เข้าสู่ระบบLeon tidak peduli. Tangannya mulai bergerak, dengan lembut tapi kuat meremas pinggul Sonya, menariknya semakin dekat sampai tubuh mereka menempel. "Tenang, Ayah belum pulang," bisiknya, bibirnya berpindah ke leher Sonya, mencium dan menjilati kulit lembut di sana dengan gerakan lambat, meninggalkan bekas basah yang membuat Sonya menggigil.
Napas panasnya menyentuh telinga Sonya, "Kamu suka ini juga, kan? Kamu tadi pagi bertingkah aneh banget." Tangannya bergerak naik, meremas payudara Sonya melalui gaun tidurnya, ibu jarinya menggosok putingnya perlahan, membangun ketegangan dengan gerakan memutar yang makin kuat. Sonya menghela napas kecil, perlawanannya melemah, tangannya yang tadinya mendorong, kini hanya memegang pundak Leon, seolah menahan diri untuk tidak menariknya lebih dekat. Pemanasan itu berlangsung lama, seperti api yang membakar lambat. Leon menurunkan sedikit gaun Sonya, memperlihatkan bahu dan dada atasnya. Bibirnya menelusuri bahunya, menciumnya dengan gigitan lembut, lidahnya menjilati kulitnya dengan jilatan panjang, merasakan asin dan hangat. "Kamu cantik sekali, Sonya," gumamnya, satu tangannya menyelinap ke bawah gaunnya, mengelus perut mulus Sonya, jari-jarinya menggelitik kulit sensitif di sana sebelum bergerak naik lagi ke payudaranya, meremasnya lebih dalam, membuat Sonya mengerang pelan. Tubuh Sonya mulai bereaksi, napasnya makin cepat, pahanya tanpa sadar saling menggesek, dan untuk sesaat, dia membalas ciuman Leon, lidahnya bergerak ragu tapi penuh gairah. Leon semakin berani. Dia mendorong Sonya ke tempat tidur, tubuhnya di atas Sonya dengan lembut, tangannya kini merayap naik di paha Sonya, mengelus bagian dalam dengan jari gemetar, mendekati area intimnya tapi tidak menyentuhnya, membangun antisipasi. Bibirnya kembali ke bibir Sonya, ciuman makin menjadi-jadi, diselingi jilatan di leher dan telinga. Sonya menggeliat di bawahnya, desahannya makin sering, tubuhnya panas dan basah. "Leon... ini... kita nggak boleh," bisiknya lemah, tapi tangannya malah memeluk punggung Leon, menariknya makin dekat. Mereka hampir hanyut. Leon mulai menarik gaun Sonya lebih tinggi, tangannya hampir mencapai sasaran, nafsu mereka memuncak dalam desahan napas yang bercampur. Namun tiba-tiba, suara pintu depan terdengar, derit engsel dan langkah kaki berat. "Sonya? Leon? Ayah pulang!" panggil Gito dari ruang depan, suaranya lelah tapi jelas, diiringi suara tas dilempar ke sofa. Leon dan Sonya tersentak, tubuh mereka membeku. Wajah Sonya pucat pasi, matanya penuh kepanikan. Leon buru-buru bangkit, merapikan baju, sementara Sonya menarik kembali gaunnya. "Keluar cepat!" bisik Sonya keras, mendorong Leon ke arah pintu. Leon menyelinap keluar tepat waktu, berlari pelan menaiki tangga menuju kamarnya, jantungnya berdebar kencang. Di bawah, Gito tidak sadar apa-apa, tidak melihat Leon keluar dari kamarnya. Tapi retakan di rumah itu semakin dalam, dan rahasia malam itu menggantung seperti bom waktu. --- Malam itu, setelah suara Gito menggema di rumah dan memaksa Leon menyelinap kembali ke kamarnya, rumah besar itu kembali sunyi. Namun di balik dinding tebal, badai emosi sedang berkecamuk. Leon berlari pelan menaiki tangga, jantungnya masih berdebar seperti genderang perang. Dia menutup pintu kamarnya hati-hati, tak ingin menarik perhatian ayahnya yang kini mengobrol santai dengan Sonya di ruang tamu. Tubuh Leon terasa panas, napasnya tersengal, tapi bukan karena berlari, melainkan karena bayangan Sonya tak lepas dari pikirannya. Dia menjatuhkan diri ke tempat tidur, menatap langit-langit gelap yang dihiasi bintang-bintang palsu dari stiker masa kecilnya. "Pikiranku kacau," gumam Leon sendiri, tangannya menutupi mata. Setiap kali mencoba memejamkan mata, bayangan Sonya muncul lagi: bibir lembutnya saat dicium, erangan kecil yang lolos dari mulutnya, kehangatan tubuhnya yang pas dengan tubuhnya. Semalam, itu dimulai sebagai rencana jahat untuk mengusir Sonya dari kehidupannya, ide gila dari Andra. Tapi sekarang? Sudah berubah menjadi obsesi. "Kenapa aku nggak bisa berhenti mikirin dia? Dia ibu tiriku, sialan. Ini salah besar." Pikirannya berputar seperti roda rusak. Dia benci karena sekarang ini, dia teramat sangat merindukan Sonya. "Ayah pasti kecewa kalau tahu," bisik hatinya, membuat dadanya sesak. Tapi sisi gelapnya menginginkan sentuhan Sonya lagi. Usianya yang hanya tujuh tahun lebih tua, membuatnya terasa seperti wanita biasa, bukan ibu tiri. "Dia merespon, tahu. Dia nggak benar-benar nolak. Artinya apa?" Leon mati-matian berusaha mengusir rasa di hatinya. Tapi bahkan sekarang, pikirannya melayang kembali ke Sonya: aroma samar parfum vanilanya, lekuk pinggang yang pas di genggaman tangannya, dan matanya yang malu-malu tadi pagi. "Aku harus berhenti. Besok aku akan hindari dia. Kuliah, basket, apa aja biar lupa." Tapi dia tahu itu bohong, setiap detik sunyi membuatnya makin gelisah. Apakah Sonya juga memikirkan hal yang sama? Akankah dia memberi tahu ayahnya? Atau... apakah dia merasakan getaran yang sama? Pikiran itu membuatnya resah, badannya panas dingin. Dia akhirnya berbaring lagi, tapi tidur tak kunjung datang. Hanya mimpi-mimpi kabur tentang Sonya yang memenuhi malamnya. --- Di ruangan lain, di lantai bawah, Sonya duduk di tepi tempat tidur, tangannya gemetar. Gito terlelap di sampingnya, dengkurannya yang halus memenuhi ruangan, tapi Sonya tak bisa tidur. Cahaya redup lampu tidur membuat wajahnya tampak lembut, tapi matanya penuh kecemasan. Setelah Leon menyelinap keluar dan Gito masuk, dia berpura-pura semuanya normal, mencium suaminya di pipi, bertanya tentang harinya, bahkan tertawa kecil saat Gito bercerita tentang rapatnya yang melelahkan. Tapi di dalam hatinya, hatinya bagaikan lautan badai. "Apa yang terjadi padaku?" bisiknya pelan, agar tidak membangunkan Gito. Tubuhnya masih merasakan sisa-sisa sentuhan Leon: panas bibirnya di leher, tekanan tangannya di payudara, desahan yang tanpa sengaja lolos dari bibirnya sendiri. Itu membuatnya malu, tapi juga... bergairah. Sonya bangkit perlahan dan berjalan ke jendela yang menghadap ke taman belakang. Angin malam menyelinap melalui tirai, membuat gaun tidurnya melambai lembut. Dia memeluk dirinya sendiri, mencoba menenangkan napasnya yang memburu. "Aku istri Gito. Aku harus setia. Tapi kenapa... kenapa sentuhan Leon terasa begitu berbeda?" Pikirannya kembali ke kehidupan pernikahannya: Gito pria baik, kaya, tapi usianya yang 49 tahun membuat hubungan mereka seringkali mekanis, cepat, tanpa gairah panjang yang dia dambakan. Leon, dengan energi mudanya, telah membangkitkan sesuatu yang lama terpendam. "Semalam, aku hampir kehilangan kendali. Dan tadi malam lagi... perlawananku lemah. Apa aku mulai suka dia?" Rasa bersalah menerjang seperti pisau tajam. Dia ingat wajah Melinda dari foto-foto di rumah, wanita yang pernah dicintai Gito dan Leon. "Aku nggak boleh hancurin keluarga ini. Tapi kenapa pikiranku terus kembali ke dia? Matanya yang penuh nafsu, tangannya yang kuat... ya Tuhan, Sonya, berhenti!" Dia kembali ke tempat tidur, berbaring di samping Gito tapi tak bisa tidur. Pikirannya berputar: tadi pagi, saat sarapan, dia tak bisa menatap Leon karena takut matanya akan mengkhianati perasaannya. "Dia anak tiriku. Ini gak boleh. Kalau Gito tahu... semuanya akan hancur." Tapi sebagian dirinya penasaran, apakah Leon juga memikirkannya saat ini? Apa ini hanya permainan baginya, atau ada sesuatu yang lebih? Kegalauan itu membuatnya tak bisa tenang semalaman, tubuhnya gelisah, mimpinya dipenuhi bayangan Leon yang mendekat, menciumnya lagi, membangunkannya dalam keringat dingin. --- Keesokan paginya, kegalauan masih ada. Leon turun ke dapur dengan mata panda, berusaha menghindari Sonya yang sedang menyajikan sarapan. Tapi matanya tak bisa lepas darinya, gerakan tangannya saat menuang kopi, senyum dipaksanya untuk Gito. "Dia juga keliatan capek," pikir Leon, membuat hatinya makin resah. Di kampus, kuliah terasa seperti kabut, Andra bertanya apakah dia baik-baik saja, tapi Leon hanya menggeleng, pikirannya penuh Sonya. --- Sementara itu, Sonya sendirian di rumah setelah Gito pergi, membersihkan dapur dengan tangan gemetar, pikirannya kembali ke sentuhan semalam. "Aku harus bicara sama dia. Hentikan ini sebelum terlambat," gumamnya. Tapi di lubuk hati, dia tahu: kegalauan ini baru awal.Kakek Piyama duduk di salah satu kursi plastik yang ada di atap. Beni berdiri di depannya, mendengarkan dengan saksama."Pertama, kekuatan tubuh tingkat satu. Dengan ini, kamu bisa melawan orang dewasa biasa. Tidak akan membuatmu jadi Superman, tapi setidaknya kamu tidak gampang dipukul. Kedua, ketampanan tingkat dua. Kamu sudah punya ketampanan tingkat satu, jadi kalau kamu ambil ini, wajahmu akan lebih menarik lagi. Mungkin setara dengan artis sinetron yang sering jadi tokoh protagonis itu. Ketiga, uang tingkat satu. Satu juta rupiah. Cair langsung gak pake KTP sama selfie kayak pinjol Keempat, kekuatan ekonomi tingkat satu. Dengan ini, kamu akan bisa melipatgandakan uangmu dengan cara-cara yang akan diberikan oleh liontin."Beni mengernyitkan dahi. "Maksudnya kekuatan ekonomi itu apa, Kek?""Contohnya, beberapa hari lalu kost harianmu ramai luar biasa. Itu demo. Liontin menunjukkan kemampuannya dalam mengatur hingga kamu dapat banyak uang. Sekarang demo sudah selesai, kostmu tidak
Beberapa detik berlalu. Rasa sakit pelan-pelan berubah. Hangat. Tekanan yang tadinya menyakitkan kini mulai menimbulkan sensasi lain. Laila membuka mata, menatap wajah Beni di bawahnya, lalu mulai menggerakkan pinggangnya sangat pelan.Dia mengangkat tubuhnya sedikit, lalu turun kembali. Gerakan pertama itu masih hati-hati. Tapi setiap kali batang kejantanan bergesekan dengan dinding liang kewanitaannya, kenikmatan mulai muncul. Laila menggigit bibir lagi, kali ini bukan karena sakit, melainkan karena rasa enak yang perlahan memenuhi tubuhnya."Enak..." bisiknya pelan. "Sekarang mulai enak."Dia mempercepat gerakan sedikit. Pinggulnya naik turun dengan tempo yang masih teratur. Payudaranya bergoyang setiap kali dia turun. Beni mengangkat tangan, meremas kedua payudara itu dengan lembut, ibu jarinya mengusap puting yang sudah mengeras. Laila mengerang pelan, mendorong dadanya lebih dekat ke tangan Beni."Lebih kencang pegangnya..." pinta Laila. "Saya suka."Beni menurut. Dia meremas le
Tari langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan. Wajahnya merah padam seperti tomat. "Eh! Tidak! Saya... saya cuma... maaf Mas! Saya lanjut kerja!"Gadis itu buru-buru bangkit dan berjalan cepat menuju dapur umum. Beni hanya bisa menatap kepergiannya dengan mulut ternganga."Itu tadi dia bilang saya cakep," bisik Beni. "Tapi dia yang bilang. Bukan saya yang minta. Berarti kalau nanti dia yang mengajak, itu sah."Beni tersenyum tipis. "Baiklah. Saya tunggu."Tapi yang ditunggu tidak datang. Tari malah bersembunyi di dapur umum. Siang itu kos tetap sepi. Beni duduk di meja resepsionis seperti raja tanpa kerajaan, menunggu wanita-wanita yang tidak kunjung pulang.Beni duduk di kursi resepsionis sampai rasa bosan benar-benar menguasai. Kos tetap sepi. Tari masih bersembunyi di dapur. Tidak ada tanda-tanda Rina, Maya, atau Kayla akan pulang dalam waktu dekat.Dia berdiri, meregangkan badan, lalu memutuskan keluar. Perutnya mulai keroncongan. Bau nasi uduk dari warung di seberang jalan
Beni berdiri di pinggir jalan, menatap mobil Sharon yang semakin menjauh. Debu jalanan beterbangan, menampar wajahnya pelan seperti peringatan halus dari alam semesta. "Rezeki nomplok lewat, malah gue tolak kayak orang sok suci," gumamnya pada diri sendiri.Suara Kakek Piyama langsung menyambar di telinganya. "Nah, itu baru namanya kesadaran. Sayangnya telat, mobilnya udah belok ke kiri."Beni menoleh kiri kanan. "Kakek di mana? Kok bisa denger pikiran saya?""Aku tidak mendengar pikiranmu. Kamu tadi bicara keras-keras. Orang di seberang jalan sampai ada yang menoleh tuh."Beni tersipu malu. "Oh.""Jadi, kamu mau dengar penjelasannya sekarang, atau mau terus berdiri di pinggir jalan seperti patung pahlawan yang lupa bawa senjata?""Mau dengar, Kek. Tapi tolong muncul dong. Ngomong sama suara tanpa wujud itu bikin saya kayak orang stress.""Tidak bisa. Sekarang aku lagi di pijat refleksi. Spa langgananku baru buka. Kalau aku menghilang dari spa, nanti tukang pijatnya jantungan, nanti a
Beni menatap kepergian mereka dengan napas yang akhirnya terlepas lega.Wanita di belakangnya masih gemetar. "Mas... Mas nggak apa-apa? Itu tadi... itu tadi pistol beneran, kan? Saya denger tembakannya...""Saya baik-baik aja, Bu." Beni berbalik dan menyerahkan tas cokelat itu padanya. "Ini tas Ibu."Wanita itu menerima tasnya dengan tangan bergetar. Matanya masih menatap Beni dengan campuran antara syukur, takjub, dan sedikit ketakutan. "Nama saya Sharon. Maaf, saya masih shock. Tadi itu... bagaimana Mas bisa... peluru itu...""Urusan teknis," Beni mengulangi jawaban yang sama. "Nggak usah dipikirin."Tapi Sharon tidak bisa berhenti memikirkannya. Dia melangkah mendekati Beni, memeriksa tubuhnya dengan panik. "Mas, saya harus pastikan Mas nggak terluka. Tadi itu peluru beneran. Saya denger tiga kali tembakan. Mungkin ada yang kena ..."Tangan Sharon mulai meraba bagian depan tubuh Beni. Memeriksa dadanya, perutnya, bahunya. Gerakannya cepat, penuh kecemasan yang tulus."Mas beneran n
Beberapa menit kemudian orgasme keempat datang. Kali ini lebih dalam dan lebih panjang. Sarinah tidak bisa menahan suara. Dia mengerang keras, tubuh bergetar hebat di pelukan Beni. Dinding liang keintimannya berkontraksi tanpa henti, seolah ingin menahan batang Beni di dalam selamanya. Cairan mengalir deras, membasahi sprei di bawah mereka.Beni menahan batangnya di titik terdalam sampai getaran itu benar-benar reda. Sarinah terengah-engah, tubuh lemas, tapi masih memegang tangan Beni erat-erat.“Sekarang… aku puas,” bisiknya akhirnya, suaranya serak dan lemah. “Tapi jangan keluar dulu. Biarkan aku merasakan kamu di dalam sedikit lebih lama.”Mereka tetap dalam posisi spooning, tubuh saling menempel, napas perlahan kembali normal. Di dalam tubuh Sarinah, tanpa keduanya sadari, proses penyembuhan terus berjalan seiring denyut terakhir yang masih terasa di antara mereka.***Pagi harinya cahaya matahari masuk melalui celah gorden kamar Sarinah. Beni baru membuka mata ketika merasakan ta
Sabtu ini terasa seperti mimpi demam yang tak pernah berakhir, di mana setiap detik di rumah besar itu dipenuhi dengan ketegangan erotis yang tak terucapkan antara Leon dan Sonya.Gito, ayah Leon, menghabiskan hari liburnya dengan santai—membaca koran di teras pagi hari, menonton pertandingan sepak
Hari ini, Leon memutuskan untuk mengubah rutinitasnya, berharap bisa mengalihkan pikiran dari kegelisahan yang semakin menjadi. Sejak malam sebelumnya, bayangan Sonya menghantuinya seperti hantu, mengikuti setiap gerak-geriknya di kelas, di kantin, bahkan di tidurnya. "Aku perlu hiburan," gumamnya
Pagi ini, sinar matahari pagi menyelinap masuk melalui tirai kamar Leon, membangunkannya dari tidur yang gelisah. Malam sebelumnya terasa seperti mimpi indah yang manis... sentuhan Sonya, desahannya, aroma kulitnya masih melekat di ingatannya. Namun kini, saat Leon membuka mata, kekhawatiran mera
Tubuh Sonya menimpa Leon. Kulit halus tangannya sempat bersentuhan dengan tangan Leon saat secara refleks, Leon menahannya.Dan dada penuh nan montok Sonya, sukses mendarat bahkan menggesek tubuh Leon. Ini membuat Leon menelan ludah. Sensasi ini begitu menggoda. Tubuh keduanya masih saling tempel







