共有

Bab 40

作者: Zeya
last update 公開日: 2026-05-25 04:08:37

Jennifer mengembuskan napas berat begitu tiba di gerbang sekolahnya. Pagi itu terasa lebih pekat dari biasanya, seolah udara pun ikut menindih dadanya. Entah mengapa, keributan kecil di rumahnya selalu berubah menjadi badai besar setiap kali dia mencoba mengambil jarak dengan para tokohnya.

Apakah karena memang itu perannya dalam cerita ini?

Atau karena alur hidupnya sengaja dibuat menyedihkan oleh penulis novel yang memasungnya?

Jennifer mendengus halus. "Sialan," gumamnya lirih.

Emosinya tera
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Terjebak Dalam Raga Antagonis Novel   Bab 42

    Bel istirahat berbunyi.Jennifer melangkah keluar kelas sambil membaca rentetan pesan dari Sinta. Hari ini sahabatnya itu tidak masuk sekolah atas perintah neneknya. Sejak tadi Sinta terus bercerita betapa menyebalkannya sang nenek hingga membuat Jennifer ingin tertawa dan kasihan di saat bersamaan."Jennifer...""Ya?"Jennifer spontan mengangkat kepalanya lalu menoleh ke samping saat mendengar panggilan itu.Ah, Haris.Haris berdiri canggung di samping Jennifer. Dia sengaja langsung berlari ke kelas Jennifer begitu mendengar bel istirahat berbunyi. Ada banyak hal yang ingin dia sampaikan, terutama soal kejadian temp hari yang membuatnya benar-benar meras bersalah pada gadis itu."Jen, aku minta maaf buat kejadian waktu itu," ucap Haris sambil menatap Jennifer penuh rasa bersalah. "Padahal aku yang mengajak kamu pulang bareng dan aku juga sudah janji sama Sinta buat mengantar kamu pulang, tapi aku malah membiarkan kamu pulang sendiri. Aku benar-benar minta maaf, Jennifer."Jennifer me

  • Terjebak Dalam Raga Antagonis Novel   Bab 41

    Samuel baru saja keluar dari kelasnya setelah menghabiskan waktu seharian dengan pelajaran yang membosankan. Meskipun dia tampak acuh tapi nilainy selalu tinggi di kelas, karena sikapnya yang ramah, dia sangat mudah mendapatkan teman.Ketika Samuel melewati koridor, langkahnya dihadang oleh sesosok remaja yang menjadi most wanted di sekolah tersebut, Rafka."Eh, tumben kamu datang ke kelasku? Ada perlu apa, Ra?" tanya Samuel begitu berhadapan dengan Rafka.Kelasnya dengan kelas Rafka memang berbeda, tapi mereka selalu berkumpul bersama setiap pulang sekolah di parkiran. Tapi kali ini berbeda karena Rafka tiba-tiba datang menemuinya lebih dulu."Ikut aku," kata Rafka dingin.Samuel mengangkat alis. "Aku ada les habis ini. Kamu ada urusan apa sama aku?"Rafka tidak menjawab. Remaja itu hanya memutar badan lalu berjalan begitu saja, seakan Samuel tidak punya pilihan selain mengikutinya. Cara berjalan Rafka terlihat santai, tetapi aura dinginnya membuat beberapa siswa otomatis menyingkir

  • Terjebak Dalam Raga Antagonis Novel   Bab 40

    Jennifer mengembuskan napas berat begitu tiba di gerbang sekolahnya. Pagi itu terasa lebih pekat dari biasanya, seolah udara pun ikut menindih dadanya. Entah mengapa, keributan kecil di rumahnya selalu berubah menjadi badai besar setiap kali dia mencoba mengambil jarak dengan para tokohnya.Apakah karena memang itu perannya dalam cerita ini?Atau karena alur hidupnya sengaja dibuat menyedihkan oleh penulis novel yang memasungnya?Jennifer mendengus halus. "Sialan," gumamnya lirih.Emosinya terasa terkuras habis setiap kali berhadapan dengan Mikail, Anna, dan Ratih. Rasanya dia ingin sekali mengubur ketiga orang itu hidup-hidup. Namun jelas saja, hal tersebut mustahil dilakukan. Dia bahkan tidak tahu cara membunuh seseorang, apalagi menguburnya tanpa meninggalkan jejak.Lamunannya terpecah oleh suara ceria yang memanggil namanya."Jenniferrr!"Jennifer menoleh. Sinta berlari kecil ke arahnya sambil menenteng dua bungkus jajanan. Ada roti sobek dan minuman kotak yang tampaknya masih din

  • Terjebak Dalam Raga Antagonis Novel   Bab 39

    Sorot mata Jennifer terlihat malas namun tetap tajam, menusuk tanpa emosi. Kata-katanya seperti pisau yang menusuk tepat di jantung Ratih dan Anna.Ketika Anna ingin menjawab, bibirnya sempat terbuka namun menutup lagi. Dia gemetar ketakutan saat bertatapan dengan Jennifer.Jennifer malah terkekeh pelan. "Padahal semua yang aku ucapin tadi itu fakta. Kalau Mama kamu ngerasa terhina, ya jangan salahin aku. Udah tahu perbuatannya hina kenapa masih dilakuin? Giliran kayak gini malah playing victim. Sok tersakiti, padahal dia pelakunya."Mikail mengertakkan rahang. Ratih menunduk makin dalam. Anna menggigit bibirnya, menahan air mata."Manusia-manusia kayak kalian ini... apa sih aku nyebutnya?" Jennifer mengetuk dahinya pura-pura berpikir. "Em, drama queen. Eh? Lumayan cocok, walaupun agak kebagusan sih menurutku."Jennifer tertawa ringan, sangat tidak kontras dengan wajah-wajah tegang di sekelilingnya."Berhenti, Kak," lirih Anna akhirnya, suaranya parau. "Apa selama ini Kak Jennifer bel

  • Terjebak Dalam Raga Antagonis Novel   Bab 38

    Mikail terdiam, namun urat-urat di lehernya menonjol menandakan bahwa pria itu sedang marah saat ini."JENNIFER!" Mikail menggebrak meja makan. Sorot matanya merah penuh murka. Perasaan bersalah yang tadi sempat muncul langsung lenyap tak bersisa. "Jaga bicaramu! Aku ini masih ayahmu!""Bukankah Papi yang bilang menyesal membesarkan aku? Kenapa sekarang terlihat marah saat aku bersikap seenaknya?"Ratih dan Anna sontak tersentak kaget mendengar jawaban Jennifer yang kelewat tidak sopan.Ratih menoleh pada Jennifer. "Jennifer, Tante minta maaf. Ini semua karena Tante yang minta Papi kamu untuk nggak kasih tahu soal pesta itu. Tante cuma nggak mau kamu makin terluka kalau kamu datang dan tahu pestanya digelar sekalian dengan ulang tahun pernikahan kami," jelasnya pelan.Jennifer tersenyum miring, sinis. "Ya, anggap saja aku paham sama penjelasan penuh kemunafikan itu."Mikail memukul meja lagi saking kesalnya. "Jennifer, cukup! Selama ini Ratih selalu memaafkan tingkah kamu. Selalu memb

  • Terjebak Dalam Raga Antagonis Novel   Bab 37

    Jennifer mengacak rambutnya dengan frustasi. Ada apa hari ini? Kenapa rasanya semuanya terasa sangat memusingkan? Semua itu dimulai dari kemunculan Gevan yang wajahnya sangat mirip dengan adik Siska dan tingkah Rafka yang membuatnya harus menarik napas panjang demi mengontrol emosi.Dia membuang napas kasar lalu memutar matanya, menatap ruangan dengan geram. Di atas meja, sebuah novel tergeletak seperti benda yang menantangnya. Jennifer melangkah cepat, mengambil novel itu, membuka halaman yang sudah dihafalnya sampai luar kepala.Dia baru saja kembali dari sekolah, seharian ini rasanya dia kehilangan tenaga padahal hanya duduk dan tidur di kelasnya.Dengan geram, dia memegang poin-poin novel Alur Abadi milik Siska. Matanya menyapu setiap kalimat yang ada di sana dengan cepat, serasa hendak mengupas tiap detail hingga ke tulang-tulangnya. Kepalanya berdenyut setiap kali membaca poin itu, kepalanya terasa makin sakit."Kenapa sih aku malah jadi sakit kepala setiap kali baca tentang nov

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status