Compartilhar

BAB 5 PELAYANAN KELAS ATAS

Autor: Alsya Ananda
last update Última atualização: 2025-10-11 08:58:16

Ketukan keras menggema dari balik pintu apartemen. Elena meringis sambil menarik selimut ke kepala. Masih pukul tujuh pagi, dan dunia seharusnya belum menuntut siapa pun untuk bangun secepat itu.

Dengan mata sayu dan rambut acak-acakan, ia berjalan gontai ke pintu. “Iya, iya, siapa sih pagi-pagi begini...” gumamnya setengah tidur sambil memutar kunci.

Begitu pintu terbuka, ia tertegun.

Lima pria berseragam hitam berdiri rapi di depannya—tegak, gagah, dan sama sekali tidak terlihat seperti tukang tagih listrik.

“Eh... aku telat bayar pajak, ya?” suaranya kecil, nyaris gugup.

Salah satu dari mereka menunduk sopan. “Maaf, Nona. Kami diminta menjemput Anda.”

“Menjemput?” alis Elena terangkat tinggi. Tapi sebelum sempat ia menuntut penjelasan, dua orang sudah memegang lengannya dengan sopan—namun kuat.

“Hey! Aku belum mandi! Aku masih bau semalam tahu nggak?! Lepasin!” Ia meronta, tapi tubuhnya dengan mudah dibawa masuk ke mobil hitam mewah yang sudah menunggu di depan. Pintu menutup dengan bunyi lembut klik.

“Ya Tuhan,” desah Elena sambil memijat pelipis. “Ini penculikan berkelas.”

---

✨ TRANSISI – SPA BERLAPIS EMAS

Kurang dari dua jam kemudian, Elena ternganga di tengah ruangan yang membuat matanya nyaris buta oleh kemewahan.

Sebuah spa. Tapi bukan spa biasa. Tempat itu tampak seperti gabungan antara istana Versailles dan klinik kecantikan papan atas. Lantai marmer putih mengilap, air mancur kecil menetes di pojok ruangan, dan aroma melati memenuhi udara seperti alunan lembut musik klasik.

Beberapa terapis berwajah tenang mulai menanganinya—tanpa banyak bicara, hanya gerakan profesional yang halus namun tegas.

Wajahnya dibersihkan dengan busa hangat. Rambutnya dicreambath dengan minyak bunga matahari. Pundaknya dipijat hingga hampir membuatnya tertidur. Kuku-kukunya dipoles, dan kulitnya dibaluri serum berkilau yang membuatnya tampak seperti versi lebih lembut dari dirinya sendiri.

“Ya ampun,” gumamnya sambil memejamkan mata, nyaris menyerah pada nikmatnya perawatan itu. “Ini bukan spa. Ini... pengangkatan derajat.”

Salah satu terapis tersenyum samar, tapi tak menjawab. Mereka hanya bekerja dengan ritme yang seperti tarian, meninggalkan aroma melati yang semakin menenangkan.

---

👗 SELESAI – BUSANA & BAYANGAN

Beberapa jam kemudian, Elena berdiri di depan cermin besar yang dikelilingi lampu-lampu lembut. Di sekelilingnya, asisten dan stylist tampak sibuk menyiapkan busana: gaun elegan dengan potongan ramping, sepatu hak tinggi yang berkilau, dan perhiasan minimalis namun mahal.

Ia mencoba salah satu gaun berwarna krim muda. Bahannya lembut, jatuh sempurna mengikuti lekuk tubuh. Saat ia menatap bayangannya di cermin, Elena terdiam lama.

Rambutnya kini bergelombang lembut, kulitnya berkilau, dan matanya tampak tajam sekaligus lembut. Ia bahkan hampir tak mengenali dirinya sendiri.

“...Aku kelihatan kayak menantu mafia,” bisiknya dengan nada pasrah.

---

🏰 MANSION ADITYAWAN

Mobil berhenti di depan gerbang besar yang menjulang tinggi. Dinding putih, pagar besi hitam, dan taman luas yang seolah tidak ada ujungnya. Elena menatap ke luar jendela, matanya membulat kagum.

“Ini rumah atau bandara?” gumamnya lirih.

Seorang pria berjas hitam membukakan pintu, dan di ujung lorong panjang berdiri sosok yang sudah terlalu familiar.

Kenan Adityawan. Dingin, tampan, dan terlalu tenang untuk ukuran manusia biasa.

“Kau membawaku ke butik pribadi ya?” tanya Elena sambil memelintir ujung rambutnya yang masih wangi spa.

Kenan menatapnya sebentar, lalu mengangguk kecil. “Kau sedang berada di salah satu sisi mansionku.”

Elena menahan napas. Salah satu sisi? Tuhan... berarti sisi lainnya ada berapa?

“Kenapa aku di sini?” tanyanya akhirnya.

“Karena aku akan mempertemukanmu dengan Naras.”

Langkah mereka berdua bergema lembut di lorong. Lampu-lampu gantung berkilauan di atas kepala, dan lukisan-lukisan klasik menghiasi setiap dinding. Tapi jantung Elena berdetak semakin cepat.

---

🍽️ RUANG MAKAN – PERTEMUAN PERTAMA

Ruang makan itu panjang, nyaris tak berujung. Meja marmer membentang di tengah ruangan dengan piring porselen rapi berjajar. Di ujungnya, seorang pria duduk diam, menatap keluar jendela.

Naras.

Cahaya matahari pagi menyentuh wajahnya dari balik kaca besar, membuat kulit pucatnya tampak berpendar halus. Rambutnya sedikit berantakan, seolah baru bangun tidur, dan bibirnya... terlalu simetris untuk diciptakan tanpa niat seni.

Elena menahan napas. Dadanya berdesir aneh. Ada sesuatu yang cantik sekaligus menyakitkan dari wajah itu—seperti patung porselen yang nyaris sempurna, tapi menyimpan retakan yang halus dan dalam.

“Astaga... cantik amat...” bisiknya nyaris tak terdengar.

Dan tiba-tiba, otaknya bermain sendiri. Bayangan Naras berlutut, matanya sayu, napasnya berat, tangannya terikat...

Elena cepat-cepat meneguk ludah. Astaga, Elena! Itu calon suami. Calon!

Kenan melirik tanpa ekspresi. “Jaga pikiranmu, Elena.”

Elena menegakkan tubuhnya, berdeham kecil. “Nggak ngapa-ngapain, kok.”

Tapi di dalam kepalanya, dunia sudah berubah menjadi fanfic yang tidak layak tayang di siang hari.

Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri.

Dan ketika tatapan Naras akhirnya bertemu dengannya—sunyi, lembut, tapi penuh misteri—Elena sadar sesuatu:

Masalahnya baru saja dimulai.

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Terjebak Cinta Posesif: Suami Kaya Yang Berbahaya   BAB 8 ELENA DAN RIBUAN RAYUANNYA

    Beberapa hari berlalu sejak Kenan meninggalkan ruang makan dengan wajah yang tegang.Tak ada yang tahu dengan apa yang Kenan pikirkan selama dia menghindari kontak dengn Elena dan Naras. Namun hari itu, Kenan memanggil Elena dan Naras ke ruang kerjanya. Ruang itu tenang dan rapi, hanya terdengar suara lembut kertas kontrak yang dibalik perlahan. Aroma kayu jati bercampur wangi teh melati memenuhi ruangan. Di atas meja, secangkir teh hangat mengepul, ditemani sepiring camilan mahal yang bahkan belum disentuh. Kenan duduk di tengah, bersikap resmi seperti hakim yang akan memutus perkara. Di sisi kanan, Elena duduk dengan kaki bersilang, menatap lembaran kontrak dengan alis yang sedikit mengernyit. Naras duduk di seberangnya, bahunya tegang, namun tatapannya tetap lembut setiap kali Elena bergerak. Beberapa menit berlalu dalam diam sebelum Elena berhenti di satu pasal. “Pasal 17,” gumamnya pelan, “Kedua belah pihak wajib melakukan hubungan suami istri minimal satu kali dalam satu

  • Terjebak Cinta Posesif: Suami Kaya Yang Berbahaya   BAB 7 LANGKAH DI TAMAN BARAT

    Esoknya,udara pagi masih basah oleh embun ketika Elena keluar dari kamarnya, mengenakan jaket tipis dan sepatu lari. Rumah itu masih sepi—hanya suara burung yang riuh dari kejauhan. Tapi langkahnya tak langsung menuju gerbang. Ia berhenti di depan sebuah pintu di ujung koridor. Pintu kamar Naras. Ia mengetuk pelan. Sekali. Dua kali. Tak ada jawaban. Tapi setelah beberapa detik, suara langkah mendekat. Pintu terbuka perlahan, menampakkan wajah Naras dengan rambut acak dan tatapan setengah sadar. “Elena?” suaranya serak, hampir berbisik. “Aku mau lari pagi. Kau ikut?” tanya Elena sambil tersenyum. Naras terdiam. Sejenak ia tampak ingin menolak, tapi kemudian sesuatu di wajah Elena membuatnya berpikir ulang. “Tunggu sepuluh menit,” katanya akhirnya, lalu menutup pintu. Elena tersenyum tipis. Entah kenapa, ia merasa seperti baru memenangkan sesuatu yang kecil tapi penting. Di Taman Barat langit berwarna keperakan, dan rumput masih basah. Keduanya mulai berlari menyusuri

  • Terjebak Cinta Posesif: Suami Kaya Yang Berbahaya   BAB 6 PERKENALAN ELENA DAN NARAS

    Ruang makan pagi itu terasa terlalu luas dibandingka ukuran rumah pada umumnya. Langit-langit tinggi, lampu gantung kristal, dan meja panjang berlapis taplak putih membuat suasana seperti galeri seni—bukan ruang makan. Hening. Hanya suara jam antik berdetak di dinding, satu detik terasa seperti tiga. Kenan dan Elena melangkah masuk bersamaan, bagai dua model di atas panggung catwalk. Di ujung meja, seorang pria sudah lebih dulu duduk dengan punggung tegak dan sendok di tangan. Sup di depannya masih utuh, uapnya telah berhenti mengepul—seolah ia hanya duduk di sana untuk menatap refleksi dirinya di permukaan kuah. “Naras,” suara Kenan datar, seperti perintah rutin tanpa emosi. “Ini Elena. Mulai hari ini, dia akan tinggal bersama kita.” Naras menoleh perlahan. Wajahnya halus, pucat, seperti porselen hidup. Tidak ada senyum, tapi juga tidak ada ketegangan. “Selamat pagi,” ucapnya lembut. Suaranya rapi, seolah dia sudah mempertimbahkan setiap kata yang akan keluar dari mulutnya. E

  • Terjebak Cinta Posesif: Suami Kaya Yang Berbahaya   BAB 5 PELAYANAN KELAS ATAS

    Ketukan keras menggema dari balik pintu apartemen. Elena meringis sambil menarik selimut ke kepala. Masih pukul tujuh pagi, dan dunia seharusnya belum menuntut siapa pun untuk bangun secepat itu. Dengan mata sayu dan rambut acak-acakan, ia berjalan gontai ke pintu. “Iya, iya, siapa sih pagi-pagi begini...” gumamnya setengah tidur sambil memutar kunci. Begitu pintu terbuka, ia tertegun. Lima pria berseragam hitam berdiri rapi di depannya—tegak, gagah, dan sama sekali tidak terlihat seperti tukang tagih listrik. “Eh... aku telat bayar pajak, ya?” suaranya kecil, nyaris gugup. Salah satu dari mereka menunduk sopan. “Maaf, Nona. Kami diminta menjemput Anda.” “Menjemput?” alis Elena terangkat tinggi. Tapi sebelum sempat ia menuntut penjelasan, dua orang sudah memegang lengannya dengan sopan—namun kuat. “Hey! Aku belum mandi! Aku masih bau semalam tahu nggak?! Lepasin!” Ia meronta, tapi tubuhnya dengan mudah dibawa masuk ke mobil hitam mewah yang sudah menunggu di depan. Pintu menutu

  • Terjebak Cinta Posesif: Suami Kaya Yang Berbahaya   BAB 4 TELAH DIPUTUSKAN

    Mobil hitam itu meluncur pelan di bawah cahaya lampu jalan. Hujan sisa sore masih membasahi aspal, memantulkan kilau kota yang tampak dingin dan jauh. Di kursi belakang, Elena menyilangkan tangan, bersandar malas, namun matanya tajam menatap jendela. Bayangan dirinya memantul di kaca, terlihat seperti perempuan yang mencoba menenangkan badai di dalam kepalanya. Di sebelahnya, Kenan duduk dengan postur tegak sempurna. Dingin, nyaris tak bergerak, seperti patung hidup yang terbuat dari kesabaran dan keangkuhan. Wajahnya tenang, tapi Elena tahu, di balik ketenangan itu ada sisi gelap yang tak terjamah orang lain. “Lebih baik kau menginap di hotel malam ini.” suara Kenan terdengar datar, tanpa nada emosi, memecah keheningan yang menekan. Elena menoleh cepat, menatapnya dengan dahi berkerut. “Hell no. Aku akan pulang ke apartemenku.” Kenan hanya melirik sekilas. Ada guratan geli di matanya, meski bibirnya tetap datar. “Aku tidak yakin tempatmu cukup layak.” Elena segera berkacak

  • Terjebak Cinta Posesif: Suami Kaya Yang Berbahaya   BAB 3 – TAWARAN YANG SULIT UNTUK DITOLAK

    Elena duduk di sebuah ruangan luas dan mewah. Lampu gantung kristal menggantung di atas meja bundar berdiameter hampir dua meter. Kursi-kursi kayu berukir mengelilinginya — seperti ruang rapat suatu kerajaan. Ia bersandar dengan santai. Celana panjangnya robek sedikit di lutut akibat diseret paksa barusan. "Bukankah seharusnya kamu setidaknya memberiku minum... setelah bawa aku seperti karung beras?” ucapnya sembari menepuk-nepuk lututnya. Kenan berdiri di seberang meja. Dingin, acuh, dan sedikit tersinggung.Tanpa menjawab, ia mengangkat dagunya. Salah satu anak buahnya bergerak cepat, menuangkan air mineral ke gelas kristal, dan menyodorkannya ke Elena. Elena mencibir, menyesap sedikit, lalu berkata tajam “Langsung ke intinya. Kamu mau apa? Kalau buat melecehkanku, nggak perlu susah-susah bawa aku ke tempat ini.” lKenan melotot. Matanya tajam seperti belati, wajahnya menegang karena jijik. “Kamu bukan seleraku.” Elena tersenyum sinis. “Nggak nanya.” Suasana menegang

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status