Se connecterCahaya matahari Milan yang pucat menembus dinding kaca, memaksa Arianna membuka matanya. Ia terbangun di atas ranjang besar, masih dengan jubah mandi yang membungkus tubuhnya.
Tulang-tulangnya terasa kaku, dan memar di lengannya kini berwarna keunguan—tanda nyata dari cengkeraman Mario semalam. Kamar itu sudah kosong. Tidak ada tanda-tanda keberadaan suaminya, kecuali aroma sandalwood yang masih tertinggal di bantal yang tak tersentuh. Arianna bangkit dengan susah payah. Di atas nakas, ia menemukan sebuah kotak kecil berwarna putih dan secarik kertas dengan tulisan tangan yang kaku namun elegan. 'Ganti pakaianmu. Enzo menunggumu di bawah.' Arianna membuka kotak itu. Sebuah ponsel model terbaru. Di sampingnya, sudah tersedia beberapa pakaian baru di ruang ganti—semuanya berwarna gelap, elegan, dan mahal. Persis seperti selera Mario. Ia tidak tahu bahwa di dalam ponsel cantik itu, sebuah perangkat lunak pelacak sudah aktif, siap melaporkan setiap koordinat langkahnya kepada Mario. Arianna menghembuskan napasnya pelan, ia melangkah ke kamar mandi, dan mulai bersiap. Setelah Arianna turun ke lantai bawah, ia menemukan Mario sedang duduk di meja makan panjang, menyesap kopi hitam sambil membaca berkas di tabletnya. Pria itu tampak sangat rapi dengan kemeja putih yang disetrika sempurna. Seolah-olah kejadian semalam—saat ia mendorong Arianna ke lantai—hanya halusinasi Arianna saja. "Duduk," perintah Mario tanpa mengalihkan pandangan. Arianna duduk di kursi yang paling jauh darinya. Pelayan segera menyajikan sarapan mewah, namun tenggorokan Arianna terasa tersumbat. "Kau sudah menerima ponselmu?" tanya Mario datar. "Sudah. Terima kasih," jawab Arianna pendek, berusaha menyembunyikan getaran di suaranya. Mario meletakkan tabletnya dan menatap Arianna. Tatapannya jatuh pada memar di lengan Arianna yang tidak tertutup sempurna oleh lengan bajunya. Sedetik, hanya sedetik, ada kilatan aneh di mata pria itu sebelum kembali menjadi dingin. "Gunakan itu untuk menerima instruksi dariku. Jangan mencoba menghubungi ayahmu atau siapa pun tanpa seizinku," ucap Mario. "Enzo akan mengantarmu ke butik siang ini. Kau butuh pakaian yang pantas untuk jamuan makan malam bisnis nanti malam." "Jamuan makan malam?" Arianna mendongak. "Kenapa aku harus ikut?" Mario berdiri, merapikan kemejanya. Ia berjalan mendekat ke arah Arianna, membungkuk hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. "Karena dunia perlu tahu bahwa aku sudah memiliki 'properti' baru yang sangat mirip dengan apa yang hilang dariku," bisiknya kejam. Mario meraih dagu Arianna, memaksanya menatap mata gelap itu. "Pakai gaun terbaikmu, Arianna. Jangan membuatku malu, atau kau tahu apa konsekuensinya bagi ayahmu." Tanpa menunggu jawaban, Mario melangkah pergi. Enzo sudah menunggu di dekat pintu, membungkuk saat tuannya lewat. Arianna hanya bisa terpaku di kursinya. Ponsel di tangannya terasa sangat berat. Ia merasa seperti burung dalam sangkar emas, yang setiap kicaunya sudah diatur oleh sang pemilik. Dan jamuan makan malam nanti... ia tahu itu bukan sekadar makan malam. Itu adalah panggung di mana Mario akan memamerkannya dengan penuh sandiwara. Siang itu, Milan terasa begitu gerah bagi Arianna. Ia duduk di kursi belakang mobil mewah yang dikemudikan Enzo. Pria itu tidak banyak bicara, hanya sesekali melirik spion tengah untuk memastikan Arianna tetap diam. Mobil berhenti di depan sebuah butik eksklusif tanpa papan nama yang mencolok di fasadnya—hanya mereka yang memiliki kekuasaan luar biasa yang bisa masuk ke sana. "Silakan, Nyonya," Enzo membukakan pintu. "Tuan Mario sudah memesan beberapa potong gaun khusus untuk Anda. Anda hanya perlu memilih satu yang menurut beliau... paling tepat." Begitu masuk, seorang desainer wanita paruh baya menyambut mereka dengan senyum tipis yang terasa artifisial. Tanpa bertanya, wanita itu membawa Arianna ke ruang ganti luas yang dikelilingi cermin. Satu per satu gaun dibawa masuk. Semuanya hitam. Semuanya terlihat mahal. Namun, ada satu gaun yang membuat Arianna terpaku. Ia memakainya perlahan. Gaun panjang berbahan sutra charmeuse berwarna hitam legam. Gaun itu tanpa lengan, membiarkan bahu putihnya terekspos sempurna di bawah lampu kristal. Potongan lehernya cukup rendah, membuat dua gundukan sintalnya terbentuk dengan sangat jelas dan menggoda. Yang paling berani adalah belahan tinggi di sisi kanan yang memperlihatkan paha mulusnya setiap kali ia melangkah. Arianna menatap pantulannya di cermin. Ia terlihat seksi, cantik, namun... asing. "Sempurna," gumam desainer itu dari belakang. "Tuan Mario memiliki selera yang sangat spesifik. Beliau menekankan bahwa gaun ini harus menonjolkan bagian bahu Anda." Arianna mengernyit. "Spesifik?" "Ya," desainer itu tersenyum misterius sambil merapikan bagian belakang gaun. "Beliau bilang, Anda memiliki struktur tulang yang identik dengan... ah, lupakan saja. Mari kita siapkan riasannya, dan menutup beberapa bagian di tubuh anda." Beberapa bagian yang dimaksud ialah memar yang diciptakan oleh Mario semalam. Arianna terdiam. Ia tidak menjawab, ia hanya berpikir. Identik dengan apa? Setelah beberapa jam desainer itu merias wajah Arianna, dan menutup bagian memar dengan sempurna. Ia dipersilahkan untuk keluar dari ruang ganti untuk menunjukkannya pada Enzo. Saat melihat Arianna, Enzo sempat tertegun selama beberapa detik. Ada kilasan keterkejutan di matanya—mungkin juga rasa ngeri yang disembunyikan dengan baik. "Apakah ini berlebihan?" tanya Arianna, merasa tidak nyaman dengan tatapan Enzo. "Tidak, Nyonya," jawab Enzo, suaranya sedikit serak sebelum ia berdeham. "Anda terlihat... persis seperti yang diinginkan Tuan Mario. Beliau sudah menunggu di tempat acara." Arianna meremas jemarinya yang dingin. Ia merasa bukan sedang bersiap untuk makan malam, melainkan sedang disiapkan untuk menjadi sebuah pajangan. Ada hal tersembunyi dalam pilihan gaun ini, dan ia bisa merasakan bahwa jamuan makan malam nanti adalah awal dari badai yang sesungguhnya. Lampu-lampu kota Milan mulai menyala, namun suasana di dalam mobil yang membawa Arianna tetap terasa gelap. Enzo menghentikan mobil tepat di depan lobi sebuah hotel klasik yang menjadi pusat perhatian para elit malam ini. Beberapa detik kemudian, sebuah mobil hitam lain berhenti tepat di belakang mereka. Arianna mengenalinya—itu mobil Mario. "Kita sampai, Nyonya," Enzo membukakan pintu untuknya. Arianna melangkah keluar dengan ragu. Gaun hitam itu memeluk tubuhnya dengan sempurna, namun ia merasa sangat terbuka. Belahan tinggi pada pahanya membuat setiap embusan angin malam terasa langsung di kulitnya yang pucat. Ia melihat Mario keluar dari mobilnya, tampak luar biasa tampan namun mengerikan dalam balutan tuxedo hitam yang tajam. Enzo mengantar Arianna mendekat. Saat jarak mereka hanya tersisa dua langkah, Mario berbalik. Langkah pria itu terhenti. Mata gelap Mario menyapu sosok Arianna dari ujung kepala hingga kaki. Tatapannya tertahan lama pada bahu putih Arianna yang terekspos, lalu turun ke gundukan sintal yang tercetak jelas di balik kain sutra, dan terakhir pada paha mulusnya yang tersingkap. Tiba-tiba, rahang Mario mengeras. Pria itu menggeram rendah, sebuah suara yang terdengar seperti singa yang terluka. Ia memejamkan matanya dengan sangat erat, seolah-olah sedang menepis sebuah bayangan yang menghantam ingatannya secara brutal. Aroma parfum Arianna, cara rambutnya jatuh di bahu, semuanya benar-benar menarik Mario kembali ke masa lalu yang ingin ia kubur hidup-hidup. "Tuan?" Enzo berbisik pelan, menyadari perubahan suasana hati tuannya. Mario membuka matanya. Kini, kilatan di sana bukan lagi sekadar kedinginan, melainkan kemarahan yang bercampur dengan obsesi yang liar. Ia melangkah maju, memperpendek jarak hingga Arianna bisa merasakan panas tubuhnya. "Aku sudah bilang untuk tidak membuatku malu," desis Mario, suaranya serak dan berbahaya. "Tapi aku tidak menyangka kau akan terlihat... semenyedihkan ini." Kata-kata itu kejam, namun tangan Mario bergerak berlawanan. Jemari besarnya yang kasar perlahan menyentuh bahu Arianna, turun ke lengan atasnya—tepat di atas bagian yang memar semalam, yang kini tertutup riasan tebal. "Riasan yang bagus," bisik Mario di dekat telinganya. "Setidaknya kau tahu cara menyembunyikan 'tanda' yang kuberi." Arianna gemetar, ia ingin menjauh tapi tangan Mario yang lain sudah melingkar di pinggangnya, menariknya dengan sentakan kecil hingga tubuh mereka menempel sempurna. Di depan para fotografer yang mulai menyorotkan lampu flash, Mario memasang topeng terbaiknya—senyum tipis yang tampak seperti suami yang penuh kasih, namun cengkeramannya di pinggang Arianna terasa seperti ingin meremukkan tulangnya. "Tersenyumlah, Arianna," perintah Mario tanpa melepaskan tatapannya dari kerumunan di depan mereka. "Tunjukkan pada mereka bahwa kau adalah milikku yang paling berharga... meskipun kita berdua tahu, kau hanyalah gadis murahan yang aku pungut."Arianna masih menyentuh sudut bibirnya, merasakan sisa hangat yang tertinggal di sana. Pikirannya kacau. Kecupan itu... rasanya tidak sinkron dengan kata-kata kejam yang Mario ucapkan tadi malam. "Kau gila, Arianna. Jangan terbuai," bisiknya pada diri sendiri. Kepalanya yang masih terasa berat akhirnya memaksa Arianna untuk kembali berbaring. Di bawah pengaruh obat dari perawat, ia akhirnya jatuh tertidur. Sore harinya, ia terbangun dengan tubuh yang terasa jauh lebih ringan. Demamnya sudah turun. Rasa sesak karena terus terkurung membuat Arianna nekat untuk keluar. Dengan langkah pelan, ia menyusuri lorong mansion yang sunyi hingga langkahnya terhenti di depan sebuah pintu kayu jati besar di ujung koridor lantai dua. Pintu itu berbeda—tidak ada gagang, hanya sebuah pemindai sidik jari yang dingin di sampingnya. Arianna teringat ucapan Enzo bahwa ruangan itu terlarang. Ia ingin mendekat, namun rasa takut akan amarah Mario lebih besar. Ia memutuskan menjauh dan turun menuju dapur,
Perjalanan pulang di dalam limosin terasa jauh lebih dingin daripada salju di puncak Alpen. Mario duduk di sisi lain, menatap keluar jendela dengan rahang yang masih terkatup rapat. Tidak ada kata maaf, tidak ada penjelasan. Hanya kesunyian yang memekakkan telinga. Arianna meringkuk di sudut kursi, masih terbungkus tuxedo milik Mario yang kebesaran. Aroma kayu cendana dari kain itu kini terasa seperti racun yang masuk ke pori-porinya. Setiap kali mobil berguncang, robekan di gaunnya terasa menyentuh kulit, mengingatkannya betapa rendahnya ia di mata pria itu. Begitu sampai di mansion, Mario keluar lebih dulu tanpa menoleh. "Nyonya," Enzo membukakan pintu untuk Arianna, matanya tertuju ke lantai, tidak berani menatap kondisi Arianna yang berantakan. "Tuan memerintahkan Anda untuk segera beristirahat. Besok pagi, akan ada perawat yang datang untuk memeriksa ... kondisi Anda." Arianna tidak menjawab. Ia melangkah masuk dengan kaki lemas, melewati lorong-lorong mansion yang kin
Suasana di dalam ballroom hotel terasa begitu menyesakkan bagi Arianna. Lampu kristal yang berkilau, denting gelas sampanye, dan tawa basa-basi para tamu seolah mengepungnya. Mario terus menggenggam pinggangnya, memamerkannya pada setiap kolega bisnis seolah ia adalah piala kemenangan yang baru saja dimenangkan dari taruhan mahal. "Caruso! Jadi ini alasan kau menghilang dari peredaran beberapa minggu terakhir?" Seorang pria paruh baya dengan perut buncit mendekat, matanya menatap Arianna dengan binar yang tidak sopan. "Luar biasa. Kau selalu tahu cara memilih koleksi terbaik." Mario tidak tersenyum, namun ia menarik Arianna lebih rapat ke sisinya, membiarkan tangan besarnya mendekap pinggang Arianna yang terekspos. "Perkenalkan, ini Arianna," ucap Mario dengan nada datar yang penuh penekanan. "Istriku." Terdengar gumaman terkejut dari beberapa pria di lingkaran itu. Mereka menatap Arianna dari ujung kepala hingga kaki, seolah sedang menilai harga dari perhiasan hidup yang d
Cahaya matahari Milan yang pucat menembus dinding kaca, memaksa Arianna membuka matanya. Ia terbangun di atas ranjang besar, masih dengan jubah mandi yang membungkus tubuhnya. Tulang-tulangnya terasa kaku, dan memar di lengannya kini berwarna keunguan—tanda nyata dari cengkeraman Mario semalam. Kamar itu sudah kosong. Tidak ada tanda-tanda keberadaan suaminya, kecuali aroma sandalwood yang masih tertinggal di bantal yang tak tersentuh. Arianna bangkit dengan susah payah. Di atas nakas, ia menemukan sebuah kotak kecil berwarna putih dan secarik kertas dengan tulisan tangan yang kaku namun elegan. 'Ganti pakaianmu. Enzo menunggumu di bawah.' Arianna membuka kotak itu. Sebuah ponsel model terbaru. Di sampingnya, sudah tersedia beberapa pakaian baru di ruang ganti—semuanya berwarna gelap, elegan, dan mahal. Persis seperti selera Mario. Ia tidak tahu bahwa di dalam ponsel cantik itu, sebuah perangkat lunak pelacak sudah aktif, siap melaporkan setiap koordinat langkahnya kepada
Arianna tidak menjawab, ia hanya mendengar apa yang Mario ucapkan. Setelahnya, mereka masuk ke dalam mobil. Mobil mewah itu melaju pelan menuju suatu tempat yang Arianna sendiri tidak tahu. Ia tidak ingin bertanya, ia hanya diam dan memejamkan matanya. Otaknya sangat penuh, tidak paham apa yang sudah terjadi pada hidupnya hari ini. Mansion Mario Caruso. Mobil itu bergerak memasuki area bangunan besar dan terlihat sangat mewah, Arianna melihatnya dengan terpukau, ini bukan rumah di pinggiran Milan pada umumnya. Bangunan itu adalah perpaduan beton, baja, dan kaca—arsitektur yang sempurna namun tak memiliki jiwa. Sama seperti pemiliknya. Setelah mobil berhenti, mereka keluar, dan melangkah menuju pintu utama. Begitu pintu utama yang tinggi besar itu terbuka, Enzo—pria berjas yang sedari tadi mengikuti mereka—melangkah maju. Ia tidak membawa Arianna ke ruang tengah, melainkan berhenti di sebuah koridor panjang yang sunyi. Sementara Mario, pria itu sudah menghilang ntah kema
Pagi di Milan tidak membawa kehangatan apa pun. Arianna duduk di ruang tamu sebuah penthouse yang terlalu luas untuk disebut rumah. Dinding kaca menjulang, memperlihatkan kota dari ketinggian—indah, tapi terasa jauh. Terlalu jauh untuk dijangkau. Di atas meja kaca di depannya, sebuah map hitam tergeletak rapi. Tipis. Namun cukup untuk mengikat seluruh hidupnya. Pintu terbuka tanpa suara. Mario Caruso masuk, diikuti seorang pria berjas abu-abu yang membawa tas dokumen. Tidak ada sapaan. Tidak ada basa-basi. “Mulai,” ucap Mario singkat. Pria itu mengangguk, lalu duduk berhadapan dengan Arianna. Ia membuka map hitam tersebut, mengeluarkan beberapa lembar kertas, dan mendorongnya perlahan ke arah Arianna. “Kontrak pernikahan,” katanya formal. “Silakan dibaca.” Arianna menatap lembaran itu beberapa detik, seolah berharap tulisan-tulisan di atasnya berubah. Tidak, semuanya tetap di sana. Dingin. Resmi, dan mengikat. Ia menarik napas, lalu mulai membaca. “Pasal satu
Gedung tua Don Caruso, Milan. Langit Milan sore itu berwarna kelabu, bangunan-bangunan tua berdiri angkuh. Di salah satu gedung berlantai lima di pusat kota, Arianna De Rossi, 26 Tahun, duduk dengan kedua tangan saling menggenggam, jemarinya dingin dan gemetar. Ia tidak seharusnya berada di tem







