LOGINJam yang tergantung di dinding menunjukkan pukul delapan malam ketika Hana melangkahkan kaki memasuki Kafe Edelweiss.
Bel kecil di atas pintu berdenting pelan menyambut kedatangannya. Berbeda dengan keramaian jalan raya di luar, suasana di dalam kafe terasa jauh lebih tenang dan nyaman. “Semoga kali ini aku tidak melakukan kesalahan lagi.” Hana tidak menemukan siapa pun yang memang ia kenal di dalam kafe. Ia mulai bertanya-tanya apakah keputusan datang ke tempat itu merupakan pilihan yang tepat. Akan tetapi ia sudah terlanjur datang. Kini tidak ada alasan untuknya berbalik pergi. Mungkin memang inilah cara agar ayahnya bisa terselamatkan. "Selamat malam." Suara lembut seorang pelayan membuyarkan lamunannya. "Ada yang bisa saya bantu, Mbak?" Hana mengangguk pelan masih dengan ekspresi bingung menghiasi wajahnya. "Saya mendapat undangan untuk datang ke sini." Pelayan itu memperhatikan wajah Hana selama beberapa detik mencoba untuk memastikan sesuatu. "Apakah Anda Nona Marcelia Hana?" Mata Hana membulat. "Benar, itu saya." "Kalau begitu silakan ikut saya." Pelayan itu segera berjalan lebih dulu menuju sebuah tangga yang mengarah ke lantai dua. Semakin jauh melangkah, suasana kafe semakin sunyi. Mereka berhenti di depan sebuah pintu kayu berwarna cokelat tua. Pelayan itu mengetuk pintu sekedar meminta izin untuk memasuki ruangan. Tok Tok. "Silakan masuk." Suara pria terdengar dari balik pintu tersebut. Pelayan itu membuka pintu, kemudian mempersilakan Hana masuk sebelum menutupnya kembali dari arah luar. Di dekat jendela, seorang pria paruh baya berdiri tegak memandangi gemerlap lampu kota. Usianya mungkin sekitar lima puluh tahunan. Rambutnya mulai dipenuhi uban di beberapa bagian, tetapi penampilannya tetap rapi dengan setelan jas abu-abu gelap yang melekat sempurna di tubuhnya. "Selamat malam, Nona Marcelia Hana." Hana membeku ketika pria itu menyebut nama lengkapnya tanpa sedikit pun keraguan. Perasaan takut mulai menyergapnya detik itu juga. "Maaf, apakah kita pernah bertemu sebelumnya?" Hana berusaha menenangkan suaranya yang mulai bergetar. Pria itu mengulas senyum tipis. "Saya rasa belum." "Bagaimana Bapak mengetahui nama saya?" "Silakan duduk terlebih dahulu. Saya rasa pembicaraan kita akan cukup panjang." Pria itu menunjuk kursi di hadapannya. Hana tidak langsung bergerak. Tatapannya masih dipenuhi kewaspadaan karena ia tidak mengenal pria itu. Tapi entah mengapa, ia merasa pria tersebut bukan orang sembarangan. Melihat Hana masih berdiri, pria itu kembali berkata dengan nada tenang. "Anda tidak perlu khawatir. Saya tidak berniat mencelakai Anda." Hana akhirnya menarik kursi dan mendudukkan dirinya perlahan-lahan. Meski demikian, tubuhnya tetap tegang. Pria itu ikut mengambil tempat di hadapannya. Di atas meja telah tersedia dua cangkir teh hangat yang masih mengepulkan uap tipis. "Silakan diminum." "Terima kasih." Hana menjawab singkat, tetapi tidak menyentuh cangkir itu sedikit pun. Ia tidak ingin ceroboh dan menimbulkan masalah. Pria tersebut tampaknya memahami kewaspadaan Hana. Ia memilih untuk tidak memaksanya. Sebaliknya, ia membuka sebuah map hitam yang sejak tadi berada di sampingnya. "Sebelum kita masuk ke pembicaraan yang lebih jauh, izinkan saya memperkenalkan diri. Saya Armand Wijaya." Pria itu mengeluarkan sebuah kartu nama, lalu menggesernya perlahan ke arah Hana. Hana mengambil kartu tersebut. Ia memperhatikan bahwa di bawah nama itu tertera sebuah jabatan yaitu Kepala Penasihat Hukum Wijaya Group. "Saya rasa telah terjadi kesalahan di sini. Saya tidak pernah berurusan dengan perusahaan Bapak." Hana mengembalikan kartu nama itu ke atas meja. Armand tersenyum tipis. "Benar." "Lantas mengapa Bapak ingin bertemu dengan saya?" Alih-alih menjawab pertanyaan yang Hana lontarkan, ia justru membuka map hitam di hadapannya. Setelah itu ia mengeluarkan sebuah foto berukuran sedang. Foto itu diletakkan perlahan di atas meja, tepat di hadapan Hana. Hana menundukkan pandangannya. Dalam sekejap, warna wajahnya memudar dan pasi. Foto tersebut memperlihatkan dirinya memasuki Apartemen Arunika pada malam sebelumnya. "Nona Hana, saya ingin bertanya dengan jujur." Suara Armand terdengar tenang, tetapi berhasil membuat jantungnya berdegup semakin kencang. "Apakah setelah memasuki apartemen itu, Anda bertemu dengan Tuan Reinald?" Jemari Hana yang berada di atas pangkuan perlahan mengepal, sementara pandangannya tetap terpaku pada foto yang tergeletak di atas meja. Foto itu diambil dari sudut yang cukup jauh. Meski wajahnya tidak terlihat terlalu jelas, pakaian yang dikenakannya malam itu membuat Hana tidak mungkin menyangkal bahwa perempuan dalam foto tersebut adalah dirinya. “Kenapa Bapak menanyakan hal itu kepada saya?” Armand tidak langsung menjawab. Ia justru menutup kembali map di hadapannya, lalu menyandarkan punggung pada kursi. “Saya akan menjelaskan semuanya. Namun sebelumnya, saya berharap Anda menjawab pertanyaan saya dengan jujur.” Tatapan pria itu tetap tenang, tetapi cukup tajam hingga membuat Hana merasa tidak mampu berbohong. Pada akhirnya, Hana mengembuskan napas pelan. “iya. Saya bertemu dengannya.” Suara itu nyaris tidak terdengar. Armand mengangguk kecil, seolah jawaban tersebut memang sudah diduganya sejak awal. “Terima kasih karena telah berkata jujur.” Hana menggigit bibir bawahnya. “Sekarang, bisakah Bapak menjelaskan apa sebenarnya yang sedang terjadi?” Armand menyatukan kedua tangannya di atas meja. “Nama saya memang Armand Wijaya. Saya bekerja sebagai penasihat hukum keluarga Wijaya.” “Keluarga Wijaya? Saya tetap tidak mengerti.” “Tentu saja karena Anda memang belum mengenal mereka. Tuan Reinald yang saya maksud adalah Reinald Wijaya.” Hana terdiam berusaha untuk mencerna setiap ucapannya. Nama belakang itu terdengar asing. Tetapi, nama depannya membuat dada Hana kembali dipenuhi kegelisahan. “Beliau adalah salah satu pewaris Wijaya Group.” Hana membelalak mendengar pengakuan itu. Ia memang tidak mengenal dunia bisnis, tetapi nama Wijaya Group bukanlah nama yang benar-benar asing. Ia pernah beberapa kali mendengar perusahaan itu diberitakan sebagai salah satu kelompok usaha terbesar di kota tempatnya tinggal. Tanpa sadar, tenggorokannya terasa kering. “Ekhem, lalu ... apa hubungannya dengan saya?” Armand menatapnya beberapa saat. “Hubungannya adalah Anda merupakan perempuan terakhir yang terlihat memasuki unit apartemen Tuan Reinald pada malam itu.” Kalimat tersebut membuat Hana kembali menegang. Ia spontan menggenggam ujung rok yang dikenakannya. “Saya tidak sengaja. Sebenarnya waktu itu saya salah masuk kamar.” Perkataan itu keluar begitu saja dari bibir Hana. Armand terlihat santai dan tidak terkejut. “Jadi benar telah terjadi kesalahan?” Hana mengangguk pelan. Air mata mulai memenuhi pelupuk matanya. “Saya sama sekali tidak mengenal Tuan Reinald.” “Kalau begitu, apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana bisa salah kamar?” Pertanyaan itu membuat Hana terdiam. Bibirnya terbuka, tetapi tidak satu kata pun berhasil keluar. Ia tidak mungkin menceritakan permintaan Bianca begitu saja. Itu bukan hanya menyangkut dirinya. Ada nama orang lain yang ikut terlibat. Melihat kebimbangan Hana, Armand tidak memaksanya untuk menjawab. “Saya tidak akan mencampuri urusan pribadi Anda.” Pria itu mengambil cangkir teh di depannya, lalu menyesapnya pelan. “Yang ingin saya pastikan hanyalah satu hal. Tuan Reinald tidak mengingat apa pun tentang malam itu.” Mata Hana membulat. “Apa?” “Beliau kehilangan sebagian ingatannya karena pengaruh alkohol. Beliau hanya mengingat satu nama yaitu Hana.” Jantung Hana kembali berdebar. “Sejak pagi, beliau meminta kami mencari perempuan bernama Hana yang datang ke unit apartemennya.” Napas Hana tercekat. Ia sama sekali tidak menyangka pria itu masih mengingat namanya. “Tetapi di kota ini ada begitu banyak perempuan yang bernama Hana. Oleh karena itu, kami mulai menelusuri rekaman kamera pengawas di Apartemen Arunika.” Tatapan Hana perlahan beralih ke foto yang masih berada di atas meja. Ternyata foto itu adalah bentuk bukti bahwa memang dirinya yang datang ke apartemen Reinald malam itu. “Kami berhasil menemukan rekaman seseorang memasuki unit apartemen Tuan Reinald.” “Dan orang itu adalah saya.” Armand mengangguk pelan. “Benar.” Hana memejamkan mata. Harapan kecil yang sempat muncul di dalam hatinya perlahan berubah menjadi kecemasan. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya diinginkan Reinald. “Anda tidak perlu takut. Tuan Reinald tidak meminta kami mencari Anda untuk menyalahkan ataupun mempermalukan Anda.” Suara Armand kembali terdengar. Hana menatapnya penuh tanda tanya. “Lalu untuk apa?” Armand terdiam beberapa saat. Sorot matanya berubah sedikit lebih serius dibandingkan sebelumnya. “Karena beliau ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi malam itu.” Kalimat itu membuat Hana kembali kehilangan napas. Armand membuka mapnya sekali lagi. Kali ini ia mengeluarkan sebuah kartu nama dan meletakkannya di hadapan Hana. “Ini nomor yang bisa Anda hubungi kapan saja. Besok pagi, Tuan Reinald berniat datang sendiri menemui Anda.” Wajah Hana seketika memucat mendengar penuturan itu. “Beliau sudah mengetahui di rumah sakit mana ayah Anda dirawat.”Hari ini Hana datang lebih awal daripada biasanya. Udara di dalam mobil terasa dingin ketika ia menatap gedung Wijaya Group dari balik kaca, tetapi bukan suhu pagi yang membuat pikirannya berat.Sejak kejadian kemarin, ia terus mencoba meyakinkan dirinya bahwa kedatangan Karissa tidak perlu mengubah apa pun. Reinald sudah mengatakan dengan jelas bahwa masa lalu mereka telah berakhir, tetapi hati Hana tetap menyimpan kegelisahan yang sulit disingkirkan begitu saja.Ia turun dari mobil dan berjalan memasuki lobi. Beberapa langkah sebelum mencapai lift, seorang perempuan berdiri di dekat pintu masuk. Hana mengenal wajah itu bahkan sebelum Karissa menoleh.Karissa, perempuan itu tersenyum ketika melihat Hana. Yang membuat heran, pagi-pagi dia sudah berada di kantor Reinald. “Kau datang lebih pagi, Hana.”Hana berhenti. “Kau sedang menungguku?”“Tidak secara khusus.” Karissa memainkan tali tas di tangannya. “Aku hanya ingin menemui Reinald.”Hana mengangguk kecil. “Kalau begitu, sebaiknya
Hana masih berdiri di dekat mejanya ketika pintu lift tertutup setelah Karissa pergi. Kalimat perempuan itu terus terngiang di kepalanya, terutama tentang bagaimana ia mengenal Reinald jauh sebelum Hana hadir dalam kehidupan pria itu.Ia berusaha mengabaikannya. Namun semakin ia mencoba, semakin banyak hal yang muncul di kepalanya.Cara Karissa memanggil nama Reinald. Cara perempuan itu menyentuh lengannya tanpa ragu. Dan juga cara Reinald terlihat begitu mengenal setiap gerak-geriknya.Semua terasa seperti potongan masa lalu yang tidak seharusnya berada di hadapan Hana, tetapi sekarang justru berdiri begitu nyata di antara mereka.Hana menarik napas panjang lalu kembali duduk. Ia membuka laptop, tetapi pikirannya tidak benar-benar tertuju pada pekerjaan. Beberapa kali ia membaca halaman yang sama tanpa memahami isinya, sampai akhirnya ia menutup dokumen tersebut dan menyandarkan tubuhnya pada kursi.Mungkin Karissa benar. Mungkin Hana memang belum mengenal Reinald sedalam itu. Dan m
Pagi ini Hana baru saja meletakkan tas di atas meja ketika suara langkah kaki terdengar dari arah lift. Ia menoleh sekilas dan mendapati Reinald berjalan keluar bersama Dimas. Pria tampan itu mengenakan setelan hitam yang membuat sosoknya terlihat semakin sulit didekati.Namun langkah Hana terhenti ketika seseorang muncul beberapa detik setelahnya.Karissa, perempuan itu berjalan dengan senyum yang begitu merekah. Seolah-olah keberadaannya di kantor Wijaya Group adalah sesuatu yang sudah biasa. Ketika pandangannya bertemu dengan Hana, senyumnya tidak menghilang dan justru semakin melebar sebelum akhirnya kembali mengarah pada Reinald.“Reinald, kau masih menyimpan kebiasaan berjalan terlalu cepat.” Suara Karissa terdengar lembut.Reinald berhenti dan menoleh. “Aku tidak tahu kau masih mengingatnya. Aku hanya tidak suka membuang-buang waktu.”Karissa tertawa kecil. “Aku mengingat banyak hal tentangmu. Kau juga begitu, kan?”Hana yang berdiri tidak jauh dari sana memilih untuk menunduk
Hana masih duduk di tempatnya ketika Reinald berjalan menjauh. Kalimat pria itu terus berputar di kepalanya, membuat jemarinya yang berada di atas meja bahkan tidak mampu kembali menyentuh keyboard.Hana menelan ludah. Ia tidak tahu mengapa satu kalimat itu bisa membuat jantungnya berdebar sedemikian keras, seolah-olah dirinya baru saja mendengar sesuatu yang selama ini diam-diam ingin ia dengar.Ia memaksa pandangannya kembali pada layar komputer. Namun huruf-huruf yang tersusun di hadapannya justru tampak semakin kabur karena pikirannya tidak lagi berada di sana.Hana mengembuskan napas panjang, lalu menyandarkan punggungnya pada kursi. Ia tidak seharusnya berharap.Hubungan mereka sejak awal bahkan tidak pernah dimulai dengan sesuatu yang jelas. Reinald adalah atasannya, sementara dirinya hanya seseorang yang kebetulan masuk ke dalam hidup pria itu setelah serangkaian kejadian yang tidak pernah mereka rencanakan.Tetapi belakangan ini semuanya berubah. Reinald menjemputnya setiap p
Hana menatap foto yang tergeletak di atas mejanya. Wajah Reinald di dalam gambar itu terlihat begitu berbeda dari pria yang selama ini ia kenal.Terlihat lebih muda, lebih ringan, dan memiliki senyum yang seolah tidak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun sejak Hana mengenalnya.Ada sesuatu yang terasa sakit ketika menyadari bahwa senyum itu pernah menjadi milik seseorang dan bukan miliknya.Hana mengangkat kepalanya dan menatap ke arah Karissa. Perempuan itu masih duduk dengan tenang di hadapannya, seakan sengaja membiarkan Hana mencerna setiap hal yang baru saja ia tunjukkan.“Aku tidak tahu kenapa kau menunjukkan semua ini padaku.”Karissa tersenyum tipis. “Karena kau perlu tahu bahwa Reinald bukan hanya pria dingin seperti yang mungkin kau lihat sekarang.”“Aku tidak pernah menganggapnya sebagai pria dingin.”“Baguslah.” Karissa mengambil kembali foto itu. “Berarti kau sudah mengenalnya cukup jauh.” Nada suaranya terdengar ringan, tetapi justru membuat Hana semakin tidak nyaman.Ka
Hana memperhatikan Karissa yang menghilang di balik pintu ruang Reinald. Jemarinya tetap bergerak di atas keyboard, tetapi sejak perempuan itu datang, tidak satu pun kalimat dalam laporan yang sedang dikerjakannya benar-benar masuk ke dalam pikirannya.Ia mencoba mengabaikan perasaan aneh yang sejak tadi mengganjal di dada. Bukankah Reinald memang memiliki kehidupan sebelum dirinya? Bukankah wajar jika seseorang dari masa lalu datang dan kembali mengambil sedikit ruang yang pernah menjadi miliknya?Hana menarik napas pelan, kemudian memaksa matanya kembali pada layar. Ia tidak ingin menjadi perempuan yang cemburu hanya karena melihat mantan kekasih seseorang datang ke kantor.Terlebih lagi, ia dan Reinald bahkan tidak memiliki hubungan yang jelas. Pikiran itu seharusnya membuatnya lega. Namun entah mengapa, justru terasa semakin menyakitkan.Beberapa menit berlalu dalam keheningan. Pintu ruangan pribadi Reinald masih tertutup. Setiap kali terdengar suara dari dalam, perhatian Hana ta







