Share

Bab 7

Penulis: AlunaSweet
last update Tanggal publikasi: 2026-02-10 22:59:15

Pagi itu, Lumi Savira berdiri di depan rumah Kira Mahesa—gedung megah bertingkat, fasad kaca mengkilap, taman hijau luas dengan kolam kecil yang memantulkan matahari. Ia menenteng koper, menarik napas panjang.

Kira muncul di pintu utama, jas hitam menempel pas di bahu, matanya tajam menatap Lumi tanpa senyum. “Selamat datang. Ini akan jadi rumah kita enam bulan ke depan. Jangan buat kekacauan.”

Lumi mengangguk, mencoba menenangkan diri. Oke, six months… bayarannya gila… bisa di-handle… mungkin.

Setelah menaruh kopernya di kamar utama yang luas, Lumi turun ke ruang keluarga dengan langit-langit tinggi dan jendela besar menghadap kolam. Lukisan modern menghiasi dinding, sofa besar menunggu siapa pun yang ingin duduk.

Kira berdiri di sampingnya, tangan disilangkan. “Aturan rumah ini sederhana: kita akan menempati kamar terpisah, tapi ada connecting door untuk berjaga-jaga kalau orang tua atau kerabat tiba-tiba datang. Pahami?”

Lumi menelan ludah, matanya melebar sedikit. Connecting door… oh Tuhan… six months… oke… “Iya, mengerti. Jadi kita tetap punya batasan, tapi bisa ‘siap darurat’.”

Kira menatap Lumi sebentar. “Di depan tamu atau kerabat, panggilan ‘suami-istri’ wajib, gesture harus alami, dan interaksi harus sesuai kontrak. Tidak ada improvisasi.”

Lumi mengangguk, mencoba menahan senyum tipis.  Kira menyerahkan ponsel berisi jadwal minggu pertama: pertemuan bisnis ringan, makan siang dengan beberapa kolega, dan sesi foto studio di rumah. “Ini jadwal awal. Tidak ada perubahan tanpa persetujuan.”

Lumi menatap ponsel, menghela napas panjang, lalu menatap Kira. “Baik… aturan jelas… batas jelas… tapi mungkin bakal seru.

Kira menatapnya sebentar, anggukan tipis di wajahnya. Tidak banyak kata, tapi cukup membuat Lumi tersenyum kecil.

~

Tidak lama setelah mereka bicara tentang connecting door, beberapa anak buah Kira muncul. Dua pria dan satu wanita, semuanya berpakaian rapi, membawa tas, kotak, dan beberapa bingkai foto.

“Selamat pagi, Pak Kira. Kami siap menyiapkan rumah sesuai skenario,” kata salah satu pria, bowing sebentar.

Kira mengangguk singkat. “Lakukan. Semua harus terlihat alami.”

Lumi menatap mereka, setengah bingung. “Alami…?”

Wanita itu tersenyum, mulai mengeluarkan beberapa bingkai besar. “Kami bawa beberapa foto pasangan, Pak Kira dan Ibu Lumi,” katanya sambil meletakkan satu bingkai besar di ruang tamu.

Lumi menatap foto itu. Mata Kira serius menatap kamera, Lumi tersenyum manis—persis seperti mereka resmi menikah. Foto itu dipajang di atas konsol besar, menghadap pintu masuk, seolah-olah rumah itu memang milik mereka sejak lama.

Seorang pria lain mulai menata meja makan, menambahkan bunga segar dan beberapa peralatan dinner yang elegan tapi sederhana. “Kami juga menyesuaikan area keluarga, Pak. Semua properti akan membuat rumah terlihat seperti milik suami-istri nyata.”

Lumi menahan tawa kecil. “Ini… serius… mereka… benar-benar serius, ya?”

Kira menatapnya tanpa ekspresi. “Ini bagian dari kontrak. Semua harus terlihat nyata.”

Anak buah Kira mulai menata sofa, menambahkan bantal, dan beberapa buku bersampul kulit. Mereka juga menyalakan lampu yang hangat di ruang tamu agar terlihat cozy saat siang hari.

Lumi menatap setiap detail yang berubah. Foto-foto pernikahan mereka yang lain dipajang di rak dinding; satu foto close-up mereka tersenyum di hadapan penghulu, satu lagi sedang menandatangani buku nikah. Semua membuat rumah itu terasa… hidup.

“Apakah… saya harus ikut berpura-pura tersenyum saat tamu datang?” Lumi akhirnya bertanya sambil menahan tawa.

Kira menatap Lumi datar. “Kamu harus menyesuaikan diri dengan semua situasi yang akan datang. Ini latihan pertama: adaptasi terhadap realitas kontrak.”

Lumi mengangguk, menarik napas panjang, tapi kali ini tanpa terlalu banyak monolog: ia cuma menatap foto besar di ruang tamu, tersenyum tipis, dan berkata, “Oke…mari kita lihat.”

Sementara itu, anak buah Kira bergerak cepat, menyulap rumah megah itu menjadi seolah-olah rumah nyata pasangan suami-istri, lengkap dengan semua properti, peralatan, dan suasana yang membuat siapa pun yang masuk pasti percaya mereka sudah menikah lama.

Lumi berdiri di tengah ruang tamu, menatap setiap detail. Ia sadar: ini akan menjadi enam bulan yang chaos, kacau, tapi… benar-benar nyata.

Bersambung

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Terima Jasa Sewa Sebagai Istri   Ada Tamu

    Pagi hari di rumah Kira berjalan lebih tenang dari biasanya.Sinar matahari masuk melalui jendela ruang makan yang besar. Meja sudah tertata rapi dengan sarapan sederhana yang disiapkan oleh pembantu rumah. Lumi baru saja duduk ketika Kira sudah lebih dulu berada di sana.Ia mengenakan kemeja kerja, lengan bajunya digulung sedikit. Di depannya ada laptop yang terbuka dan secangkir kopi hitam yang hampir habis. Begitu Lumi duduk, Kira mengangkat pandangannya sebentar.“Duduk.”Nada suaranya datar seperti biasa. Lumi sebenarnya sudah duduk, tapi tetap mengangguk kecil.“Iya…”Ia mengambil sendok, tapi gerakannya sedikit kaku. Bayangan semalam muncul lagi di kepalanya. Kira di kamarnya menyentuh dahinya dan berdiri terlalu dekat. Lumi buru-buru fokus pada piringnya. Namun sebelum ia sempat makan, suara ponsel Kira berdering di atas meja.Kira langsung mengangkatnya.“Ya.”Lumi mencoba terlihat biasa saja sambil mulai makan. Namun beberapa detik kemudian ia mendengar nama itu.“Anggi?”Se

  • Terima Jasa Sewa Sebagai Istri   Sentuhan itu Lagi

    POV Kira Mobil akhirnya berhenti di halaman rumah. Mesin dimatikan. Suasana langsung menjadi lebih sunyi. Lumi turun lebih dulu dari mobil. Ia menggumamkan sesuatu seperti ucapan terima kasih yang terdengar terburu-buru, lalu hampir setengah berlari masuk ke dalam rumah.Pintu tertutup. Kira masih duduk di dalam mobil. Tangannya tetap berada di atas setir, matanya menatap lurus ke depan. Beberapa detik ia tidak bergerak sama sekali. Lalu perlahan ia menyandarkan punggung ke kursi. Sunyi. Namun pikirannya tidak setenang wajahnya. Bayangan Lumi di mobil tadi muncul lagi tanpa diminta. Wajahnya yang tiba-tiba memerah. Cara perempuan itu langsung membeku saat ia mengangkat tangan. Kira menghela napas pendek. Ia bahkan tidak berpikir panjang waktu itu. Hanya refleks. Ketika melihat noda sambal di pelipis Lumi, tangannya langsung bergerak membersihkannya. Sesederhana itu. Namun reaksi Lumi seolah ia baru saja melakukan sesuatu yang besar. Kira menutup mata sejenak. Hal lain juga kembali

  • Terima Jasa Sewa Sebagai Istri   Wahai Jantung

    Aroma makanan mulai memenuhi dapur. Udang saus mentega, sup seafood, dan beberapa hidangan lain sudah tertata rapi di atas meja panjang. Lumi membantu Bu Rini dan Sari memindahkan piring-piring ke ruang makan. “Bagus sekali,” kata Ibu Indah sambil melihat meja yang sudah hampir penuh. “Sudah lama rumah ini tidak seramai ini. Sayang Alika dan Nayla mereka masih belum pulang." Lumi tersenyum kecil. Belum sempat ia menjawab, suara pintu depan terdengar terbuka dari ruang tengah. Klik. Langkah kaki masuk ke dalam rumah. Lumi yang sedang membawa mangkuk sup langsung berhenti di tempat. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. “Sepertinya Kira sudah pulang,” kata Ibu Indah santai dari belakangnya. Kalimat itu membuat Lumi makin kaku. Beberapa detik kemudian langkah kaki itu semakin mendekat. Dan benar saja—Kira muncul di ambang pintu ruang makan. Masih dengan setelan kerja, jasnya tersampir di lengan. Wajahnya terlihat sedikit lelah setelah seharian bekerja, tapi ekspresinya tetap se

  • Terima Jasa Sewa Sebagai Istri   Memasak bersama Mertua

    Hari ini Lumi tidak keluar sama sekali dari kamarnya, setelah kejadian kemaren ia merasa malu bertemu Kira. Bayangan ia memeluk Kira karena ketakutan dan ia bersandar di bahu Kira karena demam membuatnya malu. Berani sekali dirinya melakukan itu. Beruntung Kira tidak marah. Lumi duduk di sofa dalam kamar, televisi menyala menyiarkan berita gosip. Tapi matanya tidak benar-benar menyimak acara itu. Khayalannya melayang ke kejadia kemaren. "Aaaaaa aku maluuuu!" teriaknya frustasi, Lumi mengambil susu dingin yang di buat oleh Kira. Saat ia sedang memindah-mindah chanel telponnya berdering. Dan ada nama Ibu Indah di layar telponnya. Ia langsung mengangkatnya. “Halo, Bu?” “Lumi, kamu lagi di rumah dan nggak sibuk?” “Iya, Bu.” "Temenin ibu masak yuk buat kita makan malem bareng. Ibu banyak beli seafood nih." "Seakarang bu kerumahnya?" "Iya dong. Masa besok." kelakar ibu Indah di telpon membuat Lumi tersenyum. Setelah berpikir sejenak Lumi mengiyakan permintaan Ibu Indah

  • Terima Jasa Sewa Sebagai Istri   Pertanyaan demi Pertanyaan.

    Ruang rapat lantai dua puluh itu dipenuhi cahaya dari jendela kaca besar yang menghadap langsung ke pusat kota. Di tengah ruangan, meja panjang sudah dipenuhi berkas kerja sama, tablet, dan beberapa cangkir kopi yang mulai dingin.Kira duduk di sisi kanan meja. Ekspresinya sama seperti biasanya—tenang, datar, sulit dibaca. Di seberangnya, Anggi memegang pulpen sambil membaca dokumen terakhir yang baru saja dipresentasikan oleh tim legal.Beberapa staf dari kedua perusahaan masih berada di ruangan itu. Presentasi hampir selesai.“Kami sudah meninjau revisi pada poin distribusi regional,” kata salah satu manajer dari perusahaan Anggi. “Jika tidak ada perubahan tambahan, tahap implementasi bisa dimulai bulan depan.”Kira mengangguk sedikit.“Itu sesuai dengan timeline yang kami rencanakan.”Anggi menutup dokumen di depannya.“Perusahaan kami juga tidak memiliki keberatan,” katanya dengan nada profesional. “Selama laporan audit tetap transparan seperti yang sudah disepakati.”“Sudah menja

  • Terima Jasa Sewa Sebagai Istri   Hanya Kontrak

    Kira menunggu cukup lama sampai napas Lumi benar-benar teratur. Perempuan itu akhirnya tertidur lagi setelah minum obat. Wajahnya masih pucat, tapi kerutan di dahinya sudah menghilang. Tidak ada lagi gumaman takut. Tidak ada lagi tubuh yang gelisah.Kira berdiri perlahan dari sisi tempat tidur. Ia menarik selimut Lumi sedikit lebih tinggi, memastikan bahunya tertutup. Tangannya sempat berhenti sepersekian detik di dahi Lumi—mengecek suhu tubuhnya sekali lagi. Masih hangat. Tapi tidak setinggi tadi.“Tidur saja,” gumamnya pelan.Kira keluar dengan langkah hati-hati. Pintu ditutup tanpa suara. Ruang kerja Kira berada di ujung lorong lantai dua. Ruangan itu selalu terasa berbeda dari bagian rumah lain. Lebih sunyi. Lebih… dingin.Di sinilah sebagian besar waktunya dihabiskan. Laptop sudah menyala di atas meja. Beberapa dokumen digital menunggu persetujuan. Rapat pagi sudah ia batalkan, tapi bukan berarti pekerjaannya ikut berhenti.Kira duduk. Tangannya bergerak cepat di keyboard. Membal

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status