LOGINBeni menutup pintu kamar hotel pelan-pelan. Anggraini sudah tertidur lelap di balik selimut, napasnya teratur. Beni melangkah keluar ke koridor, merapikan kerah kemejanya yang sedikit berantakan.Jam di ponselnya menunjukkan pukul tiga pagi. Koridor hotel itu sepi. Hanya ada suara AC yang berdengung pelan dan lampu-lampu tidur yang temaram.Beni berjalan ke arah lift sambil mengucek matanya. Matanya masih sedikit berat, tapi pikirannya justru sangat jernih. Mungkin efek dari kebijaksanaan tingkat satu yang masih bekerja, atau mungkin karena dia baru saja membuktikan pada dirinya sendiri bahwa dia bisa memikat wanita tanpa mengandalkan kejantanan semata."Saya baru saja tidur dengan wanita yang mengajak saya duluan," batin Beni. "Berarti saya berhak dapat hadiah lagi."Dia menekan tombol lift. Angka di layar menunjukkan lift masih di lantai delapan. Beni bersandar ke dinding, lalu menggenggam liontin di lehernya."Kakek Piyama," bisiknya pelan. "Kakek di situ?"Tidak ada jawaban selama
Anggraini tidak bisa menahan diri lagi. Gairah yang sudah menumpuk sejak pijatan dan sentuhan tadi membuatnya bertindak tanpa banyak pikir. Dia mendorong dada Beni hingga pria itu terjatuh terlentang di atas kasur hotel.Dengan gerakan cepat dia naik ke atas tubuh Beni, lutut mengangkang di sisi pinggang. Satu tangan memegang batang kejantanan yang besar dan tegang, menggosokkannya beberapa kali di antara bibir liang kewanitaannya yang sudah sangat basah. Cairan dari tubuhnya sendiri membuat ujung batang kejantanan mengkilap.Anggraini menekan ujung itu ke pintu masuknya, lalu menurunkan tubuh pelan-pelan. Kepala batang kejantanan masuk terlebih dahulu. Dia menggigit bibir, kening berkerut. Ukuran yang jauh di atas bayangannya memaksa liang kewanitaannya meregang lebar.“Besar sekali…” desahnya. “Benar-benar besar.”Dia terus menurunkan pinggang. Setiap sentimeter yang masuk membuatnya mengerang lebih panjang. Ketika akhirnya seluruh batang kejantanan tertelan sempurna dan pangkalnya
Di dalam kamar hotel yang tenang, lampu redup sudah dinyalakan. Anggraini meletakkan tas belanjaannya di sofa, lalu berdiri di tengah ruangan sambil menatap Beni. Ada sedikit keraguan di matanya, tapi lebih banyak rasa ingin tahu.Beni tidak langsung mendekat. Dia berdiri diam sejenak, membiarkan kebijaksanaan tingkat satu bekerja di dalam kepalanya. Dia mengamati napas Anggraini, cara bahunya sedikit menegang, dan arah pandangannya yang sesekali jatuh ke bibirnya.“Mbak Anggraini,” katanya pelan. “Kalau merasa tidak nyaman, kita bisa berhenti kapan saja.”Anggraini menggeleng pelan. “Tidak. Saya yang mengajak. Saya ingin ini.”Beni melangkah mendekat. Bukan dengan buru-buru. Dia berdiri di depan Anggraini, lalu mengangkat tangan kanannya dengan sangat pelan. Jari-jarinya menyentuh sisi wajah wanita itu, mengusap tulang pipi dengan tekanan yang tepat. Tidak terlalu ringan, tidak terlalu dalam. Anggraini memejamkan mata sejenak.Beni menunduk. Bibirnya mendarat di kening Anggraini terl
"Mas Beni," Kata Tari pelan. Dia ingin mengikuti tawaran Beni itu. Dia mau tapi malu. Dia teringat akan batang gede milik Beni yang terus berputar-putar seperti adegan slow motion yang diputar-putar terus di otaknya. Tapi dia masih malu. Beni menunggu beberapa detik, berharap ada sesuatu yang lebih dari sekadar "hati-hati di jalan". Tapi tidak ada. Tari hanya duduk diam dengan wajah merahnya, terlalu malu untuk mengatakan apa yang sebenarnya dia inginkan."Tari, aku mau jalan dulu, ya?" Beni mengalihkan pembicaraan sambil melihat sekeliling. Tari menunduk, jarinya memainkan ujung buku tamu. "Mas Beni mau ke mana?""Jalan-jalan aja. Cari angin."Tari menggigit bibirnya. "Mas Beni... kalau lagi jalan-jalan nanti, hati-hati di jalan ya.""Iya. Kamu jaga kos dulu. Kalau ada apa-apa, telpon aku."Tari mengangguk. Beni menghela napas pelan. Tari bukan tipe yang agresif. Dia harus menunggu lebih lama. Dan Beni tidak punya banyak waktu untuk itu."Kalau gitu aku pergi dulu, Tar.""Da... d
"Selesai," kata Kakek Piyama. "Sekarang kamu punya kebijaksanaan tingkat satu. Jangan heran kalau nanti cara berpikirmu berubah. Kamu akan lebih cepat menangkap sesuatu. Lebih peka. Lebih cermat. Tapi ingat, ini baru tingkat satu. Jangan sok pintar."Beni tersenyum. "Saya ngerti, Kek."Dan saat itulah, sesuatu muncul di kepalanya. Sebuah ide sederhana tapi cemerlang. Beni langsung menatap ke arah kosong, membayangkan Siberia, membayangkan Kakek Piyama yang sedang duduk di bangku kayu sambil menggigil kedinginan."Kek," kata Beni tiba-tiba."Apa?""Kakek di Siberia kan sendirian. Dingin. Nggak ada perempuan. Kerjaannya cuma nyapu salju. Nah, Kakek nyari janda di sana gitu caranya?"Kakek Piyama mendengus. "Janda? Di Siberia? Kamu pikir gampang? Perempuan di sini tebal-tebal jaketnya. Wajahnya ditutup syal. Saya bahkan nggak bisa bedain mana yang perempuan mana yang beruang kutub. Makanya aku pikir gak ada perempuan di tempat ini.""Justru itu, Kek. Kakek jangan cari janda di luar. Kake
Pagi ini Beni terbangun dengan tubuh yang terasa ringan. Alya masih tertidur pulas di sampingnya, rambut hitamnya tumpah di atas bantal.Beni tersenyum kecil, lalu bangkit pelan-pelan supaya tidak membangunkannya. Dia memakai celana pendek dan kaos oblong, lalu keluar dari kamar dengan langkah hati-hati.Begitu pintu tertutup, Beni langsung berjalan cepat menuju tangga. Lantai dua, lantai tiga, lantai empat. Kakinya terus menaiki anak tangga tanpa berhenti. Lantai lima, lantai enam, dan akhirnya lantai tujuh. Atap gedung kos. Tempat favoritnya untuk berbicara dengan seorang pria tua misterius berpiyama.Angin pagi berhembus cukup kencang. Beni berdiri di tengah atap, memandang langit yang masih berwarna oranye muda. Dia menarik napas dalam-dalam, lalu berteriak pelan."Kakek Piyama! Saya sudah selesai! Misi berhasil! Alya puas! Saya juga puas! Sekarang saatnya hadiah!"Tidak ada jawaban."Kakek! Keluarlah! Saya mau tanya-tanya dulu soal The Other! Jangan sembunyi di balik tangga! Saya
Tubuh Sonya menimpa Leon. Kulit halus tangannya sempat bersentuhan dengan tangan Leon saat secara refleks, Leon menahannya.Dan dada penuh nan montok Sonya, sukses mendarat bahkan menggesek tubuh Leon. Ini membuat Leon menelan ludah. Sensasi ini begitu menggoda. Tubuh keduanya masih saling tempel
Dada besar, tubuh ramping dengan lekuk nyaris sempurna, dan pastinya wajah cantik dengan kulit kencang.Leon berdiri kaku di depan pintu kamarnya ketika Gito, ayahnya baru saja pulang dari bulan madu dengan istri barunya.Namun, tentu saja pandangan Leon bukan tertuju pada pria 49 tahun itu, melain
Leon tidak peduli. Tangannya mulai bergerak, dengan lembut tapi kuat meremas pinggul Sonya, menariknya semakin dekat sampai tubuh mereka menempel. "Tenang, Ayah belum pulang," bisiknya, bibirnya berpindah ke leher Sonya, mencium dan menjilati kulit lembut di sana dengan gerakan lambat, meninggalkan
Pagi ini, sinar matahari pagi menyelinap masuk melalui tirai kamar Leon, membangunkannya dari tidur yang gelisah. Malam sebelumnya terasa seperti mimpi indah yang manis... sentuhan Sonya, desahannya, aroma kulitnya masih melekat di ingatannya. Namun kini, saat Leon membuka mata, kekhawatiran mera







