LOGINCelia meringis, adegan jatuh dari tangga itu memang ada, tapi dia tidak menyangka malah dirinya yang bakal ada di tubuh Jennifer. Mengingat kejadian tersebut, berarti cerita ini belum berjalan jauh.
Cerita dimulai dari seorang lelaki bernama Rafka yang memiliki sifat dingin, tidak berperasaan, dan sulit ditebak. Rafka yang sudah muak dengan segala tingkah Jennifer yang terus mengejarnya tanpa henti, bahkan mengikutinya ke mana pun dia pergi, akhirnya bertemu dengan Anna adik tiri Jennifer. Jennifer mencintai Rafka sejak duduk di bangku SMA. Dia melakukan segala cara untuk membuat pemuda itu membalas cintanya meski harus bertindak bodoh dan tidak masuk akal, tapi semua usahanya sekalipun tidak pernah berhasil membuat Rafka menoleh padanya yang ada caci maki terus dia dengar dari pemuda itu. Rafka semakin menganggapnya menjijikkan seperti sampah. Sampai akhirnya, secara tidak sengaja Rafka menemukan rencana praktis untuk menjauhi Jennifer. Sedangkan Anna merupakan siswa pindahan yang cantik namun cukup pendiam. Awal mula pertemuan mereka saat Rafka menolong Anna yang saat itu tengah di-bully oleh Jennifer. Semua orang tahu Rafka sangat tidak pedulian terhadap apa pun, jadi tiba-tiba membantu Anna adalah hal yang sangat mengagetkan. Rafka tahu kalau Anna adalah orang yang sangat dibenci Jennifer. Maka dari itu, dia membuat kesepakatan dengan Anna untuk berpura-pura menjadi pacarnya agar bisa terhindar dari kejaran Jennifer dan gadis lainnya. Awalnya Anna sempat menolak, namun dengan segala ancaman akhirnya gadis itu menyetujui kesepakatan tersebut dan hubungan pura-pura mereka berjalan sesuai rencana. Kisah ini memang diawali dengan kepura-puraan, namun seiring berjalannya waktu mereka akhirnya saling jatuh cinta. Rafka yang seumur hidupnya tidak pernah mencintai siapa pun pada akhirnya bertekuk lutut kepada seorang Anna Delisa. Kisah yang cukup klise, namun menurut Celia ending-nya sangat mengejutkan. Mungkin kebanyakan orang menganggap ending cerita tersebut happy ending, tapi tidak untuknya. Akhir inilah yang ingin dia perdebatkan dengan sahabatnya saat itu, namun Celia malah mengalami nasib sial yang berujung terjebak dalam novel milik sahabatnya. "Jennifer! Jen!" Jennifer tersentak dari lamunan panjangnya. "Nih anak malah ngelamun," gerutu Sinta sebal karena Jennifer tidak memperhatikannya. "Sorry, aku cuma nggak fokus bentar." "Aku tahu kamu lagi frustrasi karena Rafka jadian sama Anna. Tapi please, jangan ngelakuin hal yang aneh-aneh, Jen. Apalagi sampai bunuh diri, amit-amit. Walaupun kamu ngeselinnya setengah mampus, tapi kamu tetap sahabat aku satu-satunya. Pokoknya aku nggak ikhlas kalau sampai kamu mati duluan sebelum aku." "Aku nggak segila itu," Jennifer tersenyum untuk pertama kalinya setelah sadar. "Kamu memang segila itu makanya aku khawatir. Tapi kamu tenang aja, aku bakal pastiin bantu kamu bu—" ucapan Sinta terhenti ketika menangkap raut wajah kebingungan dari sahabatnya. Dia kemudian mengikuti arah pandang Jennifer lalu mendengus dengan wajah masam. "Anna?" Celia jelas mendengar gumaman itu. Dia menatap lekat gadis yang berdiri di ambang pintu. Gadis yang terlihat gugup dan takut saat menatapnya. Jadi dia si tokoh utama wanita, Anna Delisa? Sesuai dengan bayangannya mengenai tokoh utama. Anna merupakan gadis cantik dengan struktur wajah halus, anggun, dan lembut. Sekali melihat saja orang pasti tahu siapa tokoh utamanya, Anna adalah gambaran wanita rapuh yang membuat siapa pun tergerak ingin melindungi ketika melihatnya. Definisi cantik itu bermuka dua. Pikir Celia. Gadis itu mendekat dengan mata berkaca-kaca, wajahnya yang putih bersih memerah menahan tangis. "Maafin aku," suaranya sangat halus. "Gara-gara aku, Kak Jenni jadi kayak gini, maafin aku, Kak. Aku, aku salah." Anna menundukkan kepala seraya terisak pelan. Sinta mendengus sebal, bukan iba dia malah muak melihat tingkah Anna saat ini. Sudah dibilang dia sangat membenci wajah-wajah polos seperti ini, karena menurutnya kerjaan gadis lemah seperti itu kalau tidak meminta perlindungan ya menangis menyebalkan seolah menjadi mahluk paling tersakiti di muka bumi. Di tengah suasana tegang, tiba-tiba dua orang memasuki ruangan, mereka adalah Mikail dan Ratih, ibu kandung Anna serta ayah kandung Jennifer. Sepasang suami istri itu kaget melihat putri mereka sedang menangis di depan Jennifer. Mikail dengan rahang mengeras menghampiri mereka. "Jenni, kamu melakukan apalagi sama adikmu sampai dia menangis hah?!" "Mas," Ratih di sampingnya berusaha menenangkan suaminya dengan mengelus lengan Mikail. "Dia sudah keterlaluan Ratih! Anak itu perlu di didik yang keras." Ujar Mikail. Celia mengernyit kemudian mendengus. Ah, dia sudah bilang di awal kalo dia sangat tidak menyukai karakter dua orang ini, manusia egois yang mengatasnamakan segalanya demi cinta tanpa memikirkan perasaan anaknya. "Kamu sudah kelewatan, Jen! Belum puas kamu menganiaya adikmu, ha? Papi kecewa sama kamu, kenapa kamu bisa berperilaku seperti binatang yang nggak punya akal?" Ucapan kemarahan yang keluar dari mulut Mikail membuat Jennifer meringis dan sedikit tidak terima. Di kehidupannya dulu dia tidak pernah dibentak atau diteriaki kasar seperti ini oleh keluarganya. "Binatang? Mending Papi ngaca deh dari mana perilaku ini muncul." Sahut Jennifer acuh. "Jennifer!" Bentakan kembali terdengar, namun Celia terlihat tak menghiraukannya. Sinta yang sedari tadi diam sejak kehadiran Anna, sangat tahu kalo Jennifer kini jelas-jelas disalahkan tanpa alasan jelas. Anna yang tiba-tiba datang lalu menangis seolah habis dianiaya dan sekarang Mikail malah menyalahkan Jennifer karena membuat putri mereka menangis, sangat tidak masuk akal seperti orang tak berpendidikan. "Om ini bukan salah Jennifer, Anna yang tiba-tiba datang terus nangis begitu padahal Jenni nggak ngapa-ngapain," seru Sinta berusaha membela sahabatnya. "Sinta, Om tahu kamu berusaha melindungi Jenni, tapi anak itu sudah keterlaluan. Kamu sebaiknya pulang, lagi pula ini urusan keluarga Om sebaiknya kamu nggak perlu ikut campur," sela Mikail tegas. Sinta ingin mengeluarkan suara, tapi bibirnya kembali tertaut ketika melihat gelengan samar dari Jennifer. Dengan berat hati Sinta keluar ruangan, sebelum keluar dia sempat melirik sinis ke arah Anna yang setia menunduk. Dalam hati Sinta menyumpahi supaya kepala gadis sok polos itu tidak bisa tegak kembali, sukur-sukur patah sekalian. "Papi, yang Kak Sinta bilang benar. Bukan Kak Jenni yang buat aku nangis, tapi..." Anna mengangkat kepalanya melihat Mikail dengan mata yang berkaca-kaca. "Aku ngerasa bersalah, Pi. Gara-gara aku..." Perkataan Anna kembali tersendat karena isak tangisnya kembali terdengar. Raut wajah tegas Mikail melembut melihat kesedihan putrinya. "Bukan salah kamu, kamu nggak salah. Papi yang salah karena nggak becus mendidik anak." "Mas," Ratih mengusap lembut lengan suaminya. "Kamu jangan terlalu keras sama Jenni, dia masih anak-anak." Mikail menoleh ke arah istrinya, "Kamu selalu membelanya. Itulah mengapa dia jadi besar kepala." "Mas, Jenni juga anak kita. Jangan begitu, kasihan dia." "Tapi dia sudah keterlaluan, tingkah Jenni sudah nggak tertolong. Dia selalu bikin masalah, dan mempermalukan keluarga." Mikail mengusap wajahnya frustrasi. "Entah dari mana datangnya sifat menyebalkan itu, mungkin dari mendiang istriku yang memiliki sifat jelek seperti itu." "Papi bilang apa?" Tanya Jennifer yang sejak tadi hanya menjadi pengamat. "Aku nggak salah dengar?"Mata Anna kembali berkaca-kaca. Wajahnya pucat pasi setelah mendengar bentakan dari Jennifer.Sementara itu, Gina semakin dibuat bingung ketika melihat ke arah Rafka yang sejak tadi hanya diam tanpa melakukan tindakan apa pun kepada Jennifer, padahal sudah jelas gadis itu baru saja melukai Anna, mantan kekasihnya."Kak Rafka, kenapa hanya diam? Anna baru saja dirundung oleh Kak Jennifer. Kenapa Kakak nggak melakukan apa pun?" tanya Gina.Pertanyaan itu membuat semua mata yang ada di sana langsung beralih kepada Rafka.Mereka merasa ada yang aneh.Rafka masih memasang wajah datar meskipun kondisi Anna terlihat sangat memprihatinkan. Para sahabatnya juga ikut memandangnya dengan penuh tanda tanya.Terutama Tobi yang baru menyadari bahwa Rafka sama sekali tidak melakukan apa pun terhadap Jennifer.Rafka mengembuskan napas panjang, kemudian dia melangkah mendekati mereka. Namun, bukan berhenti di depan Anna. Pemuda itu justru menghentikan langkahnya tepat di hadapan Jennifer yang berdiri
Dia kembali melangkah maju, tubuhnya menunjukkan tanda-tanda siap menyerang lagi. Beberapa siswa mencoba melerai. Namun mereka langsung terdiam ketika Rafka akhirnya bergerak.Sayangnya, bukan untuk menghentikan Jennifer. Rafka justru meraih bahu salah satu siswa yang hendak maju lalu menariknya mundur tanpa mengucapkan sepatah kata pun.Tatapannya tidak pernah lepas dari Jennifer. Seolah dia ingin melihat sampai di mana batas kemampuan gadis itu."Kak Jennifer, sudah!" Pekik Anna dari lantai sambil menahan rasa sakit. "Jangan sakiti Kak Tobi lagi, tolong..."Air mata kembali mengalir di pipinya. "Aku mohon..."Jennifer menghentikan langkahnya, dia menoleh perlahan ke arah Anna. Lalu tertawa pendek."Aku heran." Nada suaranya terdengar dingin. "Aku sudah memperlakukanmu buruk setiap hari menurut versimu, tetapi kamu masih saja membela orang lain."Jennifer memiringkan kepala. "Kamu pikir itu akan membuatku iba?"Anna menggigit bibirnya, tubuhnya sedikit gemetar. "Aku hanya nggak mau a
Jennifer mengangkat satu alis, tatapannya tetap tenang. "Aku jelas punya otak. Nggak kayak kamu yang kebodohannya bahkan mengalahkan ayam kampung."Wajah Tobi langsung memerah. "Katanya punya otak, tetapi tingkahmu lebih parah daripada pasien rumah sakit jiwa! Nggak waras!"Bayu yang berdiri di samping Tobi segera menepuk pundak sahabatnya itu. "Tenang, Bro."Dia berusaha menenangkan Tobi sebelum mengalihkan pandangan kepada Jennifer, Bayu mengembuskan napas panjang."Tapi kali ini kamu memang keterlaluan, Jen." Nada suaranya terdengar kecewa. "Kalau kamu terus memperlakukan Anna seperti ini, mentalnya bisa rusak."Jennifer memutar bola matanya malas. "Memang dari awal mentalnya sudah rusak, aku cuma menambahkan sedikit saja biar seimbang." "Astaga." Bayu memijat pelipisnya frustrasi.Dia benar-benar tidak tahu harus berkata apa lagi, siapa pun yang mendengar jawaban Jennifer pasti akan kesal. Bahkan sampai saat ini gadis itu masih terlihat sama sekali tidak merasa bersalah."Bahkan
Anna yang semula menundukkan kepala perlahan mengangkat wajahnya, senyum dingin langsung muncul di bibirnya."Jadi Kak Jennifer sudah tahu?" Wajah lugu yang selama ini selalu dia tunjukkan lenyap begitu saja. "Baguslah. Jadi aku tidak perlu berpura-pura baik lagi di depan iblis seperti Kakak."Jennifer memutar bola mata. Menurutnya, sebutan iblis jauh lebih cocok diberikan kepada Anna daripada dirinya.Anna memainkan rambutnya sambil menyunggingkan senyum sinis. "Aku benar-benar membenci Kak Jennifer. Semuanya pasti akan lebih baik tanpa Kakak. Terlebih lagi kalau Kakak nggak ada di dunia ini."Dia melangkah mendekat. "Kenapa Kakak nggak ikut mati saja bersama ibu kesayangan Kakak, hm?"Jennifer tidak menjawab. Dia hanya mengamati Anna yang terus berusaha memancing emosinya, dia tidak bodoh. Dan dia hanya menunggu waktu yang tepat."Kasihan sekali hidup Kakak." Anna kembali berbicara. "Bahkan papi menyesal memiliki anak seperti Kakak. Seharusnya Kak Jennifer sadar kalau benalu seperti
"Kenapa harus seperti ini, Raf?" Suara Jennifer terdengar lebih pelan. "Dulu aku sangat mencintaimu. Aku memberikan semua perhatianku untukmu. Tetapi apa yang kamu lakukan?"Dia tersenyum pahit. "Kamu terus mendorongku menjauh. Menghancurkan semua harapanku sedikit demi sedikit."Tatapan Jennifer perlahan meredup. "Belum cukup sampai di sana, kamu juga pernah mengatakan bahwa mustahil menjalin hubungan dengan orang yang paling kamu benci. Sekarang kamu datang dan mengatakan semua ini."Jennifer menggelengkan kepala. "Rafka, mungkin kamu sudah melupakan semua yang pernah terjadi. Tetapi aku masih mengingat semuanya."Setiap penolakan, setiap hinaan, setiap luka. Semuanya masih tersimpan jelas dalam ingatannya.Rafka menatap Jennifer dengan sorot mata penuh penyesalan. "Jennifer...""Aku akan mengatakan hal yang dulu pernah kamu katakan kepadaku." Jennifer memotong ucapannya. Tatapannya lurus menembus mata Rafka. "Kalau memang kamu benar-benar menyukaiku, hilangkan perasaan itu."Rafka
"Untuk apa kamu meminta Jennifer membalas pesanmu?" sungut Sinta tidak suka."Bukan urusanmu." Rafka menjawab tanpa ekspresi."Jelas urusanku! Jennifer sahabatku, dan kamu sumber sebagian besar masalah yang pernah dia alami. Aku nggak mau Jennifer terluka lagi hanya karena ulahmu."Jennifer mengembuskan napas panjang. Lalu, secara tiba-tiba dia berdiri dari kursinya. "Aku ingin berbicara berdua denganmu."Tatapannya tertuju langsung kepada Rafka. Suasana meja seketika menjadi hening, Jennifer tidak menunggu jawaban. Dia langsung berbalik dan berjalan keluar kantin.Rafka menatap punggung gadis itu selama beberapa saat sebelum akhirnya bangkit dan mengikuti langkahnya dengan tenang.Samuel yang sejak tadi hanya mengamati perlahan mengangkat sudut bibirnya. "Menarik, apa kali ini dia serius?"Tobi masih melongo memperhatikan kedua orang itu yang semakin menjauh."Kenapa aku merasa mereka seperti memiliki sesuatu yang..." Dia menggaruk kepalanya bingung. "Entahlah, seperti ada percikan."
Di lantai dansa, Jennifer meletakkan lengan kirinya di pundak Gevan. Dia bisa merasakan tangan kanan Gevan membalas memegang pinggangnya, sementara tangan yang lain menggenggam lembut tangan kanannya. Mereka saling menatap dalam diam sebelum menggerakkan kaki secara perlahan mengikuti alunan musik.
Bukankah Jennifer yang selalu berusaha mendapatkan perhatian pemuda itu? Namun yang dia lihat sekarang justru kebalikannya. Seolah-olah Rafka tidak ingin Jennifer berada terlalu jauh darinya. Sementara Jennifer sendiri tampak ingin memukulnya kapan saja."Rafka, kamu benar-benar keterlaluan!" desis
Sebuah ballroom megah yang berada di salah satu hotel berbintang telah dipenuhi dekorasi mewah bernuansa putih. Lampu kristal yang menggantung di langit-langit memancarkan cahaya hangat, memantul pada lantai marmer yang mengilap dan menciptakan kesan elegan yang memukau.Satu per satu tamu undangan
Samuel menatap layar ponselnya yang sudah gelap, dia masih tidak menyangka jika Jennifer baru saja menghubunginya hanya karena rumor yang beredar. Sejauh ini, gadis itu selalu mengabaikan panggilan darinya tapi tadi gadis itu bahkan meminta bantuannya. Seulas senyum tipis muncul di bibir Samuel, t







