مشاركة

Bertemu Lagi

مؤلف: Nafelluve
last update تاريخ النشر: 2026-08-11 12:56:11

Pagi belum sepenuhnya ramai ketika Hana kembali berdiri di depan ruang intensif tempat ayahnya dirawat.

 

Semalaman ia hampir tidak bisa memejamkan mata. Percakapan dengan Armand terus berputar di kepalanya, terutama satu kalimat terakhir yang membuatnya tidak tenang.

 

Reinald akan datang menemuinya.

 

Hana mengembuskan napas panjang. Tangannya menggenggam tali tas yang menggantung di bahu.

 

Seharusnya ia merasa lega karena seseorang masih mengingat namanya. Namun, yang muncul justru kegelisahan.

 

Ia tidak ingin bertemu Reinald lagi. Bukan karena pria itu telah melakukan sesuatu setelah malam tersebut.

 

Justru karena Hana sendiri tidak tahu harus bersikap seperti apa ketika berhadapan dengannya dalam keadaan sadar.

 

Malam itu saja sudah cukup membuat hidupnya kacau. Kini Reinald bahkan mengetahui rumah sakit tempat ayahnya dirawat.

 

Hana menoleh ke balik kaca. Ayahnya masih terbaring tanpa kesadaran. Selang dan berbagai alat medis tetap terpasang di tubuhnya.

 

Monitor di samping ranjang menunjukkan angka yang terus berubah, sementara suara detaknya terdengar teratur di tengah keheningan ruangan.

 

“Jangan khawatir, Yah,” bisiknya. “Hana ada di sini.”

 

Hana menundukkan kepala. Ia mengusap wajahnya perlahan sebelum kembali menatap pintu masuk rumah sakit.

 

Entah mengapa, sejak beberapa menit terakhir jantungnya tidak berhenti berdetak lebih cepat.

 

Suara langkah terdengar dari ujung lorong. Hana spontan menoleh. Seorang pria mengenakan setelan hitam berjalan melewati beberapa orang yang berada di ruang tunggu. Di belakangnya terdapat seorang lelaki lain yang tampaknya merupakan asistennya.

 

Langkah pria itu berhenti. Hana langsung mengenalinya. Tubuhnya menegang. Pria itu adalah Reinald. Keduanya hanya saling memandang dari jarak beberapa meter.

 

Berbeda dengan malam ketika Hana pertama kali melihatnya, pria itu kini terlihat sangat berbeda. Tidak ada rambut berantakan, kemeja kusut, ataupun tatapan kehilangan kesadaran karena alkohol.

 

Tatapan Reinald berpindah dari wajah Hana menuju pintu ruang intensif di belakangnya. Setelah itu, ia kembali menatap Hana.

 

Hana refleks memperbaiki posisi tas di bahunya ketika Reinald berjalan mendekat. Semakin dekat jarak mereka, semakin jelas wajah pria tersebut terlihat.

 

“Hana?” Suara itu membuat jemari Hana mencengkeram tali tas lebih kuat.

 

“Iya.”

 

Reinald berhenti beberapa langkah di hadapannya. Tatapannya mengamati Hana sejenak.

 

“Kau masih mengingatku, kan?” Pertanyaan itu membuat Hana mengangkat wajah.

 

Hana hampir ingin menjawab bahwa ia masih mengingatnya. Bagaimana mungkin ia melupakan pria yang membuat hidupnya berantakan hanya dalam satu malam?

 

Namun, ia memilih jawaban yang lebih singkat. “Ingat.”

Reinald mengangguk kecil. “Aku Reinald Wijaya.”

 

“Aku tahu.” Jawaban Hana terdengar lebih cepat daripada yang ia inginkan. Alis Reinald sedikit terangkat.

 

Hana menyadari ucapannya terdengar ketus. Ia segera mengalihkan pandangan. “Pak Armand sudah menjelaskan semuanya.”

 

“Begitu.”

 

Tidak ada yang berbicara setelah itu. Keheningan di antara mereka justru terasa lebih canggung daripada yang Hana bayangkan.

 

Reinald memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. “Aku datang untuk membicarakan malam itu.”

 

Hana mengembuskan napas perlahan sembari berusaha menelan ludahnya. “Saya sudah bilang kepada Pak Armand bahwa saya salah masuk kamar.”

 

“Aku tahu.”

 

“Kalau begitu, tidak ada lagi yang perlu dibicarakan.”

 

Reinald menatapnya cukup lama. “Menurutmu sesederhana itu?”

Hana kembali menatapnya. “Apa maksud Anda?”

Reinald tidak langsung menjawab. Ia mengalihkan pandangan menuju ruang intensif. “Siapa yang menyuruhmu datang ke apartemenku?”

 

Pertanyaan itu membuat wajah Hana seketika berubah. Ia sudah menduga pertanyaan tersebut akan muncul. Namun mendengarnya secara langsung tetap membuatnya tidak nyaman.

 

“Saya sudah menjelaskan kepada Anda waktu itu.”

 

“Aku tidak mengingatnya.”

 

“Saya datang karena seseorang meminta saya. Namanya Bianca.”

 

“Alasannya apa?” Hana terdiam.

 

Reinald memperhatikan perubahan ekspresi itu. “Kau selalu menghindari pertanyaan yang sama.”

 

“Saya tidak punya alasan untuk menjelaskan masalah pribadi saya kepada Anda.”

 

“Aku tidak meminta seluruh masalah pribadimu. Aku hanya ingin tahu kau ini jujur atau tidak.”

 

“Lalu kenapa terus bertanya? Sudah saya bilang, semua ini kesalahan. Saya hanya salah masuk kamar.” Reinald sedikit mengernyit.

 

Nada bicara Hana terdengar jauh lebih berani dibandingkan ketika mereka bertemu di apartemen. Namun, pria itu tidak merasa tersinggung.

 

Justru sebaliknya. Ia semakin yakin ada sesuatu yang disembunyikan perempuan tersebut.

 

“Aku hanya ingin tahu kenapa seorang perempuan yang tidak mengenalku bisa tiba-tiba muncul di kamar apartemenku.”

 

Hana menggigit bagian dalam pipinya. “Anggap saja itu kesalahan.”

 

“Aku bisa menerima kalau memang kesalahan.” Reinald berhenti sejenak. “Tapi ada sesuatu yang tidak cocok.”

 

Hana mengerutkan kening. “Apa?”

 

“Minuman terakhir yang aku minum malam itu.” Hana terdiam.

 

Reinald memandangnya serius. “Aku memang minum. Tapi aku tidak pernah kehilangan kesadaran setelah beberapa gelas. Malam itu berbeda.”

 

Hana perlahan memahami arah pembicaraan tersebut. “Kamu pikir aku melakukan sesuatu? Aku tidak ada hubungannya dengan minuman itu. Semua hanya kebetulan.”

 

“Tidak.” Jawaban Reinald terdengar cepat.

 

“Kalau begitu?”

 

“Aku sedang mencari tahu siapa yang melakukannya.” Hana tidak menjawab.

 

Untuk pertama kalinya sejak Reinald datang, ia melihat pria tersebut bukan sekadar sebagai laki-laki asing yang ditemuinya karena kesalahan.

 

Ada sesuatu yang lebih besar sedang terjadi. Reinald juga tampaknya tidak mengetahui siapa yang berada di balik kejadian malam itu.

 

“Kenapa Anda mencari saya?” tanya Hana.

 

Reinald menatapnya. “Karena kau satu-satunya orang yang aku ingat sejak malam itu.”

 

Tatapan Reinald tidak berpindah. “Aku tidak ingat banyak hal tentang malam itu. Tapi aku ingat kau menyebut namamu.”

 

Hana menelan ludah. Ia tidak tahu harus merasa lega atau semakin khawatir. “Lalu sekarang Anda sudah menemukan saya.”

 

“Benar.”

 

“Jadi, saya boleh pergi?” Reinald kembali terdiam.

 

Hana mulai berbalik, tetapi suara Reinald menghentikan langkahnya. “Ayahmu.”

 

Hana langsung menoleh. “Apa?”

 

Reinald menunjuk samar ke arah ruang intensif. “Bagaimana kondisinya?”

 

Pertanyaan tersebut membuat ekspresi Hana berubah. Ia tidak menyangka Reinald akan menanyakan ayahnya.

 

“Masih kritis.”

 

Reinald memperhatikan wajahnya. “Operasi?”

 

Hana tidak menjawab dan Reinald langsung memahami bahwa jawabannya tidak baik.

 

“Belum dilakukan, ya?”

 

Hana menggeleng. “Biayanya belum ada.” Kalimat tersebut keluar pelan. Hana sendiri tidak tahu mengapa ia mengatakannya.

 

Mungkin karena kelelahan atau karena terlalu banyak orang menanyakan hal yang sama hingga ia sudah tidak memiliki tenaga untuk menyembunyikannya.

 

Reinald tidak langsung berkata apa-apa. Tatapannya beralih kepada pintu ruang intensif.

 

Hana segera menyadari bahwa ia telah mengatakan terlalu banyak. “Saya rasa pembicaraan kita cukup sampai di sini.”

 

Ia hendak pergi, tetapi Reinald kembali bersuara. “Berapa biaya operasinya?”

 

Hana menghentikan langkah. Ia menoleh perlahan. “Untuk apa Anda menanyakannya?”

 

“Jawab saja.”

 

“Saya tidak membutuhkan bantuan Anda.”

 

Reinald mengernyit. “Aku belum menawarkan bantuan.”

 

“Kalau begitu, jangan bertanya.”

 

Hana berbalik lagi. Kali ini langkahnya baru berjalan beberapa meter ketika suara Reinald terdengar dari belakang.

 

“Hana, besok pagi aku akan mengirim seseorang ke sini.”

 

Hana perlahan menoleh. “Untuk apa?”

 

“Untuk mengurus sesuatu.”

 

“Apa?” Reinald tidak menjawab. Ia hanya menatap Hana dengan ekspresi yang sulit dibaca.

 

Hana merasa tidak nyaman. “Jangan lakukan apa pun tanpa persetujuan saya.”

 

“Aku tahu.”

 

“Dan jangan ikut campur dalam urusan ayah saya.”

 

Reinald mengangguk kecil. “Baik.” Jawaban itu justru membuat Hana semakin curiga.

 

Ia tidak tahu apa yang sedang direncanakan pria tersebut. Namun, sebelum sempat bertanya lagi, Reinald sudah berbalik dan berjalan meninggalkannya.

 

Hana memandang punggung pria itu hingga menghilang di balik pintu lift. Ia kemudian mengembuskan napas panjang.

 

“Kenapa aku merasa akan ada masalah lagi?”

 

Hana mengusap wajahnya. Ia ingin kembali menemui ayahnya, tetapi langkahnya terhenti ketika ponselnya bergetar di dalam tas.

 

Hana mengeluarkannya. Satu pesan baru masuk dari nomor yang tidak tersimpan. Ia mengernyit sebelum membuka pesan tersebut.

 

‘Kalau kau masih ingin ayahmu selamat, jangan percaya kepada keluarga Wijaya.’

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Terjebak Pesona Presdir Muda   Kesepakatan?

    Pesan itu hanya terdiri dari satu kalimat, tetapi cukup untuk membuat pikirannya semakin penuh. Ia membaca ulang tulisan tersebut beberapa kali, berharap ada sesuatu yang terlewat atau setidaknya petunjuk mengenai siapa pengirimnya.Hana menekan tombol panggil. Sambungan bahkan tidak sempat berdering lama sebelum terputus. Ia mencoba sekali lagi dengan hasil yang sama.“Siapa sebenarnya yang mengirim ini?”Jarinya berhenti di atas layar. Setelah beberapa detik, Hana akhirnya memasukkan ponsel ke dalam tas. Ia tidak punya tenaga untuk mengurusi sesuatu yang belum jelas, sementara keadaan ayahnya jauh lebih mendesak.Ia kembali ke ruang intensif. Namun, baru beberapa langkah menuju pintu, seorang perawat keluar dari dalam ruangan. Perempuan itu sempat terkejut melihat Hana berdiri di sana.“Nona Hana, kebetulan saya sedang mencari Anda.”“Ada apa, Sus?”“Dokter Rendi meminta saya menyampaikan bahwa kondisi ayah Anda masih sama. Belum ada perubahan yang mengkhawatirkan sejak pemeriksaan

  • Terjebak Pesona Presdir Muda   Bertemu Lagi

    Pagi belum sepenuhnya ramai ketika Hana kembali berdiri di depan ruang intensif tempat ayahnya dirawat.Semalaman ia hampir tidak bisa memejamkan mata. Percakapan dengan Armand terus berputar di kepalanya, terutama satu kalimat terakhir yang membuatnya tidak tenang.Reinald akan datang menemuinya.Hana mengembuskan napas panjang. Tangannya menggenggam tali tas yang menggantung di bahu.Seharusnya ia merasa lega karena seseorang masih mengingat namanya. Namun, yang muncul justru kegelisahan.Ia tidak ingin bertemu Reinald lagi. Bukan karena pria itu telah melakukan sesuatu setelah malam tersebut. Justru karena Hana sendiri tidak tahu harus bersikap seperti apa ketika berhadapan dengannya dalam keadaan sadar.Malam itu saja sudah cukup membuat hidupnya kacau. Kini Reinald bahkan mengetahui rumah sakit tempat ayahnya dirawat.Hana menoleh ke balik kaca. Ayahnya masih terbaring tanpa kesadaran. Selang dan berbagai alat medis tetap terpasang di tubuhnya. Monitor di samping ranjang menunj

  • Terjebak Pesona Presdir Muda   Orang Suruhan Reinald

    Jam yang tergantung di dinding menunjukkan pukul delapan malam ketika Hana melangkahkan kaki memasuki Kafe Edelweiss.Bel kecil di atas pintu berdenting pelan menyambut kedatangannya. Berbeda dengan keramaian jalan raya di luar, suasana di dalam kafe terasa jauh lebih tenang dan nyaman. “Semoga kali ini aku tidak melakukan kesalahan lagi.”Hana tidak menemukan siapa pun yang memang ia kenal di dalam kafe. Ia mulai bertanya-tanya apakah keputusan datang ke tempat itu merupakan pilihan yang tepat.Akan tetapi ia sudah terlanjur datang. Kini tidak ada alasan untuknya berbalik pergi. Mungkin memang inilah cara agar ayahnya bisa terselamatkan. "Selamat malam." Suara lembut seorang pelayan membuyarkan lamunannya."Ada yang bisa saya bantu, Mbak?"Hana mengangguk pelan masih dengan ekspresi bingung menghiasi wajahnya. "Saya mendapat undangan untuk datang ke sini."Pelayan itu memperhatikan wajah Hana selama beberapa detik mencoba untuk memastikan sesuatu. "Apakah Anda Nona Marcelia Hana?"

  • Terjebak Pesona Presdir Muda   Pria Di Dalam Mobil

    Hana terpaku di tempatnya. Jemari yang sejak tadi menggenggam tali tas perlahan mengendur. Sesaat ia mengira pendengarannya sedang mempermainkannya."Maksud Anda, ada seseorang yang ingin membayar biaya operasi ayah saya?" tanyanya pelan untuk sekedar memastikan.Petugas administrasi itu mengangguk. "Iya, Nona.""Siapa orangnya?""Maaf, saya tidak mengetahui identitas beliau. Dan sepertinya beliau juga sedang terburu-buru."Jawaban itu membuat dahi Hana berkerut. Rasanya mustahil jika ada orang yang bersedia mengeluarkan uang dalam jumlah besar untuk seseorang yang bahkan tidak dikenalnya."Beliau tidak meninggalkan nama atau yang lainnya?"Petugas itu kembali menggeleng. "Tidak. Beliau hanya menitipkan pesan agar saya menyampaikan sesuatu kepada Anda."Hana menelan ludah. "Pesan apa itu?"Petugas itu mempersilakan Hana mengikutinya menuju ruang administrasi. Langkah mereka bergema pelan di sepanjang lorong rumah sakit. Selama berjalan, pikiran Hana dipenuhi berbagai kemungkinan.Apak

  • Terjebak Pesona Presdir Muda   Siapa Orang Itu?

    Langit pagi masih diselimuti mendung ketika Hana turun dari taksi di depan rumah sakit. Udara yang seharusnya terasa sejuk itu sama sekali tidak mampu meredakan rasa sesak yang memenuhi dadanya.Ia berdiri beberapa saat di pelataran rumah sakit guna menatap bangunan tinggi bercat putih yang beberapa hari terakhir menjadi tempat paling sering ia kunjungi. “Aku bosan melihat tempat ini setiap hari,” monolog Hana dengan suara lirih. Perlahan, Hana mulai membawa kedua kakinya untuk melangkah masuk. Pintu kaca otomatis terbuka memperlihatkan kesibukan yang tidak pernah benar-benar berhenti. Beberapa perawat berjalan tergesa sembari membawa berkas milik pasien. Seorang dokter tampak berbicara dengan keluarga pasien di sudut lorong. “Selamat pagi, Nona Hana. Semoga hari ini ada keajaiban untuk ayah Anda.” Salah seorang perawat menyambut Hana ramah. Di ruang tunggu, seorang anak kecil tertidur di pangkuan ibunya, sementara seorang lelaki tua duduk memejamkan mata sembari menggenggam tasb

  • Terjebak Pesona Presdir Muda   Salah Kamar?

    Ting! Suara notifikasi ponsel membuat Hana terbangun dari tidurnya. Ia mengerjapkan mata beberapa kali. Pandangannya masih buram ketika tangannya meraba-raba permukaan meja di samping ranjang.Bianca: Hana, kamu ini ke mana? Kok malah menghilang?Hana mengernyit. Pesan berikutnya berhasil masuk.Bianca: Laki-laki tua itu semalam mendatangiku dan semuanya jadi kacau. Aku kira kamu sudah menyelesaikan tugasmu. Kalau seperti ini, aku batal kasih uang itu ke kamu.Mata Hana langsung terbuka lebar. Ia buru-buru bangun. Gerakannya membuat selimut yang menutupi tubuhnya bergeser. Hana membeku ketika menyadari satu hal yang baru saja luput dari pikirannya. Ia belum mengenakan pakaian.“Ya Tuhan...”Hana menarik selimut hingga menutupi tubuhnya. Kepalanya menoleh cepat ke samping. Seorang pria masih terbaring di sana.Hana menelan ludah. Jantungnya berdegup lebih cepat. Tangannya bergerak membuka percakapan dengan Bianca.Hana: Bi, tapi aku benar-benar masuk ke kamar yang kamu bilang. Aku bah

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status