Mag-log inBeberapa orang berpikir menjadi Gigolo adalah pekerjaan yang mudah. Uang dan kenikmatan didapatkan sekaligus. Hanya memberikan kenikmatan dan kepuasaan pada wanita yang haus akan sentuhan, uang mengalir ke rekening. Namun mereka tidak tahu kejamnya pekerjaan ini. Selain terkikisnya harga diri, paksaan untuk tetap melayani para 'klien' kerap kali dirasakan. Sekali terjun dalam pekerjaan ini, akan sulit untuk keluar lagi. Terlebih perasaan yang disebut cinta menjadi pudar dan tak berarti. ***
view moreSaat Emily masuk ke dalam ruang kerja suaminya sore itu, ia menemukan pria itu sedang bercumbu dengan wanita lain.
Nicholas tengah mendekap Olivia di pelukannya, napas mereka beradu, kemejanya tampak kusut.
Melihat Emily masuk secara tiba-tiba, mereka menegang. Keduanya memundurkan tubuhnya selangkah. Olivia menunduk dengan canggung.
"Keluar, Olivia," perintah Nicholas dengan suara beratnya yang sedikit serak. Pria itu sibuk membenarkan letak dasinya yang miring.
"B-baik, Tuan," jawab Olivia dengan suara bergetar.
Saat Olivia keluar dan melewatinya, Emily melihat rambutnya sedikit berantakan, ada noda merah tipis yang tercetak tidak rapi di sudut bibir wanita itu.
Sepeninggal Olivia, keheningan yang canggung menyelimuti ruangan. Nicholas berdeham pelan, mencoba mengembalikan wibawanya yang sempat runtuh karena keterkejutan.
"Ada noda di pakaianku," ucap Nicholas tiba-tiba, memecah keheningan dengan nada defensif. "Olivia menyadarinya dan hanya membantuku membersihkannya."
Emily tidak langsung menjawab. Ia melangkah maju dengan tenang dan meletakkan tumpukan dokumen di tangannya ke atas meja kerja pria itu.
"Begitukah?" jawab Emily seadanya tanpa minat lebih.
Tentu saja Emily tidak percaya. Bukan hanya karena bukti fisiknya terlalu terpampang nyata, tapi karena ia tahu persis adegan ini.
Dunia ini adalah dunia novel. Sebulan yang lalu, setelah mengalami kecelakaan maut di dunia nyata, ia terbangun di dalam tubuh tokoh figuran bernama Emily. Ia adalah istri sah dari Nicholas Spencer, si tokoh utama pria yang saat ini berdiri di hadapannya.
Pernikahan mereka hanyalah kesepakatan bisnis keluarga yang dingin dan tanpa cinta. Singkatnya, dirinya hanyalah tokoh tidak penting yang hidup hanya sebagai latar belakang kisah tragis sang tokoh utama pria.
Sebagai pembaca yang sudah menamatkan novel tersebut, Emily tahu betul bahwa Nicholas dan Olivia adalah sepasang protagonis yang ditakdirkan bersama. Adegan barusan hanyalah satu dari sekian banyak momen asmara mereka di kantor.
Lalu bagaimana dengan nasib Emily di novel ini?
Tentunya…
Tidak baik.
Setelah skandal kebusukan perusahaan keluarganya terbongkar, ia akan diceraikan, diusir tanpa membawa sepeserpun uang, dan mati dalam kesendirian.
Bahkan membayangkan akhir hidupnya, Emily dapat merasakan bulu kuduknya berdiri, ia tidak ingin mati sia-sia dua kali!
Karena alasan itulah, alih-alih menangis atau meminta penjelasan melihat kemesraan suaminya dengan wanita lain, Emily memilih untuk sama sekali tidak peduli. Tujuannya saat ini hanya satu, bertahan hidup dan bercerai secepatnya.
"Nicholas." Emily mendongak sedikit menatap suaminya. "Apakah aku bisa menyewa salah satu pengacara dari firma hukum ini?"
Satu alis Nicholas terangkat, suaranya dingin dan menyelidik. "Untuk apa?"
"Untukku. Ada urusan pengadilan yang harus kuurus."
Wajah Nicholas sontak mengeras. Dari perubahan ekspresi itu saja, Emily sudah bisa menebak isi kepala suaminya. Pria ini pasti sedang berpikir bahwa Emily baru saja membuat masalah besar yang memalukan di luar sana.
Nicholas menghela napas kasar dan memijat pangkal hidungnya dengan kuat.
"Jika kau memang memiliki masalah, kenapa kau tidak mengatakannya padaku sejak awal?!" suara Nicholas meninggi, menahan amarah yang mulai meledak. "Kau kira menyelesaikannya ketika masalah itu perlu dibawa ke pengadilan adalah hal yang mudah?!"
Bentakan itu membuat Emily terdiam. Wajahnya tetap datar, tapi di dalam dadanya, rasa kesal mulai mendidih.
Pria itu bahkan tidak repot-repot bertanya apa alasannya dan langsung menghakimi Emily. Tapi melihat kebisuan Emily yang menatapnya dengan dingin, Nicholas justru mengartikan hal itu sebagai rasa ketakutan atau rasa bersalah.
Di matanya, Emily adalah istri tidak becus yang hanya membuat masalah.
"Sudahlah," ucap Nicholas tiba-tiba. Suaranya sedikit merendah, meski sisa-sisa kekesalan masih kental terdengar. "Aku yang akan menjadi pengacaramu. Apa kasusnya?"
"Kamu tidak bisa menangani kasusku," jawab Emily. “Aku harus mencari pengacara lain.”
Penolakan Emily yang tenang itu justru membuat emosi Nicholas tersulut lagi. Rahang pria itu mengeras dan wajahnya menggelap.
"Kamu meragukanku?"
Tatapan dingin itu dan suara rendahnya sejujurnya begitu mengerikan, Emily nyaris tak mampu berkutik. Tapi ia berusaha mengumpulkan keberaniannya.
“Bukan begitu…” ucapnya, menatap lurus ke dalam manik mata pria itu dan menjatuhkan kalimatnya.
"Karena kamu adalah tergugatnya. Aku ingin bercerai darimu."
Ivander mengerang pelan sembari memegangi kepalanya yang berdenyut nyeri. Pandangannya buram dan berkunang-kunang. Ia coba menyesuaikan pandangan dengan cahaya yang menyerbu dari balik gorden, tapi menyerah setelah kepalanya terasa berputar menyakitkan."Tidur aja. Ini masih pagi." Suara itu teedengar serak tapi manis.Barulah Ivander menyadari kalau seseorang berada dalam pelukannya. "Irene?" panggilnya memastikan. Ruangan yang gelap dan pandangannya yang buram membuat Rivander kesulitan melihat siapa orang yang tidur di sebelahnya."Hmm... Ini aku," jawab Irene seolah memahami kebingungan Ivander. Ia semakin mengeratkan pelukannya di pinggang pria itu.Ivander mendesah pelan, lalu memeluk balik Irene. Tangannya menarik pinggang wanita itu agar lebih mendekat. Dingin, entah kenapa ruangan yang ia tempati terasa dingin."Demammu udah turun?" Jari Ivander bermain-main di rambut halus Irene."Hmm..." Irene bergumam di antara tidurnya. "Udah. Nih, udah engga panas 'kan?" Ia menggesekan k
Ivander menginjakkan kakinya di sebuah rumah besar dengan halaman luas yang sangat terawat. Rumah itu terlihat gelap tanpa ada pencahayaan berarti. Hanya di bagian depannya saja sebuah lampu bersinar temaram. Rumah itu juga tampak kosong seolah tidak ada kehidupan apa pun di sana. Namun semua itu terbantahkan tak kala seorang pria tua berpakaian pelayan menghampiri Ivander yang berdiri kebingungan di depan gerbang tinggi berwarna putih gading.“Tuan Ivander, Nona Irene sudah menunggu kedatangan Anda di dalam,” ucap pelayan tua itu sopan.Meski awalnya merasa ragu, Ivander pada akhirnya mengikuti pelayan tua itu masuk ke dalam. Di depannya terdapat sebuah Golf Cart berwarna putih dengan dua tempat duduk yang tersedia. Ia mengambil tempat di sebelah kiri, dan membiarkan pelayan tua itu yang mengemudikannya.Suasana taman yang temaram dengan lampu gantung sedikit membuat Ivander bergidik dan merinding. Meski terlihat indah dengan beberapa macam tumbuhan
Irene menatap tajam wanita di hadapannya- Shiori. Pengganggu yang harus segera ia singkarkan. Keadaan Shiori saat ini sangat mengenaskan. Kaki dan tangan wanita itu diikat kuat oleh tali tambang. Mulutnya pun tertutup oleh lakban hitam. Shiori masih tidak sadarkan diri akibat obat bius yang diberikan Irene masih bekerja.Sejenak Irene memerhatikan keseluruhan penampilan Shiori, dan mulai membandingkan dengan dirinya sendiri. Dari aspek apa pun Shiori kalah, begitu lah yang dipikirkan oleh Irene. Wajah wanita itu terbilang biasa saja, hanya sedikit manis karena baby face-nya. Tubuh mungil yang berbalut pakaian kusam dan kebesaran tentunya sangat tidak menarik perhatian.‘Terus, kenapa Ivander sepertinya menganggap dia sangat spesial?’Pikiran tersebut terus terbayang dalam benak Irene. Rasa kesal seketika membuncah ketika ia mengingat foto mesra antara Shiori dan Ivander yang di kirimkan anak buahnya.“Bangunkan wanita i
Wanita yang berada di bawah kuasa Ivander hanya bisa mendesah keras ketika tubuh bagian bawahnya dimanjakan dengan habis-habisan oleh pria itu. Ia tampak sangat menikmatinya. Terlihat dari wajahnya yang memerah, dan mulutnya yang tak berhenti merintih kenikmatan. Tidak lama tubuh wanita itu mengejang dan bergetar hebat. Disusul Ivander yang semakin dalam menekan miliknya.Napas wanita itu masih terengah-engah, dan kesadarannya belum kembali sepenuhnya. Pelepasan yang dirasakannya terlalu hebat hingga kepalanya terasa pening. Tanpa sadar lengannya melingkar erat di leher Ivander. Ia mengerang ketika sesuatu yang keras di dalam dirinya bergerak keluar untuk terlepas dari miliknya, lalu wanita itu menyadari kalau Ivander belum mendapatkan pelepasannya.“Kamu belum selesai ya?” tanya wanita itu merasa bersalah pada Ivander.“Ngga apa-apa.”Wanita itu menggeleng tidak terima. Ia menarik Ivander yang akan menjauh. “Lanjutkan sampai
Bulan sudah lama naik menggantikan matahari. Udara yang dingin tak menyurutkan niat orang-orang untuk keluar. Berlalu lalang menikmati suguhan yang ada. Kota tempat Ivander tinggal tak pernah sepi, selalu ramai dengan berbagai macam manusia. Baik itu warga sekitar atau turis luar. Di sini kehidup
Ivander tengah menyimpulkan dasi ketika notifikasi dari ponselnya berdering cukup keras. Ia segera memeriksanya karena suara notifikasi tersebut tidak juga berhenti. Hal pertama yang menjadi perhatiannya adalah Whatsapp dari Irene. Wanita itu mengirim beberapa pesan panjang. Namun karena ma
Sinar matahari yang terang menyambut pagi Ivander. Tubuhnya luar biasa lelah. Ada beberapa tanda biru keunguan di sekitar bahu dan punggungnya akibat permainan yang dilakukan Areeya semalam. Tanda yang paling terlihat adalah garis keunguan samar yang melingkari leher.Ivander hanya bisa me






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.