LOGINPagi belum sepenuhnya ramai ketika Hana kembali berdiri di depan ruang intensif tempat ayahnya dirawat.
Semalaman ia hampir tidak bisa memejamkan mata. Percakapan dengan Armand terus berputar di kepalanya, terutama satu kalimat terakhir yang membuatnya tidak tenang. Reinald akan datang menemuinya. Hana mengembuskan napas panjang. Tangannya menggenggam tali tas yang menggantung di bahu. Seharusnya ia merasa lega karena seseorang masih mengingat namanya. Namun, yang muncul justru kegelisahan. Ia tidak ingin bertemu Reinald lagi. Bukan karena pria itu telah melakukan sesuatu setelah malam tersebut. Justru karena Hana sendiri tidak tahu harus bersikap seperti apa ketika berhadapan dengannya dalam keadaan sadar. Malam itu saja sudah cukup membuat hidupnya kacau. Kini Reinald bahkan mengetahui rumah sakit tempat ayahnya dirawat. Hana menoleh ke balik kaca. Ayahnya masih terbaring tanpa kesadaran. Selang dan berbagai alat medis tetap terpasang di tubuhnya. Monitor di samping ranjang menunjukkan angka yang terus berubah, sementara suara detaknya terdengar teratur di tengah keheningan ruangan. “Jangan khawatir, Yah,” bisiknya. “Hana ada di sini.” Hana menundukkan kepala. Ia mengusap wajahnya perlahan sebelum kembali menatap pintu masuk rumah sakit. Entah mengapa, sejak beberapa menit terakhir jantungnya tidak berhenti berdetak lebih cepat. Suara langkah terdengar dari ujung lorong. Hana spontan menoleh. Seorang pria mengenakan setelan hitam berjalan melewati beberapa orang yang berada di ruang tunggu. Di belakangnya terdapat seorang lelaki lain yang tampaknya merupakan asistennya. Langkah pria itu berhenti. Hana langsung mengenalinya. Tubuhnya menegang. Pria itu adalah Reinald. Keduanya hanya saling memandang dari jarak beberapa meter. Berbeda dengan malam ketika Hana pertama kali melihatnya, pria itu kini terlihat sangat berbeda. Tidak ada rambut berantakan, kemeja kusut, ataupun tatapan kehilangan kesadaran karena alkohol. Tatapan Reinald berpindah dari wajah Hana menuju pintu ruang intensif di belakangnya. Setelah itu, ia kembali menatap Hana. Hana refleks memperbaiki posisi tas di bahunya ketika Reinald berjalan mendekat. Semakin dekat jarak mereka, semakin jelas wajah pria tersebut terlihat. “Hana?” Suara itu membuat jemari Hana mencengkeram tali tas lebih kuat. “Iya.” Reinald berhenti beberapa langkah di hadapannya. Tatapannya mengamati Hana sejenak. “Kau masih mengingatku, kan?” Pertanyaan itu membuat Hana mengangkat wajah. Hana hampir ingin menjawab bahwa ia masih mengingatnya. Bagaimana mungkin ia melupakan pria yang membuat hidupnya berantakan hanya dalam satu malam? Namun, ia memilih jawaban yang lebih singkat. “Ingat.” Reinald mengangguk kecil. “Aku Reinald Wijaya.” “Aku tahu.” Jawaban Hana terdengar lebih cepat daripada yang ia inginkan. Alis Reinald sedikit terangkat. Hana menyadari ucapannya terdengar ketus. Ia segera mengalihkan pandangan. “Pak Armand sudah menjelaskan semuanya.” “Begitu.” Tidak ada yang berbicara setelah itu. Keheningan di antara mereka justru terasa lebih canggung daripada yang Hana bayangkan. Reinald memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. “Aku datang untuk membicarakan malam itu.” Hana mengembuskan napas perlahan sembari berusaha menelan ludahnya. “Saya sudah bilang kepada Pak Armand bahwa saya salah masuk kamar.” “Aku tahu.” “Kalau begitu, tidak ada lagi yang perlu dibicarakan.” Reinald menatapnya cukup lama. “Menurutmu sesederhana itu?” Hana kembali menatapnya. “Apa maksud Anda?” Reinald tidak langsung menjawab. Ia mengalihkan pandangan menuju ruang intensif. “Siapa yang menyuruhmu datang ke apartemenku?” Pertanyaan itu membuat wajah Hana seketika berubah. Ia sudah menduga pertanyaan tersebut akan muncul. Namun mendengarnya secara langsung tetap membuatnya tidak nyaman. “Saya sudah menjelaskan kepada Anda waktu itu.” “Aku tidak mengingatnya.” “Saya datang karena seseorang meminta saya. Namanya Bianca.” “Alasannya apa?” Hana terdiam. Reinald memperhatikan perubahan ekspresi itu. “Kau selalu menghindari pertanyaan yang sama.” “Saya tidak punya alasan untuk menjelaskan masalah pribadi saya kepada Anda.” “Aku tidak meminta seluruh masalah pribadimu. Aku hanya ingin tahu kau ini jujur atau tidak.” “Lalu kenapa terus bertanya? Sudah saya bilang, semua ini kesalahan. Saya hanya salah masuk kamar.” Reinald sedikit mengernyit. Nada bicara Hana terdengar jauh lebih berani dibandingkan ketika mereka bertemu di apartemen. Namun, pria itu tidak merasa tersinggung. Justru sebaliknya. Ia semakin yakin ada sesuatu yang disembunyikan perempuan tersebut. “Aku hanya ingin tahu kenapa seorang perempuan yang tidak mengenalku bisa tiba-tiba muncul di kamar apartemenku.” Hana menggigit bagian dalam pipinya. “Anggap saja itu kesalahan.” “Aku bisa menerima kalau memang kesalahan.” Reinald berhenti sejenak. “Tapi ada sesuatu yang tidak cocok.” Hana mengerutkan kening. “Apa?” “Minuman terakhir yang aku minum malam itu.” Hana terdiam. Reinald memandangnya serius. “Aku memang minum. Tapi aku tidak pernah kehilangan kesadaran setelah beberapa gelas. Malam itu berbeda.” Hana perlahan memahami arah pembicaraan tersebut. “Kamu pikir aku melakukan sesuatu? Aku tidak ada hubungannya dengan minuman itu. Semua hanya kebetulan.” “Tidak.” Jawaban Reinald terdengar cepat. “Kalau begitu?” “Aku sedang mencari tahu siapa yang melakukannya.” Hana tidak menjawab. Untuk pertama kalinya sejak Reinald datang, ia melihat pria tersebut bukan sekadar sebagai laki-laki asing yang ditemuinya karena kesalahan. Ada sesuatu yang lebih besar sedang terjadi. Reinald juga tampaknya tidak mengetahui siapa yang berada di balik kejadian malam itu. “Kenapa Anda mencari saya?” tanya Hana. Reinald menatapnya. “Karena kau satu-satunya orang yang aku ingat sejak malam itu.” Tatapan Reinald tidak berpindah. “Aku tidak ingat banyak hal tentang malam itu. Tapi aku ingat kau menyebut namamu.” Hana menelan ludah. Ia tidak tahu harus merasa lega atau semakin khawatir. “Lalu sekarang Anda sudah menemukan saya.” “Benar.” “Jadi, saya boleh pergi?” Reinald kembali terdiam. Hana mulai berbalik, tetapi suara Reinald menghentikan langkahnya. “Ayahmu.” Hana langsung menoleh. “Apa?” Reinald menunjuk samar ke arah ruang intensif. “Bagaimana kondisinya?” Pertanyaan tersebut membuat ekspresi Hana berubah. Ia tidak menyangka Reinald akan menanyakan ayahnya. “Masih kritis.” Reinald memperhatikan wajahnya. “Operasi?” Hana tidak menjawab dan Reinald langsung memahami bahwa jawabannya tidak baik. “Belum dilakukan, ya?” Hana menggeleng. “Biayanya belum ada.” Kalimat tersebut keluar pelan. Hana sendiri tidak tahu mengapa ia mengatakannya. Mungkin karena kelelahan atau karena terlalu banyak orang menanyakan hal yang sama hingga ia sudah tidak memiliki tenaga untuk menyembunyikannya. Reinald tidak langsung berkata apa-apa. Tatapannya beralih kepada pintu ruang intensif. Hana segera menyadari bahwa ia telah mengatakan terlalu banyak. “Saya rasa pembicaraan kita cukup sampai di sini.” Ia hendak pergi, tetapi Reinald kembali bersuara. “Berapa biaya operasinya?” Hana menghentikan langkah. Ia menoleh perlahan. “Untuk apa Anda menanyakannya?” “Jawab saja.” “Saya tidak membutuhkan bantuan Anda.” Reinald mengernyit. “Aku belum menawarkan bantuan.” “Kalau begitu, jangan bertanya.” Hana berbalik lagi. Kali ini langkahnya baru berjalan beberapa meter ketika suara Reinald terdengar dari belakang. “Hana, besok pagi aku akan mengirim seseorang ke sini.” Hana perlahan menoleh. “Untuk apa?” “Untuk mengurus sesuatu.” “Apa?” Reinald tidak menjawab. Ia hanya menatap Hana dengan ekspresi yang sulit dibaca. Hana merasa tidak nyaman. “Jangan lakukan apa pun tanpa persetujuan saya.” “Aku tahu.” “Dan jangan ikut campur dalam urusan ayah saya.” Reinald mengangguk kecil. “Baik.” Jawaban itu justru membuat Hana semakin curiga. Ia tidak tahu apa yang sedang direncanakan pria tersebut. Namun, sebelum sempat bertanya lagi, Reinald sudah berbalik dan berjalan meninggalkannya. Hana memandang punggung pria itu hingga menghilang di balik pintu lift. Ia kemudian mengembuskan napas panjang. “Kenapa aku merasa akan ada masalah lagi?” Hana mengusap wajahnya. Ia ingin kembali menemui ayahnya, tetapi langkahnya terhenti ketika ponselnya bergetar di dalam tas. Hana mengeluarkannya. Satu pesan baru masuk dari nomor yang tidak tersimpan. Ia mengernyit sebelum membuka pesan tersebut. ‘Kalau kau masih ingin ayahmu selamat, jangan percaya kepada keluarga Wijaya.’Hari ini Hana datang lebih awal daripada biasanya. Udara di dalam mobil terasa dingin ketika ia menatap gedung Wijaya Group dari balik kaca, tetapi bukan suhu pagi yang membuat pikirannya berat.Sejak kejadian kemarin, ia terus mencoba meyakinkan dirinya bahwa kedatangan Karissa tidak perlu mengubah apa pun. Reinald sudah mengatakan dengan jelas bahwa masa lalu mereka telah berakhir, tetapi hati Hana tetap menyimpan kegelisahan yang sulit disingkirkan begitu saja.Ia turun dari mobil dan berjalan memasuki lobi. Beberapa langkah sebelum mencapai lift, seorang perempuan berdiri di dekat pintu masuk. Hana mengenal wajah itu bahkan sebelum Karissa menoleh.Karissa, perempuan itu tersenyum ketika melihat Hana. Yang membuat heran, pagi-pagi dia sudah berada di kantor Reinald. “Kau datang lebih pagi, Hana.”Hana berhenti. “Kau sedang menungguku?”“Tidak secara khusus.” Karissa memainkan tali tas di tangannya. “Aku hanya ingin menemui Reinald.”Hana mengangguk kecil. “Kalau begitu, sebaiknya
Hana masih berdiri di dekat mejanya ketika pintu lift tertutup setelah Karissa pergi. Kalimat perempuan itu terus terngiang di kepalanya, terutama tentang bagaimana ia mengenal Reinald jauh sebelum Hana hadir dalam kehidupan pria itu.Ia berusaha mengabaikannya. Namun semakin ia mencoba, semakin banyak hal yang muncul di kepalanya.Cara Karissa memanggil nama Reinald. Cara perempuan itu menyentuh lengannya tanpa ragu. Dan juga cara Reinald terlihat begitu mengenal setiap gerak-geriknya.Semua terasa seperti potongan masa lalu yang tidak seharusnya berada di hadapan Hana, tetapi sekarang justru berdiri begitu nyata di antara mereka.Hana menarik napas panjang lalu kembali duduk. Ia membuka laptop, tetapi pikirannya tidak benar-benar tertuju pada pekerjaan. Beberapa kali ia membaca halaman yang sama tanpa memahami isinya, sampai akhirnya ia menutup dokumen tersebut dan menyandarkan tubuhnya pada kursi.Mungkin Karissa benar. Mungkin Hana memang belum mengenal Reinald sedalam itu. Dan m
Pagi ini Hana baru saja meletakkan tas di atas meja ketika suara langkah kaki terdengar dari arah lift. Ia menoleh sekilas dan mendapati Reinald berjalan keluar bersama Dimas. Pria tampan itu mengenakan setelan hitam yang membuat sosoknya terlihat semakin sulit didekati.Namun langkah Hana terhenti ketika seseorang muncul beberapa detik setelahnya.Karissa, perempuan itu berjalan dengan senyum yang begitu merekah. Seolah-olah keberadaannya di kantor Wijaya Group adalah sesuatu yang sudah biasa. Ketika pandangannya bertemu dengan Hana, senyumnya tidak menghilang dan justru semakin melebar sebelum akhirnya kembali mengarah pada Reinald.“Reinald, kau masih menyimpan kebiasaan berjalan terlalu cepat.” Suara Karissa terdengar lembut.Reinald berhenti dan menoleh. “Aku tidak tahu kau masih mengingatnya. Aku hanya tidak suka membuang-buang waktu.”Karissa tertawa kecil. “Aku mengingat banyak hal tentangmu. Kau juga begitu, kan?”Hana yang berdiri tidak jauh dari sana memilih untuk menunduk
Hana masih duduk di tempatnya ketika Reinald berjalan menjauh. Kalimat pria itu terus berputar di kepalanya, membuat jemarinya yang berada di atas meja bahkan tidak mampu kembali menyentuh keyboard.Hana menelan ludah. Ia tidak tahu mengapa satu kalimat itu bisa membuat jantungnya berdebar sedemikian keras, seolah-olah dirinya baru saja mendengar sesuatu yang selama ini diam-diam ingin ia dengar.Ia memaksa pandangannya kembali pada layar komputer. Namun huruf-huruf yang tersusun di hadapannya justru tampak semakin kabur karena pikirannya tidak lagi berada di sana.Hana mengembuskan napas panjang, lalu menyandarkan punggungnya pada kursi. Ia tidak seharusnya berharap.Hubungan mereka sejak awal bahkan tidak pernah dimulai dengan sesuatu yang jelas. Reinald adalah atasannya, sementara dirinya hanya seseorang yang kebetulan masuk ke dalam hidup pria itu setelah serangkaian kejadian yang tidak pernah mereka rencanakan.Tetapi belakangan ini semuanya berubah. Reinald menjemputnya setiap p
Hana menatap foto yang tergeletak di atas mejanya. Wajah Reinald di dalam gambar itu terlihat begitu berbeda dari pria yang selama ini ia kenal.Terlihat lebih muda, lebih ringan, dan memiliki senyum yang seolah tidak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun sejak Hana mengenalnya.Ada sesuatu yang terasa sakit ketika menyadari bahwa senyum itu pernah menjadi milik seseorang dan bukan miliknya.Hana mengangkat kepalanya dan menatap ke arah Karissa. Perempuan itu masih duduk dengan tenang di hadapannya, seakan sengaja membiarkan Hana mencerna setiap hal yang baru saja ia tunjukkan.“Aku tidak tahu kenapa kau menunjukkan semua ini padaku.”Karissa tersenyum tipis. “Karena kau perlu tahu bahwa Reinald bukan hanya pria dingin seperti yang mungkin kau lihat sekarang.”“Aku tidak pernah menganggapnya sebagai pria dingin.”“Baguslah.” Karissa mengambil kembali foto itu. “Berarti kau sudah mengenalnya cukup jauh.” Nada suaranya terdengar ringan, tetapi justru membuat Hana semakin tidak nyaman.Ka
Hana memperhatikan Karissa yang menghilang di balik pintu ruang Reinald. Jemarinya tetap bergerak di atas keyboard, tetapi sejak perempuan itu datang, tidak satu pun kalimat dalam laporan yang sedang dikerjakannya benar-benar masuk ke dalam pikirannya.Ia mencoba mengabaikan perasaan aneh yang sejak tadi mengganjal di dada. Bukankah Reinald memang memiliki kehidupan sebelum dirinya? Bukankah wajar jika seseorang dari masa lalu datang dan kembali mengambil sedikit ruang yang pernah menjadi miliknya?Hana menarik napas pelan, kemudian memaksa matanya kembali pada layar. Ia tidak ingin menjadi perempuan yang cemburu hanya karena melihat mantan kekasih seseorang datang ke kantor.Terlebih lagi, ia dan Reinald bahkan tidak memiliki hubungan yang jelas. Pikiran itu seharusnya membuatnya lega. Namun entah mengapa, justru terasa semakin menyakitkan.Beberapa menit berlalu dalam keheningan. Pintu ruangan pribadi Reinald masih tertutup. Setiap kali terdengar suara dari dalam, perhatian Hana ta







