Share

Bab 4

Author: Zeya
last update publish date: 2026-03-31 13:52:00

Celia meringis, adegan jatuh dari tangga itu memang ada, tapi dia tidak menyangka malah dirinya yang bakal ada di tubuh Jennifer. Mengingat kejadian tersebut, berarti cerita ini belum berjalan jauh.

Cerita dimulai dari seorang lelaki bernama Rafka yang memiliki sifat dingin, tidak berperasaan, dan sulit ditebak. Rafka yang sudah muak dengan segala tingkah Jennifer yang terus mengejarnya tanpa henti, bahkan mengikutinya ke mana pun dia pergi, akhirnya bertemu dengan Anna adik tiri Jennifer.

Jennifer mencintai Rafka sejak duduk di bangku SMA. Dia melakukan segala cara untuk membuat pemuda itu membalas cintanya meski harus bertindak bodoh dan tidak masuk akal, tapi semua usahanya sekalipun tidak pernah berhasil membuat Rafka menoleh padanya yang ada caci maki terus dia dengar dari pemuda itu.

Rafka semakin menganggapnya menjijikkan seperti sampah. Sampai akhirnya, secara tidak sengaja Rafka menemukan rencana praktis untuk menjauhi Jennifer.

Sedangkan Anna merupakan siswa pindahan yang cantik namun cukup pendiam. Awal mula pertemuan mereka saat Rafka menolong Anna yang saat itu tengah di-bully oleh Jennifer.

Semua orang tahu Rafka sangat tidak pedulian terhadap apa pun, jadi tiba-tiba membantu Anna adalah hal yang sangat mengagetkan. Rafka tahu kalau Anna adalah orang yang sangat dibenci Jennifer.

Maka dari itu, dia membuat kesepakatan dengan Anna untuk berpura-pura menjadi pacarnya agar bisa terhindar dari kejaran Jennifer dan gadis lainnya. Awalnya Anna sempat menolak, namun dengan segala ancaman akhirnya gadis itu menyetujui kesepakatan tersebut dan hubungan pura-pura mereka berjalan sesuai rencana.

Kisah ini memang diawali dengan kepura-puraan, namun seiring berjalannya waktu mereka akhirnya saling jatuh cinta. Rafka yang seumur hidupnya tidak pernah mencintai siapa pun pada akhirnya bertekuk lutut kepada seorang Anna Delisa.

Kisah yang cukup klise, namun menurut Celia ending-nya sangat mengejutkan. Mungkin kebanyakan orang menganggap ending cerita tersebut happy ending, tapi tidak untuknya. Akhir inilah yang ingin dia perdebatkan dengan sahabatnya saat itu, namun Celia malah mengalami nasib sial yang berujung terjebak dalam novel milik sahabatnya.

"Jennifer! Jen!" Jennifer tersentak dari lamunan panjangnya.

"Nih anak malah ngelamun," gerutu Sinta sebal karena Jennifer tidak memperhatikannya.

"Sorry, aku cuma nggak fokus bentar."

"Aku tahu kamu lagi frustrasi karena Rafka jadian sama Anna. Tapi please, jangan ngelakuin hal yang aneh-aneh, Jen. Apalagi sampai bunuh diri, amit-amit. Walaupun kamu ngeselinnya setengah mampus, tapi kamu tetap sahabat aku satu-satunya. Pokoknya aku nggak ikhlas kalau sampai kamu mati duluan sebelum aku."

"Aku nggak segila itu," Jennifer tersenyum untuk pertama kalinya setelah sadar.

"Kamu memang segila itu makanya aku khawatir. Tapi kamu tenang aja, aku bakal pastiin bantu kamu bu—" ucapan Sinta terhenti ketika menangkap raut wajah kebingungan dari sahabatnya.

Dia kemudian mengikuti arah pandang Jennifer lalu mendengus dengan wajah masam. "Anna?"

Celia jelas mendengar gumaman itu. Dia menatap lekat gadis yang berdiri di ambang pintu. Gadis yang terlihat gugup dan takut saat menatapnya.

Jadi dia si tokoh utama wanita, Anna Delisa?

Sesuai dengan bayangannya mengenai tokoh utama. Anna merupakan gadis cantik dengan struktur wajah halus, anggun, dan lembut. Sekali melihat saja orang pasti tahu siapa tokoh utamanya, Anna adalah gambaran wanita rapuh yang membuat siapa pun tergerak ingin melindungi ketika melihatnya.

Definisi cantik itu bermuka dua. Pikir Celia.

Gadis itu mendekat dengan mata berkaca-kaca, wajahnya yang putih bersih memerah menahan tangis.

"Maafin aku," suaranya sangat halus. "Gara-gara aku, Kak Jenni jadi kayak gini, maafin aku, Kak. Aku, aku salah."

Anna menundukkan kepala seraya terisak pelan. Sinta mendengus sebal, bukan iba dia malah muak melihat tingkah Anna saat ini.

Sudah dibilang dia sangat membenci wajah-wajah polos seperti ini, karena menurutnya kerjaan gadis lemah seperti itu kalau tidak meminta perlindungan ya menangis menyebalkan seolah menjadi mahluk paling tersakiti di muka bumi.

Di tengah suasana tegang, tiba-tiba dua orang memasuki ruangan, mereka adalah Mikail dan Ratih, ibu kandung Anna serta ayah kandung Jennifer. Sepasang suami istri itu kaget melihat putri mereka sedang menangis di depan Jennifer.

Mikail dengan rahang mengeras menghampiri mereka. "Jenni, kamu melakukan apalagi sama adikmu sampai dia menangis hah?!"

"Mas," Ratih di sampingnya berusaha menenangkan suaminya dengan mengelus lengan Mikail.

"Dia sudah keterlaluan Ratih! Anak itu perlu di didik yang keras." Ujar Mikail.

Celia mengernyit kemudian mendengus. Ah, dia sudah bilang di awal kalo dia sangat tidak menyukai karakter dua orang ini, manusia egois yang mengatasnamakan segalanya demi cinta tanpa memikirkan perasaan anaknya.

"Kamu sudah kelewatan, Jen! Belum puas kamu menganiaya adikmu, ha? Papi kecewa sama kamu, kenapa kamu bisa berperilaku seperti binatang yang nggak punya akal?"

Ucapan kemarahan yang keluar dari mulut Mikail membuat Jennifer meringis dan sedikit tidak terima. Di kehidupannya dulu dia tidak pernah dibentak atau diteriaki kasar seperti ini oleh keluarganya.

"Binatang? Mending Papi ngaca deh dari mana perilaku ini muncul." Sahut Jennifer acuh.

"Jennifer!" Bentakan kembali terdengar, namun Celia terlihat tak menghiraukannya.

Sinta yang sedari tadi diam sejak kehadiran Anna, sangat tahu kalo Jennifer kini jelas-jelas disalahkan tanpa alasan jelas. Anna yang tiba-tiba datang lalu menangis seolah habis dianiaya dan sekarang Mikail malah menyalahkan Jennifer karena membuat putri mereka menangis, sangat tidak masuk akal seperti orang tak berpendidikan.

"Om ini bukan salah Jennifer, Anna yang tiba-tiba datang terus nangis begitu padahal Jenni nggak ngapa-ngapain," seru Sinta berusaha membela sahabatnya.

"Sinta, Om tahu kamu berusaha melindungi Jenni, tapi anak itu sudah keterlaluan. Kamu sebaiknya pulang, lagi pula ini urusan keluarga Om sebaiknya kamu nggak perlu ikut campur," sela Mikail tegas.

Sinta ingin mengeluarkan suara, tapi bibirnya kembali tertaut ketika melihat gelengan samar dari Jennifer. Dengan berat hati Sinta keluar ruangan, sebelum keluar dia sempat melirik sinis ke arah Anna yang setia menunduk. Dalam hati Sinta menyumpahi supaya kepala gadis sok polos itu tidak bisa tegak kembali, sukur-sukur patah sekalian.

"Papi, yang Kak Sinta bilang benar. Bukan Kak Jenni yang buat aku nangis, tapi..." Anna mengangkat kepalanya melihat Mikail dengan mata yang berkaca-kaca. "Aku ngerasa bersalah, Pi. Gara-gara aku..."

Perkataan Anna kembali tersendat karena isak tangisnya kembali terdengar.

Raut wajah tegas Mikail melembut melihat kesedihan putrinya. "Bukan salah kamu, kamu nggak salah. Papi yang salah karena nggak becus mendidik anak."

"Mas," Ratih mengusap lembut lengan suaminya. "Kamu jangan terlalu keras sama Jenni, dia masih anak-anak."

Mikail menoleh ke arah istrinya, "Kamu selalu membelanya. Itulah mengapa dia jadi besar kepala."

"Mas, Jenni juga anak kita. Jangan begitu, kasihan dia."

"Tapi dia sudah keterlaluan, tingkah Jenni sudah nggak tertolong. Dia selalu bikin masalah, dan mempermalukan keluarga." Mikail mengusap wajahnya frustrasi. "Entah dari mana datangnya sifat menyebalkan itu, mungkin dari mendiang istriku yang memiliki sifat jelek seperti itu."

"Papi bilang apa?" Tanya Jennifer yang sejak tadi hanya menjadi pengamat. "Aku nggak salah dengar?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terjebak Dalam Raga Antagonis Novel   Bab 105

    Sudah seminggu Anna tidak masuk sekolah. Hari ini, akhirnya gadis itu kembali menginjakkan kaki di sekolah dengan kondisi yang jauh lebih baik. Hanya saja, bagian keningnya masih tertutup kasa dan plester yang menjadi bukti bahwa luka akibat kejadian sebelumnya belum sepenuhnya pulih."Lho, kok masuk, Anna? Memangnya sudah nggak apa-apa?" tanya salah satu teman sekelasnya.Beberapa siswa yang berada di dalam kelas pun ikut mengalihkan perhatian mereka kepada Anna.Anna tersenyum lembut. "Iya, aku hanya butuh banyak istirahat. Tapi, menurut dokter, kondisiku sudah cukup baik untuk kembali bersekolah."Tania, teman sekelas Anna, hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun, beberapa saat kemudian, gadis itu kembali membuka suara."Kak Jennifer nggak dikeluarkan, kamu pasti kecewa, kan?"Anna menundukkan kepalanya sejenak sebelum menggeleng pelan. "Aku nggak kecewa sama sekali. Justru aku merasa lega. Bagaimanapun juga, Kak Jennifer tetap saudara aku."Tania berdecak, seolah tidak habis p

  • Terjebak Dalam Raga Antagonis Novel   Bab 104

    Pagi hari pun tiba, Jennifer baru saja tiba di sekolah. Ia melihat tatapan mencemooh dan benci menyambut kedatangannya ke sekolah, pagi ini menjadi awal di mulainya drama yang di buat oleh Anna kemarin. "Tuh, udah aku bilang. Jennifer mana punya malu, dia kan urat malunya udah putus." Suara sindiran itu terdengar jelas di telinga Jennifer ketika dirinya baru saja memasuki kelas. "Biasalah dia punya orang dalam yang kuat, mana mungkin sekolah berani ngeluarin dia gitu aja." "Tapi skandal yang dia buat udah mencoreng nama baik sekolah ini, masa guru sama sekali nggak peduli?" Hampir semua mata yang ada di kelas menatap Jennifer mencemooh. Mereka merasa benar-benar geram pada pihak sekolah yang seakan tutup mata dengan kejadian kemarin, bahkan mereka masih membiarkan orang jahat seperti Jennifer masuk sekolah tanpa di kenai sangsi apa pun. Namun, Jennifer dengan wajah acuh tan acuh duduk di kursinya, lalu menyumpal kedua telinganya menggunakan earpods. Dalam situasi seperti ini,

  • Terjebak Dalam Raga Antagonis Novel   Bab 103

    Keesokan harinya, di ruangan serba putih dengan bau obat-obatan dan peralatan medis. Terlihat Anna sedang terbaring lemah di atas brankar dengan perban yang melilit bagian kepalanya. Bunyi jam mendominasi ruangan akibat keheningan yang terjadi di dalam ruangan tersebut, hingga suara langkah kaki terdengar mengisi keheningan ruangan."Gimana keadaan kamu, Na?" Wajah Anna sangat pucat dan terlihat tak berdaya membuat siapa pun yang melihatnya akan merasa kasihan termasuk cowok yang ada di ruangan itu. Dia sangat tidak tega melihat keadaan Anna saat ini."Sakit, tubuh aku sakit semua," rintih Anna, dadanya bergerak lambat menunjukan bahwa gadis itu bernapas tidak seperti biasanya."Kenapa Jennifer bisa lakuin hal gila kayak gini sama kamu?" Tanyanya dengan dahi berkerut halus.Annamenggeleng lemah, matanya berair penuh kesedihan. Ia menggerakan tangannya untuk menggenggam jemari cowok itu."Aku juga nggak tahu, Kak Jenni mendadak datang dan langsung maki-maki aku. Dia ngatain mama aku w

  • Terjebak Dalam Raga Antagonis Novel   Bab 102

    Jennifer duduk di hadapan Kakeknya. Dia tidak langsung pulang ke rumah karena saat di perjalanan dia mendapat telepon dari sang kakek untuk segera datang ke apartemen pria itu."Jen, Kakek mendapatkan kabar tentang kamu dari sekolah. Apakah itu benar?" tanya Frans."Tentang aku yang dorong Anna?" tanya Jennifer balik. "Itu gak benar. Aku memang ada di sana, tapi bukan aku yang dorong dia," jawabnya tanpa keraguan sedikit pun.Frans terlihat ragu, dia mengelus rambut Jennifer pelan. "Kamu tahu kan kalau Kakek sangat menyayangi kamu? Jika itu benar kamu, semua itu gak bakal mengurangi kasih sayang Kakek terhadap kamu, Jenni"Jennifer tersenyum tipis. "Aku memang benci sama Anna, tapi aku bukan orang bodoh yang melakukan kejahatan berat di tempat umum. Saat itu, aku cuma ada di sana, tapi bukan berarti aku yang dorong dia jatuh. Bahkan, sedikit pun aku gak nyentuh tubuh Anna," jelasnya, setiap kata yang dikeluarkan Jennifer membuat Frans terdiam dengan kening mengerut.Frans menghela nap

  • Terjebak Dalam Raga Antagonis Novel   Bab 101

    "Kalian berdua apa-apaan, bangsat!" Bayu berteriak kesal kepada Tobi dan Reno yang duduk di depannya dalam keadaan berantakan dan babak belur. "Tanya tuh si batu ngapain tiba-tiba nyerang aku! Jelas-jelas aku nggak bikin masalah sama dia," ujar Tobi sembari mengompres wajahnya menggunakan es batu. Tatapan Bayu mengarah kepada Reno yang terdiam dengan raut wajah datar. "Sumpah, Reno. Kamu kenapa sih? Jelasin sama kita kenapa kamu tiba-tiba mukul Tobi, hah?" Tidak ada jawaban dari Reno. "Reno," desak Bayu ketika melihat Reno hanya terdiam tanpa berniat menjelaskan kejadian tadi. "Ck, dulu kamu memang pendiam, tapi kenapa sekarang kamu malah makin mirip patung berjalan sih?" keluh Bayu. "Aku nggak suka sama apa yang kamu omongin tadi ke Jennifer," ucap Reno. Suaranya entah kenapa terdengar dingin, tidak seperti biasanya. Tobi langsung menoleh. "Apa yang salah? Dia memang sudah keterlaluan. Kamu lihat sendiri, kan, perbuatan dia sama Anna." Rahang Reno mengeras. "Bukan dia yang

  • Terjebak Dalam Raga Antagonis Novel   Bab 100

    Rafka bukan tidak bisa mempercayai Jennifer. Namun, melihat semua ini dan sikap gadis itu sebelumnya bukan hal mustahil jika Jennifer bisa melakukan semua itu kepada Anna. Terlebih hubungan kedua gadis itu sangat buruk. Jennifer sudah membantah dua kali bahwa bukan dirinya yang melakukan semua itu. Namun, Rafka, orang yang selalu mengatakan mencintai dirinya, terlihat jelas tidak mempercayainya. Jennifer tertawa hambar dalam hati, lalu ia menoleh ke arah Samuel yang diam di tempat. Ekspresi wajah pemuda itu tak berbeda jauh dengan Rafka, menyadari hal itu Jennifer hanya bisa tersenyum masam.'Bahkan tunanganku sendiri juga nggak percaya sama aku.' Batinnya miris. Ia tidak membutuhkan perlindungan dan cinta dari orang yang tidak mempercayainya, dan Samuel sepertinya akan menjadi orang kedua yang bernasib seperti Rafka. Jennifer membuang muka untuk menyingkirkan tangan Rafka dari bahunya. Ekspresinya masih terlihat datar. Meskipun dirinya saat ini menjadi sasaran cemoohan teman-tema

  • Terjebak Dalam Raga Antagonis Novel   Bab 3

    Jennifer berharap wanita itu akan menatapnya dengan wajah kebingungan karena dia salah menyebutkan nama. Namun..."Iya, Non?"What the fuck!Jennifer memejamkan mata dengan bibir menipis, napasnya naik turun. Bagaimana bisa? Ini sangat tidak masuk akal dan sulit dipercaya. Apakah dia benar-benar ma

  • Terjebak Dalam Raga Antagonis Novel   Bab 7

    "Jenni," Sinta tak bisa menutupi raut terkejutnya.Di antara banyak hal yang Sinta inginkan, salah satunya adalah ingin mendengar kalimat seperti ini dari sahabatnya. Dia tahu betapa Jennifer sangat mencintai Rafka selama ini, sangat sulit membuat Jennifer berhenti dan menyadari bahwa Rafka tidak a

  • Terjebak Dalam Raga Antagonis Novel   Bab 2

    Celia memaksakan matanya yang terasa berat untuk terbuka. Perlahan dia mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya yang mulai masuk di sela-sela matanya. Setelah pandangannya sedikit jernih, Celia malah merasakan sakit menyerang kepalanya, pusing seperti ditusuk ribuan jarum di dalam kepala

  • Terjebak Dalam Raga Antagonis Novel   Bab 1

    "Celia!" Teriak seorang gadis di koridor sekolah menengah atas. Gadis berambut sepinggang itu menepuk pundak sahabatnya begitu tiba di dekat gadis bernama Celia tersebut. "Kemana aja sih? Aku cari dari tadi malah ketemu di sini." "Toilet, emang ada apa?" Celia merangkul bahu Siska, sahabatnya. "

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status