Share

Bab 5: Canggung

Penulis: Leein
last update Tanggal publikasi: 2026-01-28 13:44:00

Caesar berbalik, menatapnya. Dan untuk sesaat, ekspresinya berubah.

Alisnya mengerut. Matanya menyipit, menatap wajah Raisa dengan intens.

"Kau pucat," katanya datar. Bukan pertanyaan, tapi pernyataan.

"Saya baik-baik saja, Pak."

"Dahimu berkeringat. Suhu ruangan ini 18 derajat."

Raisa menelan ludah. "Saya hanya sedikit lelah. Tidak apa-apa."

Caesar melangkah mendekat, matanya tidak lepas dari wajah Raisa. "Kau sakit?"

"Tidak, Pak. Saya baik-baik saja." Raisa mundur selangkah, tidak nyaman dengan jarak yang terlalu dekat. "Kalau tidak ada yang perlu disampaikan lagi, saya permisi."

Dia berbalik dan keluar dari ruangan sebelum Caesar bisa mengatakan apa pun lagi.

Raisa kembali ke mejanya, duduk dengan hati-hati karena setiap gerakan membuat perutnya semakin sakit.

Dia meraih ponsel, membuka aplikasi pesan antar makanan. Dia perlu makan sesuatu sekarang juga sebelum kondisinya semakin buruk.

Dia memesan bubur ayam dan teh hangat, pilihan paling aman untuk kondisi lambungnya.

Tidak lama kemudian, Caesar keluar dari ruangannya dengan langkah panjang. Dia melirik Raisa sekilas, berhenti sejenak di depan mejanya.

"Pulang kalau kau tidak sehat," katanya dengan nada dingin.

Raisa tidak mengangkat kepala, tetap fokus pada layar komputernya. "Saya baik-baik saja, Pak. Selamat makan siang."

Caesar diam sebentar, seolah ingin mengatakan sesuatu. Tapi akhirnya dia hanya berbalik dan berjalan menuju elevator.

Raisa menghela napas lega begitu bunyi ding elevator berbunyi dan pintu menutup. Dia menjatuhkan kepalanya ke atas meja, menutup mata, berusaha menahan rasa sakit yang semakin menjadi-jadi.

Tangannya gemetar saat meraih botol air mineral di laci dan meneguknya perlahan. Tapi air dingin itu malah membuat perutnya semakin mulas.

"Bertahanlah," bisik Raisa pada dirinya sendiri. "Makanan akan tiba sebentar lagi."

Tapi sebelum dia bisa menutup mata lagi, bunyi ding elevator kembali terdengar.

Raisa mengangkat kepala dengan malas, mengira itu mungkin kurir pengantar makanannya.

Tapi yang keluar dari elevator adalah Caesar Johnson, dengan wajah yang kelihatannya sangat... marah.

Raisa membeku. 'Kenapa dia kembali?'

Caesar melangkah cepat menuju mejanya, matanya menatap tajam ke arah Raisa yang sekarang terlihat lebih pucat dari sebelumnya.

Keringat membasahi seluruh dahinya, tangannya gemetar di atas meja, napasnya sedikit tersengal.

"Kau," kata Caesar dengan suara rendah yang penuh amarah. "Kau bilang kau baik-baik saja?"

"Pak, saya-"

"Diam."

Caesar meraih tangan Raisa dan menariknya berdiri dengan satu gerakan cepat. Raisa hampir berteriak kesakitan, tapi dia menahan diri.

"Pak, saya benar-benar baik-baik saj-"

"Kubilang diam!" Caesar menyeretnya menuju elevator dengan tarikan yang tidak lembut sama sekali.

Raisa tersandung, kakinya tidak bisa mengikuti langkah cepat Caesar. Perutnya yang sakit membuatnya tidak bisa bergerak dengan baik.

Dan kemudian, dia jatuh.

Lututnya membentur lantai keras. Raisa menggigit bibir, menahan rasa sakit yang menyebar dari lutut ke seluruh tubuhnya.

Caesar berhenti. Dia menatap ke bawah, melihat Raisa yang jatuh berlutut dengan wajah pucat pasi.

Untuk sesaat, ekspresi Caesar melembut. Seperti ada sesuatu yang berubah di matanya. Raisa pikir dia akan membantunya berdiri dengan lembut, mungkin bahkan menggendongnya.

Tapi tidak.

Caesar hanya menarik tangan Raisa lagi, memaksanya berdiri.

"Berdiri. Jangan merepotkan."

Raisa hampir menangis. Bukan karena sakit fisik, tapi karena betapa dinginnya perlakuan Caesar.

Mereka masuk ke dalam elevator. Caesar tidak melepaskan tangan Raisa, menahannya dengan genggaman kuat seolah takut Raisa akan kabur.

"Pak, mau kemana?" Raisa akhirnya bertanya dengan suara parau.

"Makan siang."

"Tapi Bapak sudah ada janji dengan Nona Clarissa"

"Ikut."

"Apa?"

"Ikut makan siang denganku. Kau belum makan, kan? Makanya kau sakit."

Raisa membeku. "Pak, saya tidak bisa. Itu makan siang Bapak dengan Nona Lawson. Saya tidak"

"Aku tidak peduli. Kau ikut."

Elevator berhenti di basement. Caesar menyeret Raisa keluar, langsung menuju mobil Rolls Royce hitamnya yang terparkir di spot khusus CEO.

Dia membuka pintu belakang, mendorong Raisa masuk dengan tidak lembut sama sekali, lalu menutup pintu dan masuk dari sisi lain.

Supir tidak bertanya apa-apa, langsung menyalakan mesin dan keluar dari basement.

Raisa duduk kaku di kursi, tangannya masih memegang perut yang sakit. Dia melirik Caesar yang duduk dengan wajah datar, menatap keluar jendela seolah tidak ada apa-apa.

"Pak, saya rasa lebih baik saya makan sendiri saja," kata Raisa pelan. "Nona Clarissa pasti tidak akan senang kalau saya-"

"Diamlah," potong Caesar tanpa melihatnya. "Aku tidak suka mendengar orang sakit bicara terlalu banyak."

Raisa diam. Dia tidak tahu harus berkata apa lagi.

Dua puluh menit kemudian, mobil berhenti di depan La Stella Ristorante. Tempat yang tadi pagi Raisa sendiri yang pesan untuk kencan romantis Caesar dan Clarissa.

Tapi sekarang, Raisa malah jadi orang ketiga yang tidak diinginkan.

Caesar keluar dari mobil, membuka pintu untuk Raisa, dan kembali menarik tangannya dengan kasar.

"Jalan."

Mereka masuk ke dalam restoran. Pelayan langsung menyambut dengan ramah. "Selamat siang, Tuan Caesar. Private dining room sudah siap."

Mereka dipandu menuju ruangan pribadi di sudut restoran, ruangan mewah dengan meja bulat besar, lampu kristal, dan pemandangan taman yang indah.

Dan di sana, sudah duduk seorang wanita cantik berambut pirang dengan dress merah menyala.

Clarissa Lawson.

Wajahnya langsung berubah gelap saat melihat Raisa masuk bersama Caesar.

"Caesar," katanya dengan nada datar. "Aku tidak tahu kita akan makan bertiga."

Caesar melepaskan tangan Raisa dan duduk di kursi dengan santai. "Sekretarisku sakit. Dia belum makan. Jadi aku membawanya."

"Oh." Clarissa menatap Raisa dari kepala sampai kaki dengan tatapan menghina. "Sekretaris yang sakit tapi tetap dipaksa kerja? Betapa mulia."

Raisa tidak menjawab. Dia hanya duduk di kursi yang paling jauh dari Caesar, berusaha membuat dirinya seinvisible mungkin.

Pelayan datang, membagikan menu. Clarissa memesan wine mahal dan steak, Caesar memesan pasta carbonara, dan Raisa... hanya memesan sup krim jamur dan roti.

Clarissa tertawa sinis. "Hanya sup? Kau vegetarian atau memang tidak bisa makan makanan yang lebih enak?"

"Lambungnya bermasalah," jawab Caesar tiba-tiba, tanpa diminta. "Dia tidak boleh makan sembarangan."

Clarissa terdiam. Raisa juga terkejut. Bagaimana Caesar tahu tentang masalah lambungnya?

Makan malam berlangsung dengan sangat canggung. Clarissa terus berusaha menarik perhatian Caesar, memuji jas yang dia pakai, membahas rencana bisnis ayahnya, bahkan menyentuh tangan Caesar berkali-kali.

Tapi Caesar... dia hampir tidak merespons. Dia makan dengan fokus, sesekali melirik ke arah Raisa yang duduk diam sambil menyendok sup perlahan.

Raisa merasa sangat tidak nyaman. Dia ingin sekali pulang. Tapi dia tidak berani mengatakan apa-apa.

"Jadi, Caesar," kata Clarissa dengan senyum menggoda. "Setelah ini kita ke hotel, kan? Seperti rencana?"

Caesar diam sebentar, lalu menjawab dengan datar. "Tidak."

Clarissa membeku. "Apa?"

"Aku ada urusan mendadak. Lain kali saja."

"Tapi kau bilang udah booking hotel!"

"Lain kali," potong Caesar dengan nada final yang tidak bisa dibantah.

Clarissa menatap Caesar dengan wajah tak percaya, lalu menatap Raisa dengan tatapan penuh kebencian.

Dan Raisa... dia hanya bisa duduk diam, menyendok sup yang sudah tidak terasa enak lagi, sambil bertanya-tanya dalam hati:

'Kenapa kau malah melihatku.'

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Terjebak Cinta CEO Brengsek   Bab 41: malam yang panjang

    Raisa tertegun mendengar ucapan Caesar yang terakhir.'Seharusnya kulakukan ini dari dulu.'Kata-kata itu terus bergema di kepalanya, tidak mau pergi.Dia tidak menyangka. Benar-benar tidak menyangka.Pria yang dulu selalu berkata dengan nada meremehkan bahwa dia tidak akan pernah menyentuh wanita biasa seperti Raisa, pria yang selalu membawa model, aktris, dan putri konglomerat ke ranjangnya, pria yang selalu terlihat bosan dengan semua wanita setelah seminggu...Kini merasa puas setelah melakukan ini dengannya.Orang yang tidak punya pengalaman apa pun dalam hal ini. Orang yang bahkan tidak tahu apa yang harus dilakukan sampai dipaksa.Raisa masih berlutut di lantai, kepalanya tertunduk, napasnya masih belum sepenuhnya teratur.Di hadapannya, Caesar berdiri dan memasukkan kembali miliknya ke dalam celana dengan gerakan yang sangat santai, seolah apa yang baru saja terjadi adalah hal yang sangat biasa.Lalu tanpa mengatakan apa pun lagi, tanpa menatap Raisa sekali pun, dia berbalik d

  • Terjebak Cinta CEO Brengsek   Bab 40: kebenaran yang mengejutkan

    Raisa menatap langit-langit kamarnya sebentar, menimbang-nimbang apakah dia harus bangun atau tidak.Tapi ketukan itu datang lagi, kali ini lebih keras.Tok. Tok. Tok.Raisa menghela napas panjang, mengangkat selimut dari tubuhnya dengan gerakan yang sedikit kesal, lalu turun dari tempat tidur.Kakinya menyentuh lantai kayu yang sejuk. Dia berjalan ke pintu dengan langkah yang lambat karena tubuhnya masih terasa sedikit pegal.Tangannya meraih kenop pintu, memutarnya, lalu menarik pintu terbuka.Dan langsung membeku total.Caesar berdiri di ambang pintu dengan jubah tidur sutra hitam yang sama sekali tidak diikat, hanya tergerai terbuka memperlihatkan dada bidang dan perut sixpack yang terpahat sempurna. V-line yang menawan terlihat jelas menghilang di balik celana piyama hitam longgar yang memeluk pinggulnya dengan sempurna.Raisa langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain, menatap langit-langit koridor seolah itu adalah hal paling menarik yang pernah dia lihat."Apa yang kau la

  • Terjebak Cinta CEO Brengsek   Bab 39: tamu yang tak diundang

    Ketika matahari benar-benar tenggelam di balik cakrawala, Raisa duduk sendirian di meja makan panjang yang luas itu.Pemandangan yang agak ironis, sebenarnya.Satu orang di meja yang bisa menampung dua puluh orang, dengan hidangan makan malam yang disiapkan dengan sangat rapi oleh dapur mansion.Sebelumnya Handry sudah menyampaikan bahwa Caesar tidak akan bisa ikut makan malam dirumah karena masih ada urusan lain.Raisa tidak bertanya lebih jauh. Justru dia merasa lebih lega bisa makan tanpa kehadiran Caesar.Dia menyendok sup perlahan, merasakan hangatnya mengalir ke tenggorokan. Entah karena dia memang lapar atau karena masakannya benar-benar enak, kali ini dia makan dengan porsi yang lebih banyak dibanding siang tadi.Setelah selesai, Raisa melipat serbet di pangkuannya dengan rapi dan meletakkannya di atas meja.Dia duduk sebentar, menatap taman yang kini hanya bisa terlihat sebagai siluet gelap di balik jendela besar yang diterangi lampu taman berwarna kuning hangat.Lalu dia ter

  • Terjebak Cinta CEO Brengsek   Bab 38: Menginap

    Mereka melewati foyer yang luas dengan langit-langit tinggi dan lampu kristal besar yang berkilau, menaiki tangga marmer putih dengan pegangan besi tempa yang elegan, lalu berjalan menyusuri koridor panjang dengan dinding berwarna krem lembut yang dihiasi lukisan-lukisan mahal.Akhirnya, Hendry berhenti di depan sebuah pintu kayu besar dengan ornamen ukiran bunga yang indah.Dia membuka pintu dengan gerakan yang sangat hati-hati, lalu melangkah ke samping dan mempersilakan Raisa masuk."Ini kamar Anda, Nona."Raisa melangkah masuk.Dan langsung terpesona.Ruangan itu sangat luas, mungkin dua kali lipat ukuran kamarnya di apartemen. Dindingnya berwarna putih gading dengan aksen emas yang menghiasi sudut-sudut dan list di langit-langit. Tempat tidur king size dengan seprai putih lembut dan tumpukan bantal besar berdiri megah di tengah ruangan, dengan kanopi putih tipis yang tergantung dengan anggun.Di sudut ruangan ada sofa kecil berwarna krem dengan meja kopi bulat, sempurna untuk be

  • Terjebak Cinta CEO Brengsek   Bab 37: diagnosa

    Raisa dan Caesar sama-sama terkejut mendengar perkataan Dr. Amanda.Raisa langsung menegakkan tubuhnya meski gerakan itu membuat tubuh bagian bawahnya terasa sakit. "Apakah... apakah berbahaya?"Suaranya keluar dengan gemetar, wajahnya semakin pucat.Dr. Amanda tersenyum dengan lembut, berusaha menenangkan. "Tidak berbahaya selama tidak berkembang menjadi kista. Tapi hal ini akan berpengaruh pada kesuburan Anda. Anda akan kesulitan saat ingin mendapatkan momongan."Raisa menundukkan kepalanya dengan sedih.Tangannya yang tadinya mencengkeram jas Caesar kini melemas di pangkuannya, jemarinya gemetar.Raisa tidak pernah berpikir terlalu jauh tentang masa depan seperti itu. Tapi mendengar dokter mengatakan dia mungkin tidak bisa punya anak dengan mudah, ada sesuatu yang terasa patah di dadanya.Caesar melirik ke arah Raisa dari sudut matanya, melihat ekspresi sedih yang terpampang jelas di wajah wanita itu.Dia mengerutkan keningnya, lalu berbalik menatap Dr. Amanda dengan tatapan yang s

  • Terjebak Cinta CEO Brengsek   Bab 36: kenyataan yang menyakitkan

    Di dalam mobil, Raisa hanya duduk diam dengan kepala tertunduk.Tangannya terlipat erat di pangkuan, jemarinya meremas-remas ujung jas Caesar yang dia pakai untuk menutupi tubuhnya yang hanya mengenakan jubah handuk di bawahnya. Rambutnya yang masih sedikit lembap jatuh menutupi wajahnya, menyembunyikan ekspresi kosong yang terpampang di sana.Awalnya, saat Caesar mengatakan mereka akan ke rumah sakit, ada secercah harapan kecil yang muncul di dadanya. Harapan bodoh yang berbisik bahwa mungkin, hanya mungkin, Caesar khawatir tentang kondisi tubuhnya yang jelas-jelas tidak baik-baik saja.Tapi kenyataan datang menghantam dengan keras."Aku harus memastikan kau tidak hamil karena kejadian ini."Bukan karena khawatir pada Raisa.Bukan karena peduli dengan rasa sakit yang dia rasakan.Hanya karena takut ada konsekuensi yang tidak diinginkan untuk dirinya sendiri.Raisa tersenyum pahit, masih dengan kepala tertunduk.Seharusnya dia sudah terbiasa dengan hal ini. Seharusnya dia sudah tahu

  • Terjebak Cinta CEO Brengsek   Bab 33: Malam yang berbahaya

    Tanpa pikir panjang, Raisa langsung menerjang masuk untuk mendatangi Caesar.Tapi wanita itu bergerak cepat, menghalangi jalannya dengan tangan terentang."Mau kemana kau?" kata wanita itu dengan senyum dingin yang membuat bulu kuduk Raisa berdiri.Raisa tidak menjawab.Dalam sekejap, tubuhnya berg

  • Terjebak Cinta CEO Brengsek   Bab 32: Caesar dalam bahaya

    Jam menunjukkan pukul 23.30 ketika Raisa merasakan matanya yang mulai perih. Lampu kristal yang terang di ballroom, ditambah dengan riasan yang sudah dia pakai sejak tadi sore, membuat matanya terasa kering dan sedikit merah.Raisa menoleh ke arah Caesar yang sedang berbicara dengan seorang pengus

  • Terjebak Cinta CEO Brengsek   Bab 28: gejala yang semakin parah

    "Sial, kambuh lagi." Raisa menyandarkan kepalanya ke setir dengan frustasi. Tangannya masih gemetar di atas kemudi, napasnya pendek dan cepat, dadanya terasa seperti diremas oleh tangan tak terlihat. Dia sudah sampai di basement parkir Johnson Corp sepuluh menit yang lalu. Tapi dia belum bisa kel

  • Terjebak Cinta CEO Brengsek   Bab 27: Pelukan hangat

    Raisa masih berdiri mematung di tengah ruangan yang berantakan itu, tangannya memegangi pipi yang masih terasa panas dari tamparan Abigail.Matanya menatap kosong ke arah pintu yang baru saja tertutup, pikirannya masih mencoba memproses apa yang baru saja terjadi.Caesar perlahan melangkah mendekat

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status