum ia sempat jatuh, sepasang lengan yang kuat dengan sigap menangkap pinggangnya. Arianna terkesiap, tangannya secara refleks memegang bahu pria asing itu agar tidak jatuh. "Hati-hati, Bellissima," suara itu terdengar bariton dan sangat lembut. Arianna mendongak dan terpaku. Pria di depannya sangat tampan dengan mata yang meneduhkan. Pria itu tidak segera melepaskan pelukannya di pinggang Arianna, melainkan menatap wajah Arianna dengan kekaguman yang jujur. "Kau tidak apa-apa?" tanya pria itu lagi. Arianna sedikit canggung, ia perlahan berdiri tegak. "Ya... aku baik-baik saja. Terima kasih sudah menolongku." Arianna memberikan senyum tipis—sebuah senyum tulus yang membuat pria di hadapannya sejenak tertegun. "Aku belum pernah melihatmu di acara Mario sebelumnya," pria itu mengulurkan tangannya dengan sopan. "Namaku Alessandro. Alessandro Volkov." Arianna baru saja hendak menyambut uluran tangan Alessandro dan memperkenalkan dirinya, namun sebuah aura dingin tiba-tiba menusuk dari belakang. Di kejauhan, Mario berdiri dengan mata memicing tajam. Rahangnya mengeras melihat tangan Alessandro yang masih menggantung di udara menanti tangan istrinya. "Sialan," umpat Mario rendah. Sebelum jemari Arianna menyentuh kulit Alessandro, Mario sudah melangkah lebar dan menyambar pergelangan tangan Arianna dengan kasar. Ia menarik gadis itu ke belakang tubuhnya dengan sentakan kuat. "Jauhkan tanganmu darinya, Volkov," desis Mario, suaranya mengandung ancaman kematian yang nyata. Alessandro tidak terlihat takut. Ia justru melipat tangan di depan dada dan memberikan smirk tipis yang provokatif. "Aku hanya menolong seorang wanita cantik yang hampir jatuh, Mario. Dia terlihat jauh lebih manis saat tersenyum daripada saat bersamamu." Gigi Mario gemertak. "Dia bukan sekadar wanita. Dia milikku." Tanpa sepatah kata lagi, Mario mencengkeram tangan Arianna dan menyeretnya menjauh dari sana. "Mario, sakit! Lepaskan!" protes Arianna pelan, namun Mario justru mempercepat langkahnya, tidak peduli pada rintihan kesakitan Arianna. Sementara itu, Alessandro berdiri diam di koridor, menatap punggung mereka yang menjauh. Ia menyentuh bibirnya, lalu senyum miringnya semakin lebar. "Begitu rupanya," gumam Alessandro pelan. "Kau menemukan mainan baru yang sangat menarik, Mario. Mari kita lihat seberapa lama kau bisa menyembunyikannya dariku." Alessandro tersenyum, ia sangat terpukau dengan kecantikan dan keseksian Arianna. Ia berdeham pelan. "Sepertinya, cara lama akan kembali membuatmu hancur. Mario." Sementara itu, Mario terus menyeret Arianna hingga mereka tiba di sebuah lorong panjang, sedikit cahaya, dan sangat sepi. Arianna memberontak, dan Mario melepaskan genggamannya. "Sakit... kenapa kau tid–" Arianna memejamkan matanya, ia mencengkram tuxedo Mario, dan kakinya berjinjit sedikit. Saat Mario tiba-tiba menyergapnya. Mencengkram pinggangnya dengan sangat erat, dan mencium bibir Arianna dengan buas, gadis itu memberontak. Namun, Mario menggigit bibirnya hingga berdarah, dan melesatkan lidahnya. Ia kembali mencium Arianna dengan liar, membuat Arianna menangis. Bahkan kini Mario menyentuh kecil bagian dada sintalnya dengan kasar, dan merobek gaun itu. Arianna membelalakkan matanya, ia sangat terkejut saat mendengar koyakan gaunnya, dan kini ia menunduk melihat bagian tubuhnya yang terlihat sedikit saat Mario sudah melepaskan ciumannya. "Apa yang kau laku–" "Wanita murahan!" Mario meneriakkan seruan itu pada Arianna. Arianna tertegun, hatinya teriris, angin berhembus menerpa kulit tubuhnya, dan menyayat hatinya. Apa yang Mario katakan barusan? Apakah telinganya tidak salah mendengar? Bagian mana ia bisa disebut sebagai seorang–wanita murahan? "Wanita murahan?" lirih Arianna, matanya kembali meneteskan air mata. Mario mencengkram dagu Arianna dengan erat. "Yes, you’re a shameless slut." "What do you mean?" Arianna menatap Mario dengan api kemarahan. Mario mengeraskan rahangnya, ia semakin mencengkram dagu Arianna."Kau masih bertanya apa maksudku? Are you kidding me, Arianna?" Mario berteriak dengan ledakan emosinya. "Kau istriku! Kau harus ingat itu, dan tidak ada laki-laki manapun yang bisa menyentuhmu meskipun hanya seujung jarinya Arianna!" napasnya memburu di depan wajah Arianna. Arianna tidak lagi mencoba menahan isak tangisnya. Ia membiarkan air mata itu membasahi pipinya, merusak riasan mahal yang tadinya menutupi luka semalam. Dengan tangan gemetar, ia mencoba menutupi bagian dadanya yang terekspos karena robekan gaun itu, namun Mario justru menepis tangannya. "Kenapa? Sekarang kau malu?" Mario menyeringai kejam, matanya yang gelap menatap rendah pada Arianna. "Bukankah kau tadi sangat menikmati pelukan Volkov? Kau tersenyum padanya seolah kau adalah gadis suci, padahal kau hanya barang yang dibayar untuk melayani kebutuhanku." Arianna mendongak, menatap Mario dengan tatapan yang hancur sekaligus penuh kebencian. "Aku tersenyum karena dia memperlakukanku seperti manusia, Mario. Sesuatu yang tidak pernah kau lakukan sejak aku menginjakkan kaki di rumahmu!" Mario tertegun sejenak, namun egonya yang terluka jauh lebih besar daripada rasa bersalahnya. Ia melepaskan cengkeraman di dagu Arianna dengan sentakan yang membuat kepala gadis itu terlempar ke samping. "Tutup mulutmu," desis Mario. Ia melepas tuxedo-nya dengan kasar dan melemparkannya ke arah Arianna, menutupi tubuh gadis itu yang bergetar karena dingin dan takut. "Pakai itu. Aku tidak ingin orang lain melihat apa yang sudah aku rusak." Mario berbalik, melangkah pergi tanpa menoleh sedikit pun, meninggalkan Arianna yang merosot jatuh ke lantai koridor yang sunyi. Arianna memeluk tuxedo hitam itu erat-erat. Bau sandalwood yang biasanya terasa maskulin kini terasa seperti aroma penjara. Di bawah remang lampu koridor, ia menyadari satu hal yang menyakitkan: ia bukan sedang dicintai dengan posesif, ia sedang dihancurkan oleh pria yang menganggapnya sebagai properti tanpa hati.Arianna masih menyentuh sudut bibirnya, merasakan sisa hangat yang tertinggal di sana. Pikirannya kacau. Kecupan itu... rasanya tidak sinkron dengan kata-kata kejam yang Mario ucapkan tadi malam. "Kau gila, Arianna. Jangan terbuai," bisiknya pada diri sendiri. Kepalanya yang masih terasa berat akhirnya memaksa Arianna untuk kembali berbaring. Di bawah pengaruh obat dari perawat, ia akhirnya jatuh tertidur. Sore harinya, ia terbangun dengan tubuh yang terasa jauh lebih ringan. Demamnya sudah turun. Rasa sesak karena terus terkurung membuat Arianna nekat untuk keluar. Dengan langkah pelan, ia menyusuri lorong mansion yang sunyi hingga langkahnya terhenti di depan sebuah pintu kayu jati besar di ujung koridor lantai dua. Pintu itu berbeda—tidak ada gagang, hanya sebuah pemindai sidik jari yang dingin di sampingnya. Arianna teringat ucapan Enzo bahwa ruangan itu terlarang. Ia ingin mendekat, namun rasa takut akan amarah Mario lebih besar. Ia memutuskan menjauh dan turun menuju dapur,
Perjalanan pulang di dalam limosin terasa jauh lebih dingin daripada salju di puncak Alpen. Mario duduk di sisi lain, menatap keluar jendela dengan rahang yang masih terkatup rapat. Tidak ada kata maaf, tidak ada penjelasan. Hanya kesunyian yang memekakkan telinga. Arianna meringkuk di sudut kursi, masih terbungkus tuxedo milik Mario yang kebesaran. Aroma kayu cendana dari kain itu kini terasa seperti racun yang masuk ke pori-porinya. Setiap kali mobil berguncang, robekan di gaunnya terasa menyentuh kulit, mengingatkannya betapa rendahnya ia di mata pria itu. Begitu sampai di mansion, Mario keluar lebih dulu tanpa menoleh. "Nyonya," Enzo membukakan pintu untuk Arianna, matanya tertuju ke lantai, tidak berani menatap kondisi Arianna yang berantakan. "Tuan memerintahkan Anda untuk segera beristirahat. Besok pagi, akan ada perawat yang datang untuk memeriksa ... kondisi Anda." Arianna tidak menjawab. Ia melangkah masuk dengan kaki lemas, melewati lorong-lorong mansion yang kin
Suasana di dalam ballroom hotel terasa begitu menyesakkan bagi Arianna. Lampu kristal yang berkilau, denting gelas sampanye, dan tawa basa-basi para tamu seolah mengepungnya. Mario terus menggenggam pinggangnya, memamerkannya pada setiap kolega bisnis seolah ia adalah piala kemenangan yang baru saja dimenangkan dari taruhan mahal. "Caruso! Jadi ini alasan kau menghilang dari peredaran beberapa minggu terakhir?" Seorang pria paruh baya dengan perut buncit mendekat, matanya menatap Arianna dengan binar yang tidak sopan. "Luar biasa. Kau selalu tahu cara memilih koleksi terbaik." Mario tidak tersenyum, namun ia menarik Arianna lebih rapat ke sisinya, membiarkan tangan besarnya mendekap pinggang Arianna yang terekspos. "Perkenalkan, ini Arianna," ucap Mario dengan nada datar yang penuh penekanan. "Istriku." Terdengar gumaman terkejut dari beberapa pria di lingkaran itu. Mereka menatap Arianna dari ujung kepala hingga kaki, seolah sedang menilai harga dari perhiasan hidup yang d
Cahaya matahari Milan yang pucat menembus dinding kaca, memaksa Arianna membuka matanya. Ia terbangun di atas ranjang besar, masih dengan jubah mandi yang membungkus tubuhnya. Tulang-tulangnya terasa kaku, dan memar di lengannya kini berwarna keunguan—tanda nyata dari cengkeraman Mario semalam. Kamar itu sudah kosong. Tidak ada tanda-tanda keberadaan suaminya, kecuali aroma sandalwood yang masih tertinggal di bantal yang tak tersentuh. Arianna bangkit dengan susah payah. Di atas nakas, ia menemukan sebuah kotak kecil berwarna putih dan secarik kertas dengan tulisan tangan yang kaku namun elegan. 'Ganti pakaianmu. Enzo menunggumu di bawah.' Arianna membuka kotak itu. Sebuah ponsel model terbaru. Di sampingnya, sudah tersedia beberapa pakaian baru di ruang ganti—semuanya berwarna gelap, elegan, dan mahal. Persis seperti selera Mario. Ia tidak tahu bahwa di dalam ponsel cantik itu, sebuah perangkat lunak pelacak sudah aktif, siap melaporkan setiap koordinat langkahnya kepada
Arianna tidak menjawab, ia hanya mendengar apa yang Mario ucapkan. Setelahnya, mereka masuk ke dalam mobil. Mobil mewah itu melaju pelan menuju suatu tempat yang Arianna sendiri tidak tahu. Ia tidak ingin bertanya, ia hanya diam dan memejamkan matanya. Otaknya sangat penuh, tidak paham apa yang sudah terjadi pada hidupnya hari ini. Mansion Mario Caruso. Mobil itu bergerak memasuki area bangunan besar dan terlihat sangat mewah, Arianna melihatnya dengan terpukau, ini bukan rumah di pinggiran Milan pada umumnya. Bangunan itu adalah perpaduan beton, baja, dan kaca—arsitektur yang sempurna namun tak memiliki jiwa. Sama seperti pemiliknya. Setelah mobil berhenti, mereka keluar, dan melangkah menuju pintu utama. Begitu pintu utama yang tinggi besar itu terbuka, Enzo—pria berjas yang sedari tadi mengikuti mereka—melangkah maju. Ia tidak membawa Arianna ke ruang tengah, melainkan berhenti di sebuah koridor panjang yang sunyi. Sementara Mario, pria itu sudah menghilang ntah kema
Pagi di Milan tidak membawa kehangatan apa pun. Arianna duduk di ruang tamu sebuah penthouse yang terlalu luas untuk disebut rumah. Dinding kaca menjulang, memperlihatkan kota dari ketinggian—indah, tapi terasa jauh. Terlalu jauh untuk dijangkau. Di atas meja kaca di depannya, sebuah map hitam tergeletak rapi. Tipis. Namun cukup untuk mengikat seluruh hidupnya. Pintu terbuka tanpa suara. Mario Caruso masuk, diikuti seorang pria berjas abu-abu yang membawa tas dokumen. Tidak ada sapaan. Tidak ada basa-basi. “Mulai,” ucap Mario singkat. Pria itu mengangguk, lalu duduk berhadapan dengan Arianna. Ia membuka map hitam tersebut, mengeluarkan beberapa lembar kertas, dan mendorongnya perlahan ke arah Arianna. “Kontrak pernikahan,” katanya formal. “Silakan dibaca.” Arianna menatap lembaran itu beberapa detik, seolah berharap tulisan-tulisan di atasnya berubah. Tidak, semuanya tetap di sana. Dingin. Resmi, dan mengikat. Ia menarik napas, lalu mulai membaca. “Pasal satu
Gedung tua Don Caruso, Milan. Langit Milan sore itu berwarna kelabu, bangunan-bangunan tua berdiri angkuh. Di salah satu gedung berlantai lima di pusat kota, Arianna De Rossi, 26 Tahun, duduk dengan kedua tangan saling menggenggam, jemarinya dingin dan gemetar. Ia tidak seharusnya berada di tem







