INICIAR SESIÓNPagi itu, Raisa sudah sampai di kantor pukul 06.45. Lima belas menit lebih awal dari janji. Dia tidak ingin memberikan kesan buruk pada Caesar, meski sebenarnya tubuhnya masih terasa lelah dari semalam merawat Mia yang tiba-tiba demam tinggi setelah Raisa pulang.
Dia sempat tertidur di kursi rumah sakit, bangun pukul empat pagi, pulang ke apartemen untuk mandi dan ganti baju, lalu langsung menuju kantor tanpa sempat sarapan. Raisa meletakkan tasnya di meja, menyalakan komputer, dan menatap pintu ruang CEO yang masih gelap. Caesar belum datang. Dia memutuskan untuk membuat kopi dan mempersiapkan dokumen-dokumen yang mungkin diperlukan untuk pembahasan strategi meeting dengan klien Jepang. Tepat pukul tujuh, bunyi ding elevator berbunyi. Caesar keluar dengan langkah panjang, mengenakan setelan jas biru navy yang membuatnya terlihat lebih menawan dari biasanya. Rambutnya tertata rapi, wajahnya segar seolah dia tidur nyenyak tadi malam. Tidak seperti Raisa yang tampak seperti zombie. Pagi itu, Raisa sudah sampai di kantor pukul enam empat puluh lima. Lima belas menit lebih awal dari janji. Dia tidak ingin memberikan kesan buruk pada Caesar, meski sebenarnya tubuhnya masih terasa lelah dari semalam merawat Mia yang tiba-tiba demam tinggi setelah Raisa pulang. Dia sempat tertidur di kursi rumah sakit, bangun pukul empat pagi, pulang ke apartemen untuk mandi dan ganti baju, lalu langsung menuju kantor tanpa sempat sarapan. Raisa meletakkan tasnya di meja, menyalakan komputer, dan menatap pintu ruang CEO yang masih gelap. Caesar belum datang. Dia memutuskan untuk membuat kopi dan mempersiapkan dokumen-dokumen yang mungkin diperlukan untuk pembahasan strategi meeting dengan klien Jepang. Tepat pukul tujuh, bunyi ding elevator berbunyi. Caesar keluar dengan langkah panjang, mengenakan setelan jas biru navy yang membuatnya terlihat lebih menawan dari biasanya. Rambutnya tertata rapi, wajahnya segar seolah dia tidur nyenyak tadi malam. Tidak seperti Raisa yang tampak seperti zombie. "Kau sudah datang." Caesar melirik jam tangannya sekilas. "Tepat waktu." "Selamat pagi, Pak." Raisa berdiri, membawa folder berisi dokumen. "Saya sudah mempersiapkan data yang diperlukan." Caesar tidak menjawab, hanya membuka pintu ruangannya dan masuk. Raisa mengikuti dari belakang, menutup pintu dengan lembut. Satu jam berikutnya, mereka menghabiskan waktu membahas strategi presentasi untuk klien Jepang. Caesar sangat detail, mengoreksi setiap slide, setiap angka, setiap kalimat yang Raisa tulis. Tapi kritikannya selalu konstruktif, tidak pernah merendahkan. Raisa mencatat semuanya dengan seksama. "Bagus." Caesar menutup laptop. "Revisi sesuai catatan tadi, kirim ke aku sebelum jam tiga sore." "Baik, Pak." Caesar meraih ponselnya, menatap layar sebentar, lalu berkata tanpa mengangkat kepala. "Booking hotel dan restoran untuk makan siang hari ini. Jam 12.30. Tempat yang bagus, tapi tidak terlalu ramai. Pilih makanan Italian atau French." Raisa tahu ini untuk siapa. Clarissa, tentu saja. Seperti biasa. "Untuk berapa orang, Pak?" "Dua orang." "Ada saran hotel atau restoran tertentu?" "Terserah. Kau yang pilih. Kau selalu tahu tempat yang tepat." Pujian sederhana itu seharusnya membuat Raisa senang. Tapi entah kenapa, kali ini terasa pahit. "Baik, Pak. Saya akan segera mengurusnya." Raisa kembali ke mejanya dan langsung membuka laptop. Jemarinya menari di atas keyboard, mencari restoran Italian terbaik di kawasan pusat kota yang tidak terlalu ramai tapi tetap eksklusif. Dia menemukan satu tempat sempurna di La Stella Ristorante, restoran mewah dengan private dining room yang romantis. Untuk hotel, dia memilih The Grand Marquis, hotel bintang lima dengan suite presidential yang memiliki pemandangan kota spektakuler. Dia sudah hafal selera Caesar. Dia tahu persis apa yang pria itu suka. Ironis, bukan? Dia yang paling tahu selera Caesar. Dia yang paling dekat secara fisik, bekerja hanya beberapa meter dari pria itu setiap hari. Tapi secara emosional? Dia tidak lebih dari stranger. Raisa menghela napas, menyelesaikan booking, lalu mengirim konfirmasi ke email Caesar beserta detail reservasi. Matanya menatap layar komputer yang menampilkan foto suite presidential The Grand Marquis dengan tempat tidur king size berbalut seprai sutra putih. Raisa tahu persis apa yang akan terjadi di sana nanti. Caesar dan Clarissa. Seperti Caesar dengan ratusan wanita lain sebelumnya. Raisa menyadari satu hal yang menyakitkan sejak dulu: dia tidak pernah masuk dalam kriteria Caesar Johnson. Caesar hanya tidur dengan wanita kalangan atas. Sosialita, aktris, model, pengusaha muda, putri konglomerat. Wanita-wanita dengan nama besar, wajah cantik, dan dompet tebal. Wanita-wanita yang bisa berdiri sejajar dengannya di dunia yang penuh kemewahan itu. Dan Raisa? Dia hanya sekretaris. Gaji tinggi, memang. Tapi tetap saja pekerja kantoran biasa. Tidak punya nama besar. Tidak punya koneksi di kalangan elite. Tidak punya apa-apa selain dedikasi dan kerja keras. Banyak wanita di kantor yang tidak percaya bahwa Caesar tidak pernah menyentuh Raisa. Mereka berbisik-bisik di pantry, bergosip di toilet, menatapnya dengan tatapan curiga dan iri. "Tidak mungkin Caesar tidak pernah tidur dengannya. Lihat betapa cantiknya dia." "Pasti mereka punya hubungan rahasia. Bagaimana mungkin seorang sekretaris bisa bertahan tujuh tahun kalau bukan karena dia juga melayani Caesar di ranjang?" Tapi kenyataannya? Caesar tidak pernah sekalipun melirik Raisa dengan cara seperti dia melirik wanita-wanita lain. Tidak pernah sekalipun menyentuhnya dengan maksud yang tidak profesional. Tidak pernah sekalipun menganggapnya lebih dari sekadar sekretaris yang efisien. Dan itu mungkin yang paling menyakitkan. Bukan karena Caesar tidur dengan banyak wanita. Tapi karena Raisa bahkan tidak pernah dianggap sebagai pilihan. Raisa menggelengkan kepala, mengusir pikiran-pikiran menyakitkan itu. Dia meraih gelas kosong di mejanya dan berjalan ke pantry untuk membuat kopi. Tapi begitu sampai di pantry, dia baru menyadari bahwa dia belum makan apa pun sejak tadi malam. Perutnya kosong, dan sekarang dia akan menuangkan kafein ke dalamnya. Raisa ragu sebentar. Dia tahu dia punya masalah asam lambung. Dokter sudah memperingatkannya berkali-kali untuk tidak minum kopi dalam keadaan perut kosong. Tapi matanya terasa sangat berat. Tubuhnya lelah. Dia butuh sesuatu untuk bertahan sampai sore. "Hanya satu cangkir," gumam Raisa pada dirinya sendiri. "Tidak apa-apa." Dia menuangkan kopi hitam pekat ke dalam gelas, menambahkan sedikit gula, lalu meneguknya perlahan sambil berjalan kembali ke meja. Cairan hangat itu mengalir ke tenggorokan, memberikan sedikit energi yang dia butuhkan. Dua jam berlalu. Raisa fokus merevisi presentasi sesuai catatan Caesar tadi pagi. Matanya mulai terbiasa dengan layar, tangannya tidak gemetar lagi, dan otaknya mulai bekerja dengan lebih baik berkat kafein. Tapi kemudian, tepat saat jam menunjukkan pukul dua belas, sesuatu yang buruk terjadi. Perutnya melilit. Raisa berhenti mengetik. Tangannya melayang ke perut, menekannya pelan. Rasa panas mulai muncul di dada, naik ke tenggorokan. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. "Sial," bisiknya pelan. Dia mencoba mengabaikannya, kembali fokus pada pekerjaan. Tapi rasa sakitnya semakin kuat. Seperti ada yang mencakar-cakar perutnya dari dalam. Raisa melirik jam. Dua belas lewat sepuluh. Caesar akan segera pergi untuk makan siang dengan Clarissa. Dia harus memberitahu detail reservasi sebelum Caesar pergi. Dengan langkah sedikit terhuyung, Raisa berdiri dan berjalan menuju pintu ruang Caesar. Dia mengetuk pelan. "Masuk." Raisa membuka pintu. Caesar sedang berdiri di depan cermin besar di sudut ruangan, merapikan dasinya. Dia sudah berganti jas, yang tadinya biru navy sekarang menjadi hitam elegan. Wanginya menyeruak, cologne mahal yang selalu membuatnya terlihat sempurna. "Pak," kata Raisa, berusaha menjaga suaranya tetap stabil. "Reservasi sudah selesai. La Stella Ristorante, private dining room, jam dua belas tiga puluh. Hotel The Grand Marquis, suite presidential, check in jam dua siang. Semua detail sudah saya kirim ke email Bapak." Caesar berbalik, menatapnya. Dan untuk sesaat, ekspresinya berubah. Alisnya mengerut. Matanya menyipit, menatap wajah Raisa dengan intens. "Kau pucat," katanya datar. Bukan pertanyaan, tapi pernyataan. "Saya baik-baik saja, Pak." "Dahinmu berkeringat. Suhu ruangan ini 18 derajat." Raisa menelan ludah. "Saya hanya sedikit lelah. Tidak apa-apa." Caesar melangkah mendekat, matanya tidak lepas dari wajah Raisa. "Kau sakit?" "Tidak, Pak. Saya baik-baik saja." Raisa mundur selangkah, tidak nyaman dengan jarak yang terlalu dekat. "Kalau tidak ada yang perlu disampaikan lagi, saya permisi." Dia berbalik dan keluar dari ruangan sebelum Caesar bisa mengatakan apa pun lagi. Raisa kembali ke mejanya, duduk dengan hati-hati karena setiap gerakan membuat perutnya semakin sakit. Dia meraih ponsel, membuka aplikasi pesan antar makanan. Dia perlu makan sesuatu sekarang juga sebelum kondisinya semakin buruk. Dia memesan bubur ayam dan teh hangat, pilihan paling aman untuk kondisi lambungnya. Tidak lama kemudian, Caesar keluar dari ruangannya dengan langkah panjang. Dia melirik Raisa sekilas, berhenti sejenak di depan mejanya. "Pulang kalau kau tidak sehat," katanya dengan nada dingin. Bukan saran, tapi perintah. Raisa tidak mengangkat kepala, tetap fokus pada layar komputernya. "Saya baik-baik saja, Pak. Selamat makan siang." Caesar diam sebentar, seolah ingin mengatakan sesuatu. Tapi akhirnya dia hanya berbalik dan berjalan menuju elevator. Raisa menghela napas lega begitu bunyi ding elevator berbunyi dan pintu menutup. Dia menjatuhkan kepalanya ke atas meja, menutup mata, berusaha menahan rasa sakit yang semakin menjadi-jadi. Tangannya gemetar saat meraih botol air mineral di laci dan meneguknya perlahan. Tapi air dingin itu malah membuat perutnya semakin mulas. "Bertahanlah," bisik Raisa pada dirinya sendiri. "Makanan akan tiba sebentar lagi." Tapi sebelum dia bisa menutup mata lagi, bunyi ding elevator kembali terdengar. Raisa mengangkat kepala dengan malas, mengira itu mungkin kurir pengantar makanannya. Tapi yang keluar dari elevator adalah Caesar Johnson, dengan wajah yang kelihatannya sangat... marah.Tidak ada yang istimewa sampai tengah malam.Raisa terus berjalan dari satu sudut dek ke sudut lainnya, memeriksa meja, berbicara singkat dengan staf katering, memastikan minuman tetap tersedia dan musik tidak terlalu keras.Tamu datang dan pergi dalam kelompok-kelompok kecil, mengobrol dengan gelas di tangan, tertawa dengan cara orang-orang yang terbiasa berada di tempat seperti ini.Raisa mengecek daftarnya untuk kesekian kalinya. Semua tamu sudah terkonfirmasi hadir.Dia sudah meminta penjaga di pintu masuk untuk menghubunginya langsung kalau ada tamu tambahan yang datang terlambat.Sejauh ini tidak ada insiden. Tidak ada tamu yang mabuk terlalu cepat, tidak ada konflik yang harus diredakan, tidak ada makanan yang tumpah di atas gaun seseorang.Tapi ada sesuatu yang membuat Raisa sedikit mengernyit sejak tadi.Beberapa klien datang tidak dengan satu pasangan, tapi dua, bahkan tiga. Dan hampir semuanya wanita.Raisa mencatatnya secara mental tanpa memberikan komentar, karena bukan t
Makan siang yang penuh ketegangan itu berakhir dengan gelas wine Clarissa yang hanya diminum setengah dan steak-nya yang hampir tidak disentuh. Dia menghabiskan sebagian besar waktu makan dengan berbicara, menyentuh lengan Caesar, tertawa terlalu keras untuk lelucon yang tidak ada, semua usaha untuk mendapatkan perhatian pria yang duduk di sampingnya. Tapi Caesar tidak merespons. Dia makan dengan tenang, sesekali melirik ponselnya, dan sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan pada wanita cantik di sampingnya. Akhirnya Caesar meletakkan garpu, mengusap mulut dengan serbet linen, dan berdiri. "Selesai. Kita pergi." Dia menatap Raisa, bukan Clarissa. Clarissa langsung berdiri juga, meraih tas tangannya. "Aku ikut. Kita bisa ke hotel sekarang, kan? Kau bilang tadi tidak bisa, tapi mungkin sekarang—" "Tidak." Caesar sudah berjalan menuju pintu ruangan, tangannya kembali menarik pergelangan tangan Raisa. "Aku akan kembali ke kantor. Kau pulang sendiri." "Caesar!" Suara Clarissa men
Raisa membeku. 'Kenapa dia kembali?'Caesar melangkah cepat menuju mejanya, matanya menatap tajam ke arah Raisa yang sekarang terlihat lebih pucat dari sebelumnya. Keringat membasahi seluruh dahinya, tangannya gemetar di atas meja, napasnya sedikit tersengal."Kau," kata Caesar dengan suara rendah yang penuh amarah. "Kau bilang kau baik-baik saja?" "Pak, saya-" "Diam."Caesar meraih tangan Raisa dan menariknya berdiri dengan satu gerakan cepat. Raisa hampir berteriak kesakitan, tapi dia menahan diri."Pak, saya benar-benar baik""Diam, aku bilang!" Caesar menyeretnya menuju elevator dengan tarikan yang tidak lembut sama sekali.Raisa tersandung, kakinya tidak bisa mengikuti langkah cepat Caesar. Perutnya yang sakit membuatnya tidak bisa bergerak dengan baik.Dan kemudian, dia jatuh.Lututnya membentur lantai keras. Raisa menggigit bibir, menahan rasa sakit yang menyebar dari lutut ke seluruh tubuhnya.Caesar berhenti. Dia menatap ke bawah, melihat Raisa yang jatuh berlutut dengan wa
Pagi itu, Raisa sudah sampai di kantor pukul 06.45. Lima belas menit lebih awal dari janji. Dia tidak ingin memberikan kesan buruk pada Caesar, meski sebenarnya tubuhnya masih terasa lelah dari semalam merawat Mia yang tiba-tiba demam tinggi setelah Raisa pulang.Dia sempat tertidur di kursi rumah sakit, bangun pukul empat pagi, pulang ke apartemen untuk mandi dan ganti baju, lalu langsung menuju kantor tanpa sempat sarapan.Raisa meletakkan tasnya di meja, menyalakan komputer, dan menatap pintu ruang CEO yang masih gelap. Caesar belum datang. Dia memutuskan untuk membuat kopi dan mempersiapkan dokumen-dokumen yang mungkin diperlukan untuk pembahasan strategi meeting dengan klien Jepang.Tepat pukul tujuh, bunyi ding elevator berbunyi. Caesar keluar dengan langkah panjang, mengenakan setelan jas biru navy yang membuatnya terlihat lebih menawan dari biasanya. Rambutnya tertata rapi, wajahnya segar seolah dia tidur nyenyak tadi malam.Tidak seperti Raisa yang tampak seperti zombie.Pagi
Rahang Clarissa mengeras. Tangannya menggenggam erat jas yang dia pakai. "Caesar, aku pikir kita akan makan malam bersama? Kau bilang—" "Aku bilang kita mungkin makan bersama kalau aku tidak ada urusan," potong Caesar tanpa melihat ke arahnya. Matanya tetap tertuju pada Raisa. "Dan sekarang aku punya urusan. Jadi, Raisa? Bagaimana?" Raisa merasakan ketegangan di udara. Clarissa terlihat seperti akan meledak—wajahnya memerah, napasnya sedikit memburu. Tapi dia menahan diri, mungkin karena tidak ingin terlihat posesif atau cemburu di depan Caesar. Pria seperti Caesar Johnson membenci wanita yang clingy. Raisa sudah melihat pola ini puluhan kali. Wanita-wanita yang mencoba mengikat Caesar, yang bersikap posesif, yang menuntut perhatian lebih, mereka semua berakhir dibuang lebih cepat dari yang lain. Dan Raisa... tidak ingin membuat masalah dengan Clarissa. Atau lebih tepatnya, dia tidak ingin menjadi bagian dari permainan rumit Caesar dengan wanita-wanitanya. "Maaf, Pak," kata Raisa
Pukul lima sore, Raisa menekan tombol save untuk terakhir kalinya. Laporan keuangan triwulan sudah selesai, lengkap dengan analisis proyeksi dan rekomendasi strategi untuk kuartal berikutnya. Dia mencetak dokumen setebal dua puluh halaman itu, memasukkannya ke dalam folder biru dengan logo Johnson Corp, lalu berdiri dari kursinya. Langkahnya mantap menuju pintu ruang CEO. Tangannya mengangkat untuk mengetuk, tapi dia urungkan. Setelah tujuh tahun, Raisa sudah tahu kapan harus mengetuk dan kapan tidak. Suara-suara tadi sudah berhenti sejak setengah jam lalu, yang berarti mereka sudah selesai dan kemungkinan besar sedang... bersantai. Raisa memutar kenop pintu dan masuk tanpa mengetuk. Pemandangan di dalam ruangan tidak mengejutkannya lagi. Caesar Johnson duduk bersandar di sofa kulit hitam mewah di sudut ruangannya, dada telanjang memperlihatkan perut sixpack yang sempurna. Celana jasnya sudah kembali terpasang meski ikat pinggang masih tergeletak di lantai. Rambutnya acak-a







