تسجيل الدخولPagi ini, sinar matahari pagi menyelinap masuk melalui tirai kamar Leon, membangunkannya dari tidur yang gelisah.
Malam sebelumnya terasa seperti mimpi indah yang manis... sentuhan Sonya, desahannya, aroma kulitnya masih melekat di ingatannya. Namun kini, saat Leon membuka mata, kekhawatiran merayap masuk. "Bagaimana kalau dia bilang ke Ayah?" gumamnya, duduk di tepi tempat tidur, mengusap wajah dengan kedua tangan. Jantungnya berdebar kencang, membayangkan amukan Gito: teriakan, tuduhan, mungkin bahkan pengusiran. Leon bukan anak kecil lagi, tapi ayahnya memiliki otoritas yang tak tergoyahkan di rumah ini. Dengan langkah berat, dia turun ke meja makan, siap menghadapi badai. Ruang makan sudah semarak dengan aroma kopi dan roti bakar. Gito duduk di kepala meja, membaca koran pagi sambil menyesap kopi hitamnya. Sonya ada di dapur, menggoreng telur dadar dengan gerakan yang tampak biasa saja. Tapi saat Leon masuk, tidak ada ledakan. Gito hanya meliriknya dengan senyum lelah. "Selamat pagi, Nak. Duduk, makan dulu sebelum berangkat kuliah. Ayah ada rapat panjang hari ini, mungkin pulang malam." Suaranya normal, seperti biasa dan tidak ada tanda-tanda curiga atau marah. Leon menghela napas lega, duduk di kursinya, kakinya masih gemetar. Sonya menyajikan sarapan: telur, roti, dan buah segar. Tapi sikapnya berbeda. Padahal sebelumnya dia selalu tersenyum hangat, menatap Leon dengan penuh perhatian, kini matanya menghindar. Saat menyodorkan piring, dia tidak menatap matanya, hanya bergumam pelan, "Ini untukmu, Leon." Tubuhnya tampak tegang, seperti seseorang yang bertingkah canggung, pipinya sedikit merona, dan gerakannya tergesa-gesa, seolah ingin segera menjauh. Leon memperhatikan ini, dan senyum tipis muncul di bibirnya. "Dia tidak bilang," pikirnya. "Dia takut aku akan menuduhnya memulai. Baguslah." Keyakinan itu membuatnya semakin percaya diri, meski ada perasaan bersalah samar di dadanya. Sarapan berlalu tanpa insiden. Gito berangkat ke kantor, meninggalkan ciuman cepat di pipi Sonya. Leon mengendarai motornya ke kampus, angin pagi menyapu wajahnya, tapi pikirannya terus kembali ke malam sebelumnya. Di kampus, suasana ramai seperti biasa, mahasiswa berlalu lalang di koridor, udara dipenuhi tawa dan obrolan. Leon bertemu Andra di bangku taman antara jam kuliah pagi. Andra, dengan rambut acak-acakan dan tas ransel penuh stiker band rock, langsung menyapanya. "Bro, gimana kemarin? Jadi nggak lo coba ide gue? Ngegangguin ibu tiri lo biar kabur?" Leon melirik sekeliling, memastikan tidak ada yang mendengar, lalu mengangguk pelan. "Udah gue coba, Dra. Tengah malam, gue... gangguin dia di kamar gue. Gue cium, raba-raba dikit. Dia ancam mau lapor ke Bokap, tapi gue bilang gue bakal tuduh dia yang nyelinap ke kamar gue. Dia diem aja. Tapi... aku belum bisa ngasih video itu ke bokap." "Kenapa?" "Karena kelihatan kalau aku yang maksa. Nanti posisiku akan jadi lemah di depan bokapku." "Iya. Jangan. Kamu harus buat rekaman saat Ibu tirimu terlihat nyaman denganmu. Itulah saatnya. Saat ayahmu melihat video seperti itu, ibu tirimu bakal ditendang keluar dari rumahmu." "Yes." Andra terkekeh pelan, menepuk pundak Leon. "Haha, keren! Tapi sabar, bro. Cewek kayak gitu nggak langsung hanyut. Mungkin lo perlu 'serang' lagi. Kasih tekanan bertahap. Jangan buru-buru, tapi jangan berhenti juga." Leon mengangguk, tapi pikirannya sudah melayang. "Mungkin iya," gumamnya. Kelas berlanjut, tapi konsentrasinya hilang, setiap catatan dosen terasa kabur, tergantikan oleh bayangan tubuh Sonya. Saat istirahat makan siang di kantin kampus, aroma gorengan dan obrolan mahasiswa memenuhi ruangan. Leon duduk bersama Andra dan beberapa teman, memesan nasi ayam dan es teh. Tiba-tiba, seorang gadis mendekat—namanya Rina, mahasiswi cantik dari kelas sebelah, dengan rambut pendek dan senyum genit. Dia duduk di samping Leon, sengaja menyenggol lengannya. "Hei, Leon. Sendirian aja? Temenin makan yuk?" katanya sambil mengedip, tangannya menyentuh lengan Leon pelan, aroma parfum manisnya tercium. Biasanya, Leon mungkin tertarik. Rina populer, bertubuh langsing, dan bermata seksi. Tapi hari ini, pikirannya hanya tertuju pada Sonya. Kenangan ciuman semalam, kehangatan tubuhnya, desahan kecil yang lolos dari bibirnya, semua itu membuatnya tak bisa bergerak. "Nggak usah, Rin. Gue sibuk," balasnya dingin, matanya menatap ke luar jendela. Rina cemberut, tapi akhirnya pergi dengan kesal. Andra menyenggolnya. "Bro, lo nolak Rina? Gila, dia udah ngejar-ngejar lo." Leon hanya menggeleng. "Lagi nggak mood," bohongnya. Dalam hati, dia tahu: Sonya telah merasuki pikirannya, keintiman semalam seperti obat yang tak terlupakan. --- Sore itu, Leon pulang ke rumah dengan motornya, angin sore menyapu wajahnya. Rumah besar itu menyambutnya dengan keheningan, mobil Gito tidak ada di garasi, artinya ayahnya belum pulang dari rapat panjangnya. Di dalam, hanya Sonya dan seorang pembantu tetap, Mbok Siti, yang masih ada di rumah. Dua pembantu lain sudah pulang saat senja, seperti biasa. mereka hanya bekerja dari pagi hingga sore. Leon mendengar suara dari dapur: Sonya sedang memasak, aroma masakan pedas tercium di udara. Mbok Siti sedang membersihkan ruang tamu, tapi Leon tahu dia akan segera beristirahat di kamar belakang. Melihat Sonya sendirian di dapur, niat jahat muncul lagi di hati Leon. "Sekarang kesempatanku," pikirnya, tubuhnya membara oleh kenangan semalam. Tapi dia ragu. Bagaimana jika ayahnya tiba-tiba pulang? Gito bisa kembali kapan saja, dan suara mobilnya mudah terdengar dari jalan depan. Leon mondar-mandir di kamarnya, mencoba mengesampingkan ide itu. "Jangan gegabah, Leon. Ini bisa hancurin semuanya," gumamnya, duduk di tepi tempat tidur dan menatap jam. Tapi hasratnya terlalu kuat—bayangan Sonya yang bertingkah canggung tadi pagi hanya membuatnya semakin menginginkannya. Jauh di dalam hatinya, dia tahu. Ini bukan lagi soal menangkap basah Sonya, ini soal kebutuhan dia untuk menyentuh Sonya. Dan ini gila. Jam menunjukkan pukul 9 malam, dan rumah semakin sunyi. Mbok Siti sudah tidur, dan Gito masih belum pulang. Akhirnya, Leon memberanikan diri. "Sebentar aja," bisiknya, melangkah keluar kamar menuju kamar utama di lantai bawah. Pintu Sonya setengah terbuka, lampu tidur kuning redup menerangi ruangan. Sonya sedang duduk di tepi tempat tidur, membaca buku sambil mengenakan gaun tidur tipis warna krem yang memperlihatkan lekuk tubuhnya. Rambutnya terurai, dan dia tampak lelah tapi cantik dalam cahaya temaram. Leon masuk tanpa mengetuk, menutup pintu dengan pelan di belakangnya. Sonya tersentak, bukunya jatuh ke lantai. "Leon? Kamu ngapain di sini?" tanyanya, suaranya gemetar, matanya kembali menghindar, sama seperti tadi pagi. Leon mendekat dengan langkah mantap, matanya penuh nafsu. "Aku nggak bisa berhenti mikirin kamu, Sonya. Semalam... itu luar biasa." Tanpa menunggu jawaban, dia menarik Sonya berdiri, lengannya melingkar erat di pinggangnya. Bibirnya langsung menekan bibir Sonya, ciuman dalam dan penuh gairah, lidahnya menyelinap masuk, menari dengan lidah Sonya yang masih kaku. Sonya mencoba melawan—tangannya mendorong dada Leon, tubuhnya menggeliat, mencoba melepaskan diri. "Leon, berhenti! Ini salah... ayahmu bisa pulang kapan saja!" katanya di sela-sela ciuman, suaranya setengah memohon. Tapi perlawanannya tidak terlalu kuat, seperti malam sebelumnya, ada keraguan di matanya, campuran antara ketakutan dan hasrat yang tak ingin dia akui. Tubuhnya tidak sepenuhnya menjauh, malah sedikit merespons saat Leon mendekat.Setelah malam itu di hotel, Leon benar-benar berubah.Ia pulang ke rumah bersama Reva keesokan harinya. Sejak saat itu, Leon menolak hampir semua godaan. Sekretaris-sekretaris yang dulu sering ia “manfaatkan” di kantor kini hanya diperlakukan secara profesional. Ketika salah satu dari mereka mencoba mendekat setelah jam kerja, Leon langsung memotong dengan tegas,“Saya sudah punya pasangan. Jangan ulangi lagi.”Di rumah, Fatika masih sempat mencoba. Suatu sore ia masuk ke kamar Leon tanpa izin, hanya memakai tank top tipis. Leon yang sedang duduk di sofa langsung berdiri.“Keluar,” katanya datar. “Dan bilang pada nenekmu, mulai hari ini kalian berdua tidak bekerja di rumah ini lagi.”Fatika terkejut. “Den…?”Leon sudah menyiapkan amplop tebal. “Ini pesangon untuk nenekmu. Lebih dari cukup. Ambil, lalu pergi. Jangan kembali.”Sang nenek menangis saat menerima uang itu, tapi Leon tetap teguh. Keesokan harinya rumah terasa lebih tenang. Reva melihat semuanya. Ia tidak bilang apa-apa, tap
Reva menangis hampir satu jam di depan rumah Surya. Ia duduk di tangga, menutup wajah dengan kedua tangan, tubuhnya gemetar. Kenangan demi kenangan dengan Leon terus berputar di kepalanya — dari bangku SMA, dari malam-malam kuliah, dari janji-janji yang pernah mereka ucapkan, dan dari semua luka yang kemudian datang.Surya berdiri di sampingnya, tidak menyentuh, hanya menunggu dengan sabar. Leon berdiri beberapa langkah di depan, wajahnya pucat, tangan mengepal, siap menerima penolakan.Akhirnya Reva mengangkat wajahnya yang basah. Ia berdiri, langkahnya pelan, lalu mendekati Surya.Surya tersenyum kecil, mengira Reva sudah memutuskan untuk tinggal. Leon menunduk, menghela napas panjang, lalu berbalik, bersiap pergi.Tapi Reva memegang lengan Surya. Suaranya serak dan pecah.“Surya… maafkan aku.”Surya mengerutkan kening. “Reva?”Reva menunduk, air mata masih menetes. “Aku tidak bisa. Aku sudah mencoba. Aku sudah ingin memilih yang baru, yang tenang, yang tidak menyakitiku. Tapi hatik
Di depan rumah Surya, suasana menjadi sangat diam. Angin sore berhembus pelan, menggoyangkan daun-daun di taman kecil. Reva berdiri di ambang pintu, Surya di sampingnya, sementara Leon berdiri beberapa langkah di depan mereka dengan wajah yang campur aduk antara putus asa dan tekad.“Reva, aku minta kesempatan sekali lagi,” kata Leon, suaranya serak. “Aku sadar. Aku sudah jatuh cinta lagi padamu. Benar-benar.”Surya menatap Reva, tidak memaksa, hanya menunggu. Reva menghela napas panjang, lalu menggeleng pelan.“Leon, aku sudah memilih Surya,” katanya tegas. “Aku sudah bilang. Aku tidak ingin kembali. Kamu terlalu sering menyakitiku. Kamu selingkuh, kamu masih memikirkan Sonya, dan aku selalu jadi nomor dua.”Leon menunduk sebentar, lalu mengangkat wajahnya lagi. Matanya berkaca-kaca, tapi ia tidak menyerah.“Aku tahu aku salah. Aku tahu aku brengsek. Tapi Reva… sebelum kamu benar-benar pergi, dengar aku sekali saja. Ingat masa kita dulu.”Reva ingin menutup pintu. Ia ingin mengakhiri
Cahaya matahari pagi menyusup lembut melalui gorden kamar Surya. Reva membuka mata pelan. Tubuhnya terasa hangat, masih berada dalam pelukan Surya. Pria itu sudah terbangun lebih dulu, menatapnya dengan senyum yang tenang.“Pagi,” bisik Surya sambil mengusap rambut Reva.Reva tersenyum kecil, masih setengah mengantuk. “Pagi…”Surya mencium keningnya. “Aku sudah siapkan sesuatu. Jangan turun dulu.”Ia bangun dari ranjang, mengenakan celana pendek, lalu keluar kamar. Beberapa menit kemudian, Surya kembali membawa nampan kayu. Di atasnya ada sarapan lengkap: roti panggang, telur, potongan buah, dan dua cangkir kopi susu yang masih mengepul. Di samping nampan, ada vas kecil berisi bunga mawar putih dan merah yang masih segar.Reva terkejut. “Kamu… sudah siapkan ini semua?”Surya tersenyum. “Aku bangun pagi-pagi. Aku ingin kamu bangun dengan sesuatu yang manis.”Mereka sarapan di ranjang. Surya sesekali menyuapi Reva, dan Reva membalas dengan tawa kecil. Suasana pagi itu terasa ringan, jau
Setelah ronde woman on top, Reva masih tergeletak di dada Surya. Tubuh mereka basah keringat. Surya mengusap punggung Reva pelan, lalu berbisik,“Mandi dulu. Biar segar.”Reva mengangguk. Mereka bangkit dari ranjang dan masuk ke kamar mandi yang cukup luas. Surya menyalakan shower rain di atas. Air hangat segera mengguyur tubuh mereka.Reva berdiri di bawah guyuran air, membiarkan rambutnya basah. Surya berdiri di belakangnya sebentar, menyabuni punggung Reva dengan gerakan lembut. Lalu ia memutar tubuh Reva hingga menghadapnya.Mereka saling menatap di bawah air hangat. Surya menunduk, mencium Reva. Ciuman itu basah, bercampur air shower. Lidah mereka saling mencari. Tangan Surya turun ke bokong Reva, mengangkatnya sedikit.Reva membalas ciuman dengan lebih berani. Ia melingkarkan tangan di leher Surya. Batang Surya yang sudah mengeras lagi menekan perut bawah Reva.Surya mengangkat satu kaki Reva, menyandarkannya di pinggulnya. Dengan tangan satunya ia mengarahkan batangnya, lalu me
Billy tertidur pulas di samping Reva, napasnya teratur. Reva membuka mata, menatap langit-langit kamar hotel yang gelap. Ada kekosongan yang tiba-tiba datang. Tubuhnya masih terasa hangat dari sentuhan Billy, tapi hatinya kosong.Ia tahu Leon sekarang sering berganti-ganti wanita. Rasa kecewa itu belum hilang. Reva ingin membalas, ingin membuat Leon merasakan apa yang ia rasakan. Tapi bersama Billy malam ini… rasanya tidak cukup. Tidak ada yang berubah di dalam dirinya.Pelan-pelan Reva bangun. Ia memakai baju, mengambil tas, lalu keluar dari kamar tanpa membangunkan Billy. Di parkiran, ia menaiki mobilnya dan mulai memutar-mutar Jakarta di malam yang sudah larut.Jalanan relatif sepi. Reva tidak tahu mau ke mana. Ia hanya membiarkan mobil berjalan. Di sebuah trotoar yang agak terang, ia melihat motor yang dimodifikasi menjadi gerobak kopi mini. Seorang pria muda berdiri di sampingnya, sedang merapikan gelas. Dagangannya sepi.Pria itu cukup tampan. Rambutnya rapi, wajahnya bersih, da
Leon tidak peduli. Tangannya mulai bergerak, dengan lembut tapi kuat meremas pinggul Sonya, menariknya semakin dekat sampai tubuh mereka menempel. "Tenang, Ayah belum pulang," bisiknya, bibirnya berpindah ke leher Sonya, mencium dan menjilati kulit lembut di sana dengan gerakan lambat, meninggalkan
Tubuh Sonya menimpa Leon. Kulit halus tangannya sempat bersentuhan dengan tangan Leon saat secara refleks, Leon menahannya.Dan dada penuh nan montok Sonya, sukses mendarat bahkan menggesek tubuh Leon. Ini membuat Leon menelan ludah. Sensasi ini begitu menggoda. Tubuh keduanya masih saling tempel
Dada besar, tubuh ramping dengan lekuk nyaris sempurna, dan pastinya wajah cantik dengan kulit kencang.Leon berdiri kaku di depan pintu kamarnya ketika Gito, ayahnya baru saja pulang dari bulan madu dengan istri barunya.Namun, tentu saja pandangan Leon bukan tertuju pada pria 49 tahun itu, melain
Sabtu ini terasa seperti mimpi demam yang tak pernah berakhir, di mana setiap detik di rumah besar itu dipenuhi dengan ketegangan erotis yang tak terucapkan antara Leon dan Sonya.Gito, ayah Leon, menghabiskan hari liburnya dengan santai—membaca koran di teras pagi hari, menonton pertandingan sepak







