Masuk“Walaupun kau lulusan S2… tetap saja kau bukan orang yang pantas di perusahaan ini. Wanita malam, bekerja di klub, mencoreng nama baik perusahaan. Itu cukup sebagai alasan.”
“Cukup!!!” teriak Valerie, suaranya pecah oleh amarah.
“Sedari tadi kau terus menyebutku wanita malam! Memang benar aku bekerja di klub malam, tapi aku hanya pelayan! Aku bukan perempuan yang duduk-duduk menghibur pria hidung belang!” Nada suaranya meninggi, emosinya meledak bersama kata-kata yang selama ini ia tahan. “Aku sudah coba menjelaskan malam itu, berkali-kali! Tapi Tuan terlalu keras kepala dan menolak mendengarkanku!”
Dia tidak peduli lagi. Entah apa yang akan terjadi setelah ini.
Zane mendengus sinis. “Aku sudah bertemu banyak wanita murahan seperti kau. Dan kalian… selalu bilang yang sama.”
Valerie mendekat selangkah. Matanya menyala, dadanya naik turun menahan getar yang berubah jadi keberanian.
“Kau tidak bisa menilai buku hanya dari sampulnya.” ucapnya tajam. “Hanya karena aku bekerja di sana, kau langsung menuduhku seperti mereka?”
“Kalau begitu... kau yang minum-minum dan bertindak sesuka hati—apa kau juga termasuk pria brengsek yang berserakan di sana?”
Zane menyipitkan mata.
“Buku memang harus dinilai dari covernya.” balasnya dingin. “Penulis tidak sembarangan membuat sampul. Kalau buruk di luar, maka isinya sudah pasti tak berguna.”
Lalu ia menoleh ke Belvan. “Pecat dia. Atau kau yang akan aku pecat.” ucapnya singkat, bossy, sebelum akhirnya melangkah keluar dari ruangan dengan aura kemenangan di wajahnya.
Valerie merasa lututnya lemas. Ia menutup wajah dengan kedua telapak tangan. Suara langkah Zane yang menjauh seperti palu terakhir yang menghancurkan harapannya.
Hari ini… semua nyaris berakhir. Atau jangan-jangan telah berakhir? Tangis Valerie rasanya benar-benar akan pecah.
Pekerjaan itu satu-satunya harapan untuk membiayai pengobatan ibunya. Dan semuanya... akan hilang karena satu pria brengsek yang ia temui di malam paling sial dalam hidupnya.
“Nona Valerie!” Suara Belvan membuatnya menghentikan tangisnya untuk sesaat.
“Jangan menangis.” ujarnya sambil menepuk pelan pundaknya. “Kau tidak akan dipecat. Pegang kata-kataku.”
Valerie hanya bisa menatap Belvan, tak yakin apakah harapan bisa dipinjam untuk sesaat.
Lalu Belvan berlari keluar ruangan, membawa berkas milik Valerie yang tadi diambil atas perintah Zane.
Ia tidak berlari mengejar Zane. Ada seseorang lain yang ia tuju saat ini— seseorang dengan kuasa jauh lebih tinggi daripada Zane. Ayah Zane. Arka Hardata.
Belvan melangkah cepat dengan tekad bulat. Ia yakin pamannya akan menolong Valerie. Terlebih setelah mendengar semua yang terjadi dan melihat langsung berkas Valerie.
“Dia orang yang tepat. Dia sesuai dengan kriteria yang Paman Arka minta.” tukasnya dalam hati.
Bukan tanpa alasan Belvan membantu wanita itu. Ia merasa bersalah—karena ketidaktahuannya, Valerie menjadi korban pemecatan tanpa alasan yang jelas. Korban sikap Zane yang semakin hari semakin tak masuk akal.
Zane tak berubah. Masih bertindak seenaknya. Baru kemarin ia memecat seorang sekretaris dan asisten pribadi. Hari ini—seorang staf produksi. Dan semua... dengan alasan yang sama: tanpa kejelasan dan personal.
Belvan tak bisa membiarkan hal ini terus berulang. Bagaimanapun caranya, ia akan membuat Valerie tetap bertahan. Bahkan jika perlu— menjadikannya sekretaris pribadi Zane. Bukan sebagai bentuk balas dendam, tapi sepertinya Valerie bisa menahan semua sikap seenaknya Zane.
Jadi tidak ada salahnya untuk dicoba.Tapi pastinya dia juga akan tetap melindungi Valerie. Walaupun dalam keadaan terdesak Valerie terlihat kuat, namun seperti yang terjadi tadi- Valerie tetaplah seorang wanita yang akan menangis saat beban itu tak sanggup dia tanggung lagi.
Hanya saja, tidak ada salahnya mencoba.
"Tolong, sate dan minuman ini diantarkan ke ruang Pak Zane, ya," pinta Valerie pada staf kantin dengan senyum ramah. Dengan cermat, dia meletakkan selembar kertas kecil bertuliskan pesan rahasia di bawah tutup kotak sate. "Dan dua gelas jus jeruk ini untuk kedua wanita yang ada di dalam ruangannya," tambahnya sambil menunjuk kedua gelas yang sudah disiapkan."Baik, Bu," jawab staf kantin itu dengan sigap. Sejak kejadian di hotel yang viral di media, hampir semua karyawan perusahaan telah mengenali Valerie sebagai istri sang pemilik, Zane Hardata."Sekarang, aku tinggal menunggu telepon darinya," gumam Valerie sambil berjalan santai menuju ruangan Zane. Dia yakin, begitu pesanan sate itu tiba, Zane pasti akan segera menghubunginya.***Di dalam ruangan Zane, situasi semakin memanas. Natasya yang awalnya berusaha tampil elegan, kini mulai kehilangan kesabaran dan membalas setiap kata-kata kasar Anita. Suara mereka saling tindih, memenuhi ruangan yang seharusnya tenang.Zane melirik jam
"Masuk..." sahut Zane dari balik pintu ruangannya, suaranya datar.Pintu terbuka, dan Natasya masuk dengan langkah penuh percaya diri. "Hai... Zane! Apa aku mengganggu?" sapanya dengan suara yang sengaja dibuat lembut dan merdu."Tidak. Masuklah, Natasya," jawab Zane singkat tanpa membalas sapaan hangatnya. Dia berjalan menuju sofa di tengah ruangan, menandakan percakapan ini akan berlangsung singkat. "Duduklah. Ada apa kau mencariku?""Aku... heem..." Natasya mulai dengan nada ragu, duduk di hadapan Zane. "Sewaktu peragaan busana di hotel, aku belum sempat menjelaskan keterkaitanku dengan Johan. Sungguh, aku takut kau salah paham padaku, Zane.""Aku tidak berpikiran buruk padamu, Natasya," jawab Zane tetap singkat, matanya sesekali melirik ke arah pintu, seolah menunggu seseorang."Tapi aku sungguh merasa tidak enak, Zane," lanjut Natasya, tiba-tiba berpindah tempat duduk. Dari yang awalnya di hadapan Zane, kini dia duduk persis di sampingnya, jarak mereka menjadi sangat dekat.Zane
"Wah... Nyonya Hardata sudah datang?" sapa Angela dengan nada ramah yang agak berlebihan, saat Valerie memasuki ruang kerja. Dia sedang duduk santai bersama Natasya di area lounge kecil."Hai, Valerie..." sambut Natasya dengan senyum manis yang jelas-jelas dipaksakan, matanya berbinar dengan kepalsuan yang mudah dibaca."Pagi, Angela. Pagi, Natasya," balas Valerie singkat sambil menuju meja kerjanya. Dia tidak ingin terlibat percakapan lebih jauh dengan mereka."Pagi, Moon..." sapanya lagi pada rekan kerjanya yang duduk di meja sebelah."Pagi, Valerie," jawab Moon dengan nada datar seperti biasa. Fakta bahwa Valerie adalah istri direktur utama tidak mengubah sikap profesional Moon padanya.Valerie dan Moon kemudian fokus pada pekerjaan masing-masing. Sesekali, mata Valerie tertuju pada kursi kosong Johan. Dia mengira Johan sedang mengambil cuti untuk memulihkan diri setelah skandal yang menghebohkan itu. Berita tentang kejadian di hotel telah viral di media, wajar jika Johan butuh wak
"Serius mau ke kantor hari ini?" tanya Valerie dengan suara penuh perhatian, matanya menyelidiki wajah Zane yang terlihat pucat dan lesu. Semalaman suaminya itu menderita, tidak bisa makan apa pun dan terus-menerus muntah, membuatnya khawatir."Heem... Aku tidak bisa selalu membuat Belvan lembur hingga pagi di perusahaan, Sayang," jawab Zane lemah sambil duduk di tepi sofa, membiarkan Valerie dengan cermat memasangkan dasi untuknya. Nafsu makannya masih nol, dan tubuhnya terasa lemas."Cup.." Valerie mencium kening Zane, hati tersayat melihat kondisi suaminya. Rasa kasihan yang dalam membuatnya ingin merawat Zane sebaik mungkin.Zane merespons dengan memeluk pinggang Valerie, menariknya mendekat dan menikmati kehangatan pelukan singkat itu, mencari sedikit kekuatan sebelum menghadapi hari."Yakin tetap mau ke kantor?" tanya Valerie sekali lagi, tangannya lembut mengelus kepala Zane."Heem..." Zane mengangguk pelan."Kalau gitu, sarapan ini dimakan dulu, ya?" Valerie menunjuk piring be
"Astaga! Aku lihat sendiri kalau Bibik memasukkan gula dan susu, Zane. Tidak ada yang memasukkan garam," gerutu Valerie, sedikit kesal karena dituduh mengerjai suaminya. Untuk membuktikan ketidakbersalahannya, dia mengambil gelas berisi sisa jus mangga itu dan bersiap meminumnya.Saat gelas hampir menyentuh bibir Valerie, Zane dengan cepat mencegahnya, tangan besar itu memegangi pergelangan tangan istrinya dengan lembut namun tegas. "Jangan! Nanti kau sakit perut minum jus garam itu," protesnya. Meski kesal karena dikira sedang dijahili, Zane sama sekali tidak tega membiarkan Valerie meminum sesuatu yang menurutnya terasa asin hanya untuk membuktikan sebuah titik.Valerie melepaskan genggaman Zane dengan lembut. "Sayang, tidak ada yang memasukkan garam ke dalam jus ini. Lihat dan perhatikan baik-baik," bujuknya sebelum meneguk habis sisa jus mangga di gelas itu tanpa ragu.Zane bergidik ngeri, membayangkan betapa tidak enaknya rasa asin yang harus ditelan istrinya. "Kau baik-baik saja
"Rumah ini terasa kosong ya, Zane, sejak Tama pindah ke rumah barunya," ujar Valerie sambil dengan lembut mengelus rambut Zane yang sedang tiduran dengan kepala di pangkuannya. Suasana sore yang tenang di ruang keluarga rumah besar mereka terasa sedikit berbeda tanpa kehadiran si bungsu yang biasanya riuh."Tidak juga," jawab Zane singkat sambil mencium perut Valerie yang mulai terlihat membulat. "Tama itu jarang di rumah sebenarnya. Dia suka kelayapan tidak jelas. Hanya sejak kau ada di rumah inilah Tama lebih sering berada di rumah.""Benarkah?" tanya Valerie, sedikit terkejut."Heem..." jawab Zane sambil menutup matanya, menikmati sentuhan lembut jari-jari Valerie di rambutnya."Kira-kira Tama—" Ucapan Valerie terhenti mendadak ketika Zane tiba-tiba mengangkat kepala dan mencium bibirnya. "Cup."Valerie tertegun, matanya membelalak. "Zane!""Kalau kau masih membicarakan Tama, maka aku akan kembali menciummu," ancam Zane dengan sorot mata cemburu yang jelas terlihat. Bibirnya menyung







