Home / Romansa / Terjebak Cinta Bos Sadis / Bab 17 Hal-Hal yang Tidak Terucap

Share

Bab 17 Hal-Hal yang Tidak Terucap

Author: Rayden Arsha
last update publish date: 2025-12-15 22:59:41

Malam datang tanpa permisi. Tidak ada hujan, tidak ada angin kencang—hanya gelap yang turun perlahan, seolah memberi waktu pada siapa pun untuk bersiap. Tapi aku tidak merasa siap.

Aku duduk di tepi ranjang, menatap dinding kosong. Bayangan siang tadi masih tertinggal di kepalaku. Ruangan sempit. Bau obat. Tangan terikat. Rasanya seperti kenangan itu bukan milikku, tapi tubuhku mengingatnya dengan sangat baik.

Ketukan pelan terdengar di pintu.

“Masuk,” kataku.

Arsen membuka pintu dan be
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Terjebak Cinta Bos Sadis   Bab 157 — Satu Langkah yang Tidak Bisa Ditarik Kembali

    Suara mereka mulai menjauh. Padahal mereka masih di sana. Aku masih bisa melihat Adrian—rahangnya mengeras, matanya tajam penuh peringatan. Nara masih menggenggam tanganku, jari-jarinya gemetar, seolah kalau dia melepas sedikit saja… aku akan benar-benar hilang. Tapi yang aneh— semuanya terasa seperti dilihat dari jauh. Seperti aku berdiri di balik kaca. Tipis. Rapuh. Dan perlahan… retak. Pintu Itu Sudah Terbuka Pintu terbuka Sinkronisasi akhir tersedia Pilihan diperlukan Aku menelan ludah. Tanganku terasa ringan. Terlalu ringan. Seperti bukan lagi milikku. Aku menatap pria di depan—yang pernah keluar dan kembali. Dia tidak bicara. Tidak mendesak. Hanya… menunggu. Seolah tahu— ini bukan sesuatu yang bisa dipengaruhi. Dua Dunia yang Mulai Terpisah

  • Terjebak Cinta Bos Sadis   Bab 156 — Keluar dari Permainan, atau Hilang Selamanya

    Angin malam di tempat itu terasa… aneh. Tidak dingin. Tidak hangat. Seperti tidak punya suhu. Seperti tidak benar-benar ada. Aku berdiri diam, menatap pria di depan kami—orang yang katanya pernah melanggar aturan… dan masih ada sampai sekarang. Satu-satunya yang sistem tidak bisa baca. Satu-satunya yang tidak terdaftar. Dan mungkin— satu-satunya jalan keluar. Kalimat yang Tidak Bisa Dianggap Remeh “…lo hampir keluar.” Kata-katanya masih terngiang. Tidak keras. Tidak mengancam. Tapi— lebih berat dari semuanya. “Keluar dari apa?” tanya Adrian. Nada suaranya datar. Tapi aku tahu— dia juga tegang. Pria itu tidak langsung menjawab. Ia hanya melihat ke sekitar. Tanah retak. Udara kosong. Langit yang terasa terlalu jauh. “…dari semua

  • Terjebak Cinta Bos Sadis   Bab 155 — Retakan di Aturan yang Terlihat Sempurna

    Udara malam terasa lebih dingin saat kami keluar dari kafe. Bukan karena angin. Tapi karena satu hal yang baru saja kami sadari— kami bukan lagi sekadar bagian dari masalah. Kami sudah masuk terlalu dalam. Dan tidak ada jalan keluar yang sederhana. Langkah yang Terasa Berat Kami berjalan tanpa bicara. Trotoar basah oleh sisa hujan sore. Lampu jalan memantul di genangan kecil. Semua terlihat normal. Tapi di dalam kepala— semuanya berisik. Aku masih memikirkan satu kalimat itu. “Gue yang bikin aturan.” Kalimat sederhana. Tapi efeknya— menghancurkan semua asumsi yang kupunya. Kalau Dia di Atas… Lalu Siapa di Atasnya? “Lo percaya dia?” tanya Adrian tiba-tiba. Aku tidak langsung menjawab. Karena itu bukan pertanyaan sederhana. “Gue percaya dia punya kontrol,” kataku akhir

  • Terjebak Cinta Bos Sadis   Bab 154 — Orang yang Tidak Pernah Turun ke Medan

    Kafe itu tetap ramai. Sendok beradu dengan cangkir. Mesin kopi mendesis. Pintu terbuka-tutup, mengantar masuk orang-orang yang tidak tahu apa-apa. Di tengah semua itu, kami berdiri—tegang, diam, dan terlalu sadar bahwa sesuatu yang jauh lebih besar sedang terjadi tepat di depan mata kami. Pria itu duduk santai, jari-jarinya mengetuk ringan sisi cangkir, seolah sedang menunggu waktu yang tepat untuk berbicara. Bukan menunggu kami. Bukan menunggu kesempatan. Tapi menunggu… momen. “…gue yang bikin aturan.” Kalimat itu masih menggantung. Tidak keras. Tidak dramatis. Tapi efeknya… menekan. Seperti sesuatu yang tidak perlu dibuktikan—karena memang benar. Tidak Ada Aura Ancaman… Tapi Lebih Berbahaya Aku menatapnya. Mencoba membaca. Mencoba memahami. Tapi yang kudapat— tidak ada apa-apa. Bukan kosong seperti yang sebelumnya.

  • Terjebak Cinta Bos Sadis   Bab 153 — Ketika Perang Tidak Memberi Pilihan

    Tidak ada suara tembakan. Tidak ada ledakan. Tidak ada sirine. Tapi untuk pertama kalinya sejak semuanya dimulai— aku tahu. Perang sudah dimulai. Bukan perang yang bisa dilihat semua orang. Bukan perang yang akan muncul di berita. Tapi perang yang terjadi… di balik semua itu. Di antara sesuatu yang bahkan dunia ini belum siap untuk mengerti. Kota yang Sama, Tapi Tidak Lagi Aman Kami berjalan tanpa tujuan pasti. Menyusuri jalan yang sama seperti biasa. Lampu kota masih menyala. Motor masih lewat. Orang-orang masih tertawa di pinggir jalan. Semua terlihat normal. Terlalu normal. Dan itu justru yang membuatku tidak nyaman. “…mereka nggak tahu,” gumam Nara pelan. Aku menggeleng. “Dan mungkin… nggak akan pernah tahu.” Adrian menyelipkan tangan ke saku jaketnya.

  • Terjebak Cinta Bos Sadis   Bab 152 — Saat Sisa Itu Hampir Habis

    Dunia… retak. Bukan secara harfiah. Tapi rasanya seperti itu. Udara di sekitarku bergetar, bukan karena angin, tapi karena sesuatu yang tidak bisa dijelaskan. Seperti realitas sendiri sedang dipelintir dari dalam. Suara menghilang lebih dulu—digantikan oleh dengungan tipis yang menusuk kepala. Lalu— warna. Semuanya memudar. Menjadi abu-abu. Pudar. Seolah seseorang menarik saturasi dunia ini… sedikit demi sedikit. Dan di tengah semua itu— aku berdiri. Tidak bergerak. Tidak bisa bergerak. Legacy Mode Mulai Hancur PERINGATAN KRITIS INTEGRITAS SISTEM: 9% KERUSAKAN MENYEBAR “Nggak…” bisikku. Bukan karena takut mati. Tapi karena— aku tahu ini bukan sekadar serangan. Ini… pembongkaran. Dia tidak menyerangku. Dia… membongkar aku. Dia y

  • Terjebak Cinta Bos Sadis   Bab 94 — Ruang di Antara Dua Napas

    Ada ruang di antara dua napas—satu sebelum berangkat, satu setelah kembali—yang sering kita abaikan. Ruang itu tipis, nyaris tak terlihat, namun di sanalah keputusan-keputusan kecil menunggu untuk diakui. Aku mulai mengenalinya pada bulan kedua di kota ini.Pekerjaan memasuki fase yang lebih

  • Terjebak Cinta Bos Sadis   Bab 82 — Ketika Dua Dunia Kembali Bertabrakan

    Ada hal-hal dalam hidup yang terasa seperti sudah selesai—ditutup rapi, disimpan dalam laci kenangan, lalu dibiarkan tenang. Sampai suatu hari, laci itu terbuka sendiri.Pagi itu aku datang ke kantor dengan langkah ringan. Udara terasa segar, pikiranku jernih, dan hatiku… stabil. Kabar tentang reko

  • Terjebak Cinta Bos Sadis   Bab 80 — Pilihan yang Tidak Lagi Takut Sepi

    Aku selalu berpikir bahwa keputusan paling sulit dalam hidup adalah memilih seseorang.Ternyata, yang jauh lebih sulit adalah memilih diriku sendiri—dan tidak merasa bersalah karenanya.Pagi itu aku terbangun dengan perasaan aneh. Bukan sedih. Bukan cemas. Lebih seperti… ringan tapi penuh. Seolah a

  • Terjebak Cinta Bos Sadis   Bab 75 — Hidup yang Tetap Berjalan

    Hidup tidak pernah benar-benar berhenti hanya karena satu keputusan gagal diambil. Ia tetap bergerak, memaksa siapa pun yang tertinggal untuk ikut melangkah—entah dengan hati utuh atau retak. Pagi itu, aku kembali duduk di meja kerjaku di lantai empat puluh lima Dirgantara Tower. Tidak ada yang b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status