MasukPagi itu, Lumi Savira berdiri di depan rumah Kira Mahesa—gedung megah bertingkat, fasad kaca mengkilap, taman hijau luas dengan kolam kecil yang memantulkan matahari. Ia menenteng koper, menarik napas panjang.
Kira muncul di pintu utama, jas hitam menempel pas di bahu, matanya tajam menatap Lumi tanpa senyum. “Selamat datang. Ini akan jadi rumah kita enam bulan ke depan. Jangan buat kekacauan.”
Lumi mengangguk, mencoba menenangkan diri. Oke, six months… bayarannya gila… bisa di-handle… mungkin.
Setelah menaruh kopernya di kamar utama yang luas, Lumi turun ke ruang keluarga dengan langit-langit tinggi dan jendela besar menghadap kolam. Lukisan modern menghiasi dinding, sofa besar menunggu siapa pun yang ingin duduk.
Kira berdiri di sampingnya, tangan disilangkan. “Aturan rumah ini sederhana: kita akan menempati kamar terpisah, tapi ada connecting door untuk berjaga-jaga kalau orang tua atau kerabat tiba-tiba datang. Pahami?”
Lumi menelan ludah, matanya melebar sedikit. Connecting door… oh Tuhan… six months… oke… “Iya, mengerti. Jadi kita tetap punya batasan, tapi bisa ‘siap darurat’.”
Kira menatap Lumi sebentar. “Di depan tamu atau kerabat, panggilan ‘suami-istri’ wajib, gesture harus alami, dan interaksi harus sesuai kontrak. Tidak ada improvisasi.”
Lumi mengangguk, mencoba menahan senyum tipis. Kira menyerahkan ponsel berisi jadwal minggu pertama: pertemuan bisnis ringan, makan siang dengan beberapa kolega, dan sesi foto studio di rumah. “Ini jadwal awal. Tidak ada perubahan tanpa persetujuan.”
Lumi menatap ponsel, menghela napas panjang, lalu menatap Kira. “Baik… aturan jelas… batas jelas… tapi mungkin bakal seru.”
Kira menatapnya sebentar, anggukan tipis di wajahnya. Tidak banyak kata, tapi cukup membuat Lumi tersenyum kecil.
~
Tidak lama setelah mereka bicara tentang connecting door, beberapa anak buah Kira muncul. Dua pria dan satu wanita, semuanya berpakaian rapi, membawa tas, kotak, dan beberapa bingkai foto.
“Selamat pagi, Pak Kira. Kami siap menyiapkan rumah sesuai skenario,” kata salah satu pria, bowing sebentar.
Kira mengangguk singkat. “Lakukan. Semua harus terlihat alami.”
Lumi menatap mereka, setengah bingung. “Alami…?”
Wanita itu tersenyum, mulai mengeluarkan beberapa bingkai besar. “Kami bawa beberapa foto pasangan, Pak Kira dan Ibu Lumi,” katanya sambil meletakkan satu bingkai besar di ruang tamu.
Lumi menatap foto itu. Mata Kira serius menatap kamera, Lumi tersenyum manis—persis seperti mereka resmi menikah. Foto itu dipajang di atas konsol besar, menghadap pintu masuk, seolah-olah rumah itu memang milik mereka sejak lama.
Seorang pria lain mulai menata meja makan, menambahkan bunga segar dan beberapa peralatan dinner yang elegan tapi sederhana. “Kami juga menyesuaikan area keluarga, Pak. Semua properti akan membuat rumah terlihat seperti milik suami-istri nyata.”
Lumi menahan tawa kecil. “Ini… serius… mereka… benar-benar serius, ya?”
Kira menatapnya tanpa ekspresi. “Ini bagian dari kontrak. Semua harus terlihat nyata.”
Anak buah Kira mulai menata sofa, menambahkan bantal, dan beberapa buku bersampul kulit. Mereka juga menyalakan lampu yang hangat di ruang tamu agar terlihat cozy saat siang hari.
Lumi menatap setiap detail yang berubah. Foto-foto pernikahan mereka yang lain dipajang di rak dinding; satu foto close-up mereka tersenyum di hadapan penghulu, satu lagi sedang menandatangani buku nikah. Semua membuat rumah itu terasa… hidup.
“Apakah… saya harus ikut berpura-pura tersenyum saat tamu datang?” Lumi akhirnya bertanya sambil menahan tawa.
Kira menatap Lumi datar. “Kamu harus menyesuaikan diri dengan semua situasi yang akan datang. Ini latihan pertama: adaptasi terhadap realitas kontrak.”
Lumi mengangguk, menarik napas panjang, tapi kali ini tanpa terlalu banyak monolog: ia cuma menatap foto besar di ruang tamu, tersenyum tipis, dan berkata, “Oke…mari kita lihat.”
Sementara itu, anak buah Kira bergerak cepat, menyulap rumah megah itu menjadi seolah-olah rumah nyata pasangan suami-istri, lengkap dengan semua properti, peralatan, dan suasana yang membuat siapa pun yang masuk pasti percaya mereka sudah menikah lama.
Lumi berdiri di tengah ruang tamu, menatap setiap detail. Ia sadar: ini akan menjadi enam bulan yang chaos, kacau, tapi… benar-benar nyata.
Bersambung
Acara selesai menjelang malam. Lampu-lampu taman rumah Ibu Indah masih menyala hangat ketika para tamu satu per satu pamit. Senyum sosial masih terpasang, ucapan terima kasih masih terdengar ringan, seolah tidak ada satu pun kalimat tajam yang sempat melintas sore tadi.Kira berdiri di samping Lumi saat berpamitan. Sikapnya tenang dan formal. Ibu Indah menepuk lengan Lumi lembut sebelum mereka turun ke halaman. “Kamu tadi bagus sekali,” ucapnya pelan, cukup untuk didengar berdua. “Tidak semua orang bisa tetap tenang.”Lumi tersenyum sopan. “Saya belajar dari yang terbaik, Bu.”Kira hanya mengangguk kecil. Tidak ada komentar tambahan. Di dalam mobil, pintu tertutup dengan bunyi yang terdengar lebih keras dari biasanya. Mesin menyala. Sabuk pengaman terpasang. Jalanan malam relatif lengang.Lima menit pertama, hanya suara mesin dan AC. Lumi menatap keluar jendela, lampu-lampu kota memantul di kaca seperti garis-garis cahaya yang kabur. Ia membuka suara lebih dulu, nadanya ringan—bahkan
Sore itu Lumi berdiri di ambang pintu kamar Kira, mengetuk pelan sebelum masuk. Kira sedang merapikan manset kemejanya di depan cermin, wajahnya setenang biasa—atau setidaknya terlihat begitu. Sejak nama Anggi disebut beberapa hari lalu, ia memang tidak berubah drastis, hanya saja kalimatnya lebih singkat, tatapannya lebih sulit ditebak, dan jeda di antara jawabannya terasa sedikit lebih panjang.Lumi menyilangkan tangan di dada, mencoba terdengar santai meski ada nada ragu di ujung suaranya. “Mas, Ibu Indah ngajak aku ikut arisan minggu ini. Katanya di rumah beliau saja. Tapi… kayaknya bukan arisan biasa deh. Lebih ke pertemuan istri-istri pengusaha dan lingkaran sosialnya.” Kini Lumi membiasakan hari-hari memanggil Kira 'Mas' agar tidak canggung.Kira berhenti sejenak, menatap pantulan dirinya sendiri sebelum akhirnya berbalik. “Memang bukan arisan biasa.”“Jadi kamu tahu?”“Iya. Saya juga harus ikut.”Lumi mengerjap. “Kamu ikut juga?”“Biasanya suami datang di awal. Formalitas. Set
Air keran masih menetes pelan ketika langkah Kira menghilang dari dapur. Tidak ada bantingan pintu. Tidak ada suara berat. Hanya jejak keheningan yang tiba-tiba terasa terlalu dingin.Lumi berdiri beberapa detik tanpa bergerak, kain lap masih tergenggam di tangannya. Uap hangat dari wastafel perlahan memudar. Dapur yang tadi penuh dengan debat absurd tentang adonan berperasaan kini terasa seperti ruangan yang berbeda.Ia menghembuskan napas panjang.“Baik,” gumamnya pelan pada dirinya sendiri. “Reaksinya normal. Sangat normal. Orang ditanya satu nama lalu langsung menghilang, itu normal.”Ia kembali ke meja dan mulai melipat kain lap dengan gerakan lebih lambat dari sebelumnya. Tidak lagi terburu-buru. Tidak lagi bercanda. Nama itu kembali terngiang.Anggi.Dan tanpa bisa dicegah, pikirannya melompat pada siang tadi—saat dapur masih riuh oleh tawa.Flashback kecil itu muncul jelas.Nayla berdiri di depan oven dengan tangan bertolak pinggang sambil tertawa melihat kue yang mengempis di
Pintu depan terbuka seperti biasa. Tidak ada firasat apa pun. Kira masuk sambil melepas jam tangannya, langkahnya stabil menuju ruang tengah—lalu berhenti. Rumahnya… sunyi.Padahal ada jejak kekacauan yang jelas bukan hasil satu orang. Dari ruang tamu terlihat sekilas kursi bergeser tidak pada tempatnya. Sebuah celemek tergeletak di sandaran sofa. Dan dari arah dapur, aroma manis gosong yang samar masih menggantung di udara.Ia berjalan masuk. Dan mendapati dapur dalam kondisi yang membuat alisnya terangkat satu garis tipis. Tepung seperti kabut tipis di atas meja. Lantai sedikit lengket. Wastafel penuh mangkuk dan spatula. Di tengah meja, sebuah kue dengan bentuk ambigu berdiri seperti simbol kegagalan yang percaya diri.Lumi berdiri di depan wastafel dengan tangan bersabun, rambutnya diikat seadanya, wajahnya menunjukkan kelelahan dramatis. Ia menoleh saat mendengar langkah Kira. Tatapan mereka bertemu.Lumi tidak langsung menyapa. Ia hanya menatapnya beberapa detik, lalu mematikan
Gedung Mahesa Pratama Group berdiri dengan fasad kaca gelap setinggi dua puluh lantai di kawasan bisnis Sudirman. Logo perak bertuliskan PT. MPG terpasang sederhana tapi mencolok di lobi. Tidak berlebihan, tapi jelas mahal.Kira melangkah masuk dengan setelan abu-abu gelap yang jatuh sempurna di tubuhnya. Tidak ada gerakan sia-sia. Satpam langsung berdiri tegak.“Selamat pagi, Pak Kira.”Ia hanya mengangguk tipis. Begitu pintu lift tertutup, wajahnya berubah lebih datar. Tidak ada sisa kekacauan pagi tadi. Tidak ada jejak Lumi jatuh menimpanya. Tidak ada memori tatapan canggung. Seolah itu hanya glitch dalam sistem hidupnya.Begitu keluar di lantai 20, sekretarisnya, Raline, langsung berdiri.“Pak, meeting dengan investor Surabaya dipercepat jadi jam sebelas. Dan laporan progres proyek Mahesa Residence tahap dua sudah saya taruh di meja Anda. Tapi ada sedikit kendala di pembebasan lahan.”“Kendala atau penolakan?” tanya Kira tanpa berhenti berjalan.“Penolakan, Pak. Salah satu pemilik
Beberapa menit kemudian, mereka sudah duduk di meja makan. Lumi berusaha terlihat segar meski rambutnya masih terasa menyimpan jejak “sidak”, sementara Kira kembali ke mode tenang yang nyaris menyebalkan karena terlalu stabil.Akila dan Nayla duduk berhadapan dengan mereka, ekspresi keduanya seperti dua reporter infotainment yang baru saja mendapatkan bahan headline.“Kak Kira nggak kerja?” tanya Nayla polos tapi jelas penuh muatan.Kira menuang air ke gelasnya sebelum menjawab dengan nada santai, “Saya atur jadwal sendiri hari ini. Ada pekerjaan yang bisa diselesaikan dari rumah.”“Wah, fleksibel sekali,” komentar Akila sambil membuka tas besar yang ia bawa. Ia mulai mengeluarkan beberapa kotak makanan satu per satu dengan bangga. “Kita bawain sarapan dari rumah. Ini Mama yang masak. Katanya kasihan kalau menantu barunya cuma makan roti tawar atau sereal instan.”Lumi langsung menegakkan badan. “Astaga, Ibu Indah masak langsung? Aku jadi merasa bersalah.”“Bersalah kenapa?” tanya Nay







