Share

Pria Di Dalam Mobil

Author: Nafelluve
last update publish date: 2026-07-01 21:45:23

Hana terpaku di tempatnya. Jemari yang sejak tadi menggenggam tali tas perlahan mengendur. Sesaat ia mengira pendengarannya sedang mempermainkannya.

"Maksud Anda, ada seseorang yang ingin membayar biaya operasi ayah saya?" tanyanya pelan untuk sekedar memastikan.

Petugas administrasi itu mengangguk. "Iya, Nona."

"Siapa orangnya?"

"Maaf, saya tidak mengetahui identitas beliau. Dan sepertinya beliau juga sedang terburu-buru."

Jawaban itu membuat dahi Hana berkerut. Rasanya mustahil jika ada orang yang bersedia mengeluarkan uang dalam jumlah besar untuk seseorang yang bahkan tidak dikenalnya.

"Beliau tidak meninggalkan nama atau yang lainnya?"

Petugas itu kembali menggeleng. "Tidak. Beliau hanya menitipkan pesan agar saya menyampaikan sesuatu kepada Anda."

Hana menelan ludah. "Pesan apa itu?"

Petugas itu mempersilakan Hana mengikutinya menuju ruang administrasi. Langkah mereka bergema pelan di sepanjang lorong rumah sakit. Selama berjalan, pikiran Hana dipenuhi berbagai kemungkinan.

Apakah Bianca berubah pikiran? Atau mungkinkah ada kerabat jauh ayahnya yang selama ini tidak pernah mereka ketahui?

Sesampainya di ruang administrasi, petugas itu membuka sebuah map berwarna biru. Dari dalamnya, ia mengeluarkan sebuah amplop putih yang masih tersegel.

"Ini dititipkan khusus untuk Anda."

Hana menerimanya dengan hati-hati. Tangannya sedikit gemetar ketika membuka lipatan amplop tersebut.

Di dalamnya hanya terdapat selembar kertas tanpa kop surat maupun tanda tangan. Tulisan yang tertera di atasnya begitu singkat.

‘Saya bersedia menanggung seluruh biaya operasi ayah Anda. Malam ini datanglah seorang diri ke Kafe Edelweiss pukul delapan malam. Jangan mengajak siapa pun.’

"Apakah hanya ini?" tanya Hana sambil mengangkat secarik kertas itu.

"Iya, Nona."

"Bagaimana penampilan orang yang menitipkan surat ini?"

Petugas administrasi itu tampak berpikir sejenak. "Maaf, saya juga tidak sempat berbicara banyak. Beliau datang hanya beberapa menit, lalu langsung pergi."

"Maksud saya dia laki-laki atau perempuan?"

"Laki-laki."

Jawaban itu membuat Hana semakin bingung. Ia tidak terlalu banyak mengenal laki-laki di luar lingkungan rumah dan tempat kerjanya.

Pandangannya kembali jatuh pada tulisan di tangannya. Entah mengapa, surat itu justru membuat bulu kuduknya meremang.

Ada sesuatu yang terasa ganjil. Namun di sisi lain, secarik harapan yang menurutnya hampir padam kini perlahan kembali menyala.

Jika benar ada seseorang yang bersedia membantu, berarti ayahnya masih memiliki kesempatan untuk menjalani operasi.

"Nona Hana, sebenarnya beliau juga meninggalkan pesan lisan." Suara petugas administrasi membuyarkan lamunannya.

"Benarkah? Pesan apa?" Hana dengan cepat mengangkat kepalanya masih dengan banyak pertanyaan yang belum menemukan jawaban.

"Beliau mengatakan keputusan sepenuhnya ada di tangan Anda. Kalau Anda tidak datang malam ini, anggap saja surat itu tidak pernah ada."

Kalimat tersebut membuat dada Hana kembali dipenuhi kegelisahan. Ia memandang secarik kertas itu sekali lagi. Ia bimbang antara datang atau mengabaikannya.

Dua pilihan itu sama-sama mengandung risiko. Akan tetapi ketika mengingat ayahnya yang masih terbaring tanpa kesadaran, Hana sadar dirinya hampir tidak memiliki pilihan lain.

Perlahan ia melipat kembali surat tersebut, lalu memasukkannya ke dalam tas. "Saya mengerti."

Usai mengucapkan kalimat itu, Hana berpamitan dan kembali menuju ruang intensif. Semakin dekat ke ruang perawatan, langkahnya kembali melambat.

Ia kembali berdiri di balik dinding kaca. Ayahnya masih belum menunjukkan tanda-tanda akan membuka mata.

Pikiran Hana tiba-tiba berubah kosong. Dalam hati, ia terus bertanya-tanya. Siapa sebenarnya laki-laki yang mengirim surat itu? Dan bagaimana dia bisa begitu mengetahui keadaannya?

Hana tetap berdiri di depan dinding kaca ruang intensif. Pandangannya tidak pernah lepas dari sosok ayahnya yang masih terbaring tanpa kesadaran.

Sesekali, seorang perawat datang memeriksa infus dan mencatat angka-angka pada layar monitor. Setelah semuanya selesai, ruangan itu kembali sunyi.

Hana mengembuskan napas pelan. Surat di dalam tas itu terasa begitu berat. Padahal hanya selembar kertas. Hanya saja, isi tulisan di dalamnya mampu memenuhi seluruh isi kepalanya.

Ia kembali memasuki ruang intensif setelah mengenakan pakaian pelindung. Langkahnya pelan, seolah takut mengusik ketenangan di dalam ruangan.

Di sisi ranjang, Hana kembali menggenggam tangan ayahnya. Kulit setengah keriput itu masih terasa dingin.

"Ayah, Hana tidak tahu siapa orang itu. Tapi kalau benar ada kesempatan untuk menyelamatkan Ayah..." Suaranya lirih dan kalimatnya terputus.

Air mata kembali menggenang di pelupuk matanya. Ia sendiri tidak yakin apakah harus mempercayai surat misterius tersebut.

Hana memejamkan kedua mata entah untuk yang ke berapa kalinya hari ini. Seumur hidup, ayahnya selalu mengajarkan agar tidak mudah percaya kepada orang lain. Terlebih pada orang yang tidak dikenalnya.

Akan tetapi, keadaannya sekarang berbeda. Waktu ayahnya terus berjalan. Sedangkan dirinya tidak memiliki uang sedikit pun.

Perlahan, Hana mengusap punggung tangan ayahnya. "Kalau Ayah bisa mendengar Hana, apa yang harus Hana lakukan?" Suaranya kembali bergetar. Tentu saja ia tidak mendapatkan jawaban.

Hana menundukkan kepala cukup lama sebelum akhirnya mengusap air mata yang membasahi pipinya. Ia tidak boleh terus larut dalam kesedihan. Masih ada satu harapan yang belum ia coba. Meski harapan itu datang dari seseorang yang bahkan tidak ia kenal.

Menjelang sore, Hana berpamitan kepada perawat yang sedang berjaga. "Saya akan keluar sebentar. Kalau kondisi ayah saya berubah, tolong segera hubungi saya."

Perawat itu mengangguk ramah. "Tentu, Nona."

Setelah menarik napas panjang dan mengembuskannya, Hana melangkah keluar dari rumah sakit dengan perasaan yang jauh dari tenang.

Langit mulai berubah jingga. Angin sore berembus pelan menggoyangkan dedaunan di halaman rumah sakit.

Ia berhenti beberapa saat di anak tangga yang berada di depan gedung. Tangannya kembali mengeluarkan surat dari dalam tas. Pandangannya tertuju pada kalimat terakhir.

Dalam hidupnya, ia tidak pernah terbiasa mengambil keputusan besar seorang diri. Biasanya, sang ayah yang akan memberikan saran.

Namun sekarang pria yang selalu menjadi tempatnya meminta jawaban justru sedang berjuang mempertahankan hidup.

Perlahan, Hana melipat kembali surat itu. "Aku harus datang."

Kalimat itu keluar hampir seperti bisikan. Bukan karena ia mempercayai orang yang mengirim surat tersebut. Melainkan karena ia tidak lagi memiliki pilihan lain.

Ia menoleh sekali lagi ke arah bangunan rumah sakit. Sorot matanya dipenuhi tekad sekaligus kecemasan. Apa pun yang menunggunya malam nanti, ia harus menghadapinya. Sebab hanya itulah satu-satunya harapan yang masih tersisa.

––

Sementara itu, di sebuah mobil hitam yang terparkir tidak jauh dari gerbang rumah sakit, sepasang mata memperhatikan setiap gerakan Hana sejak gadis itu keluar dari gedung.

Seorang pria duduk di kursi belakang. Wajahnya tidak terlihat jelas karena tertutup bayangan. Di tangannya, terdapat sebuah map berwarna cokelat yang berisi beberapa lembar dokumen.

Ia mengalihkan pandangan ke arah jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul lima lewat tiga puluh menit.

"Dia sungguh akan datang?" Suara beratnya memecah keheningan.

Lelaki yang duduk di kursi kemudi segera menjawab, "Kemungkinan besar dia akan datang, Tuan."

Pria itu mengangguk pelan. "Pastikan tidak ada yang mengikuti dia."

"Baik, Tuan."

Mobil hitam itu tetap diam di tempatnya hingga sosok Hana menghilang di balik keramaian jalan.

Pria tersebut kemudian membuka map di pangkuannya. Di halaman paling atas terpampang sebuah foto. Foto seorang gadis yang sedang tersenyum cerah. Gadis itu adalah Hana.

Pria itu menatap foto tersebut beberapa saat sebelum menutup kembali map di pangkuannya. "Semoga keputusanmu malam ini tidak salah, Hana."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terjebak Pesona Presdir Muda   Titipan Dari Karissa

    Hari ini Hana datang lebih awal daripada biasanya. Udara di dalam mobil terasa dingin ketika ia menatap gedung Wijaya Group dari balik kaca, tetapi bukan suhu pagi yang membuat pikirannya berat.Sejak kejadian kemarin, ia terus mencoba meyakinkan dirinya bahwa kedatangan Karissa tidak perlu mengubah apa pun. Reinald sudah mengatakan dengan jelas bahwa masa lalu mereka telah berakhir, tetapi hati Hana tetap menyimpan kegelisahan yang sulit disingkirkan begitu saja.Ia turun dari mobil dan berjalan memasuki lobi. Beberapa langkah sebelum mencapai lift, seorang perempuan berdiri di dekat pintu masuk. Hana mengenal wajah itu bahkan sebelum Karissa menoleh.Karissa, perempuan itu tersenyum ketika melihat Hana. Yang membuat heran, pagi-pagi dia sudah berada di kantor Reinald. “Kau datang lebih pagi, Hana.”Hana berhenti. “Kau sedang menungguku?”“Tidak secara khusus.” Karissa memainkan tali tas di tangannya. “Aku hanya ingin menemui Reinald.”Hana mengangguk kecil. “Kalau begitu, sebaiknya

  • Terjebak Pesona Presdir Muda   Di Antara Kita

    Hana masih berdiri di dekat mejanya ketika pintu lift tertutup setelah Karissa pergi. Kalimat perempuan itu terus terngiang di kepalanya, terutama tentang bagaimana ia mengenal Reinald jauh sebelum Hana hadir dalam kehidupan pria itu.Ia berusaha mengabaikannya. Namun semakin ia mencoba, semakin banyak hal yang muncul di kepalanya.Cara Karissa memanggil nama Reinald. Cara perempuan itu menyentuh lengannya tanpa ragu. Dan juga cara Reinald terlihat begitu mengenal setiap gerak-geriknya.Semua terasa seperti potongan masa lalu yang tidak seharusnya berada di hadapan Hana, tetapi sekarang justru berdiri begitu nyata di antara mereka.Hana menarik napas panjang lalu kembali duduk. Ia membuka laptop, tetapi pikirannya tidak benar-benar tertuju pada pekerjaan. Beberapa kali ia membaca halaman yang sama tanpa memahami isinya, sampai akhirnya ia menutup dokumen tersebut dan menyandarkan tubuhnya pada kursi.Mungkin Karissa benar. Mungkin Hana memang belum mengenal Reinald sedalam itu. Dan m

  • Terjebak Pesona Presdir Muda   Kenapa Muncul Lagi Sih?

    Pagi ini Hana baru saja meletakkan tas di atas meja ketika suara langkah kaki terdengar dari arah lift. Ia menoleh sekilas dan mendapati Reinald berjalan keluar bersama Dimas. Pria tampan itu mengenakan setelan hitam yang membuat sosoknya terlihat semakin sulit didekati.Namun langkah Hana terhenti ketika seseorang muncul beberapa detik setelahnya.Karissa, perempuan itu berjalan dengan senyum yang begitu merekah. Seolah-olah keberadaannya di kantor Wijaya Group adalah sesuatu yang sudah biasa. Ketika pandangannya bertemu dengan Hana, senyumnya tidak menghilang dan justru semakin melebar sebelum akhirnya kembali mengarah pada Reinald.“Reinald, kau masih menyimpan kebiasaan berjalan terlalu cepat.” Suara Karissa terdengar lembut.Reinald berhenti dan menoleh. “Aku tidak tahu kau masih mengingatnya. Aku hanya tidak suka membuang-buang waktu.”Karissa tertawa kecil. “Aku mengingat banyak hal tentangmu. Kau juga begitu, kan?”Hana yang berdiri tidak jauh dari sana memilih untuk menunduk

  • Terjebak Pesona Presdir Muda   Perasaan Itu Semakin Tumbuh

    Hana masih duduk di tempatnya ketika Reinald berjalan menjauh. Kalimat pria itu terus berputar di kepalanya, membuat jemarinya yang berada di atas meja bahkan tidak mampu kembali menyentuh keyboard.Hana menelan ludah. Ia tidak tahu mengapa satu kalimat itu bisa membuat jantungnya berdebar sedemikian keras, seolah-olah dirinya baru saja mendengar sesuatu yang selama ini diam-diam ingin ia dengar.Ia memaksa pandangannya kembali pada layar komputer. Namun huruf-huruf yang tersusun di hadapannya justru tampak semakin kabur karena pikirannya tidak lagi berada di sana.Hana mengembuskan napas panjang, lalu menyandarkan punggungnya pada kursi. Ia tidak seharusnya berharap.Hubungan mereka sejak awal bahkan tidak pernah dimulai dengan sesuatu yang jelas. Reinald adalah atasannya, sementara dirinya hanya seseorang yang kebetulan masuk ke dalam hidup pria itu setelah serangkaian kejadian yang tidak pernah mereka rencanakan.Tetapi belakangan ini semuanya berubah. Reinald menjemputnya setiap p

  • Terjebak Pesona Presdir Muda   Masih Ada Harapan?

    Hana menatap foto yang tergeletak di atas mejanya. Wajah Reinald di dalam gambar itu terlihat begitu berbeda dari pria yang selama ini ia kenal.Terlihat lebih muda, lebih ringan, dan memiliki senyum yang seolah tidak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun sejak Hana mengenalnya.Ada sesuatu yang terasa sakit ketika menyadari bahwa senyum itu pernah menjadi milik seseorang dan bukan miliknya.Hana mengangkat kepalanya dan menatap ke arah Karissa. Perempuan itu masih duduk dengan tenang di hadapannya, seakan sengaja membiarkan Hana mencerna setiap hal yang baru saja ia tunjukkan.“Aku tidak tahu kenapa kau menunjukkan semua ini padaku.”Karissa tersenyum tipis. “Karena kau perlu tahu bahwa Reinald bukan hanya pria dingin seperti yang mungkin kau lihat sekarang.”“Aku tidak pernah menganggapnya sebagai pria dingin.”“Baguslah.” Karissa mengambil kembali foto itu. “Berarti kau sudah mengenalnya cukup jauh.” Nada suaranya terdengar ringan, tetapi justru membuat Hana semakin tidak nyaman.Ka

  • Terjebak Pesona Presdir Muda   Merasa Tersisih

    Hana memperhatikan Karissa yang menghilang di balik pintu ruang Reinald. Jemarinya tetap bergerak di atas keyboard, tetapi sejak perempuan itu datang, tidak satu pun kalimat dalam laporan yang sedang dikerjakannya benar-benar masuk ke dalam pikirannya.Ia mencoba mengabaikan perasaan aneh yang sejak tadi mengganjal di dada. Bukankah Reinald memang memiliki kehidupan sebelum dirinya? Bukankah wajar jika seseorang dari masa lalu datang dan kembali mengambil sedikit ruang yang pernah menjadi miliknya?Hana menarik napas pelan, kemudian memaksa matanya kembali pada layar. Ia tidak ingin menjadi perempuan yang cemburu hanya karena melihat mantan kekasih seseorang datang ke kantor.Terlebih lagi, ia dan Reinald bahkan tidak memiliki hubungan yang jelas. Pikiran itu seharusnya membuatnya lega. Namun entah mengapa, justru terasa semakin menyakitkan.Beberapa menit berlalu dalam keheningan. Pintu ruangan pribadi Reinald masih tertutup. Setiap kali terdengar suara dari dalam, perhatian Hana ta

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status