LOGINLantai beton parkiran basement P2 terasa begitu dingin, menusuk hingga ke tulang melalui sol tipis alas kakinya yang terburu-buru. Wulan melangkah di antara barisan pilar beton yang tampak seperti raksasa bisu, matanya yang sayu awas menyapu setiap sudut remang-remang.Bau ban karet yang terbakar matahari dan sisa gas buang knalpot menggantung berat di udara yang pengap. Di ujung lorong, dekat dengan pintu tangga darurat yang jarang digunakan, sebuah van Gran Max putih polos terparkir menyendiri.Wulan berhenti sejenak, merapikan kaos putih crop top yang menyingkap perut ratanya sebelum mendekat. Ia mengetuk kaca jendela sopir yang gelap dengan buku jarinya yang lentik."Ano? Ini aku."Kaca film yang pekat itu perlahan turun, memperlihatkan wajah kurus dengan kantung mata hitam yang menonjol. Sorot mata pria itu merayap turun, menyapu belahan dada Wulan yang membusung di balik kain tipis, lalu tertahan lama di paha putih yang hanya tertutup celana pendek katun minimnya."Kau datang le
Layar ponsel di tangan Wulan berpendar redup, menampilkan sebuah gambar yang dikirimkan Mbah Broto melalui pesan singkat. Matanya menyipit, berusaha mencerna bentuk geometris yang tampak sederhana namun memancarkan aura kegelapan yang pekat.Sebuah segitiga sama sisi dengan tiga garis vertikal menjulur ke bawah dari dasar garis horizontalnya."Lambang kekuasaan Batara Durja," bisik Wulan pelan, suaranya tenggelam di balik dengung mesin pendingin kafe.Ia meletakkan ponselnya di atas meja kasir yang dingin. Jemari lentiknya bergerak refleks, menyingkap kaos putih tipisnya hingga ke bawah dada, mengekspos perutnya yang putih mulus dan rata.Di bawah cahaya lampu neon kafe, kulitnya tampak sehalus porselen. Dengan telunjuk kanan, ia mulai meniru gerakan menggambar simbol itu tepat di bawah pusarnya."Segitiga... satu, dua, tiga garis..."Wulan mengulanginya berkali-kali. Ia membayangkan simbol itu terukir permanen di atas rahimnya, menjadi gerbang bagi energi kehidupan yang dijanjikan sa
Pintu lift berdenting pelan, terbuka untuk menyambut sosok Wulan yang tampak hancur. Langkah kakinya gontai, seolah setiap tulang di persendiannya telah lepas dari engselnya.Jaket parka milik Doni tersampir asal-asalan di bahunya, menutupi tubuh yang dipenuhi noda kemerahan dan sisa-sisa pergulatan semalam suntuk di ruang kontrol basement.Wulan menatap pantulan dirinya di dinding lift yang mengilat. Rambutnya berantakan, matanya sayu dengan lingkaran hitam yang semakin tegas, dan bibirnya sedikit bengkak. Namun, di balik wajah kuyunya, sebuah seringai tipis muncul."Datang lagi besok malam, Jalang. Aku belum selesai denganmu."Suara parau Mamat masih terngiang di telinganya, sebuah perintah yang lebih mirip ancaman namun penuh dengan damba. Wulan membuang napas berat, merasakan sisa-sisa aliran gairah hitam yang masih berdenyut di rahimnya.Mamat tidak mencurigainya. Pria itu terlalu sibuk menaklukkan tubuhnya hingga lupa mempertanyakan mengapa seorang perempuan bayaran bisa berkeli
"Rrrrghh.."Suara geraman terakhir Jaka mereda, digantikan oleh keheningan yang hanya dipecahkan oleh dengung ribuan kipas pendingin dari rak server. Tubuh gempal Sugeng dan Jaka terkulai tumpang tindih di atas lantai beton yang dingin, seperti tumpukan daging yang kehilangan nyawa.Cairan putih sisa kenikmatan mereka perlahan mengering di kulit paha Wulan yang kini justru tampak semakin bersinar.Wulan menarik napas panjang, membiarkan dadanya yang membusung tanpa balutan kain itu naik turun dengan ritme yang teratur. Sensasi hangat dari energi gairah kuning pekat yang tadi ia hisap kini mengalir di setiap pembuluh darahnya, menyembuhkan rasa lelah dan memberikan kekuatan baru yang luar biasa.Ia menatap dua pria yang mendengkur halus itu dengan tatapan dingin yang tak menyisakan sisa kehangatan dari aksi panas tadi."Dasar makhluk rendah."Wulan melangkah melewati mereka, jemari kakinya yan
Wulan mulai menjalankan aksinya menjelang tengah malam. Lantai basement apartemen mewah itu terasa seperti perut monster yang dingin dan pengap. Cahaya lampu neon yang berkedip-kedip menciptakan bayangan panjang yang menari di atas lantai beton abu-abu.Aroma udara di sini berat, campuran antara bau knalpot yang mengendap, kelembapan dinding yang berjamur, dan sisa-sisa pelumas mesin.Wulan melangkah dengan pelan, membiarkan sendal yang dia pinjam dari doni beradu pelan dengan lantai, menciptakan gema yang terputus-putus. Jaket parka milik Doni yang berukuran jumbo membungkus tubuhnya, menutupi lekuk tubuhnya hingga ke pertengahan paha.Tangan Wulan tenggelam di dalam saku jaket, sementara tudungnya sengaja ia biarkan turun, memamerkan wajah almondnya yang tampak kebingungan di bawah sorotan lampu yang pucat.Di ujung lorong, di dekat deretan mesin kompresor yang menderu rendah, sebuah pintu kaca tebal dengan logo
Matahari merayap naik, memanggang aspal Pantai Indah Kapuk hingga uap panasnya terlihat bergetar di atas permukaan jalan. Di dalam kafe yang sejuk oleh embusan pendingin ruangan, Wulan berdiri terpaku di balik meja kasir.Jemarinya yang lentik menggenggam sebuah gelas kristal, mengelapnya berulang kali dengan kain mikrofiber hingga permukaannya nyaris tanpa noda. Namun, sorot mata almondnya tidak tertuju pada gelas itu; pandangannya kosong, menembus kaca besar kafe ke arah lobi apartemen mewah di seberang sana."Haaaah..."Helaan napas panjang lolos dari bibir merah meronanya. Gelas itu diletakkan dengan sedikit entakan di atas konter."Kenapa? Gelasnya ada salah apa sampai kamu mau pecahkan begitu?"Doni muncul dari balik mesin espreso, memperhatikan wajah Wulan yang cemberut. Gadis itu tidak menyahut, hanya menyandarkan dagunya di telapak tangan, membuat pipinya yang mulus sedikit tertekan.







