LOGINLumi duduk di kafe langganannya, menatap kopi dingin, tangan gemetar sedikit. Dena datang, mencondongkan badan ke meja.
“Lu kenapa mukanya kayak habis liat hantu? Jangan bilang lagi-lagi soal klien istri kontrak, ya?” kata Dena.
Lumi menarik napas, mulai menceritakan panjang lebar: “Jadi, gue tandatangan kontrak enam bulan sama Kira Mahesa… restoran, dokumen, tanda tangan, profesional, tapi terus ada aturan tak tertulis yang bikin gue hampir pingsan: gue harus manggil dia ‘suami’ di depan umum, dia harus manggil gue ‘istri’, gue harus tinggal di rumahnya karena orang tuanya bisa datang kapan aja, dan ada prosesi ijab kabul formalitas… six-month marriage. Semua harus profesional, batas jelas, dan gue harus… ya, six months…”
Dena menahan tawa sebentar, lalu berkata panjang tapi padat: “Lum, serius deh, ini… lucu tapi juga bikin panik. Enam bulan, satu rumah, panggilan suami-istri, ijab kabul, keluarga bisa muncul kapan aja… bayaran gede iya, tapi mental lu bisa teruji tiap menit. Jadi siapin snack mental, obat anti-stres, dan jangan sampe baper, karena arena Kira Mahesa ini… serius, satu langkah salah, boom! Drama nonstop!”
Lumi menatap Dena, bibir tipis tersenyum sambil menghela napas panjang. “Gue… gue cuma mau bayarannya aja, Den. Rp 10 juta per hari…”
Dena menepuk bahu Lumi, setengah tertawa, setengah serius: “Gaji gede, iya… tapi hati-hati, six months ini rollercoaster absurd yang bakal nguji lu habis-habisan, dan… jangan jatuh cinta, oke?”
Lumi menatap kopi, diam sebentar, lalu tersenyum tipis: Six months, satu rumah, ijab kabul… siap mental, siap snack, dan siap drama… tapi bayaran Rp 10 juta per hari… totally worth it.
~
Hari pertama kontrak.
Lumi Savira berdiri di ruang serba putih, dekor minimalis tapi rapi. Di depannya, seorang penghulu bersorban hitam, wajah serius, buku nikah terbuka di tangan. Di samping Lumi, Kira Mahesa berdiri tegap, jas hitam gelapnya rapi, mata tajam menatap semua yang ada di ruangan.
Lumi menelan ludah. Oke… ini resmi banget… bahkan lebih resmi daripada beberapa pernikahan teman gue.
“Bismillahirrahmanirrahim,” kata penghulu. “Kita mulai ijab kabul.”
Lumi menghela napas panjang, memandang Kira. Ia menyesuaikan posisi tangan. Profesional… tetap profesional… jangan grogi…
Penghulu menatap Kira. “Apakah Anda menerima Lumi Savira sebagai istri, dengan semua hak dan kewajiban, dalam ikatan pernikahan yang sah secara agama, walaupun ini… hanya formalitas kontrak?”
Kira mengangkat sedikit kepala, menatap Lumi lurus. Suaranya berat, tenang: “Saya terima, dengan hak dan kewajiban yang tercantum dalam perjanjian kami.”
Lumi menahan napas, kemudian membalas, nada tenang tapi hati sedikit dag-dig-dug: “Saya terima, dengan hak dan kewajiban yang tercantum dalam perjanjian kami.”
Penghulu mencatat di buku nikah. “Baik. Sah. Silakan tandatangani buku nikahnya.”
Lumi menandatangani buku itu, jari sedikit gemetar, tapi tetap rapi. Kira menandatangani di sisi lain tanpa kesan grogi. Setelah itu, seorang asisten studio foto muncul, membawa kamera dan properti mini: kursi, bunga, latar putih bersih. “Foto keluarga dulu, ya,” katanya sambil tersenyum.
Lumi menatap Kira. Oke… ini bener-bener terasa nyata. Tapi ia menghela napas dan tersenyum tipis. “Profesional, tetap profesional,” gumamnya dalam hati.
Pose pertama: mereka duduk berdampingan. Lumi menyesuaikan senyum manis, Kira tetap dingin tapi tampan.
Pose kedua: berdiri, tangan di samping, sedikit condong satu sama lain. Lumi menahan tawa kecil di hati: ini beneran six-month marriage resmi… absurd tapi… lucu.
Asisten foto memberi kode. “Terakhir, close-up couple smile.”
Lumi menatap kamera, senyum profesional. Kira menatap Lumi. Sunyi sebentar, lalu… sekilas bibirnya menegang seperti hampir tersenyum, tapi ditahan.
Lumi menelan ludah, tersenyum tipis lagi. Dalam hati, ia berpikir: oke, profesional… batas jelas… tapi… ini bakal kacau, dan mungkin seru. Foto terakhir diambil. Kamera menyalakan bunyi shutter. Lumi menatap Kira, dan untuk pertama kalinya… sedikit lega: setidaknya, drama resmi ini selesai… untuk saat ini.
Bersambung
Acara selesai menjelang malam. Lampu-lampu taman rumah Ibu Indah masih menyala hangat ketika para tamu satu per satu pamit. Senyum sosial masih terpasang, ucapan terima kasih masih terdengar ringan, seolah tidak ada satu pun kalimat tajam yang sempat melintas sore tadi.Kira berdiri di samping Lumi saat berpamitan. Sikapnya tenang dan formal. Ibu Indah menepuk lengan Lumi lembut sebelum mereka turun ke halaman. “Kamu tadi bagus sekali,” ucapnya pelan, cukup untuk didengar berdua. “Tidak semua orang bisa tetap tenang.”Lumi tersenyum sopan. “Saya belajar dari yang terbaik, Bu.”Kira hanya mengangguk kecil. Tidak ada komentar tambahan. Di dalam mobil, pintu tertutup dengan bunyi yang terdengar lebih keras dari biasanya. Mesin menyala. Sabuk pengaman terpasang. Jalanan malam relatif lengang.Lima menit pertama, hanya suara mesin dan AC. Lumi menatap keluar jendela, lampu-lampu kota memantul di kaca seperti garis-garis cahaya yang kabur. Ia membuka suara lebih dulu, nadanya ringan—bahkan
Sore itu Lumi berdiri di ambang pintu kamar Kira, mengetuk pelan sebelum masuk. Kira sedang merapikan manset kemejanya di depan cermin, wajahnya setenang biasa—atau setidaknya terlihat begitu. Sejak nama Anggi disebut beberapa hari lalu, ia memang tidak berubah drastis, hanya saja kalimatnya lebih singkat, tatapannya lebih sulit ditebak, dan jeda di antara jawabannya terasa sedikit lebih panjang.Lumi menyilangkan tangan di dada, mencoba terdengar santai meski ada nada ragu di ujung suaranya. “Mas, Ibu Indah ngajak aku ikut arisan minggu ini. Katanya di rumah beliau saja. Tapi… kayaknya bukan arisan biasa deh. Lebih ke pertemuan istri-istri pengusaha dan lingkaran sosialnya.” Kini Lumi membiasakan hari-hari memanggil Kira 'Mas' agar tidak canggung.Kira berhenti sejenak, menatap pantulan dirinya sendiri sebelum akhirnya berbalik. “Memang bukan arisan biasa.”“Jadi kamu tahu?”“Iya. Saya juga harus ikut.”Lumi mengerjap. “Kamu ikut juga?”“Biasanya suami datang di awal. Formalitas. Set
Air keran masih menetes pelan ketika langkah Kira menghilang dari dapur. Tidak ada bantingan pintu. Tidak ada suara berat. Hanya jejak keheningan yang tiba-tiba terasa terlalu dingin.Lumi berdiri beberapa detik tanpa bergerak, kain lap masih tergenggam di tangannya. Uap hangat dari wastafel perlahan memudar. Dapur yang tadi penuh dengan debat absurd tentang adonan berperasaan kini terasa seperti ruangan yang berbeda.Ia menghembuskan napas panjang.“Baik,” gumamnya pelan pada dirinya sendiri. “Reaksinya normal. Sangat normal. Orang ditanya satu nama lalu langsung menghilang, itu normal.”Ia kembali ke meja dan mulai melipat kain lap dengan gerakan lebih lambat dari sebelumnya. Tidak lagi terburu-buru. Tidak lagi bercanda. Nama itu kembali terngiang.Anggi.Dan tanpa bisa dicegah, pikirannya melompat pada siang tadi—saat dapur masih riuh oleh tawa.Flashback kecil itu muncul jelas.Nayla berdiri di depan oven dengan tangan bertolak pinggang sambil tertawa melihat kue yang mengempis di
Pintu depan terbuka seperti biasa. Tidak ada firasat apa pun. Kira masuk sambil melepas jam tangannya, langkahnya stabil menuju ruang tengah—lalu berhenti. Rumahnya… sunyi.Padahal ada jejak kekacauan yang jelas bukan hasil satu orang. Dari ruang tamu terlihat sekilas kursi bergeser tidak pada tempatnya. Sebuah celemek tergeletak di sandaran sofa. Dan dari arah dapur, aroma manis gosong yang samar masih menggantung di udara.Ia berjalan masuk. Dan mendapati dapur dalam kondisi yang membuat alisnya terangkat satu garis tipis. Tepung seperti kabut tipis di atas meja. Lantai sedikit lengket. Wastafel penuh mangkuk dan spatula. Di tengah meja, sebuah kue dengan bentuk ambigu berdiri seperti simbol kegagalan yang percaya diri.Lumi berdiri di depan wastafel dengan tangan bersabun, rambutnya diikat seadanya, wajahnya menunjukkan kelelahan dramatis. Ia menoleh saat mendengar langkah Kira. Tatapan mereka bertemu.Lumi tidak langsung menyapa. Ia hanya menatapnya beberapa detik, lalu mematikan
Gedung Mahesa Pratama Group berdiri dengan fasad kaca gelap setinggi dua puluh lantai di kawasan bisnis Sudirman. Logo perak bertuliskan PT. MPG terpasang sederhana tapi mencolok di lobi. Tidak berlebihan, tapi jelas mahal.Kira melangkah masuk dengan setelan abu-abu gelap yang jatuh sempurna di tubuhnya. Tidak ada gerakan sia-sia. Satpam langsung berdiri tegak.“Selamat pagi, Pak Kira.”Ia hanya mengangguk tipis. Begitu pintu lift tertutup, wajahnya berubah lebih datar. Tidak ada sisa kekacauan pagi tadi. Tidak ada jejak Lumi jatuh menimpanya. Tidak ada memori tatapan canggung. Seolah itu hanya glitch dalam sistem hidupnya.Begitu keluar di lantai 20, sekretarisnya, Raline, langsung berdiri.“Pak, meeting dengan investor Surabaya dipercepat jadi jam sebelas. Dan laporan progres proyek Mahesa Residence tahap dua sudah saya taruh di meja Anda. Tapi ada sedikit kendala di pembebasan lahan.”“Kendala atau penolakan?” tanya Kira tanpa berhenti berjalan.“Penolakan, Pak. Salah satu pemilik
Beberapa menit kemudian, mereka sudah duduk di meja makan. Lumi berusaha terlihat segar meski rambutnya masih terasa menyimpan jejak “sidak”, sementara Kira kembali ke mode tenang yang nyaris menyebalkan karena terlalu stabil.Akila dan Nayla duduk berhadapan dengan mereka, ekspresi keduanya seperti dua reporter infotainment yang baru saja mendapatkan bahan headline.“Kak Kira nggak kerja?” tanya Nayla polos tapi jelas penuh muatan.Kira menuang air ke gelasnya sebelum menjawab dengan nada santai, “Saya atur jadwal sendiri hari ini. Ada pekerjaan yang bisa diselesaikan dari rumah.”“Wah, fleksibel sekali,” komentar Akila sambil membuka tas besar yang ia bawa. Ia mulai mengeluarkan beberapa kotak makanan satu per satu dengan bangga. “Kita bawain sarapan dari rumah. Ini Mama yang masak. Katanya kasihan kalau menantu barunya cuma makan roti tawar atau sereal instan.”Lumi langsung menegakkan badan. “Astaga, Ibu Indah masak langsung? Aku jadi merasa bersalah.”“Bersalah kenapa?” tanya Nay







