LOGINPagi itu, Valeria bangun dengan satu keputusan yang sudah tidak bisa ditunda lagi.Ia akan pergi.Bukan untuk sementara.Bukan untuk menenangkan diri lalu kembali.Kali ini ia benar-benar meninggalkan mansion keluarga Gerald.Beberapa minggu terakhir telah membuat semuanya semakin jelas baginya. Pernikahan yang sejak awal dibangun atas kepentingan bisnis itu tidak pernah berubah menjadi rumah tangga yang sesungguhnya.Jason bahkan sejak awal sudah membuat batas yang tegas.Mereka menikah karena kepentingan masing-masing.Tidak ada tuntutan untuk saling mencintai.Tidak ada hak untuk mencampuri kehidupan pribadi.Tidak ada alasan bagi salah satu dari mereka untuk berharap lebih. Dan selama pernikahan itu berlangsung, Jason pun tidak pernah benar-benar memperlakukannya sebagai seorang istri.Mereka tinggal di bawah satu atap, tetapi hidup seperti dua orang asing.Jason tidak pernah berusaha membangun kedekatan dengannya. Tidak pernah memberinya kehidupan sebagai pasangan. Bahkan setelah
Beberapa hari terakhir membuat Valeria semakin sibuk.Pagi dihabiskannya di kantor. Siang dipenuhi urusan pekerjaan yang sengaja ia tambah sendiri agar punya alasan untuk tidak terlalu lama berada di mansion. Malam menjadi satu-satunya waktu ketika ia bisa benar-benar mengurus rencananya.Dan rencana itu kini sudah jauh lebih matang.Kota yang ia pilih sudah pasti.Sebuah kota yang cukup berkembang, tetapi tidak terlalu ramai. Jaraknya jauh dari keluarga Gerald, namun masih memiliki fasilitas yang ia butuhkan untuk memulai hidup baru.Ia bahkan sudah menemukan sebuah rumah sederhana yang bisa disewa.Bukan rumah besar seperti mansion.Hanya bangunan dua lantai dengan halaman kecil dan satu ruangan di bagian depan yang bisa digunakan untuk membuka usaha.Valeria menyukai tempat itu.Bukan karena mewah.Justru karena tidak ada satu pun bagian dari rumah tersebut yang mengingatkannya pada kehidupan sekarang.Ia bisa masuk ke sana sebagai Valeria.Bukan sebagai istri Jason atau sebagai ba
Beberapa hari berlalu setelah pertengkaran malam itu.Mansion kembali tenang, setidaknya dari luar.Jason tidak lagi mendatangi kamar Valeria untuk mencari masalah. Ia juga tidak berusaha mengorek ke mana Valeria pergi atau dengan siapa perempuan itu menghabiskan waktunya akhir-akhir ini.Seolah pertengkaran mereka tidak pernah terjadi.Valeria justru memanfaatkan keadaan itu.Setiap pagi ia berangkat bekerja seperti biasa. Ia pulang menjelang malam, makan seperlunya, lalu menghabiskan sebagian besar waktunya di kamar.Di depan semua orang, rutinitasnya terlihat normal.Padahal hampir setiap malam, setelah pintu kamar terkunci, Valeria membuka laptop dan kembali mengurus satu hal yang sudah beberapa minggu memenuhi pikirannya.Kepergian.Ia tidak mencari tempat yang terlalu jauh dari peradaban.Kota kecil membuatnya khawatir. Jika ia membuka usaha di sana, orang-orang akan cepat mengenal wajahnya. Sementara kota besar justru terlalu mahal dan terlalu sibuk untuk memulai kehidupan deng
Valeria terbangun karena cahaya tipis yang menyelinap dari sela tirai.Ia membuka mata perlahan.Beberapa detik pertama, ia tidak menyadari apa yang berbeda.Sampai pandangannya bergeser ke samping.Teo.Valeria langsung menahan napas.Ia masih berada di kamar Teo.Ingatan malam tadi datang seperti potongan-potongan gambar yang tidak ingin ia lihat. Percakapan panjang mereka. Tangisnya. Cara Teo menenangkannya. Dan keputusan yang mereka ambil ketika keduanya sama-sama kehilangan kemampuan untuk berpikir jernih.Valeria menutup wajah dengan kedua tangan.“Ya Tuhaan.”Ia melihat jam di meja samping ranjang.03.11. Masih dini hari.Setidaknya belum ada siapa pun yang bangun. Valeria segera duduk.Ia menatap Teo yang masih tertidur. Wajah pria itu terlihat tenang, sama sekali tidak menunjukkan kekacauan yang sedang terjadi di dalam kepalanya.Valeria turun dari ranjang dengan hati-hati. Satu langkah.Dua langkah.Tangannya sudah menyentuh gagang pintu ketika ia berhenti. Ia menoleh sekal
“Teo!”Suara Valeria tertahan ketika Teo membawanya masuk ke kamarnya.Begitu sampai di dalam, Teo menurunkannya perlahan. Valeria langsung mundur satu langkah dan menatapnya dengan kesal.“Lo gila?”Teo menutup pintu. “Kenapa?” Teo menyeringai.“Ngapain lo bawa gue ke sini?” Valeria melipat kedua tangannya ke depan.“Karena gue nggak mau lo sendirian,” jawab Teo dengan santai, seakan yang ia lakukan tak ada resiko sama sekali.“Gue udah biasa sendiri.” Valeria mencoba mencari-cari alasan.“Gue tahu.” Teo menatap Valeria dengan intens, membuat wanita itu sedikit salah tingkah.“Terus?” Valeria mengernyitkan dahi.Teo menatapnya beberapa detik. “Gue tetap nggak mau ninggalin lo.”Valeria hendak membalas, tetapi tatapan Teo membuat kata-kata itu tertahan.Pria itu tidak sedang menggoda.Tidak sedang mencari kesempatan.Matanya justru berhenti pada pipi Valeria yang masih memerah.“Dia nampar lo.” Bukan pertanyaan.Valeria langsung mengalihkan wajah. Reflek memegangi pipinya.“Jangan dib
Mobil Teo berhenti tepat di depan mansion.Valeria masih terdiam beberapa saat di kursi penumpang. Tangannya menggenggam ponsel, sementara pikirannya masih dipenuhi kejadian beberapa jam terakhir. Ia tahu seharusnya ia tidak berada di dalam mobil ini terlalu lama. Ia juga tahu apa yang terjadi di antara dirinya dan Teo adalah sesuatu yang tidak boleh diketahui siapa pun.Terutama Jason.“Udah sampai.” Suara Teo membuat Valeria tersadar.Ia menoleh dan memberikan senyum tipis.“Makasih udah nganterin.”Teo menatapnya beberapa detik.“Lo yakin nggak apa-apa?”Valeria mengangguk.“Gue cuma perlu tidur.”Teo tidak bertanya lebih jauh. Ia hanya mengangguk.“Kalau ada apa-apa, telepon gue.”Valeria membuka pintu. “Selamat malam.”“Selamat malam, Val.”Valeria turun dari mobil dan berjalan menuju mansion tanpa menoleh lagi. Ia tidak tahu bahwa seseorang sudah menunggunya di kamar.Jason berdiri di dekat jendela sejak satu jam lalu.Ponselnya masih berada di genggamannya. Beberapa pesan yang







