Share

Terjebak Hasrat Terlarang Tetanggaku
Terjebak Hasrat Terlarang Tetanggaku
Author: Risya Petrova

Jamah aku!

Author: Risya Petrova
last update Last Updated: 2025-09-12 19:22:48

“Tolong … lebih keras, Sayang …,” bisik Rina dengan napas tersengal.

Ranjang mereka bergoyang, deritnya beradu dengan detak jantung Rina yang semakin terpompa.

Di tengah pergumulan itu, rambut panjangnya terurai, menutupi sebagian wajahnya yang kini menatap suaminya.

Tapi yang Rina lihat justru membuat dadanya sesak, Ervan–suaminya, bahkan tak menunjukkan minat, seolah tubuhnya bergerak hanya demi kewajiban dan naluri prianya saja.

“Ah …,” suara lirih itu lolos begitu saja dari bibir Rina. Ia meremas rambut suaminya yang berpotongan sangat rapi itu. Tiba-tiba saja suara dering ponsel Ervan berdering.

Mendengar dering ponselnya, Ervan langsung melepaskan tubuh Rina. Ia menjauh. Seolah istrinya tidak penting, sedangkan gawainya adalah hal yang paling membuatnya tertarik.

Ervan sudah menjauh. Nafasnya berat, tubuhnya jatuh ke sisi ranjang.

Rina mengernyitkan keningnya. “Van … Kamu ngapain? Siapa yang kirim pesan malam-malam begini?”

Ervan sudah bangkit, meraih baju tidurnya, lalu berjalan ke meja kerja di pojok kamar. Sama sekali tidak menjawab pertanyaan istrinya itu.

Rina menatap tak percaya ketika melihat suaminya setelah membaca pesan teks chat di ponselnya, malah membuka laptop, layar biru itu memantulkan wajah dingin yang sama sekali tak menoleh padanya.

Dia memilih mengalah. Berjalan ke arah meja dan mengalungkan tangannya di leher suaminya itu, mungkin dengan bujuk rayu sedikit suaminya akan mau melanjutkan hubungan mereka yang belum tuntas itu.

“Rina, jangan sentuh aku! Aku lagi kerja!” bentaknya tiba-tiba. Laptop ditutup keras, membuat Rina terlonjak. “Aku bilang aku capek! Kerjaan aku banyak banget! Jangan bikin ribet!”

Rina membeku di belakang Ervan. Hatinya terasa diremas. Ia tak minta banyak. Hanya ingin dipeluk, dicintai, dianggap ada. Bukannya malah hanya dijadikan hiasan di dalam rumah saja.

“Kamu kenapa sih …? Baru juga tadi kita mau ….” Kalimat Rina terjeda. Menatap nanar suaminya. “Tadi yang kirim pesan siapa?”

“Ini urusan kerjaan. Soal di rumah sakit.”

Rina menggigit bibir bawahnya. Dua tahun belakangan, rumah tangga mereka terasa asing. Jarak mereka semakin jauh, padahal masih tinggal di satu atap yang sama. Ia rindu pelukan, rindu belaian, bahkan rindu sekadar tatapan penuh hangat dan candaan ringan. Bukan dingin seperti ini.

Dengan keberanian yang entah dari mana muncul, ia mendekat. Jari-jarinya menyentuh bahu suaminya, pelan. “Aku cuma … mau kita sehangat dulu,” bisiknya lirih. Mencoba berinisiatif.

Dengan tubuh yang masih polos dan peluh yang masih menempel di kulitnya, Rina mendekatkan buah dadanya yang bulat sempurna ke pundak suaminya. Itu semua dilakukan demi sang suami mau melakukannya kembali.

Seperti tahun-tahun awal pernikahan mereka yang semanis madu.

Rina menyelipkan kedua tangannya di antara lengan Ervan. Tangannya yang lembut merayapi dada bidang Ervan, memeluknya dari belakang.

Namun respon Ervan tak seperti yang diharapkan.

Ervan mendengus, kali ini menoleh sekilas. “Rin, aku capek. Besok pagi ada operasi jam enam. Bisa nggak kamu ngerti sedikit?” sentaknya sembari melepaskan kedua tangan Rina yang tengah merangkulnya.

“Van … maaf … aku cuman ….”

Tapi Ervan sudah kembali berbalik, merebahkan diri dengan kasar, lalu menarik selimut. Punggungnya kini jadi pemandangan terakhir sebelum lampu kamar dimatikan.

Rina duduk di sisi ranjang, matanya panas. Ada sesuatu yang menekan di dadanya, antara marah, kecewa, dan hasrat yang tak tersalurkan. Ia menatap lama punggung suaminya, seolah menunggu mukjizat.

Tapi mukjizat tak pernah datang.

Dengan napas berat, Rina bangkit. Kakinya melangkah pelan keluar kamar, menuruni tangga. Rumah terasa sunyi, hanya suara detak jam dinding menemani. Ia menuju pintu kaca yang menghubungkan ruang tengah dengan halaman belakang.

Cahaya lampu kolam renang menyambutnya, memantul di permukaan air biru yang tenang. Udara malam masih hangat, membuat kulitnya sedikit lengket. Rina berdiri di tepi kolam, menatap pantulan dirinya. Menatap wajah seorang perempuan dua puluh delapan tahun yang masih cantik, tapi tak lagi bersinar seperti dulu.

“Kenapa aku harus merasa kesepian di rumah sendiri?” bisiknya getir. “Rumah ini tak lagi rumah ….”

Ia mulai menanggalkan gaun tidurnya, sehelai demi sehelai. Malam itu, ia tak ingin ada kain yang menempel di tubuhnya. Semua beban, semua rasa kecewa, ingin ia lepaskan bersama pakaian yang kini berserakan di lantai marmer.

Tanpa pikir panjang, ia melangkah ke dalam kolam. Tubuhnya yang langsing perlahan menyentuh air. Dingin kini menyapu kulitnya, menyegarkan sekaligus membangkitkan rasa lain yang sulit dijelaskan. Rina menggerakkan tubuhnya, berenang perlahan. Rambut panjangnya terurai, membiarkan air membelai leher dan punggungnya.

Ia menutup mata, membiarkan tubuh melayang bebas. Setiap kayuhan tangan dan hentakan kaki serasa melepaskan simpul-simpul kesedihan.

Rina mendesah pelan, bukan karena lelah, melainkan karena ada sesuatu yang menggelora di dalam dirinya. Sesuatu yang tak tersentuh oleh lelaki yang seharusnya ia sebut suami. Sudah hampir setahun Ervan tak pernah menyentuhnya.

Hanya sebuah alasan lelah.

Sikapnya pun sudah berubah menjadi kasar dan juga dingin.

Rina terus berenang. Mengusir rasa penat, sakit hati dan kebingungan atas sikap suaminya.

Hingga ia tak menyadari satu hal. Dari lantai dua rumah sebelah, sebuah jendela kamar terbuka setengah. Cahaya lampu remang-remang membuat tirai tipis sedikit tersibak.

Dan dari balik jendela itu, seorang pria muda berusia tak jauh dari usia Rina, sedang duduk santai di kursi kerja dengan sandaran besar dan empuk.

Ia memangku sebuah gitar dan jemarinya memetik senar. Namun, saat menikmati semilir angin malam yang masuk dari jendela yang sedikit terbuka, tiba-tiba matanya terperangah.

Netra pria itu tak sengaja menatap Rina yang berenang di tengah malam tanpa mengenakan sehelai benang pun!

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (4)
goodnovel comment avatar
Risya Petrova
Baca terus lanjutannya kak ... ......
goodnovel comment avatar
Ognindi Wingky
sptnya ada yg lain ...di Evan
goodnovel comment avatar
Cerita Tina
Ga enak banget jadi rina
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Terjebak Hasrat Terlarang Tetanggaku   Kabur

    "Rina menunduk!!!"Pshhhhhhhh!Asap putih pekat menyembur dari tabung pemadam, membutakan pandangan Ervan dan Toni. Di tengah kepulan asap itu, Fahmi menarik sebuah flare darurat dari kantong pintu mobil dan menyalakannya. Cahaya merah menyala yang sangat silau memenuhi area sempit itu, membuat semua orang menutup mata.Sambil terus menyemprotkan asap, Fahmi berteriak sekuat tenaga agar suaranya terdengar oleh Toni dan anak buahnya."Toni! Dengar aku! Ervan tidak akan membayar kalian!" seru Fahmi dengan nada penuh wibawa. "Dia sedang dalam penyelidikan audit rumah sakit! Semua rekeningnya akan dibekukan besok pagi karena kasus penggelapan dana alat kesehatan. Kalian hanya akan menjadi kambing hitam atas kekerasan ini, sementara dia melarikan diri ke luar negeri!"Toni terbatuk-batuk di tengah asap, mencoba mencari pegangan. "Apa?!""Bram sudah tahu semuanya!" lanjut Fahmi. "Itulah kenapa Bram berani melawan kakaknya sendiri! Dia tahu Ervan hanyalah kapal karam yang akan menyeret siapa

  • Terjebak Hasrat Terlarang Tetanggaku   Menyedihkan

    Suara besi yang bergesekan dengan aspal itu terdengar seperti lonceng kematian yang ditarik pelan. “Srak ... srak ... srak ….” Ervan menyeret tongkat besinya dengan langkah santai, namun auranya begitu mengintimidasi. Di bawah temaram lampu sorot mobil, wajah Ervan tampak seperti porselen putih yang retak, pucat, dan mengerikan dengan senyum yang tidak sampai ke mata.Senyuman yang mengintimidasi."Turun, Rina," suara Ervan terdengar tenang, namun ada getaran kemarahan yang tertahan di sana. "Atau aku benar-benar akan menghancurkan kepala penulis ini di depan matamu."Di dalam mobil, napas Rina terasa sesak. Ia mencengkeram lengan jaket Fahmi. Ia sungguh ketakutan. Bukan hanya takut untuk dirinya sendiri. Namun ia takut nyawa Fahmi terancam.Di samping mereka, Bram yang tadi keluar dari mobil masih berdiri mematung setelah membisikkan sesuatu ke telinga Toni.Toni, si pria bertangan besi itu, tampak tertegun. Matanya menyipit, menatap Bram dengan pandangan yang sulit diartikan. Ia m

  • Terjebak Hasrat Terlarang Tetanggaku   Obesesi

    Mereka sampai di lantai bawah, namun langkah mereka terhenti di ruang tamu. Toni, si pria dingin bertangan besi, sudah berdiri di sana dengan dua orang anak buahnya. Ia sedang menyesap sebatang rokok, menatap Fahmi dan Rina dengan pandangan meremehkan."Mau ke mana, Tuan Penulis?" tanya Toni tenang. "Dokter Ervan sudah membayar mahal untuk memastikan Nyonya Rina pulang malam ini.""Minggir!" Fahmi memasang posisi pasang, meski ia tahu ia bukan tandingan pria di depannya."Fahmi, di belakangmu!" teriak Rina.Salah satu anak buah Toni menerjang dari arah dapur. Fahmi menghindar, namun ia terkena pukulan telak di perutnya yang membuatnya tersungkur. Rina berteriak, hendak menolong, namun lengannya ditarik kasar oleh Toni."Lepaskan aku! Dasar binatang!" Rina meronta, mencoba mencakar wajah Toni.Tepat saat keadaan terasa buntu, sebuah lampu sorot mobil tiba-tiba menyala dari arah pintu samping yang tembus ke garasi. Suara deru mesin mobil off-road milik Bram menggelegar. Mobil itu mundur

  • Terjebak Hasrat Terlarang Tetanggaku   Serangan

    Dung! Dung! Dung!Suara hantaman tongkat besi Ervan pada pintu kamar kayu itu terdengar seperti lonceng kematian. Setiap dentuman membuat debu-debu halus jatuh dari langit-langit villa, seiring dengan jantung Rina yang serasa ingin melompat keluar dari dadanya. Ia meringkuk di sudut tempat tidur, mendekap erat kaos oversize yang dikenakannya, seolah kain itu bisa melindunginya dari murka suaminya."Fahmi, buka pintunya!" raung Ervan dari luar. Suaranya tidak lagi terdengar seperti manusia, melainkan seperti binatang buas yang sedang kelaparan. "Kamu pikir bisa bersembunyi di balik pintu ini selamanya? Aku tahu apa yang kalian lakukan di dalam sana! Aku akan menghancurkan tangan yang sudah berani menyentuh istriku!"Fahmi berdiri di depan pintu, kedua tangannya menahan lemari kecil yang ia geser untuk membarikade jalan masuk. Napasnya memburu, peluh dingin membasahi keningnya. Ia menoleh ke arah Rina, mencoba memberikan tatapan menenangkan meski tangannya sendiri gemetar hebat."Rin,

  • Terjebak Hasrat Terlarang Tetanggaku   Mengambil kembali "milikku"

    Bibir Fahmi mendarat di atas permukaan bibir Rina dengan lembut, dan perlahan tapi pasti melumatnya.Gerakannya pelan, lembut namun pasti. Setiap sentuhan Fahmi terasa seperti obat bagi luka batinnya, bukan hanya sekedar nafsu. Di saat momen mulai memanas, di saat mereka benar-benar berada di ambang penyerahan diri yang paling intim.BZZZT ... BZZZT ... BZZZT ....Sebuah getaran kuat terasa dari saku celana jogger yang dikenakan Rina. Saku itu terjepit di antara tubuh mereka, membuat getarannya terasa begitu nyata dan mengganggu.Rina tersentak. Sensasi panas yang tadi menyelimutinya seolah disiram air es seketika. Fahmi pun menghentikan gerakannya, wajahnya yang penuh gairah kini berubah menjadi bingung."Ponselmu?" tanya Fahmi dengan napas yang masih berat.Rina mengangguk pelan, jantungnya berdegup kencang karena rasa takut yang tiba-tiba muncul kembali. Dengan tangan gemetar, ia merogoh sakunya dan mengeluarkan ponsel yang tadi sempat ia matikan namun tampaknya menyala kembali ka

  • Terjebak Hasrat Terlarang Tetanggaku   Sentuhan yang menenangkan

    Kayu bakar di dalam perapian meletup pelan, mengeluarkan percikan api kecil yang menari-nari di balik jeruji besi. Cahaya jingga dari api itu memantul di wajah Rina, memberikan rona hangat pada kulitnya yang saat ini terlingat sangat pucat. Di luar, angin Puncak menderu, menggoyangkan dahan-dahan pohon pinus yang menghasilkan suara desis seperti bisikan alam. Namun, di dalam ruangan itu, waktu seolah-olah dipaksa berhenti demi memberikan ruang bagi dua jiwa yang sedang dahaga akan ketenangan.Fahmi berjalan kembali dari arah dapur membawa dua cangkir teh melati yang uapnya masih mengepul tipis. Ia meletakkan cangkir-cangkir itu di meja rendah, lalu duduk kembali di samping Rina di atas karpet bulu yang tebal."Minumlah, Rin. Ini akan sedikit menghangatkanmu," ucap Fahmi lembut.Rina meraih cangkir itu dengan kedua tangannya, mencari kehangatan dari keramik yang panas. Ia menghirup aroma melati yang menenangkan, mencoba mengusir sisa-sisa trauma dari cengkeraman Ervan yang seolah masi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status