LOGINRahang Clarissa mengeras. Tangannya menggenggam erat jas yang dia pakai.
"Caesar, aku pikir kita akan makan malam bersama? Kau bilang—" "Aku bilang kita mungkin makan bersama kalau aku tidak ada urusan," potong Caesar tanpa melihat ke arahnya. Matanya tetap tertuju pada Raisa. "Dan sekarang aku punya urusan. Jadi, Raisa? Bagaimana?" Raisa merasakan ketegangan di udara. Clarissa terlihat seperti akan meledak—wajahnya memerah, napasnya sedikit memburu. Tapi dia menahan diri, mungkin karena tidak ingin terlihat posesif atau cemburu di depan Caesar. Pria seperti Caesar Johnson membenci wanita yang terlalu manja. Raisa sudah melihat kejadian seperti ini puluhan kali. Wanita-wanita yang mencoba mengikat Caesar, yang bersikap posesif, yang menuntut perhatian lebih, mereka semua berakhir dibuang lebih cepat dari yang lain. Dan Raisa... tidak ingin membuat masalah dengan Clarissa. Atau lebih tepatnya, dia tidak ingin menjadi bagian dari permainan rumit Caesar dengan wanita-wanitanya. "Maaf, Pak," kata Raisa dengan sopan. "Tapi saya sudah ada janji malam ini. Bagaimana kalau kita bahas strategi meeting itu besok pagi saja? Saya bisa datang lebih awal, jam tujuh mungkin?" Caesar mengangkat alis. Untuk sesaat, ada perubahan ekspresi diwajahnya, tapi ekspresi itu menghilang secepat kemunculannya. "Baiklah," katanya datar. "Besok pagi, jam tujuh. Jangan terlambat." "Tentu, Pak. Permisi." Raisa membungkuk sopan, lalu berbalik dan keluar dari ruangan dengan langkah tenang. Saat pintu tertutup di belakangnya, dia mendengar suara Clarissa mulai bicara dengan nada merengek, tapi dia tidak peduli apa yang dikatakan wanita itu. Raisa berjalan kembali ke mejanya, meletakkan folder di laci, mematikan komputer, dan membereskan tasnya. Lima belas menit kemudian, dia sudah berada di dalam lift menuju lantai parkir. Di dalam mobil sedan tua warisannya, Honda Civic 2015 yang sudah mulai berkarat di beberapa bagian, Raisa menatap pantulan dirinya di kaca spion. Wajahnya terlihat lelah. Ada kantung mata tipis yang mulai muncul, meski dia sudah berusaha menutupinya dengan concealer. Rambutnya yang cokelat panjang diikat ke belakang dengan sederhana, tidak pernah dicat, tidak pernah di styling berlebihan. Dia mengenakan blazer abu-abu yang sama sejak tiga tahun lalu, masih layak pakai, tapi jelas tidak semahal blazer yang dipakai wanita-wanita yang datang bersama Caesar. "Tentu saja dia tidak akan pernah melihatmu," bisik Raisa pada bayangannya sendiri. "Kau ini... biasa saja. Sementara dia... dia Caesar Johnson." Raisa menghela napas panjang, menyalakan mesin mobil, dan keluar dari gedung Johnson Corp. Tapi dia tidak menuju ke apartemennya. Rumah Sakit Metropolitan Memorial terletak di pinggiran kota, sekitar empat puluh menit perjalanan dari kantor. Raisa memarkir mobilnya di tempat yang sudah sangat familiar—spot parkir nomor B-17, tepat di bawah pohon oak besar yang memberikan keteduhan. Dia turun, meraih tas kerja dan kantong kertas berisi sandwich tuna yang dia beli di minimarket dekat rumah sakit, lalu berjalan masuk melalui pintu otomatis yang sudah terbuka tutup ribuan kali untuk kedatangannya. "Selamat malam, Raisa." Suster Linda, wanita paruh baya dengan senyum ramah, menyapanya dari meja resepsionis. "Malam, Suster Linda. Mia sudah makan malam?" "Sudah. Tapi dia bilang makanan rumah sakit membosankan. Mungkin kau bawa sesuatu?" Raisa mengangkat kantong kertas. "Sandwich tuna. Favoritnya." "Kau memang kakak terbaik." Suster Linda tersenyum. "Dia di kamar biasa. Kondisinya hari ini cukup baik." "Syukurlah." Raisa berjalan menyusuri koridor yang sudah dia hafal di luar kepala, belok kanan setelah dispenser air, lurus melewati ruang tunggu, naik tangga ke lantai tiga karena lift sering penuh, belok kiri, dan berhenti di depan pintu dengan plat nama: Kamar 304 - Mia Valentine. Dia mengetuk pelan sebelum membuka pintu. "Kakak!" Seorang gadis berusia dua puluh dua tahun, meski terlihat lebih muda karena tubuhnya yang kurus, duduk di ranjang rumah sakit dengan senyum lebar. Rambutnya yang dulunya panjang dan tebal kini pendek dan tipis akibat kemoterapi. Kulitnya pucat, matanya cekung, tapi senyumnya... masih sama hangatnya dengan tujuh tahun lalu. Mia Valentine. Satu-satunya keluarga yang tersisa untuk Raisa di dunia ini. "Hai, sayang." Raisa menutup pintu dan berjalan menghampiri, mencium kening adiknya dengan lembut. "Apa kabar hari ini?" "Baik! Dokter bilang hasil tes darahku membaik. White blood cell count-ku naik sedikit." Mata Mia berbinar. "Itu pertanda bagus, kan?" "Sangat bagus." Raisa tersenyum, senyum tulus pertamanya hari ini. "Aku bawakan sandwich tuna. Mau?" "Mau banget! Makanan rumah sakit hari ini ayam rebus hambar lagi. Aku ngerasa kayak lagi diet ekstrem." Raisa tertawa, membuka kantong kertas dan menyerahkan sandwich. Mia melahapnya dengan lahap, terlalu lahap untuk seseorang yang sedang sakit keras. Raisa duduk di kursi samping ranjang, menatap adiknya makan dengan perasaan campur aduk. Senang karena Mia masih punya nafsu makan, tapi sedih karena... ini sudah tujuh tahun. Tujuh tahun Mia keluar masuk rumah sakit. Tujuh tahun kemoterapi, radiasi, transfusi darah, obat-obatan yang membuat tubuhnya semakin lemah. Dan Raisa... tujuh tahun bekerja keras untuk membayar semuanya. "Kakak keliatan cape," kata Mia tiba-tiba, menatap Raisa dengan mata yang terlalu tajam untuk usianya. "Bos kakak bikin masalah lagi?" Raisa tersenyum kecut. "enggak. Dia... dia baik-baik aja." "Kakak pembohong yang buruk." Mia meletakkan sandwich separuh dimakan. "Aku tahu kok. Setiap kali kakak datang dengan wajah seperti itu, pasti ada hubungannya sama bos kakak." Raisa diam. Dia tidak pernah bercerita pada Mia tentang perasaannya pada Caesar. Tapi Mia... adiknya ini terlalu pintar untuk dibohongi. "Kakak suka sama dia, kan?" Raisa tersentak. "Apa?" "Caesar Johnson. Bos kakak. Kakak cinta sama dia." Mia berkata dengan tenang, seolah dia baru saja mengatakan fakta bahwa langit itu biru. "Aku tahu sejak dulu. Cara kakak bicara tentang dia, cara wajah kakak berubah saat menyebut namanya... Kakak mencintainya." Raisa membuka mulut untuk membantah, tapi kata-kata tidak keluar. "Mia..." "Kenapa kakak nggak bilang aja sama dia?" Suara Mia lembut. "Kenapa kakak membiarkan diri kakak menderita sendirian?" "Karena..." Raisa menarik napas gemetar. "Karena dia nggak akan pernah suka sama kakak, Mia. Dia... dia Caesar Johnson. Dia bisa mendapatkan wanita mana pun yang dia mau. Model, aktris, putri konglomerat... Sementara kakak? Kakak cuman sekretarisnya. Nggak ada istimewanya sama sekali." "Kakak salah." Mia meraih tangan Raisa dan menggenggamnya erat. "Kakak adalah orang paling istimewa yang aku kenal. Kakak kuat, pintar, setia... Pria mana pun akan beruntung memiliki kakak." Raisa tersenyum sedih. "Sayangnya, Caesar tidak melihatnya seperti itu." Mia memeluk kakaknya, pelukan lemah dari tubuh yang rapuh, tapi penuh cinta. "Suatu hari nanti, kakak harus memilih," bisik Mia. "Antara dia... atau kebahagiaan kakak sendiri. Dan aku harap... aku harap kakak memilih diri sendiri." Di ruangan rumah sakit yang dingin itu, Raisa menyadari satu hal: Mia benar. Suatu hari nanti, dia harus memilih. Tapi hari itu... belum datang. Hari ini, dia masih ingin bertahan. Masih ingin mencintai dalam diam. Masih ingin berharap, meski harapan itu bodoh dan menyakitkan. Karena cinta yang sudah tumbuh selama tujuh tahun... tidak mudah untuk dicabut begitu saja. Bahkan jika cinta itu menghancurkannya pelan-pelan dari dalam.Raisa tertegun mendengar ucapan Caesar yang terakhir.'Seharusnya kulakukan ini dari dulu.'Kata-kata itu terus bergema di kepalanya, tidak mau pergi.Dia tidak menyangka. Benar-benar tidak menyangka.Pria yang dulu selalu berkata dengan nada meremehkan bahwa dia tidak akan pernah menyentuh wanita biasa seperti Raisa, pria yang selalu membawa model, aktris, dan putri konglomerat ke ranjangnya, pria yang selalu terlihat bosan dengan semua wanita setelah seminggu...Kini merasa puas setelah melakukan ini dengannya.Orang yang tidak punya pengalaman apa pun dalam hal ini. Orang yang bahkan tidak tahu apa yang harus dilakukan sampai dipaksa.Raisa masih berlutut di lantai, kepalanya tertunduk, napasnya masih belum sepenuhnya teratur.Di hadapannya, Caesar berdiri dan memasukkan kembali miliknya ke dalam celana dengan gerakan yang sangat santai, seolah apa yang baru saja terjadi adalah hal yang sangat biasa.Lalu tanpa mengatakan apa pun lagi, tanpa menatap Raisa sekali pun, dia berbalik d
Raisa menatap langit-langit kamarnya sebentar, menimbang-nimbang apakah dia harus bangun atau tidak.Tapi ketukan itu datang lagi, kali ini lebih keras.Tok. Tok. Tok.Raisa menghela napas panjang, mengangkat selimut dari tubuhnya dengan gerakan yang sedikit kesal, lalu turun dari tempat tidur.Kakinya menyentuh lantai kayu yang sejuk. Dia berjalan ke pintu dengan langkah yang lambat karena tubuhnya masih terasa sedikit pegal.Tangannya meraih kenop pintu, memutarnya, lalu menarik pintu terbuka.Dan langsung membeku total.Caesar berdiri di ambang pintu dengan jubah tidur sutra hitam yang sama sekali tidak diikat, hanya tergerai terbuka memperlihatkan dada bidang dan perut sixpack yang terpahat sempurna. V-line yang menawan terlihat jelas menghilang di balik celana piyama hitam longgar yang memeluk pinggulnya dengan sempurna.Raisa langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain, menatap langit-langit koridor seolah itu adalah hal paling menarik yang pernah dia lihat."Apa yang kau la
Ketika matahari benar-benar tenggelam di balik cakrawala, Raisa duduk sendirian di meja makan panjang yang luas itu.Pemandangan yang agak ironis, sebenarnya.Satu orang di meja yang bisa menampung dua puluh orang, dengan hidangan makan malam yang disiapkan dengan sangat rapi oleh dapur mansion.Sebelumnya Handry sudah menyampaikan bahwa Caesar tidak akan bisa ikut makan malam dirumah karena masih ada urusan lain.Raisa tidak bertanya lebih jauh. Justru dia merasa lebih lega bisa makan tanpa kehadiran Caesar.Dia menyendok sup perlahan, merasakan hangatnya mengalir ke tenggorokan. Entah karena dia memang lapar atau karena masakannya benar-benar enak, kali ini dia makan dengan porsi yang lebih banyak dibanding siang tadi.Setelah selesai, Raisa melipat serbet di pangkuannya dengan rapi dan meletakkannya di atas meja.Dia duduk sebentar, menatap taman yang kini hanya bisa terlihat sebagai siluet gelap di balik jendela besar yang diterangi lampu taman berwarna kuning hangat.Lalu dia ter
Mereka melewati foyer yang luas dengan langit-langit tinggi dan lampu kristal besar yang berkilau, menaiki tangga marmer putih dengan pegangan besi tempa yang elegan, lalu berjalan menyusuri koridor panjang dengan dinding berwarna krem lembut yang dihiasi lukisan-lukisan mahal.Akhirnya, Hendry berhenti di depan sebuah pintu kayu besar dengan ornamen ukiran bunga yang indah.Dia membuka pintu dengan gerakan yang sangat hati-hati, lalu melangkah ke samping dan mempersilakan Raisa masuk."Ini kamar Anda, Nona."Raisa melangkah masuk.Dan langsung terpesona.Ruangan itu sangat luas, mungkin dua kali lipat ukuran kamarnya di apartemen. Dindingnya berwarna putih gading dengan aksen emas yang menghiasi sudut-sudut dan list di langit-langit. Tempat tidur king size dengan seprai putih lembut dan tumpukan bantal besar berdiri megah di tengah ruangan, dengan kanopi putih tipis yang tergantung dengan anggun.Di sudut ruangan ada sofa kecil berwarna krem dengan meja kopi bulat, sempurna untuk be
Raisa dan Caesar sama-sama terkejut mendengar perkataan Dr. Amanda.Raisa langsung menegakkan tubuhnya meski gerakan itu membuat tubuh bagian bawahnya terasa sakit. "Apakah... apakah berbahaya?"Suaranya keluar dengan gemetar, wajahnya semakin pucat.Dr. Amanda tersenyum dengan lembut, berusaha menenangkan. "Tidak berbahaya selama tidak berkembang menjadi kista. Tapi hal ini akan berpengaruh pada kesuburan Anda. Anda akan kesulitan saat ingin mendapatkan momongan."Raisa menundukkan kepalanya dengan sedih.Tangannya yang tadinya mencengkeram jas Caesar kini melemas di pangkuannya, jemarinya gemetar.Raisa tidak pernah berpikir terlalu jauh tentang masa depan seperti itu. Tapi mendengar dokter mengatakan dia mungkin tidak bisa punya anak dengan mudah, ada sesuatu yang terasa patah di dadanya.Caesar melirik ke arah Raisa dari sudut matanya, melihat ekspresi sedih yang terpampang jelas di wajah wanita itu.Dia mengerutkan keningnya, lalu berbalik menatap Dr. Amanda dengan tatapan yang s
Di dalam mobil, Raisa hanya duduk diam dengan kepala tertunduk.Tangannya terlipat erat di pangkuan, jemarinya meremas-remas ujung jas Caesar yang dia pakai untuk menutupi tubuhnya yang hanya mengenakan jubah handuk di bawahnya. Rambutnya yang masih sedikit lembap jatuh menutupi wajahnya, menyembunyikan ekspresi kosong yang terpampang di sana.Awalnya, saat Caesar mengatakan mereka akan ke rumah sakit, ada secercah harapan kecil yang muncul di dadanya. Harapan bodoh yang berbisik bahwa mungkin, hanya mungkin, Caesar khawatir tentang kondisi tubuhnya yang jelas-jelas tidak baik-baik saja.Tapi kenyataan datang menghantam dengan keras."Aku harus memastikan kau tidak hamil karena kejadian ini."Bukan karena khawatir pada Raisa.Bukan karena peduli dengan rasa sakit yang dia rasakan.Hanya karena takut ada konsekuensi yang tidak diinginkan untuk dirinya sendiri.Raisa tersenyum pahit, masih dengan kepala tertunduk.Seharusnya dia sudah terbiasa dengan hal ini. Seharusnya dia sudah tahu
Pria pertama yang melingkari Raisa dari belakang memiringkan kepalanya, mengamati seluruh tubuhnya. "Sebenarnya dia memang cantik," katanya dengan nada seperti seseorang yang memuji sepotong furniture di toko antik. "Aneh sekali Caesar bisa tahan tidak menyentuhnya selama bertahun-tahun." Lanjutn
Tidak ada yang istimewa sampai tengah malam. Raisa terus berjalan dari satu sudut dek ke sudut lainnya, memeriksa meja, berbicara singkat dengan staf katering, memastikan minuman tetap tersedia dan musik tidak terlalu keras. Tamu datang dan pergi dalam kelompok-kelompok kecil, mengobrol dengan
Caesar meletakkan ponselnya di meja, menatap Raisa yang sedang berdiri di hadapannya dengan agenda mingguan di tangan, "Jadwalkan pesta tahunan. Dua minggu lagi." Raisa membuka halaman baru di agendanya, "Kapal pesiar seperti tahun lalu, Pak?" "Ya." "Jumlah tamu?" "Lima puluh undangan. Sisanya
Sore itu langit san francisco berwarna oranye keunguan saat Raisa memarkir mobilnya di depan The Grand Marquis. Gedung hotel bintang lima itu berdiri megah di pusat kota, dindingnya yang terbuat dari kaca dan baja memantulkan cahaya matahari yang mulai tenggelam. Raisa duduk sebentar di dalam mob







