MasukPagi ini aku benar-benar melampiaskan stress di kepalaku dengan berbelanja menggunakan kartu kredit dari Sam. Aku tak peduli! Aku membeli gaun mahal, sepatu cantik, tas branded, dan perhiasan, juga jam tangan untuk Ben, suamiku. Tak lupa kubelikan juga gaun cantik untuk putriku. Nia juga kupaksa membeli gaun dan perhiasan, meski dia menolak aku tetap mengambil untuknya dan membayarnya.
“Mal, aku tak memerlukannya!” Nia menolak dengan halus.
“Jangan bercanda! Perempuan mana yang tidak menyukai gaun cantik dan perhiasan?” tanyaku kesal.
“Aku bukan bilang tidak menyukai, aku hanya tidak memerlukannya.” ujarnya lemah.
“Ayolah Nai!” begitu biasa aku memanggil Nia, itu panggilan persahabatan dan hanya aku yang memanggil Nia begitu. “Kau harus lebih menghargai dirimu sendiri, kau berharga dan pantas mendapatkan semua kemewahan ini. Anggap saja privilege sebagai istri CEO kaya raya.” cerocosku gemas.
“Aku tidak ingin diingat Sam sebagai istri yang hanya memanfaatkannya.” Nia tertunduk sedih.
Aku mendesah berat, “Semakin kesini kamu semakin lucu. Aku sungguh ingin tertawa mendengar leluconmu.” cetusku, membayar belanjaan dan memberikan barang yang kubayar untuk Nia kepadanya, aku terlalu banyak membawa paper bag untukku sendiri. “Dan kau tahu, ini salah satu dari rangkaian tugasku ke Surabaya, untuk berbelanja dan mengajakmu berbelanja. Aku tak akan menyia-nyiakannya setelah kalian melakukan hal gila semalam di depanku. Aku juga tak akan berpikir panjang untuk membelanjakan kartu yang suamimu berikan!” tururku yang sontak membuat Nia terdiam.
“Maafkan aku.” gumamnya lirih.
Aku tak mengatakan apapun lagi sampai aku mengajak Nia ke salah satu restoran mewah dan aku memesan steak mahal di sana, tentu saja aku membayarnya dengan kartu Sam!
“Sepertinya kamu mulai goyah terhadap Sam, kemana perginya Nia yang sering mengatakan tidak akan melibatkan hati dan hanya menjadikannya tempat bergantung dari segi materi?!” ledekku seraya mulai menyantap hidangan yang telah tersedia.
“Aku masih seperti itu kok. Aku tak akan membiarkan aku jatuh cinta pada Sam.” tegas Nia, “tentu saja, karena dia milik istri dan anaknya. Aku tak berani berharap banyak.” Ucapnya pelan.
Aku mendengus, “ Ya karena itu! Jika kamu tidak bisa menghargai dirimu sendiri sebagai seorang perempuan, sebagai seorang istri, ya hargai dirimu sebagai istri kesekian. Gunakan fasilitas yang Sam berikan, belilah apapun yang kau mau. Apa pentingnya Sam akan mengingatmu sebagai istri yang memanfaatkannya atau bukan?!”
Nia terdiam.
"Kamu sendiri yang mengatakan Sam adalah milik istri dan anaknya, meski kaupun adalah istrinya, tapi kau tidak berpikir akan memiliki Sam selamanyakan?" tanyaku memastikan.
"Entahlah, rasanya aku belum siap kehilangan Sam. Meski aku tidak memiliki hatinya, tapi menjadi salah satu istrinya, cukup menjadikanku nyaman dalam hal materi." jujur Nia.
"Makanya, ketika kamu tidak yakin posisimu aman sebagai istri Sam, manfaatkan masa-masa kamu saat masih benar-benar menjadi istrinya." saranku.
Aku menghela napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Teringat saat pertama aku mengenalkan Nia ke Sam, yang bahkan Nia bekerja di perusahaan Sam juga atas rekomendasi dariku.
“Aku nervous.” Gumam Nia malu-malu. Dia berhenti tepat di depan pintu ruang meeting yang tertutup rapat.
Tadi receptionis mengarahkan kami untuk menunggu di ruang meeting, yang meetingnya sendiri baru akan dimulai setengah jam lagi sesuai jadwal. Sementara klien yang ditugaskan untuk meeting bersama kami masih menyiapkan berkas-berkas yang diperlukan di ruang kerja mereka.
Baru seminggu Nia bekerja di PT. Jaya Sejahtera sebagai staff invoice atas rekomendasi dariku. Dan ini juga adalah kali pertama Nia harus bekerja di luar kantor yang juga bersamaku. Meski kita beda divisi, namun pekerjaan kali ini mengharuskan kepala bagian marketing yang adalah aku, staff invoice, serta Sam sebagai CEO dari PT. Jaya Sejahtera untuk menghadiri meeting di perusahaan klien.
Aku hanya tersenyum. Dinas luar atau meeting dengan klien sudah bukan hal baru bagiku. Namun meeting di luar kantor bersama klien serta Sam, memang cukup membuatku gugup. Padahal sudah berkali-kali aku meeting dengan keikutsertaan Sam didalamnya, dan pesona sang CEO itu masih saja kuat untuk membuat orang di sekitarnya merasa gugup. Padahal Sam adalah CEO yang menyenangkan, cara bekerjanya santai namun cerdas. Dia tidak pernah marah dan berteriak kepada bawahannya saat menemukan kesalahan dalam pekerjaan.
“Di sini aku bukan sedang mencari kesalahan atau siapa yang salah, di sini saya ingin mendengar lebih rinci apa permasalahannya sampai bisa menghambat pekerjaan, dan mari kita bahas untuk bagaimana kita mengatasinya dengan efektif dan seefisien mungkin.” itu yang selalu diucapkan Sam saat dia memimpin rapat ketika perusahaan mengalami problem. Dia cenderung lebih santai dalam menanggapi berbagai permasalahan, tetapi segalanya seperti bisa diselesaikannya dengan baik. Sam bahkan bukan tipe CEO yang bossy! Dia lebih memperlakukan bawahannya sebagai rekan kerja, sehingga hampir seluruh karyawan kantor merasa nyaman bahkan untuk sekadar menyapa atau berbincang dengannya. Selain murah hati, Sam juga dermawan. Sering dia datang kekantor dengan membawa camilan dan membagikannya untuk orang-orang di kantor, sering pula dia mentraktir makan siang, atau bahkan memberikan uang jajan untuk orang-orang kantor yang menurutnya telah menyelesaikan tugasnya dengan baik. Dan itu pure dari dompetnya sendiri, bukan dana dari Perusahaan. Karena bonus dari perusahaan berupa reward untuk karyawan-karyawan berprestasi tetap ada dan terorganisir dengan baik.
“Mari mencoba terlihat serileks mungkin di depan klien.” Ucapku mencoba menangkan.
Nia tersenyum, “Masalahku sepertinya bukan klien, tapi Pak Sam!”
“Kenapa?” tanyaku sedikit terkejut mendengar itu.
“Entahlah, mungkin karena dia tampan!” jujur Nia seraya tertawa.
Aku ikut tertawa mendengarnya, “Dia memang tampan. tidak hanya wajah dan postur tubuhnya yang sempurna sebagai laki-laki, tapi bahkan sikapnya juga menyenangkan.”
“Sayangnya dia sudah beristri.” timpal Nia.
“Heiii! Bagiku Sam adalah laki-laki yang boleh memiliki istri lebih dari satu. Dia terlalu tampan dan baik serta mapan, sayang sekali jika hanya dimiliki satu orang perempuan saja. Dia adalah laki-laki yang kurestui untuk berpoligami.” kelakarku.
Meski aku mengucapkannya dengan nada bercanda untuk mengimbangi perkataan Nia, namun aku jujur dengan itu, sepenuh hati aku menyayangkan jika Sam hanya dimiliki seorang wanita saja.
“Heii!” Nia menegur candaanku seraya mendorong pelan pundakku.
“Apa?!” balasku dengan mendorong punggungnya pelan, namun Nia seperti tidak menduga aku akan melakukannya, dengan high heells-nya tiba-tiba dia seperti hilang keseimbangan dan terhuyung kedepan hampir menabrak pintu. Ia hampir!
karena tiba-tiba saja pintu ruang meeting terbuka! Sosok Sam muncul disana yang sontak ditubruk Nia dengan keras. Berkas yang dibawa Nia berhamburan lantas berserakan di lantai. Sementara Nia yang kehilangan keseimbangan dengan sepatu hak tinggi yang dikenakannya, terselamatkan karena Sam menahan pinggang Nia dengan sigap, hingga keduanya sesaat bahkan tampak tengah berpelukan.
POV : MALAAku lelah, kepalaku mulai terasa pusing, aku memberontak dengan kuat sementara Sam melumat bibirku dengan instens. Aku sesak. Tak bisa bernapas. Kujambak rambut Sam keras dan menarik kepalanya.Berhasil! Sam melepaskanku dengan napas terengah, dadanya naik turun karena ritme napasnya yang kencang, sepertiku. Yang entah karena sedang tidak sehat, terkejut, shock, atau entah karena apa pastinya, aku merasa tubuhku lelah. Aku tertunduk. Menyandarkan diri pada Sam yang lengannya tidak juga melepaskan pergelangan tanganku. Aku terdiam, mengatur napas, menghirup banyak oksigen dan menghembuskannya perlahan. Aku tak punya tenaga lagi untuk berpikir, berontak atau memaki. Aku hanya mematung diam. Mengatur napas seraya merasakan degup jantung Sam yang kencang di dadanya.Sam melepaskan cengkraman tangannya pada lenganku, kemudian dia memelukku erat tapi hangat. mungkin karena aku tidak sehat, aku tidak bisa berpikir jernih. Aku hanya diam dan mencerna kehangatan yang merayap ke seti
POV : SamTubuhku lemas mendengar perkataan Mala. Bagaimana bisa dia tidak mengingat hari kemarin?! Moment sepenting itu? Moment yang telah lama kunantikan dan kudambakan. Lalu sekarang dia berkata tidak mengingatnya sama sekali?! Seolah semua hanya sebatas khayalanku, mimpiku semata seperti yang sebelum-sebelumnya kurasakan sebelah pihak."Atau memang semua hanya ilusiku semata? Atau memang Tuhan ingin semua hanya sebatas khayalanku saja?" Aku yang frustrasi hanya bisa mengacak-ngacak rambut sendiri, kalut."Tolong periksa istri saya, dok! Dia jelas kehilangan ingatannya satu hari kemarin." mohonku pada Dokter."Baik, kita akan melakukan pemeriksaan lanjutan untuk mengetahi kondisi istri anda.""Tolong lakukan segera Dok!""Baik, Pak! Akan kami persiapkan terlebih dahulu." Jawab dokter. "Jadi bagaimana keadaan Ibu sekarang? Ada keluhan atau rasa aneh atau sakit dan semacamnya?"Mala menggelengkan kepala, sekilas dia menatapku kesal. Tatapan kesal yang muncul setiap kali aku menyebutny
POV : SamAku melirik pintu kamar mandi, dengan celana dalam milik Mala yang tergenggam erat di tangan. Rasanya sangat menyiksa, terpikir untuk mendobrak pintu kamar mandi dengan brutal, dimana dibaliknya ada sosok Mala yang tengah mengenakan handuk saja. Haruskah aku meminta tolong pada Mala dengan memelas agar dia membantuku untuk meredam hasratku? Akankah dia mengerti dan mau melakukannya? Atau kupaksa saja dia? Tidak, jika kupaksa semua usahaku selama ini akan sia-sia dan hancur dalam sekejap, dan kemudian aku akan kehilangan Mala selamanya tanpa bisa berharap apapun. Dan aku akan gila!Akhirnya dengan sedikit kesadaran yang tersisa, aku membawa semua baju Mala dan mengetuk pintu kamar mandi. Pintu sedikit terbuka dan Mala menyembulkan kepalanya dengan ekspresi kikuk dan pipi yang memerah karena malu. Manis. Aku refleks menelan ludah saat melihatnya. "Tarik saja dia, ciumi saja pipi merahnya, lumat saja bibirnya!" teriak setan dalam kepala.Namun aku tak menurutinya. Dengan enggan
POV : SamDengan rasa frustrasi aku menatap pintu kamar mandi yang mengeluarkan suara kran air yang dinyalakan. Di dalamnya ada Mala, entah dia tengah mandi atau sekadar mencuci wajah, entahlah. Ingin aku bergerak membuka pintu itu dan masuk ke dalamnya. Membayangkan Mala tanpa pakaian dengan suhu tubuhnya yang tengah demam, aku merasa hawa panas menjalari seluruh syaraf dalam tubuhku, menimbulkan rasa pening di kepalaku saat membayangkan tubuh hangat Mala kuciumi.Aku mengusap-usap kasar wajahku, berusaha mendinginkan pikiranku dan memfokuskan kepalaku dari hal-hal yang agak liar. Kualihkan perhatianku pada makanan yang kupesan, kutata di meja agar Mala bisa makan dengan nyaman. Buah-buah iris yang tampak segar, aneka berry warna-warni, serta ada saus youghurt. Ada susu steril yang sengaja kupesan khusus untuk Mala, berharap dengan itu dapat membantu mempercepat penyembuhannya. Bubur abalone dan sup ayam gingseng. Sementara untukku sendiri, aku memesan steak wagyu, asparagus panggang
POV : SAM“Kenapa melotot begitu padaku?” tanyaku, seraya menghampiri Mala dan duduk di tepi ranjang, yang tiba-tiba Mala bangkit, dia terlihat panik dan loncat dari ranjang bahkan menjauh dariku.Dia menyenderkan tubuhnya pada dinding dengan wajah pucat yang terlihat jelas diliputi kekhawatiran yang tampak nyata. Aku mengerti apa yang dipikirkan Mala, namun aku tak peduli. Saat ini aku ingin menjadi Sam yang menyukai Mala sejak SMA, bukan menjadi Sam yang adalah seorang CEO yang tengah menghadapi karyawannya.“Kenapa?” tanyaku lagi, dengan dahi berkerut heran.“Nia mana?” tanya Mala.Seperti tertampar oleh pertanyaan Mala, kesadaranku muncul menimbulkan rasa sakit yang berdenyut aktif di dada, aku terdiam menahan diri untuk sejenak mengatur napas berusaha melonggarkan dadaku dari rasa sesak yang mendera. Kemudian aku hanya mengendikkan bahu, aku memang tidak tahu Nia dimana.“Pak Sam sebaiknya keluar. Apa yang akan Nia katakan jika melihat kita hanya berdua di dalam kamar?” tanya Mal
Hari mulai gelap, aku keluar dari ruang kerja pribadiku di salah satu hotel besar di Bali, di ruangan paling atas dari hotel ini yang sengaja kusiapkan khusus untukku. Beberapa karyawan hotel yang kebetulan berpapasan denganku saat aku bergerak turun, mengangguk hormat seraya tersenyum ramah, seolah aku hanyalah sekadar tamu hotel VVIP mereka.Memang tak ada yang tahu, bahwa hotel ini adalah milikku dan merupakan salah satu usaha yang kurintis secara diam-diam. Aku hanya menempatkan satu orang kepercayaanku di setiap hotel yang kudirikan, untuk mengelolanya sebagai manajemen professional serta menjadi wajahku untuk mengatur pekerja. Meski begitu secara sistem, kinerja, pengambilan keputusan, aku sendiri yang meninjau dan memutuskan melalui orang kepercayaanku itu yang selalu memberikan laporan di setiap harinya. Sampai hari ini, semua berjalan lancar dan terkendali. Bahkan beberapa cabang hotelku bekembang pesat melebihi ekspektasi, tersebar di beberapa kota besar di Indonesia, dan ad







