مشاركة

Orang Suruhan Reinald

مؤلف: Nafelluve
last update تاريخ النشر: 2026-07-01 21:56:02

 Jam yang tergantung di dinding menunjukkan pukul delapan malam ketika Hana melangkahkan kaki memasuki Kafe Edelweiss.

Bel kecil di atas pintu berdenting pelan menyambut kedatangannya. Berbeda dengan keramaian jalan raya di luar, suasana di dalam kafe terasa jauh lebih tenang dan nyaman.

“Semoga kali ini aku tidak melakukan kesalahan lagi.”

Hana tidak menemukan siapa pun yang memang ia kenal di dalam kafe. Ia mulai bertanya-tanya apakah keputusan datang ke tempat itu merupakan pilihan yang tepat.

Akan tetapi ia sudah terlanjur datang. Kini tidak ada alasan untuknya berbalik pergi. Mungkin memang inilah cara agar ayahnya bisa terselamatkan.

"Selamat malam." Suara lembut seorang pelayan membuyarkan lamunannya.

"Ada yang bisa saya bantu, Mbak?"

Hana mengangguk pelan masih dengan ekspresi bingung menghiasi wajahnya. "Saya mendapat undangan untuk datang ke sini."

Pelayan itu memperhatikan wajah Hana selama beberapa detik mencoba untuk memastikan sesuatu. "Apakah Anda Nona Marcelia Hana?"

Mata Hana membulat. "Benar, itu saya."

"Kalau begitu silakan ikut saya."

Pelayan itu segera berjalan lebih dulu menuju sebuah tangga yang mengarah ke lantai dua. Semakin jauh melangkah, suasana kafe semakin sunyi.

Mereka berhenti di depan sebuah pintu kayu berwarna cokelat tua. Pelayan itu mengetuk pintu sekedar meminta izin untuk memasuki ruangan.

Tok Tok.

"Silakan masuk." Suara pria terdengar dari balik pintu tersebut.

Pelayan itu membuka pintu, kemudian mempersilakan Hana masuk sebelum menutupnya kembali dari arah luar.

Di dekat jendela, seorang pria paruh baya berdiri tegak memandangi gemerlap lampu kota. Usianya mungkin sekitar lima puluh tahunan. Rambutnya mulai dipenuhi uban di beberapa bagian, tetapi penampilannya tetap rapi dengan setelan jas abu-abu gelap yang melekat sempurna di tubuhnya.

"Selamat malam, Nona Marcelia Hana."

Hana membeku ketika pria itu menyebut nama lengkapnya tanpa sedikit pun keraguan. Perasaan takut mulai menyergapnya detik itu juga.

"Maaf, apakah kita pernah bertemu sebelumnya?" Hana berusaha menenangkan suaranya yang mulai bergetar.

Pria itu mengulas senyum tipis. "Saya rasa belum."

"Bagaimana Bapak mengetahui nama saya?"

"Silakan duduk terlebih dahulu. Saya rasa pembicaraan kita akan cukup panjang." Pria itu menunjuk kursi di hadapannya.

Hana tidak langsung bergerak. Tatapannya masih dipenuhi kewaspadaan karena ia tidak mengenal pria itu. Tapi entah mengapa, ia merasa pria tersebut bukan orang sembarangan.

Melihat Hana masih berdiri, pria itu kembali berkata dengan nada tenang. "Anda tidak perlu khawatir. Saya tidak berniat mencelakai Anda."

Hana akhirnya menarik kursi dan mendudukkan dirinya perlahan-lahan. Meski demikian, tubuhnya tetap tegang.

Pria itu ikut mengambil tempat di hadapannya. Di atas meja telah tersedia dua cangkir teh hangat yang masih mengepulkan uap tipis.

"Silakan diminum."

"Terima kasih." Hana menjawab singkat, tetapi tidak menyentuh cangkir itu sedikit pun. Ia tidak ingin ceroboh dan menimbulkan masalah.

Pria tersebut tampaknya memahami kewaspadaan Hana. Ia memilih untuk tidak memaksanya. Sebaliknya, ia membuka sebuah map hitam yang sejak tadi berada di sampingnya.

"Sebelum kita masuk ke pembicaraan yang lebih jauh, izinkan saya memperkenalkan diri. Saya Armand Wijaya." Pria itu mengeluarkan sebuah kartu nama, lalu menggesernya perlahan ke arah Hana.

Hana mengambil kartu tersebut. Ia memperhatikan bahwa di bawah nama itu tertera sebuah jabatan yaitu Kepala Penasihat Hukum Wijaya Group.

"Saya rasa telah terjadi kesalahan di sini. Saya tidak pernah berurusan dengan perusahaan Bapak." Hana mengembalikan kartu nama itu ke atas meja.

Armand tersenyum tipis. "Benar."

"Lantas mengapa Bapak ingin bertemu dengan saya?"

Alih-alih menjawab pertanyaan yang Hana lontarkan, ia justru membuka map hitam di hadapannya. Setelah itu ia mengeluarkan sebuah foto berukuran sedang. Foto itu diletakkan perlahan di atas meja, tepat di hadapan Hana.

Hana menundukkan pandangannya. Dalam sekejap, warna wajahnya memudar dan pasi. Foto tersebut memperlihatkan dirinya memasuki Apartemen Arunika pada malam sebelumnya.

"Nona Hana, saya ingin bertanya dengan jujur." Suara Armand terdengar tenang, tetapi berhasil membuat jantungnya berdegup semakin kencang.

"Apakah setelah memasuki apartemen itu, Anda bertemu dengan Tuan Reinald?"

Jemari Hana yang berada di atas pangkuan perlahan mengepal, sementara pandangannya tetap terpaku pada foto yang tergeletak di atas meja.

Foto itu diambil dari sudut yang cukup jauh. Meski wajahnya tidak terlihat terlalu jelas, pakaian yang dikenakannya malam itu membuat Hana tidak mungkin menyangkal bahwa perempuan dalam foto tersebut adalah dirinya.

“Kenapa Bapak menanyakan hal itu kepada saya?”

Armand tidak langsung menjawab. Ia justru menutup kembali map di hadapannya, lalu menyandarkan punggung pada kursi.

“Saya akan menjelaskan semuanya. Namun sebelumnya, saya berharap Anda menjawab pertanyaan saya dengan jujur.”

Tatapan pria itu tetap tenang, tetapi cukup tajam hingga membuat Hana merasa tidak mampu berbohong. Pada akhirnya, Hana mengembuskan napas pelan.

“iya. Saya bertemu dengannya.” Suara itu nyaris tidak terdengar.

Armand mengangguk kecil, seolah jawaban tersebut memang sudah diduganya sejak awal. “Terima kasih karena telah berkata jujur.”

Hana menggigit bibir bawahnya. “Sekarang, bisakah Bapak menjelaskan apa sebenarnya yang sedang terjadi?”

Armand menyatukan kedua tangannya di atas meja. “Nama saya memang Armand Wijaya. Saya bekerja sebagai penasihat hukum keluarga Wijaya.”

“Keluarga Wijaya? Saya tetap tidak mengerti.”

“Tentu saja karena Anda memang belum mengenal mereka. Tuan Reinald yang saya maksud adalah Reinald Wijaya.”

Hana terdiam berusaha untuk mencerna setiap ucapannya. Nama belakang itu terdengar asing. Tetapi, nama depannya membuat dada Hana kembali dipenuhi kegelisahan.

“Beliau adalah salah satu pewaris Wijaya Group.”

Hana membelalak mendengar pengakuan itu. Ia memang tidak mengenal dunia bisnis, tetapi nama Wijaya Group bukanlah nama yang benar-benar asing.

Ia pernah beberapa kali mendengar perusahaan itu diberitakan sebagai salah satu kelompok usaha terbesar di kota tempatnya tinggal.

Tanpa sadar, tenggorokannya terasa kering. “Ekhem, lalu ... apa hubungannya dengan saya?”

Armand menatapnya beberapa saat. “Hubungannya adalah Anda merupakan perempuan terakhir yang terlihat memasuki unit apartemen Tuan Reinald pada malam itu.”

Kalimat tersebut membuat Hana kembali menegang. Ia spontan menggenggam ujung rok yang dikenakannya.

“Saya tidak sengaja. Sebenarnya waktu itu saya salah masuk kamar.” Perkataan itu keluar begitu saja dari bibir Hana.

Armand terlihat santai dan tidak terkejut. “Jadi benar telah terjadi kesalahan?”

Hana mengangguk pelan. Air mata mulai memenuhi pelupuk matanya. “Saya sama sekali tidak mengenal Tuan Reinald.”

“Kalau begitu, apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana bisa salah kamar?” Pertanyaan itu membuat Hana terdiam.

Bibirnya terbuka, tetapi tidak satu kata pun berhasil keluar. Ia tidak mungkin menceritakan permintaan Bianca begitu saja. Itu bukan hanya menyangkut dirinya. Ada nama orang lain yang ikut terlibat.

Melihat kebimbangan Hana, Armand tidak memaksanya untuk menjawab. “Saya tidak akan mencampuri urusan pribadi Anda.”

Pria itu mengambil cangkir teh di depannya, lalu menyesapnya pelan. “Yang ingin saya pastikan hanyalah satu hal. Tuan Reinald tidak mengingat apa pun tentang malam itu.”

Mata Hana membulat. “Apa?”

“Beliau kehilangan sebagian ingatannya karena pengaruh alkohol. Beliau hanya mengingat satu nama yaitu Hana.” Jantung Hana kembali berdebar.

“Sejak pagi, beliau meminta kami mencari perempuan bernama Hana yang datang ke unit apartemennya.” Napas Hana tercekat. Ia sama sekali tidak menyangka pria itu masih mengingat namanya.

“Tetapi di kota ini ada begitu banyak perempuan yang bernama Hana. Oleh karena itu, kami mulai menelusuri rekaman kamera pengawas di Apartemen Arunika.”

Tatapan Hana perlahan beralih ke foto yang masih berada di atas meja. Ternyata foto itu adalah bentuk bukti bahwa memang dirinya yang datang ke apartemen Reinald malam itu.

“Kami berhasil menemukan rekaman seseorang memasuki unit apartemen Tuan Reinald.”

“Dan orang itu adalah saya.”

Armand mengangguk pelan. “Benar.”

Hana memejamkan mata. Harapan kecil yang sempat muncul di dalam hatinya perlahan berubah menjadi kecemasan. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya diinginkan Reinald.

“Anda tidak perlu takut. Tuan Reinald tidak meminta kami mencari Anda untuk menyalahkan ataupun mempermalukan Anda.” Suara Armand kembali terdengar.

Hana menatapnya penuh tanda tanya. “Lalu untuk apa?”

Armand terdiam beberapa saat. Sorot matanya berubah sedikit lebih serius dibandingkan sebelumnya.

“Karena beliau ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi malam itu.” Kalimat itu membuat Hana kembali kehilangan napas.

Armand membuka mapnya sekali lagi. Kali ini ia mengeluarkan sebuah kartu nama dan meletakkannya di hadapan Hana.

“Ini nomor yang bisa Anda hubungi kapan saja. Besok pagi, Tuan Reinald berniat datang sendiri menemui Anda.” Wajah Hana seketika memucat mendengar penuturan itu.

“Beliau sudah mengetahui di rumah sakit mana ayah Anda dirawat.”

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Terjebak Pesona Presdir Muda   Kesepakatan?

    Pesan itu hanya terdiri dari satu kalimat, tetapi cukup untuk membuat pikirannya semakin penuh. Ia membaca ulang tulisan tersebut beberapa kali, berharap ada sesuatu yang terlewat atau setidaknya petunjuk mengenai siapa pengirimnya.Hana menekan tombol panggil. Sambungan bahkan tidak sempat berdering lama sebelum terputus. Ia mencoba sekali lagi dengan hasil yang sama.“Siapa sebenarnya yang mengirim ini?”Jarinya berhenti di atas layar. Setelah beberapa detik, Hana akhirnya memasukkan ponsel ke dalam tas. Ia tidak punya tenaga untuk mengurusi sesuatu yang belum jelas, sementara keadaan ayahnya jauh lebih mendesak.Ia kembali ke ruang intensif. Namun, baru beberapa langkah menuju pintu, seorang perawat keluar dari dalam ruangan. Perempuan itu sempat terkejut melihat Hana berdiri di sana.“Nona Hana, kebetulan saya sedang mencari Anda.”“Ada apa, Sus?”“Dokter Rendi meminta saya menyampaikan bahwa kondisi ayah Anda masih sama. Belum ada perubahan yang mengkhawatirkan sejak pemeriksaan

  • Terjebak Pesona Presdir Muda   Bertemu Lagi

    Pagi belum sepenuhnya ramai ketika Hana kembali berdiri di depan ruang intensif tempat ayahnya dirawat.Semalaman ia hampir tidak bisa memejamkan mata. Percakapan dengan Armand terus berputar di kepalanya, terutama satu kalimat terakhir yang membuatnya tidak tenang.Reinald akan datang menemuinya.Hana mengembuskan napas panjang. Tangannya menggenggam tali tas yang menggantung di bahu.Seharusnya ia merasa lega karena seseorang masih mengingat namanya. Namun, yang muncul justru kegelisahan.Ia tidak ingin bertemu Reinald lagi. Bukan karena pria itu telah melakukan sesuatu setelah malam tersebut. Justru karena Hana sendiri tidak tahu harus bersikap seperti apa ketika berhadapan dengannya dalam keadaan sadar.Malam itu saja sudah cukup membuat hidupnya kacau. Kini Reinald bahkan mengetahui rumah sakit tempat ayahnya dirawat.Hana menoleh ke balik kaca. Ayahnya masih terbaring tanpa kesadaran. Selang dan berbagai alat medis tetap terpasang di tubuhnya. Monitor di samping ranjang menunj

  • Terjebak Pesona Presdir Muda   Orang Suruhan Reinald

    Jam yang tergantung di dinding menunjukkan pukul delapan malam ketika Hana melangkahkan kaki memasuki Kafe Edelweiss.Bel kecil di atas pintu berdenting pelan menyambut kedatangannya. Berbeda dengan keramaian jalan raya di luar, suasana di dalam kafe terasa jauh lebih tenang dan nyaman. “Semoga kali ini aku tidak melakukan kesalahan lagi.”Hana tidak menemukan siapa pun yang memang ia kenal di dalam kafe. Ia mulai bertanya-tanya apakah keputusan datang ke tempat itu merupakan pilihan yang tepat.Akan tetapi ia sudah terlanjur datang. Kini tidak ada alasan untuknya berbalik pergi. Mungkin memang inilah cara agar ayahnya bisa terselamatkan. "Selamat malam." Suara lembut seorang pelayan membuyarkan lamunannya."Ada yang bisa saya bantu, Mbak?"Hana mengangguk pelan masih dengan ekspresi bingung menghiasi wajahnya. "Saya mendapat undangan untuk datang ke sini."Pelayan itu memperhatikan wajah Hana selama beberapa detik mencoba untuk memastikan sesuatu. "Apakah Anda Nona Marcelia Hana?"

  • Terjebak Pesona Presdir Muda   Pria Di Dalam Mobil

    Hana terpaku di tempatnya. Jemari yang sejak tadi menggenggam tali tas perlahan mengendur. Sesaat ia mengira pendengarannya sedang mempermainkannya."Maksud Anda, ada seseorang yang ingin membayar biaya operasi ayah saya?" tanyanya pelan untuk sekedar memastikan.Petugas administrasi itu mengangguk. "Iya, Nona.""Siapa orangnya?""Maaf, saya tidak mengetahui identitas beliau. Dan sepertinya beliau juga sedang terburu-buru."Jawaban itu membuat dahi Hana berkerut. Rasanya mustahil jika ada orang yang bersedia mengeluarkan uang dalam jumlah besar untuk seseorang yang bahkan tidak dikenalnya."Beliau tidak meninggalkan nama atau yang lainnya?"Petugas itu kembali menggeleng. "Tidak. Beliau hanya menitipkan pesan agar saya menyampaikan sesuatu kepada Anda."Hana menelan ludah. "Pesan apa itu?"Petugas itu mempersilakan Hana mengikutinya menuju ruang administrasi. Langkah mereka bergema pelan di sepanjang lorong rumah sakit. Selama berjalan, pikiran Hana dipenuhi berbagai kemungkinan.Apak

  • Terjebak Pesona Presdir Muda   Siapa Orang Itu?

    Langit pagi masih diselimuti mendung ketika Hana turun dari taksi di depan rumah sakit. Udara yang seharusnya terasa sejuk itu sama sekali tidak mampu meredakan rasa sesak yang memenuhi dadanya.Ia berdiri beberapa saat di pelataran rumah sakit guna menatap bangunan tinggi bercat putih yang beberapa hari terakhir menjadi tempat paling sering ia kunjungi. “Aku bosan melihat tempat ini setiap hari,” monolog Hana dengan suara lirih. Perlahan, Hana mulai membawa kedua kakinya untuk melangkah masuk. Pintu kaca otomatis terbuka memperlihatkan kesibukan yang tidak pernah benar-benar berhenti. Beberapa perawat berjalan tergesa sembari membawa berkas milik pasien. Seorang dokter tampak berbicara dengan keluarga pasien di sudut lorong. “Selamat pagi, Nona Hana. Semoga hari ini ada keajaiban untuk ayah Anda.” Salah seorang perawat menyambut Hana ramah. Di ruang tunggu, seorang anak kecil tertidur di pangkuan ibunya, sementara seorang lelaki tua duduk memejamkan mata sembari menggenggam tasb

  • Terjebak Pesona Presdir Muda   Salah Kamar?

    Ting! Suara notifikasi ponsel membuat Hana terbangun dari tidurnya. Ia mengerjapkan mata beberapa kali. Pandangannya masih buram ketika tangannya meraba-raba permukaan meja di samping ranjang.Bianca: Hana, kamu ini ke mana? Kok malah menghilang?Hana mengernyit. Pesan berikutnya berhasil masuk.Bianca: Laki-laki tua itu semalam mendatangiku dan semuanya jadi kacau. Aku kira kamu sudah menyelesaikan tugasmu. Kalau seperti ini, aku batal kasih uang itu ke kamu.Mata Hana langsung terbuka lebar. Ia buru-buru bangun. Gerakannya membuat selimut yang menutupi tubuhnya bergeser. Hana membeku ketika menyadari satu hal yang baru saja luput dari pikirannya. Ia belum mengenakan pakaian.“Ya Tuhan...”Hana menarik selimut hingga menutupi tubuhnya. Kepalanya menoleh cepat ke samping. Seorang pria masih terbaring di sana.Hana menelan ludah. Jantungnya berdegup lebih cepat. Tangannya bergerak membuka percakapan dengan Bianca.Hana: Bi, tapi aku benar-benar masuk ke kamar yang kamu bilang. Aku bah

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status