ANMELDENPagi datang bersama kabut tipis yang menggantung di antara pepohonan Grizzly Peak.Namun untuk pertama kalinya setelah berhari-hari menyelidiki jejak Nathaniel Nolan, pikirannya Avery tidak dipenuhi koordinat, Samuel Voss, atau Richard Hale.Pikirannya justru tertuju pada Oliver.Karena malam sebelumnya, saat mereka membahas jurnal Nathaniel, ada satu hal yang gagal ia abaikan.Ketika nama Samuel Voss muncul, Oliver bereaksi.Tidak besar.Tidak dramatis.Tetapi cukup.Seolah ada sesuatu yang mengganggunya.Sesuatu yang belum pernah ia ceritakan.Avery sedang menuang kopi ketika suara mesin kendaraan terdengar dari luar.Ia mengangkat kepala.Oliver langsung berdiri dari kursinya.Bukan karena panik.Karena refleks.Avery mulai mengenali perbedaan keduanya.Panik berasal dari ketakutan.Refleks berasal dari pengalaman.Dan Oliver memiliki terlalu banyak pengalaman."Seseorang datang."Oliver sudah berdiri di dekat jendela."Aku bisa mendengar itu.""Itu bukan Logan.""Bagaimana kau tah
Keheningan memenuhi ruang kerja tua itu.Tidak ada seorang pun yang berbicara setelah Avery membaca kalimat pertama dari buku catatan Nathaniel.Jika kau membaca ini, berarti mereka masih mencari.Suara jam tua di ruang tamu terdengar berdetak pelan.Di luar jendela, malam terus turun perlahan di atas Grizzly Peak.Namun di dalam ruangan itu, waktu seolah berhenti.Avery menatap halaman yang terbuka di depannya.Untuk pertama kalinya sejak datang ke gunung ini, ia merasa seolah sedang berbicara langsung dengan pamannya.Bukan melalui dokumen.Bukan melalui arsip.Bukan melalui petunjuk yang tertinggal.Melainkan melalui kata-kata yang sengaja ditulis untuknya."Teruskan."Suara Oliver terdengar rendah.Tenang.Namun Avery bisa merasakan ketegangan di baliknya.Ia menarik napas panjang.Lalu melanjutkan membaca.Jika kau menemukan buku ini, berarti dua kemungkinan telah terjadi.Yang pertama, aku sudah mati.Yang kedua, seseorang telah menemukan tempat persembunyianku.Aku berharap kem
Nathaniel tahu.Itulah satu-satunya pikiran yang terus berputar di kepala Avery sejak menemukan catatan kecil di sela buku tua itu.Jangan percaya orang yang datang membawa kontrak.Kalimat sederhana.Namun semakin dipikirkan, semakin mengganggu.Karena beberapa hari sebelumnya, Richard Hale muncul tepat dengan membawa tujuan yang sama.Membeli tanah.Membeli rumah.Membeli warisan Nolan.Seolah Nathaniel telah melihat semuanya jauh sebelum terjadi.Oliver membaca catatan itu untuk ketiga kalinya.Lalu melipatnya dengan hati-hati."Kita tunjukkan ini pada Logan."Avery mengangguk."Tapi ada yang menggangguku.""Apa?""Kalau Nathaniel tahu seseorang akan datang..."Avery menatap ruang kerja tua itu."Kenapa dia tidak menjelaskan alasannya?"Oliver tidak langsung menjawab.Tatapannya berkeliling ruangan.Rak buku.Lemari tua.Dinding kayu.Meja kerja.Seakan melihat tempat itu untuk pertama kalinya."Mungkin dia tidak sempat.""Mungkin.""Mungkin dia tidak percaya siapa pun.""Itu lebih
Jejak sepatu itu masih terlihat saat seluruh orang berdiri di belakang kabin Nolan.Tidak jelas.Tidak sempurna.Namun cukup untuk memberi arah.Ke utara.Selalu ke utara.Avery berdiri dengan kedua tangan terselip di dalam saku jaketnya. Angin sore bertiup di antara pepohonan pinus, membuat cabang-cabang tua bergoyang perlahan di atas kepala mereka."Tidak mungkin kebetulan lagi."Logan mengangguk."Tidak."Tristan masih berjongkok di dekat jejak tersebut.Saat pria itu fokus pada sesuatu, seluruh dunia seolah menghilang dari perhatiannya.Jarinya menyentuh tanah yang mulai mengering setelah salju mencair."Berapa lama?" tanya Oliver."Tiga hari.""Akurat?""Aku tidak pernah memberi angka kalau tidak yakin."Austin mengembuskan napas."Itu berarti seseorang masuk ke rumah Avery beberapa hari sebelum kita menemukan kompartemen rahasia itu.""Tepat," kata Logan."Dan mereka sudah tahu apa yang dicari."Mereka mengikuti jejak itu beberapa ratus meter ke arah hutan.Awalnya cukup mudah.
Avery tidak bisa menghilangkan kalimat terakhir Richard Hale dari pikirannya.Mungkin Anda ingin bertanya pada Nathaniel kenapa dia begitu takut.Kalimat itu terus mengikutinya sepanjang perjalanan pulang.Nathaniel takut.Paman yang selama ini ia kenal sebagai pria keras kepala, pendiam, dan hampir tidak pernah meminta bantuan siapa pun.Takut pada apa?Atau siapa?Oliver mematikan mesin truk di depan kabin Nolan.Bangunan tua itu berdiri sunyi di lereng bawah, sebagian besar lapisan salju di sekitarnya kini telah mencair dan memperlihatkan fondasi batunya yang tua.Avery turun lebih dulu."Aku ingin memeriksa lagi."Oliver mengangguk."Aku ikut.""Aku tidak meminta izin.""Kau tidak mendapatkannya."Avery memutar mata.Meski begitu, ia tidak berdebat lebih lanjut.Sudah hampir dua minggu sejak terakhir kali mereka benar-benar memeriksa kabin warisan itu.Sebagian besar waktu mereka habiskan di kabin utama milik Oliver atau di markas Broken Halos.Kunci berputar.Pintu terbuka.Aroma
Avery tidak menyukai pagi itu.Bukan karena cuacanya.Bukan karena jalan menuju markas Broken Halos yang licin akibat salju yang baru mencair.Tetapi karena semalaman ia terus memikirkan satu kalimat yang diucapkan Logan melalui radio.Samuel Voss tidak pernah dinyatakan meninggal.Kalimat itu terus berputar di dalam kepalanya seperti roda yang tidak mau berhenti.Jika Samuel tidak pernah meninggal, lalu ke mana pria itu pergi?Dan kenapa seseorang berusaha menghapus keberadaannya dari hampir setiap catatan yang mereka temukan?Oliver mengemudikan truk dalam keheningan yang nyaman. Satu tangannya berada di setir, sementara tangan lainnya sesekali menyentuh punggung tangan Avery yang berada di kursi tengah.Sentuhan kecil.Hampir tidak berarti.Namun cukup untuk membuat Avery merasa sedikit lebih tenang."Aku tidak suka ini," katanya akhirnya."Kau sudah mengatakannya tiga kali.""Aku tetap tidak suka.""Itu tidak berubah."Avery mendengus pelan.Oliver meliriknya sekilas."Logan akan







