/ Romansa / Terjebak Cinta CEO Brengsek / bab 6: sudah terbiasa

공유

bab 6: sudah terbiasa

작가: Leein
last update 게시일: 2026-02-19 12:11:12

Makan siang yang penuh ketegangan itu berakhir dengan gelas wine Clarissa yang hanya diminum setengah dan steak-nya yang hampir tidak disentuh.

Dia menghabiskan sebagian besar waktu makan dengan berbicara, menyentuh lengan Caesar, tertawa terlalu keras untuk lelucon yang tidak ada, semua usaha untuk mendapatkan perhatian pria yang duduk di sampingnya.

Tapi Caesar tidak merespons. Dia makan dengan tenang, sesekali melirik ponselnya, dan sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan pada wanita cantik di sampingnya.

Akhirnya Caesar meletakkan garpu, mengusap mulut dengan serbet linen, dan berdiri. "Selesai. Kita pergi."

Dia menatap Raisa, bukan Clarissa.

Clarissa langsung berdiri juga, meraih tas tangannya. "Aku ikut. Kita bisa ke hotel sekarang, kan? Kau bilang tadi tidak bisa, tapi mungkin sekarang—"

"Tidak." Caesar sudah berjalan menuju pintu ruangan, tangannya kembali menarik pergelangan tangan Raisa. "Aku akan kembali ke kantor. Kau pulang sendiri."

"Caesar!" Suara Clarissa meninggi. "Apa maksudmu? Kau mengajakku makan siang tapi malah lebih memperhatikan sekretarismu? Apa yang terjadi denganmu hari ini?"

Caesar berhenti melangkah. Punggungnya masih menghadap Clarissa.

"Kau akan mendapat pesan dari sekretarisku sebentar lagi," katanya datar. "Baca dengan baik."

Lalu dia berjalan keluar dari ruangan, masih menarik Raisa bersamanya.

Clarissa berdiri terpaku, menatap punggung Caesar yang menjauh dengan ekspresi antara bingung dan marah.

Raisa melirik ke belakang sekilas, melihat wajah Clarissa yang mulai memerah, sebelum akhirnya pintu private dining room tertutup di antara mereka.

Di dalam mobil, Caesar duduk dengan punggung tegak, menatap lurus ke depan.

Raisa duduk di sisinya dengan jarak yang dia usahakan sebisa mungkin, membuka tablet kecil yang selalu dia bawa, dan mulai mengetik catatan agenda untuk sore hari.

Beberapa menit berlalu dalam diam.

"Kirim pesan ke Clarissa."

Suara Caesar memecah keheningan.

"Isi pesannya, Pak?"

Raisa tidak mengangkat kepala dari tabletnya.

"Hubungan kami sudah selesai. Tidak perlu saling menghubungi lagi."

Jemari Raisa tidak berhenti mengetik.

Ini bukan pertama kalinya dia mendapat perintah seperti ini.

"Baik, Pak. Akan segera saya kirimkan."

Caesar tidak menjawab, kembali menatap keluar jendela.

Raisa menyelesaikan mengetik pesan singkat itu, membacanya ulang sekali untuk memastikan kalimatnya sopan, lalu mengirimkannya ke nomor Clarissa Lawson yang sudah tersimpan di daftarnya.

Raisa tidak pernah kaget lagi dengan perintah seperti ini. Dia sudah hafal polanya.

Caesar Johnson tidak pernah mempertahankan wanita mana pun lebih dari beberapa hari. Paling lama, jika wanita itu sangat menarik perhatiannya, mungkin seminggu.

Setelah itu, nama baru akan muncul, dan Raisa akan kembali mengirim pesan perpisahan ke nama sebelumnya.

Dan tugasnya tidak berhenti di sana.

Setelah pesan terkirim, biasanya ada satu dari tiga hal yang terjadi: wanita itu menangis dan meminta Raisa menyampaikan perasaannya ke Caesar, wanita itu marah dan mengancam macam-macam, atau wanita itu datang langsung ke kantor dan membuat keributan.

Raisa sudah menghadapi ketiga kemungkinan itu berkali-kali. Dia sudah tahu cara menangani semuanya.

"Raisa."

"Ya, Pak?"

"Pesan hotel untuk besok malam."

Jemari Raisa yang sedang mengetik sesuatu di tablet berhenti sebentar. Hanya sebentar, tidak lebih dari dua detik. Lalu kembali normal.

"Baik."

Raisa kembali mengetik, membuka aplikasi booking hotel yang sudah dia hafal di luar kepala.

Tangannya bergerak otomatis, mencari pilihan terbaik sesuai standar Caesar.

Tapi pikirannya berkelana, dia bertanya-tanya siapa wanita yang sekarang akan menjadi pasangan Caesar.

Sekarang, dia memang belum tau siapa nama wanita itu. Tapi besok atau lusa, nama itu pasti akan muncul.

Wanita baru dengan wajah cantik, latar belakang sempurna, dan kedekatan yang tidak akan bertahan lebih dari seminggu.

Raisa menyelesaikan booking, mengirimkan konfirmasi ke email Caesar, dan menutup tabletnya.

Mobil berhenti di depan gedung Johnson Corp yang menjulang tinggi.

Caesar turun lebih dulu, tidak menunggu Raisa, langsung berjalan masuk melalui pintu lobby dengan langkah panjang yang sudah familiar.

Raisa turun perlahan, menutup pintu mobil, dan mengikuti dari belakang.

Mereka naik elevator dalam diam.

Di lantai eksekutif, Caesar langsung berjalan menuju ruangannya tanpa menoleh.

Begitu pintu ruangan Caesar ditutup, Raisa duduk di kursinya, menghela napas panjang, dan membuka laptop.

Perutnya masih sedikit sakit, tapi sudah jauh lebih baik dari tadi. Sup krim jamur itu ternyata cukup membantu.

Raisa membuat catatan mental untuk menyimpan obat maag di laci mejanya mulai besok. Dia tidak mau kejadian tadi terulang lagi.

Dia baru saja membuka dokumen presentasi yang harus direvisi ketika suara langkah kaki tergesa-gesa dari ujung koridor menarik perhatiannya.

Suara hak sepatu yang mengentak-entak lantai marmer dengan cepat, seolah pemiliknya sedang sangat terburu-buru atau sangat marah.

Atau keduanya.

Raisa mendongakkan kepala.

Clarissa Lawson berjalan menuju koridor eksekutif dengan wajah merah dan mata yang menyala.

Rambutnya yang tadi tertata sempurna di restoran kini sedikit berantakan, seolah dia sudah menarik-narik rambutnya sendiri dalam perjalanan ke sini.

Di tangannya, sebuah tumbler minuman berwarna krem yang dia pegang sangat erat.

Raisa sudah bisa menduga apa yang akan terjadi selanjutnya.

Clarissa berjalan lurus menuju pintu ruang CEO, tangannya sudah terangkat untuk mendorong pintu masuk.

Tapi dua bodyguard berpostur besar yang berjaga di depan pintu bergerak menghalanginya dengan sigap.

"Minggir!" Clarissa mencoba menerobos. "Biarkan aku masuk!"

Kedua bodyguard tidak bergeming, berdiri seperti tembok hidup di depan pintu.

Raisa menghela napas pelan, berdiri dari kursinya, dan berjalan menghampiri.

"Nona Clarissa."

Clarissa memutar badannya, menatap Raisa dengan api di matanya. "Kau! Ini kerjamu, kan? Kau yang mengirim pesan itu!"

"Saya hanya menyampaikan keputusan Tuan Johnson," jawab Raisa dengan nada tenang dan profesional. "Maaf, Nona, tapi Anda tidak bisa masuk tanpa membuat janji terlebih dahulu."

"Siapa peduli dengan janji!" Suara Clarissa meninggi, menarik perhatian beberapa karyawan yang lewat.

"Siapa dia seenaknya memutuskan hubungan lewat pesan teks? Biarkan aku bertemu dengannya sekarang!"

"Saya mengerti Anda kecewa, Nona." Raisa mempertahankan nada bicaranya yang lembut tapi tegas.

"Tapi Tuan Johnson saat ini sedang tidak bisa ditemui. Dan saya harus menyampaikan dengan hormat bahwa keputusan beliau sudah final. Hubungan kalian telah berakhir, dan beliau meminta agar tidak ada komunikasi lebih lanjut."

"Keputusannya sendiri? Apa dia sendiri yang bilang?" Clarissa tertawa sinis, tapi suaranya bergetar.

"Atau kau yang memintanya memutuskanku? Apa yang kau lakukan padanya di restoran tadi? Apa yang selama ini kau lakukan di belakangku?"

Raisa tidak menjawab tuduhan itu. Tidak ada gunanya.

"Saya mohon Anda tenang, Nona. Jika Anda ingin menyampaikan sesuatu kepada Tuan Johnson, Anda bisa menghubungi saya untuk membuat janji resmi. Tapi untuk hari ini—"

"Tutup mulutmu!"

Clarissa mengangkat tumbler di tangannya.

Raisa tidak sempat bereaksi.

Cairan dingin yang ternyata adalah kopi susu dengan es batu menyiram seluruh tubuh bagian atasnya, membasahi blazer abu-abu, kemeja putih di dalamnya, rambutnya, bahkan wajahnya.

Cairan cokelat meleleh di pipinya, menetes ke lantai marmer yang bersih.

Keheningan sempurna menguasai koridor selama dua detik.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Terjebak Cinta CEO Brengsek   Bab 41: malam yang panjang

    Raisa tertegun mendengar ucapan Caesar yang terakhir.'Seharusnya kulakukan ini dari dulu.'Kata-kata itu terus bergema di kepalanya, tidak mau pergi.Dia tidak menyangka. Benar-benar tidak menyangka.Pria yang dulu selalu berkata dengan nada meremehkan bahwa dia tidak akan pernah menyentuh wanita biasa seperti Raisa, pria yang selalu membawa model, aktris, dan putri konglomerat ke ranjangnya, pria yang selalu terlihat bosan dengan semua wanita setelah seminggu...Kini merasa puas setelah melakukan ini dengannya.Orang yang tidak punya pengalaman apa pun dalam hal ini. Orang yang bahkan tidak tahu apa yang harus dilakukan sampai dipaksa.Raisa masih berlutut di lantai, kepalanya tertunduk, napasnya masih belum sepenuhnya teratur.Di hadapannya, Caesar berdiri dan memasukkan kembali miliknya ke dalam celana dengan gerakan yang sangat santai, seolah apa yang baru saja terjadi adalah hal yang sangat biasa.Lalu tanpa mengatakan apa pun lagi, tanpa menatap Raisa sekali pun, dia berbalik d

  • Terjebak Cinta CEO Brengsek   Bab 40: kebenaran yang mengejutkan

    Raisa menatap langit-langit kamarnya sebentar, menimbang-nimbang apakah dia harus bangun atau tidak.Tapi ketukan itu datang lagi, kali ini lebih keras.Tok. Tok. Tok.Raisa menghela napas panjang, mengangkat selimut dari tubuhnya dengan gerakan yang sedikit kesal, lalu turun dari tempat tidur.Kakinya menyentuh lantai kayu yang sejuk. Dia berjalan ke pintu dengan langkah yang lambat karena tubuhnya masih terasa sedikit pegal.Tangannya meraih kenop pintu, memutarnya, lalu menarik pintu terbuka.Dan langsung membeku total.Caesar berdiri di ambang pintu dengan jubah tidur sutra hitam yang sama sekali tidak diikat, hanya tergerai terbuka memperlihatkan dada bidang dan perut sixpack yang terpahat sempurna. V-line yang menawan terlihat jelas menghilang di balik celana piyama hitam longgar yang memeluk pinggulnya dengan sempurna.Raisa langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain, menatap langit-langit koridor seolah itu adalah hal paling menarik yang pernah dia lihat."Apa yang kau la

  • Terjebak Cinta CEO Brengsek   Bab 39: tamu yang tak diundang

    Ketika matahari benar-benar tenggelam di balik cakrawala, Raisa duduk sendirian di meja makan panjang yang luas itu.Pemandangan yang agak ironis, sebenarnya.Satu orang di meja yang bisa menampung dua puluh orang, dengan hidangan makan malam yang disiapkan dengan sangat rapi oleh dapur mansion.Sebelumnya Handry sudah menyampaikan bahwa Caesar tidak akan bisa ikut makan malam dirumah karena masih ada urusan lain.Raisa tidak bertanya lebih jauh. Justru dia merasa lebih lega bisa makan tanpa kehadiran Caesar.Dia menyendok sup perlahan, merasakan hangatnya mengalir ke tenggorokan. Entah karena dia memang lapar atau karena masakannya benar-benar enak, kali ini dia makan dengan porsi yang lebih banyak dibanding siang tadi.Setelah selesai, Raisa melipat serbet di pangkuannya dengan rapi dan meletakkannya di atas meja.Dia duduk sebentar, menatap taman yang kini hanya bisa terlihat sebagai siluet gelap di balik jendela besar yang diterangi lampu taman berwarna kuning hangat.Lalu dia ter

  • Terjebak Cinta CEO Brengsek   Bab 38: Menginap

    Mereka melewati foyer yang luas dengan langit-langit tinggi dan lampu kristal besar yang berkilau, menaiki tangga marmer putih dengan pegangan besi tempa yang elegan, lalu berjalan menyusuri koridor panjang dengan dinding berwarna krem lembut yang dihiasi lukisan-lukisan mahal.Akhirnya, Hendry berhenti di depan sebuah pintu kayu besar dengan ornamen ukiran bunga yang indah.Dia membuka pintu dengan gerakan yang sangat hati-hati, lalu melangkah ke samping dan mempersilakan Raisa masuk."Ini kamar Anda, Nona."Raisa melangkah masuk.Dan langsung terpesona.Ruangan itu sangat luas, mungkin dua kali lipat ukuran kamarnya di apartemen. Dindingnya berwarna putih gading dengan aksen emas yang menghiasi sudut-sudut dan list di langit-langit. Tempat tidur king size dengan seprai putih lembut dan tumpukan bantal besar berdiri megah di tengah ruangan, dengan kanopi putih tipis yang tergantung dengan anggun.Di sudut ruangan ada sofa kecil berwarna krem dengan meja kopi bulat, sempurna untuk be

  • Terjebak Cinta CEO Brengsek   Bab 37: diagnosa

    Raisa dan Caesar sama-sama terkejut mendengar perkataan Dr. Amanda.Raisa langsung menegakkan tubuhnya meski gerakan itu membuat tubuh bagian bawahnya terasa sakit. "Apakah... apakah berbahaya?"Suaranya keluar dengan gemetar, wajahnya semakin pucat.Dr. Amanda tersenyum dengan lembut, berusaha menenangkan. "Tidak berbahaya selama tidak berkembang menjadi kista. Tapi hal ini akan berpengaruh pada kesuburan Anda. Anda akan kesulitan saat ingin mendapatkan momongan."Raisa menundukkan kepalanya dengan sedih.Tangannya yang tadinya mencengkeram jas Caesar kini melemas di pangkuannya, jemarinya gemetar.Raisa tidak pernah berpikir terlalu jauh tentang masa depan seperti itu. Tapi mendengar dokter mengatakan dia mungkin tidak bisa punya anak dengan mudah, ada sesuatu yang terasa patah di dadanya.Caesar melirik ke arah Raisa dari sudut matanya, melihat ekspresi sedih yang terpampang jelas di wajah wanita itu.Dia mengerutkan keningnya, lalu berbalik menatap Dr. Amanda dengan tatapan yang s

  • Terjebak Cinta CEO Brengsek   Bab 36: kenyataan yang menyakitkan

    Di dalam mobil, Raisa hanya duduk diam dengan kepala tertunduk.Tangannya terlipat erat di pangkuan, jemarinya meremas-remas ujung jas Caesar yang dia pakai untuk menutupi tubuhnya yang hanya mengenakan jubah handuk di bawahnya. Rambutnya yang masih sedikit lembap jatuh menutupi wajahnya, menyembunyikan ekspresi kosong yang terpampang di sana.Awalnya, saat Caesar mengatakan mereka akan ke rumah sakit, ada secercah harapan kecil yang muncul di dadanya. Harapan bodoh yang berbisik bahwa mungkin, hanya mungkin, Caesar khawatir tentang kondisi tubuhnya yang jelas-jelas tidak baik-baik saja.Tapi kenyataan datang menghantam dengan keras."Aku harus memastikan kau tidak hamil karena kejadian ini."Bukan karena khawatir pada Raisa.Bukan karena peduli dengan rasa sakit yang dia rasakan.Hanya karena takut ada konsekuensi yang tidak diinginkan untuk dirinya sendiri.Raisa tersenyum pahit, masih dengan kepala tertunduk.Seharusnya dia sudah terbiasa dengan hal ini. Seharusnya dia sudah tahu

  • Terjebak Cinta CEO Brengsek   Bab 9: tidak setara

    Caesar meletakkan ponselnya di meja, menatap Raisa yang sedang berdiri di hadapannya dengan agenda mingguan di tangan, "Jadwalkan pesta tahunan. Dua minggu lagi." Raisa membuka halaman baru di agendanya, "Kapal pesiar seperti tahun lalu, Pak?" "Ya." "Jumlah tamu?" "Lima puluh undangan. Sisanya

  • Terjebak Cinta CEO Brengsek   Bab 7: peduli

    Keheningan sempurna menguasai koridor selama dua detik. Lalu kedua bodyguard bergerak serentak. Salah satunya dengan cepat memegang kedua lengan Clarissa dari belakang, sementara yang lain mengambil alih tumbler kosong dari tangannya. "Lepaskan aku!" Clarissa memberontak, tapi pegangan bodyguard t

  • Terjebak Cinta CEO Brengsek   Bab 5: Canggung

    Caesar berbalik, menatapnya. Dan untuk sesaat, ekspresinya berubah. Alisnya mengerut. Matanya menyipit, menatap wajah Raisa dengan intens. "Kau pucat," katanya datar. Bukan pertanyaan, tapi pernyataan. "Saya baik-baik saja, Pak." "Dahimu berkeringat. Suhu ruangan ini 18 derajat." Raisa menelan

  • Terjebak Cinta CEO Brengsek   Bab 4: Bukan tipenya

    Pagi itu, Raisa sudah sampai di kantor pukul 06.45. Lima belas menit lebih awal dari janji. Dia tidak ingin memberikan kesan buruk pada Caesar, meski sebenarnya tubuhnya masih terasa lelah setelah merawat Mia semalaman yang tiba-tiba demam tinggi. Untungnya, Raisa sempat tertidur di kursi rumah sa

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status