MasukSore itu, rumah Kira sudah berubah total. Foto pernikahan besar di ruang tamu, bunga segar di meja makan, lampu hangat menyinari sofa. Anak buah Kira sudah pergi, meninggalkan Lumi dan Kira sendiri.
Lumi menatap Kira, mencoba menenangkan diri, sambil menyesap teh hangat. “Baiklah… Pak Kira, latihan pertama. Kita makan bersama, panggilan suami-istri, gesture terlihat wajar, dan tetap menjaga ekspresi. Siap?”
Kira mengangguk, ekspresinya datar. “Siap.”
Lumi menarik napas panjang, mencoba nada lembut tapi natural: “Suami… boleh minta garamnya?”
Kira menoleh, mengambil garam, meletakkannya di depan Lumi, lalu kembali duduk tanpa berkata apa pun. Tatapannya tetap fokus, tubuh tegap.
Lumi menelan ludah, tersenyum tipis. “Makanannya enak, ya… suami.”
Kira menatapnya singkat. “Ya.”
Lumi mencoba mengisi kesunyian. “Pak… Kira… boleh tanya… kenapa semua ini dibuat begitu rinci? Rumah megah, connecting door, foto pernikahan besar, aturan segambreng… kenapa harus sebegitu detail?”
Kira menatapnya lurus, ekspresi tetap datar. “Tidak ada dalam kontrak.”
Lumi nyaris tersedak. “Oh… maksud lo… berarti… enggak boleh ditanya lagi, ya?”
Kira sekali lagi menatapnya tanpa berubah. “Benar. Fokus pada kesepakatan yang ada. Hal lain tidak relevan.”
Mereka makan dalam keheningan yang aneh, tapi Lumi harus terbiasa dengan panggilan “suami” untuk Kira, gerakan tangan yang disesuaikan, dan tatapan Kira yang… entah kenapa mulai terasa tenang tapi terlihat jelas jarak. Sekali-sekali Lumi menahan tawa kecil saat membayangkan dirinya duduk di rumah mewah, mengikuti semua aturan absurd, tapi tetap harus terlihat seperti pasangan nyata.
Kira mengambil sepotong roti dan menaruh di piring Lumi tanpa berkata apa pun. Lumi menatapnya, tersenyum tipis. Ia sadar satu hal: aturan ketat Kira… justru membuat semuanya terasa nyata.
Sore itu, Lumi berdiri di ruang tamu mewah, menatap jendela besar yang memantulkan cahaya matahari. Rumah sudah sunyi karena Kira pergi untuk urusan pekerjaan. Lumi menelan napas panjang, menatap kamar sendiri, dan mulai menata koper serta barang-barangnya.
Lemari besar dibuka, baju disusun ulang sesuai selera. Meja rias diberi beberapa foto pribadi, kursi kecil di pojok digeser, tirai digeser agar cahaya masuk lebih banyak. Saat menata meja rias, ia teringat percakapan tadi di meja makan dengan Kira. “Uang bulanan tetap ada di luar kontrak,” katanya menirukan Kira. “Tanggung jawab gue. Jadi gue nggak perlu pusing soal belanja bulanan, listrik, atau tagihan rutin. Semua sudah diatur.” Ia tidak menyentuh kamar Kira sama sekali, mengingat perjanjian ketat yang sudah disepakati.
“Baik… six months… gue bisa atur ruang gue sendiri, tapi tetap sesuai aturan kontrak,” gumam Lumi sambil menata bantal di tempat tidur. Senyum tipis muncul di bibirnya saat melihat kamar kini terasa lebih “hidup” dan nyaman.
Setelah semuanya selesai, Lumi duduk di sofa ruang tamu, menghela napas panjang, lalu mengambil ponsel. Ia menekan tombol panggil, dan suara Dena segera terdengar di seberang.
“DENAAAA! Lu nggak akan percaya rumahnya gila banget! Megah, gede, ada kolam, lukisan, sofa super enak, dan—dengar ini—foto pernikahan kita dipajang besar di ruang tamu! Gue nggak nyangka, Dena, gue bener-bener kayak… istri sungguhan!” Lumi bicara panjang lebar, suara setengah panik setengah takjub.
Dena di seberang telepon tertawa terbahak. “HAHAHAHA! Lu bener-bener masuk dunia lain, ya? Gue nggak tahu harus kasihan atau iri!”
Lumi terkekeh. “Kasihan? Gue malah capek mikirin aturan segambreng! Panggilan suami-istri, connecting door, jadwal makan, foto studio… dan gue harus tetep tenang! Tapi… seru juga, Dena! Gue belum pernah tinggal di rumah sebesar ini, dan gue bisa atur kamar gue sendiri! Tau nggak, gue pindah bantal sendiri, atur lampu… pokoknya semua sesuai gue, tapi tetap nggak nyentuh kamar Kira.”
Dena tertawa lagi, suaranya terdengar panjang dan dramatis. “HAHAHAHA! Lu parah! Tapi… gue seneng lu senang. Jangan sampe kelabakan ya, ini six months bisa panjang!”
Lumi menutup telepon dengan senyum tipis. Ia menatap ruang tamu yang kini hening, tangan masih memegang cangkir teh hangat. Senyumnya mengembang sedikit, puas dengan hasil sore ini—kamar sudah ditata, rumah dijelajahi, dan dirinya merasa mulai menemukan ritme sebagai “istri sementara”.
Tapi Di sudut pikirannya, ada sedikit rasa penasaran: kenapa Kira sebegitu teliti? Kenapa ada connecting door, aturan panggilan, dan rumah harus terlihat seperti pasangan sungguhan? Tapi ia menepuk tangannya sendiri. “Nggak penting sekarang. Kontrak jalan, gue nikmati rumah dulu.”
Acara selesai menjelang malam. Lampu-lampu taman rumah Ibu Indah masih menyala hangat ketika para tamu satu per satu pamit. Senyum sosial masih terpasang, ucapan terima kasih masih terdengar ringan, seolah tidak ada satu pun kalimat tajam yang sempat melintas sore tadi.Kira berdiri di samping Lumi saat berpamitan. Sikapnya tenang dan formal. Ibu Indah menepuk lengan Lumi lembut sebelum mereka turun ke halaman. “Kamu tadi bagus sekali,” ucapnya pelan, cukup untuk didengar berdua. “Tidak semua orang bisa tetap tenang.”Lumi tersenyum sopan. “Saya belajar dari yang terbaik, Bu.”Kira hanya mengangguk kecil. Tidak ada komentar tambahan. Di dalam mobil, pintu tertutup dengan bunyi yang terdengar lebih keras dari biasanya. Mesin menyala. Sabuk pengaman terpasang. Jalanan malam relatif lengang.Lima menit pertama, hanya suara mesin dan AC. Lumi menatap keluar jendela, lampu-lampu kota memantul di kaca seperti garis-garis cahaya yang kabur. Ia membuka suara lebih dulu, nadanya ringan—bahkan
Sore itu Lumi berdiri di ambang pintu kamar Kira, mengetuk pelan sebelum masuk. Kira sedang merapikan manset kemejanya di depan cermin, wajahnya setenang biasa—atau setidaknya terlihat begitu. Sejak nama Anggi disebut beberapa hari lalu, ia memang tidak berubah drastis, hanya saja kalimatnya lebih singkat, tatapannya lebih sulit ditebak, dan jeda di antara jawabannya terasa sedikit lebih panjang.Lumi menyilangkan tangan di dada, mencoba terdengar santai meski ada nada ragu di ujung suaranya. “Mas, Ibu Indah ngajak aku ikut arisan minggu ini. Katanya di rumah beliau saja. Tapi… kayaknya bukan arisan biasa deh. Lebih ke pertemuan istri-istri pengusaha dan lingkaran sosialnya.” Kini Lumi membiasakan hari-hari memanggil Kira 'Mas' agar tidak canggung.Kira berhenti sejenak, menatap pantulan dirinya sendiri sebelum akhirnya berbalik. “Memang bukan arisan biasa.”“Jadi kamu tahu?”“Iya. Saya juga harus ikut.”Lumi mengerjap. “Kamu ikut juga?”“Biasanya suami datang di awal. Formalitas. Set
Air keran masih menetes pelan ketika langkah Kira menghilang dari dapur. Tidak ada bantingan pintu. Tidak ada suara berat. Hanya jejak keheningan yang tiba-tiba terasa terlalu dingin.Lumi berdiri beberapa detik tanpa bergerak, kain lap masih tergenggam di tangannya. Uap hangat dari wastafel perlahan memudar. Dapur yang tadi penuh dengan debat absurd tentang adonan berperasaan kini terasa seperti ruangan yang berbeda.Ia menghembuskan napas panjang.“Baik,” gumamnya pelan pada dirinya sendiri. “Reaksinya normal. Sangat normal. Orang ditanya satu nama lalu langsung menghilang, itu normal.”Ia kembali ke meja dan mulai melipat kain lap dengan gerakan lebih lambat dari sebelumnya. Tidak lagi terburu-buru. Tidak lagi bercanda. Nama itu kembali terngiang.Anggi.Dan tanpa bisa dicegah, pikirannya melompat pada siang tadi—saat dapur masih riuh oleh tawa.Flashback kecil itu muncul jelas.Nayla berdiri di depan oven dengan tangan bertolak pinggang sambil tertawa melihat kue yang mengempis di
Pintu depan terbuka seperti biasa. Tidak ada firasat apa pun. Kira masuk sambil melepas jam tangannya, langkahnya stabil menuju ruang tengah—lalu berhenti. Rumahnya… sunyi.Padahal ada jejak kekacauan yang jelas bukan hasil satu orang. Dari ruang tamu terlihat sekilas kursi bergeser tidak pada tempatnya. Sebuah celemek tergeletak di sandaran sofa. Dan dari arah dapur, aroma manis gosong yang samar masih menggantung di udara.Ia berjalan masuk. Dan mendapati dapur dalam kondisi yang membuat alisnya terangkat satu garis tipis. Tepung seperti kabut tipis di atas meja. Lantai sedikit lengket. Wastafel penuh mangkuk dan spatula. Di tengah meja, sebuah kue dengan bentuk ambigu berdiri seperti simbol kegagalan yang percaya diri.Lumi berdiri di depan wastafel dengan tangan bersabun, rambutnya diikat seadanya, wajahnya menunjukkan kelelahan dramatis. Ia menoleh saat mendengar langkah Kira. Tatapan mereka bertemu.Lumi tidak langsung menyapa. Ia hanya menatapnya beberapa detik, lalu mematikan
Gedung Mahesa Pratama Group berdiri dengan fasad kaca gelap setinggi dua puluh lantai di kawasan bisnis Sudirman. Logo perak bertuliskan PT. MPG terpasang sederhana tapi mencolok di lobi. Tidak berlebihan, tapi jelas mahal.Kira melangkah masuk dengan setelan abu-abu gelap yang jatuh sempurna di tubuhnya. Tidak ada gerakan sia-sia. Satpam langsung berdiri tegak.“Selamat pagi, Pak Kira.”Ia hanya mengangguk tipis. Begitu pintu lift tertutup, wajahnya berubah lebih datar. Tidak ada sisa kekacauan pagi tadi. Tidak ada jejak Lumi jatuh menimpanya. Tidak ada memori tatapan canggung. Seolah itu hanya glitch dalam sistem hidupnya.Begitu keluar di lantai 20, sekretarisnya, Raline, langsung berdiri.“Pak, meeting dengan investor Surabaya dipercepat jadi jam sebelas. Dan laporan progres proyek Mahesa Residence tahap dua sudah saya taruh di meja Anda. Tapi ada sedikit kendala di pembebasan lahan.”“Kendala atau penolakan?” tanya Kira tanpa berhenti berjalan.“Penolakan, Pak. Salah satu pemilik
Beberapa menit kemudian, mereka sudah duduk di meja makan. Lumi berusaha terlihat segar meski rambutnya masih terasa menyimpan jejak “sidak”, sementara Kira kembali ke mode tenang yang nyaris menyebalkan karena terlalu stabil.Akila dan Nayla duduk berhadapan dengan mereka, ekspresi keduanya seperti dua reporter infotainment yang baru saja mendapatkan bahan headline.“Kak Kira nggak kerja?” tanya Nayla polos tapi jelas penuh muatan.Kira menuang air ke gelasnya sebelum menjawab dengan nada santai, “Saya atur jadwal sendiri hari ini. Ada pekerjaan yang bisa diselesaikan dari rumah.”“Wah, fleksibel sekali,” komentar Akila sambil membuka tas besar yang ia bawa. Ia mulai mengeluarkan beberapa kotak makanan satu per satu dengan bangga. “Kita bawain sarapan dari rumah. Ini Mama yang masak. Katanya kasihan kalau menantu barunya cuma makan roti tawar atau sereal instan.”Lumi langsung menegakkan badan. “Astaga, Ibu Indah masak langsung? Aku jadi merasa bersalah.”“Bersalah kenapa?” tanya Nay







