แชร์

Bab 6

ผู้เขียน: AlunaSweet
last update วันที่เผยแพร่: 2026-02-10 22:40:25

Lumi duduk di kafe langganannya, menatap kopi dingin, tangan gemetar sedikit. Dena datang, mencondongkan badan ke meja.

“Lu kenapa mukanya kayak habis liat hantu? Jangan bilang lagi-lagi soal klien istri kontrak, ya?” kata Dena.

Lumi menarik napas, mulai menceritakan panjang lebar: “Jadi, gue tandatangan kontrak enam bulan sama Kira Mahesa… restoran, dokumen, tanda tangan, profesional, tapi terus ada aturan tak tertulis yang bikin gue hampir pingsan: gue harus manggil dia ‘suami’ di depan umum, dia harus manggil gue ‘istri’, gue harus tinggal di rumahnya karena orang tuanya bisa datang kapan aja, dan ada prosesi ijab kabul formalitas… six-month marriage. Semua harus profesional, batas jelas, dan gue harus… ya, six months…”

Dena menahan tawa sebentar, lalu berkata panjang tapi padat: “Lum, serius deh, ini… lucu tapi juga bikin panik. Enam bulan, satu rumah, panggilan suami-istri, ijab kabul, keluarga bisa muncul kapan aja… bayaran gede iya, tapi mental lu bisa teruji tiap menit. Jadi siapin snack mental, obat anti-stres, dan jangan sampe baper, karena arena Kira Mahesa ini… serius, satu langkah salah, boom! Drama nonstop!”

Lumi menatap Dena, bibir tipis tersenyum sambil menghela napas panjang. “Gue… gue cuma mau bayarannya aja, Den. Rp 10 juta per hari…”

Dena menepuk bahu Lumi, setengah tertawa, setengah serius: “Gaji gede, iya… tapi hati-hati, six months ini rollercoaster absurd yang bakal nguji lu habis-habisan, dan… jangan jatuh cinta, oke?”

Lumi menatap kopi, diam sebentar, lalu tersenyum tipis: Six months, satu rumah, ijab kabul… siap mental, siap snack, dan siap drama… tapi bayaran Rp 10 juta per hari… totally worth it.

~

Hari pertama kontrak.

Lumi Savira berdiri di ruang serba putih, dekor minimalis tapi rapi. Di depannya, seorang penghulu bersorban hitam, wajah serius, buku nikah terbuka di tangan. Di samping Lumi, Kira Mahesa berdiri tegap, jas hitam gelapnya rapi, mata tajam menatap semua yang ada di ruangan.

Lumi menelan ludah. Oke… ini resmi banget… bahkan lebih resmi daripada beberapa pernikahan teman gue.

“Bismillahirrahmanirrahim,” kata penghulu. “Kita mulai ijab kabul.”

Lumi menghela napas panjang, memandang Kira. Ia menyesuaikan posisi tangan. Profesional… tetap profesional… jangan grogi…

Penghulu menatap Kira. “Apakah Anda menerima Lumi Savira sebagai istri, dengan semua hak dan kewajiban, dalam ikatan pernikahan yang sah secara agama, walaupun ini… hanya formalitas kontrak?”

Kira mengangkat sedikit kepala, menatap Lumi lurus. Suaranya berat, tenang: “Saya terima, dengan hak dan kewajiban yang tercantum dalam perjanjian kami.”

Lumi menahan napas, kemudian membalas, nada tenang tapi hati sedikit dag-dig-dug: “Saya terima, dengan hak dan kewajiban yang tercantum dalam perjanjian kami.”

Penghulu mencatat di buku nikah. “Baik. Sah. Silakan tandatangani buku nikahnya.”

Lumi menandatangani buku itu, jari sedikit gemetar, tapi tetap rapi. Kira menandatangani di sisi lain tanpa kesan grogi. Setelah itu, seorang asisten studio foto muncul, membawa kamera dan properti mini: kursi, bunga, latar putih bersih. “Foto keluarga dulu, ya,” katanya sambil tersenyum.

Lumi menatap Kira. Oke… ini bener-bener terasa nyata. Tapi ia menghela napas dan tersenyum tipis. “Profesional, tetap profesional,” gumamnya dalam hati.

Pose pertama: mereka duduk berdampingan. Lumi menyesuaikan senyum manis, Kira tetap dingin tapi tampan.

Pose kedua: berdiri, tangan di samping, sedikit condong satu sama lain. Lumi menahan tawa kecil di hati: ini beneran six-month marriage resmi… absurd tapi… lucu.

Asisten foto memberi kode. “Terakhir, close-up couple smile.”

Lumi menatap kamera, senyum profesional. Kira menatap Lumi. Sunyi sebentar, lalu… sekilas bibirnya menegang seperti hampir tersenyum, tapi ditahan.

Lumi menelan ludah, tersenyum tipis lagi. Dalam hati, ia berpikir: oke, profesional… batas jelas… tapi… ini bakal kacau, dan mungkin seru. Foto terakhir diambil. Kamera menyalakan bunyi shutter. Lumi menatap Kira, dan untuk pertama kalinya… sedikit lega: setidaknya, drama resmi ini selesai… untuk saat ini.

Bersambung

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Terima Jasa Sewa Sebagai Istri   Ada Tamu

    Pagi hari di rumah Kira berjalan lebih tenang dari biasanya.Sinar matahari masuk melalui jendela ruang makan yang besar. Meja sudah tertata rapi dengan sarapan sederhana yang disiapkan oleh pembantu rumah. Lumi baru saja duduk ketika Kira sudah lebih dulu berada di sana.Ia mengenakan kemeja kerja, lengan bajunya digulung sedikit. Di depannya ada laptop yang terbuka dan secangkir kopi hitam yang hampir habis. Begitu Lumi duduk, Kira mengangkat pandangannya sebentar.“Duduk.”Nada suaranya datar seperti biasa. Lumi sebenarnya sudah duduk, tapi tetap mengangguk kecil.“Iya…”Ia mengambil sendok, tapi gerakannya sedikit kaku. Bayangan semalam muncul lagi di kepalanya. Kira di kamarnya menyentuh dahinya dan berdiri terlalu dekat. Lumi buru-buru fokus pada piringnya. Namun sebelum ia sempat makan, suara ponsel Kira berdering di atas meja.Kira langsung mengangkatnya.“Ya.”Lumi mencoba terlihat biasa saja sambil mulai makan. Namun beberapa detik kemudian ia mendengar nama itu.“Anggi?”Se

  • Terima Jasa Sewa Sebagai Istri   Sentuhan itu Lagi

    POV Kira Mobil akhirnya berhenti di halaman rumah. Mesin dimatikan. Suasana langsung menjadi lebih sunyi. Lumi turun lebih dulu dari mobil. Ia menggumamkan sesuatu seperti ucapan terima kasih yang terdengar terburu-buru, lalu hampir setengah berlari masuk ke dalam rumah.Pintu tertutup. Kira masih duduk di dalam mobil. Tangannya tetap berada di atas setir, matanya menatap lurus ke depan. Beberapa detik ia tidak bergerak sama sekali. Lalu perlahan ia menyandarkan punggung ke kursi. Sunyi. Namun pikirannya tidak setenang wajahnya. Bayangan Lumi di mobil tadi muncul lagi tanpa diminta. Wajahnya yang tiba-tiba memerah. Cara perempuan itu langsung membeku saat ia mengangkat tangan. Kira menghela napas pendek. Ia bahkan tidak berpikir panjang waktu itu. Hanya refleks. Ketika melihat noda sambal di pelipis Lumi, tangannya langsung bergerak membersihkannya. Sesederhana itu. Namun reaksi Lumi seolah ia baru saja melakukan sesuatu yang besar. Kira menutup mata sejenak. Hal lain juga kembali

  • Terima Jasa Sewa Sebagai Istri   Wahai Jantung

    Aroma makanan mulai memenuhi dapur. Udang saus mentega, sup seafood, dan beberapa hidangan lain sudah tertata rapi di atas meja panjang. Lumi membantu Bu Rini dan Sari memindahkan piring-piring ke ruang makan. “Bagus sekali,” kata Ibu Indah sambil melihat meja yang sudah hampir penuh. “Sudah lama rumah ini tidak seramai ini. Sayang Alika dan Nayla mereka masih belum pulang." Lumi tersenyum kecil. Belum sempat ia menjawab, suara pintu depan terdengar terbuka dari ruang tengah. Klik. Langkah kaki masuk ke dalam rumah. Lumi yang sedang membawa mangkuk sup langsung berhenti di tempat. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. “Sepertinya Kira sudah pulang,” kata Ibu Indah santai dari belakangnya. Kalimat itu membuat Lumi makin kaku. Beberapa detik kemudian langkah kaki itu semakin mendekat. Dan benar saja—Kira muncul di ambang pintu ruang makan. Masih dengan setelan kerja, jasnya tersampir di lengan. Wajahnya terlihat sedikit lelah setelah seharian bekerja, tapi ekspresinya tetap se

  • Terima Jasa Sewa Sebagai Istri   Memasak bersama Mertua

    Hari ini Lumi tidak keluar sama sekali dari kamarnya, setelah kejadian kemaren ia merasa malu bertemu Kira. Bayangan ia memeluk Kira karena ketakutan dan ia bersandar di bahu Kira karena demam membuatnya malu. Berani sekali dirinya melakukan itu. Beruntung Kira tidak marah. Lumi duduk di sofa dalam kamar, televisi menyala menyiarkan berita gosip. Tapi matanya tidak benar-benar menyimak acara itu. Khayalannya melayang ke kejadia kemaren. "Aaaaaa aku maluuuu!" teriaknya frustasi, Lumi mengambil susu dingin yang di buat oleh Kira. Saat ia sedang memindah-mindah chanel telponnya berdering. Dan ada nama Ibu Indah di layar telponnya. Ia langsung mengangkatnya. “Halo, Bu?” “Lumi, kamu lagi di rumah dan nggak sibuk?” “Iya, Bu.” "Temenin ibu masak yuk buat kita makan malem bareng. Ibu banyak beli seafood nih." "Seakarang bu kerumahnya?" "Iya dong. Masa besok." kelakar ibu Indah di telpon membuat Lumi tersenyum. Setelah berpikir sejenak Lumi mengiyakan permintaan Ibu Indah

  • Terima Jasa Sewa Sebagai Istri   Pertanyaan demi Pertanyaan.

    Ruang rapat lantai dua puluh itu dipenuhi cahaya dari jendela kaca besar yang menghadap langsung ke pusat kota. Di tengah ruangan, meja panjang sudah dipenuhi berkas kerja sama, tablet, dan beberapa cangkir kopi yang mulai dingin.Kira duduk di sisi kanan meja. Ekspresinya sama seperti biasanya—tenang, datar, sulit dibaca. Di seberangnya, Anggi memegang pulpen sambil membaca dokumen terakhir yang baru saja dipresentasikan oleh tim legal.Beberapa staf dari kedua perusahaan masih berada di ruangan itu. Presentasi hampir selesai.“Kami sudah meninjau revisi pada poin distribusi regional,” kata salah satu manajer dari perusahaan Anggi. “Jika tidak ada perubahan tambahan, tahap implementasi bisa dimulai bulan depan.”Kira mengangguk sedikit.“Itu sesuai dengan timeline yang kami rencanakan.”Anggi menutup dokumen di depannya.“Perusahaan kami juga tidak memiliki keberatan,” katanya dengan nada profesional. “Selama laporan audit tetap transparan seperti yang sudah disepakati.”“Sudah menja

  • Terima Jasa Sewa Sebagai Istri   Hanya Kontrak

    Kira menunggu cukup lama sampai napas Lumi benar-benar teratur. Perempuan itu akhirnya tertidur lagi setelah minum obat. Wajahnya masih pucat, tapi kerutan di dahinya sudah menghilang. Tidak ada lagi gumaman takut. Tidak ada lagi tubuh yang gelisah.Kira berdiri perlahan dari sisi tempat tidur. Ia menarik selimut Lumi sedikit lebih tinggi, memastikan bahunya tertutup. Tangannya sempat berhenti sepersekian detik di dahi Lumi—mengecek suhu tubuhnya sekali lagi. Masih hangat. Tapi tidak setinggi tadi.“Tidur saja,” gumamnya pelan.Kira keluar dengan langkah hati-hati. Pintu ditutup tanpa suara. Ruang kerja Kira berada di ujung lorong lantai dua. Ruangan itu selalu terasa berbeda dari bagian rumah lain. Lebih sunyi. Lebih… dingin.Di sinilah sebagian besar waktunya dihabiskan. Laptop sudah menyala di atas meja. Beberapa dokumen digital menunggu persetujuan. Rapat pagi sudah ia batalkan, tapi bukan berarti pekerjaannya ikut berhenti.Kira duduk. Tangannya bergerak cepat di keyboard. Membal

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status