Compartir

Bab 5: Canggung

Autor: Leein
last update Última actualización: 2026-01-28 13:44:00

Raisa membeku. 'Kenapa dia kembali?'

Caesar melangkah cepat menuju mejanya, matanya menatap tajam ke arah Raisa yang sekarang terlihat lebih pucat dari sebelumnya. Keringat membasahi seluruh dahinya, tangannya gemetar di atas meja, napasnya sedikit tersengal.

"Kau," kata Caesar dengan suara rendah yang penuh amarah. "Kau bilang kau baik-baik saja?"

"Pak, saya-"

"Diam."

Caesar meraih tangan Raisa dan menariknya berdiri dengan satu gerakan cepat. Raisa hampir berteriak kesakitan, tapi dia menahan diri.

"Pak, saya benar-benar baik"

"Diam, aku bilang!" Caesar menyeretnya menuju elevator dengan tarikan yang tidak lembut sama sekali.

Raisa tersandung, kakinya tidak bisa mengikuti langkah cepat Caesar. Perutnya yang sakit membuatnya tidak bisa bergerak dengan baik.

Dan kemudian, dia jatuh.

Lututnya membentur lantai keras. Raisa menggigit bibir, menahan rasa sakit yang menyebar dari lutut ke seluruh tubuhnya.

Caesar berhenti. Dia menatap ke bawah, melihat Raisa yang jatuh berlutut dengan wajah pucat pasi.

Untuk sesaat, ekspresi Caesar melembut. Seperti ada sesuatu yang berubah di matanya. Raisa pikir dia akan membantunya berdiri dengan lembut, mungkin bahkan menggendongnya.

Tapi tidak.

Caesar hanya menarik tangan Raisa lagi, memaksanya berdiri.

"Berdiri. Jangan merepotkan."

Raisa hampir menangis. Bukan karena sakit fisik, tapi karena betapa dinginnya perlakuan Caesar.

Mereka masuk ke dalam elevator. Caesar tidak melepaskan tangan Raisa, menahannya dengan genggaman kuat seolah takut Raisa akan kabur.

"Pak, mau kemana?" Raisa akhirnya bertanya dengan suara parau.

"Makan siang."

"Tapi Bapak sudah ada janji dengan Nona Clarissa"

"Ikut."

"Apa?"

"Ikut makan siang denganku. Kau belum makan, kan? Makanya kau sakit."

Raisa membeku. "Pak, saya tidak bisa. Itu makan siang Bapak dengan Nona Lawson. Saya tidak"

"Aku tidak peduli. Kau ikut."

Elevator berhenti di basement. Caesar menyeret Raisa keluar, langsung menuju mobil Rolls Royce hitamnya yang terparkir di spot khusus CEO.

Dia membuka pintu belakang, mendorong Raisa masuk dengan tidak lembut sama sekali, lalu menutup pintu dan masuk dari sisi lain.

Supir tidak bertanya apa-apa, langsung menyalakan mesin dan keluar dari basement.

Raisa duduk kaku di kursi, tangannya masih memegang perut yang sakit. Dia melirik Caesar yang duduk dengan wajah datar, menatap keluar jendela seolah tidak ada apa-apa.

"Pak, ini tidak baik," kata Raisa pelan. "Nona Clarissa pasti tidak akan senang kalau saya-"

"Diamlah," potong Caesar tanpa melihatnya. "Aku tidak suka mendengar orang sakit bicara terlalu banyak."

Raisa diam. Dia tidak tahu harus berkata apa lagi.

Dua puluh menit kemudian, mobil berhenti di depan La Stella Ristorante. Tempat yang tadi pagi Raisa sendiri yang pesan untuk kencan romantis Caesar dan Clarissa.

Tapi sekarang, Raisa malah jadi orang ketiga yang tidak diinginkan.

Caesar keluar dari mobil, membuka pintu untuk Raisa, dan kembali menarik tangannya dengan kasar.

"Jalan."

Mereka masuk ke dalam restoran. Pelayan langsung menyambut dengan ramah. "Selamat siang, Tuan Caesar. Private dining room sudah siap."

Mereka dipandu menuju ruangan pribadi di sudut restoran, ruangan mewah dengan meja bulat besar, lampu kristal, dan pemandangan taman yang indah.

Dan di sana, sudah duduk seorang wanita cantik berambut pirang dengan dress merah menyala.

Clarissa Lawson.

Wajahnya langsung berubah gelap saat melihat Raisa masuk bersama Caesar.

"Caesar," katanya dengan nada datar. "Aku tidak tahu kita akan makan bertiga."

Caesar melepaskan tangan Raisa dan duduk di kursi dengan santai. "Sekretarisku sakit. Dia belum makan. Jadi aku membawanya."

"Oh." Clarissa menatap Raisa dari kepala sampai kaki dengan tatapan menghina. "Sekretaris yang sakit tapi tetap dipaksa kerja? Betapa mulia."

Raisa tidak menjawab. Dia hanya duduk di kursi yang paling jauh dari Caesar, berusaha membuat dirinya seinvisible mungkin.

Pelayan datang, membagikan menu. Clarissa memesan wine mahal dan steak, Caesar memesan pasta carbonara, dan Raisa... hanya memesan sup krim jamur dan roti.

Clarissa tertawa sinis. "Hanya sup? Kau vegetarian atau memang tidak bisa makan makanan yang lebih enak?"

"Lambungnya bermasalah," jawab Caesar tiba-tiba, tanpa diminta. "Dia tidak boleh makan sembarangan."

Clarissa terdiam. Raisa juga terkejut. Bagaimana Caesar tahu tentang masalah lambungnya?

Makan malam berlangsung dengan sangat canggung. Clarissa terus berusaha menarik perhatian Caesar, memuji jas yang dia pakai, membahas rencana bisnis ayahnya, bahkan menyentuh tangan Caesar berkali-kali.

Tapi Caesar... dia hampir tidak merespons. Dia makan dengan fokus, sesekali melirik ke arah Raisa yang duduk diam sambil menyendok sup perlahan.

Raisa merasa sangat tidak nyaman. Dia ingin sekali pulang. Tapi dia tidak berani mengatakan apa-apa.

"Jadi, Caesar," kata Clarissa dengan senyum menggoda. "Setelah ini kita ke hotel, kan? Seperti rencana?"

Caesar diam sebentar, lalu menjawab dengan datar. "Tidak."

Clarissa membeku. "Apa?"

"Aku ada urusan mendadak. Lain kali saja."

"Tapi kau bilang udah booking hotel!"

"Lain kali," potong Caesar dengan nada final yang tidak bisa dibantah.

Clarissa menatap Caesar dengan wajah tak percaya, lalu menatap Raisa dengan tatapan penuh kebencian.

Dan Raisa... dia hanya bisa duduk diam, menyendok sup yang sudah tidak terasa enak lagi, sambil bertanya-tanya dalam hati:

Apa yang sebenarnya sedang terjadi?

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Terjebak Cinta CEO Brengsek   Bab 11: bukan pesta biasa (1)

    Tidak ada yang istimewa sampai tengah malam.Raisa terus berjalan dari satu sudut dek ke sudut lainnya, memeriksa meja, berbicara singkat dengan staf katering, memastikan minuman tetap tersedia dan musik tidak terlalu keras.Tamu datang dan pergi dalam kelompok-kelompok kecil, mengobrol dengan gelas di tangan, tertawa dengan cara orang-orang yang terbiasa berada di tempat seperti ini.Raisa mengecek daftarnya untuk kesekian kalinya. Semua tamu sudah terkonfirmasi hadir.Dia sudah meminta penjaga di pintu masuk untuk menghubunginya langsung kalau ada tamu tambahan yang datang terlambat.Sejauh ini tidak ada insiden. Tidak ada tamu yang mabuk terlalu cepat, tidak ada konflik yang harus diredakan, tidak ada makanan yang tumpah di atas gaun seseorang.Tapi ada sesuatu yang membuat Raisa sedikit mengernyit sejak tadi.Beberapa klien datang tidak dengan satu pasangan, tapi dua, bahkan tiga. Dan hampir semuanya wanita.Raisa mencatatnya secara mental tanpa memberikan komentar, karena bukan t

  • Terjebak Cinta CEO Brengsek   bab 6: sudah terbiasa

    Makan siang yang penuh ketegangan itu berakhir dengan gelas wine Clarissa yang hanya diminum setengah dan steak-nya yang hampir tidak disentuh. Dia menghabiskan sebagian besar waktu makan dengan berbicara, menyentuh lengan Caesar, tertawa terlalu keras untuk lelucon yang tidak ada, semua usaha untuk mendapatkan perhatian pria yang duduk di sampingnya. Tapi Caesar tidak merespons. Dia makan dengan tenang, sesekali melirik ponselnya, dan sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan pada wanita cantik di sampingnya. Akhirnya Caesar meletakkan garpu, mengusap mulut dengan serbet linen, dan berdiri. "Selesai. Kita pergi." Dia menatap Raisa, bukan Clarissa. Clarissa langsung berdiri juga, meraih tas tangannya. "Aku ikut. Kita bisa ke hotel sekarang, kan? Kau bilang tadi tidak bisa, tapi mungkin sekarang—" "Tidak." Caesar sudah berjalan menuju pintu ruangan, tangannya kembali menarik pergelangan tangan Raisa. "Aku akan kembali ke kantor. Kau pulang sendiri." "Caesar!" Suara Clarissa men

  • Terjebak Cinta CEO Brengsek   Bab 5: Canggung

    Raisa membeku. 'Kenapa dia kembali?'Caesar melangkah cepat menuju mejanya, matanya menatap tajam ke arah Raisa yang sekarang terlihat lebih pucat dari sebelumnya. Keringat membasahi seluruh dahinya, tangannya gemetar di atas meja, napasnya sedikit tersengal."Kau," kata Caesar dengan suara rendah yang penuh amarah. "Kau bilang kau baik-baik saja?" "Pak, saya-" "Diam."Caesar meraih tangan Raisa dan menariknya berdiri dengan satu gerakan cepat. Raisa hampir berteriak kesakitan, tapi dia menahan diri."Pak, saya benar-benar baik""Diam, aku bilang!" Caesar menyeretnya menuju elevator dengan tarikan yang tidak lembut sama sekali.Raisa tersandung, kakinya tidak bisa mengikuti langkah cepat Caesar. Perutnya yang sakit membuatnya tidak bisa bergerak dengan baik.Dan kemudian, dia jatuh.Lututnya membentur lantai keras. Raisa menggigit bibir, menahan rasa sakit yang menyebar dari lutut ke seluruh tubuhnya.Caesar berhenti. Dia menatap ke bawah, melihat Raisa yang jatuh berlutut dengan wa

  • Terjebak Cinta CEO Brengsek   Bab 4: Bukan tipenya

    Pagi itu, Raisa sudah sampai di kantor pukul 06.45. Lima belas menit lebih awal dari janji. Dia tidak ingin memberikan kesan buruk pada Caesar, meski sebenarnya tubuhnya masih terasa lelah dari semalam merawat Mia yang tiba-tiba demam tinggi setelah Raisa pulang.Dia sempat tertidur di kursi rumah sakit, bangun pukul empat pagi, pulang ke apartemen untuk mandi dan ganti baju, lalu langsung menuju kantor tanpa sempat sarapan.Raisa meletakkan tasnya di meja, menyalakan komputer, dan menatap pintu ruang CEO yang masih gelap. Caesar belum datang. Dia memutuskan untuk membuat kopi dan mempersiapkan dokumen-dokumen yang mungkin diperlukan untuk pembahasan strategi meeting dengan klien Jepang.Tepat pukul tujuh, bunyi ding elevator berbunyi. Caesar keluar dengan langkah panjang, mengenakan setelan jas biru navy yang membuatnya terlihat lebih menawan dari biasanya. Rambutnya tertata rapi, wajahnya segar seolah dia tidur nyenyak tadi malam.Tidak seperti Raisa yang tampak seperti zombie.Pagi

  • Terjebak Cinta CEO Brengsek   Bab 3: Jatuh cinta

    Rahang Clarissa mengeras. Tangannya menggenggam erat jas yang dia pakai. "Caesar, aku pikir kita akan makan malam bersama? Kau bilang—" "Aku bilang kita mungkin makan bersama kalau aku tidak ada urusan," potong Caesar tanpa melihat ke arahnya. Matanya tetap tertuju pada Raisa. "Dan sekarang aku punya urusan. Jadi, Raisa? Bagaimana?" Raisa merasakan ketegangan di udara. Clarissa terlihat seperti akan meledak—wajahnya memerah, napasnya sedikit memburu. Tapi dia menahan diri, mungkin karena tidak ingin terlihat posesif atau cemburu di depan Caesar. Pria seperti Caesar Johnson membenci wanita yang clingy. Raisa sudah melihat pola ini puluhan kali. Wanita-wanita yang mencoba mengikat Caesar, yang bersikap posesif, yang menuntut perhatian lebih, mereka semua berakhir dibuang lebih cepat dari yang lain. Dan Raisa... tidak ingin membuat masalah dengan Clarissa. Atau lebih tepatnya, dia tidak ingin menjadi bagian dari permainan rumit Caesar dengan wanita-wanitanya. "Maaf, Pak," kata Raisa

  • Terjebak Cinta CEO Brengsek   Bab 2: Sudah terbiasa

    Pukul lima sore, Raisa menekan tombol save untuk terakhir kalinya. Laporan keuangan triwulan sudah selesai, lengkap dengan analisis proyeksi dan rekomendasi strategi untuk kuartal berikutnya. Dia mencetak dokumen setebal dua puluh halaman itu, memasukkannya ke dalam folder biru dengan logo Johnson Corp, lalu berdiri dari kursinya. Langkahnya mantap menuju pintu ruang CEO. Tangannya mengangkat untuk mengetuk, tapi dia urungkan. Setelah tujuh tahun, Raisa sudah tahu kapan harus mengetuk dan kapan tidak. Suara-suara tadi sudah berhenti sejak setengah jam lalu, yang berarti mereka sudah selesai dan kemungkinan besar sedang... bersantai. Raisa memutar kenop pintu dan masuk tanpa mengetuk. Pemandangan di dalam ruangan tidak mengejutkannya lagi. Caesar Johnson duduk bersandar di sofa kulit hitam mewah di sudut ruangannya, dada telanjang memperlihatkan perut sixpack yang sempurna. Celana jasnya sudah kembali terpasang meski ikat pinggang masih tergeletak di lantai. Rambutnya acak-a

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status