LOGIN
“Lumi.”
“Iya, Pak.”
“Pegang tangan saya.”
Lumi Savira menunduk menatap tangan pria paruh baya di sampingnya. Tangannya kering, sedikit dingin, dan—jujur saja—terasa seperti memegang panci yang lupa dimatikan kompor.
“Sekarang juga, Lumi,” bisik pria itu panik. “Nenek lagi nengok ke sini.”
“Baik, Pak. Tapi santai. Jangan kaku. Kita kelihatan kayak pasangan yang lagi negosiasi tanah,” balas Lumi sambil tersenyum tipis.
Pria itu—Pak Rudi, klien pertama dengan kontrak tiga hari—langsung menegakkan bahu. “Iya, iya. Maaf. Ini pertama kali saya sewa jasa begini.”
“Kelihatan,” sahut Lumi cepat. “Bapak tegangnya sampai menular.”
Pak Rudi menelan ludah. “Nenek saya galak.”
“Tenang. Saya sudah biasa,” kata Lumi enteng. “Nenek-nenek galak, tante kepo, sepupu toxic—semua pernah saya hadapi.”
Belum sempat Pak Rudi bernapas lega, seorang wanita tua berkebaya hijau, dengan tongkat di tangan, menyapu lantai.
“Rudi,” suara itu nyaring. “Kamu berdiri di situ sama siapa?”
Pak Rudi tersenyum terlalu lebar. “Ini… ini istri saya, Nenek.”
Lumi reflex mencondongkan badan dan tersenyum manis. “Selamat sore, Nenek.”
Nenek itu menyipitkan mata. “Istri?”
“Iya, Nenek,” jawab Lumi cepat. “Kami menikah sederhana. Saya nggak suka ribet.”
“Kenapa baru sekarang dikenalin?” tanya neneknya curiga.
Pak Rudi berkeringat. “Soalnya Lumi ini… pemalu, Nenek.”
Lumi nyaris tersedak. “Iya, saya pemalu. Apalagi kalau ketemu mertua.”
Nenek itu mendengus. “Kamu kerja apa, Nak?”
“Freelance, Nenek.”
“Freelance apaan?”
Lumi tersenyum lebih lebar. “Freelance… istri.”
Pak Rudi langsung terbatuk keras. “Maksudnya—freelance desain, Nenek! Istri saya desainer!”
“Oh.” Nenek itu menatap Lumi dari atas ke bawah. “Pantas bajunya rapi.”
Lumi menunduk sopan. “Terima kasih, Nenek. Saya usaha kelihatan layak.”
“Nah, Rudi,” kata neneknya tajam. “Kamu pegang tangan istrimu dong. Masa berdiri kayak orang asing?”
Pak Rudi buru-buru meraih tangan Lumi lagi. Kali ini terlalu erat.
“Santai, Pak,” bisik Lumi. “Ini bukan lomba tarik tambang.”
“Maaf, maaf. Saya grogi.”
Nenek itu mengangguk puas. “Nah gitu. Sudah kelihatan kayak suami.”
Lumi tersenyum sambil menahan tawa. Dalam hati ia menghitung waktu.
Dua jam lagi. Bertahan dua jam lagi. Setelah itu, pulang, ganti klien, ganti peran. Baginya, ini cuma pekerjaan.Tiba-tiba, Rudi menatap Lumi dengan panik. “Eh… kalau nanti ibu saya datang, kita kan harus pura-pura sayang ya?”
Lumi menatapnya datar. “Iya, Pak. Tapi jangan lebay.”
Pak Rudi mengangguk serius, lalu menatap neneknya dengan panik kecil. “Eh, Nenek… jangan bilang ke Ibu ya kalau kami kayak gini…”
Nenek itu menatap balik, lalu mengedipkan mata. “Kalau aneh, terserah kamu. Tapi jangan salahin aku kalau jantungmu copot.”
Lumi menahan tawa. Apa nenek ini latihan ngomel seumur hidup sampai bisa bikin orang grogi?
Tiba-tiba nenek itu menendang kursi kosong di samping Rudi. “Ambilkan air untuk Lumi! Jangan cuma pegang tangan doang!”
Pak Rudi hampir pingsan. “Nenek, saya…!”
Lumi buru-buru maju, mengambil gelas sendiri. “Tenang, Pak. Saya sudah biasa di medan perang ini.”
Nenek itu menatap gelasnya, lalu menambahkan, “Dan kalau saya lihat kamu makan nggak sopan, Rudi, aku cabut undangan.”
Pak Rudi menelan ludah sambil menatap Lumi. “Saya serius nggak salah pilih istri kan?”
Lumi tersenyum tipis. Kalau istri ini dibayar lima juta per hari, boleh nggak minta bonus kalau selamat dari mertua?
Dan di situ, Lumi menyadari satu hal: jadi istri sewaan itu bukan cuma soal senyum dan pegangan tangan… tapi juga skill bertahan hidup tingkat dewa.
Pagi hari di rumah Kira berjalan lebih tenang dari biasanya.Sinar matahari masuk melalui jendela ruang makan yang besar. Meja sudah tertata rapi dengan sarapan sederhana yang disiapkan oleh pembantu rumah. Lumi baru saja duduk ketika Kira sudah lebih dulu berada di sana.Ia mengenakan kemeja kerja, lengan bajunya digulung sedikit. Di depannya ada laptop yang terbuka dan secangkir kopi hitam yang hampir habis. Begitu Lumi duduk, Kira mengangkat pandangannya sebentar.“Duduk.”Nada suaranya datar seperti biasa. Lumi sebenarnya sudah duduk, tapi tetap mengangguk kecil.“Iya…”Ia mengambil sendok, tapi gerakannya sedikit kaku. Bayangan semalam muncul lagi di kepalanya. Kira di kamarnya menyentuh dahinya dan berdiri terlalu dekat. Lumi buru-buru fokus pada piringnya. Namun sebelum ia sempat makan, suara ponsel Kira berdering di atas meja.Kira langsung mengangkatnya.“Ya.”Lumi mencoba terlihat biasa saja sambil mulai makan. Namun beberapa detik kemudian ia mendengar nama itu.“Anggi?”Se
POV Kira Mobil akhirnya berhenti di halaman rumah. Mesin dimatikan. Suasana langsung menjadi lebih sunyi. Lumi turun lebih dulu dari mobil. Ia menggumamkan sesuatu seperti ucapan terima kasih yang terdengar terburu-buru, lalu hampir setengah berlari masuk ke dalam rumah.Pintu tertutup. Kira masih duduk di dalam mobil. Tangannya tetap berada di atas setir, matanya menatap lurus ke depan. Beberapa detik ia tidak bergerak sama sekali. Lalu perlahan ia menyandarkan punggung ke kursi. Sunyi. Namun pikirannya tidak setenang wajahnya. Bayangan Lumi di mobil tadi muncul lagi tanpa diminta. Wajahnya yang tiba-tiba memerah. Cara perempuan itu langsung membeku saat ia mengangkat tangan. Kira menghela napas pendek. Ia bahkan tidak berpikir panjang waktu itu. Hanya refleks. Ketika melihat noda sambal di pelipis Lumi, tangannya langsung bergerak membersihkannya. Sesederhana itu. Namun reaksi Lumi seolah ia baru saja melakukan sesuatu yang besar. Kira menutup mata sejenak. Hal lain juga kembali
Aroma makanan mulai memenuhi dapur. Udang saus mentega, sup seafood, dan beberapa hidangan lain sudah tertata rapi di atas meja panjang. Lumi membantu Bu Rini dan Sari memindahkan piring-piring ke ruang makan. “Bagus sekali,” kata Ibu Indah sambil melihat meja yang sudah hampir penuh. “Sudah lama rumah ini tidak seramai ini. Sayang Alika dan Nayla mereka masih belum pulang." Lumi tersenyum kecil. Belum sempat ia menjawab, suara pintu depan terdengar terbuka dari ruang tengah. Klik. Langkah kaki masuk ke dalam rumah. Lumi yang sedang membawa mangkuk sup langsung berhenti di tempat. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. “Sepertinya Kira sudah pulang,” kata Ibu Indah santai dari belakangnya. Kalimat itu membuat Lumi makin kaku. Beberapa detik kemudian langkah kaki itu semakin mendekat. Dan benar saja—Kira muncul di ambang pintu ruang makan. Masih dengan setelan kerja, jasnya tersampir di lengan. Wajahnya terlihat sedikit lelah setelah seharian bekerja, tapi ekspresinya tetap se
Hari ini Lumi tidak keluar sama sekali dari kamarnya, setelah kejadian kemaren ia merasa malu bertemu Kira. Bayangan ia memeluk Kira karena ketakutan dan ia bersandar di bahu Kira karena demam membuatnya malu. Berani sekali dirinya melakukan itu. Beruntung Kira tidak marah. Lumi duduk di sofa dalam kamar, televisi menyala menyiarkan berita gosip. Tapi matanya tidak benar-benar menyimak acara itu. Khayalannya melayang ke kejadia kemaren. "Aaaaaa aku maluuuu!" teriaknya frustasi, Lumi mengambil susu dingin yang di buat oleh Kira. Saat ia sedang memindah-mindah chanel telponnya berdering. Dan ada nama Ibu Indah di layar telponnya. Ia langsung mengangkatnya. “Halo, Bu?” “Lumi, kamu lagi di rumah dan nggak sibuk?” “Iya, Bu.” "Temenin ibu masak yuk buat kita makan malem bareng. Ibu banyak beli seafood nih." "Seakarang bu kerumahnya?" "Iya dong. Masa besok." kelakar ibu Indah di telpon membuat Lumi tersenyum. Setelah berpikir sejenak Lumi mengiyakan permintaan Ibu Indah
Ruang rapat lantai dua puluh itu dipenuhi cahaya dari jendela kaca besar yang menghadap langsung ke pusat kota. Di tengah ruangan, meja panjang sudah dipenuhi berkas kerja sama, tablet, dan beberapa cangkir kopi yang mulai dingin.Kira duduk di sisi kanan meja. Ekspresinya sama seperti biasanya—tenang, datar, sulit dibaca. Di seberangnya, Anggi memegang pulpen sambil membaca dokumen terakhir yang baru saja dipresentasikan oleh tim legal.Beberapa staf dari kedua perusahaan masih berada di ruangan itu. Presentasi hampir selesai.“Kami sudah meninjau revisi pada poin distribusi regional,” kata salah satu manajer dari perusahaan Anggi. “Jika tidak ada perubahan tambahan, tahap implementasi bisa dimulai bulan depan.”Kira mengangguk sedikit.“Itu sesuai dengan timeline yang kami rencanakan.”Anggi menutup dokumen di depannya.“Perusahaan kami juga tidak memiliki keberatan,” katanya dengan nada profesional. “Selama laporan audit tetap transparan seperti yang sudah disepakati.”“Sudah menja
Kira menunggu cukup lama sampai napas Lumi benar-benar teratur. Perempuan itu akhirnya tertidur lagi setelah minum obat. Wajahnya masih pucat, tapi kerutan di dahinya sudah menghilang. Tidak ada lagi gumaman takut. Tidak ada lagi tubuh yang gelisah.Kira berdiri perlahan dari sisi tempat tidur. Ia menarik selimut Lumi sedikit lebih tinggi, memastikan bahunya tertutup. Tangannya sempat berhenti sepersekian detik di dahi Lumi—mengecek suhu tubuhnya sekali lagi. Masih hangat. Tapi tidak setinggi tadi.“Tidur saja,” gumamnya pelan.Kira keluar dengan langkah hati-hati. Pintu ditutup tanpa suara. Ruang kerja Kira berada di ujung lorong lantai dua. Ruangan itu selalu terasa berbeda dari bagian rumah lain. Lebih sunyi. Lebih… dingin.Di sinilah sebagian besar waktunya dihabiskan. Laptop sudah menyala di atas meja. Beberapa dokumen digital menunggu persetujuan. Rapat pagi sudah ia batalkan, tapi bukan berarti pekerjaannya ikut berhenti.Kira duduk. Tangannya bergerak cepat di keyboard. Membal







