Share

BAB 6 PERKENALAN ELENA DAN NARAS

Penulis: Alsya Ananda
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-11 08:58:20

Ruang makan pagi itu terasa terlalu luas dibandingka ukuran rumah pada umumnya. Langit-langit tinggi, lampu gantung kristal, dan meja panjang berlapis taplak putih membuat suasana seperti galeri seni—bukan ruang makan. Hening. Hanya suara jam antik berdetak di dinding, satu detik terasa seperti tiga.

Kenan dan Elena melangkah masuk bersamaan, bagai dua model di atas panggung catwalk.

Di ujung meja, seorang pria sudah lebih dulu duduk dengan punggung tegak dan sendok di tangan. Sup di depannya masih utuh, uapnya telah berhenti mengepul—seolah ia hanya duduk di sana untuk menatap refleksi dirinya di permukaan kuah.

“Naras,” suara Kenan datar, seperti perintah rutin tanpa emosi.

“Ini Elena. Mulai hari ini, dia akan tinggal bersama kita.”

Naras menoleh perlahan.

Wajahnya halus, pucat, seperti porselen hidup. Tidak ada senyum, tapi juga tidak ada ketegangan.

“Selamat pagi,” ucapnya lembut. Suaranya rapi, seolah dia sudah mempertimbahkan setiap kata yang akan keluar dari mulutnya.

Elena membalas dengan senyum hangat lalu berjalan mendekat. Tapi ia tak langsung duduk. Ada sesuatu dari tatapan Naras yang membuatnya berhati-hati.

Saat jemarinya hampir menyentuh sandaran kursi, Naras tiba-tiba berdiri dan menarik kursi itu untuknya. Gerakannya kaku tapi sopan. Ia hanya menunduk sedikit.

Elena menahan senyum yang hampir muncul.

“Terima kasih,” ucapnya pelan, sempat ingin menjabat tangan pria itu—namun urung saat teringat berkas medis yang semalam ia baca.

> Pasien menunjukkan kecenderungan membatasi interaksi sosial secara aktif, mengalami hypervigilance (kewaspadaan berlebihan), dan gejala selective mutism dalam lingkungan penuh tekanan.

Disarankan tidak memaksa komunikasi fisik atau kontak langsung sebelum pasien menunjukkan inisiatif pribadi.

Elena menarik napas dalam. Ia harus berhati-hati dengan segala tindakannya.

Kenan mulai bicara lebih dulu, seperti biasa—nada datar yang dibungkus elegansi. Ia membahas perawatan rumah, pembagian keuangan, bahkan sampai jumlah anak yang Elena “sebaiknya” lahirkan nanti.

Elena menatap tak acuh. Dalam hati ia lelihat Kenan bagaikan mertua kolot, dan ratusan aturan konyolnya.

Awalnya ia ingin pura-pura setuju. Tapi lima belas menit berlalu dan Kenan belum juga berhenti bicara. Bahkan Naras pun hanya diam, seolah tak peduli.

Akhirnya Elena mengangkat tangannya, memberi tanda interupsi.

“Pertama,” katanya tenang tapi tegas, “aku tidak tertarik urusan otorisasi. Jalankan saja yang sudah kalian lakukan selama ini. Kedua, cukup beri aku uang untuk membeli perhiasan, pakaian, dan tas—itu saja sudah cukup. Ketiga, aku bukan babi yang bisa kamu suruh untuk beranak. Jika ada anak di antara kami, itu hasil keputusan bersama aku dan Naras. Orang luar tidak berhak ikut campur.”

Naras menoleh, matanya sedikit membulat. Kagum. Di balik kelembutan perempuan itu, tersimpan nyali baja.

Elena melanjutkan, kini suaranya lebih tegas, “Suamiku punya hati. Punya perasaan. Jangan kau perlakukan seperti robot yang harus menuruti semua perintahmu.”

“Kau!” Kenan menepuk meja dan meraih sesuatu dari balik jasnya.

Namun Naras lebih cepat. Ia berdiri di depan Elena, gerakannya lincah namun tenang, tangannya juga menyentuh balik bagian dalam jas.

Udara di ruangan langsung membeku. Hening. Satu gerakan saja, darah bisa berceceran di taplak putih itu.

Naras menatap Kenan seperti serigala melindungi kawanannya. Sementara Kenan menatap balik dengan tatapan dingin, seperti melihat benda tak berguna.

Elena segera melangkah maju dan berdiri di tengah mereka.

“Tunggu! Jangan emosi dulu! Dengarkan aku!” serunya. “Kita bisa bicara baik-baik. Duduklah.”

Kenan terdiam, kemudian berdeham. Ia merapikan jasnya, seolah sadar tindakannya berlebihan. Naras pun perlahan mundur satu langkah.

Elena menarik napas panjang. Dalam hatinya, ia merasa seperti duduk di antara dua harimau yang siap menerkam satu sama lain.

“Maksudku,” lanjutnya lebih lembut, “aku mengerti apa yang kau inginkan. Tapi biarkan kami menjalani semuanya dengan cara kami sendiri. Tidak ada ruginya bagimu, bukan?”

Kenan menghela napas berat. “Baik. Aku beri kalian waktu satu tahun. Jika tidak ada penerus, aku akan mencari pengganti yang lebih baik darimu.”

Begitu Kenan pergi, Elena langsung menghembuskan napas lega.

“Gila! Kalau dia begitu butuh penerus, kenapa tidak dia saja yang menikah?"

Naras menatapnya lama, lalu tersenyum tipis—senyum nyaris tak terlihat. Siapa sangka, dari tubuh sekecil itu muncul keberanian sebesar itu?

Elena kembali duduk dan mulai makan dengan semangat, seperti hamster kecil yang mengunyah dengan marah.

Naras menatapnya, bibirnya bergerak pelan.

“Aku sudah membaca file tentangmu,” katanya tenang. “Tapi tidak ada satu pun yang menjelaskan dari mana nyalimu berasal.”

Elena terkekeh pelan. “Cobalah hidup terlantar saat kecil di musim dingin. Kalau tak punya nyali, kita tidak akan bertahan.”

Naras terdiam. Dalam semua dokumen yang pernah ia baca, tak ada catatan seperti itu. Sebenarnya, hidup seperti apa yang telah dilalui gadis ini?

“Aku membaca semua hal tentang orang di sekitarku,” ujarnya kemudian. “Agar aku tahu siapa yang bisa dipercaya.”

Elena menatapnya, lembut tapi tajam.

“Dan sekarang? Apa aku termasuk yang bisa dipercaya?”

Naras tidak langsung menjawab. Hanya diam beberapa detik, lalu menunduk sedikit.

“Semoga ke depannya kita bisa bekerja sama dengan baik.”

Ia mengulurkan tangan. Elena menyambutnya. Genggamannya dingin, tapi mantap.

Setelah itu, Naras berbalik dan melangkah keluar ruangan.

Elena menatap punggungnya menjauh, bibirnya melengkung pelan.

Sepertinya misi menaklukkan tuan muda itu baru saja dimulai.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Terjebak Cinta Posesif: Suami Kaya Yang Berbahaya   BAB 8 ELENA DAN RIBUAN RAYUANNYA

    Beberapa hari berlalu sejak Kenan meninggalkan ruang makan dengan wajah yang tegang.Tak ada yang tahu dengan apa yang Kenan pikirkan selama dia menghindari kontak dengn Elena dan Naras. Namun hari itu, Kenan memanggil Elena dan Naras ke ruang kerjanya. Ruang itu tenang dan rapi, hanya terdengar suara lembut kertas kontrak yang dibalik perlahan. Aroma kayu jati bercampur wangi teh melati memenuhi ruangan. Di atas meja, secangkir teh hangat mengepul, ditemani sepiring camilan mahal yang bahkan belum disentuh. Kenan duduk di tengah, bersikap resmi seperti hakim yang akan memutus perkara. Di sisi kanan, Elena duduk dengan kaki bersilang, menatap lembaran kontrak dengan alis yang sedikit mengernyit. Naras duduk di seberangnya, bahunya tegang, namun tatapannya tetap lembut setiap kali Elena bergerak. Beberapa menit berlalu dalam diam sebelum Elena berhenti di satu pasal. “Pasal 17,” gumamnya pelan, “Kedua belah pihak wajib melakukan hubungan suami istri minimal satu kali dalam satu

  • Terjebak Cinta Posesif: Suami Kaya Yang Berbahaya   BAB 7 LANGKAH DI TAMAN BARAT

    Esoknya,udara pagi masih basah oleh embun ketika Elena keluar dari kamarnya, mengenakan jaket tipis dan sepatu lari. Rumah itu masih sepi—hanya suara burung yang riuh dari kejauhan. Tapi langkahnya tak langsung menuju gerbang. Ia berhenti di depan sebuah pintu di ujung koridor. Pintu kamar Naras. Ia mengetuk pelan. Sekali. Dua kali. Tak ada jawaban. Tapi setelah beberapa detik, suara langkah mendekat. Pintu terbuka perlahan, menampakkan wajah Naras dengan rambut acak dan tatapan setengah sadar. “Elena?” suaranya serak, hampir berbisik. “Aku mau lari pagi. Kau ikut?” tanya Elena sambil tersenyum. Naras terdiam. Sejenak ia tampak ingin menolak, tapi kemudian sesuatu di wajah Elena membuatnya berpikir ulang. “Tunggu sepuluh menit,” katanya akhirnya, lalu menutup pintu. Elena tersenyum tipis. Entah kenapa, ia merasa seperti baru memenangkan sesuatu yang kecil tapi penting. Di Taman Barat langit berwarna keperakan, dan rumput masih basah. Keduanya mulai berlari menyusuri

  • Terjebak Cinta Posesif: Suami Kaya Yang Berbahaya   BAB 6 PERKENALAN ELENA DAN NARAS

    Ruang makan pagi itu terasa terlalu luas dibandingka ukuran rumah pada umumnya. Langit-langit tinggi, lampu gantung kristal, dan meja panjang berlapis taplak putih membuat suasana seperti galeri seni—bukan ruang makan. Hening. Hanya suara jam antik berdetak di dinding, satu detik terasa seperti tiga. Kenan dan Elena melangkah masuk bersamaan, bagai dua model di atas panggung catwalk. Di ujung meja, seorang pria sudah lebih dulu duduk dengan punggung tegak dan sendok di tangan. Sup di depannya masih utuh, uapnya telah berhenti mengepul—seolah ia hanya duduk di sana untuk menatap refleksi dirinya di permukaan kuah. “Naras,” suara Kenan datar, seperti perintah rutin tanpa emosi. “Ini Elena. Mulai hari ini, dia akan tinggal bersama kita.” Naras menoleh perlahan. Wajahnya halus, pucat, seperti porselen hidup. Tidak ada senyum, tapi juga tidak ada ketegangan. “Selamat pagi,” ucapnya lembut. Suaranya rapi, seolah dia sudah mempertimbahkan setiap kata yang akan keluar dari mulutnya. E

  • Terjebak Cinta Posesif: Suami Kaya Yang Berbahaya   BAB 5 PELAYANAN KELAS ATAS

    Ketukan keras menggema dari balik pintu apartemen. Elena meringis sambil menarik selimut ke kepala. Masih pukul tujuh pagi, dan dunia seharusnya belum menuntut siapa pun untuk bangun secepat itu. Dengan mata sayu dan rambut acak-acakan, ia berjalan gontai ke pintu. “Iya, iya, siapa sih pagi-pagi begini...” gumamnya setengah tidur sambil memutar kunci. Begitu pintu terbuka, ia tertegun. Lima pria berseragam hitam berdiri rapi di depannya—tegak, gagah, dan sama sekali tidak terlihat seperti tukang tagih listrik. “Eh... aku telat bayar pajak, ya?” suaranya kecil, nyaris gugup. Salah satu dari mereka menunduk sopan. “Maaf, Nona. Kami diminta menjemput Anda.” “Menjemput?” alis Elena terangkat tinggi. Tapi sebelum sempat ia menuntut penjelasan, dua orang sudah memegang lengannya dengan sopan—namun kuat. “Hey! Aku belum mandi! Aku masih bau semalam tahu nggak?! Lepasin!” Ia meronta, tapi tubuhnya dengan mudah dibawa masuk ke mobil hitam mewah yang sudah menunggu di depan. Pintu menutu

  • Terjebak Cinta Posesif: Suami Kaya Yang Berbahaya   BAB 4 TELAH DIPUTUSKAN

    Mobil hitam itu meluncur pelan di bawah cahaya lampu jalan. Hujan sisa sore masih membasahi aspal, memantulkan kilau kota yang tampak dingin dan jauh. Di kursi belakang, Elena menyilangkan tangan, bersandar malas, namun matanya tajam menatap jendela. Bayangan dirinya memantul di kaca, terlihat seperti perempuan yang mencoba menenangkan badai di dalam kepalanya. Di sebelahnya, Kenan duduk dengan postur tegak sempurna. Dingin, nyaris tak bergerak, seperti patung hidup yang terbuat dari kesabaran dan keangkuhan. Wajahnya tenang, tapi Elena tahu, di balik ketenangan itu ada sisi gelap yang tak terjamah orang lain. “Lebih baik kau menginap di hotel malam ini.” suara Kenan terdengar datar, tanpa nada emosi, memecah keheningan yang menekan. Elena menoleh cepat, menatapnya dengan dahi berkerut. “Hell no. Aku akan pulang ke apartemenku.” Kenan hanya melirik sekilas. Ada guratan geli di matanya, meski bibirnya tetap datar. “Aku tidak yakin tempatmu cukup layak.” Elena segera berkacak

  • Terjebak Cinta Posesif: Suami Kaya Yang Berbahaya   BAB 3 – TAWARAN YANG SULIT UNTUK DITOLAK

    Elena duduk di sebuah ruangan luas dan mewah. Lampu gantung kristal menggantung di atas meja bundar berdiameter hampir dua meter. Kursi-kursi kayu berukir mengelilinginya — seperti ruang rapat suatu kerajaan. Ia bersandar dengan santai. Celana panjangnya robek sedikit di lutut akibat diseret paksa barusan. "Bukankah seharusnya kamu setidaknya memberiku minum... setelah bawa aku seperti karung beras?” ucapnya sembari menepuk-nepuk lututnya. Kenan berdiri di seberang meja. Dingin, acuh, dan sedikit tersinggung.Tanpa menjawab, ia mengangkat dagunya. Salah satu anak buahnya bergerak cepat, menuangkan air mineral ke gelas kristal, dan menyodorkannya ke Elena. Elena mencibir, menyesap sedikit, lalu berkata tajam “Langsung ke intinya. Kamu mau apa? Kalau buat melecehkanku, nggak perlu susah-susah bawa aku ke tempat ini.” lKenan melotot. Matanya tajam seperti belati, wajahnya menegang karena jijik. “Kamu bukan seleraku.” Elena tersenyum sinis. “Nggak nanya.” Suasana menegang

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status