Share

* 2 *

Penulis: KOMALA
last update Tanggal publikasi: 2025-03-01 13:38:39

“Apa?! Mas ada di depan pintu kamar?!” pekik Nia kaget, yang sontak membuatku ikut terhenyak juga mendengarnya.

Nia sangat terkejut dan gugup, dia loncat dari tempat tidur dan menghambur ke pintu tanpa melihatku terlebih dahulu.

“Aku rindu.” suara berat Sam terdengar jelas saat Nia telah membuka pintu.

“Apa-apaan dia?” pikirku canggung, bukannya dia tahu ada aku disini?!

Sam merangkul Nia masuk dan mendudukkannya di ranjang.

“Mas, ada Mala disini.” gumam Nia pelan namun masih bisa kudengar.

Aku yang merasa canggung hanya bisa pura-pura tertidur dengan hati jengkel.

“Jangan berisik, Mala juga tidur.” jawab Sam santai, dia bahkan tidak mencoba memelankan suaranya.

“Maasss.” protes Nia terdengar resah dengan suara pelan.

Entah apa yang tengah mereka lakukan, tubuhku mendadak beku, aku bahkan tak tenang meski sekadar untuk bernapas.

“Kenapa? Aku ingin memelukmu, apa tidak boleh?” tanya Sam, lagi-lagi terdengar santai dengan nada suara normal seolah aku benar-benar tidak ada disana.

“Aku mau ke kamar mandi dulu." pinta Nia gugup, dan tak lama terdengar pintu kamar mandi dibuka lalu ditutup. Sepertinya sekarang Nia benar-benar dikamar mandi.

Apa aku harus terus berpura-pura tertidur? Atau pura-pura tersadar dan menyapa CEO gila itu? Aku memicingkan mata sedikit membukanya untuk mengintip keadaan sekitar, dan saat itu jantungku seperti mau loncat saat kudapati Sam berdiri bersedekap di dekat sofa tempat aku pura-pura tertidur, menatapku dengan aneh. Aku kembali menutup mataku dan melanjutkan kepura-puraanku dengan jantung berdegup kencang.

“Kenapa Nia lama sekali di kamar mandi?” pikirku jengkel. "Kenapa juga Sam berdiri di sana dan memperhatikanku?" pikirku resah, “Harusnya aku tidak usah memakai piyama!” rutukku dalam hati. Bukan piyama tipe seksi, hanya piyama satin lembut berwarna putih model kemeja lengan pendek satu set dengan bawahannya celana pendek sepaha. Membayangkan Sam tengah menatap kakiku yang terbuka sampai paha, dan posisi tidur telentangku yang menonjolkan bagian dada, dan yang aku khawatirkan adalah piayamaku berwarna putih dengan bahan tipis yang aku pikir nyaman, aku tidak berpikir itu akan sangat menonjolkan lekuk tubuhku. sangat diluar dugaan Sam akan tiba-tiba masuk ke kamar hotel tempat Nia dan aku menginap! Mendadak aku merasa menggigil, tapi juga semakin takut untuk membuka mata. Sam gila!

Terdengar pintu dibuka, sepertinya Nia keluar dari kamar mandi.

“Mas, mau menginap juga? Mau aku pesankan kamarnya sekarang?” tanya Nia menawarkan dengan suara setengah berbisik.

“Tidak, aku tidak akan menginap. Aku hanya mampir sebentar.” jawab Sam dengan suara yang terdengar santai.

Apa laki-laki itu sungguh mengira aku tidur? Atau dia tahu aku hanya pura-pura tidur karena itu dia bahkan tidak mencoba memelankan suaranya?

“Oh, mas sudah mau pergi lagi?” tanya Nia.

“Tidak juga, aku mampir untuk memelukmu, dan melakukannya.”

Sesaat hening, sepertinya aku bisa membayangkan ekspresi wajah Nia yang tercengang seperti halnya hatiku yang sontak mencelos.

“Maksud mas? Melakukan apa?”

“Melakukan apa lagi? Kamu istriku dan aku suamimu, dan aku tahu kamu paham maksudku.” jawab Sam seraya terkekeh geli.

“Tapi mas…” Nia terdengar resah seperti halnya aku yang jengkel terhadap sikap Sam. Apabila Nia tak bisa menolak karena dia istri yang baik, maka aku tak bisa melakukan apa-apa selain melanjutkan kepura-puraanku agar aku tidak mengganggu atasanku dan membahayakan karirku!

“Kau menolak?” terdengar suara Sam kali ini seolah mengintimidasi Nia.

“Bukan itu, apa lebih baik kita memiliki kamar yang berbeda. Mas tahu, ada Mala disini.” tutur Nia dengan suara pelan yang masih bisa kudengar.

“Dia tidur.” lagi, Sam terkekeh geli.

“Aww!” pekik Nia. Entah apa yang mereka lakukan. “Breekkk!” terdengar suara robekan, entah apa pula yang robek.

“Maasss,” Nia memohon dengan menyedihkan.

“Tenanglah, aku tidak akan menyakitimu.” pinta Sam.

Gila! Ini gila! Jika saja aku bisa memohon bumi menelanku, maka aku akan memohon untuk bumi melakukannya sekarang. Mereka yang melakukannya, dan aku yang merasa gila dengan perasaan tak menentu dan tubuh yang terasa kaku. Aku tertekan sungguh. Untuk bernapaspun aku merasa cemas! Aku ingin membuka mata, lalu bangkit dan berlari pergi, namun aku takut melakukannya.

“Aaahhh Maaasss.” Terdengar Nia mendesah dengan suara tertahan.

Brengsek! Apa yang sedang mereka lakukan bahkan di dekatku?! Tak tahan lagi, aku sedikit membuka mataku dan mencoba mengintip. Dan aku melihatnya.

Nia berdiri dengan mata terpejam dan mencoba menahan perasaanya semampu yang dia bisa, seluruh pakaiannya telah dipreteli Sam dan tampak berserakan di sekitarnya sehingga perempuan itu bahkan telanjang tanpa sehelai benangpun. Sementara Sam memeluknya dari belakang, pakaiannya masih lengkap. Hanya tangannya saja yang menjelajah dengan bebas di kulit Nia yang telanjang. Sam menyentuh leher Nia, disusul dengan mulutnya yang menciumi leher perempuan yang mematung dengan mata terpejam setengah mengernyit, tampaknya dia tetap berusaha menahan hasrat dirinya sekuat hati. Kemudian lengan Sam dengan tak tahu malu menangkup kedua payudara Nia, menggosok-gosok lembut putingnya sampai Nia bahkan mendesah panjang tak mampu mengendalikannya.

Aku masih mengintip dengan hati yang entah mengapa berdebar hebat. Perasaanku aneh. Dan semakin aneh saat aku melihat Sam membuka kemejanya dan menampakkan dadanya yang bidang dan berotot. Perut kotak-kotaknya yang seksi. Lalu dengan cepat Sam juga membuka celananya dan bahkan celana dalamnya, hingga nampaklah sepasang bugil di depanku. Sangat gila! Sam gila! Apa dia tengah pamer padaku betapa gagahnya dia dan milik pribadinya? Betapa kekar otot-otot kakinya? Sam lantas berdiri di belakang Nia dan memeluknya yang masih mematung dengan mata terpejam. Namun aku terhenyak, saat aku melihat wajah Sam, dia tersenyum licik, bahkan setengah menyeringai menatapku. Ya, dia menyentuh Nia dengan mata yang terus menatapku tajam! Dan dia tahu aku tidak benar-benar tertidur!!!

“Aaahhh Mas!” desis Nia saat bagian intimnya mulai terjamah lengan brengsek Sam!

“Jangan ditahan, nikmati saja!” ucap Sam dengan suara keras seolah sengaja agar aku bisa mendengarnya.

Tak tahan, aku berbalik dan tetap berpura-pura tidur seraya membelakangi Nia dan Sam.

“Mas, sebaiknya kita ke kamar mandi.” mohon Nia

“Aku mau disini, tahan saja, ini tak akan lama.”

“Aaahhh…maass…aahhh…uuuhhhh” Nia terdengar tak dapat lagi mengendalikan desahannya.

Dan aku semakin merasa gila karenanya. Kenapa aku harus sesak? Dadaku berdebar, perutku terasa aneh, seperti ada kupu-kupu yang terus beterbangan di dalamnya. Dan bagian pribadiku, sialnya entah mengapa itu berdenyut??? Kenapa? Kalau boleh jujur adegan mereka biasa saja. Aku seorang istri dan ibu dari satu orang putri. Aku pernah menonton film porno, membaca novel dewasa juga komik 21+. Adegan mereka biasa saja dengan Nia yang mematung pasif! Aku bahkan melakukannya lebih atraktif dengan suamiku. Tapi kenapa tubuh Sam terlihat seksi? Sam gila, mereka gila, dan apa aku juga gila???

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Terjebak Cinta CEO Beristri   *64*

    Ruang kantor pagi itu terasa terlalu sunyi untuk ukuran hari Selasa. Sam masuk ke kantor agak terlambat dari biasanya. Lengan kirinya tersangga sling arm biru tua, kemeja hitamnya digulung setengah di sisi yang sehat. Langkahnya tetap tegak, suara sepatunya menggema di lantai. Tidak ada yang berani komentar tentang sling arm yang tampak menjadi pusat perhatian seantero kantor. Semua karyawan yang terlewati, hanya memberi salam biasa seperti hari-hari sebelumnya, seraya menundukkan kepala sebagai tanda hormat. Sam berjalan tegak seperti bisanya, seolah cedera itu cuma hiasan. Prioritas Sam saat itu hanya satu : memastikan Mala tidak kenapa-napa. Rasa sakit akibat cidera di bahu dan lengannya akan ditelannya mentah-mentah, asalkan Mala baik tak kurang suatu apapun.Sam tidak bisa menelepon, dia tahu Mala jelas tengah bersama Ben, suaminya. Ia sendiri juga belum tahu bagaimana nanti harus bersikap jika sudah berhadapan dengan Mala. Satu hal yang pasti, dia harus melihat Mala baik-baik sa

  • Terjebak Cinta CEO Beristri   *63*

    POV : SAMAku merasakan sakit dari bahu yang menjalar ke lengan, namun rasa sakit itu terkubur oleh kelegaan saat kudapati Mala tidak kenapa-napa. Tadi aku terlalu panik, segala pikiran buruk berseliweran dikepala, membayangkan Mala yang tidak mengangkat telepon serta tidak juga membuka pintu, pikiranku kemana-mana. Aku berpikir buruk bahwa terjadi sesuatu dengan Mala di dalam sana. Rasanya aku mau gila. Aku menghantam pintu baja rumah Mala dengan bahu dan lenganku, lalu menjadikannya bantalan untuk menumpu jatuhnya Mala agar tidak membentur lantai. Andai sesuatu yang buruk terjadi pada Mala, rasanya aku tak lagi bisa hidup dengan tenang.Sampai tiba-tiba Mala bangkit dengan tergesa, dia bahkan terlihat limbung. Dan,"Aaaaaa!!!" tiba-tiba saja dia berteriak histeris seraya mengacak-acak rambutnya, terlihat amat kalut. Kelegaanku musnah, berganti dengan kekhawatiran yang kuat. Sepertinya Mala amat sangat kesakitan. Mengabaikan rasa sakit di bahu dan lengan, segera aku berdiri dan menar

  • Terjebak Cinta CEO Beristri   *62*

    POV : MalaAku terbangun, sinar matahari menerobos masuk melalui celah gorden yang langsung mengenai mata. "Silau." gumamku, seraya menarik bantal dan menutupi wajahku dengan itu. Tapi aku tidak berniat untuk melanjutkan tidur. Hanya tengah mengumpulkan kesadaran. Sampai tiba-tiba ingatanku berkelebat kembali ke masa-masa saat di hotel. Saat aku sakit, saat Sam memanggil dokter, saat aku diminta ganti baju."Kamu demam, sayang. Tenanglah, ini dokter yang sengaja kupanggil untuk memeriksa keadaanmu." terngiang kembali perkataan Sam saat itu ditelingaku.Lalu aku ingat saat Sam memaksaku untuk ganti baju, dan dengan tak tahu malu dia mengambil bra dan celana dalamku. Meski untuk kupakai, tetap saja itu memalukan untuk diingat. Mengingatnya sekarang bahkan aku masih merasa malu dan kesal. Meski hal itu memang bukan pertama kalinya. Sepertinya bahkan Sam sudah tahu betul ukuran bra dan celana dalamku. "Memalukan." grutuku kesal pada diri sendiri. seraya menyingkirkan bantal yang menutupi

  • Terjebak Cinta CEO Beristri   *61*

    POV : SAMAku menghentikan mobilku tepat di depan gerbang rumah Mala. Kulihat di sebelahku Mala tertidur lelap, dia tampak cantik, amat cantik dimataku meski kondisinya sedang tidak terlalu baik."Bolehkah kucium dia?" tanyaku dalam hati."Tidak!" tegas kepalaku yang ternyata masih tersisa kewarasan disana.Haruskah kubawa saja dia ke rumahku? Dengan begitu aku bisa membopongnya ke kamarku tanpa harus membangunkannya. Tak tega rasanya jika aku harus membangunkan Mala dari tidur lelapnya. Dengan begitu setidaknya aku bisa menjaganya, memastikan dia beristirahat dengan baik, makan dengan benar, dan hidup dengan nyaman.Tapi aku tidak bisa melakukan itu sekarang, belum waktunya. Dan mendadak aku merasa kesal, tapi yang bisa kulakukan hanya menghembuskan napas berat.Kulihat keadaan rumah Mala, sepertinya suami Mala bahkan tidak pulang sejak aku melihatnya pergi waktu itu, tak lama setelah Mala naik taksi di hari keberangkatannya ke Bali."Apa sekarang aku bangunkan saja Mala dan memaksan

  • Terjebak Cinta CEO Beristri   *60*

    Aku terduduk lemas di jok mobil di samping Sam yang tengah mengemudi. Kita sudah tiba dengan selamat di Jakarta. Dan selama itu aku tidak mengatakan apapun. Tidak bertanya, tidak juga memprotes atau apapun prihal sikap Sam terhadapku. Aku sungguh memilih hanya diam. Saat Sam memapahku turun dari pesawat, mendudukkanku di kursi roda dan membawaku naik ke mobilnya. Dia mengurus semuanya dengan baik. Koper dan barang bawaan juga sepertinya Sam sudah mengurus semuanya. Entah kapan dia berkoordinasi untuk mengurus semuanya, aku tak tau, dan aku rasa aku tidak perlu tahu. Cukup menjadi perempuan yang patuh saja saat ini.Sampai tiba-tiba Sam menepikan mobilnya. Aku masih tetap diam, tidak menoleh atau sekadar bertanya kenapa."Kamu baik-baik saja?" tanya Sam terdengar cemas."Hmm." jawabku pelan tanpa menoleh, pandanganku menatap nanar jalanan dengan lalu-lalang kendaraan."Ada yang sakit?""Tidak.""Kamu terus diam, aku khawatir kamu menahan rasa sakit sendiri. Katakan padaku jika ada sesu

  • Terjebak Cinta CEO Beristri   *59*

    POV : Mala.Dinas ke Bali kali ini, kacau! Aku tidak tahu pekerjaan apa yang sesungguhnya harus dilakukan. Dan Nia, aku tak melihatnya lagi sejak dia keluar dari kamar hotel. Sam bahkan tidak menjelaskan apapun, meski berulang kali kutanya prihal keberadaan Nia. Dia yang selalu ada bersamaku baik itu di kamar hotel sejak hari pertama, bahkan sampai di rumah sakitpun Sam terus bersamaku, tanpa membahas Nia ataupun pekerjaan!Dan aku yang jatuh sakit sesampainya di Bali, benar-benar merasa hanya menjadi beban Sam tanpa mengerjakan pekerjaan apapun. Dan Sam sendiri memang tidak memberiku kesempatan untuk melakukannya.Lalu sekarang aku terduduk lemas di kursi pesawat dalam penerbangan untuk kembali ke Jakarta, bersama Sam yang duduk di sebelahku dengan sikap protektifnya yang terasa aneh. Aku tak punya energi untuk mendebatnya, memprotesnya, atau mempertanyakan sikapnya. Aku benar-benar tidak lagi mengatakan apapun setelah beberapa kali pertanyaanku tentang Nia tidak dijawab Sama sekali

  • Terjebak Cinta CEO Beristri   * 30 *

    “Tentu, Kayas maukan memanggilku ayah?” tanya Sam lembut, yang lantas disambut Kayas dengan anggukan pasti.Tanpa menunggu waktu lagi aku menegakkan tubuhku dan segera menghampiri Kayas. Bersamaan dengan itu kulihat Sam kemudian juga menggendong Kayas, dan dia berjalan ke arahku yang juga tengah me

  • Terjebak Cinta CEO Beristri   * 36 *

    POV : Sam"Dia bisa membuatmu gila!" ulang ayah, dengan intonasi yang lebih ditekankan.Aku tercekat, menelan ludah. Padahal sudah sering sebelumnya aku membayangkan hari seperti ini datang. Dimana ayah dan aku berbicara mengenai Mala, perempuan yang paling kuinginkan lebih dari siapapun. Namun, mes

  • Terjebak Cinta CEO Beristri   * 34 *

    “Pagi, Pak.” sapaku, seraya menganggukkan kepala sopan.Aku lantas bergerak menjauhi sosok Sam dan memilih untuk berdiri di sisi lift lainnya. Perasaan tidak nyaman itu muncul kembali, tatapan Sam dengan mata coklatnya yang seolah sangat dalam dan tak berdasar, menimbulkan perasaan aneh dalam diriku

  • Terjebak Cinta CEO Beristri   * 33 *

    Aku terbangun saat alarm handphone berdering nyaring, tepat pukul 4 pagi. Kulihat Kayas masih terlelap di sampingku. Semalam aku tertidur di kamar Kayas, selain karena Ben memang tidak ada, rasa lelah juga membuatku rindu untuk tidur bersama putriku. Aku meraih handphone dan mematikan alarm, kulihat

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status