Beranda / Male Adult / Terjebak Gairah Terlarang / 4 Kamu Juga Suka Ini, Kan?

Share

4 Kamu Juga Suka Ini, Kan?

Penulis: Heartwriter
last update Tanggal publikasi: 2026-03-26 11:40:59

Leon tidak peduli. Tangannya mulai bergerak, dengan lembut tapi kuat meremas pinggul Sonya, menariknya semakin dekat sampai tubuh mereka menempel. "Tenang, Ayah belum pulang," bisiknya, bibirnya berpindah ke leher Sonya, mencium dan menjilati kulit lembut di sana dengan gerakan lambat, meninggalkan bekas basah yang membuat Sonya menggigil.

Napas panasnya menyentuh telinga Sonya, "Kamu suka ini juga, kan? Kamu tadi pagi bertingkah aneh banget." Tangannya bergerak naik, meremas payudara Sonya melalui gaun tidurnya, ibu jarinya menggosok putingnya perlahan, membangun ketegangan dengan gerakan memutar yang makin kuat.

Sonya menghela napas kecil, perlawanannya melemah, tangannya yang tadinya mendorong, kini hanya memegang pundak Leon, seolah menahan diri untuk tidak menariknya lebih dekat.

Pemanasan itu berlangsung lama, seperti api yang membakar lambat. Leon menurunkan sedikit gaun Sonya, memperlihatkan bahu dan dada atasnya.

Bibirnya menelusuri bahunya, menciumnya dengan gigitan lembut, lidahnya menjilati kulitnya dengan jilatan panjang, merasakan asin dan hangat. "Kamu cantik sekali, Sonya," gumamnya, satu tangannya menyelinap ke bawah gaunnya, mengelus perut mulus Sonya, jari-jarinya menggelitik kulit sensitif di sana sebelum bergerak naik lagi ke payudaranya, meremasnya lebih dalam, membuat Sonya mengerang pelan.

Tubuh Sonya mulai bereaksi, napasnya makin cepat, pahanya tanpa sadar saling menggesek, dan untuk sesaat, dia membalas ciuman Leon, lidahnya bergerak ragu tapi penuh gairah.

Leon semakin berani. Dia mendorong Sonya ke tempat tidur, tubuhnya di atas Sonya dengan lembut, tangannya kini merayap naik di paha Sonya, mengelus bagian dalam dengan jari gemetar, mendekati area intimnya tapi tidak menyentuhnya, membangun antisipasi.

Bibirnya kembali ke bibir Sonya, ciuman makin menjadi-jadi, diselingi jilatan di leher dan telinga. Sonya menggeliat di bawahnya, desahannya makin sering, tubuhnya panas dan basah. "Leon... ini... kita nggak boleh," bisiknya lemah, tapi tangannya malah memeluk punggung Leon, menariknya makin dekat. Mereka hampir hanyut.

Leon mulai menarik gaun Sonya lebih tinggi, tangannya hampir mencapai sasaran, nafsu mereka memuncak dalam desahan napas yang bercampur.

Namun tiba-tiba, suara pintu depan terdengar, derit engsel dan langkah kaki berat. "Sonya? Leon? Ayah pulang!" panggil Gito dari ruang depan, suaranya lelah tapi jelas, diiringi suara tas dilempar ke sofa.

Leon dan Sonya tersentak, tubuh mereka membeku.

Wajah Sonya pucat pasi, matanya penuh kepanikan. Leon buru-buru bangkit, merapikan baju, sementara Sonya menarik kembali gaunnya.

"Keluar cepat!" bisik Sonya keras, mendorong Leon ke arah pintu.

Leon menyelinap keluar tepat waktu, berlari pelan menaiki tangga menuju kamarnya, jantungnya berdebar kencang. Di bawah, Gito tidak sadar apa-apa, tidak melihat Leon keluar dari kamarnya.

Tapi retakan di rumah itu semakin dalam, dan rahasia malam itu menggantung seperti bom waktu.

---

Malam itu, setelah suara Gito menggema di rumah dan memaksa Leon menyelinap kembali ke kamarnya, rumah besar itu kembali sunyi.

Namun di balik dinding tebal, badai emosi sedang berkecamuk.

Leon berlari pelan menaiki tangga, jantungnya masih berdebar seperti genderang perang. Dia menutup pintu kamarnya hati-hati, tak ingin menarik perhatian ayahnya yang kini mengobrol santai dengan Sonya di ruang tamu.

Tubuh Leon terasa panas, napasnya tersengal, tapi bukan karena berlari, melainkan karena bayangan Sonya tak lepas dari pikirannya. Dia menjatuhkan diri ke tempat tidur, menatap langit-langit gelap yang dihiasi bintang-bintang palsu dari stiker masa kecilnya.

"Pikiranku kacau," gumam Leon sendiri, tangannya menutupi mata. Setiap kali mencoba memejamkan mata, bayangan Sonya muncul lagi: bibir lembutnya saat dicium, erangan kecil yang lolos dari mulutnya, kehangatan tubuhnya yang pas dengan tubuhnya.

Semalam, itu dimulai sebagai rencana jahat untuk mengusir Sonya dari kehidupannya, ide gila dari Andra. Tapi sekarang? Sudah berubah menjadi obsesi. "Kenapa aku nggak bisa berhenti mikirin dia? Dia ibu tiriku, sialan. Ini salah besar." Pikirannya berputar seperti roda rusak.

Dia benci karena sekarang ini, dia teramat sangat merindukan Sonya.

"Ayah pasti kecewa kalau tahu," bisik hatinya, membuat dadanya sesak. Tapi sisi gelapnya menginginkan sentuhan Sonya lagi. Usianya yang hanya tujuh tahun lebih tua, membuatnya terasa seperti wanita biasa, bukan ibu tiri. "Dia merespon, tahu. Dia nggak benar-benar nolak. Artinya apa?"

Leon mati-matian berusaha mengusir rasa di hatinya.

Tapi bahkan sekarang, pikirannya melayang kembali ke Sonya: aroma samar parfum vanilanya, lekuk pinggang yang pas di genggaman tangannya, dan matanya yang malu-malu tadi pagi. "Aku harus berhenti. Besok aku akan hindari dia. Kuliah, basket, apa aja biar lupa."

Tapi dia tahu itu bohong, setiap detik sunyi membuatnya makin gelisah. Apakah Sonya juga memikirkan hal yang sama? Akankah dia memberi tahu ayahnya? Atau... apakah dia merasakan getaran yang sama? Pikiran itu membuatnya resah, badannya panas dingin. Dia akhirnya berbaring lagi, tapi tidur tak kunjung datang. Hanya mimpi-mimpi kabur tentang Sonya yang memenuhi malamnya.

---

Di ruangan lain, di lantai bawah, Sonya duduk di tepi tempat tidur, tangannya gemetar.

Gito terlelap di sampingnya, dengkurannya yang halus memenuhi ruangan, tapi Sonya tak bisa tidur.

Cahaya redup lampu tidur membuat wajahnya tampak lembut, tapi matanya penuh kecemasan.

Setelah Leon menyelinap keluar dan Gito masuk, dia berpura-pura semuanya normal, mencium suaminya di pipi, bertanya tentang harinya, bahkan tertawa kecil saat Gito bercerita tentang rapatnya yang melelahkan.

Tapi di dalam hatinya, hatinya bagaikan lautan badai. "Apa yang terjadi padaku?" bisiknya pelan, agar tidak membangunkan Gito.

Tubuhnya masih merasakan sisa-sisa sentuhan Leon: panas bibirnya di leher, tekanan tangannya di payudara, desahan yang tanpa sengaja lolos dari bibirnya sendiri. Itu membuatnya malu, tapi juga... bergairah.

Sonya bangkit perlahan dan berjalan ke jendela yang menghadap ke taman belakang.

Angin malam menyelinap melalui tirai, membuat gaun tidurnya melambai lembut. Dia memeluk dirinya sendiri, mencoba menenangkan napasnya yang memburu. "Aku istri Gito. Aku harus setia. Tapi kenapa... kenapa sentuhan Leon terasa begitu berbeda?" Pikirannya kembali ke kehidupan pernikahannya: Gito pria baik, kaya, tapi usianya yang 49 tahun membuat hubungan mereka seringkali mekanis, cepat, tanpa gairah panjang yang dia dambakan.

Leon, dengan energi mudanya, telah membangkitkan sesuatu yang lama terpendam. "Semalam, aku hampir kehilangan kendali. Dan tadi malam lagi... perlawananku lemah. Apa aku mulai suka dia?"

Rasa bersalah menerjang seperti pisau tajam. Dia ingat wajah Melinda dari foto-foto di rumah, wanita yang pernah dicintai Gito dan Leon. "Aku nggak boleh hancurin keluarga ini. Tapi kenapa pikiranku terus kembali ke dia? Matanya yang penuh nafsu, tangannya yang kuat... ya Tuhan, Sonya, berhenti!"

Dia kembali ke tempat tidur, berbaring di samping Gito tapi tak bisa tidur. Pikirannya berputar: tadi pagi, saat sarapan, dia tak bisa menatap Leon karena takut matanya akan mengkhianati perasaannya. "Dia anak tiriku. Ini gak boleh. Kalau Gito tahu... semuanya akan hancur."

Tapi sebagian dirinya penasaran, apakah Leon juga memikirkannya saat ini? Apa ini hanya permainan baginya, atau ada sesuatu yang lebih? Kegalauan itu membuatnya tak bisa tenang semalaman, tubuhnya gelisah, mimpinya dipenuhi bayangan Leon yang mendekat, menciumnya lagi, membangunkannya dalam keringat dingin.

---

Keesokan paginya, kegalauan masih ada. Leon turun ke dapur dengan mata panda, berusaha menghindari Sonya yang sedang menyajikan sarapan.

Tapi matanya tak bisa lepas darinya, gerakan tangannya saat menuang kopi, senyum dipaksanya untuk Gito. "Dia juga keliatan capek," pikir Leon, membuat hatinya makin resah.

Di kampus, kuliah terasa seperti kabut, Andra bertanya apakah dia baik-baik saja, tapi Leon hanya menggeleng, pikirannya penuh Sonya.

---

Sementara itu, Sonya sendirian di rumah setelah Gito pergi, membersihkan dapur dengan tangan gemetar, pikirannya kembali ke sentuhan semalam. "Aku harus bicara sama dia. Hentikan ini sebelum terlambat," gumamnya. Tapi di lubuk hati, dia tahu: kegalauan ini baru awal.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Terjebak Gairah Terlarang   314 Membangkitkan Kenangan Lama

    Di depan rumah Surya, suasana menjadi sangat diam. Angin sore berhembus pelan, menggoyangkan daun-daun di taman kecil. Reva berdiri di ambang pintu, Surya di sampingnya, sementara Leon berdiri beberapa langkah di depan mereka dengan wajah yang campur aduk antara putus asa dan tekad.“Reva, aku minta kesempatan sekali lagi,” kata Leon, suaranya serak. “Aku sadar. Aku sudah jatuh cinta lagi padamu. Benar-benar.”Surya menatap Reva, tidak memaksa, hanya menunggu. Reva menghela napas panjang, lalu menggeleng pelan.“Leon, aku sudah memilih Surya,” katanya tegas. “Aku sudah bilang. Aku tidak ingin kembali. Kamu terlalu sering menyakitiku. Kamu selingkuh, kamu masih memikirkan Sonya, dan aku selalu jadi nomor dua.”Leon menunduk sebentar, lalu mengangkat wajahnya lagi. Matanya berkaca-kaca, tapi ia tidak menyerah.“Aku tahu aku salah. Aku tahu aku brengsek. Tapi Reva… sebelum kamu benar-benar pergi, dengar aku sekali saja. Ingat masa kita dulu.”Reva ingin menutup pintu. Ia ingin mengakhiri

  • Terjebak Gairah Terlarang   313 Lamaran

    Cahaya matahari pagi menyusup lembut melalui gorden kamar Surya. Reva membuka mata pelan. Tubuhnya terasa hangat, masih berada dalam pelukan Surya. Pria itu sudah terbangun lebih dulu, menatapnya dengan senyum yang tenang.“Pagi,” bisik Surya sambil mengusap rambut Reva.Reva tersenyum kecil, masih setengah mengantuk. “Pagi…”Surya mencium keningnya. “Aku sudah siapkan sesuatu. Jangan turun dulu.”Ia bangun dari ranjang, mengenakan celana pendek, lalu keluar kamar. Beberapa menit kemudian, Surya kembali membawa nampan kayu. Di atasnya ada sarapan lengkap: roti panggang, telur, potongan buah, dan dua cangkir kopi susu yang masih mengepul. Di samping nampan, ada vas kecil berisi bunga mawar putih dan merah yang masih segar.Reva terkejut. “Kamu… sudah siapkan ini semua?”Surya tersenyum. “Aku bangun pagi-pagi. Aku ingin kamu bangun dengan sesuatu yang manis.”Mereka sarapan di ranjang. Surya sesekali menyuapi Reva, dan Reva membalas dengan tawa kecil. Suasana pagi itu terasa ringan, jau

  • Terjebak Gairah Terlarang   312 Bercinta di Bawah Shower

    Setelah ronde woman on top, Reva masih tergeletak di dada Surya. Tubuh mereka basah keringat. Surya mengusap punggung Reva pelan, lalu berbisik,“Mandi dulu. Biar segar.”Reva mengangguk. Mereka bangkit dari ranjang dan masuk ke kamar mandi yang cukup luas. Surya menyalakan shower rain di atas. Air hangat segera mengguyur tubuh mereka.Reva berdiri di bawah guyuran air, membiarkan rambutnya basah. Surya berdiri di belakangnya sebentar, menyabuni punggung Reva dengan gerakan lembut. Lalu ia memutar tubuh Reva hingga menghadapnya.Mereka saling menatap di bawah air hangat. Surya menunduk, mencium Reva. Ciuman itu basah, bercampur air shower. Lidah mereka saling mencari. Tangan Surya turun ke bokong Reva, mengangkatnya sedikit.Reva membalas ciuman dengan lebih berani. Ia melingkarkan tangan di leher Surya. Batang Surya yang sudah mengeras lagi menekan perut bawah Reva.Surya mengangkat satu kaki Reva, menyandarkannya di pinggulnya. Dengan tangan satunya ia mengarahkan batangnya, lalu me

  • Terjebak Gairah Terlarang   311 Dilamar Surya

    Billy tertidur pulas di samping Reva, napasnya teratur. Reva membuka mata, menatap langit-langit kamar hotel yang gelap. Ada kekosongan yang tiba-tiba datang. Tubuhnya masih terasa hangat dari sentuhan Billy, tapi hatinya kosong.Ia tahu Leon sekarang sering berganti-ganti wanita. Rasa kecewa itu belum hilang. Reva ingin membalas, ingin membuat Leon merasakan apa yang ia rasakan. Tapi bersama Billy malam ini… rasanya tidak cukup. Tidak ada yang berubah di dalam dirinya.Pelan-pelan Reva bangun. Ia memakai baju, mengambil tas, lalu keluar dari kamar tanpa membangunkan Billy. Di parkiran, ia menaiki mobilnya dan mulai memutar-mutar Jakarta di malam yang sudah larut.Jalanan relatif sepi. Reva tidak tahu mau ke mana. Ia hanya membiarkan mobil berjalan. Di sebuah trotoar yang agak terang, ia melihat motor yang dimodifikasi menjadi gerobak kopi mini. Seorang pria muda berdiri di sampingnya, sedang merapikan gelas. Dagangannya sepi.Pria itu cukup tampan. Rambutnya rapi, wajahnya bersih, da

  • Terjebak Gairah Terlarang   310 Reva yang Galau

    Beberapa hari terakhir, Reva semakin merasakan jarak yang tak terjelaskan dengan Leon. Leon sering pulang larut, jarang membalas pesan, dan saat di rumah pun selalu tampak sibuk atau lelah. Reva mencoba bertanya, tapi jawaban Leon selalu singkat. Rasa kecewa pelan-pelan menggerogoti hatinya.Malam itu, Dinda, sahabat dekatnya sejak kuliah, mengajaknya keluar.“Reva, kamu sudah terlalu lama di rumah. Ayo hang out sebentar. Sekalian hiburan,” kata Dinda lewat telepon.Reva awalnya menolak, tapi rasa sepi dan kecewa membuatnya akhirnya mengangguk. “Baiklah. Aku ikut.”Mereka tiba di sebuah klub malam yang cukup mewah di kawasan Senopati. Musik bass menggelegar, lampu warna-warni berkelip, dan orang-orang berdansa di lantai dansa. Dinda langsung menarik Reva ke bar, memesan dua cocktail.Tidak lama kemudian, seorang pria tinggi berpenampilan rapi mendekat. “Dinda! Lama tidak ketemu.”“Billy!” Dinda tersenyum lebar. “Ini temanku, Reva. Reva, ini Billy, temanku.”Billy menatap Reva dengan s

  • Terjebak Gairah Terlarang   309 Semua Diatur Fatika

    Setelah posisi sebelumnya, ketiganya masih terengah-engah di ranjang hotel. Fatika belum puas. Ia mengusap keringat di dahi Lestari, lalu mendorong tubuh gadis itu pelan hingga berbaring telentang.“Kita ganti lagi,” bisik Fatika dengan suara rendah. “Den Leon, naik di atas Mbak Lestari. Missionary. Pelan saja dulu.”Leon naik di antara paha Lestari. Ia membuka kaki gadis itu lebar-lebar, mengarahkan batangnya yang masih basah, lalu mendorong masuk dengan sangat pelan. Setiap inci masuk terasa jelas. Lestari mendesah panjang, tangan memegang lengan Leon.Leon mulai bergerak lambat. Keluar hampir seluruhnya, lalu masuk kembali dengan dorongan dalam dan mantap. Bunyi basah pelan terdengar setiap kali tubuh mereka bertemu. Fatika berlutut di samping kepala Lestari, meremas payudara gadis itu, lalu menunduk mengulum putingnya.Lestari memejamkan mata. Sensasi batang Leon yang bergerak pelan di dalamnya bercampur dengan hisapan Fatika di payudaranya. Leon membungkuk lebih rendah, mencium b

  • Terjebak Gairah Terlarang   2 Kenapa Kamu Lakukan ini?

    Tubuh Sonya menimpa Leon. Kulit halus tangannya sempat bersentuhan dengan tangan Leon saat secara refleks, Leon menahannya.Dan dada penuh nan montok Sonya, sukses mendarat bahkan menggesek tubuh Leon. Ini membuat Leon menelan ludah. Sensasi ini begitu menggoda. Tubuh keduanya masih saling tempel

  • Terjebak Gairah Terlarang   1 Leon dan Sonya

    Dada besar, tubuh ramping dengan lekuk nyaris sempurna, dan pastinya wajah cantik dengan kulit kencang.Leon berdiri kaku di depan pintu kamarnya ketika Gito, ayahnya baru saja pulang dari bulan madu dengan istri barunya.Namun, tentu saja pandangan Leon bukan tertuju pada pria 49 tahun itu, melain

  • Terjebak Gairah Terlarang   6 Ini Harus Berhenti

    Sabtu ini terasa seperti mimpi demam yang tak pernah berakhir, di mana setiap detik di rumah besar itu dipenuhi dengan ketegangan erotis yang tak terucapkan antara Leon dan Sonya.Gito, ayah Leon, menghabiskan hari liburnya dengan santai—membaca koran di teras pagi hari, menonton pertandingan sepak

  • Terjebak Gairah Terlarang   5 Berusaha Menghindar

    Hari ini, Leon memutuskan untuk mengubah rutinitasnya, berharap bisa mengalihkan pikiran dari kegelisahan yang semakin menjadi. Sejak malam sebelumnya, bayangan Sonya menghantuinya seperti hantu, mengikuti setiap gerak-geriknya di kelas, di kantin, bahkan di tidurnya. "Aku perlu hiburan," gumamnya

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status