LOGINBerita tentang skandal itu hampir memenuhi seluruh media. Kali ini, Atika benar-benar menusukku dari belakang. Sean bahkan harus pulang lebih awal karena kejadian tersebut.Pagi itu, ketika aku hendak berangkat ke kantor, Sean baru saja tiba di apartemen.“Sayang, kamu baik-baik saja?”Dia langsung memelukku begitu kami bertemu di ruang keluarga. Aku mengangguk dalam pelukannya.Sejujurnya, aku sedikit panik dan takut. Bukan karena tuntutan Atika, melainkan karena memikirkan bahaya yang mungkin ditimbulkannya. Aku khawatir dia akan bertindak di luar kendali, sama gilanya seperti Ariel dulu.Setelah melepaskan pelukan, Sean menciumi hampir seluruh wajahku hingga aku tertawa geli.“Sudahlah. Aku tahu kamu khawatir, dan aku juga merasakan hal yang sama. Aku bahkan tidak mengerti bagaimana Atika bisa melakukan semua ini hanya dalam semalam,” kataku jujur.Kehadiran Sean sedikit menenangkan perasaanku.“Kamu sudah sarapan?” tanyaku.Dia mengangguk.“Hari ini aku akan ikut ke Orchid bersama
Saat Atika kembali dari toilet, dia sama sekali tidak menyadari bahwa aku sudah mengutak-atik ponselnya. Aku meletakkan benda itu kembali ke tempat semula, lalu menghabiskan jus alpukatku.“Aku akan mempertimbangkan saranmu,” kata Atika setelah duduk dan kembali menyantap makanannya yang tersisa.Aku hanya tersenyum tipis sambil menikmati hidangan penutup. Aku memesan pai buah beri dingin yang rasanya manis dan lezat.“Semoga ke depannya kita bisa lebih sering berkomunikasi. Kurasa Sean tidak ingin ikut campur dalam urusan ini,” ujarku, sengaja kembali memancing reaksinya. Aku tahu betul bahwa sasaran utama Atika sebenarnya adalah Sean.“Benarkah? Bukankah lebih baik kalau Sean mengetahui masalah ini? Bukankah dia yang memberiku resor itu?”Aku mengunyah potongan pai dengan santai, seolah sedang mempertimbangkan perkataannya.“Tapi bukankah kamu ingin aku membeli perusahaanmu? Resor itu juga sudah menjadi milikmu. Kalau kamu memang ingin masalah ini selesai dengan baik, tentukan pilih
Joana mendapati aku sedang bersiap-siap menemui Atika ketika dia membuka pintu ruang kerjaku.“Memangnya kamu mau ke mana, Mika? Tadinya aku berencana mengajakmu makan siang,” katanya sambil menyampaikan rencananya.Aku tersenyum kecil sembari merapikan penampilanku di depan cermin.“Aku mau makan siang bersama Atika.”Aku menyemprotkan parfum ke leher dan kedua pergelangan tanganku.“Serius? Kamu mau memberitahunya kalau rencana pembelian perusahaan itu batal?” Joana bertanya lagi. Kini dia sudah berdiri di sampingku.Aku mengembuskan napas panjang.“Mungkin saja. Tapi aku sudah menyiapkan rencana cadangan. Kamu tidak perlu khawatir. Cukup bersiap menghadapi segala kemungkinan dan tunggu instruksiku mengenai masalah ini. Mengerti?”Aku menoleh ke arahnya. Joana mengangguk mantap.“Bagus. Sampai nanti.”Setelah menepuk bahunya, aku tersenyum lalu meninggalkan ruanganku.Kali ini, aku sengaja meminta Jared mengantarku. Siapa tahu aku membutuhkan bantuan atau terjadi sesuatu yang tidak
“Ya ampun, Mika! Aku senang sekali kau mengajakku ke sini. Kebetulan aku memang sedang butuh hiburan.”Caroline langsung berceloteh begitu tiba di apartemenku. Dia memelukku erat sebelum aku mengajaknya ke dapur untuk membantu membawa belanjaan yang dibawanya.“Apa yang akan kita masak untuk makan siang?” tanyaku sambil memperhatikan Caroline yang sibuk mengeluarkan berbagai bahan makanan dan meletakkannya di atas meja dapur berbahan granit baru di dekat kompor.Caroline tampak berpikir sejenak.“Bagaimana kalau ayam panggang?”“Boleh juga. Aku akan membuat ayam panggang kalau kau setuju.”Aku membuka bagian pendingin lemari es dan memeriksa isinya satu per satu sebelum mengambil seekor ayam utuh yang sudah dibersihkan dan dibuang bagian dalamnya.“Tidak masalah. Aku sudah menyiapkan tumis sayuran, kentang tumbuk, dan salad sayuran. Oh, kau mau mencoba ini?” Caroline mengangkat sebuah kemasan makanan. “Kimchi. Makanan Korea.”Aku memang tidak terlalu akrab dengan kuliner Korea, tetapi
Pakaian bayi yang kulihat kali ini benar-benar menggemaskan. Sudah hampir setengah jam aku berada di toko tersebut, sibuk menjelajahi deretan pakaian dan perlengkapan bayi yang dipajang dengan begitu menarik.Hari ini hari Minggu. Tidak ada pekerjaan mendesak yang harus kuselesaikan di apartemen, jadi aku memutuskan keluar untuk mencari beberapa perlengkapan bagi calon bayiku. Aku bahkan meminta Jared mengemudikan mobil karena sedang malas menyetir sendiri.Setelah memilih beberapa potong pakaian dan perlengkapan bayi, aku juga memutuskan membeli sebuah kereta bayi. Jared membantuku membawa semua belanjaan ke mobil, sementara aku masih ingin berkeliling sebentar.Rasanya belum puas kalau langsung pulang.Pusat perbelanjaan cukup ramai pada akhir pekan. Kebanyakan orang memanfaatkan hari libur untuk menyelesaikan berbagai keperluan atau sekadar menikmati waktu luang. Aku pun begitu. Jika sudah waktunya libur, aku benar-benar ingin melepaskan diri dari urusan pekerjaan dan tidak menyent
Kiriman yang dipesan Ronald untukku akhirnya tiba hari ini. Aku langsung membuka amplop cokelat berukuran besar itu dan memeriksa isinya. Jantungku berdegup lebih cepat begitu melihat deretan foto di dalamnya.Foto-foto Atika.Perempuan itu rupanya telah dibuntuti dan diam-diam difoto tanpa sepengetahuannya. Namun, bukan keberadaannya yang pertama kali menarik perhatianku, melainkan sesuatu yang tampak berbeda dari penampilannya.Perutnya sudah rata. Tidak ada lagi tonjolan yang biasanya terlihat pada perempuan hamil.Keningku berkerut. Berbagai kemungkinan mulai bermunculan dalam pikiranku. Jika dugaanku benar, seharusnya Atika sudah melahirkan.Lalu, apa yang sebenarnya terjadi pada kehamilan dan bayinya?Pikiran tentang Atika membuatku gelisah. Aku harus meminta penjelasan langsung dari Ronald.Aku: Ron, aku ingin penjelasan tentang foto-foto yang kau kirimkan.Sambil menunggu balasannya, aku kembali memeriksa dokumen yang harus kutandatangani. Setelah memasukkan foto-foto itu ke d







