LOGINSegerombolan siswa laki-laki masuk ke dalam kelas dan di antara mereka ada satu orang yang cukup menonjol. Jennifer tersenyum tipis, aura pemeran utama memang tidak bisa berbohong meski dia belum melihatnya secara langsung sebelumnya.
Rafka berjalan paling depan, wajahnya datar tanpa ekspresi, terkesan dingin dan mengagumkan, setiap langkahnya seolah mempunyai daya tarik tersendiri. Rafka duduk di belakangnya tanpa sedikit pun melirik Jennifer, seakan dirinya mendadak jadi makhluk tak kasat mata. "Hampir dua minggu nggak masuk, aku pikir kamu sudah mati." Jennifer yang sedang menunduk memainkan ponselnya perlahan mendongak dan menatap pemuda berpostur tinggi dengan rambut pirang sedikit berantakan yang tadi melontarkan kata-kata mengejek. Jennifer tahu siapa cowok ini, dia adalah Tobias Anderson, salah satu sahabat Rafka. Pemuda ini memang sangat-sangat tidak menyukai Jennifer. Bukan Tobi saja, mungkin semua teman Rafka tidak ada yang menyukainya karena sikapnya yang mengejar Rafka tanpa henti. Bagi mereka Rafka seperti ketua geng, jika ketua tidak menyukai sesuatu, anak buahnya pun otomatis mengikuti tingkahnya seperti sekarang. Jennifer menopang dagu dengan sebelah tangan. "Aku nggak tahu kamu seperhatian itu sama aku, sampai bisa tahu aku dua minggu nggak masuk," ucapnya tersenyum tipis. Tobi mendelik. "Ih, jangan berharap!" Jennifer mengedikkan bahunya cuek. "Kamu pikir cewek secantik aku mau mengharapkan cowok seperti kamu?" Pandangan mata Jennifer turun naik memperhatikan penampilan Tobi dengan tatapan meremehkan. Wajah Tobi memerah menahan kesal. "Omong-omong Tob, biasanya orang jahat matinya susah, jadi jangan terlalu berharap aku bakal cepat mati." Jennifer menyeringai kecil. Sedangkan Sinta tertawa ngakak sambil mengacungkan jempol pada sahabatnya. Tobi terdiam dengan ekspresi kaku. Dia melirik teman-temannya yang pasti mendengar jawaban itu. Rafka seperti biasa duduk cuek tidak peduli, sementara Alan dan Bayu malah tertawa kecil. Dia melempar tasnya ke meja seraya melirik sinis Jennifer yang kembali fokus pada ponselnya. Ada yang aneh hari ini. Seisi kelas pun merasakannya. Jennifer yang biasanya akan seperti lem yang menempel pada Rafka tiba-tiba menjadi gadis tenang. Bahkan selama jam kosong pun dia malah memilih tidur dibanding mengganggu Rafka seperti biasanya. Sinta selaku orang yang paling dekat dengan Jennifer pun merasa ada yang tidak beres. Ada apa dengan gadis itu? Baru saja Sinta ingin bertanya, tapi tidak jadi karena bel istirahat berbunyi. Nanti sajalah, dia sudah lapar. "Kantin, yuk," ajak Sinta. Jam yang ditunggu-tunggu Jennifer akhirnya datang juga. Istirahat berarti makan! Hal yang sangat dia sukai. Bahkan setelah pindah dunia pun hobi makannya sepertinya tidak berubah sama sekali. "Ayo!" sahut Jennifer semangat, gadis itu berjalan duluan ke luar kelas. Sinta terdiam sesaat menatap bingung ke arah pintu di mana Jennifer menghilang, lalu beralih pada Rafka yang sedang berbicara dengan Bayu. Sinta mengangkat bahu, tumben sekali Jennifer tidak merengek pada Rafka untuk ke kantin bersama. Keanehan kembali terjadi di kantin saat Jennifer duduk hanya berdua dengan Sinta, padahal biasanya gadis itu akan langsung duduk di tempat kelompok Rafka berkumpul walaupun kedatangannya tidak disukai mereka. Selain itu, Sinta tercengang melihat tumpukan makanan di meja mereka. Astaga! Matanya melotot ngeri melihat cara makan Jennifer yang tidak biasa. Sejak kapan gadis itu makan sebanyak ini? Ke mana perginya Jennifer yang anggun saat sedang makan? "Kamu baik-baik saja, kan, Jen?" tanya Sinta cemas, takut efek samping dari kecelakaan yang dialami Jennifer membuat otak gadis itu jadi berubah. Dahi Sinta mengerut, baru menyadari gaya berpakaian Jennifer tidak seperti biasanya. Tidak ada baju ketat dan rok super mini lagi. Riasan di wajahnya juga sangat natural, tidak mencolok namun menambah kecantikan gadis itu dua kali lipat. Jennifer mengangkat alisnya. "Kenapa? Aku baik-baik saja." "Kamu nggak kayak biasanya," ucap Sinta heran. Jennifer menghentikan kunyahannya, menatap Sinta rumit. Dia menghela napas pelan. Orang-orang mungkin akan menyadari perbedaannya, tapi mau bagaimana lagi, dia adalah Celia, bukan Jennifer. Walaupun tubuh ini milik Jennifer, tapi jiwanya adalah Celia. Mereka orang yang berbeda. Sulit untuk menghilangkan kebiasaan hidup sebagai Celia dan mengikuti gaya hidup Jennifer yang super centil dan manja. Lagi pula selama seminggu ini Jennifer sudah berpikir untuk mengubah alur cerita ini agar bisa memperoleh ending yang lebih baik untuk dirinya. Dia tidak mau mati bunuh diri karena depresi setelah diperkosa oleh para preman yang dikirimkan oleh lelaki pujaannya. Jennifer tidak mau menjadi tokoh dengan akhir tragis seperti di novel itu. Mengingat kematiannya yang menyedihkan saat ditolak mentah-mentah oleh Rafka yang sangat kejam. Dan juga kesal terhadap sahabatnya yang sudah membuat novel sampah seperti ini, sebab dialah dalang dari segala kemalangan hidupnya saat ini. "Dari tadi aku perhatikan, kamu sama sekali nggak melirik Rafka," Sinta kembali bersuara. "Seperti bukan kamu." Sejujurnya Jennifer memang menghindari pemuda itu, sebisa mungkin tidak saling berdekatan. Segala nasib buruk yang Jennifer alami dalam cerita novel tersebut salah satunya karena obsesinya terhadap Rafka. Menjauh dari cowok itu memang solusi terbaik. Namun, sepertinya tidak semudah yang dia bayangkan. Kecurigaan Sinta dan yang lainnya mungkin akan menjadi masalah. "Aku cuma mulai bosan saja mengejar dia terus, tapi nggak ada hasilnya." "Maksudnya?" tanya Sinta kurang paham. "Entahlah, aku capek saja bertahun-tahun mengejar Rafka, tapi dia nggak pernah melirik ke arah aku," ucap Jennifer dengan nada sendu. "Aku nggak paham, di antara banyaknya perempuan, kenapa harus pilih Anna? Orang yang paling aku benci, ternyata seniat itu dia untuk menyakiti aku," lanjutnya, sengaja berucap seperti itu agar Sinta mengerti bahwa Jennifer sudah menyerah untuk mendapatkan Rafka. "Jen..." Sinta menatap sahabatnya prihatin. "Kamu benar-benar harus bisa melupakan Rafka, dia nggak pantas untuk kamu." Jennifer mengangguk. "Aku juga sedang berusaha."Sudah seminggu Anna tidak masuk sekolah. Hari ini, akhirnya gadis itu kembali menginjakkan kaki di sekolah dengan kondisi yang jauh lebih baik. Hanya saja, bagian keningnya masih tertutup kasa dan plester yang menjadi bukti bahwa luka akibat kejadian sebelumnya belum sepenuhnya pulih."Lho, kok masuk, Anna? Memangnya sudah nggak apa-apa?" tanya salah satu teman sekelasnya.Beberapa siswa yang berada di dalam kelas pun ikut mengalihkan perhatian mereka kepada Anna.Anna tersenyum lembut. "Iya, aku hanya butuh banyak istirahat. Tapi, menurut dokter, kondisiku sudah cukup baik untuk kembali bersekolah."Tania, teman sekelas Anna, hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun, beberapa saat kemudian, gadis itu kembali membuka suara."Kak Jennifer nggak dikeluarkan, kamu pasti kecewa, kan?"Anna menundukkan kepalanya sejenak sebelum menggeleng pelan. "Aku nggak kecewa sama sekali. Justru aku merasa lega. Bagaimanapun juga, Kak Jennifer tetap saudara aku."Tania berdecak, seolah tidak habis p
Pagi hari pun tiba, Jennifer baru saja tiba di sekolah. Ia melihat tatapan mencemooh dan benci menyambut kedatangannya ke sekolah, pagi ini menjadi awal di mulainya drama yang di buat oleh Anna kemarin. "Tuh, udah aku bilang. Jennifer mana punya malu, dia kan urat malunya udah putus." Suara sindiran itu terdengar jelas di telinga Jennifer ketika dirinya baru saja memasuki kelas. "Biasalah dia punya orang dalam yang kuat, mana mungkin sekolah berani ngeluarin dia gitu aja." "Tapi skandal yang dia buat udah mencoreng nama baik sekolah ini, masa guru sama sekali nggak peduli?" Hampir semua mata yang ada di kelas menatap Jennifer mencemooh. Mereka merasa benar-benar geram pada pihak sekolah yang seakan tutup mata dengan kejadian kemarin, bahkan mereka masih membiarkan orang jahat seperti Jennifer masuk sekolah tanpa di kenai sangsi apa pun. Namun, Jennifer dengan wajah acuh tan acuh duduk di kursinya, lalu menyumpal kedua telinganya menggunakan earpods. Dalam situasi seperti ini,
Keesokan harinya, di ruangan serba putih dengan bau obat-obatan dan peralatan medis. Terlihat Anna sedang terbaring lemah di atas brankar dengan perban yang melilit bagian kepalanya. Bunyi jam mendominasi ruangan akibat keheningan yang terjadi di dalam ruangan tersebut, hingga suara langkah kaki terdengar mengisi keheningan ruangan."Gimana keadaan kamu, Na?" Wajah Anna sangat pucat dan terlihat tak berdaya membuat siapa pun yang melihatnya akan merasa kasihan termasuk cowok yang ada di ruangan itu. Dia sangat tidak tega melihat keadaan Anna saat ini."Sakit, tubuh aku sakit semua," rintih Anna, dadanya bergerak lambat menunjukan bahwa gadis itu bernapas tidak seperti biasanya."Kenapa Jennifer bisa lakuin hal gila kayak gini sama kamu?" Tanyanya dengan dahi berkerut halus.Annamenggeleng lemah, matanya berair penuh kesedihan. Ia menggerakan tangannya untuk menggenggam jemari cowok itu."Aku juga nggak tahu, Kak Jenni mendadak datang dan langsung maki-maki aku. Dia ngatain mama aku w
Jennifer duduk di hadapan Kakeknya. Dia tidak langsung pulang ke rumah karena saat di perjalanan dia mendapat telepon dari sang kakek untuk segera datang ke apartemen pria itu."Jen, Kakek mendapatkan kabar tentang kamu dari sekolah. Apakah itu benar?" tanya Frans."Tentang aku yang dorong Anna?" tanya Jennifer balik. "Itu gak benar. Aku memang ada di sana, tapi bukan aku yang dorong dia," jawabnya tanpa keraguan sedikit pun.Frans terlihat ragu, dia mengelus rambut Jennifer pelan. "Kamu tahu kan kalau Kakek sangat menyayangi kamu? Jika itu benar kamu, semua itu gak bakal mengurangi kasih sayang Kakek terhadap kamu, Jenni"Jennifer tersenyum tipis. "Aku memang benci sama Anna, tapi aku bukan orang bodoh yang melakukan kejahatan berat di tempat umum. Saat itu, aku cuma ada di sana, tapi bukan berarti aku yang dorong dia jatuh. Bahkan, sedikit pun aku gak nyentuh tubuh Anna," jelasnya, setiap kata yang dikeluarkan Jennifer membuat Frans terdiam dengan kening mengerut.Frans menghela nap
"Kalian berdua apa-apaan, bangsat!" Bayu berteriak kesal kepada Tobi dan Reno yang duduk di depannya dalam keadaan berantakan dan babak belur. "Tanya tuh si batu ngapain tiba-tiba nyerang aku! Jelas-jelas aku nggak bikin masalah sama dia," ujar Tobi sembari mengompres wajahnya menggunakan es batu. Tatapan Bayu mengarah kepada Reno yang terdiam dengan raut wajah datar. "Sumpah, Reno. Kamu kenapa sih? Jelasin sama kita kenapa kamu tiba-tiba mukul Tobi, hah?" Tidak ada jawaban dari Reno. "Reno," desak Bayu ketika melihat Reno hanya terdiam tanpa berniat menjelaskan kejadian tadi. "Ck, dulu kamu memang pendiam, tapi kenapa sekarang kamu malah makin mirip patung berjalan sih?" keluh Bayu. "Aku nggak suka sama apa yang kamu omongin tadi ke Jennifer," ucap Reno. Suaranya entah kenapa terdengar dingin, tidak seperti biasanya. Tobi langsung menoleh. "Apa yang salah? Dia memang sudah keterlaluan. Kamu lihat sendiri, kan, perbuatan dia sama Anna." Rahang Reno mengeras. "Bukan dia yang
Rafka bukan tidak bisa mempercayai Jennifer. Namun, melihat semua ini dan sikap gadis itu sebelumnya bukan hal mustahil jika Jennifer bisa melakukan semua itu kepada Anna. Terlebih hubungan kedua gadis itu sangat buruk. Jennifer sudah membantah dua kali bahwa bukan dirinya yang melakukan semua itu. Namun, Rafka, orang yang selalu mengatakan mencintai dirinya, terlihat jelas tidak mempercayainya. Jennifer tertawa hambar dalam hati, lalu ia menoleh ke arah Samuel yang diam di tempat. Ekspresi wajah pemuda itu tak berbeda jauh dengan Rafka, menyadari hal itu Jennifer hanya bisa tersenyum masam.'Bahkan tunanganku sendiri juga nggak percaya sama aku.' Batinnya miris. Ia tidak membutuhkan perlindungan dan cinta dari orang yang tidak mempercayainya, dan Samuel sepertinya akan menjadi orang kedua yang bernasib seperti Rafka. Jennifer membuang muka untuk menyingkirkan tangan Rafka dari bahunya. Ekspresinya masih terlihat datar. Meskipun dirinya saat ini menjadi sasaran cemoohan teman-tema
Celia memaksakan matanya yang terasa berat untuk terbuka. Perlahan dia mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya yang mulai masuk di sela-sela matanya. Setelah pandangannya sedikit jernih, Celia malah merasakan sakit menyerang kepalanya, pusing seperti ditusuk ribuan jarum di dalam kepala
"Celia!" Teriak seorang gadis di koridor sekolah menengah atas. Gadis berambut sepinggang itu menepuk pundak sahabatnya begitu tiba di dekat gadis bernama Celia tersebut. "Kemana aja sih? Aku cari dari tadi malah ketemu di sini." "Toilet, emang ada apa?" Celia merangkul bahu Siska, sahabatnya. "
"Jenni," Sinta tak bisa menutupi raut terkejutnya.Di antara banyak hal yang Sinta inginkan, salah satunya adalah ingin mendengar kalimat seperti ini dari sahabatnya. Dia tahu betapa Jennifer sangat mencintai Rafka selama ini, sangat sulit membuat Jennifer berhenti dan menyadari bahwa Rafka tidak a
Jennifer tertawa pelan bukan tawa bahagia, melainkan tawa dingin yang sarat ejekan. Sorot matanya menajam, menatap lurus ke arah Mikail tanpa sedikit pun gentar."Aku ulang ya, Pi," ucapnya pelan, namun setiap katanya terasa seperti tamparan. "Papi barusan nyalahin Mami aku yang sudah meninggal?"R







