เข้าสู่ระบบFLASHBACK END
"Aahhh... Caesar... pelan-pelan..." Suara desahan melengking menembus pintu kayu tebal ruang CEO. Raisa berhenti mengetik. Jemarinya membeku di atas keyboard. Matanya menatap kosong ke arah pintu tertutup itu. Tujuh tahun. Tujuh tahun dia bekerja di sini. Tujuh tahun menyaksikan adegan yang sama berulang kali. Caesar sering membawa wanita berbeda ke ruangannya, kadang di tengah jam kerja, kadang setelah meeting penting, atau bahkan kadang bahkan sebelum jam istirahat. Dan setiap kali, Raisa harus duduk di sini, mendengar suara-suara itu, sambil terus mengetik laporan seolah tidak terjadi apa-apa. "Ohh... lebih cepat... yaa seperti itu..." Raisa menghela napas panjang, memakai headphone, dan menyalakan musik klasik dengan volume maksimal. Musik Beethoven mengalir, menenggelamkan suara-suara dari ruangan sebelah. Tangannya kembali menari di atas keyboard. Wajahnya tenang, profesional, tidak menunjukkan emosi apa pun. Tapi di dalam dadanya, ada sesuatu yang terus retak perlahan, menyakitkan, dan tanpa henti. Karena Raisa Valentine punya satu rahasia yang tidak boleh siapa pun tahu, terutama Caesar Johnson: Dia mencintai bosnya. Sudah sejak tujuh tahun lalu. Sejak hari itu, saat pria itu membelanya di hadapan orang-orang yang meragukan. Sejak hari itu, saat Caesar memberinya harapan di saat hidupnya paling gelap. Dan cinta itu tidak pernah pudar, bahkan setelah dia menyaksikan Caesar dengan ratusan wanita berbeda. Bahkan setelah dia tahu Caesar tidak akan pernah melihatnya sebagai apa pun selain sekretaris yang efisien. Raisa menatap layar komputer dengan mata yang perlahan berkaca-kaca. "Dasar bodoh," bisiknya pada dirinya sendiri. "Kau ini memang bodoh, Raisa." Tapi meski begitu, dia tidak bisa pergi. Tidak bisa meninggalkan pria yang sudah menyelamatkan hidupnya, meski pria itu tidak pernah tahu betapa dalam cinta yang Raisa pendam selama tujuh tahun ini. Dan suatu hari nanti, kesetiaan bodoh itu akan membuatnya membayar harga yang terlalu mahal. Tapi hari itu belum tiba. Hari ini, Raisa Valentine masih setia. Masih mencintai dalam diam. Masih mengetik laporan sambil mendengar bosnya bercinta dengan wanita lain. Seperti biasa. Seperti tujuh tahun terakhir. Atau sampai hatinya benar-benar hancur berkeping-keping. - Pukul lima sore, Raisa menekan tombol save untuk terakhir kalinya. Laporan keuangan triwulan sudah selesai, lengkap dengan analisis proyeksi dan rekomendasi strategi untuk kuartal berikutnya. Dia mencetak dokumen setebal dua puluh halaman itu, memasukkannya ke dalam folder biru dengan logo Johnson Corp, lalu berdiri dari kursinya. Langkahnya mantap menuju pintu ruang CEO. Tangannya mengangkat untuk mengetuk, tapi dia urungkan. Setelah tujuh tahun, Raisa sudah tahu kapan harus mengetuk dan kapan tidak. Suara-suara tadi sudah berhenti sejak setengah jam lalu, yang berarti mereka sudah selesai dan kemungkinan besar sedang... bersantai. Raisa memutar kenop pintu dan masuk tanpa mengetuk. Pemandangan di dalam ruangan tidak mengejutkannya lagi. Caesar Johnson duduk bersandar di sofa kulit hitam mewah di sudut ruangannya, dada telanjang memperlihatkan perut sixpack yang sempurna. Celana jasnya sudah kembali terpasang meski ikat pinggang masih tergeletak di lantai. Rambutnya acak-acakan, ada bekas lipstik merah di lehernya. Di sampingnya, seorang wanita berambut pirang panjang, Clarissa Lawson, yang hanya mengenakan jas hitam Caesar sebagai penutup tubuhnya yang telanjang. Jas itu terlalu besar untuknya, tapi entah kenapa malah membuatnya terlihat lebih... menggoda. Kakinya yang jenjang terlipat anggun di atas sofa, rambutnya yang berantakan justru membuatnya terlihat seperti model majalah fashion. Clarissa Lawson. Putri kedua Richard Lawson, CEO Lawson Industries, salah satu partner bisnis Johnson Corp di bidang teknologi dan manufaktur. Usianya dua tahun lebih muda dari Caesar, dan dia adalah salah satu wanita paling cantik yang pernah dibawa Caesar ke kantornya. Sayangnya, itu tidak membuat Clarissa istimewa. Caesar sudah membawa puluhan, mungkin ratusan, wanita cantik lainnya. Clarissa hanya satu dari sekian banyak. "Permisi, Pak." Raisa masuk dengan langkah tenang, seolah dia tidak melihat apa-apa yang aneh. "Laporan keuangan triwulan sudah selesai. Mohon ditinjau dan ditandatangani." Dia meletakkan folder biru itu di atas meja kopi di depan Caesar, tidak mengalihkan pandangan sedikitpun ke arah tubuh telanjang dada bosnya atau wanita yang memeluk lengannya dengan posesif. Caesar meraih folder itu dengan santai. "Cepat sekali. Biasanya kau butuh sampai malam." "Saya mengerjakan sebagian kemarin malam, Pak. Jadi hari ini tinggal finalisasi." Caesar membuka folder, matanya menyapu dokumen dengan cepat. Jemarinya membalik halaman demi halaman, cepat tapi teliti. Raisa tahu Caesar membaca setiap angka, setiap analisis, meski gerakannya terlihat santai. Clarissa menatap Raisa dengan tatapan menilai. Ada sesuatu di matanya, campuran antara iri dan meremehkan. Memang, penampilan Raisa bisa dikatakan sangat cantik, tipe kecantikan natural yang membuat wanita seperti Clarissa merasa terancam. Kulitnya putih bersih tanpa cacat, rambut panjang kecokelatan yang berkilau sehat meski hanya diikat sederhana, mata besar dengan bulu mata tebal alami, dan tubuh semampai yang proporsional bahkan dalam balutan blazer kantor sederhana. Wajahnya manis dengan sentuhan dewasa, rahang lembut, hidung mancung, bibir merah alami berbentuk hati yang jarang dipoles lipstik. Kecantikan Raisa tidak dibuat-buat, tidak membutuhkan makeup tebal atau gaun mahal untuk terlihat menawan, dan justru kesederhanaan itu yang membuatnya menonjol di antara wanita-wanita glamor yang biasa dibawa Caesar. Seolah Raisa adalah permata yang belum diasah, cantik tanpa berusaha, dan tanpa sadar menjadi ancaman terbesar bagi siapa pun yang mencoba mendekati Caesar Johnson. "Dia sekretarismu?" Tanya Clarissa pada Caesar. Caesar hanya bergumam sebagai jawaban. Clarissa menyipitkan matanya, "sangat cantik, apa kau sudah tidur dengannya?" Gerakan Caesar terhenti saat akan membalik halaman, begitupun dengan Raisa yang akhirnya menatap Clarissa. "Jangan bicara omong kosong, aku tidak sembarangan memilih orang," ucap Davin dengan santai. Raisa diam-diam mengepalkan tangannya, menahan rasa sakit yang datang dari hatinya. Clarissa menyipitkan mata, tapi sebelum dia bisa mengatakan hal lain, Caesar sudah menutup folder dengan bunyi thud pelan. "Bagus." Dia meraih pena dari meja, membubuhkan tanda tangan di halaman terakhir dengan gerakan cepat dan tegas. "Analisismu tajam seperti biasa. Proyeksi untuk ekspansi pasar Asia juga realistis. Kirim ini ke divisi keuangan besok pagi." "Baik, Pak." Raisa meraih kembali folder itu. "Raisa." Suara Caesar memanggilnya saat dia sudah hampir sampai di pintu. Raisa berbalik. "Ya, Pak?" Caesar berdiri dari sofa, meraih sabuknya yang tergeletak di sandaran kursi dan memakainya dengan gerakan santai. "Kau sudah makan malam?" "Belum, Pak. Tapi saya—" "Aku juga belum. Temani aku makan malam. Aku mau membahas strategi meeting dengan klien Jepang minggu depan. Lebih baik sambil makan daripada lembur di kantor." Itu alasan yang masuk akal. Meeting dengan klien Jepang memang penting, kontrak senilai dua ratus juta dollar untuk ekspor teknologi. Tapi... Raisa melirik sekilas ke arah Clarissa. Wanita itu duduk kaku di sofa, wajahnya berubah dingin. Matanya menatap tajam ke arah Raisa, tatapan yang jelas mengatakan: jangan berani-beraninya kau terima ajakan itu.Raisa tertegun mendengar ucapan Caesar yang terakhir.'Seharusnya kulakukan ini dari dulu.'Kata-kata itu terus bergema di kepalanya, tidak mau pergi.Dia tidak menyangka. Benar-benar tidak menyangka.Pria yang dulu selalu berkata dengan nada meremehkan bahwa dia tidak akan pernah menyentuh wanita biasa seperti Raisa, pria yang selalu membawa model, aktris, dan putri konglomerat ke ranjangnya, pria yang selalu terlihat bosan dengan semua wanita setelah seminggu...Kini merasa puas setelah melakukan ini dengannya.Orang yang tidak punya pengalaman apa pun dalam hal ini. Orang yang bahkan tidak tahu apa yang harus dilakukan sampai dipaksa.Raisa masih berlutut di lantai, kepalanya tertunduk, napasnya masih belum sepenuhnya teratur.Di hadapannya, Caesar berdiri dan memasukkan kembali miliknya ke dalam celana dengan gerakan yang sangat santai, seolah apa yang baru saja terjadi adalah hal yang sangat biasa.Lalu tanpa mengatakan apa pun lagi, tanpa menatap Raisa sekali pun, dia berbalik d
Raisa menatap langit-langit kamarnya sebentar, menimbang-nimbang apakah dia harus bangun atau tidak.Tapi ketukan itu datang lagi, kali ini lebih keras.Tok. Tok. Tok.Raisa menghela napas panjang, mengangkat selimut dari tubuhnya dengan gerakan yang sedikit kesal, lalu turun dari tempat tidur.Kakinya menyentuh lantai kayu yang sejuk. Dia berjalan ke pintu dengan langkah yang lambat karena tubuhnya masih terasa sedikit pegal.Tangannya meraih kenop pintu, memutarnya, lalu menarik pintu terbuka.Dan langsung membeku total.Caesar berdiri di ambang pintu dengan jubah tidur sutra hitam yang sama sekali tidak diikat, hanya tergerai terbuka memperlihatkan dada bidang dan perut sixpack yang terpahat sempurna. V-line yang menawan terlihat jelas menghilang di balik celana piyama hitam longgar yang memeluk pinggulnya dengan sempurna.Raisa langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain, menatap langit-langit koridor seolah itu adalah hal paling menarik yang pernah dia lihat."Apa yang kau la
Ketika matahari benar-benar tenggelam di balik cakrawala, Raisa duduk sendirian di meja makan panjang yang luas itu.Pemandangan yang agak ironis, sebenarnya.Satu orang di meja yang bisa menampung dua puluh orang, dengan hidangan makan malam yang disiapkan dengan sangat rapi oleh dapur mansion.Sebelumnya Handry sudah menyampaikan bahwa Caesar tidak akan bisa ikut makan malam dirumah karena masih ada urusan lain.Raisa tidak bertanya lebih jauh. Justru dia merasa lebih lega bisa makan tanpa kehadiran Caesar.Dia menyendok sup perlahan, merasakan hangatnya mengalir ke tenggorokan. Entah karena dia memang lapar atau karena masakannya benar-benar enak, kali ini dia makan dengan porsi yang lebih banyak dibanding siang tadi.Setelah selesai, Raisa melipat serbet di pangkuannya dengan rapi dan meletakkannya di atas meja.Dia duduk sebentar, menatap taman yang kini hanya bisa terlihat sebagai siluet gelap di balik jendela besar yang diterangi lampu taman berwarna kuning hangat.Lalu dia ter
Mereka melewati foyer yang luas dengan langit-langit tinggi dan lampu kristal besar yang berkilau, menaiki tangga marmer putih dengan pegangan besi tempa yang elegan, lalu berjalan menyusuri koridor panjang dengan dinding berwarna krem lembut yang dihiasi lukisan-lukisan mahal.Akhirnya, Hendry berhenti di depan sebuah pintu kayu besar dengan ornamen ukiran bunga yang indah.Dia membuka pintu dengan gerakan yang sangat hati-hati, lalu melangkah ke samping dan mempersilakan Raisa masuk."Ini kamar Anda, Nona."Raisa melangkah masuk.Dan langsung terpesona.Ruangan itu sangat luas, mungkin dua kali lipat ukuran kamarnya di apartemen. Dindingnya berwarna putih gading dengan aksen emas yang menghiasi sudut-sudut dan list di langit-langit. Tempat tidur king size dengan seprai putih lembut dan tumpukan bantal besar berdiri megah di tengah ruangan, dengan kanopi putih tipis yang tergantung dengan anggun.Di sudut ruangan ada sofa kecil berwarna krem dengan meja kopi bulat, sempurna untuk be
Raisa dan Caesar sama-sama terkejut mendengar perkataan Dr. Amanda.Raisa langsung menegakkan tubuhnya meski gerakan itu membuat tubuh bagian bawahnya terasa sakit. "Apakah... apakah berbahaya?"Suaranya keluar dengan gemetar, wajahnya semakin pucat.Dr. Amanda tersenyum dengan lembut, berusaha menenangkan. "Tidak berbahaya selama tidak berkembang menjadi kista. Tapi hal ini akan berpengaruh pada kesuburan Anda. Anda akan kesulitan saat ingin mendapatkan momongan."Raisa menundukkan kepalanya dengan sedih.Tangannya yang tadinya mencengkeram jas Caesar kini melemas di pangkuannya, jemarinya gemetar.Raisa tidak pernah berpikir terlalu jauh tentang masa depan seperti itu. Tapi mendengar dokter mengatakan dia mungkin tidak bisa punya anak dengan mudah, ada sesuatu yang terasa patah di dadanya.Caesar melirik ke arah Raisa dari sudut matanya, melihat ekspresi sedih yang terpampang jelas di wajah wanita itu.Dia mengerutkan keningnya, lalu berbalik menatap Dr. Amanda dengan tatapan yang s
Di dalam mobil, Raisa hanya duduk diam dengan kepala tertunduk.Tangannya terlipat erat di pangkuan, jemarinya meremas-remas ujung jas Caesar yang dia pakai untuk menutupi tubuhnya yang hanya mengenakan jubah handuk di bawahnya. Rambutnya yang masih sedikit lembap jatuh menutupi wajahnya, menyembunyikan ekspresi kosong yang terpampang di sana.Awalnya, saat Caesar mengatakan mereka akan ke rumah sakit, ada secercah harapan kecil yang muncul di dadanya. Harapan bodoh yang berbisik bahwa mungkin, hanya mungkin, Caesar khawatir tentang kondisi tubuhnya yang jelas-jelas tidak baik-baik saja.Tapi kenyataan datang menghantam dengan keras."Aku harus memastikan kau tidak hamil karena kejadian ini."Bukan karena khawatir pada Raisa.Bukan karena peduli dengan rasa sakit yang dia rasakan.Hanya karena takut ada konsekuensi yang tidak diinginkan untuk dirinya sendiri.Raisa tersenyum pahit, masih dengan kepala tertunduk.Seharusnya dia sudah terbiasa dengan hal ini. Seharusnya dia sudah tahu
Keheningan sempurna menguasai koridor selama dua detik. Lalu kedua bodyguard bergerak serentak. Salah satunya dengan cepat memegang kedua lengan Clarissa dari belakang, sementara yang lain mengambil alih tumbler kosong dari tangannya. "Lepaskan aku!" Clarissa memberontak, tapi pegangan bodyguard t
Makan siang yang penuh ketegangan itu berakhir dengan gelas wine Clarissa yang hanya diminum setengah dan steak-nya yang hampir tidak disentuh. Dia menghabiskan sebagian besar waktu makan dengan berbicara, menyentuh lengan Caesar, tertawa terlalu keras untuk lelucon yang tidak ada, semua usaha unt
Caesar berbalik, menatapnya. Dan untuk sesaat, ekspresinya berubah. Alisnya mengerut. Matanya menyipit, menatap wajah Raisa dengan intens. "Kau pucat," katanya datar. Bukan pertanyaan, tapi pernyataan. "Saya baik-baik saja, Pak." "Dahimu berkeringat. Suhu ruangan ini 18 derajat." Raisa menelan
Pagi itu, Raisa sudah sampai di kantor pukul 06.45. Lima belas menit lebih awal dari janji. Dia tidak ingin memberikan kesan buruk pada Caesar, meski sebenarnya tubuhnya masih terasa lelah setelah merawat Mia semalaman yang tiba-tiba demam tinggi. Untungnya, Raisa sempat tertidur di kursi rumah sa







