MasukAwal yang Tidak Masuk Akal
“Lu serius, Lumi?”
Lumi Savira menyesap es kopi susu di depannya dengan tenang. “Serius.”
“Lu barusan bilang apa?” tanya Dena, sahabatnya, sambil mencondongkan badan ke meja. “Coba ulang.”
Lumi menghela napas pendek. “Gue mau buka jasa… istri kontrak.”
Sendok Dena jatuh. Klang.
“Maaf,” kata Dena cepat. “Otak gue nge-lag. Maksudnya… pacar sewaan?”
“Bukan.”
“Pendamping acara?”
“Bukan.”
“Figuran nikahan?”
“Bukan.”
Dena menatapnya horor. “Lu mau nikah beneran sama orang random?”
“Kontrak,” koreksi Lumi. “Ada durasi. Ada aturan. Ada akhir.”
Sunyi tiga detik.
Lalu Dena berbisik, “Lu abis ditabrak motor?”
Lumi menyandarkan punggung. “Gue cuma capek miskin.”
“Semua orang capek miskin, Lumi. Tapi nggak semuanya langsung lompat ke ide kriminal.”
“Ini bukan kriminal,” sanggah Lumi cepat. “Gue nggak nipu. Semua jelas. Mereka butuh status istri, gue butuh uang. Transaksi.”
Dena mengusap wajah. “Kenapa istri?”
“Karena pacar nggak cukup,” jawab Lumi datar. “Orang tua Indo nggak puas cuma pacar. Mereka maunya cincin. Akta. Foto keluarga.”
Dena terdiam. “Tarif?”
Lumi mengeluarkan ponsel, membuka catatan.
“Per hari,” katanya, “lima juta.”
Dena batuk. “LIMA JUTA?”
“Iya.”
“Lu ngapain? Emas lu lapisin berlian?”
“Gue hitung,” Lumi tenang. “Capek mental, reputasi, risiko ketauan, dan kemungkinan digosipin satu RT. Murah malah.”
“Terus kalau sebulan?”
“Diskon.”
Dena menyipitkan mata. “Lu ini pedagang atau apa sih?”
“Profesional,” jawab Lumi cepat. “Gue bikin SOP.”
“SOP?”
“Iya. Aturan dasar,” Lumi menghitung dengan jari. “Satu: nggak ada hubungan fisik. Dua: nggak bawa perasaan. Tiga: gue boleh cabut kapan aja kalau klien nyebelin.”
“Empat?” tanya Dena lirih.
“Empat,” Lumi tersenyum tipis, “nama gue nggak boleh disebut ke siapa pun setelah kontrak selesai.”
Dena menatapnya lama. “Lu kenapa, sih? Kenapa sejauh ini?”
Lumi terdiam. Pandangannya turun ke meja.
“Karena waktu gue di tolak dijodohin,” katanya pelan, “keluarga gue bilang gue egois. Udah miskin banyak tingkah lagi. Katanya perempuan sendirian itu gagal.”
Dena mengepalkan tangan. “Bangsat.”
“Dan karena setiap wawancara kerja nanya status,” lanjut Lumi. “Kayak itu indikator moral.”
Hening lagi.
Lalu Dena berkata pelan, “Jadi lu mau buktiin apa?”
Lumi mengangkat wajahnya. Senyumnya kecil, tapi mantap.
“Gue mau buktiin,” katanya, “kalau jadi istri itu bisa profesional. Bisa dibayar. Dan bisa selesai.”
Dena menghembuskan napas panjang. “Lu gila.”
“Mungkin.”
“Tapi… lima juta per hari ya?” Dena bergumam. “Kalau klien pertama siapa?”
Lumi membuka ponselnya lagi. Sebuah pesan baru masuk.
Unknown:
Saya butuh istri sementara. Tiga hari. Keluarga besar. Bisa?Lumi mengunci layar.
“Kayaknya,” katanya santai, “gue baru dapet suami pertama.” Dan dari situlah, bisnis yang seharusnya tidak pernah ada itu—benar-benar dimulai.
Dena menatap ponsel itu, setengah kagum, setengah panik. “Gila… lu baru ngomong sama gue, sekarang udah ketemu suami. Gue kira lu ngomong absurd doang.”
Lumi mengangkat alis. “Absurd itu baru permulaan, Den. Tunggu sampai hari pertama di keluarga klien—ini bakal kayak perang dunia kecil versi romantis.”
Dena menggeleng, setengah takut, setengah tertawa. “Ya ampun… gue nggak mau jadi saksi kalau lu beneran mati di medan perang ini.”
Lumi menepuk bahu Dena. “Santai. Kalau gue selamat, gue bakal cerita semua. Kalau enggak… yah, ini bakal jadi legenda urban tentang istri kontrak tercepat mati syok mertua.”
Dena terkekeh, tapi matanya serius. “Lu ini… gila, tapi gue suka.”
Dan dari situlah, bisnis yang seharusnya tidak pernah ada itu—benar-benar dimulai, lengkap dengan SOP, chaos, dan humor yang nggak habis-habis.
Bersambung
Acara selesai menjelang malam. Lampu-lampu taman rumah Ibu Indah masih menyala hangat ketika para tamu satu per satu pamit. Senyum sosial masih terpasang, ucapan terima kasih masih terdengar ringan, seolah tidak ada satu pun kalimat tajam yang sempat melintas sore tadi.Kira berdiri di samping Lumi saat berpamitan. Sikapnya tenang dan formal. Ibu Indah menepuk lengan Lumi lembut sebelum mereka turun ke halaman. “Kamu tadi bagus sekali,” ucapnya pelan, cukup untuk didengar berdua. “Tidak semua orang bisa tetap tenang.”Lumi tersenyum sopan. “Saya belajar dari yang terbaik, Bu.”Kira hanya mengangguk kecil. Tidak ada komentar tambahan. Di dalam mobil, pintu tertutup dengan bunyi yang terdengar lebih keras dari biasanya. Mesin menyala. Sabuk pengaman terpasang. Jalanan malam relatif lengang.Lima menit pertama, hanya suara mesin dan AC. Lumi menatap keluar jendela, lampu-lampu kota memantul di kaca seperti garis-garis cahaya yang kabur. Ia membuka suara lebih dulu, nadanya ringan—bahkan
Sore itu Lumi berdiri di ambang pintu kamar Kira, mengetuk pelan sebelum masuk. Kira sedang merapikan manset kemejanya di depan cermin, wajahnya setenang biasa—atau setidaknya terlihat begitu. Sejak nama Anggi disebut beberapa hari lalu, ia memang tidak berubah drastis, hanya saja kalimatnya lebih singkat, tatapannya lebih sulit ditebak, dan jeda di antara jawabannya terasa sedikit lebih panjang.Lumi menyilangkan tangan di dada, mencoba terdengar santai meski ada nada ragu di ujung suaranya. “Mas, Ibu Indah ngajak aku ikut arisan minggu ini. Katanya di rumah beliau saja. Tapi… kayaknya bukan arisan biasa deh. Lebih ke pertemuan istri-istri pengusaha dan lingkaran sosialnya.” Kini Lumi membiasakan hari-hari memanggil Kira 'Mas' agar tidak canggung.Kira berhenti sejenak, menatap pantulan dirinya sendiri sebelum akhirnya berbalik. “Memang bukan arisan biasa.”“Jadi kamu tahu?”“Iya. Saya juga harus ikut.”Lumi mengerjap. “Kamu ikut juga?”“Biasanya suami datang di awal. Formalitas. Set
Air keran masih menetes pelan ketika langkah Kira menghilang dari dapur. Tidak ada bantingan pintu. Tidak ada suara berat. Hanya jejak keheningan yang tiba-tiba terasa terlalu dingin.Lumi berdiri beberapa detik tanpa bergerak, kain lap masih tergenggam di tangannya. Uap hangat dari wastafel perlahan memudar. Dapur yang tadi penuh dengan debat absurd tentang adonan berperasaan kini terasa seperti ruangan yang berbeda.Ia menghembuskan napas panjang.“Baik,” gumamnya pelan pada dirinya sendiri. “Reaksinya normal. Sangat normal. Orang ditanya satu nama lalu langsung menghilang, itu normal.”Ia kembali ke meja dan mulai melipat kain lap dengan gerakan lebih lambat dari sebelumnya. Tidak lagi terburu-buru. Tidak lagi bercanda. Nama itu kembali terngiang.Anggi.Dan tanpa bisa dicegah, pikirannya melompat pada siang tadi—saat dapur masih riuh oleh tawa.Flashback kecil itu muncul jelas.Nayla berdiri di depan oven dengan tangan bertolak pinggang sambil tertawa melihat kue yang mengempis di
Pintu depan terbuka seperti biasa. Tidak ada firasat apa pun. Kira masuk sambil melepas jam tangannya, langkahnya stabil menuju ruang tengah—lalu berhenti. Rumahnya… sunyi.Padahal ada jejak kekacauan yang jelas bukan hasil satu orang. Dari ruang tamu terlihat sekilas kursi bergeser tidak pada tempatnya. Sebuah celemek tergeletak di sandaran sofa. Dan dari arah dapur, aroma manis gosong yang samar masih menggantung di udara.Ia berjalan masuk. Dan mendapati dapur dalam kondisi yang membuat alisnya terangkat satu garis tipis. Tepung seperti kabut tipis di atas meja. Lantai sedikit lengket. Wastafel penuh mangkuk dan spatula. Di tengah meja, sebuah kue dengan bentuk ambigu berdiri seperti simbol kegagalan yang percaya diri.Lumi berdiri di depan wastafel dengan tangan bersabun, rambutnya diikat seadanya, wajahnya menunjukkan kelelahan dramatis. Ia menoleh saat mendengar langkah Kira. Tatapan mereka bertemu.Lumi tidak langsung menyapa. Ia hanya menatapnya beberapa detik, lalu mematikan
Gedung Mahesa Pratama Group berdiri dengan fasad kaca gelap setinggi dua puluh lantai di kawasan bisnis Sudirman. Logo perak bertuliskan PT. MPG terpasang sederhana tapi mencolok di lobi. Tidak berlebihan, tapi jelas mahal.Kira melangkah masuk dengan setelan abu-abu gelap yang jatuh sempurna di tubuhnya. Tidak ada gerakan sia-sia. Satpam langsung berdiri tegak.“Selamat pagi, Pak Kira.”Ia hanya mengangguk tipis. Begitu pintu lift tertutup, wajahnya berubah lebih datar. Tidak ada sisa kekacauan pagi tadi. Tidak ada jejak Lumi jatuh menimpanya. Tidak ada memori tatapan canggung. Seolah itu hanya glitch dalam sistem hidupnya.Begitu keluar di lantai 20, sekretarisnya, Raline, langsung berdiri.“Pak, meeting dengan investor Surabaya dipercepat jadi jam sebelas. Dan laporan progres proyek Mahesa Residence tahap dua sudah saya taruh di meja Anda. Tapi ada sedikit kendala di pembebasan lahan.”“Kendala atau penolakan?” tanya Kira tanpa berhenti berjalan.“Penolakan, Pak. Salah satu pemilik
Beberapa menit kemudian, mereka sudah duduk di meja makan. Lumi berusaha terlihat segar meski rambutnya masih terasa menyimpan jejak “sidak”, sementara Kira kembali ke mode tenang yang nyaris menyebalkan karena terlalu stabil.Akila dan Nayla duduk berhadapan dengan mereka, ekspresi keduanya seperti dua reporter infotainment yang baru saja mendapatkan bahan headline.“Kak Kira nggak kerja?” tanya Nayla polos tapi jelas penuh muatan.Kira menuang air ke gelasnya sebelum menjawab dengan nada santai, “Saya atur jadwal sendiri hari ini. Ada pekerjaan yang bisa diselesaikan dari rumah.”“Wah, fleksibel sekali,” komentar Akila sambil membuka tas besar yang ia bawa. Ia mulai mengeluarkan beberapa kotak makanan satu per satu dengan bangga. “Kita bawain sarapan dari rumah. Ini Mama yang masak. Katanya kasihan kalau menantu barunya cuma makan roti tawar atau sereal instan.”Lumi langsung menegakkan badan. “Astaga, Ibu Indah masak langsung? Aku jadi merasa bersalah.”“Bersalah kenapa?” tanya Nay







