Share

Simulasi

Penulis: AlunaSweet
last update Tanggal publikasi: 2026-02-10 23:24:11

Sore itu, rumah Kira sudah berubah total. Foto pernikahan besar di ruang tamu, bunga segar di meja makan, lampu hangat menyinari sofa. Anak buah Kira sudah pergi, meninggalkan Lumi dan Kira sendiri.

Lumi menatap Kira, mencoba menenangkan diri, sambil menyesap teh hangat. “Baiklah… Pak Kira, latihan pertama. Kita makan bersama, panggilan suami-istri, gesture terlihat wajar, dan tetap menjaga ekspresi. Siap?”

Kira mengangguk, ekspresinya datar. “Siap.”

Lumi menarik napas panjang, mencoba nada lembut tapi natural: “Suami… boleh minta garamnya?”

Kira menoleh, mengambil garam, meletakkannya di depan Lumi, lalu kembali duduk tanpa berkata apa pun. Tatapannya tetap fokus, tubuh tegap.

Lumi menelan ludah, tersenyum tipis. “Makanannya enak, ya… suami.”

Kira menatapnya singkat. “Ya.”

Lumi mencoba mengisi kesunyian. “Pak… Kira… boleh tanya… kenapa semua ini dibuat begitu rinci? Rumah megah, connecting door, foto pernikahan besar, aturan segambreng… kenapa harus sebegitu detail?”

Kira menatapnya lurus, ekspresi tetap datar. “Tidak ada dalam kontrak.”

Lumi nyaris tersedak. “Oh… maksud lo… berarti… enggak boleh ditanya lagi, ya?”

Kira sekali lagi menatapnya tanpa berubah. “Benar. Fokus pada kesepakatan yang ada. Hal lain tidak relevan.”

Mereka makan dalam keheningan yang aneh, tapi Lumi harus terbiasa dengan panggilan “suami” untuk Kira, gerakan tangan yang disesuaikan, dan tatapan Kira yang… entah kenapa mulai terasa tenang tapi terlihat jelas jarak. Sekali-sekali Lumi menahan tawa kecil saat membayangkan dirinya duduk di rumah mewah, mengikuti semua aturan absurd, tapi tetap harus terlihat seperti pasangan nyata.

Kira mengambil sepotong roti dan menaruh di piring Lumi tanpa berkata apa pun. Lumi menatapnya, tersenyum tipis. Ia sadar satu hal: aturan ketat Kira… justru membuat semuanya terasa nyata.

Sore itu, Lumi berdiri di ruang tamu mewah, menatap jendela besar yang memantulkan cahaya matahari. Rumah sudah sunyi karena Kira pergi untuk urusan pekerjaan. Lumi menelan napas panjang, menatap kamar sendiri, dan mulai menata koper serta barang-barangnya. 

Lemari besar dibuka, baju disusun ulang sesuai selera. Meja rias diberi beberapa foto pribadi, kursi kecil di pojok digeser, tirai digeser agar cahaya masuk lebih banyak. Saat menata meja rias, ia teringat percakapan tadi di meja makan dengan Kira. “Uang bulanan tetap ada di luar kontrak,” katanya menirukan Kira. “Tanggung jawab gue. Jadi gue nggak perlu pusing soal belanja bulanan, listrik, atau tagihan rutin. Semua sudah diatur.” Ia tidak menyentuh kamar Kira sama sekali, mengingat perjanjian ketat yang sudah disepakati.

“Baik… six months… gue bisa atur ruang gue sendiri, tapi tetap sesuai aturan kontrak,” gumam Lumi sambil menata bantal di tempat tidur. Senyum tipis muncul di bibirnya saat melihat kamar kini terasa lebih “hidup” dan nyaman.

Setelah semuanya selesai, Lumi duduk di sofa ruang tamu, menghela napas panjang, lalu mengambil ponsel. Ia menekan tombol panggil, dan suara Dena segera terdengar di seberang.

“DENAAAA! Lu nggak akan percaya rumahnya gila banget! Megah, gede, ada kolam, lukisan, sofa super enak, dan—dengar ini—foto pernikahan kita dipajang besar di ruang tamu! Gue nggak nyangka, Dena, gue bener-bener kayak… istri sungguhan!” Lumi bicara panjang lebar, suara setengah panik setengah takjub.

Dena di seberang telepon tertawa terbahak. “HAHAHAHA! Lu bener-bener masuk dunia lain, ya? Gue nggak tahu harus kasihan atau iri!”

Lumi terkekeh. “Kasihan? Gue malah capek mikirin aturan segambreng! Panggilan suami-istri, connecting door, jadwal makan, foto studio… dan gue harus tetep tenang! Tapi… seru juga, Dena! Gue belum pernah tinggal di rumah sebesar ini, dan gue bisa atur kamar gue sendiri! Tau nggak, gue pindah bantal sendiri, atur lampu… pokoknya semua sesuai gue, tapi tetap nggak nyentuh kamar Kira.”

Dena tertawa lagi, suaranya terdengar panjang dan dramatis. “HAHAHAHA! Lu parah! Tapi… gue seneng lu senang. Jangan sampe kelabakan ya, ini six months bisa panjang!”

Lumi menutup telepon dengan senyum tipis. Ia menatap ruang tamu yang kini hening, tangan masih memegang cangkir teh hangat. Senyumnya mengembang sedikit, puas dengan hasil sore ini—kamar sudah ditata, rumah dijelajahi, dan dirinya merasa mulai menemukan ritme sebagai “istri sementara”.

Tapi Di sudut pikirannya, ada sedikit rasa penasaran: kenapa Kira sebegitu teliti? Kenapa ada connecting door, aturan panggilan, dan rumah harus terlihat seperti pasangan sungguhan? Tapi ia menepuk tangannya sendiri. “Nggak penting sekarang. Kontrak jalan, gue nikmati rumah dulu.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Terima Jasa Sewa Sebagai Istri   Ada Tamu

    Pagi hari di rumah Kira berjalan lebih tenang dari biasanya.Sinar matahari masuk melalui jendela ruang makan yang besar. Meja sudah tertata rapi dengan sarapan sederhana yang disiapkan oleh pembantu rumah. Lumi baru saja duduk ketika Kira sudah lebih dulu berada di sana.Ia mengenakan kemeja kerja, lengan bajunya digulung sedikit. Di depannya ada laptop yang terbuka dan secangkir kopi hitam yang hampir habis. Begitu Lumi duduk, Kira mengangkat pandangannya sebentar.“Duduk.”Nada suaranya datar seperti biasa. Lumi sebenarnya sudah duduk, tapi tetap mengangguk kecil.“Iya…”Ia mengambil sendok, tapi gerakannya sedikit kaku. Bayangan semalam muncul lagi di kepalanya. Kira di kamarnya menyentuh dahinya dan berdiri terlalu dekat. Lumi buru-buru fokus pada piringnya. Namun sebelum ia sempat makan, suara ponsel Kira berdering di atas meja.Kira langsung mengangkatnya.“Ya.”Lumi mencoba terlihat biasa saja sambil mulai makan. Namun beberapa detik kemudian ia mendengar nama itu.“Anggi?”Se

  • Terima Jasa Sewa Sebagai Istri   Sentuhan itu Lagi

    POV Kira Mobil akhirnya berhenti di halaman rumah. Mesin dimatikan. Suasana langsung menjadi lebih sunyi. Lumi turun lebih dulu dari mobil. Ia menggumamkan sesuatu seperti ucapan terima kasih yang terdengar terburu-buru, lalu hampir setengah berlari masuk ke dalam rumah.Pintu tertutup. Kira masih duduk di dalam mobil. Tangannya tetap berada di atas setir, matanya menatap lurus ke depan. Beberapa detik ia tidak bergerak sama sekali. Lalu perlahan ia menyandarkan punggung ke kursi. Sunyi. Namun pikirannya tidak setenang wajahnya. Bayangan Lumi di mobil tadi muncul lagi tanpa diminta. Wajahnya yang tiba-tiba memerah. Cara perempuan itu langsung membeku saat ia mengangkat tangan. Kira menghela napas pendek. Ia bahkan tidak berpikir panjang waktu itu. Hanya refleks. Ketika melihat noda sambal di pelipis Lumi, tangannya langsung bergerak membersihkannya. Sesederhana itu. Namun reaksi Lumi seolah ia baru saja melakukan sesuatu yang besar. Kira menutup mata sejenak. Hal lain juga kembali

  • Terima Jasa Sewa Sebagai Istri   Wahai Jantung

    Aroma makanan mulai memenuhi dapur. Udang saus mentega, sup seafood, dan beberapa hidangan lain sudah tertata rapi di atas meja panjang. Lumi membantu Bu Rini dan Sari memindahkan piring-piring ke ruang makan. “Bagus sekali,” kata Ibu Indah sambil melihat meja yang sudah hampir penuh. “Sudah lama rumah ini tidak seramai ini. Sayang Alika dan Nayla mereka masih belum pulang." Lumi tersenyum kecil. Belum sempat ia menjawab, suara pintu depan terdengar terbuka dari ruang tengah. Klik. Langkah kaki masuk ke dalam rumah. Lumi yang sedang membawa mangkuk sup langsung berhenti di tempat. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. “Sepertinya Kira sudah pulang,” kata Ibu Indah santai dari belakangnya. Kalimat itu membuat Lumi makin kaku. Beberapa detik kemudian langkah kaki itu semakin mendekat. Dan benar saja—Kira muncul di ambang pintu ruang makan. Masih dengan setelan kerja, jasnya tersampir di lengan. Wajahnya terlihat sedikit lelah setelah seharian bekerja, tapi ekspresinya tetap se

  • Terima Jasa Sewa Sebagai Istri   Memasak bersama Mertua

    Hari ini Lumi tidak keluar sama sekali dari kamarnya, setelah kejadian kemaren ia merasa malu bertemu Kira. Bayangan ia memeluk Kira karena ketakutan dan ia bersandar di bahu Kira karena demam membuatnya malu. Berani sekali dirinya melakukan itu. Beruntung Kira tidak marah. Lumi duduk di sofa dalam kamar, televisi menyala menyiarkan berita gosip. Tapi matanya tidak benar-benar menyimak acara itu. Khayalannya melayang ke kejadia kemaren. "Aaaaaa aku maluuuu!" teriaknya frustasi, Lumi mengambil susu dingin yang di buat oleh Kira. Saat ia sedang memindah-mindah chanel telponnya berdering. Dan ada nama Ibu Indah di layar telponnya. Ia langsung mengangkatnya. “Halo, Bu?” “Lumi, kamu lagi di rumah dan nggak sibuk?” “Iya, Bu.” "Temenin ibu masak yuk buat kita makan malem bareng. Ibu banyak beli seafood nih." "Seakarang bu kerumahnya?" "Iya dong. Masa besok." kelakar ibu Indah di telpon membuat Lumi tersenyum. Setelah berpikir sejenak Lumi mengiyakan permintaan Ibu Indah

  • Terima Jasa Sewa Sebagai Istri   Pertanyaan demi Pertanyaan.

    Ruang rapat lantai dua puluh itu dipenuhi cahaya dari jendela kaca besar yang menghadap langsung ke pusat kota. Di tengah ruangan, meja panjang sudah dipenuhi berkas kerja sama, tablet, dan beberapa cangkir kopi yang mulai dingin.Kira duduk di sisi kanan meja. Ekspresinya sama seperti biasanya—tenang, datar, sulit dibaca. Di seberangnya, Anggi memegang pulpen sambil membaca dokumen terakhir yang baru saja dipresentasikan oleh tim legal.Beberapa staf dari kedua perusahaan masih berada di ruangan itu. Presentasi hampir selesai.“Kami sudah meninjau revisi pada poin distribusi regional,” kata salah satu manajer dari perusahaan Anggi. “Jika tidak ada perubahan tambahan, tahap implementasi bisa dimulai bulan depan.”Kira mengangguk sedikit.“Itu sesuai dengan timeline yang kami rencanakan.”Anggi menutup dokumen di depannya.“Perusahaan kami juga tidak memiliki keberatan,” katanya dengan nada profesional. “Selama laporan audit tetap transparan seperti yang sudah disepakati.”“Sudah menja

  • Terima Jasa Sewa Sebagai Istri   Hanya Kontrak

    Kira menunggu cukup lama sampai napas Lumi benar-benar teratur. Perempuan itu akhirnya tertidur lagi setelah minum obat. Wajahnya masih pucat, tapi kerutan di dahinya sudah menghilang. Tidak ada lagi gumaman takut. Tidak ada lagi tubuh yang gelisah.Kira berdiri perlahan dari sisi tempat tidur. Ia menarik selimut Lumi sedikit lebih tinggi, memastikan bahunya tertutup. Tangannya sempat berhenti sepersekian detik di dahi Lumi—mengecek suhu tubuhnya sekali lagi. Masih hangat. Tapi tidak setinggi tadi.“Tidur saja,” gumamnya pelan.Kira keluar dengan langkah hati-hati. Pintu ditutup tanpa suara. Ruang kerja Kira berada di ujung lorong lantai dua. Ruangan itu selalu terasa berbeda dari bagian rumah lain. Lebih sunyi. Lebih… dingin.Di sinilah sebagian besar waktunya dihabiskan. Laptop sudah menyala di atas meja. Beberapa dokumen digital menunggu persetujuan. Rapat pagi sudah ia batalkan, tapi bukan berarti pekerjaannya ikut berhenti.Kira duduk. Tangannya bergerak cepat di keyboard. Membal

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status