Share

* 3 *

Author: KOMALA
last update publish date: 2025-03-01 14:03:59

Tak berapa lama suasana terasa hening, mungkin mereka telah menyelesaikan adegannya. Terdengar pintu terbuka dan tertutup, entah siapa yang masuk ke kamar mandi? Mungkin Nia, mungkin Sam, atau bahkan keduanya. Aku menahan diri untuk tetap membatu, namun tubuhku mulai pegal, hatiku juga gatal oleh rasa penasaran. Akhirnya aku membuka mata dan berbalik. Dan aku terhenyak refleks mengumpat kasar.

“Sialan! Iiissh!!!” aku memaki geram seraya berbalik cepat dan menutup mata rapat-rapat. Bagaimana tidak?! Saat pertama yang kulihat adalah Sam yang telanjang dan bersedekap, berdiri tegap dan menatapku! Dasar gila. Aku semakin yakin Sam gila! Dalam hati aku terus mengutuk perbuatan gila Sam, sampai tiba-tiba sebuah selimut menutupi tubuhku. Terasa lembut dan hangat. Aku masih memilih tak bergerak dan tetap memejamkan mata, meringkuk di sofa dengan frustrasi. Sementara Sam terkekeh geli. Fix, dia sakit! Sam kali ini benar-benar diluar nalar! Aku tak menyangka Sam bisa bertindak gila!

Aku tak tahu kapan aku tertidur, semalam aku hanya terus diam dan memejamkan mata dengan pikiran sibuk mengumpat perbuatan Sam, sampai mungkin pikiranku lelah dan aku benar-benar tertidur. Dan sekarang aku terbangun, hari telah beranjak siang. Aku tak melihat Sam, hanya Nia yang kulihat tengah mengunyah sarapan di ranjangnya sembari asyik bermain handphone. Aku menatap sekeliling dan memastikan tidak ada Sam di dalam kamar. Lalu bangun dengan cepat dan loncat kearah Nia.

“Kalian gila! Apa yang kalian lakukan semalam bahkan saat aku ada di sini?!” pekikku antara jengkel dan marah.

Nia gelagapan, “Kau, kau tidak tidur?”

Aku menatap takjub seraut wajah polos di depanku. lalu menghembuskan napas berat. Nia memang seperti itu. “Pikirmu memangnya aku pingsan kalau tidur? Sampai-sampai aku tidak bisa mendengar desahan gilamu, begitu?” tanyaku dengan suara lebih perlahan.

Wajah Nia memerah, malu. “Aku, aku tidak tahu harus melakukan apa, aku sudah mencoba sebisaku memintanya pindah kamar atau sekadar ke kamar mandi. Tapi...” Nia terdiam, tak tahu lagi harus mengatakan apa untuk menjelaskan situasinya.

“Tring!” terdengar notif di handphoneku, segera kuraih dan kulihat, yang kemudian aku tercengang. Sam mentrasfer uang dengan jumlah besar ke rekeningku, 50 juta rupiah dengan keterangan ‘upah lemburmu tadi malam’. Dan aku frustrasi! Aku merasa kesal dengan perlakukan Sam dan uangnya, namun disisi lain aku juga tidak bisa menolak apalagi mengembalikannya.

“Mal? Apa ada masalah?” tanya Nia cemas.

Aku menggelengkan kepala. Sampai tiba-tiba handphoneku kembali berdering dan nama Sam tertera di layarnya. Aku beranjak agak menjauh dari Nia, dan menerima panggilan telepon tanpa mengatakan apapun.

“Hallo.” sapa Sam, suaranya terdengar santai dan itu menyebalkan. Aku diam tak menjawab.

“Bagaimana kabarmu pagi ini?” tanya Sam renyah, lalu terkekeh geli. Aku muak, aku tak mengerti maksudnya, namun lagi-lagi aku hanya membisu.

“Baiklah, jangan mengatakan apapun, cukup dengarkan aku dan lakukan. Bersenang-senanglah hari ini, gunakan kartuku yang ada padamu untuk makan dan berbelanja apapun. Have fun, Mala!” Sam lantas menutup teleponnya, dan aku hanya menghela napas berat.

Yang pasti malam itu adalah malam paling gila seumur hidupku. Di kamar hotel bintang 5, aku harus menyaksikan sahabatku bercumbu dengan suaminya yang adalah CEO di kantorku. Mereka bukan pengantin baru, pernikahan mereka telah berjalan sekitar 2 bulan. Namun aku tahu itu kali pertama Nia berhubungan badan dengan Sam, suaminya. Dan aku juga tahu itu bukan pengalaman pertama mereka. Nia adalah janda yang ditinggal mati suaminya sejak 3 tahun lalu, dan Nia adalah sahabat dekatku. Sedang Sam, dia adalah CEO tampan di kantorku. Dan yah, dia telah beristri dan memiliki 1 anak. Tapi yang aku dengar bahkan Sam memiliki 2 istri dan Nia adalah istri ke-3 nya. Tapi tak ada yang tahu pasti. Aku jelas tidak memiliki kewenangan untuk bertanya tentang itu. Dan Nia, dia terlalu lembut dan pendiam, hatinya sangat baik dan penurut. Dia bahkan sejak awal sudah menerima bahwa dia bukan satu-satunya istri Sam, entah dia nomor berapa, tidak penting lagi baginya saat dia bukanlah yang pertama dan satu-satunya.

“Áku tahu posisiku, yang harus kulakukan hanyalah memantapkan hati untuk tidak melibatkan perasaan, aku di sini hanya bergantung padanya dan menitipkan ragaku di bawah tanggung jawabnya. Meski harus berbagi dengan beberapa perempuan, selama aku punya tempat bergantung yang bisa diandalkan, bukankah aku hanya harus bersyukur?”

Itu yang sering kali kudengar dari Nia, namun aku tidak yakin. Sampai kapan dia akan menganggap dirinya tengah berperan sebagai seorang istri yang hanya dibayar tanpa melibatkan hati? Yakinkah dia bertahan dengan hati yang tak tergoyahkan? Bahkan bagiku, pesona Sam amat kuat. Dan aku bahkan memaklumi jika Sam memiliki lebih dari 1 istri. Dia memang terlalu keren dan terlalu bagus jika hanya dimiliki oleh seorang perempuan saja. Tak jarang aku bahkan terbawa perasaan oleh tindakan sederhananya sebagai seorang atasan terhadap bawahannya di tempat kerja, sialnya memang terkadang hatiku terpengaruh sebagai perempuan, bukan sebagai rekan kerja! Tapi aku tahu pasti, aku mampu menyembunyikan itu dengan sangat baik dan menyimpannya hanya untuk diriku sendiri. Saat aku berpikir Nia tampak tidak terlalu menghargai dirinya sendiri lalu bagaimana dengan aku dan perasaanku yang seperti ini? Bukankah aku lebih gila dari Nia? Dan bahkan aku punya suami dan seorang putri!

Ironis memang! Sam, entah takdir sedang mempermainkan kamu, atau kenyataan tengah meledekku saat ini. Atau aku sedang menciptakan tontonan dengan kamu peran utamanya dan aku yang menjadi penulis sekenario, atau mungkin sebaliknya? Lalu kenapa aku harus terseret kedalam cerita yang seaneh ini? Dan sebagai apa aku disini? Sebagai secret admirer? Sebagai lalat diantara sepasang kekasih? Atau sebagai perempuan yang menikung sahabatnya sendiri? Atau sebagai istri yang punya perasaan lain terhadap laki-laki selain suaminya? Entahlah.

Padahal awalnya aku yang membawa Nia ke perusahaan, aku yang mengenalkan Nia kepadamu, bahkan aku yang mendorong Nia untuk kemudian mau menikah denganmu. Apa takdir memang seaneh ini?!

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terjebak Cinta CEO Beristri   *60*

    Aku terduduk lemas di jok mobil di samping Sam yang tengah mengemudi. Kita sudah tiba dengan selamat di Jakarta. Dan selama itu aku tidak mengatakan apapun. Tidak bertanya, tidak juga memprotes atau apapun prihal sikap Sam terhadapku. Aku sungguh memilih hanya diam. Saat Sam memapahku turun dari pesawat, mendudukkanku di kursi roda dan membawaku naik ke mobilnya. Dia mengurus semuanya dengan baik. Koper dan barang bawaan juga sepertinya Sam sudah mengurus semuanya. Entah kapan dia berkoordinasi untuk mengurus semuanya, aku tak tau, dan aku rasa aku tidak perlu tahu. Cukup menjadi perempuan yang patuh saja saat ini.Sampai tiba-tiba Sam menepikan mobilnya. Aku masih tetap diam, tidak menoleh atau sekadar bertanya kenapa."Kamu baik-baik saja?" tanya Sam terdengar cemas."Hmm." jawabku pelan tanpa menoleh, pandanganku menatap nanar jalanan dengan lalu-lalang kendaraan."Ada yang sakit?""Tidak.""Kamu terus diam, aku khawatir kamu menahan rasa sakit sendiri. Katakan padaku jika ada sesu

  • Terjebak Cinta CEO Beristri   *59*

    POV : Mala.Dinas ke Bali kali ini, kacau! Aku tidak tahu pekerjaan apa yang sesungguhnya harus dilakukan. Dan Nia, aku tak melihatnya lagi sejak dia keluar dari kamar hotel. Sam bahkan tidak menjelaskan apapun, meski berulang kali kutanya prihal keberadaan Nia. Dia yang selalu ada bersamaku baik itu di kamar hotel sejak hari pertama, bahkan sampai di rumah sakitpun Sam terus bersamaku, tanpa membahas Nia ataupun pekerjaan!Dan aku yang jatuh sakit sesampainya di Bali, benar-benar merasa hanya menjadi beban Sam tanpa mengerjakan pekerjaan apapun. Dan Sam sendiri memang tidak memberiku kesempatan untuk melakukannya.Lalu sekarang aku terduduk lemas di kursi pesawat dalam penerbangan untuk kembali ke Jakarta, bersama Sam yang duduk di sebelahku dengan sikap protektifnya yang terasa aneh. Aku tak punya energi untuk mendebatnya, memprotesnya, atau mempertanyakan sikapnya. Aku benar-benar tidak lagi mengatakan apapun setelah beberapa kali pertanyaanku tentang Nia tidak dijawab Sama sekali

  • Terjebak Cinta CEO Beristri   *57*

    POV : MALAAku lelah, kepalaku mulai terasa pusing, aku memberontak dengan kuat sementara Sam melumat bibirku dengan instens. Aku sesak. Tak bisa bernapas. Kujambak rambut Sam keras dan menarik kepalanya.Berhasil! Sam melepaskanku dengan napas terengah, dadanya naik turun karena ritme napasnya yang kencang, sepertiku. Yang entah karena sedang tidak sehat, terkejut, shock, atau entah karena apa pastinya, aku merasa tubuhku lelah. Aku tertunduk. Menyandarkan diri pada Sam yang lengannya tidak juga melepaskan pergelangan tanganku. Aku terdiam, mengatur napas, menghirup banyak oksigen dan menghembuskannya perlahan. Aku tak punya tenaga lagi untuk berpikir, berontak atau memaki. Aku hanya mematung diam. Mengatur napas seraya merasakan degup jantung Sam yang kencang di dadanya.Sam melepaskan cengkraman tangannya pada lenganku, kemudian dia memelukku erat tapi hangat. mungkin karena aku tidak sehat, aku tidak bisa berpikir jernih. Aku hanya diam dan mencerna kehangatan yang merayap ke seti

  • Terjebak Cinta CEO Beristri   *58*

    POV : SamTubuhku lemas mendengar perkataan Mala. Bagaimana bisa dia tidak mengingat hari kemarin?! Moment sepenting itu? Moment yang telah lama kunantikan dan kudambakan. Lalu sekarang dia berkata tidak mengingatnya sama sekali?! Seolah semua hanya sebatas khayalanku, mimpiku semata seperti yang sebelum-sebelumnya kurasakan sebelah pihak."Atau memang semua hanya ilusiku semata? Atau memang Tuhan ingin semua hanya sebatas khayalanku saja?" Aku yang frustrasi hanya bisa mengacak-ngacak rambut sendiri, kalut."Tolong periksa istri saya, dok! Dia jelas kehilangan ingatannya satu hari kemarin." mohonku pada Dokter."Baik, kita akan melakukan pemeriksaan lanjutan untuk mengetahi kondisi istri anda.""Tolong lakukan segera Dok!""Baik, Pak! Akan kami persiapkan terlebih dahulu." Jawab dokter. "Jadi bagaimana keadaan Ibu sekarang? Ada keluhan atau rasa aneh atau sakit dan semacamnya?"Mala menggelengkan kepala, sekilas dia menatapku kesal. Tatapan kesal yang muncul setiap kali aku menyebutny

  • Terjebak Cinta CEO Beristri   * 56 *

    POV : SamAku melirik pintu kamar mandi, dengan celana dalam milik Mala yang tergenggam erat di tangan. Rasanya sangat menyiksa, terpikir untuk mendobrak pintu kamar mandi dengan brutal, dimana dibaliknya ada sosok Mala yang tengah mengenakan handuk saja. Haruskah aku meminta tolong pada Mala dengan memelas agar dia membantuku untuk meredam hasratku? Akankah dia mengerti dan mau melakukannya? Atau kupaksa saja dia? Tidak, jika kupaksa semua usahaku selama ini akan sia-sia dan hancur dalam sekejap, dan kemudian aku akan kehilangan Mala selamanya tanpa bisa berharap apapun. Dan aku akan gila!Akhirnya dengan sedikit kesadaran yang tersisa, aku membawa semua baju Mala dan mengetuk pintu kamar mandi. Pintu sedikit terbuka dan Mala menyembulkan kepalanya dengan ekspresi kikuk dan pipi yang memerah karena malu. Manis. Aku refleks menelan ludah saat melihatnya. "Tarik saja dia, ciumi saja pipi merahnya, lumat saja bibirnya!" teriak setan dalam kepala.Namun aku tak menurutinya. Dengan enggan

  • Terjebak Cinta CEO Beristri   * 55 *

    POV : SamDengan rasa frustrasi aku menatap pintu kamar mandi yang mengeluarkan suara kran air yang dinyalakan. Di dalamnya ada Mala, entah dia tengah mandi atau sekadar mencuci wajah, entahlah. Ingin aku bergerak membuka pintu itu dan masuk ke dalamnya. Membayangkan Mala tanpa pakaian dengan suhu tubuhnya yang tengah demam, aku merasa hawa panas menjalari seluruh syaraf dalam tubuhku, menimbulkan rasa pening di kepalaku saat membayangkan tubuh hangat Mala kuciumi.Aku mengusap-usap kasar wajahku, berusaha mendinginkan pikiranku dan memfokuskan kepalaku dari hal-hal yang agak liar. Kualihkan perhatianku pada makanan yang kupesan, kutata di meja agar Mala bisa makan dengan nyaman. Buah-buah iris yang tampak segar, aneka berry warna-warni, serta ada saus youghurt. Ada susu steril yang sengaja kupesan khusus untuk Mala, berharap dengan itu dapat membantu mempercepat penyembuhannya. Bubur abalone dan sup ayam gingseng. Sementara untukku sendiri, aku memesan steak wagyu, asparagus panggang

  • Terjebak Cinta CEO Beristri   * 46 *

    POV : BenAku mencintai Mala, tak pernah terpikirkan olehku untuk menyakitinya. Aku tak pernah berniat membohongi istriku. Semua perkataanku selaras dengan apa yang kulakukan. Tapi kondisiku memang sempat tidak terkontrol, dan sekarang bahkan menjadi diluar kendali. Aku bahkan tak tahu apa yang har

  • Terjebak Cinta CEO Beristri   * 45 *

    Aku menurunkan kecepatan laju kendaraan, saat mobil yang kukendarai semakin mendekati rumah Mala. Sedikit menahan diri, berniat untuk memantau situasi terlebih dulu sebelum benar-benar mengejutkannya dengan mendatangi Mala dan mengajaknya berangkat ke bandara bersama. Tapi mendadak perasaan excited

  • Terjebak Cinta CEO Beristri   * 44 *

    Aku melipat lengan kameja kerjaku, memutuskan untuk tidak memakai jas maupun dasi serta membiarkan kancing bagian atasnya terbuka. Sengaja pagi ini aku mengenakan style santai namun tetap formal. Demi kenyamananku dan juga sebagai alibi dari rencana licik di kepalaku. Pagi ini jadwal keberangkatan

  • Terjebak Cinta CEO Beristri   * 43 *

    POV : Sam.Aku terbangun dari tidurku, kebiasaan membuatku langsung menoleh pada jam yang tergantung di dinding kamar. Pukul 3 dini hari, bahkan alarm handphoneku belum berbunyi karena memang disetel untuk menyala setiap jam 04.30 pagi. Aku bangun lalu terduduk di tepi ranjang, menoleh sebentar ke

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status