LOGINTidak ada yang istimewa sampai tengah malam.
Raisa terus berjalan dari satu sudut dek ke sudut lainnya, memeriksa meja, berbicara singkat dengan staf katering, memastikan minuman tetap tersedia dan musik tidak terlalu keras. Tamu datang dan pergi dalam kelompok-kelompok kecil, mengobrol dengan gelas di tangan, tertawa dengan cara orang-orang yang terbiasa berada di tempat seperti ini. Raisa mengecek daftarnya untuk kesekian kalinya. Semua tamu sudah terkonfirmasi hadir. Dia sudah meminta penjaga di pintu masuk untuk menghubunginya langsung kalau ada tamu tambahan yang datang terlambat. Sejauh ini tidak ada insiden. Tidak ada tamu yang mabuk terlalu cepat, tidak ada konflik yang harus diredakan, tidak ada makanan yang tumpah di atas gaun seseorang. Tapi ada sesuatu yang membuat Raisa sedikit mengernyit sejak tadi. Beberapa klien datang tidak dengan satu pasangan, tapi dua, bahkan tiga. Dan hampir semuanya wanita. Raisa mencatatnya secara mental tanpa memberikan komentar, karena bukan tugasnya untuk menilai kehidupan pribadi siapa pun. Yang perlu dia pastikan hanya satu hal: pestanya tidak hancur. Privasi tamu adalah urusan mereka sendiri. Raisa mengabaikannya dan terus berjalan. Tapi semakin larut, ada hal lain yang mulai Raisa perhatikan. Dek utama yang tadi ramai perlahan menjadi sepi. Orang-orang mulai menghilang satu per satu, bukan pulang, tapi masuk ke dalam kabin-kabin di dek bawah. Raisa melihat beberapa pasangan, bahkan beberapa kelompok kecil, berjalan bersama menuju lift dengan cara yang tidak terburu-buru. Di meja buffet, makanan dan minuman masih tersisa tapi tidak ada yang mengambil. Raisa berdiri di tengah dek yang kini hampir kosong, menatap sekelilingnya. Laut malam itu sangat tenang. Kapal hampir tidak terasa bergerak. Di langit, bintang-bintang terlihat lebih jelas dari biasanya karena mereka sudah cukup jauh dari cahaya kota. Angin laut bertiup pelan, membawa bau garam yang segar. Semestinya ini pemandangan yang indah. Tapi Raisa terlalu sibuk dengan pikiran yang tiba-tiba lewat di benaknya, pikiran yang langsung dia tepis sebelum sempat berkembang lebih jauh. Ini bukan sekadar pesta biasa, kan? Raisa menutup mata sebentar, mengambil napas. Bukan urusanku. Bukan urusanku. Bukan urusanku. Di kursi panjang di sisi dek, seseorang duduk, seorang pria dengan tiga wanita di sekelilingnya, dan mereka sudah tidak peduli bahwa mereka berada di ruang terbuka. Raisa melihatnya dari sudut mata, dan itu sudah lebih dari cukup. Dia langsung memutar badan dan berjalan cepat ke arah lift. Wajahnya memanas bahkan sebelum pintu lift terbuka. Di dalam lift yang berdinding cermin, Raisa melihat refleksinya sendiri, pipinya merah, matanya sedikit membulat. Dia mendecak pelan ke dirinya sendiri. Sudah berapa tahun bekerja untuk Caesar Johnson dan masih saja bisa terkejut dengan hal-hal seperti ini. Tapi sebenarnya yang membuat wajahnya panas bukan hanya karena melihat pemandangan tadi. Ada pertanyaan kecil yang tidak sopan yang muncul tanpa izin di sudut pikirannya. Apakah Caesar juga di dalam salah satu kabin itu sekarang, bersama Abigail? Raisa menekan tombol lantai atas dengan lebih keras dari yang diperlukan. Bukan urusanku. Lantai atas lebih sunyi dari yang dia harapkan. Koridor panjang dengan karpet tebal berwarna navy, lampu dinding yang redup, dan pintu-pintu kabin yang semuanya tertutup rapat. Sunyi, tapi tidak benar-benar sunyi. Raisa mempercepat langkahnya, mencoba fokus pada alasan dia naik ke sini, mengecek kondisi dek observasi di ujung koridor yang seharusnya masih terbuka untuk tamu yang ingin menikmati pemandangan laut malam. Tapi tiba-tiba, perut Raisa tiba-tiba melilit. Raisa berhenti sebentar, menekan tangannya ke perut. Rasa panas yang familiar mulai menjalar dari ulu hati ke dada. Asam lambungnya kumat lagi. Dia lupa makan sejak sore tadi karena terlalu sibuk mengurus segala sesuatu sampai lupa bahwa dirinya sendiri perlu makan. Obatnya ada di dalam tas yang dia simpan di ruang staf di dek paling bawah. Jauh sekali dari sini. Raisa menghela napas, memutuskan untuk mengambilnya nanti saja, dan terus berjalan. Semakin jauh dia berjalan di koridor itu, semakin jelas suara-suara yang sebaiknya tidak dia dengar. Dari balik beberapa pintu kabin yang dilewatinya, terdengar suara yang membuat Raisa mempercepat langkah dan menatap lurus ke depan dengan tekad yang sangat kuat untuk tidak memikirkan apa pun. Dia hampir sampai di ujung koridor ketika suara itu memanggilnya dari belakang. "Apakah kamu membawanya? Katakan! Ke mana kamu akan pergi?" Raisa berhenti. Dia mengenali suara itu. "Tidak bisakah kau mendengarku? Ke mana kau pergi!" Raisa membalikkan badannya perlahan. Abigail Cross berdiri di tengah koridor, sekitar sepuluh meter di belakangnya. Tapi bukan Abigail yang Raisa lihat tadi malam di dek utama dengan gaun merah yang sempurna dan rambut yang bergelombang indah. Ini Abigail dengan rambut yang sedikit berantakan dan hanya mengenakan gaun tidur tipis berwarna krem dari koleksi hotel, panjangnya hanya sampai paha. Kakinya masih mengenakan sepatu hak tinggi, yang berbunyi keras di lantai koridor setiap kali dia melangkah. Raisa mengambil napas pelan dan menghitung sampai tiga di dalam kepala. "Nona Abigail," kata Raisa dengan suara yang dia usahakan untuk terdengar normal. Abigail melangkah mendekatinya tanpa ragu sedikit pun, seolah kondisinya saat ini adalah hal yang sangat wajar. Sepatu haknya berbunyi nyaring di koridor yang sunyi itu, bunyinya memantul ke dinding dan kembali lagi, menciptakan gema kecil yang terasa terlalu keras untuk suasana malam. Raisa berdiri diam, menunggu. Abigail berhenti tepat di depannya. Wanita itu lebih tinggi beberapa senti dari Raisa, apalagi dengan hak yang dipakainya, dan dia menggunakan ketinggian itu dengan cara yang terasa sangat disengaja. Matanya menyipit, menatap Raisa dari dekat. Ada ekspresi terkejut sekilas di wajahnya, seperti dia baru menyadari bahwa orang yang dia panggil dari jauh adalah seseorang yang dia kenali, bukan staf kapal biasa. "Apakah kamu membawan—" Abigail menghentikan kalimatnya di tengah. "Apa yang kamu lakukan di sini?!" Raisa membuka mulutnya. "Maaf, saya sedang mengecek kondisi dek observasi. Saya akan segera—" "Berhenti di situ." Suara Abigail tidak keras, tapi cukup tegas untuk membuat Raisa menghentikan langkahnya yang sudah mau berputar balik. "Siapa yang menyuruhmu pergi?" Di koridor yang sunyi itu, suaranya terdengar lebih besar dari ukuran aslinya. Raisa merasakan denyutan di perutnya, campuran antara asam lambung yang mulai naik dan sedikit ketegangan yang tidak bisa dia hindari. Dia berbalik, menghadap Abigail dengan tangan yang ditekannya pelan ke perut. "Ya, Nona Abigail." Senyumnya tipis tapi terpasang rapi. "Apakah ada yang bisa saya bantu?" Abigail melangkah lebih dekat lagi, menatapnya dengan mata yang menyipit seperti orang yang sedang mencoba memecahkan teka-teki yang tidak dia mengerti. "Apa yang kau lakukan sampai jalan-jalan ke sini malam-malam begini?"Tidak ada yang istimewa sampai tengah malam.Raisa terus berjalan dari satu sudut dek ke sudut lainnya, memeriksa meja, berbicara singkat dengan staf katering, memastikan minuman tetap tersedia dan musik tidak terlalu keras.Tamu datang dan pergi dalam kelompok-kelompok kecil, mengobrol dengan gelas di tangan, tertawa dengan cara orang-orang yang terbiasa berada di tempat seperti ini.Raisa mengecek daftarnya untuk kesekian kalinya. Semua tamu sudah terkonfirmasi hadir.Dia sudah meminta penjaga di pintu masuk untuk menghubunginya langsung kalau ada tamu tambahan yang datang terlambat.Sejauh ini tidak ada insiden. Tidak ada tamu yang mabuk terlalu cepat, tidak ada konflik yang harus diredakan, tidak ada makanan yang tumpah di atas gaun seseorang.Tapi ada sesuatu yang membuat Raisa sedikit mengernyit sejak tadi.Beberapa klien datang tidak dengan satu pasangan, tapi dua, bahkan tiga. Dan hampir semuanya wanita.Raisa mencatatnya secara mental tanpa memberikan komentar, karena bukan t
Makan siang yang penuh ketegangan itu berakhir dengan gelas wine Clarissa yang hanya diminum setengah dan steak-nya yang hampir tidak disentuh. Dia menghabiskan sebagian besar waktu makan dengan berbicara, menyentuh lengan Caesar, tertawa terlalu keras untuk lelucon yang tidak ada, semua usaha untuk mendapatkan perhatian pria yang duduk di sampingnya. Tapi Caesar tidak merespons. Dia makan dengan tenang, sesekali melirik ponselnya, dan sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan pada wanita cantik di sampingnya. Akhirnya Caesar meletakkan garpu, mengusap mulut dengan serbet linen, dan berdiri. "Selesai. Kita pergi." Dia menatap Raisa, bukan Clarissa. Clarissa langsung berdiri juga, meraih tas tangannya. "Aku ikut. Kita bisa ke hotel sekarang, kan? Kau bilang tadi tidak bisa, tapi mungkin sekarang—" "Tidak." Caesar sudah berjalan menuju pintu ruangan, tangannya kembali menarik pergelangan tangan Raisa. "Aku akan kembali ke kantor. Kau pulang sendiri." "Caesar!" Suara Clarissa men
Raisa membeku. 'Kenapa dia kembali?'Caesar melangkah cepat menuju mejanya, matanya menatap tajam ke arah Raisa yang sekarang terlihat lebih pucat dari sebelumnya. Keringat membasahi seluruh dahinya, tangannya gemetar di atas meja, napasnya sedikit tersengal."Kau," kata Caesar dengan suara rendah yang penuh amarah. "Kau bilang kau baik-baik saja?" "Pak, saya-" "Diam."Caesar meraih tangan Raisa dan menariknya berdiri dengan satu gerakan cepat. Raisa hampir berteriak kesakitan, tapi dia menahan diri."Pak, saya benar-benar baik""Diam, aku bilang!" Caesar menyeretnya menuju elevator dengan tarikan yang tidak lembut sama sekali.Raisa tersandung, kakinya tidak bisa mengikuti langkah cepat Caesar. Perutnya yang sakit membuatnya tidak bisa bergerak dengan baik.Dan kemudian, dia jatuh.Lututnya membentur lantai keras. Raisa menggigit bibir, menahan rasa sakit yang menyebar dari lutut ke seluruh tubuhnya.Caesar berhenti. Dia menatap ke bawah, melihat Raisa yang jatuh berlutut dengan wa
Pagi itu, Raisa sudah sampai di kantor pukul 06.45. Lima belas menit lebih awal dari janji. Dia tidak ingin memberikan kesan buruk pada Caesar, meski sebenarnya tubuhnya masih terasa lelah dari semalam merawat Mia yang tiba-tiba demam tinggi setelah Raisa pulang.Dia sempat tertidur di kursi rumah sakit, bangun pukul empat pagi, pulang ke apartemen untuk mandi dan ganti baju, lalu langsung menuju kantor tanpa sempat sarapan.Raisa meletakkan tasnya di meja, menyalakan komputer, dan menatap pintu ruang CEO yang masih gelap. Caesar belum datang. Dia memutuskan untuk membuat kopi dan mempersiapkan dokumen-dokumen yang mungkin diperlukan untuk pembahasan strategi meeting dengan klien Jepang.Tepat pukul tujuh, bunyi ding elevator berbunyi. Caesar keluar dengan langkah panjang, mengenakan setelan jas biru navy yang membuatnya terlihat lebih menawan dari biasanya. Rambutnya tertata rapi, wajahnya segar seolah dia tidur nyenyak tadi malam.Tidak seperti Raisa yang tampak seperti zombie.Pagi
Rahang Clarissa mengeras. Tangannya menggenggam erat jas yang dia pakai. "Caesar, aku pikir kita akan makan malam bersama? Kau bilang—" "Aku bilang kita mungkin makan bersama kalau aku tidak ada urusan," potong Caesar tanpa melihat ke arahnya. Matanya tetap tertuju pada Raisa. "Dan sekarang aku punya urusan. Jadi, Raisa? Bagaimana?" Raisa merasakan ketegangan di udara. Clarissa terlihat seperti akan meledak—wajahnya memerah, napasnya sedikit memburu. Tapi dia menahan diri, mungkin karena tidak ingin terlihat posesif atau cemburu di depan Caesar. Pria seperti Caesar Johnson membenci wanita yang clingy. Raisa sudah melihat pola ini puluhan kali. Wanita-wanita yang mencoba mengikat Caesar, yang bersikap posesif, yang menuntut perhatian lebih, mereka semua berakhir dibuang lebih cepat dari yang lain. Dan Raisa... tidak ingin membuat masalah dengan Clarissa. Atau lebih tepatnya, dia tidak ingin menjadi bagian dari permainan rumit Caesar dengan wanita-wanitanya. "Maaf, Pak," kata Raisa
Pukul lima sore, Raisa menekan tombol save untuk terakhir kalinya. Laporan keuangan triwulan sudah selesai, lengkap dengan analisis proyeksi dan rekomendasi strategi untuk kuartal berikutnya. Dia mencetak dokumen setebal dua puluh halaman itu, memasukkannya ke dalam folder biru dengan logo Johnson Corp, lalu berdiri dari kursinya. Langkahnya mantap menuju pintu ruang CEO. Tangannya mengangkat untuk mengetuk, tapi dia urungkan. Setelah tujuh tahun, Raisa sudah tahu kapan harus mengetuk dan kapan tidak. Suara-suara tadi sudah berhenti sejak setengah jam lalu, yang berarti mereka sudah selesai dan kemungkinan besar sedang... bersantai. Raisa memutar kenop pintu dan masuk tanpa mengetuk. Pemandangan di dalam ruangan tidak mengejutkannya lagi. Caesar Johnson duduk bersandar di sofa kulit hitam mewah di sudut ruangannya, dada telanjang memperlihatkan perut sixpack yang sempurna. Celana jasnya sudah kembali terpasang meski ikat pinggang masih tergeletak di lantai. Rambutnya acak-a







