INICIAR SESIÓNPukul lima sore, Raisa menekan tombol save untuk terakhir kalinya. Laporan keuangan triwulan sudah selesai, lengkap dengan analisis proyeksi dan rekomendasi strategi untuk kuartal berikutnya. Dia mencetak dokumen setebal dua puluh halaman itu, memasukkannya ke dalam folder biru dengan logo Johnson Corp, lalu berdiri dari kursinya.
Langkahnya mantap menuju pintu ruang CEO. Tangannya mengangkat untuk mengetuk, tapi dia urungkan. Setelah tujuh tahun, Raisa sudah tahu kapan harus mengetuk dan kapan tidak. Suara-suara tadi sudah berhenti sejak setengah jam lalu, yang berarti mereka sudah selesai dan kemungkinan besar sedang... bersantai. Raisa memutar kenop pintu dan masuk tanpa mengetuk. Pemandangan di dalam ruangan tidak mengejutkannya lagi. Caesar Johnson duduk bersandar di sofa kulit hitam mewah di sudut ruangannya, dada telanjang memperlihatkan perut sixpack yang sempurna. Celana jasnya sudah kembali terpasang meski ikat pinggang masih tergeletak di lantai. Rambutnya acak-acakan, ada bekas lipstik merah di lehernya. Di sampingnya, seorang wanita berambut pirang panjang, Clarissa Lawson, yang hanya mengenakan jas hitam Caesar sebagai penutup tubuhnya yang telanjang. Jas itu terlalu besar untuknya, tapi entah kenapa malah membuatnya terlihat lebih... menggoda. Kakinya yang jenjang terlipat anggun di atas sofa, rambutnya yang berantakan justru membuatnya terlihat seperti model majalah fashion. Clarissa Lawson. Putri kedua Richard Lawson, CEO Lawson Industries, salah satu partner bisnis Johnson Corp di bidang teknologi dan manufaktur. Usianya dua tahun lebih muda dari Caesar, dan dia adalah salah satu wanita paling cantik yang pernah dibawa Caesar ke kantornya. Sayangnya, itu tidak membuat Clarissa istimewa. Caesar sudah membawa puluhan, mungkin ratusan, wanita cantik lainnya. Clarissa hanya satu dari sekian banyak. "Permisi, Pak." Raisa masuk dengan langkah tenang, seolah dia tidak melihat apa-apa yang aneh. "Laporan keuangan triwulan sudah selesai. Mohon ditinjau dan ditandatangani." Dia meletakkan folder biru itu di atas meja kopi di depan Caesar, tidak mengalihkan pandangan sedikitpun ke arah tubuh telanjang dada bosnya atau wanita yang memeluk lengannya dengan posesif. Caesar meraih folder itu dengan santai. "Cepat sekali. Biasanya kau butuh sampai malam." "Saya mengerjakan sebagian kemarin malam, Pak. Jadi hari ini tinggal finalisasi." Caesar membuka folder, matanya menyapu dokumen dengan cepat. Jemarinya membalik halaman demi halaman, cepat tapi teliti. Raisa tahu Caesar membaca setiap angka, setiap analisis, meski gerakannya terlihat santai. Clarissa menatap Raisa dengan tatapan menilai. Ada sesuatu di matanya, campuran antara iri dan meremehkan. Memang, penampilan Raisa bisa dikatakan sangat cantik, tipe kecantikan natural yang membuat wanita seperti Clarissa merasa terancam. Kulitnya putih bersih tanpa cacat, rambut panjang kecokelatan yang berkilau sehat meski hanya diikat sederhana, mata besar dengan bulu mata tebal alami, dan tubuh semampai yang proporsional bahkan dalam balutan blazer kantor sederhana. Wajahnya manis dengan sentuhan dewasa, rahang lembut, hidung mancung, bibir merah alami berbentuk hati yang jarang dipoles lipstik. Kecantikan Raisa tidak dibuat-buat, tidak membutuhkan makeup tebal atau gaun mahal untuk terlihat menawan, dan justru kesederhanaan itu yang membuatnya menonjol di antara wanita-wanita glamor yang biasa dibawa Caesar—seolah dia adalah permata yang belum diasah, cantik tanpa berusaha, dan tanpa sadar menjadi ancaman terbesar bagi siapa pun yang mencoba mendekati Caesar Johnson. "Dia sekretarismu?" Tanya Clarissa pada Caesar. Caesar hanya bergumam sebagai jawaban. Clarissa menyipitkan matanya, "sangat cantik, apa kau sudah tidur dengannya?" Gerakan Caesar terhenti saat akan membalik halaman, begitupun dengan Raisa yang akhirnya menatap Clarissa. "Jangan bicara omong kosong, aku tidak sembarangan memilih orang," ucap Davin dengan santai. Raisa diam-diam mengepalkan tangannya, menahan rasa sakit yang datang dari hatinya. Clarissa menyipitkan mata, tapi sebelum dia bisa mengatakan hal lain, Caesar sudah menutup folder dengan bunyi thud pelan. "Bagus." Dia meraih pena dari meja, membubuhkan tanda tangan di halaman terakhir dengan gerakan cepat dan tegas. "Analisismu tajam seperti biasa. Proyeksi untuk ekspansi pasar Asia juga realistis. Kirim ini ke divisi keuangan besok pagi." "Baik, Pak." Raisa meraih kembali folder itu. "Raisa." Suara Caesar memanggilnya saat dia sudah hampir sampai di pintu. Raisa berbalik. "Ya, Pak?" Caesar berdiri dari sofa, meraih sabuknya yang tergeletak di sandaran kursi dan memakainya dengan gerakan santai. "Kau sudah makan malam?" "Belum, Pak. Tapi saya—" "Aku juga belum. Temani aku makan malam. Aku mau membahas strategi meeting dengan klien Jepang minggu depan. Lebih baik sambil makan daripada lembur di kantor." Itu alasan yang masuk akal. Meeting dengan klien Jepang memang penting, kontrak senilai dua ratus juta dollar untuk ekspor teknologi. Tapi... Raisa melirik sekilas ke arah Clarissa. Wanita itu duduk kaku di sofa, wajahnya berubah dingin. Matanya menatap tajam ke arah Raisa, tatapan yang jelas mengatakan: jangan berani-beraninya kau terima ajakan itu.Tidak ada yang istimewa sampai tengah malam.Raisa terus berjalan dari satu sudut dek ke sudut lainnya, memeriksa meja, berbicara singkat dengan staf katering, memastikan minuman tetap tersedia dan musik tidak terlalu keras.Tamu datang dan pergi dalam kelompok-kelompok kecil, mengobrol dengan gelas di tangan, tertawa dengan cara orang-orang yang terbiasa berada di tempat seperti ini.Raisa mengecek daftarnya untuk kesekian kalinya. Semua tamu sudah terkonfirmasi hadir.Dia sudah meminta penjaga di pintu masuk untuk menghubunginya langsung kalau ada tamu tambahan yang datang terlambat.Sejauh ini tidak ada insiden. Tidak ada tamu yang mabuk terlalu cepat, tidak ada konflik yang harus diredakan, tidak ada makanan yang tumpah di atas gaun seseorang.Tapi ada sesuatu yang membuat Raisa sedikit mengernyit sejak tadi.Beberapa klien datang tidak dengan satu pasangan, tapi dua, bahkan tiga. Dan hampir semuanya wanita.Raisa mencatatnya secara mental tanpa memberikan komentar, karena bukan t
Makan siang yang penuh ketegangan itu berakhir dengan gelas wine Clarissa yang hanya diminum setengah dan steak-nya yang hampir tidak disentuh. Dia menghabiskan sebagian besar waktu makan dengan berbicara, menyentuh lengan Caesar, tertawa terlalu keras untuk lelucon yang tidak ada, semua usaha untuk mendapatkan perhatian pria yang duduk di sampingnya. Tapi Caesar tidak merespons. Dia makan dengan tenang, sesekali melirik ponselnya, dan sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan pada wanita cantik di sampingnya. Akhirnya Caesar meletakkan garpu, mengusap mulut dengan serbet linen, dan berdiri. "Selesai. Kita pergi." Dia menatap Raisa, bukan Clarissa. Clarissa langsung berdiri juga, meraih tas tangannya. "Aku ikut. Kita bisa ke hotel sekarang, kan? Kau bilang tadi tidak bisa, tapi mungkin sekarang—" "Tidak." Caesar sudah berjalan menuju pintu ruangan, tangannya kembali menarik pergelangan tangan Raisa. "Aku akan kembali ke kantor. Kau pulang sendiri." "Caesar!" Suara Clarissa men
Raisa membeku. 'Kenapa dia kembali?'Caesar melangkah cepat menuju mejanya, matanya menatap tajam ke arah Raisa yang sekarang terlihat lebih pucat dari sebelumnya. Keringat membasahi seluruh dahinya, tangannya gemetar di atas meja, napasnya sedikit tersengal."Kau," kata Caesar dengan suara rendah yang penuh amarah. "Kau bilang kau baik-baik saja?" "Pak, saya-" "Diam."Caesar meraih tangan Raisa dan menariknya berdiri dengan satu gerakan cepat. Raisa hampir berteriak kesakitan, tapi dia menahan diri."Pak, saya benar-benar baik""Diam, aku bilang!" Caesar menyeretnya menuju elevator dengan tarikan yang tidak lembut sama sekali.Raisa tersandung, kakinya tidak bisa mengikuti langkah cepat Caesar. Perutnya yang sakit membuatnya tidak bisa bergerak dengan baik.Dan kemudian, dia jatuh.Lututnya membentur lantai keras. Raisa menggigit bibir, menahan rasa sakit yang menyebar dari lutut ke seluruh tubuhnya.Caesar berhenti. Dia menatap ke bawah, melihat Raisa yang jatuh berlutut dengan wa
Pagi itu, Raisa sudah sampai di kantor pukul 06.45. Lima belas menit lebih awal dari janji. Dia tidak ingin memberikan kesan buruk pada Caesar, meski sebenarnya tubuhnya masih terasa lelah dari semalam merawat Mia yang tiba-tiba demam tinggi setelah Raisa pulang.Dia sempat tertidur di kursi rumah sakit, bangun pukul empat pagi, pulang ke apartemen untuk mandi dan ganti baju, lalu langsung menuju kantor tanpa sempat sarapan.Raisa meletakkan tasnya di meja, menyalakan komputer, dan menatap pintu ruang CEO yang masih gelap. Caesar belum datang. Dia memutuskan untuk membuat kopi dan mempersiapkan dokumen-dokumen yang mungkin diperlukan untuk pembahasan strategi meeting dengan klien Jepang.Tepat pukul tujuh, bunyi ding elevator berbunyi. Caesar keluar dengan langkah panjang, mengenakan setelan jas biru navy yang membuatnya terlihat lebih menawan dari biasanya. Rambutnya tertata rapi, wajahnya segar seolah dia tidur nyenyak tadi malam.Tidak seperti Raisa yang tampak seperti zombie.Pagi
Rahang Clarissa mengeras. Tangannya menggenggam erat jas yang dia pakai. "Caesar, aku pikir kita akan makan malam bersama? Kau bilang—" "Aku bilang kita mungkin makan bersama kalau aku tidak ada urusan," potong Caesar tanpa melihat ke arahnya. Matanya tetap tertuju pada Raisa. "Dan sekarang aku punya urusan. Jadi, Raisa? Bagaimana?" Raisa merasakan ketegangan di udara. Clarissa terlihat seperti akan meledak—wajahnya memerah, napasnya sedikit memburu. Tapi dia menahan diri, mungkin karena tidak ingin terlihat posesif atau cemburu di depan Caesar. Pria seperti Caesar Johnson membenci wanita yang clingy. Raisa sudah melihat pola ini puluhan kali. Wanita-wanita yang mencoba mengikat Caesar, yang bersikap posesif, yang menuntut perhatian lebih, mereka semua berakhir dibuang lebih cepat dari yang lain. Dan Raisa... tidak ingin membuat masalah dengan Clarissa. Atau lebih tepatnya, dia tidak ingin menjadi bagian dari permainan rumit Caesar dengan wanita-wanitanya. "Maaf, Pak," kata Raisa
Pukul lima sore, Raisa menekan tombol save untuk terakhir kalinya. Laporan keuangan triwulan sudah selesai, lengkap dengan analisis proyeksi dan rekomendasi strategi untuk kuartal berikutnya. Dia mencetak dokumen setebal dua puluh halaman itu, memasukkannya ke dalam folder biru dengan logo Johnson Corp, lalu berdiri dari kursinya. Langkahnya mantap menuju pintu ruang CEO. Tangannya mengangkat untuk mengetuk, tapi dia urungkan. Setelah tujuh tahun, Raisa sudah tahu kapan harus mengetuk dan kapan tidak. Suara-suara tadi sudah berhenti sejak setengah jam lalu, yang berarti mereka sudah selesai dan kemungkinan besar sedang... bersantai. Raisa memutar kenop pintu dan masuk tanpa mengetuk. Pemandangan di dalam ruangan tidak mengejutkannya lagi. Caesar Johnson duduk bersandar di sofa kulit hitam mewah di sudut ruangannya, dada telanjang memperlihatkan perut sixpack yang sempurna. Celana jasnya sudah kembali terpasang meski ikat pinggang masih tergeletak di lantai. Rambutnya acak-a







