Share

Bab 55 Mattheo

Penulis: Sasha S.Y
last update Tanggal publikasi: 2026-08-18 21:27:44

Hari ini.

Italia.

Entah kenapa setelah aku melihat bola mata hazelnya...

tanpa pikir panjang, aku bergegas memeluknya.

Entah kenapa jantungku berdegup begitu kencang ketika melihatnya berlari ke arahku.

Dan entah kenapa...

aku mencium bibirnya.

Untuk pertama kalinya.

Apa yang kulakukan?

Aku bergegas melepaskannya.

Matanya terbelalak menatapku.

“Apa yang kau lakukan barusan?” tanyanya lirih.

“Ehem... bagaimana keadaanmu?”

Ia mengerutkan kening.

“Jangan mengalihkan pembicaraan.”

Aku menghela napa
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Terjebak dalam Dunia Bellucci   Bab 55 Mattheo

    Hari ini.Italia.Entah kenapa setelah aku melihat bola mata hazelnya...tanpa pikir panjang, aku bergegas memeluknya.Entah kenapa jantungku berdegup begitu kencang ketika melihatnya berlari ke arahku.Dan entah kenapa...aku mencium bibirnya.Untuk pertama kalinya.Apa yang kulakukan?Aku bergegas melepaskannya.Matanya terbelalak menatapku.“Apa yang kau lakukan barusan?” tanyanya lirih.“Ehem... bagaimana keadaanmu?”Ia mengerutkan kening.“Jangan mengalihkan pembicaraan.”Aku menghela napas.“Kau baik-baik saja?”Ia mengangguk pelan.“Baik.”“Kau ke mana saja?”“Ada urusan yang tidak bisa kutinggalkan.”“Hanya itu?”“Iya.”“Lalu apa yang kau lakukan tadi?”Aku menatapnya.“Kau memukuliku.”“Iya. Itu karena kau pergi tanpa satu kabar pun.”“Dan aku kembali.”“Setelah dua bulan.”Aku terdiam.Aku tahu.Aku menghitungnya.Setiap hari.Namun aku tidak mengatakan apa pun.Mataku beralih kepada wanita yang berdiri di belakangnya.Wanita itu justru melebarkan senyumnya.Kemudian melamba

  • Terjebak dalam Dunia Bellucci   Bab 54 Mattheo

    Masa kini. Tiga Hari Sebelum Kepulangan ke Italia. “Apa yang sedang dia lakukan?”Aku menempelkan ponsel ke telinga.“Hmm, Donna sedang membaca buku, Don Mattheo,” jawab Anthonio dari ujung telepon.“Buku apa?”“Sepertinya novel.”“Sepertinya?”“Donna tidak memberitahunya. Hanya saja sampulnya pria dewasa yang tidak memakai baju.”Aku mengerutkan kening.“Lalu kau tidak bertanya?”“Kalau saya bertanya terlalu banyak, Donna akan curiga.”Aku diam.Benar juga.“Bagaimana kondisi wajahnya?”“Masih dalam proses pemulihan.”“Apakah lukanya sakit?”“Tidak separah sebelumnya.”“Dokter sudah memeriksanya?”“Belum datang.”Aku mengangguk pelan meskipun ia tidak bisa melihatku.“Kalau sudah datang, kabari aku.”“Baik, Don.”Aku hampir menutup telepon.Namun kembali teringat sesuatu.“Anthonio.”“Ya?”“Dia sudah makan?”“Sudah.”“Berapa banyak?”Anthonio terdiam beberapa detik.“Don Mattheo.”“Apa?”“Sudah tiga puluh menit yang lalu Anda menanyakan hal yang sama.”Aku menghela napas.“Aku hany

  • Terjebak dalam Dunia Bellucci   Bab 53 Mattheo

    Tiga tahun lalu. "Ini, Tuan. Bunga yang anda pesan." Aku menerima satu buket bunga lily yang dihias dengan cantik. "Terima kasih." "Wanita yang sangat beruntung," ucap penjual bunga itu. Aku hanya tersenyum tipis."Iya, dia sangat cantik." Aku membawa bunga itu keluar dari toko dan masuk ke dalam Rolls-Royce biruku.Dan meletakkan dengan hati-hati bunga itu di sisi penumpang sebelum menginjak pedal gas. Aku mengemudi di jalanan Los Angeles pada pagi hari itu. Sampai akhirnya tiba di salah satu hotel terbesar di negara itu. Aku mematikan mesin dan turun dari mobil sambil mempersiapkan semuanya, termasuk bunga yang sudah kubeli tadi. Aku merogoh saku jas-ku. Dan mengeluarkan satu buah kotak kecil dan membukanya. Sebuah cincin bertahta batu permata bertengger indah disana. "Malam ini, kau akan menjadi milikku, Angela." Aku melangkah memasuki lobi hotel itu. Lalu menekan tombol lift dan menunggunya. Ketika terbuka dan masuk, aku lalu menekan tombol angka 17. Tak berapa la

  • Terjebak dalam Dunia Bellucci   Bab 52 Mattheo

    “Mattheo!”Langkahku terhenti.Suara itu.Aku mengenalnya.Sayangnya, aku mengenalnya terlalu baik.Aku berbalik perlahan.Angela berdiri beberapa meter di belakangku.Ia mengenakan gaun hitam selutut yang dipadukan dengan mantel panjang berwarna gelap. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai, jatuh rapi di atas bahunya. Sebuah tas kecil menggantung di lengannya.Penampilannya tidak banyak berubah sejak terakhir kali aku melihatnya.Tetap anggun.Tetap cantik.Dan tetap membawa masalah.Senyumnya mengembang ketika mata kami bertemu.Senyum yang dulu pernah membuatku menunggu berjam-jam hanya untuk melihatnya.Sekarang justru membuatku ingin segera pergi.“Apa yang kau lakukan di sini?”Ia terkekeh.“Bukankah seharusnya kau mengatakan, ‘Aku merindukanmu, Angela’?”“Itu masa lalu.”“Masa lalu yang tidak bisa kita lupakan.”Aku mengembuskan napas pelan.“Kenapa kau berada di sini?”“Aku menyukai negara ini.”Aku menatapnya datar.“Aku tahu itu bukan alasan sesungguhnya.”Ia tersenyum.“Aku

  • Terjebak dalam Dunia Bellucci   Bab 51 Mattheo

    “Evelyn Laurent.”Bola mata hijaunya langsung membelalak.Untuk beberapa detik, wanita itu hanya menatapku.Seolah baru saja menemukan jawaban dari sesuatu yang selama ini dicarinya.“Kau mengenalnya?”“Kenal?”Ia menunjuk dirinya sendiri.“Aku sahabatnya!”Nada suaranya begitu antusias sampai beberapa orang yang berjalan di sekitar kami sempat menoleh.Aku mengernyitkan kening.“Sahabat?”“Iya!”Ia mengangguk cepat.“Teman dekatnya sejak sekolah.”Aku terdiam menatapnya.“Seberapa baik kau mengenalnya?”“Aku sangat dekat sekali dan mengenalnya dengan baik.”“Definisikan.”Kelly mengedipkan matanya.“Definisi?”“Ya.”Ia tampak berpikir sebentar.“Dia orang yang akan meneleponku tengah malam hanya karena tidak tahu harus memilih gaun warna hitam atau biru.”Aku masih diam.“Dia juga orang yang pernah datang ke apartemenku hanya karena ingin makan pasta.”Aku mengangkat alis.“Dan?”“Dan kami pernah mabuk bersama.”Aku menatapnya datar.“Aku rasa aku belum puas mendengarnya.”Kelly tert

  • Terjebak dalam Dunia Bellucci   Bab 50 Mattheo

    Paris selalu membuatku begitu sesak.Terlalu banyak suara.Terlalu banyak orang.Terlalu banyak pebisnis yang merasa mereka bisa membeli apa pun hanya karena memiliki cukup uang.Aku duduk di ujung meja konferensi dengan beberapa dokumen terbuka di hadapanku.Satu per satu orang di ruangan itu sudah menyampaikan pendapat mereka mengenai usulan perubahan sistem di Akademi Bellucci.Dan hampir semuanya sama.Menolak.“Proposal ini terlalu berisiko,” ujar salah seorang pria di hadapanku.“Akademi sudah berjalan puluhan tahun dengan sistem yang ada.”“Tidak ada alasan untuk mengubah sesuatu yang tidak rusak.”Aku menatapnya datar.“Tidak rusak?”Ia terdiam.Aku mengambil salah satu laporan dari atas meja.“Jumlah murid di bidang seni menurun hampir tiga puluh persen dalam tiga tahun terakhir.”Tidak ada yang menjawab.“Guru musik yang seharusnya menjadi pengajar utama j

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status