MasukDebu-debu halus menari di bawah sorot lampu senter yang tajam, membelah kegelapan kamar yang pengap. Di bawah dipan kayu yang sempit, Rina merasa dunianya seolah mengecil hingga hanya seukuran ruang antara lantai semen yang dingin dan papan ranjang di atasnya. Ia bisa mencium aroma tanah dari sepatu boot Pak Jaja yang hanya berjarak beberapa jengkal dari wajahnya.Fahmi mempererat dekapannya. Lengan pria itu terasa kokoh, seolah menjadi satu-satunya benteng yang memisahkan Rina dari amukan massa atau cengkeraman Ervan. Tepat saat jemari kasar Pak Jaja menyentuh pinggiran sprei rumbai yang kusam, sebuah teriakan memecah ketegangan dari arah luar rumah."Pak Jaja! Bagaimana? Ketemu tidak? Anjingnya makin berisik di belakang, seperti mencium bau orang!" seru anak buah mandor itu dari halaman depan.Gerakan tangan Pak Jaja terhenti. Ia mematung selama beberapa detik yang terasa seperti seabad bagi mereka yang bersembunyi."Iya, sebentar lagi saya keluar! Ini sedang saya periksa teliti sa
Suara gonggongan anjing yang bersahut-sahutan di kejauhan terdengar seperti sangkakala kematian yang berdentang di tengah sunyinya perkebunan karet Sukabumi. Cahaya senter yang meliuk-liuk di kejauhan, menembus kabut dan rintik hujan, bergerak semakin cepat menanjak menuju rumah semi-permanen tempat mereka bersembunyi."Kita tidak punya pilihan lain, kita harus lari sekarang juga!" desis Fahmi. Suaranya rendah, namun penuh dengan desakan adrenalin yang memuncak. “Maaf Rin, bukannya aku pengecut. Tapi kita kalah jumlah dengan warga.”Fahmi segera menyambar tas ranselnya yang masih tergeletak di lantai kayu. Ia menoleh ke arah Rina yang wajahnya sudah sepucat kertas. Ketakutan yang nyata terpancar dari sepasang mata indahnya. Secara logika, mereka tidak akan pernah bisa menang melawan massa yang tergiur oleh uang seratus juta rupiah. Bagi penduduk di sekitar perkebunan ini, angka seratus juta adalah keajaiban yang bisa mengubah hidup mereka selamanya. Dan bagi Ervan, itu hanyalah rece
SUV hitam itu melaju menembus jalanan aspal yang semakin menyempit dan berlubang. Setelah keluar dari jalur utama yang berisiko, Bram memutuskan untuk memutar jauh, menghindari Cianjur yang merupakan basis keluarga Aqila. Ia membawa mereka ke arah selatan, menuju sebuah wilayah perkebunan karet terpencil di daerah Sukabumi.Suasana malam di sini sangat pekat. Pepohonan karet yang berjejer rapi di sisi jalan tampak seperti barisan raksasa yang mengawasi pelarian mereka. Gerimis mulai turun, menciptakan aroma tanah basah yang kuat menyusup ke dalam kabin mobil."Kita akan aman di sini untuk sementara," ucap Bram sambil memutar setir memasuki sebuah jalan setapak tanah. "Ini rumah singgah milik kenalanku, seorang mandor perkebunan yang sedang bertugas di luar kota. Tidak ada yang tahu tempat ini, bahkan Ervan sekalipun."Bram menghentikan mobilnya di depan sebuah bangunan semi-permanen yang didominasi kayu. Di sekelilingnya hanya ada keheningan, sesekali pecah oleh suara burung malam dan
DUAK! DUAK! Kaca jendela SUV itu bergetar hebat di bawah hantaman kepalan tangan Ervan. Wajah pria itu menempel di kaca, memperlihatkan sorot mata yang bukan lagi seperti manusia, melainkan predator yang baru saja menemukan mangsanya."RINA! KELUAR!" raung Ervan dari luar. Suaranya teredam kaca, tapi kebenciannya terasa menembus hingga ke tulang.Di dalam mobil, Rina mencengkeram lengan Fahmi dengan sangat kuat, hingga kuku-kukunya memutih. Napasnya memburu, matanya tidak bisa lepas dari sosok suaminya yang sedang mengamuk di luar."Kenapa dia bisa ada di sini?" bisik Rina dengan suara yang nyaris hilang. "Apa Toni menjebak kita? Apa dia sengaja kasih tahu Ervan kalau kita di sini?"Bram, yang sudah berada di kursi pengemudi, menatap layar ponselnya yang mati total dengan wajah frustrasi. "Nggak, Rin. Aku rasa Toni nggak bohong. Dia benar-benar membelot.""Terus kenapa Ervan tahu?" cecar Rina lagi, air matanya mulai tumpah."Ponselku," jawab Bram pendek sambil memukul setir. "Sinyal
Di tengah kesunyian yang mencekam dan rasa putus asa yang mulai menggerogoti kewarasan, sebuah getaran mendadak muncul dari saku celana Bram. Ia tersentak, mengira itu hanya halusinasi akibat kelelahan luar biasa. Ia yakin ponselnya sudah mati total sejak beberapa jam lalu. Namun, getaran itu nyata. Dengan tangan gemetar, ia merogoh sakunya dan mendapati layar ponselnya menyala redup, menampilkan angka 2% di pojok baterai, sebuah keajaiban kecil yang muncul di saat yang paling kritis.Layar itu menampilkan nomor yang tidak dikenal. Bram ragu sejenak, mungkinkah ini jebakan lain dari Ervan? Namun begitu, ia tetap menggeser ikon hijau."Halo?" suara Bram parau, hampir tidak terdengar."Bram? Ini Toni."Mendengar nama itu, tubuh Bram menegang seketika. Amarah dan kecurigaan bergejolak di dadanya. Ia segera menjauh beberapa langkah dari Fahmi yang sedang merangkul Rina. "Toni? Mau apa lagi kamu? Dari mana kamu dapat nomor pribadiku?""Aku tahu banyak hal dengan mudah, Bram. Itu pekerjaan
Mobil Mini Cooper milik Claudia melaju membelah kabut malam yang semakin tebal. Di dalam kabin yang kedap suara itu, bau parfum mahal Claudia bercampur dengan aroma keringat dan debu dari pakaian Ervan. Suasana begitu menyesakkan, bukan karena sempitnya ruang, melainkan karena ego dua orang di dalamnya yang saling berbenturan.Ervan menyandarkan kepalanya ke kursi, memejamkan mata mencoba meredam denyut di pelipisnya. Namun, suara Claudia segera membuyarkan ketenangannya."Jadi, kita mulai dari mana, Dokter?" tanya Claudia tanpa menoleh, matanya tetap fokus pada jalanan yang berkelok. "Kamu sudah tahu kan, aku tidak menjemputmu hanya karena rasa iba. Aku mau kita memperjelas kesepakatan kita."Ervan menghela napas berat, matanya terbuka, menatap profil samping wajah Claudia yang tampak keras. "Apa yang kamu mau, Claudia? Uang? Kamu tahu aku bisa memberimu lebih dari yang kamu bayangkan setelah aku membereskan Fahmi."Claudia tertawa sinis, suara tawanya terdengar garing. "Uang? Janga







