LOGINElena duduk di sebuah ruangan luas dan mewah.
Lampu gantung kristal menggantung di atas meja bundar berdiameter hampir dua meter. Kursi-kursi kayu berukir mengelilinginya — seperti ruang rapat suatu kerajaan. Ia bersandar dengan santai. Celana panjangnya robek sedikit di lutut akibat diseret paksa barusan. "Bukankah seharusnya kamu setidaknya memberiku minum... setelah bawa aku seperti karung beras?” ucapnya sembari menepuk-nepuk lututnya. Kenan berdiri di seberang meja. Dingin, acuh, dan sedikit tersinggung.Tanpa menjawab, ia mengangkat dagunya. Salah satu anak buahnya bergerak cepat, menuangkan air mineral ke gelas kristal, dan menyodorkannya ke Elena. Elena mencibir, menyesap sedikit, lalu berkata tajam “Langsung ke intinya. Kamu mau apa? Kalau buat melecehkanku, nggak perlu susah-susah bawa aku ke tempat ini.” lKenan melotot. Matanya tajam seperti belati, wajahnya menegang karena jijik. “Kamu bukan seleraku.” Elena tersenyum sinis. “Nggak nanya.” Suasana menegang.Anak buah di belakang Kenan refleks pegang pinggang—mungkin ke arah pistol. Tapi Kenan mengangkat tangan, menahan. Ia menarik napas panjang. Lalu meletakkan satu map tebal di meja. “Baca.Lalu putuskan." Elena membuka map itu. Di dalamnya: foto pria muda berambut gelap dengan sorot mata tajam. Dokumen medis, laporan psikologis, hasil pengamatan CCTV, dan... kontrak pernikahan. Nama pria itu Naras Adityawan. "Dia adikku.Dia memiliki keadaan khusus yang membuatnya harus selalu diawasi. Tapi team dokter ataupun pelayan hanya membuatnya makin tidak betah dirumah." Kenan menarik nafas sesaat, seakan ingin memberikan jeda untuk Elena berpikir. "Kami tawarkan kamu pernikahan kontrak. Lima tahun. Setelah itu, kalau tidak cocok, kamu bisa cerai dan dapat kompensasi.” Elena mengernyit. "Aku rasa umurnya cukup tua untuk diperhatikan seperti bayi." Kenan tetap tenang.Dia melangkah mendekati Elena. " Dengan menjadi istrinya,aku pastikan kamu tidak usah bekerja lagi untuk selama sisa hidupmu." Eena membolak balik isi dokumen lalu menatap satu halaman yang menampilkan wajah Naras. Dibalik rahang keras dan tatapannya yang tak ramah, dia terlihat lebih seperti seperti binatang terluka.Sosok yang meminta untuk dijinakkan. Untuk sepersekian detik, Elena membayangkan pria itu sedang berlutut. Tangan terikat. Napas memburu. Dan dirinya berdiri di atasnya — mendominasi. “Hmm… Menarik. ucap Elena tanpa sadar menggigit bibirnya sendiri Ia menutup map pelan. "Aku butuh waktu untuk berpikir." Kenan melirik tajam. "Kamu butuh uang. Jangan sok jual mahal.” Elena tersenyum ponggah. "Barangkali kamu belum tahu,hargaku memang mahal." Ia berdiri, memutar gelas air di tangannya seakan sedang menimbang-nimbang sesuatu, lalu berkata, “Oke. Aku terima. Lima tahun. Tapi dengan syarat.” Kenan menyipitkan mata. “Apa?” Elena menatapnya tanpa berkedip. "Apapun yang terjadi antara aku dan Naras,tidak ada yang boleh ikut campur.Aku menolak seseorang sepertimu memiliki kendali dalam kisah pribadiku." Kenan membatu. Tatapannya berubah — dari sinis menjadi… bingung dan ngeri dalam waktu bersamaan. Elena membalik badan dan berjalan pergi. Rambutnya melambai pelan, suaranya terdengar terakhir kali: “Kamu yang minta, ingat. Kalau nanti terjadi masalah... salahkan dirimu sendiri.” " Tunggu." ucap Kenan.Dingin.Tegas. Elena menghentikan langkahnya,menatap Kenan meminta penjelasan. Kenan mengulurkan sebuah dokumen.Elena perlahan menyambut dan membukanya tanpa rasa ingin tahu.Namun sesuatu didalamnya membuatnya tertarik Ada foto. Scan akta lahir. Artikel berita tua. Dan foto keluarga. Keluarganya. semua data ini mengenai dirinya. Eena membeku. Gambar itu: dirinya kecil, usia sekitar tiga tahun, duduk di antara ayah dan ibunya. Ayahnya berpakaian seperti pengusaha sukses. Ibunya sederhana, cantik dan anggun. Foto itu... hanya satu dari sedikit kenangan utuh yang dia miliki. “Dari mana kamu dapat ini?” bisik Elena, suaranya nyaris hilang. Kenan menatap Elena lurus-lurus. “Kamu bukan siapa-siapa... sampai aku bilang kamu siapa.” Kenan tersenyum puas.uang yang dia gelontorkan sepadan dengan melihat ekspresi Elena saat ini. Namun dia tak ingin terlalu memperlihatkannya. “Dan menurut data yang aku gali, kamu adalah anak kandung dari Ardiansyah Maheswara. Pendiri Maheswara Group. Pewaris sah—jika saja kelahiranmu tercatat negara." Elena terdiam. Bibirnya mengeras. Kenan mendekat, meletakkan satu dokumen lain di meja. “Perusahaan keluargamu sekarang dipegang pamanmu—orang yang sama yang melenyapkan semua bukti keberadaanmu.” Kenan menatap kedua bola mata Elena yang kosong.Bagus,tikus sudah masuk perangkap. “Aku bisa bantu kamu ambil kembali hakmu. Tapi kamu harus masuk ke keluarga kami dulu... dan buktikan bahwa kamu mampu mengurus seseorang yang bahkan kami pun tak bisa kendalikan.” Elena memejamkan mata sesaat. Kenyataan ini seperti paku yang dipalu satu per satu ke jantungnya. “Apa kamu bisa membantuku?” tanyanya dengan suara rendah. Kenan mengangguk. "Tentu. Selama kamu bisa melakukan yang aku perintahkan dengan baik." Elena mengangkat wajah. Tatapannya sekarang bukan hanya menantang, tapi juga penuh bara. "Baik.Sebutkan saja harga yang harus kubayar." Kenan terdiam, sedikit terkejut. Lalu dia mengangguk. “Bagus. Kamu memang bukan wanita biasa.” Elena berbalik, tapi kali ini langkahnya mantap. Dia bukan lagi gadis miskin yang harus mengais sedikit rezeki di dunia modelling. Dia adalah Elena Maheswari Pewaris yang terlupakan. Dan calon istri dari pria tergelap di keluarga Adityawan.Beberapa hari berlalu sejak Kenan meninggalkan ruang makan dengan wajah yang tegang.Tak ada yang tahu dengan apa yang Kenan pikirkan selama dia menghindari kontak dengn Elena dan Naras. Namun hari itu, Kenan memanggil Elena dan Naras ke ruang kerjanya. Ruang itu tenang dan rapi, hanya terdengar suara lembut kertas kontrak yang dibalik perlahan. Aroma kayu jati bercampur wangi teh melati memenuhi ruangan. Di atas meja, secangkir teh hangat mengepul, ditemani sepiring camilan mahal yang bahkan belum disentuh. Kenan duduk di tengah, bersikap resmi seperti hakim yang akan memutus perkara. Di sisi kanan, Elena duduk dengan kaki bersilang, menatap lembaran kontrak dengan alis yang sedikit mengernyit. Naras duduk di seberangnya, bahunya tegang, namun tatapannya tetap lembut setiap kali Elena bergerak. Beberapa menit berlalu dalam diam sebelum Elena berhenti di satu pasal. “Pasal 17,” gumamnya pelan, “Kedua belah pihak wajib melakukan hubungan suami istri minimal satu kali dalam satu
Esoknya,udara pagi masih basah oleh embun ketika Elena keluar dari kamarnya, mengenakan jaket tipis dan sepatu lari. Rumah itu masih sepi—hanya suara burung yang riuh dari kejauhan. Tapi langkahnya tak langsung menuju gerbang. Ia berhenti di depan sebuah pintu di ujung koridor. Pintu kamar Naras. Ia mengetuk pelan. Sekali. Dua kali. Tak ada jawaban. Tapi setelah beberapa detik, suara langkah mendekat. Pintu terbuka perlahan, menampakkan wajah Naras dengan rambut acak dan tatapan setengah sadar. “Elena?” suaranya serak, hampir berbisik. “Aku mau lari pagi. Kau ikut?” tanya Elena sambil tersenyum. Naras terdiam. Sejenak ia tampak ingin menolak, tapi kemudian sesuatu di wajah Elena membuatnya berpikir ulang. “Tunggu sepuluh menit,” katanya akhirnya, lalu menutup pintu. Elena tersenyum tipis. Entah kenapa, ia merasa seperti baru memenangkan sesuatu yang kecil tapi penting. Di Taman Barat langit berwarna keperakan, dan rumput masih basah. Keduanya mulai berlari menyusuri
Ruang makan pagi itu terasa terlalu luas dibandingka ukuran rumah pada umumnya. Langit-langit tinggi, lampu gantung kristal, dan meja panjang berlapis taplak putih membuat suasana seperti galeri seni—bukan ruang makan. Hening. Hanya suara jam antik berdetak di dinding, satu detik terasa seperti tiga. Kenan dan Elena melangkah masuk bersamaan, bagai dua model di atas panggung catwalk. Di ujung meja, seorang pria sudah lebih dulu duduk dengan punggung tegak dan sendok di tangan. Sup di depannya masih utuh, uapnya telah berhenti mengepul—seolah ia hanya duduk di sana untuk menatap refleksi dirinya di permukaan kuah. “Naras,” suara Kenan datar, seperti perintah rutin tanpa emosi. “Ini Elena. Mulai hari ini, dia akan tinggal bersama kita.” Naras menoleh perlahan. Wajahnya halus, pucat, seperti porselen hidup. Tidak ada senyum, tapi juga tidak ada ketegangan. “Selamat pagi,” ucapnya lembut. Suaranya rapi, seolah dia sudah mempertimbahkan setiap kata yang akan keluar dari mulutnya. E
Ketukan keras menggema dari balik pintu apartemen. Elena meringis sambil menarik selimut ke kepala. Masih pukul tujuh pagi, dan dunia seharusnya belum menuntut siapa pun untuk bangun secepat itu. Dengan mata sayu dan rambut acak-acakan, ia berjalan gontai ke pintu. “Iya, iya, siapa sih pagi-pagi begini...” gumamnya setengah tidur sambil memutar kunci. Begitu pintu terbuka, ia tertegun. Lima pria berseragam hitam berdiri rapi di depannya—tegak, gagah, dan sama sekali tidak terlihat seperti tukang tagih listrik. “Eh... aku telat bayar pajak, ya?” suaranya kecil, nyaris gugup. Salah satu dari mereka menunduk sopan. “Maaf, Nona. Kami diminta menjemput Anda.” “Menjemput?” alis Elena terangkat tinggi. Tapi sebelum sempat ia menuntut penjelasan, dua orang sudah memegang lengannya dengan sopan—namun kuat. “Hey! Aku belum mandi! Aku masih bau semalam tahu nggak?! Lepasin!” Ia meronta, tapi tubuhnya dengan mudah dibawa masuk ke mobil hitam mewah yang sudah menunggu di depan. Pintu menutu
Mobil hitam itu meluncur pelan di bawah cahaya lampu jalan. Hujan sisa sore masih membasahi aspal, memantulkan kilau kota yang tampak dingin dan jauh. Di kursi belakang, Elena menyilangkan tangan, bersandar malas, namun matanya tajam menatap jendela. Bayangan dirinya memantul di kaca, terlihat seperti perempuan yang mencoba menenangkan badai di dalam kepalanya. Di sebelahnya, Kenan duduk dengan postur tegak sempurna. Dingin, nyaris tak bergerak, seperti patung hidup yang terbuat dari kesabaran dan keangkuhan. Wajahnya tenang, tapi Elena tahu, di balik ketenangan itu ada sisi gelap yang tak terjamah orang lain. “Lebih baik kau menginap di hotel malam ini.” suara Kenan terdengar datar, tanpa nada emosi, memecah keheningan yang menekan. Elena menoleh cepat, menatapnya dengan dahi berkerut. “Hell no. Aku akan pulang ke apartemenku.” Kenan hanya melirik sekilas. Ada guratan geli di matanya, meski bibirnya tetap datar. “Aku tidak yakin tempatmu cukup layak.” Elena segera berkacak
Elena duduk di sebuah ruangan luas dan mewah. Lampu gantung kristal menggantung di atas meja bundar berdiameter hampir dua meter. Kursi-kursi kayu berukir mengelilinginya — seperti ruang rapat suatu kerajaan. Ia bersandar dengan santai. Celana panjangnya robek sedikit di lutut akibat diseret paksa barusan. "Bukankah seharusnya kamu setidaknya memberiku minum... setelah bawa aku seperti karung beras?” ucapnya sembari menepuk-nepuk lututnya. Kenan berdiri di seberang meja. Dingin, acuh, dan sedikit tersinggung.Tanpa menjawab, ia mengangkat dagunya. Salah satu anak buahnya bergerak cepat, menuangkan air mineral ke gelas kristal, dan menyodorkannya ke Elena. Elena mencibir, menyesap sedikit, lalu berkata tajam “Langsung ke intinya. Kamu mau apa? Kalau buat melecehkanku, nggak perlu susah-susah bawa aku ke tempat ini.” lKenan melotot. Matanya tajam seperti belati, wajahnya menegang karena jijik. “Kamu bukan seleraku.” Elena tersenyum sinis. “Nggak nanya.” Suasana menegang







