MasukMobil hitam itu meluncur pelan di bawah cahaya lampu jalan. Hujan sisa sore masih membasahi aspal, memantulkan kilau kota yang tampak dingin dan jauh. Di kursi belakang, Elena menyilangkan tangan, bersandar malas, namun matanya tajam menatap jendela. Bayangan dirinya memantul di kaca, terlihat seperti perempuan yang mencoba menenangkan badai di dalam kepalanya.
Di sebelahnya, Kenan duduk dengan postur tegak sempurna. Dingin, nyaris tak bergerak, seperti patung hidup yang terbuat dari kesabaran dan keangkuhan. Wajahnya tenang, tapi Elena tahu, di balik ketenangan itu ada sisi gelap yang tak terjamah orang lain. “Lebih baik kau menginap di hotel malam ini.” suara Kenan terdengar datar, tanpa nada emosi, memecah keheningan yang menekan. Elena menoleh cepat, menatapnya dengan dahi berkerut. “Hell no. Aku akan pulang ke apartemenku.” Kenan hanya melirik sekilas. Ada guratan geli di matanya, meski bibirnya tetap datar. “Aku tidak yakin tempatmu cukup layak.” Elena segera berkacak pinggang di kursinya, meski sabuk pengaman masih menahannya. “Walau aku model, aku hidup jujur. Apartemen itu aku beli dengan jerih payahku. Bukan dari pemberian keluarga kaya, apalagi warisan dari orang tuaku” Kenan menahan tawa. Hanya sedikit—tapi cukup membuat Elena kesal. “Lebih kumuh dari taman belakang mansionku.” “Apa?!” Elena memelotot, matanya membulat sempurna. Kenan hanya menatap ke depan, santai. “Tidak usah berdebat. Kembali ke kamarmu. Besok aku kirim orang menjemput.” Tanpa menunggu persetujuan, ia memberi isyarat dengan dagunya. Supir di depan langsung menepi, dan mobil berhenti tepat di depan gedung apartemen. Begitu pintu terbuka, Elena keluar dengan langkah menghentak. Tumit sepatunya memukul lantai trotoar dengan bunyi nyaring. Udara malam menusuk kulitnya, tapi yang terasa justru panas dari amarah. Ia mengomel dalam hati—tentang pria dingin itu, tentang nasib gila yang menyeretnya dalam permainan keluarga kaya. Namun langkahnya terhenti tiba-tiba. Di lobi yang remang, seorang pria berdiri dari sofa sambil menatapnya cemas. “Elena?” Reyhan. Manajernya. Sepupunya. Orang yang selama ini menjadi pelindung sekaligus satu-satunya keluarga yang ia percaya. “Kamu tidak apa-apa? Aku langsung pulang dari luar kota begitu tahu kamu hilang dari studio!” suaranya bergetar di antara marah dan lega. Elena mendesah panjang, lalu menjentikkan jari ke arah lift. “Ssst. tidak di sini. Ikut aku ke atas. Aku akan jelaskan di kamar." Elena melangkah terlebih dahulu untuk memasuki lift.Tak lama,mereka sampai di lantai 12.Reyhan memencet pasword kunci kamar Elena karena dia sudah hafal nomor berapa yang Elena gunakan. Begitu pintu apartemen terbuka, aroma sabun cuci dan kopi basi menyambut. Tempat itu sederhana tapi bersih, dengan dinding putih yang mulai menguning di sudut, dan satu sofa yang sudah aus tapi nyaman. Elena langsung menjatuhkan diri ke sana, melempar sepatu ke pojok, lalu membuka jaket dengan gerakan lelah. Reyhan berdiri di tengah ruangan, menatapnya seperti seseorang yang baru melihat korban selamat dari bencana. “Oke. Jelaskan. Siapa pria-pria itu? Dan apa yang sebenarnya terjadi saat aku pergi?" Elena menatap langit-langit, menarik napas panjang. “Panjang ceritanya.” Dan ia pun mulai bicara. Tentang Kenan. Tentang Naras. Tentang tawaran gila bernama pernikahan kontrak. Tentang bagaimana hidupnya, yang baru beberapa jam lalu terasa biasa, kini berubah menjadi jalan berliku antara permainan kekuasaan dan luka masa lalu. Ketika ia selesai, Reyhan hanya menatap tanpa suara. Wajahnya tegang, seolah baru mendengar dongeng yang terlalu kejam untuk jadi nyata. “El, kamu serius? Ini bukan drama. Ini dunia nyata! Kamu tahu konsekuensinya?” Elena duduk tegak, menatap lurus. “Aku tahu. Tapi aku harus melakukannya.Aku harus menyelidiki kematian orang tuaku." Matanya berkilat. “Kau tak akan tahu,rasanya hidup terlunta-lunta di tengah musin dingin tanpa orang tua dan sanak saudara.Untung saja aku bertemu Aunty Ann dan kamu.Jika tidak..." Reyhan membuka mulut, tapi tidak ada kata yang keluar. Ia tahu, Elena memang keras kepala. Tapi kali ini, ada sesuatu yang berbeda. Hening membentang di antara mereka. Lalu Reyhan menarik napas berat, duduk di tepi meja. “Kalau kamu butuh aku, cukup satu panggilan saja,aku akan langsung berlari ke arahmu. Dimanapun itu." Elena tersenyum kecil, senyum yang lebih seperti luka yang tak bisa dihapus waktu. “ Aku pasti akan baik-baik saja Rey." Reyhan menatapnya lama. Ada kekhawatiran yang tidak bisa diucapkan. Tapi ia tahu—Elena sudah membuat pilihan.Beberapa hari berlalu sejak Kenan meninggalkan ruang makan dengan wajah yang tegang.Tak ada yang tahu dengan apa yang Kenan pikirkan selama dia menghindari kontak dengn Elena dan Naras. Namun hari itu, Kenan memanggil Elena dan Naras ke ruang kerjanya. Ruang itu tenang dan rapi, hanya terdengar suara lembut kertas kontrak yang dibalik perlahan. Aroma kayu jati bercampur wangi teh melati memenuhi ruangan. Di atas meja, secangkir teh hangat mengepul, ditemani sepiring camilan mahal yang bahkan belum disentuh. Kenan duduk di tengah, bersikap resmi seperti hakim yang akan memutus perkara. Di sisi kanan, Elena duduk dengan kaki bersilang, menatap lembaran kontrak dengan alis yang sedikit mengernyit. Naras duduk di seberangnya, bahunya tegang, namun tatapannya tetap lembut setiap kali Elena bergerak. Beberapa menit berlalu dalam diam sebelum Elena berhenti di satu pasal. “Pasal 17,” gumamnya pelan, “Kedua belah pihak wajib melakukan hubungan suami istri minimal satu kali dalam satu
Esoknya,udara pagi masih basah oleh embun ketika Elena keluar dari kamarnya, mengenakan jaket tipis dan sepatu lari. Rumah itu masih sepi—hanya suara burung yang riuh dari kejauhan. Tapi langkahnya tak langsung menuju gerbang. Ia berhenti di depan sebuah pintu di ujung koridor. Pintu kamar Naras. Ia mengetuk pelan. Sekali. Dua kali. Tak ada jawaban. Tapi setelah beberapa detik, suara langkah mendekat. Pintu terbuka perlahan, menampakkan wajah Naras dengan rambut acak dan tatapan setengah sadar. “Elena?” suaranya serak, hampir berbisik. “Aku mau lari pagi. Kau ikut?” tanya Elena sambil tersenyum. Naras terdiam. Sejenak ia tampak ingin menolak, tapi kemudian sesuatu di wajah Elena membuatnya berpikir ulang. “Tunggu sepuluh menit,” katanya akhirnya, lalu menutup pintu. Elena tersenyum tipis. Entah kenapa, ia merasa seperti baru memenangkan sesuatu yang kecil tapi penting. Di Taman Barat langit berwarna keperakan, dan rumput masih basah. Keduanya mulai berlari menyusuri
Ruang makan pagi itu terasa terlalu luas dibandingka ukuran rumah pada umumnya. Langit-langit tinggi, lampu gantung kristal, dan meja panjang berlapis taplak putih membuat suasana seperti galeri seni—bukan ruang makan. Hening. Hanya suara jam antik berdetak di dinding, satu detik terasa seperti tiga. Kenan dan Elena melangkah masuk bersamaan, bagai dua model di atas panggung catwalk. Di ujung meja, seorang pria sudah lebih dulu duduk dengan punggung tegak dan sendok di tangan. Sup di depannya masih utuh, uapnya telah berhenti mengepul—seolah ia hanya duduk di sana untuk menatap refleksi dirinya di permukaan kuah. “Naras,” suara Kenan datar, seperti perintah rutin tanpa emosi. “Ini Elena. Mulai hari ini, dia akan tinggal bersama kita.” Naras menoleh perlahan. Wajahnya halus, pucat, seperti porselen hidup. Tidak ada senyum, tapi juga tidak ada ketegangan. “Selamat pagi,” ucapnya lembut. Suaranya rapi, seolah dia sudah mempertimbahkan setiap kata yang akan keluar dari mulutnya. E
Ketukan keras menggema dari balik pintu apartemen. Elena meringis sambil menarik selimut ke kepala. Masih pukul tujuh pagi, dan dunia seharusnya belum menuntut siapa pun untuk bangun secepat itu. Dengan mata sayu dan rambut acak-acakan, ia berjalan gontai ke pintu. “Iya, iya, siapa sih pagi-pagi begini...” gumamnya setengah tidur sambil memutar kunci. Begitu pintu terbuka, ia tertegun. Lima pria berseragam hitam berdiri rapi di depannya—tegak, gagah, dan sama sekali tidak terlihat seperti tukang tagih listrik. “Eh... aku telat bayar pajak, ya?” suaranya kecil, nyaris gugup. Salah satu dari mereka menunduk sopan. “Maaf, Nona. Kami diminta menjemput Anda.” “Menjemput?” alis Elena terangkat tinggi. Tapi sebelum sempat ia menuntut penjelasan, dua orang sudah memegang lengannya dengan sopan—namun kuat. “Hey! Aku belum mandi! Aku masih bau semalam tahu nggak?! Lepasin!” Ia meronta, tapi tubuhnya dengan mudah dibawa masuk ke mobil hitam mewah yang sudah menunggu di depan. Pintu menutu
Mobil hitam itu meluncur pelan di bawah cahaya lampu jalan. Hujan sisa sore masih membasahi aspal, memantulkan kilau kota yang tampak dingin dan jauh. Di kursi belakang, Elena menyilangkan tangan, bersandar malas, namun matanya tajam menatap jendela. Bayangan dirinya memantul di kaca, terlihat seperti perempuan yang mencoba menenangkan badai di dalam kepalanya. Di sebelahnya, Kenan duduk dengan postur tegak sempurna. Dingin, nyaris tak bergerak, seperti patung hidup yang terbuat dari kesabaran dan keangkuhan. Wajahnya tenang, tapi Elena tahu, di balik ketenangan itu ada sisi gelap yang tak terjamah orang lain. “Lebih baik kau menginap di hotel malam ini.” suara Kenan terdengar datar, tanpa nada emosi, memecah keheningan yang menekan. Elena menoleh cepat, menatapnya dengan dahi berkerut. “Hell no. Aku akan pulang ke apartemenku.” Kenan hanya melirik sekilas. Ada guratan geli di matanya, meski bibirnya tetap datar. “Aku tidak yakin tempatmu cukup layak.” Elena segera berkacak
Elena duduk di sebuah ruangan luas dan mewah. Lampu gantung kristal menggantung di atas meja bundar berdiameter hampir dua meter. Kursi-kursi kayu berukir mengelilinginya — seperti ruang rapat suatu kerajaan. Ia bersandar dengan santai. Celana panjangnya robek sedikit di lutut akibat diseret paksa barusan. "Bukankah seharusnya kamu setidaknya memberiku minum... setelah bawa aku seperti karung beras?” ucapnya sembari menepuk-nepuk lututnya. Kenan berdiri di seberang meja. Dingin, acuh, dan sedikit tersinggung.Tanpa menjawab, ia mengangkat dagunya. Salah satu anak buahnya bergerak cepat, menuangkan air mineral ke gelas kristal, dan menyodorkannya ke Elena. Elena mencibir, menyesap sedikit, lalu berkata tajam “Langsung ke intinya. Kamu mau apa? Kalau buat melecehkanku, nggak perlu susah-susah bawa aku ke tempat ini.” lKenan melotot. Matanya tajam seperti belati, wajahnya menegang karena jijik. “Kamu bukan seleraku.” Elena tersenyum sinis. “Nggak nanya.” Suasana menegang







