Mag-log inHana memperhatikan Karissa yang menghilang di balik pintu ruang Reinald. Jemarinya tetap bergerak di atas keyboard, tetapi sejak perempuan itu datang, tidak satu pun kalimat dalam laporan yang sedang dikerjakannya benar-benar masuk ke dalam pikirannya.Ia mencoba mengabaikan perasaan aneh yang sejak tadi mengganjal di dada. Bukankah Reinald memang memiliki kehidupan sebelum dirinya? Bukankah wajar jika seseorang dari masa lalu datang dan kembali mengambil sedikit ruang yang pernah menjadi miliknya?Hana menarik napas pelan, kemudian memaksa matanya kembali pada layar. Ia tidak ingin menjadi perempuan yang cemburu hanya karena melihat mantan kekasih seseorang datang ke kantor.Terlebih lagi, ia dan Reinald bahkan tidak memiliki hubungan yang jelas. Pikiran itu seharusnya membuatnya lega. Namun entah mengapa, justru terasa semakin menyakitkan.Beberapa menit berlalu dalam keheningan. Pintu ruangan pribadi Reinald masih tertutup. Setiap kali terdengar suara dari dalam, perhatian Hana ta
Pagi itu, Hana datang ke kantor seperti biasanya. Namun sejak melangkah melewati pintu utama, ia merasa ada sesuatu yang berbeda dari suasana di dalam gedung tersebut. Meski tidak ada satu pun hal yang terlihat mencolok.Beberapa karyawan yang berpapasan dengannya tersenyum seperti biasa. Dimas bahkan sempat menyapanya sebelum masuk ke ruang Reinald, sementara Hana hanya membalas dengan anggukan kecil sambil membawa beberapa dokumen yang harus ia serahkan.Ia berhenti di depan pintu ruangan Reinald lalu mengetuk dua kali. Tidak ada jawaban. Hana kembali mengetuk sebelum akhirnya membuka pintu sedikit dan menemukan Reinald berdiri membelakanginya di dekat jendela.Pria itu mengenakan kemeja putih dengan lengan yang sedikit tergulung. Pemandangan tersebut seharusnya tidak lagi membuat Hana memperhatikannya terlalu lama, tetapi entah mengapa beberapa waktu terakhir ia semakin mudah menyadari hal-hal kecil tentang pria itu.“Aku membawa laporan yang kau minta.”Reinald menoleh. Tatapannya
Hana mengira Dimas datang membawa pekerjaan dari Reinald, tetapi ketika mengangkat wajah, justru mendapati pria itu berdiri sendiri di hadapannya.Reinald tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya berdiri di sana selama beberapa detik, membuat Hana mengerutkan kening.“Ada apa? Kenapa tiba-tiba berdiri di situ seperti patung? Ada yang harus aku kerjakan?”“Tidak ada. Aku hanya ingin melihatmu.”Jawaban itu membuat Hana tidak tahu harus menanggapinya dengan serius atau menganggap Reinald sedang bercanda. Namun wajah pria itu sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda sedang bergurau.“Melihatku untuk apa? Bukankah setiap hari kau juga sudah melihatku?”“Tidak ada alasan khusus sih.”“Lalu kenapa datang?”Reinald menarik kursi di depan meja Hana dan duduk. “Karena dari tadi aku tidak melihatmu. Sekarang biarkan aku melihatmu sampai puas.”Hana menatap jam di sudut layar komputernya. Baru sekitar satu jam mereka tidak bertemu.“Kau tahu kita masih satu kantor, kan?”“Aku tahu kok.”“Dan kau baru
Pagi itu, Hana berdiri di depan meja kerjanya sambil merapikan beberapa berkas yang baru saja diterimanya. Suasana kantor belum terlalu ramai, tetapi beberapa karyawan sudah mulai memenuhi ruangan dengan kesibukan masing-masing.Ia baru saja hendak duduk ketika sebuah suara terdengar dari belakang.“Hana.”Hana menoleh dan mendapati Arga berdiri tidak jauh darinya. Pria itu merupakan salah satu karyawan dari divisi pemasaran yang beberapa kali membantunya menyelesaikan pekerjaan sejak Hana mulai bekerja di Wijaya Group.“Pagi, Arga. Ada apa?”“Aku mau mengembalikan berkas yang kemarin aku pinjam. Sekalian kalau kau tidak sibuk, nanti siang aku ingin minta bantuanmu memeriksa proposal.”Hana menerima berkas tersebut sambil tersenyum. “Boleh. Kirim saja ke mejaku nanti, aku akan lihat setelah pekerjaanku selesai.”Arga mengangguk. “Kalau begitu, terima kasih. Oh, satu lagi. Kemarin kau bilang suka kedai kopi di dekat gedung ini, kan? Aku kebetulan mau beli sebelum rapat. Kalau kau mau—”
Entah mengapa, pengakuan bahwa pria itu mulai mencarinya ketika ia tidak berada di dekatnya justru membuat jantung Hana berdetak lebih cepat daripada yang seharusnya.Ia mengalihkan pandangan lebih dahulu. “Ayo masuk. Aku sudah sangat lapar.”Reinald tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya mengikuti langkah Hana menuju pintu restoran, tetapi senyum tipis terlihat di wajahnya ketika perempuan itu berjalan lebih cepat seolah ingin menghindari tatapannya.Mereka memilih meja di sudut ruangan yang cukup tenang. Hana duduk lebih dahulu, kemudian meletakkan ponselnya di atas meja sebelum mengambil menu. Sedangkan Reinald duduk di hadapannya dengan pandangan yang entah mengapa kembali tertuju kepadanya.“Kau mau makan apa?” tanya Hana tanpa mengangkat wajah.“Apa saja.”“Jangan jawab begitu. Aku tidak tahu kau sukanya apa.”“Kau pilih saja. Aku juga bukan pemilih soal makanan.”Hana akhirnya mendongak. “Kenapa selalu aku sih?”“Karena biasanya pilihanmu cukup bagus.”Hana tersenyum kecil. “Padaha
Hana masih menatap layar ponselnya ketika Reinald mengembalikan pandangannya pada jalan di depan. Penjelasan mengenai Arvanta Konsultan memang sudah cukup membuat pikirannya lega, tetapi entah mengapa ada sesuatu yang jauh lebih mengganggunya sekarang.Bukan lagi tentang dokumen itu. Melainkan tentang bagaimana Reinald terus memperhatikannya sejak percakapan tadi.“Kenapa?”Hana akhirnya menoleh. “Kau dari tadi melihat ke arahku terus.”“Aku hanya sedang memastikan kau baik-baik saja.”“Kalau cuma memastikan, tidak perlu sampai seperti itu.”Reinald mengangkat sebelah alis. “Seperti apa memangnya?”Hana terdiam sesaat. Ia sendiri kesulitan menjelaskan tatapan pria itu. Tidak ada sesuatu yang aneh, tetapi cara Reinald memperhatikannya terasa terlalu lama, seolah-olah pria itu sedang menghafal setiap perubahan kecil pada wajahnya.“Seperti sedang memastikan aku tidak akan tiba-tiba hilang.”Sudut bibir Reinald justru bergerak tipis sebelum kembali lurus. “Memangnya aku pernah bilang ak







