Share

Bab 5

Author: Zeya
last update publish date: 2026-04-01 14:37:56

Jennifer tertawa pelan bukan tawa bahagia, melainkan tawa dingin yang sarat ejekan. Sorot matanya menajam, menatap lurus ke arah Mikail tanpa sedikit pun gentar.

"Aku ulang ya, Pi," ucapnya pelan, namun setiap katanya terasa seperti tamparan. "Papi barusan nyalahin Mami aku yang sudah meninggal?"

Ruangan itu mendadak sunyi. Bahkan isak tangis Anna seolah meredup, tergantikan oleh ketegangan yang menyesakkan.

Mikail mengeraskan rahangnya. "Jangan memelintir ucapan Papi."

"Oh, jadi aku yang salah dengar?" Jennifer mengangguk pelan, seolah memahami sesuatu. "Atau memang Papi nggak pernah merasa bersalah sedikit pun sudah berbicara seperti itu?"

"Jennifer, jaga bicaramu!" bentak Mikail.

Namun kali ini Jennifer tidak menggubris. Tidak ada rasa takut. Tidak ada rasa tersinggung seperti sebelumnya. Yang ada hanyalah tatapan dingin yang perlahan berubah menjadi penuh perlawanan.

"Aku jaga bicara?" ulangnya lirih. "Lucu banget. Dari tadi Papi yang nyerang aku tanpa bukti, terus sekarang aku yang disuruh jaga bicara?"

Ratih tampak gelisah. Dia melangkah mendekat, mencoba meredakan suasana. "Jenni, sudah... jangan dibesar-besarkan."

Jennifer melirik sekilas ke arah Ratih, lalu tersenyum tipis senyum yang sama sekali tidak hangat.

"Sejak kapan aku membesar-besarkan sesuatu yang memang sudah jelas?" ucapnya datar.

Anna kembali terisak, seolah tersudut oleh situasi yang mulai berbalik arah. "Kak Jenni... aku nggak maksud bikin semuanya jadi seperti ini..."

Jennifer menoleh perlahan. Tatapannya jatuh tepat ke wajah Anna yang penuh air mata.

"Kalau nggak maksud, kenapa kamu selalu datang dengan wajah kayak gitu?" potong Jennifer tanpa ragu. "Nangis, menunduk, terus bikin semua orang mikir aku yang salah. Kamu mau percaya omong kosong itu?"

Anna terdiam. Bibirnya bergetar, namun tidak ada kata yang keluar.

"Jennifer!" Mikail melangkah maju, wajahnya memerah menahan amarah. "Jangan sembarangan menuduh adikmu!"

"Adik?" Jennifer terkekeh pelan. "Papi, aku sama sekali nggak pernah menganggap dia adik atau pun bagian dari keluargaku."

Tamparan keras mendarat di pipi Jennifer, suara itu menggema di dalam ruangan.

Kepala Jennifer sedikit terhuyung ke samping, namun dia tidak jatuh. Perlahan, dia mengangkat wajahnya kembali. Bekas merah mulai terlihat di pipinya, tapi anehnya… dia justru tersenyum.

"Aku pusing, kalau kalian masih mau berdebat silakan keluar," ucap Jennifer letih mendengar drama keluarga ini.

Mikail semakin tersulut mendengar ucapan tidak sopan putrinya. "Jennifer!"

"Apa?" Jennifer menyaut santai tanpa emosi. "Ada yang salah? Aku pasien, dibawa ke rumah sakit supaya sembuh bukan malah stres denger drama kalian. Yang satu datang terus nangis gak jelas, yang satunya lagi tiba-tiba marah bikin pusing tau gak. Kalau kalian datang cuman buat aku tambah pusing, aku benar-benar gak butuh kedatangan kalian."

Mata Mikail berkilat mendengar rentetan kalimat kurang ajar putrinya. Dia ingin memarahi, namun terhalang oleh istrinya.

"Mas, benar apa kata Jenni, sebaiknya kita keluar. Biarkan dia istirahat. Kamu juga butuh meredakan amarah, gak baik berbicara saat sedang dikuasai amarah."

Mikail menarik napas lalu keluar kamar dengan ekspresi kaku.

"Sebaiknya kamu juga istirahat." Usai mengatakan itu Ratih dan Anna keluar kamar menyusul Damian.

Jennifer melihat pintu yang kini sudah tertutup, kamar yang tadinya ramai mendadak sepi, tapi sangat melegakan untuknya.

Dia membuang napas kasar. Apakah dirinya akan sanggup menerima takdirnya sebagai Jennifer, gadis yang hidupnya penuh kesengsaraan sekaligus antagonis yang di benci banyak orang.

***

Sudah seminggu sejak kepulangannya dari rumah sakit, kondisinya sudah sangat membaik dan hari ini hari pertama dia kembali kuliah sebagai Jennifer Aldridge. Cukup menyebalkan karena dia harus kembali menjadi mahasiswa tingkat awal.

Dulu dia adalah seorang mahasiswi hukum semester lima. Otaknya yang biasanya dipenuhi dengan pasal-pasal sekarang harus kembali mengulang pelajaran dari nol.

Ah, sungguh membuang-buang waktu. Setelah selesai berpakaian Jennifer melangkah menuruni tangga untuk sarapan. Di sana sudah ada Mikail, Ratih, dan Anna yang sedang makan sambil berbincang hangat.

"Jenni, ayo sarapan dulu. Mama masak nasi goreng kesukaan kamu," tawar Ratih tersenyum hangat.

Jennifer tidak menyahut dengan santai menarik kursi lalu mengambil roti dan mengoleskan selai cokelat di atas roti itu. Dia memang tidak terlalu suka sarapan pagi dengan nasi, dia lebih suka makanan yang tidak terlalu berat karena setiap istirahat dia selalu memesan makanan dalam porsi banyak.

"Jenni!" Bentak Mikail.

"Mas, nggak apa-apa." Suara Mikail terhenti karena melihat gelengan istrinya.

Dia melihat Jennifer yang tetap makan dengan santai seolah tidak melakukan kesalahan apa pun, kemudian barulah berpaling melihat istrinya.

Melihat Jennifer bahkan gadis itu sama sekali tidak meliriknya. Mikail tidak habis pikir dengan perilaku putrinya, hampir setiap hari gadis itu selalu membuatnya marah.

"Jenni, kamu berangkat sama Pak supir, biar Anna yang bareng Papi," ucap Mikail.

Dia memang sengaja tidak menyatukan mereka karena tidak mau ada hal buruk di perjalanan.

Jennifer mengambil tisu mengelap bibirnya. Dia mendongak melihat Mikail. Tersenyum tipis, tanpa mengucapkan apa pun dia berdiri dari kursi dan berjalan dengan santai ke luar rumah.

Semakin lama hidup di dunia ini dia semakin menyadari mengapa Jennifer bisa menjadi manusia penuh kebencian. Segala tingkah laku orang-orang di sekitarnya tanpa sadar memang menyakitinya. Tidak terlalu jelas memang, tapi berjejak telak pada hatinya.

Di perjalanan menuju kampus Jennifer membuka ponsel yang baru dia temui semalam di nakas samping tempat tidur. Jennifer membuka setiap chat yang kebanyakan dari grup kelas dan Sinta. Kemudian membuka chat yang bertuliskan nama Rafka dengan emoji hati di belakang namanya.

Jennifer mendengus, dari hampir puluhan bahkan ratusan chat tidak ada yang dibalas bahkan dibaca pun tidak. Bahkan chat terakhir pun hanya bertanda centang satu yang berarti diblokir.

Jennifer menghapus semua chat itu sekalian memorinya, tidak penting untuk disimpan. Dia kemudian membuka galeri dan menemukan sebuah folder dengan nama Rafka.

Gadis itu membuka folder tersebut dan kembali meringis melihat isinya terdapat banyak sekali foto lelaki yang di foto secara diam-diam. Jennifer menghapus folder itu tanpa beban, kemudian kembali mengunci ponselnya ketika mobil mulai memasuki gerbang kampus yang bertuliskan University Bintang.

Jennifer turun setelah sopir yang mengantarnya membukakan pintu mobil. Dia menarik napas pelan menengadahkan pandangannya pada gedung kampus tersebut. Saat ini yang Jennifer bingungkan adalah keberadaan kelasnya, di dalam novel itu dituliskan bahwa dia sekelas dengan Rafka dan Sinta tapi dia tidak tahu di lantai berapa kelasnya. Ingin bertanya, tapi takut menimbulkan kecurigaan.

Beberapa saat kemudian dia akhirnya mendesah lega ketika melihat ada Sinta di ujung koridor sedang melambaikan tangan padanya, segera Jennifer menghampiri gadis itu dan langsung merangkulnya.

"Aku kira kamu masih betah di rumah," ucap Sinta, mereka berjalan beriringan menuju kelas sambil berbincang ringan.

"Nggak lah, males banget ketemu sama orang-orang hobi ngomel."

"Benar juga sih."

Bukan tidak menyadari ketika pertama kali menginjakkan kaki di kampus ini, beberapa kali dia menangkap pandangan takut dan segan di sekelilingnya, bahkan Jennifer melihat tidak hanya sekali siswa yang memilih putar arah daripada berpapasan dengannya.

Tokoh Jennifer memang terkenal dengan julukan iblis berparas malaikat. Mempunyai wajah cantik, tapi tidak dengan hati dan kelakuannya.

Sampai di kelas, Jennifer duduk di bangku paling pojok. Di belakangnya ada satu bangku kosong yang dia tidak tahu siapa pemiliknya sementara di sebelah.

"Males banget ngulang pelajaran mulu," gumamnya jenuh. "Kapan lulusnya kalo kayak gini."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terjebak Dalam Raga Antagonis Novel   Bab 101

    "Kalian berdua apa-apaan, bangsat!" Bayu berteriak kesal kepada Tobi dan Reno yang duduk di depannya dalam keadaan berantakan dan babak belur. "Tanya tuh si batu ngapain tiba-tiba nyerang aku! Jelas-jelas aku nggak bikin masalah sama dia," ujar Tobi sembari mengompres wajahnya menggunakan es batu. Tatapan Bayu mengarah kepada Reno yang terdiam dengan raut wajah datar. "Sumpah, Reno. Kamu kenapa sih? Jelasin sama kita kenapa kamu tiba-tiba mukul Tobi, hah?" Tidak ada jawaban dari Reno. "Reno," desak Bayu ketika melihat Reno hanya terdiam tanpa berniat menjelaskan kejadian tadi. "Ck, dulu kamu memang pendiam, tapi kenapa sekarang kamu malah makin mirip patung berjalan sih?" keluh Bayu. "Aku nggak suka sama apa yang kamu omongin tadi ke Jennifer," ucap Reno. Suaranya entah kenapa terdengar dingin, tidak seperti biasanya. Tobi langsung menoleh. "Apa yang salah? Dia memang sudah keterlaluan. Kamu lihat sendiri, kan, perbuatan dia sama Anna." Rahang Reno mengeras. "Bukan dia yang

  • Terjebak Dalam Raga Antagonis Novel   Bab 100

    Rafka bukan tidak bisa mempercayai Jennifer. Namun, melihat semua ini dan sikap gadis itu sebelumnya bukan hal mustahil jika Jennifer bisa melakukan semua itu kepada Anna. Terlebih hubungan kedua gadis itu sangat buruk. Jennifer sudah membantah dua kali bahwa bukan dirinya yang melakukan semua itu. Namun, Rafka, orang yang selalu mengatakan mencintai dirinya, terlihat jelas tidak mempercayainya. Jennifer tertawa hambar dalam hati, lalu ia menoleh ke arah Samuel yang diam di tempat. Ekspresi wajah pemuda itu tak berbeda jauh dengan Rafka, menyadari hal itu Jennifer hanya bisa tersenyum masam.'Bahkan tunanganku sendiri juga nggak percaya sama aku.' Batinnya miris. Ia tidak membutuhkan perlindungan dan cinta dari orang yang tidak mempercayainya, dan Samuel sepertinya akan menjadi orang kedua yang bernasib seperti Rafka. Jennifer membuang muka untuk menyingkirkan tangan Rafka dari bahunya. Ekspresinya masih terlihat datar. Meskipun dirinya saat ini menjadi sasaran cemoohan teman-tema

  • Terjebak Dalam Raga Antagonis Novel   Bab 99

    Kenapa orang-orang itu sangat menyedihkan? Mereka rela melakukan berbagai macam cara, bahkan sampai mempertaruhkan nyawanya sendiri hanya untuk hal-hal yang pada akhirnya merugikan diri sendiri. Mereka tidak pernah tahu seberapa berharga sebuah kehidupan yang saat ini sedang mereka perjuangkan. Harta, cinta, dan perhatian tidak ada gunanya lagi jika kehidupan sudah berakhir. Melihat Anna yang rela mempertaruhkan dirinya sendiri hanya untuk membuat Jennifer dibenci oleh semua orang benar-benar sangat miris. Bukan miris untuknya, melainkan miris dengan jalan yang dipilih gadis itu. Gadis itu pasti berpikir dibenci oleh semua orang akan membuat Jennifer hancur? Sayangnya tidak. Dirinya bukan lagi Jennifer yang dulu. Jika sekarang ia dibenci, itu terserah mereka karena tidak akan ada untungnya juga bagi kehidupannya. Sejak awal, tokoh Jennifer sudah dibenci. Selain Sinta, tidak ada yang benar-benar menemaninya. Jika kali ini ia kembali dibenci atau mungkin akan benar-benar sendiria

  • Terjebak Dalam Raga Antagonis Novel   Bab 98

    Acara tadi malam cukup memuaskan bagi Jennifer. Melihat Ratih, Mikail, dan juga Anna dalam keadaan tidak berdaya seperti semalam adalah kepuasan tersendiri baginya. Ia tidak peduli jika orang-orang menganggap dirinya jahat, karena dirinya adalah karakter antagonis yang berperan membuat sang tokoh utama kesulitan. Apa salahnya menunjukan sifat yang tegas? lagi pula, mereka adalah orang-orang yang tidak akan menurut meski dirinya bersikap baik jadi percuma jika ia hanya diam dan menerima tindakan ketiga orang tersebut. Sikap dan sifat ketiga orang itu sudah membuat Jennifer tidak bisa lagi mentoleransinya sebagai pembaca. Dulu, saat membaca novel itu, ia memang membenci tingkah Jennifer Angelina yang terbilang memalukan dan menyebalkan. Namun, setelah ia merasakan sendiri peran tersebut, ternyata ada alasan khusus mengapa Jennifer berubah menjadi tukang bully. "Kakak sudah puas sekarang?" Jennifer yang sedang menaiki anak tangga menuju kelasnya seketika terkejut dengan kemunculan

  • Terjebak Dalam Raga Antagonis Novel   Bab 97

    Mikail menggeram marah, sorot matanya menyimpan kebencian yang begitu besar pada putri sulungnya itu."Jaga ucapanmu, Jennifer! pantas kamu bicara seperti itu pada ayahmu sendiri, ha?!" bentak Mikail."Pantas saja, karena aku bicara dengan fakta. Kalo Papi merasa terganggu berarti itu nyata." Jennifer mengambil kue red velvet yang ada di depannya. Ekor matanya melirik ke arah Ratih dan Anna yang masih menangis. Jennifer menggelengkan kepalanya pelan. Apakah mereka tidak lelah selalu menangis di setiap situasi? Ia yang melihat saja sudah lelah sendiri. 'Kalau aku seperti mereka, mungkin stok air mata aku untuk sepuluh tahun ke depan sudah kering,' batinnya sambil terkekeh geli. Jacob berdiri dari posisi duduknya. Ia sama sekali tidak menengahi perdebatan antara Mikail dan Jennifer, pria itu memasang ekspresi datar tanpa adanya rasa bersalah sedikit pun kepada Ratih, Anna, bahkan putranya sendiri, Mikail. "Pembicaraan kita selesai sampai di sini." Ia berniat pergi, tetapi urung

  • Terjebak Dalam Raga Antagonis Novel   Bab 96

    Mikail mengepalkan kedua tangannya lalu berkata, "Ratih punya alasan sendiri kenapa dia ninggalin aku dulu, Yah! Aku sudah menjelaskannya berkali-kali." "Mas, sabar." Ratih memegang tangan Mikail dengan lembut, mencoba menenangkannya. "Jangan marah-marah sama Ayah." "Kamu nggak mengerti, Ayah sudah termakan hasutan Jennifer yang membencimu." Jacob mendengus jengkel. "Jangan salahkan Jennifer dalam pembicaraan ini. Justru kamu yang perlu di salahkan, Mikail." "Ayah selalu saja membela anak itu, padahal Ratih sudah berbaik hati merawatnya." "Itu pemikiranmu sendiri, dan Ayah sama sekali nggak peduli dengan alasan Ratih meninggalkanmu. Apa pun alasan di baliknya, dia tetaplah wanita perebut laki orang dan kamu pria paling brengsek yang sialnya menjadi anakku!" Di bawah meja restoran, tanpa ada yang melihat, kedua tangan Ratih sudah mengepal erat hingga buku-bukunya memutih. Matanya memang berkaca-kaca dan terlihat sendu, tetapi tidak dengan hatinya yang panas mendengar se

  • Terjebak Dalam Raga Antagonis Novel   Bab 7

    "Jenni," Sinta tak bisa menutupi raut terkejutnya.Di antara banyak hal yang Sinta inginkan, salah satunya adalah ingin mendengar kalimat seperti ini dari sahabatnya. Dia tahu betapa Jennifer sangat mencintai Rafka selama ini, sangat sulit membuat Jennifer berhenti dan menyadari bahwa Rafka tidak a

  • Terjebak Dalam Raga Antagonis Novel   Bab 6

    Segerombolan siswa laki-laki masuk ke dalam kelas dan di antara mereka ada satu orang yang cukup menonjol. Jennifer tersenyum tipis, aura pemeran utama memang tidak bisa berbohong meski dia belum melihatnya secara langsung sebelumnya.Rafka berjalan paling depan, wajahnya datar tanpa ekspresi, terk

  • Terjebak Dalam Raga Antagonis Novel   Bab 4

    Celia meringis, adegan jatuh dari tangga itu memang ada, tapi dia tidak menyangka malah dirinya yang bakal ada di tubuh Jennifer. Mengingat kejadian tersebut, berarti cerita ini belum berjalan jauh.Cerita dimulai dari seorang lelaki bernama Rafka yang memiliki sifat dingin, tidak berperasaan, dan

  • Terjebak Dalam Raga Antagonis Novel   Bab 3

    Jennifer berharap wanita itu akan menatapnya dengan wajah kebingungan karena dia salah menyebutkan nama. Namun..."Iya, Non?"What the fuck!Jennifer memejamkan mata dengan bibir menipis, napasnya naik turun. Bagaimana bisa? Ini sangat tidak masuk akal dan sulit dipercaya. Apakah dia benar-benar ma

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status