مشاركة

Bab 3

مؤلف: Sisca
"Pak Axel, kita sudah putus!"

Pada hari itu, Hannah pergi ke klub mencari Axel.

Axel duduk bersama tunangannya, Sharon Liedarto.

Sharon terbaring dalam pelukan Axel. Keintiman di antara mereka berdua sudah memuncak.

Hannah mendengar sendiri Axel menyebut namanya dengan suara dingin.

"Hannah itu hanya anak yatim piatu yang diadopsi orang tuaku. Aku anggap dia adik kandung."

"Kalau kamu keberatan, aku akan jaga jarak dengannya dari sekarang."

"Sifatnya lemah, dan nggak punya pendirian. Nggak usah dipedulikan."

Sampai sekarang Hannah masih ingat ekspresi wajah Axel saat itu, sungguh munafik!

Kemudian, Axel menyadari Hannah mendengarnya dan mengejar ke toilet.

Hannah lalu mengajak putus.

Axel pun setuju.

Hannah berpikir, mungkin Axel juga ingin putus, hanya menunggu dia yang mengajukan lebih dulu.

Saat beranjak pergi, tunangan Axel datang dan menampar Hannah.

"Hannah, aku harap kamu paham posisimu! Jangan pikir kamu bisa sembunyikan niatmu. Aku akan nikah dengan Axel nanti. Kamu jangan ganggu priaku!"

Hannah diam-diam menyukai Axel selama bertahun-tahun.

Bagaimana mungkin tidak ada yang tahu?

Namun, mereka pacaran tiga bulan, tidak ada yang tahu.

Axel ... jika benar-benar ingin menyembunyikan sesuatu, pasti bisa disembunyikan dengan baik.

Kenangan masa lalu seperti jarum yang menusuk hati. Hannah tidak ingin memikirkannya lagi.

Hannah menarik Janet untuk pergi.

Tapi Axel menggenggam pergelangan tangan Hannah. "Jangan ngambek lagi. Masalah itu akan kujelaskan padamu nanti."

Hannah mengentakkan tangan Axel dan menegurnya dengan suara dingin, "Pak Axel, tolong jaga sikap. Kalau dilihat tunanganmu, dia akan kira aku nggak tahu malu mau goda kamu lagi. Kamu anggap aku adik kandung, begitu juga, aku anggap kamu kakak kandung!"

Axel mengembuskan napas. Masih saja mengambek.

Tidak bisakah bersikap lebih penurut?

Melihat Axel masih ingin mengganggu, Janet menggunakan jurus andalannya, tinjuan.

Hampir saja mengenai wajah tampan Axel.

"Axel, jangan ganggu Hannah lagi! Dia itu orang Keluarga Siregar kami!"

Setelah itu, Janet dengan bangga merangkul Hannah dan pergi.

Axel bergumam sendiri, "Ternyata sudah dapat pelindung baru."

Akan tetapi, Hannah ... kamu akan kembali padaku!

Axel menelepon seseorang. "Gimana urusan Danau Mapel?"

"Pak Axel, tanah itu sudah dibeli orang tiga tahun lalu. Susah payah baru bisa hubungi pembelinya, dan dia setuju jual pada kita. Siapa tahu tiga hari lalu ...."

Wajah tampan Axel tampak sedikit muram. "Singkat saja."

"Tanah itu diambil oleh Grup Siregar."

Mengingat Janet yang ingin meninjunya tadi, Axel mengerutkan alis. "Siapanya?"

"Putri sulung Keluarga Siregar, Janet."

Napas Axel perlahan bertambah cepat.

Axel awalnya ingin membeli tanah Danau Mapel untuk diberikan pada Hannah. Asal Hannah senang, pasti akan pulang dengan patuh.

Tak disangka malah didahului orang Keluarga Siregar.

Tampaknya setelah berteman dengan Janet ini, Hannah memang punya keberanian, tidak lagi menginginkan "kakak" seperti dirinya.

"Pakai namamu, cari cara rebut tanah itu dari tangan Janet!"

"... baik!"

Merebut barang milik Keluarga Siregar sama seperti merebut makanan dari mulut harimau.

Danu pun mengumpat habis-habisan dalam hati.

...

"Hannah, kamu terlalu baik hati. Kalau aku, sudah lama blokir pria bajingan itu."

Hannah berdeham sebelum berujar, "Aku sudah blokir WhatsApp-nya, tapi aku sudah tinggal di rumah Keluarga Gunawan bertahun-tahun, nggak bisa terlalu berlebihan."

"Iya, iya, utang budi pengasuhan, aku paham. Aku juga nggak ngerti si Axel ini. Apa otaknya nggak waras? Sudah tunangan dengan Sharon, kenapa masih ganggu kamu?"

Hannah juga tidak mengerti.

Urusan pernikahan bisasanya bukan keputusan mendadak.

Jika Paman Jordan dan Bibi Wenda sudah lama memilih Sharon, mengapa Axel menyanggapi pengungkapan perasaannya tiga bulan lalu?

Axel berkata ingin cari kesempatan yang tepat untuk memberi tahu Paman dan Bibi, jadi tidak banyak yang tahu mereka berpacaran.

Sekarang dipikir-pikir, mungkin semua itu adalah rencana yang sudah Axel perhitungkan.

Di satu sisi bisa menikmati kekaguman dan pengorbanannya, di sisi lain ingin menikahi putri keluarga kaya yang sederajat.

Sederajat ....

Hannah menelan ludah beberapa kali.

Dulu, dia juga pernah menjadi keluarga kaya yang dimanjakan oleh orang tua.

Melihat mata Hannah sedikit basah, Janet buru-buru mengganti topik. "Aku mau kasih kamu hadiah pernikahan, 'kan? Begitu milktea yang kupesan sampai, kita langsung berangkat!"

"... bukannya kamu mau diet?"

"Minum milktea dulu baru ada tenaga untuk diet."

Janet tidak gemuk, hanya bertubuh montok. Tampak langsing saat berpakaian, tetapi badannya berisi. Akan tetapi, Janet terus berkata ingin diet, menjadi langsing dan cantik seperti Hannah.

Hannah juga selalu mengatainya lucu.

"Nggak tahu ayahku bisa pulang cepat atau nggak."

"Kamu bilang apa?"

"Ah ... nggak bilang apa-apa."

...

Di gedung perkantoran Grup Siregar.

Di luar jendela kantor CEO, terhampar pemandangan sungai Kota Belutara yang berkelok. Dinding kaca menyaring sinar matahari siang dengan lembut, jatuh di sofa kulit berwarna gelap.

Jacob memegang cangkir kopi hitam yang sudah dingin, tanpa sadar mengusap dinding cangkir dengan jari. Matanya yang biasa dingin seperti es, sekarang dengan langkanya dihiasi sedikit kekhawatiran yang sulit ditangkap.

Felix William yang datang menonton drama, melihat ekspresi Jacob itu, langsung tahu masalahnya besar!

"Benaran sudah nikah? Aku pikir foto akta nikah yang kamu kirim semalam itu editan."

Felix dan Yohan Jonathan kemarin malam juga ditelepon Nenek Liana, disuruh memperkenalkan calon untuk Jacob si batang kara itu.

Setumpuk foto yang Nenek Liana berikan padanya, Jacob tidak sudi melihat selembar pun.

Felix, Jacob, dan Yohan adalah teman masa kecil. Hubungan mereka seperti saudara kandung.

Mereka bertiga adalah sahabat karib yang terkenal di seluruh Kota Belutara. Mereka berantem bersama, minum bir bersama, mengejar wanita bersama, dan membesarkan anak bersama.

Ehm ... maksudnya membantu Yohan mengejar wanita, seorang kakak yang cantik dan tegas.

Lalu, membantu Jacob membesarkan anak. Tak disangka Jacob yang pergi ke Negara Avronus untuk program bantu di umur 18 tahun, tiba-tiba menikah dan membawa pulang bayi.

Sebelum mendapat jawaban dari Jacob, Yohan yang berpakaian jas rapi mendorong pintu dan masuk!

"Ada apa sih? Aku sedang jalan-jalan dengan tunanganku, tapi kalian buru-buru suruh aku datang!"

Felix merespons, "Tanya dia."

"Bir semalam nggak bagus? Nggak mungkin. Aku dan tunanganku sudah minum beberapa kali, dan setiap kali langsung berefek. Semalaman juga nggak capek. Gimana, kamu nggak berfungsi?"

Yohan berbicara dengan lugas.

Wajah Jacob berubah muram. "Masih berani bilang?"

Kemarin setelah mendaftarkan pernikahan, Jacob kembali ke perusahaan untuk menyelesaikan urusan. Yohan berkata dirinya dicampakkan oleh tunangannya, lalu merengek minta minum bir.

Selesai minum, Jacob merasa ada yang tidak beres.

Sepulang ke rumah, istri muda yang baru dinikahinya membantunya ke kamar mandi. Entah mengapa, Jacob yang biasanya sangat terkendali seperti mendapat pembebasan seketika.

Binatang buas dalam dirinya keluar.

Felix bertanya dengan penuh semangat, "Yohan, akta nikah Kak Jacob bukan editan! Dia benaran nikah! Aku khusus tanya Janet pagi ini, Janet bilang itu kakak kelasnya!"

Yohan mengumpat.

"Sembilan dari sepuluh mahasiswa jurusan arsitektur itu jelek. Cewek di akta nikah itu ... cantiknya luar biasa. Itu benaran Kakak Ipar?"

Jacob mengangguk serius.

"Iya."

Sudah menikah.

Melihat Jacob mengangguk, Felix lebih bersemangat lagi. "Kakak kelas Janet, berarti kamu ... tua-tua keladi, makin tua makin jadi?"

Yohan meledek, "Kak Jacob kuat, tua pun nggak takut!"

Jacob mendengus, lalu kedua temannya langsung diam!

Jacob merenung. "Aku panggil kalian ke sini untuk tanya sesuatu."

Yohan menatapi Jacob dengan waspada. "Kamu sendiri yang salah minum semalam, bukan salahku!"

Yohan telah berjanji pada Nenek Liana untuk diam-diam menguji apakah benar Yohan sudah "tidak berfungsi". Jika benar-benar menikah, Jacob bisa pulang dan mengatasinya dengan natural. Jika tidak menikah ... Yohan juga sudah menyiapkan seorang wanita cantik dan bersih.

Tak disangka Jacob main hilang habis minum bir kemarin sehingga Yohan tidak sempat mengaturnya.

Felix memutar mata. "Kamu takut apa? Kalau bukan karena birmu, emangnya dia bisa dapat istri cantik? Dengan sifatnya itu, meski nikah juga nggak belum tentu bisa lepas per ...."

Jacob melemparkan tatapan tajam.

Felix langsung menutup mulut.
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Terjebak Perangkap Cinta, Aku Mabuk   Bab 50

    Axel memicingkan mata."Proposal proyek kerja sama dengan Grup S&D itu?"Hannah agak terkejut.Axel berkata dengan lancar, "Aku terus cari kesempatan kerja sama dengan Grup S&D. Pak Eric memberikan kesempatan bagus. Dalam kerja sama mereka dengan Grup S&D, ada tempat untuk Grup Gunawan."Mata Hannah membelalak.Tak disangka, langkah Axel begitu cepat.Benar juga, proyek yang Axel incar, tidak ada yang lolos dari tangannya.Apalagi sekarang Axel adalah menantu Keluarga Liedarto. Tentu saja Pak Eric mau menghargainya."Karena kamu sudah tahu, aku harap kamu bisa berikan kesempatan pada kolegaku."Axel memandangi Hannah dengan tatapan rumit.Hannah bahkan bisa merendahkan diri untuk memohonnya demi seorang kolega."Kamu baru kerja, nggak ada masalah, 'kan?""Pak Axel terlalu khawatir. Kolegaku sangat baik padaku." Jika Axel tidak campur tangan.Axel bisa melihat Hannah masih berwaspada terhadapnya. Dia berujar tak berdaya, "Aku bisa setujui perpanjang waktu proyek ini, dan maafkan kesalah

  • Terjebak Perangkap Cinta, Aku Mabuk   Bab 49

    Renata berujar dengan nada misterius, "Brandon nggak sengaja salah masukkan data. Dia sudah tangani proyek ini tiga bulan, kenapa tiba-tiba mau berikan prestasi yang sudah di tangannya padaku? Karena dia nggak mampu tanggung tekanan dari keluarga dan pekerjaan sekaligus, cuma bisa pilih satu!"Brandon memilih keluarga, melepaskan proyek kali ini.Akan tetapi, Brandon tidak menyangka akan muncul kesalahan besar dalam data awal proyek.Renata juga memercayai kemampuan kerja Brandon sehingga tidak memeriksa kembali konten sebelumnya setelah mengambil alih.Renata melanjutkan, "Aku sudah ambil alih, berarti ini salahku! Prestasi jadi milikku, tanggung jawab juga milikku!""Renata ... kamu sangat setia kawan." "Ini bukan setia kawan, tapi pembagian tanggung jawab. Kamu pikir Pak Wayne nggak tahu siapa penanggung jawabnya? Dia tahu, tapi nggak buka kedok.""Kalau buka kedok gimana?""Brandon akan dipecat."Begitu kehilangan pekerjaan ini nanti, keluarganya juga akan ikut runtuh.Hannah tida

  • Terjebak Perangkap Cinta, Aku Mabuk   Bab 48

    "Pak Jacob, kejadian malam ini ...."Jacob menggenggam gelas di tangan Hannah. "Keberatan nggak?""Hah?"Hannah tidak terlalu memahami maksud pria ini.Dia sedang menjelaskan pada Jacob.Hannah menggelengkan kepala. Jacob langsung menghabiskan sisa setengah gelas airnya.Hannah menganga kaget.Janet pernah mengatakan bahwa ayahnya punya fobia kebersihan yang sangat ekstrem. Jika ada yang tidak sengaja memakai gelasnya, tidak hanya orang itu akan masuk daftar hitamnya, tipe gelas itu juga hilang dari pasaran setelahnya.Meski saat itu Hannah merasa cerita Janet terlalu lebay, itu menunjukkan Jacob memang punya fobia kebersihan. Selama tinggal bersama Jacob di Perumahan Lestari, dia juga pernah menyaksikan sendiri standar kebersihan Jacob yang ekstrem.Tapi mengapa Jacob malah minum dari gelasnya? Itu bekasnya."Kejadian malam ini bukan salahmu. Janet nggak salah. Saat orang Keluarga Siregar di luar, yang paling penting adalah lindungi keluarga sendiri. Janet melakukannya dengan baik."J

  • Terjebak Perangkap Cinta, Aku Mabuk   Bab 47

    Janet menghela napas lega. Ada kedua paman ini, seharusnya Ayah tidak akan menghukumnya lagi, 'kan?"Paman Yohan, Paman Felix, ini sahabat baikku, ehm ... juga istri muda ayahku."Istri muda.Wajah Hannah memerah.Jacob berjalan cepat menghampiri Hannah, menundukkan pandangan ke noda anggur di dadanya. "Ganti baju dulu."Hannah termangu. "Hah?"Jacob memegang pergelangan tangan Hannah yang ramping, lalu berpesan pada Yohan, "Jaga baik-baik putriku."Janet berseru, "Paman Yohan, aku nggak salah dengar? Ayahku nggak hukum aku, malah minta Paman jaga aku?"Yohan menjawab, "Ayahmu sibuk dengan ibu tirimu, nggak ada waktu buat hukum kamu."Felix sangat bersemangat. "Mereka mau sibuk apa?"Janet sontak memelototi Felix. "Paman jangan urusi ayahku. Aku dipukul di tempat Paman, Paman harusnya beri aku kompensasi, 'kan?""Si Putri, kamu yang pukul orang itu secara sepihak. Dipukul apanya? Mau tipu uang, ya?""Aku nggak mau tahu! Paman harus tanggung jawab!""Oke, oke, Paman tanggung jawab! Tapi

  • Terjebak Perangkap Cinta, Aku Mabuk   Bab 46

    Pria itu dihajar habis-habisan oleh Janet sampai hidungnya keluar darah."Minta maaf! Beraninya goda sahabatku, kamu cari mati, ya!"Pasangan pria itu berteriak, "Siapa kamu? Tahu nggak siapa pacarku ini? Ayahnya walikota Belutara ...."Brak!Sebuah gelas bir pecah di dekat wanita itu.Wanita itu ketakutan sampai wajahnya pucat."Ayahku Jacob Siregar!" Janet mengangkat dagu dengan angkuh. Dia lalu membentak dengan galak, "Aku bisa bertindak seenaknya di Kota Belutara, kamu bisa?"Hannah pun maju dengan waswas dan menarik tangan Janet. "Janet, kalau ayahmu tahu kamu kelahi di luar, kartu ATM-mu akan dibekukan lagi.""Takut apa? Sudah sering dibekukan juga. Lagi pula, dia mengganggumu, itu sama saja dengan nggak hormati ayahku. Aku lindungi kamu, ayahku malah senang."Paling-paling, Hannah sudah bekerja dan punya gaji, urusan makan minumnya pasti tidak jadi masalah.Apalagi Ayah sangat dermawan pada istri. Dia dan Hannah adalah sahabat, Hannah tidak akan tega melihatnya tidak punya uang.

  • Terjebak Perangkap Cinta, Aku Mabuk   Bab 45

    Felix tidak berani menjalin hubungan yang mendalam.Jika gadis itu mengejar-ngejar, menangis, merajuk, dan mengancam bunuh diri, dia tak sanggup menahannya."Kak Jacob, kapan perkenalkan istrimu ke kami? Kita sahabat karib. Kamu boleh sembunyikan dari keluargamu, tapi kalau sembunyikan dari kami, itu namanya nggak setia kawan! Kami sudah dapat info langsung dari Janet. Jangan pelit!""Kok kamu yang pusing?" Yohan meninju bahu Felix. "Nggak usah ikut campur urusan Kak Jacob!"Felix menyerangnya, "Kamu salah minum obat?"Yohan berdeham, lalu berkata dengan serius, "Kak Jacob, aku ada saran kecil yang belum matang."Jacob memandangi Yohan tanpa ekspresi.Yohan pun mengumpulkan keberanian untuk melanjutkan, "Cewek nggak boleh disembunyikan. Kamu harus membiarkannya bergabung dengan lingkaran pertemananmu, biar dia lebih ngerti kamu. Kalau nggak, gimana bisa cinta tumbuh seiring waktu?"Felix berkedip! Wah, si playboy ini mau bagi pengalaman pada Kak Jacob?Felix pun menyambung, "Soal penga

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status