FAZER LOGINEsoknya,udara pagi masih basah oleh embun ketika Elena keluar dari kamarnya, mengenakan jaket tipis dan sepatu lari.
Rumah itu masih sepi—hanya suara burung yang riuh dari kejauhan. Tapi langkahnya tak langsung menuju gerbang. Ia berhenti di depan sebuah pintu di ujung koridor. Pintu kamar Naras. Ia mengetuk pelan. Sekali. Dua kali. Tak ada jawaban. Tapi setelah beberapa detik, suara langkah mendekat. Pintu terbuka perlahan, menampakkan wajah Naras dengan rambut acak dan tatapan setengah sadar. “Elena?” suaranya serak, hampir berbisik. “Aku mau lari pagi. Kau ikut?” tanya Elena sambil tersenyum. Naras terdiam. Sejenak ia tampak ingin menolak, tapi kemudian sesuatu di wajah Elena membuatnya berpikir ulang. “Tunggu sepuluh menit,” katanya akhirnya, lalu menutup pintu. Elena tersenyum tipis. Entah kenapa, ia merasa seperti baru memenangkan sesuatu yang kecil tapi penting. Di Taman Barat langit berwarna keperakan, dan rumput masih basah. Keduanya mulai berlari menyusuri jalan setapak yang diapit pohon flamboyan. Langkah Naras ringan dan teratur, seolah tubuhnya terbiasa berlari. Sementara Elena, meski napasnya cepat, berusaha menyamai irama langkahnya. Tak banyak kata keluar di antara mereka. Hanya deru napas dan desis sepatu di tanah. Namun keheningan itu terasa nyaman. Setelah hampir dua kilometer, Elena berhenti di dekat gazebo kayu di pinggir taman. Ia mengangkat tangan, memberi isyarat ingin istirahat. Naras ikut duduk di sampingnya, mengambil botol air dari saku jaket lalu menjulurkannya ke arah Elena. “Elena,” suaranya pelan tapi dalam, “kenapa kemarin kau melawan Kenan?” Elena meneguk tetes terakhir minuman itu lalu menoleh sembari mengangkat bahu santai. “Aku tak suka caranya bicara. Terutama padamu.” Naras terdiam sejenak. Lalu tertawa getir. “Itu bukan pertama kalinya… dan tidak akan jadi yang terakhir.” Nada suaranya ringan, tapi di balik itu ada lelah yang menahun. Elena meliriknya. Tanpa pikir panjang, ia menepuk keras punggung Naras sampai pria itu hampir tersedak air minumnya. “Hei!” serunya kaget. “Kalau suka bilang. Kalau tidak suka, bilang juga,” kata Elena tegas. “Peduli amat sama yang dia pikirkan.” Naras menatapnya lama, lalu menunduk, seolah mencoba menyembunyikan sesuatu di balik ekspresi datarnya. “Tidak ada yang bisa melawan Kenan." Elena tersenyum miring. “Kalau begitu, aku yang akan menjadi orang pertam yang melakukannya." Hening sejenak. Angin bertiup lembut, menyapu ujung rambut Elena yang sedikit menempel di kening. Naras memperhatikan gerak kecil itu tanpa sadar. Ada sesuatu yang menggelitik di dadanya—rasa asing, tapi menenangkan. Elena bersandar pada tiang gazebo. “Paling barter, nanti Kenan akan menggantikan aku dengan orang lain,” katanya sambil terkekeh. Justru itu yang dia inginkan. Siapa sih yang mau tinggal di tempat gila ini selama lima tahun? Kata-kata itu menusuk. Naras spontan menatapnya tajam. “Tidak!” suaranya lebih keras dari yang ia maksud. “Tidak akan ada yang bisa menggantikanmu!” Elena membeku, sedikit terkejut. Naras segera menunduk, menarik napas panjang. “Maksudku…” ia meredakan nada suaranya, “Selama kamu tidak mau pergi,tak ada yang bisa memaksamu untuk pergi, termasuk Kenan." Matanya menatap jauh, ke arah embun yang menetes dari ujung daun. “Elena,Aku tahu aku tidak bisa memberikan cinta. Tapi… aku ingin kau tetap di sini. Sebagai rekan. Sebagai seseorang yang bisa kupercaya.” Elena menatapnya lama. Ada sesuatu dalam suaranya—bukan romantis, tapi tulus. Dan anehnya, itu membuat dadanya hangat. Ia terkekeh ringan, mencoba mengalihkan ketegangan. “Iya, memang aku ini wanita yang tak akan bisa tergantikan." ucapnya sempari menunjuk dirinya sendiri. Naras spontan tertawa kecil. Tawa yang langka, jujur, dan membuat wajahnya terlihat lebih manusiawi. “Elena,” katanya setelah tawa itu mereda, “kau aneh.” “Dan kau baru sadar?” balasnya cepat. Mereka saling pandang. Untuk pertama kalinya, tak ada jarak yang terasa. Sebelum berdiri, Elena mengulurkan tangan. “Ayo, kita pulang. Aku lapar." Naras menatap tangan itu. Ia ragu sejenak, tapi akhirnya menjabat. Sentuhannya dingin, tapi menggenggam kuat. Tatapan mereka bertemu.Elena menatap Naras dengan mata riang tanpa beban, seolah dunia tak pernah menuntut apa-apa darinya. Sementara di dada Naras, sesuatu perlahan tumbuh—bukan sekadar rasa kagum, tapi dorongan halus untuk menjaga. Untuk melindungi Elena dari kerasnya dunia, dari siapa pun… bahkan jika itu berarti harus berdiri melawan Kenan.Beberapa hari berlalu sejak Kenan meninggalkan ruang makan dengan wajah yang tegang.Tak ada yang tahu dengan apa yang Kenan pikirkan selama dia menghindari kontak dengn Elena dan Naras. Namun hari itu, Kenan memanggil Elena dan Naras ke ruang kerjanya. Ruang itu tenang dan rapi, hanya terdengar suara lembut kertas kontrak yang dibalik perlahan. Aroma kayu jati bercampur wangi teh melati memenuhi ruangan. Di atas meja, secangkir teh hangat mengepul, ditemani sepiring camilan mahal yang bahkan belum disentuh. Kenan duduk di tengah, bersikap resmi seperti hakim yang akan memutus perkara. Di sisi kanan, Elena duduk dengan kaki bersilang, menatap lembaran kontrak dengan alis yang sedikit mengernyit. Naras duduk di seberangnya, bahunya tegang, namun tatapannya tetap lembut setiap kali Elena bergerak. Beberapa menit berlalu dalam diam sebelum Elena berhenti di satu pasal. “Pasal 17,” gumamnya pelan, “Kedua belah pihak wajib melakukan hubungan suami istri minimal satu kali dalam satu
Esoknya,udara pagi masih basah oleh embun ketika Elena keluar dari kamarnya, mengenakan jaket tipis dan sepatu lari. Rumah itu masih sepi—hanya suara burung yang riuh dari kejauhan. Tapi langkahnya tak langsung menuju gerbang. Ia berhenti di depan sebuah pintu di ujung koridor. Pintu kamar Naras. Ia mengetuk pelan. Sekali. Dua kali. Tak ada jawaban. Tapi setelah beberapa detik, suara langkah mendekat. Pintu terbuka perlahan, menampakkan wajah Naras dengan rambut acak dan tatapan setengah sadar. “Elena?” suaranya serak, hampir berbisik. “Aku mau lari pagi. Kau ikut?” tanya Elena sambil tersenyum. Naras terdiam. Sejenak ia tampak ingin menolak, tapi kemudian sesuatu di wajah Elena membuatnya berpikir ulang. “Tunggu sepuluh menit,” katanya akhirnya, lalu menutup pintu. Elena tersenyum tipis. Entah kenapa, ia merasa seperti baru memenangkan sesuatu yang kecil tapi penting. Di Taman Barat langit berwarna keperakan, dan rumput masih basah. Keduanya mulai berlari menyusuri
Ruang makan pagi itu terasa terlalu luas dibandingka ukuran rumah pada umumnya. Langit-langit tinggi, lampu gantung kristal, dan meja panjang berlapis taplak putih membuat suasana seperti galeri seni—bukan ruang makan. Hening. Hanya suara jam antik berdetak di dinding, satu detik terasa seperti tiga. Kenan dan Elena melangkah masuk bersamaan, bagai dua model di atas panggung catwalk. Di ujung meja, seorang pria sudah lebih dulu duduk dengan punggung tegak dan sendok di tangan. Sup di depannya masih utuh, uapnya telah berhenti mengepul—seolah ia hanya duduk di sana untuk menatap refleksi dirinya di permukaan kuah. “Naras,” suara Kenan datar, seperti perintah rutin tanpa emosi. “Ini Elena. Mulai hari ini, dia akan tinggal bersama kita.” Naras menoleh perlahan. Wajahnya halus, pucat, seperti porselen hidup. Tidak ada senyum, tapi juga tidak ada ketegangan. “Selamat pagi,” ucapnya lembut. Suaranya rapi, seolah dia sudah mempertimbahkan setiap kata yang akan keluar dari mulutnya. E
Ketukan keras menggema dari balik pintu apartemen. Elena meringis sambil menarik selimut ke kepala. Masih pukul tujuh pagi, dan dunia seharusnya belum menuntut siapa pun untuk bangun secepat itu. Dengan mata sayu dan rambut acak-acakan, ia berjalan gontai ke pintu. “Iya, iya, siapa sih pagi-pagi begini...” gumamnya setengah tidur sambil memutar kunci. Begitu pintu terbuka, ia tertegun. Lima pria berseragam hitam berdiri rapi di depannya—tegak, gagah, dan sama sekali tidak terlihat seperti tukang tagih listrik. “Eh... aku telat bayar pajak, ya?” suaranya kecil, nyaris gugup. Salah satu dari mereka menunduk sopan. “Maaf, Nona. Kami diminta menjemput Anda.” “Menjemput?” alis Elena terangkat tinggi. Tapi sebelum sempat ia menuntut penjelasan, dua orang sudah memegang lengannya dengan sopan—namun kuat. “Hey! Aku belum mandi! Aku masih bau semalam tahu nggak?! Lepasin!” Ia meronta, tapi tubuhnya dengan mudah dibawa masuk ke mobil hitam mewah yang sudah menunggu di depan. Pintu menutu
Mobil hitam itu meluncur pelan di bawah cahaya lampu jalan. Hujan sisa sore masih membasahi aspal, memantulkan kilau kota yang tampak dingin dan jauh. Di kursi belakang, Elena menyilangkan tangan, bersandar malas, namun matanya tajam menatap jendela. Bayangan dirinya memantul di kaca, terlihat seperti perempuan yang mencoba menenangkan badai di dalam kepalanya. Di sebelahnya, Kenan duduk dengan postur tegak sempurna. Dingin, nyaris tak bergerak, seperti patung hidup yang terbuat dari kesabaran dan keangkuhan. Wajahnya tenang, tapi Elena tahu, di balik ketenangan itu ada sisi gelap yang tak terjamah orang lain. “Lebih baik kau menginap di hotel malam ini.” suara Kenan terdengar datar, tanpa nada emosi, memecah keheningan yang menekan. Elena menoleh cepat, menatapnya dengan dahi berkerut. “Hell no. Aku akan pulang ke apartemenku.” Kenan hanya melirik sekilas. Ada guratan geli di matanya, meski bibirnya tetap datar. “Aku tidak yakin tempatmu cukup layak.” Elena segera berkacak
Elena duduk di sebuah ruangan luas dan mewah. Lampu gantung kristal menggantung di atas meja bundar berdiameter hampir dua meter. Kursi-kursi kayu berukir mengelilinginya — seperti ruang rapat suatu kerajaan. Ia bersandar dengan santai. Celana panjangnya robek sedikit di lutut akibat diseret paksa barusan. "Bukankah seharusnya kamu setidaknya memberiku minum... setelah bawa aku seperti karung beras?” ucapnya sembari menepuk-nepuk lututnya. Kenan berdiri di seberang meja. Dingin, acuh, dan sedikit tersinggung.Tanpa menjawab, ia mengangkat dagunya. Salah satu anak buahnya bergerak cepat, menuangkan air mineral ke gelas kristal, dan menyodorkannya ke Elena. Elena mencibir, menyesap sedikit, lalu berkata tajam “Langsung ke intinya. Kamu mau apa? Kalau buat melecehkanku, nggak perlu susah-susah bawa aku ke tempat ini.” lKenan melotot. Matanya tajam seperti belati, wajahnya menegang karena jijik. “Kamu bukan seleraku.” Elena tersenyum sinis. “Nggak nanya.” Suasana menegang







