MasukDung! Dung! Dung!Suara hantaman tongkat besi Ervan pada pintu kamar kayu itu terdengar seperti lonceng kematian. Setiap dentuman membuat debu-debu halus jatuh dari langit-langit villa, seiring dengan jantung Rina yang serasa ingin melompat keluar dari dadanya. Ia meringkuk di sudut tempat tidur, mendekap erat kaos oversize yang dikenakannya, seolah kain itu bisa melindunginya dari murka suaminya."Fahmi, buka pintunya!" raung Ervan dari luar. Suaranya tidak lagi terdengar seperti manusia, melainkan seperti binatang buas yang sedang kelaparan. "Kamu pikir bisa bersembunyi di balik pintu ini selamanya? Aku tahu apa yang kalian lakukan di dalam sana! Aku akan menghancurkan tangan yang sudah berani menyentuh istriku!"Fahmi berdiri di depan pintu, kedua tangannya menahan lemari kecil yang ia geser untuk membarikade jalan masuk. Napasnya memburu, peluh dingin membasahi keningnya. Ia menoleh ke arah Rina, mencoba memberikan tatapan menenangkan meski tangannya sendiri gemetar hebat."Rin,
Bibir Fahmi mendarat di atas permukaan bibir Rina dengan lembut, dan perlahan tapi pasti melumatnya.Gerakannya pelan, lembut namun pasti. Setiap sentuhan Fahmi terasa seperti obat bagi luka batinnya, bukan hanya sekedar nafsu. Di saat momen mulai memanas, di saat mereka benar-benar berada di ambang penyerahan diri yang paling intim.BZZZT ... BZZZT ... BZZZT ....Sebuah getaran kuat terasa dari saku celana jogger yang dikenakan Rina. Saku itu terjepit di antara tubuh mereka, membuat getarannya terasa begitu nyata dan mengganggu.Rina tersentak. Sensasi panas yang tadi menyelimutinya seolah disiram air es seketika. Fahmi pun menghentikan gerakannya, wajahnya yang penuh gairah kini berubah menjadi bingung."Ponselmu?" tanya Fahmi dengan napas yang masih berat.Rina mengangguk pelan, jantungnya berdegup kencang karena rasa takut yang tiba-tiba muncul kembali. Dengan tangan gemetar, ia merogoh sakunya dan mengeluarkan ponsel yang tadi sempat ia matikan namun tampaknya menyala kembali ka
Kayu bakar di dalam perapian meletup pelan, mengeluarkan percikan api kecil yang menari-nari di balik jeruji besi. Cahaya jingga dari api itu memantul di wajah Rina, memberikan rona hangat pada kulitnya yang saat ini terlingat sangat pucat. Di luar, angin Puncak menderu, menggoyangkan dahan-dahan pohon pinus yang menghasilkan suara desis seperti bisikan alam. Namun, di dalam ruangan itu, waktu seolah-olah dipaksa berhenti demi memberikan ruang bagi dua jiwa yang sedang dahaga akan ketenangan.Fahmi berjalan kembali dari arah dapur membawa dua cangkir teh melati yang uapnya masih mengepul tipis. Ia meletakkan cangkir-cangkir itu di meja rendah, lalu duduk kembali di samping Rina di atas karpet bulu yang tebal."Minumlah, Rin. Ini akan sedikit menghangatkanmu," ucap Fahmi lembut.Rina meraih cangkir itu dengan kedua tangannya, mencari kehangatan dari keramik yang panas. Ia menghirup aroma melati yang menenangkan, mencoba mengusir sisa-sisa trauma dari cengkeraman Ervan yang seolah masi
BRAAAKKKK!Suara benturan logam yang mengerikan memecah kesunyian malam di kompleks tersebut. Ervan tidak menunggu gerbang itu terbuka sempurna. Ia memaksakan moncong mobilnya masuk, membuat sisi kanan mobilnya menghantam pintu gerbang besi yang kokoh itu.Percikan api keluar saat logam bergesek dengan logam. Bodi mobil sedan mahal itu tergores dalam, dan pintu gerbang otomatisnya langsung macet dengan posisi miring, mengeluarkan suara derit yang menyayat telinga sebelum akhirnya mesinnya mati total karena rusak parah.Ervan tidak peduli. Ia menghentikan mobilnya di tengah halaman dengan posisi asal-asalan, hampir menabrak air mancur di depan teras. Ia keluar dari mobil, membanting pintunya hingga bergetar, dan berjalan menuju pintu utama rumah dengan langkah yang gemetar karena amarah yang memuncak.Membiarkan pintu gerbang yang rusak itu begitu saja. Ia masuk ke dalam rumah, langsung menuju bar kecil di sudut ruang tamu. Ia menuangkan wiski ke dalam gelas dengan tangan yang bergeta
Hawa dingin Puncak mulai menyusup melalui pori-pori dinding kayu villa, namun ketegangan di dalam ruangan itu jauh lebih membekukan. Bram masih berdiri di dekat pintu, kunci mobil di tangannya bergemerincing pelan, namun kakinya seolah berat untuk melangkah keluar.Di atas, terdengar suara gemericik air dari kamar mandi. Rina sedang membersihkan diri, mencoba membasuh trauma yang tertinggal dari cengkeraman Ervan. Di bawah, Fahmi mengamati Bram dengan kening berkerut. "Bram, apa kamu baik-baik aja? Kamu keliatan aneh.”Bram berdeham, mencoba menetralkan raut wajahnya yang sempat mengeras. “Aku baik-baik aja. Cuman capek.”“Kalau capek … kamu tinggal di sini aja dulu. Ini kan villa kamu juga,” ujar Fahmi. "Nggak, Mi. Aku harus siap-siap ke bandara. Besok siang ada meeting sama klien yang nggak bisa dibatalkan."Meskipun bicaranya begitu, Bram justru berjalan menuju dapur. Ia membuka kulkas, mengeluarkan sebotol air mineral, lalu meneguknya dengan gerakan yang kaku. Ia seolah sedang me
Keheningan di dalam villa kayu itu terasa lebih menusuk dari pada angin malam yang merayap masuk lewat celah pintu. Rina berdiri mematung di belakang tubuh Fahmi, jemarinya mencengkeram erat pinggiran jaket parka milik Fahmi. Dunianya seolah jungkir balik saat melihat pria yang duduk di sofa kulit itu.Pria itu bangkit berdiri. Perawakannya tegap, dengan rambut sedikit gondrong yang diikat asal-asalan. Ia mengenakan kaus hitam polos yang dilapisi kemeja flanel terbuka. Wajahnya memiliki garis rahang yang serupa dengan Ervan, namun dengan sorot mata yang jauh lebih liar dan bebas."Bram?" sapa Fahmi, suaranya mengandung kelegaan namun juga keheranan. "Katanya kamu di luar kota? Tadi aku telepon nggak diangkat."Pria bernama Bram itu tersenyum tipis. "Jadwal pemotretan batal karena cuaca buruk, Mi. Ponselku mati kehabisan baterai." Pandangannya kemudian beralih ke arah Rina. Ada kilatan aneh di matanya. Sesuatu yang lebih dari sekadar rasa ingin tahu.Bram menatap Rina cukup lama. Matan







