LOGINDewi Batinku mengintip dari balik novel Fifty Shades of Grey yang sedang dibacanya. Tatapannya tampak waspada, seolah dia juga merasakan ada sesuatu yang tidak beres.“Semuanya baik-baik saja,” jawab Sean.“Benarkah? Kalau memang semuanya sudah beres, kamu tidak mungkin pulang dengan suasana hati seburuk itu.”“Tidak, Sayang. Jangan berbohong kepadaku. Aku tahu ada masalah dengan kantormu.”Aku memperhatikannya dari belakang ketika dia sibuk memotong sayuran. Sean tidak langsung menjawab. Dia justru melanjutkan pekerjaannya, lalu menyiapkan air mendidih untuk merebus sayuran yang sudah dipotongnya.“Ariel mencuri beberapa dokumen dari Oslo dan melukai salah satu karyawanku.”Jemari tanganku saling meremas. Rasa takut menjalar seketika, seperti sengatan listrik yang menyambar tubuhku.“Bagaimana dia bisa masuk?”“Dia menyamar sebagai teknisi perusahaan. Kejadiannya seminggu lalu.”Pikiranku segera menghubungkan informasi itu dengan kebakaran di perusahaan Papa. Mungkin kedua kejadian t
Sean pergi bersama Sam setelah memberikan sejumlah perintah yang membuatku kesal. Aku tahu ada sesuatu yang sedang terjadi, tetapi kalau dia tidak ingin aku ikut campur, setidaknya dia tidak perlu memperlakukanku seolah-olah aku anak kecil yang tidak bisa menjaga diri sendiri.“Sudah waktunya saya pulang. Apa masih ada yang bisa saya bantu?”Suara Nyonya Liam membuatku tersentak. Aku menoleh ke arahnya.“Tidak, Nyonya Liam. Terima kasih untuk hari ini.” Aku tersenyum tulus untuk menunjukkan rasa terima kasihku, dan dia membalas senyum itu.“Saya antar kamu pulang. Saya juga ingin keluar.”“Tapi....”“Tidak baik menolak kebaikan orang lain, Nyonya Liam.”Aku bersikeras, sampai akhirnya dia mengangguk setuju. Aku tersenyum puas. Memangnya Sean pikir dia bisa menahanku di apartemen hanya dengan sikapnya yang terlalu mengatur itu? Aku bahkan merasa sesak karena diperlakukan seperti seseorang yang tidak boleh mengambil keputusan sendiri.Aku segera mengambil kunci mobil dan ponsel dari lac
Aku menatap Kakek Ali dengan penuh tanda tanya. Sebenarnya, keluarga mereka sedang terlibat dalam urusan apa?Dewi Batinku berusaha berkonsentrasi membaca majalah Vogue yang sejak tadi dipegangnya. Sementara itu, akal sehatku menyandarkan tubuh pada kursi empuknya, memejamkan mata seolah sedang mencari jawaban atas semua pertanyaan yang memenuhi kepalaku.Apakah keluarga Sean sedang menghadapi masalah besar? Apa yang sebenarnya terjadi?“Kita tunggu saja hasil penyelidikan polisi. Mudah-mudahan mereka segera menemukan titik terang,” ujar Kakek Ali.Sean meraih tanganku, kemudian menyelipkan jemari kami di atas pahanya. Aku bisa merasakan kegelisahannya. Ada sesuatu yang sedang dipikirkannya, sesuatu yang membuat wajahnya tampak lebih serius dari biasanya.Setelah ketiganya berpamitan, Sean dan aku berjalan menuju kamar. Dia merangkulku dari belakang dengan satu tangan, sementara tangan lainnya melingkari bahuku. Begitu sampai di kamar, kami naik ke ranjang. Aku langsung mengambil posi
Sean tersenyum, lalu mengecup ujung hidungku. Aku menggigit bibir bawah sambil tersenyum malu. Meskipun kami baru saja melewati momen intim bersama, gairah itu masih terasa, menetap di dalam diriku dan membuatku sulit mengabaikan kehadirannya.“Kamu menggigit bibir, Mika.”“Memangnya kenapa?”Aku tahu betul apa maksud tatapannya. Namun, aku ingin mendengarnya mengucapkan sendiri keinginannya, dengan suara rendah yang selalu terdengar menggoda di telingaku.“Aku ingin tidur bersamamu.”“Memangnya kita mau tidur?”Sean tertawa dengan suara baritonnya yang dalam dan seksi. Senyum di bibirnya semakin membuatku salah tingkah. Dia memejamkan mata sejenak sebelum kembali menatapku dengan mata emas yang memancarkan gairah. Tatapannya seolah menyentuh sesuatu di dalam diriku, sesuatu yang tersembunyi di balik kegelapan, penuh hasrat dan kenikmatan terlarang.“Ya. Kita akan tidur setelah aku selesai denganmu.”Aku kembali menggigit bibir bawah. Getaran menyenangkan yang muncul akibat kata-katan
Aku melepas sabuk pengaman setelah pesawat berada dalam posisi terbang yang stabil. Perjalanan menuju Dubai sudah berlalu, dan kini kami sedang dalam perjalanan kembali. Aku menoleh kepada Sean, teringat sesuatu yang sejak tadi ingin kutanyakan.“Carrie dan Ron tahu kalau aku pergi ke Dubai?”Aku menunggu jawabannya. Sean mengangguk, tampak santai dengan kaus rajut biru tua yang dikenakannya. Entah mengapa, melihatnya dalam penampilan sesederhana itu membuatku ingin terus berada dalam pelukannya. Rasanya pasti nyaman sekali jika aku bisa bersandar di dadanya tanpa memikirkan apa pun.“Kamu menginginkan sesuatu?”Aku mengangguk. Wajahku terasa panas karena malu, tetapi aku berusaha mengumpulkan keberanian untuk mengatakannya.“Katakan saja.”“Aku ingin kamu memelukku,” jawabku lirih.Aku mengintip wajahnya dari balik bulu mata. Sean tersenyum menawan, dan senyum itu langsung membuat pertahananku runtuh. Dia bangkit dari kursinya lalu menghampiriku. Namun, sebelum aku sempat menduga apa
Aku menyeka air mata yang masih membasahi pipi. Setelah menangis cukup lama, tubuhku terasa lelah, tetapi beban emosional yang sejak tadi menyesakkan dada sedikit berkurang. Mungkin aku bisa menemukan ketenangan di Dubai, jauh dari segala kerumitan hubunganku dengan Sean dan mantan kekasihnya yang menyebalkan itu.Pandanganku beralih ke jendela kamar. Dari tempat tidur, aku bisa melihat puncak-puncak gedung pencakar langit yang menghiasi kota ini. Beberapa saat kemudian, Sean kembali dan duduk di tempatnya semula. Dia meraih tanganku, membuatku menunduk untuk memperhatikan jemari kami yang saling bertautan.“Aku hanya berusaha menjauhkanmu dari masalah dan bahaya, tetapi kamu memang perempuan yang keras kepala.”Aku tersenyum tipis. Ya, aku memang keras kepala. Namun, bukankah dia sudah tahu sifatku sejak awal pernikahan kami?“Setiap kali masalah dan bahaya datang menghampiri kita, bukannya menghindar, kamu justru mendekatinya. Bahkan ketika aku berusaha menjauhkanmu dari semua itu,







