LOGINJennifer tertawa pelan bukan tawa bahagia, melainkan tawa dingin yang sarat ejekan. Sorot matanya menajam, menatap lurus ke arah Mikail tanpa sedikit pun gentar.
"Aku ulang ya, Pi," ucapnya pelan, namun setiap katanya terasa seperti tamparan. "Papi barusan nyalahin Mami aku yang sudah meninggal?" Ruangan itu mendadak sunyi. Bahkan isak tangis Anna seolah meredup, tergantikan oleh ketegangan yang menyesakkan. Mikail mengeraskan rahangnya. "Jangan memelintir ucapan Papi." "Oh, jadi aku yang salah dengar?" Jennifer mengangguk pelan, seolah memahami sesuatu. "Atau memang Papi nggak pernah merasa bersalah sedikit pun sudah berbicara seperti itu?" "Jennifer, jaga bicaramu!" bentak Mikail. Namun kali ini Jennifer tidak menggubris. Tidak ada rasa takut. Tidak ada rasa tersinggung seperti sebelumnya. Yang ada hanyalah tatapan dingin yang perlahan berubah menjadi penuh perlawanan. "Aku jaga bicara?" ulangnya lirih. "Lucu banget. Dari tadi Papi yang nyerang aku tanpa bukti, terus sekarang aku yang disuruh jaga bicara?" Ratih tampak gelisah. Dia melangkah mendekat, mencoba meredakan suasana. "Jenni, sudah... jangan dibesar-besarkan." Jennifer melirik sekilas ke arah Ratih, lalu tersenyum tipis senyum yang sama sekali tidak hangat. "Sejak kapan aku membesar-besarkan sesuatu yang memang sudah jelas?" ucapnya datar. Anna kembali terisak, seolah tersudut oleh situasi yang mulai berbalik arah. "Kak Jenni... aku nggak maksud bikin semuanya jadi seperti ini..." Jennifer menoleh perlahan. Tatapannya jatuh tepat ke wajah Anna yang penuh air mata. "Kalau nggak maksud, kenapa kamu selalu datang dengan wajah kayak gitu?" potong Jennifer tanpa ragu. "Nangis, menunduk, terus bikin semua orang mikir aku yang salah. Kamu mau percaya omong kosong itu?" Anna terdiam. Bibirnya bergetar, namun tidak ada kata yang keluar. "Jennifer!" Mikail melangkah maju, wajahnya memerah menahan amarah. "Jangan sembarangan menuduh adikmu!" "Adik?" Jennifer terkekeh pelan. "Papi, aku sama sekali nggak pernah menganggap dia adik atau pun bagian dari keluargaku." Tamparan keras mendarat di pipi Jennifer, suara itu menggema di dalam ruangan. Kepala Jennifer sedikit terhuyung ke samping, namun dia tidak jatuh. Perlahan, dia mengangkat wajahnya kembali. Bekas merah mulai terlihat di pipinya, tapi anehnya… dia justru tersenyum. "Aku pusing, kalau kalian masih mau berdebat silakan keluar," ucap Jennifer letih mendengar drama keluarga ini. Mikail semakin tersulut mendengar ucapan tidak sopan putrinya. "Jennifer!" "Apa?" Jennifer menyaut santai tanpa emosi. "Ada yang salah? Aku pasien, dibawa ke rumah sakit supaya sembuh bukan malah stres denger drama kalian. Yang satu datang terus nangis gak jelas, yang satunya lagi tiba-tiba marah bikin pusing tau gak. Kalau kalian datang cuman buat aku tambah pusing, aku benar-benar gak butuh kedatangan kalian." Mata Mikail berkilat mendengar rentetan kalimat kurang ajar putrinya. Dia ingin memarahi, namun terhalang oleh istrinya. "Mas, benar apa kata Jenni, sebaiknya kita keluar. Biarkan dia istirahat. Kamu juga butuh meredakan amarah, gak baik berbicara saat sedang dikuasai amarah." Mikail menarik napas lalu keluar kamar dengan ekspresi kaku. "Sebaiknya kamu juga istirahat." Usai mengatakan itu Ratih dan Anna keluar kamar menyusul Damian. Jennifer melihat pintu yang kini sudah tertutup, kamar yang tadinya ramai mendadak sepi, tapi sangat melegakan untuknya. Dia membuang napas kasar. Apakah dirinya akan sanggup menerima takdirnya sebagai Jennifer, gadis yang hidupnya penuh kesengsaraan sekaligus antagonis yang di benci banyak orang. *** Sudah seminggu sejak kepulangannya dari rumah sakit, kondisinya sudah sangat membaik dan hari ini hari pertama dia kembali kuliah sebagai Jennifer Aldridge. Cukup menyebalkan karena dia harus kembali menjadi mahasiswa tingkat awal. Dulu dia adalah seorang mahasiswi hukum semester lima. Otaknya yang biasanya dipenuhi dengan pasal-pasal sekarang harus kembali mengulang pelajaran dari nol. Ah, sungguh membuang-buang waktu. Setelah selesai berpakaian Jennifer melangkah menuruni tangga untuk sarapan. Di sana sudah ada Mikail, Ratih, dan Anna yang sedang makan sambil berbincang hangat. "Jenni, ayo sarapan dulu. Mama masak nasi goreng kesukaan kamu," tawar Ratih tersenyum hangat. Jennifer tidak menyahut dengan santai menarik kursi lalu mengambil roti dan mengoleskan selai cokelat di atas roti itu. Dia memang tidak terlalu suka sarapan pagi dengan nasi, dia lebih suka makanan yang tidak terlalu berat karena setiap istirahat dia selalu memesan makanan dalam porsi banyak. "Jenni!" Bentak Mikail. "Mas, nggak apa-apa." Suara Mikail terhenti karena melihat gelengan istrinya. Dia melihat Jennifer yang tetap makan dengan santai seolah tidak melakukan kesalahan apa pun, kemudian barulah berpaling melihat istrinya. Melihat Jennifer bahkan gadis itu sama sekali tidak meliriknya. Mikail tidak habis pikir dengan perilaku putrinya, hampir setiap hari gadis itu selalu membuatnya marah. "Jenni, kamu berangkat sama Pak supir, biar Anna yang bareng Papi," ucap Mikail. Dia memang sengaja tidak menyatukan mereka karena tidak mau ada hal buruk di perjalanan. Jennifer mengambil tisu mengelap bibirnya. Dia mendongak melihat Mikail. Tersenyum tipis, tanpa mengucapkan apa pun dia berdiri dari kursi dan berjalan dengan santai ke luar rumah. Semakin lama hidup di dunia ini dia semakin menyadari mengapa Jennifer bisa menjadi manusia penuh kebencian. Segala tingkah laku orang-orang di sekitarnya tanpa sadar memang menyakitinya. Tidak terlalu jelas memang, tapi berjejak telak pada hatinya. Di perjalanan menuju kampus Jennifer membuka ponsel yang baru dia temui semalam di nakas samping tempat tidur. Jennifer membuka setiap chat yang kebanyakan dari grup kelas dan Sinta. Kemudian membuka chat yang bertuliskan nama Rafka dengan emoji hati di belakang namanya. Jennifer mendengus, dari hampir puluhan bahkan ratusan chat tidak ada yang dibalas bahkan dibaca pun tidak. Bahkan chat terakhir pun hanya bertanda centang satu yang berarti diblokir. Jennifer menghapus semua chat itu sekalian memorinya, tidak penting untuk disimpan. Dia kemudian membuka galeri dan menemukan sebuah folder dengan nama Rafka. Gadis itu membuka folder tersebut dan kembali meringis melihat isinya terdapat banyak sekali foto lelaki yang di foto secara diam-diam. Jennifer menghapus folder itu tanpa beban, kemudian kembali mengunci ponselnya ketika mobil mulai memasuki gerbang kampus yang bertuliskan University Bintang. Jennifer turun setelah sopir yang mengantarnya membukakan pintu mobil. Dia menarik napas pelan menengadahkan pandangannya pada gedung kampus tersebut. Saat ini yang Jennifer bingungkan adalah keberadaan kelasnya, di dalam novel itu dituliskan bahwa dia sekelas dengan Rafka dan Sinta tapi dia tidak tahu di lantai berapa kelasnya. Ingin bertanya, tapi takut menimbulkan kecurigaan. Beberapa saat kemudian dia akhirnya mendesah lega ketika melihat ada Sinta di ujung koridor sedang melambaikan tangan padanya, segera Jennifer menghampiri gadis itu dan langsung merangkulnya. "Aku kira kamu masih betah di rumah," ucap Sinta, mereka berjalan beriringan menuju kelas sambil berbincang ringan. "Nggak lah, males banget ketemu sama orang-orang hobi ngomel." "Benar juga sih." Bukan tidak menyadari ketika pertama kali menginjakkan kaki di kampus ini, beberapa kali dia menangkap pandangan takut dan segan di sekelilingnya, bahkan Jennifer melihat tidak hanya sekali siswa yang memilih putar arah daripada berpapasan dengannya. Tokoh Jennifer memang terkenal dengan julukan iblis berparas malaikat. Mempunyai wajah cantik, tapi tidak dengan hati dan kelakuannya. Sampai di kelas, Jennifer duduk di bangku paling pojok. Di belakangnya ada satu bangku kosong yang dia tidak tahu siapa pemiliknya sementara di sebelah. "Males banget ngulang pelajaran mulu," gumamnya jenuh. "Kapan lulusnya kalo kayak gini.""Udah, Tob. Nanti dia mati beneran bisa repot kita," tegur Bayu khawatir.Namun Tobi justru menjawab, "Memang itu tujuanku!"Tobi benar-benar telah diliputi amarah. Namun, Bayu segera menahannya sebelum emosinya kembali meledak."Tob, dia juga sudah tepar. Aku jamin dia nggak bakal sadar selama seminggu. Lebih baik sekarang kamu lihat Sinta. Sepertinya dia syok berat."Tobi menghentikan pukulannya setelah mendengar nama Sinta. Kepalanya segera menoleh ke belakang.Dadanya seketika terasa sesak ketika melihat gadis itu duduk bersandar pada dinding dengan wajah pucat dan tatapan kosong. Tubuhnya terlihat gemetar, seolah pikirannya masih terjebak dalam kejadian yang baru saja dialaminya."Sin..." Suara Tobi tercekat saat panggilan itu lolos dari bibirnya.Sudah begitu lama ia tidak memanggil Sinta dengan panggilan tersebut. Anehnya, hanya dengan mengucapkannya, rasa rindu yang selama ini ia pendam kembali membanjiri hatinya.Tobi segera menghampiri Sinta. "Kamu jangan takut. Ada aku di s
Mata Rafka berkilat dingin mendengar ucapan Tobi yang terdengar menyindirnya."Maksud kamu apa?""Ya, maksud aku, kamu bisa-bisanya putus sama Anna yang begitu baik cuma demi orang seperti Jennifer. Kita semua tahu sejahat apa dia selama i— Ah!"Tobi meringis ketika kakinya tiba-tiba ditendang Bayu."Bangsat!" Tobi menatap sinis ke arah sahabatnya. "Sakit tahu, kamu pikir kakiku batu?" Bayu melotot tajam kepada Tobi, memberi isyarat agar sahabatnya itu berhenti bicara."Perbuatan kamu kemarin masih belum bisa aku terima, Tobi. Sebaiknya tutup mulut kamu sekarang. Jangan memancing emosi yang sedang susah payah aku tahan!" desis Rafka sambil menatap tajam.Rafka menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan dengan suara tegas."Kamu harus tahu. Orang yang aku suka, sekalipun dia adalah orang paling jahat di dunia, aku sama sekali nggak peduli. Aku akan tetap menyukainya dan aku nggak membutuhkan persetujuan siapa pun, termasuk komentar dari kamu."Bayu hanya meringis, sedangkan Tobi te
Jennifer menarik napas panjang saat Rafka kembali membawanya ke gudang sekolah. Tempat itu seketika membangkitkan kenangan beberapa waktu lalu, ketika ia meninju pemuda itu karena perkataannya yang egois dan menyakitkan."Kenapa sih kamu selalu memaksa orang seperti ini, Raf? Kamu pikir aku nggak jenuh?" sindir Jennifer tajam.Rafka menatap Jennifer tanpa berkedip. Kedua tangannya mengepal kuat di sisi tubuh hingga urat-urat di punggung tangannya terlihat jelas. Ia berusaha mati-matian menahan amarah yang terus mendidih di dalam dada."Sekali lagi aku tanya, siapa yang bikin kamu luka kayak gini?" suaranya terdengar berat.Jennifer membalas tatapannya dengan dingin. "Aku sudah bilang, luka ini nggak ada urusannya sama kamu."Bugh!Tinju Rafka menghantam dinding tepat di samping kepala Jennifer. Benturan keras itu membuat gadis tersebut terlonjak kaget."Kamu ngapain, sih, Raf?" tanya Jennifer dengan kening berkerut.Alih-alih menjawab, Rafka justru menatapnya dengan sorot mata yang di
Jennifer menghela napas panjang melihat Samuel yang tampak gelisah. Ia tersenyum tipis. "Aku baik-baik saja, Sam. Kamu nggak perlu mencemask—" Perkataan Jennifer terhenti ketika Samuel tiba-tiba menarik pinggangnya dan memeluknya erat. Jennifer tertegun saat merasakan embusan napas pemuda itu di sela-sela rambutnya. "Jennifer, aku nggak bisa tenang melihatmu terluka seperti ini," bisik Samuel lirih. Keheningan menyelimuti mereka berdua. Beberapa saat kemudian, Jennifer perlahan melingkarkan kedua tangannya di pinggang Samuel, membalas pelukan itu. Jennifer merasa seolah telah menemukan tempat untuk pulang. Entah mengapa, setiap berada di dekat Samuel, ia selalu merasa nyaman dan tenang. "Terima kasih... sudah mengkhawatirkanku," bisik Jennifer. Samuel mempererat pelukannya. "Aku nggak tahu kenapa, tapi aku sangat menyayangimu," bisiknya. Jennifer tidak menjawab. Ia tidak tahu harus mengatakan apa karena belum pernah ada seseorang yang mengungkapkan perasaan seperti itu kepadany
Ratih mendorong pintu kamarnya, ia masuk dan melihat sang suami sedang duduk di tepi ranjang sambil memijit pelipisnya. Wanita itu mendekat dan berdiri di depan sang suami. "Mas, ini nggak bisa di biarin lagi!" Ujarnya sambil berkacak pinggang. Mikail mendongak. "Aku tahu, tapi aku nggak bisa berbuat apa-apa, Ratih. Anak itu memegang kunci utama dari kekayaan aku." "Pokoknya aku nggak mau tahu. Kamu harus bisa nyingkirin anak itu. Masa kamu kalah sama anak kecil, sih?" Raut wajah Mikail seketika menggelap, pria itu berdiri lalu berjalan menuju jendela di kamarnya. Ia menatap jalanan depan rumahnya yang sepi, kejadian tadi masih sangat membekas dan membuatnya terkejut karena Jennifer tiba-tiba memanggil Jacob ke rumah tanpa sepengetahuannya."Bukan kalah, Ratih. Kamu tahu sendiri anak itu lebih licik dari yang aku kira," kata Mikail. "Entah dari siapa sifat itu menurun."Ratih mendengus jengkel, ia menyusul suaminya dan berdiri di sebelah pria itu. "Ini semua salah kamu! Andai dulu
"Brengsek!" umpat Jacob murka.Setelah mengumpati putranya, Jacob dengan bantuan tongkat yang ada di tangannya langsung menghampiri Jennifer yang masih duduk di lantai. Rahangnya mengeras melihat kondisi cucunya, wajah Jennifer memerah dan terlihat jelas bekas tamparan di sana, belum lagi sudut bibirnya yang mengeluarkan darah. Yang membuat pria tua itu semakin ngeri adalah tatapan lelah cucunya dan juga air mata yang bercucuran di sana."K-Kakek," bibir Jennifer melengkung ke bawah, bahunya terguncang diiringi dengan suara isakan tangis yang terdengar memilukan. "Mereka j-jahat, Kek. Papi menyesal punya anak kayak aku, apa lebih baik aku mati aja ikut Mami? Nggak ada yang menginginkan aku di sini, aku ng—""Sttt," Jacob menarik tubuh cucunya ke dalam pelukannya. "Kamu nggak boleh berbicara seperti itu lagi, jangan dengarkan omongan lelaki sialan itu. Kamu masih punya Kakek yang selalu menyayangi serta menginginkan kamu untuk tumbuh dan hidup bahagia.""Yah, Ayah salah paham. Aku ngg
Segerombolan siswa laki-laki masuk ke dalam kelas dan di antara mereka ada satu orang yang cukup menonjol. Jennifer tersenyum tipis, aura pemeran utama memang tidak bisa berbohong meski dia belum melihatnya secara langsung sebelumnya.Rafka berjalan paling depan, wajahnya datar tanpa ekspresi, terk
Celia meringis, adegan jatuh dari tangga itu memang ada, tapi dia tidak menyangka malah dirinya yang bakal ada di tubuh Jennifer. Mengingat kejadian tersebut, berarti cerita ini belum berjalan jauh.Cerita dimulai dari seorang lelaki bernama Rafka yang memiliki sifat dingin, tidak berperasaan, dan
Jennifer berharap wanita itu akan menatapnya dengan wajah kebingungan karena dia salah menyebutkan nama. Namun..."Iya, Non?"What the fuck!Jennifer memejamkan mata dengan bibir menipis, napasnya naik turun. Bagaimana bisa? Ini sangat tidak masuk akal dan sulit dipercaya. Apakah dia benar-benar ma
Celia memaksakan matanya yang terasa berat untuk terbuka. Perlahan dia mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya yang mulai masuk di sela-sela matanya. Setelah pandangannya sedikit jernih, Celia malah merasakan sakit menyerang kepalanya, pusing seperti ditusuk ribuan jarum di dalam kepala







