Home / Romansa / Terjebak Pernikahan Sang Pewaris / Bab 6: Di Bawah Tekanan

Share

Bab 6: Di Bawah Tekanan

Author: Mautenta
last update Last Updated: 2024-12-23 00:55:32

“Apaan, sih, Arga!” Saskia membentak, tubuhnya berusaha melepaskan diri dari cengkraman tangan pria itu. Matanya menatap tajam, penuh kemarahan bercampur keterkejutan.

“Di mana apartemen Raka? Cepat katakan!” Arga tidak peduli dengan protes Saskia. Wajahnya memerah, dan bola matanya membulat penuh amarah. Emosinya meluap, seperti api yang tak terkendali.

“Lepasin dulu! Ini sakit, Arga,” desis Saskia pelan, mencoba menutupi rasa takut di balik protesnya.

Namun, Arga tidak bergeming. “Jawab pertanyaanku!” gertaknya, semakin mempererat cengkraman di pergelangan tangan Saskia.

Saskia meringis kesakitan, hingga akhirnya Arga menyadari apa yang dilakukannya. Dia mengendurkan genggamannya perlahan, namun matanya masih menatap Saskia penuh intimidasi. “Sebenarnya apa maksud teleponmu tadi? Apa kamu merencanakan sesuatu?”

Saskia mengusap pergelangan tangannya yang memerah, menahan rasa nyeri. Tapi ekspresinya dengan cepat berubah menjadi senyuman licik. Dia tahu, kelemahan Arga adalah Arini.

“Aku cuma mau melindungi hubungan kita, Arga,” katanya dengan suara rendah, hampir seperti bisikan. “Kamu tahu sendiri, kita akan segera menikah. Wanita yang kamu kejar itu, dia cuma pengganggu. Kalau aku gak segera bertindak, dia akan menghancurkan semuanya. Jadi aku harus berhati-hati, demi mempertahankan cinta kita,” tegasnya penuh penekanan.

“Cinta?!” Arga menatapnya dengan tatapan dingin. Tawa sinis meluncur dari bibirnya. “Ini bukan cinta, Saskia. Kita berdua cuma boneka. Aku yakin kamu paham dengan semua ini. Jadi jangan pernah bawa-bawa cinta dalam hubungan kita.”

“Dengar ya, Arga! Kamu itu milikku! Cuma punyaku! Jadi sebaiknya kamu nggak usah bertindak konyol, atau aku akan melakukan sesuatu pada wanita itu.” Saskia mulai mengancam dengan tatapan tajam, lalu bergerak meninggalkan Arga.

Baru saja Saskia melangkahkan kaki pergi, Arga kembali menarik lengan wanita ini. “Jangan macam-macam dengan Arini, Saskia. Kalau kamu berani menyentuhnya, aku bersumpah ini semua akan berakhir,” gertaknya membalas penuh penekanan.

“Berakhir?” Saskia tertawa sinis, menatap Arga dengan penuh ejekan. “Berakhir gimana maksudmu? Kamu pikir kamu punya pilihan?” Nada bicaranya terdengar meremehkan.

Saskia kini semakin tajam menatap Arga, merasa tak takut sama sekali dengan gertakan Arga.

“Kamu itu nggak punya pilihan, Arga. Kamu akan tetap menikahiku, demi keluargamu. Kalau kamu menggagalkan pernikahan ini, itu sama saja kamu menghancurkan keluargamu sendiri. Kalau itu maumu, aku bisa mengabulkannya sekarang juga.” Wanita ini mulai menampakan taringnya, merasa tak ingin kalah begitu saja.

Sungguh, mendengar perkataan Saskia barusan membuat Arga tersadar bahwa dirinya di posisi tak menguntungkan. Dia juga paham jika saat ini Saskia tidak hanya berbicara kosong. Keluarganya memang terlalu bergantung pada kerja sama dengan keluarga Saskia. Jika dia melawan, semuanya bisa runtuh. Rasanya terlalu egois jika bertindak sesuai keinginannya.

Tangan Arga melemah, melepaskan cengkramannya dari lengan Saskia. Dia tak membalas apa-apa lagi, dan hanya diam dengan tatapan kosong.

Saskia yang merasa jengkel langsung menghempaskan tangan Arga, untuk menjauh darinya. Dia merasa jika reaksi Arga saat ini sangatlah berlebihan, dan mulai memikirkan rencana lain untuk Arini.

***

Di tempat lain, Arini duduk di sudut apartemen sambil menatap ponsel yang baru saja meletupkan ancaman. Pikiran berkecamuk, mencoba memahami siapa yang ada di balik pesan itu. Tubuhnya gemetar, bukan hanya karena ketakutan, tapi juga rasa lelah yang seolah tak berujung.

“Sebenarnya siapa dia?” gumamnya terus mempertanyakan hal ini.

Beberapa jam kemudian, Raka kembali ke apartemen. Wajahnya langsung berubah cemas melihat pecahan gelas di lantai.

“Arini, apa yang terjadi?” tanyanya, mendekat untuk memeriksa keadaan. Terlihat ada luka kecil di kaki Arini, hal ini jelas membuat Raka semakin khawatir. “Sebenarnya ada apa? Kakimu terluka,” ujar Raka panik.

Arini tak menjawab pertanyaan Raka barusan. Dia malah langsung menunjukkan ponselnya pada Raka, terkait pesan ancaman yang masih terpampang di layar.

“Raka, aku… aku mendapat pesan ini.” Ponselnya pun diserahkan begitu saja pada Raka.

Raka menerima ponsel tersebut. Dia membaca pesan itu. Rahangnya mengeras, emosinya kini mulai meningkat. “Sial,” gumamnya. “Aku tahu ini pasti ulah Saskia.”

“Saskia?” Arini menatap Raka dengan kebingungan. “Apa maksudmu?”

Raka menghela napas berat, lalu duduk di samping Arini. “Wanita itu... aku udah duga kalau dia bakal melakukan sesuatu. Dia itu tipe orang yang gak akan bisa menerima saingan. Dia merasa berhak menang atas segalanya, termasuk memiliki Arga. Bukankah aku pernah bilang padamu, jika sikapnya gak sebaik fisiknya.”

Arini menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan rasa takut. “Tapi kenapa dia sampai begini? Padahal aku, gak bermaksud mengganggu hidup mereka.” Jujur saja Arini bingung dengan ancaman tersebut.

Raka menggenggam tangan Arini dengan lembut. “Tenang aja, aku janji bakal lindungi kamu. Aku gak bakal biarin Saskia, ataupun yang lain, buat nyakitin kamu lagi.”

“Lalu Arga? Apa dia… tau kalau Saskia orangnya begitu?” Arini kini malah nampak mengkhawatirkan suaminya.

“Seharusnya dia tau gimana Saskia. Tapi keluarga mereka sudah menentukan untuk menikah. Sebaiknya kamu gak usah mengkhawatirkan dia. Anggap saja mereka jodoh yang sepadan, sama-sama nggak punya hati, dan egois. Dia nggak pantes buat kamu pikirin.” Raka berusaha meyakinkan Arini.

Entah mengapa, Arini merasa takut. Bukan hanya takut dengan ancaman dari pesan tadi, tapi dia juga takut, khawatir dengan keadaan Arga, jika harus berurusan dengan wanita semengerikan Saskia.

***

Di dalam mobilnya, Arga menggenggam setir dengan erat. Matanya merah, rasanya dia benar-benar frustasi dengan keadaan saat ini. Pikiran tentang Arini terus menggerogoti hatinya. Setiap detik yang berlalu tanpa keberadaan Arini, membuat Arga merasa semakin tersesat.

Dia tahu Saskia sedang bermain di belakang layar, tapi dia tidak bisa melawannya secara langsung. Posisi keluarganya terlalu terikat dengan keluarga Saskia. Namun, hatinya tidak bisa menerima kenyataan itu.

Pikirannya yang sedang kalut kini kembali terganggu oleh dering telepon. Arga melihat layar, nama ibunya muncul. Dengan enggan, dia menjawab panggilan itu.

“Arga, kamu harus datang ke rumah besok. Ada pembicaraan penting dengan keluarga Saskia," ucap Nadira tanpa basa basi.

Arga menghela napas berat. “Mam, aku lagi banyak urusan,” jawabnya pendek, merasa lelah dengan perintah ibunya setiap saat.

“Tinggalkan urusanmu! Keluarga lebih penting. Ini tentang masa depan kita.” Tanpa menunggu jawaban, ibunya langsung memutuskan panggilan.

“Sialan! Argh!” Arga melemparkan ponsel ke tempat duduk di sampingnya. Di satu sisi, dia ingin melawan. Tapi di sisi lain, dia tahu batasannya.

Arga mengusap wajahnya, berkali-kali menghela nafas, berusaha untuk menghirup udara untuk membuatnya merasa lega. Sayangnya dadanya masih terasa sesak. Semua yang terjadi padanya benar-benar menyesakan.

Teringat tentang sikap dan ancaman Saskia tadi, Arga pun merasa semakin terusik. Dia yakin, jika Saskia tidak main-main dengan ucapannya.

“Aku harus segera menemukan Arini, sebelum Saskia melakukan sesuatu padanya,” gumamnya sambil berusaha berpikir.

Arga merasa tidak bisa tinggal diam. Dia mulai menyusun rencana sendiri. Jika Saskia bermain licik, maka dia bertekad akan menemukan cara apapun untuk melindungi Arini.

Bersambung…

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terjebak Pernikahan Sang Pewaris   Bab 13: Pertemuan yang Memanas

    Akhirnya Arini sampai juga di rumah lamanya. Rumah itu masih berdiri, meski catnya mulai pudar dan halamannya dipenuhi daun kering.Begitu melangkah masuk, Arini seperti ditarik kembali ke masa kecilnya. Aroma kayu tua, lemari buku ayahnya, meja makan kecil tempat ibunya biasa menyeduh teh.Berusaha untuk membuyarkan lamunan indahnya itu, Arini berusaha untuk fokus pada tujuannya. Langkah demi langkah, dia berjalan menuju ke kamar kerja ayahnya. Satu persatu laci kerja di sana ia buka, mencari apa pun yang bisa memberi jawaban.Dibalik tumpukan berkas-berkas usang, Arini menemukan sebuah map berisi klipingan berbagai artikel koran.Arini membaca dan berusaha mencerna isi artikel tersebut, namun isinya sungguh menyayat hati. Ayahnya dicap sebagai penjudi, pengkhianat, bahkan orang yang merugikan perusahaannya sendiri tanpa memikirkan karyawannya.“Gak mungkin kan ayahku melakukan semua yang dituduhkan di dalam sini?” ucapnya miris, dan air matanya pun kembali jatuh.Raka yang sedari ta

  • Terjebak Pernikahan Sang Pewaris   Bab 12: Pesan Tak Terduga

    Arini masih terdiam, duduk di depan jendela, memandangi langit mendung. Dia masih teringat bagaimana wajah sedih suaminya.“Apa keputusanku ini tepat?” gumamnya, dengan perasaan penuh keraguan.Di saat dirinya masih bergelut dengan keputusannya, sebuah notifikasi masuk ke ponselnya. Refleks Arini menatap layar kotak itu.Sebuah pesan dari pengirim anonim. Arini kembali mengerutkan dahi.“Apa lagi ini?” Wajahnya terpancar rasa penasaran.Merasa ingin mengetahui lebih lanjut isi pesan yang masuk, Arini pun segera membuka pesan tersebut. Terlihat beberapa kalimat ancaman dan sebuah tautan link di bawahnya.[Sebaiknya kamu pergi dari dunia ini, dan jangan pernah muncul lagi. Kehadiranmu, tidak pernah ada yang menginginkan.]Membaca pesan itu, dada Arini terasa mengencang. Nafasnya seolah tercekat.Rasa penasarannya kembali menyeruak ketika melihat link yang ada di dalam pesan. Ia pun kembali menekan tautan tersebut.Terlihat beberapa artikel lama—koran bertanggal lebih dari dua puluh tahu

  • Terjebak Pernikahan Sang Pewaris   Bab 11: Keputusan Arga

    Arga baru saja melangkahkan kakinya, masuk ke dalam rumah, dengan langkah gontai. Jas yang masih melekat di tubuhnya terasa begitu berat, sama beratnya dengan dadanya yang sesak oleh perasaan bersalah.Rumah itu terasa jauh lebih besar dari biasanya. Sunyi. Dingin. Seolah setiap sudut ikut menghakimi keadaannya.Arga menjatuhkan tubuhnya ke sofa ruang tamu. Pandangannya kosong, tertuju pada jendela besar yang menghadap taman belakang.Lampu taman masih menyala redup, memantulkan bayangan samar pepohonan yang bergoyang tertiup angin malam. Tempat itu, dulu sering menjadi saksi tawa Arini. Kini, hanya menyisakan kenangan yang menusuk.Ia mengusap wajahnya kasar, lalu menyandarkan kepala ke sandaran sofa.“Bodoh,” gumamnya lirih. “Aku benar-benar bodoh!”Bayangan Arini kembali hadir di kepalanya—tatapan matanya yang berkaca-kaca, suaranya yang bergetar saat berkata ingin berpisah, cara ia menahan tangis agar terlihat kuat. Semua itu menghantam Arga tanpa ampun.Arga mengepalkan tanganny

  • Terjebak Pernikahan Sang Pewaris   Bab 10: Di Ambang Perpisahan

    Raka memperhatikan layar ponselnya yang bergetar di atas meja. Nama Arga terpampang jelas di sana. Rahangnya menegang, tapi ia cepat-cepat menguasai ekspresinya. Arini, yang duduk di seberangnya, ikut melirik sekilas. Ia mengenali nama itu. Tatapan herannya tertuju pada Raka. “Itu, Arga? Suamiku?” tanyanya penuh rasa penasaran. Raka seolah tak mendengar. Ia menghela napas perlahan sebelum meraih ponselnya, lalu dengan sengaja menghindari tatapan Arini. “Aku ke kamar mandi sebentar,” ucapnya singkat, langsung pergi dari pandangan Arini tanpa menunggu respons. Arini mengerutkan kening. Ada sesuatu yang janggal. Ia merasa Raka menyembunyikan sesuatu darinya. Bibirnya sedikit terbuka, seakan ingin memanggil pria itu, tapi urung. Ia malah menatap kosong ke meja, pikirannya penuh dengan pertanyaan. ‘Kenapa Arga menelpon Raka?’ batinnya bertanya-tanya. Di sisi lain, Raka yang kini berdiri di dekat kamar mandi menghela napas berat. Jemarinya menekan tombol jawab dengan sedikit enggan.

  • Terjebak Pernikahan Sang Pewaris   Bab 9: Keluarga atau Cinta?

    Saat Saskia sedang menikmati kemenangan kecilnya, ponselnya bergetar di meja. Nama yang muncul di layar membuatnya tersenyum. Arga Wiratama. “Akhirnya,” gumam wanita ini sambil meraih ponselnya. “Halo, sayang?” sapa Saskia dengan suara manis yang dibuat-buat. “Ada apa? Akhirnya kamu ingat aku?” Namun, suara di seberang tidak seperti yang ia harapkan. “Saskia … aku mohon … aku mohon, kita akhiri saja rencana ini,” ujar Arga dengan nada memelas. Suaranya terdengar putus asa, seperti seseorang yang telah kehilangan semua harapan. Senjata kemenangan Saskia perlahan memudar. Senyumnya menghilang, digantikan oleh amarah yang tiba-tiba terasa mendidih di dada. “Apa maksudmu?” tanya Saskia tajam. “Aku gak bisa terus seperti ini. Aku gak bisa melanjutkan hubungan kita, Saskia,” ujar Arga, nadanya lebih tegas. “Aku minta tolong, hentikan semuanya. Aku gak mau terus terlibat dalam rencana sialan ini!” Jelas hal ini membuat Saskia meradang. “Hentikan ucapanmu, Arga!” bentak Saskia

  • Terjebak Pernikahan Sang Pewaris   Bab 8: Rahasia yang Terkubur

    Langit malam begitu gelap, seperti menutup rapat rahasia yang selama ini tersembunyi dalam kehidupan Arga. Di dalam mobilnya, Arga yang memutuskan untuk mundur sejenak dari Raka, kini terlihat duduk dengan kepala tertunduk. Tangan mencengkeram setir dengan kuat. Merasa masih ingin melampiaskan emosinya. Napasnya memburu, bukan karena lelah fisik, tetapi karena kelelahan batin usai menghadapi Raka. Pertemuan dengan Raka tadi seolah membuka luka lama yang belum pernah benar-benar sembuh. Kata-kata pria itu masih terngiang di telinganya, menyayat hati dan egonya. "Keberadaanmu itu adalah sumber masalah terbesar dalam hidup Arini." Arga merasakan sesak yang mendesak di dadanya. Semua yang ia lakukan selama ini adalah untuk memperbaiki kesalahan, tetapi entah kenapa, setiap langkahnya justru membawa lebih banyak kehancuran. Di saat ia tenggelam dalam pikirannya, ponselnya kembali bergetar. Nama ibunya kembali muncul di layar. Dengan malas, Arga mengangkat panggilan itu, menyandar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status