Caesar berbalik, menatapnya. Dan untuk sesaat, ekspresinya berubah. Alisnya mengerut. Matanya menyipit, menatap wajah Raisa dengan intens. "Kau pucat," katanya datar. Bukan pertanyaan, tapi pernyataan. "Saya baik-baik saja, Pak." "Dahimu berkeringat. Suhu ruangan ini 18 derajat." Raisa menelan ludah. "Saya hanya sedikit lelah. Tidak apa-apa." Caesar melangkah mendekat, matanya tidak lepas dari wajah Raisa. "Kau sakit?" "Tidak, Pak. Saya baik-baik saja." Raisa mundur selangkah, tidak nyaman dengan jarak yang terlalu dekat. "Kalau tidak ada yang perlu disampaikan lagi, saya permisi." Dia berbalik dan keluar dari ruangan sebelum Caesar bisa mengatakan apa pun lagi. Raisa kembali ke mejanya, duduk dengan hati-hati karena setiap gerakan membuat perutnya semakin sakit. Dia meraih ponsel, membuka aplikasi pesan antar makanan. Dia perlu makan sesuatu sekarang juga sebelum kondisinya semakin buruk. Dia memesan bubur ayam dan teh hangat, pilihan paling aman untuk kondisi lambungnya.
Last Updated : 2026-01-28 Read more