Share

Terjebak dalam Gurun Kebohongan
Terjebak dalam Gurun Kebohongan
Author: Sansan

Bab 1

Author: Sansan
Mobil Henry mengikuti taksiku dari belakang, pria itu mengedipkan lampu mobil dua kali.

Sopir menatapku dari kaca spion.

"Nona, mobil BMW di belakang terus mengikuti kita, apa dia temanmu?"

Aku mengusap darah di sudut bibirku.

"Bukan."

"Apa kita perlu mengecohnya?"

"Nggak perlu. Dia tahu aku mau ke mana."

Gedung apartemen ini masih sama, dengan iklan-iklan baru yang tertempel di dalam lift.

Aku menyeret koper sampai depan pintu, lalu mengeluarkan kunci.

Suara putaran kunci tidak sama seperti biasanya.

Pintu dibuka dari dalam.

Sandra mengenakan gaun tidur sutra, dia sedang menggendong seorang anak laki-laki yang berumur kira-kira tiga atau empat tahun.

Melihat kedatanganku, Sandra tertegun sesaat, kemudian dia tertawa.

"Kamu sudah pulang?"

Anak itu memeluk leher Sandra, lalu melihatku dengan rasa penasaran.

"Bu, siapa Bibi ini?"

"Bibi ini dulu tinggal di sini."

Sandra mengelus kepala anaknya, kemudian menatapku.

"Mau duduk di dalam? Henry bilang hari ini kamu pulang, tapi aku nggak menyangka kamu sampai secepat ini."

Aku melihat ke arah ruang tamu di belakangnya.

Ada foto pernikahan Henry dan Sandra yang dipasang di tembok, sofa sudah diganti, dan ada jemuran pakaian anak kecil di balkon.

"Di sini …."

"Rumahku." Sandra menyela, suaranya lembut.

"Lima tahun lalu memang rumahmu. Begitu Henry membeli rumah ini, dia menyuruhku tinggal di sini."

Roda koper tersangkut di celah pintu.

"Henry bilang, setelah kamu pergi ke Wilayah Saloka, kami akan menikah."

Anaknya mulai bosan, menggeliat sambil minta turun untuk bermain.

Sandra menurunkan anaknya, anak itu segera berlari ke kotak mainan di ruang tamu.

Sandra bersandar di kosen pintu dan menatapku.

"Kamu kurusan. Hidupmu di Wilayah Saloka sengsara, ya?"

Aku menggenggam gagang koper dengan erat.

"Henry nanti pulang nggak?"

"Nggak tahu."

Sandra mengangkat alis.

"Ngapain kamu cari Henry? Minta uang atau minta penjelasan?"

"Aku nggak minta apa-apa."

"Lalu, ngapain kamu pulang ke sini?"

Melihat wajah Sandra yang terawat, tiba-tiba aku merasa mual.

"Aku pulang …." Aku berusaha tetap tenang.

"Untuk mengambil barang-barangku."

Sandra tertawa.

"Memangnya kamu masih punya barang di sini? Semua pakaianmu sudah lama kubuang. Menurut Henry, buku-bukumu itu memakan tempat, jadi kujual. Oh ya, semua tanamanmu juga sudah mati."

Sandra terdiam sejenak, lalu menambahkan, "Aku sengaja nggak menyirami semua tanamanmu."

Aku berbalik dan menekan tombol lift.

Suara Sandra terdengar dari belakang.

"Linda, jangan memperburuk keadaan. Kamu sekarang nggak punya apa-apa, jadi nggak mungkin bisa mengalahkanku."

Pintu lift menutup.

Aku bersandar di dinding lift yang dingin, sambil memejamkan mata.

Lima tahun.

Kukira itu batu loncatan untuk karierku, ternyata itu adalah masa bulan madu mereka berdua.

...

Esok harinya, aku pergi ke kantor dan mengurus prosedur kepulangan pegawai mutasi.

Kak Fiona dari HRD melihatku, ekspresinya terlihat campur aduk.

"Linda, jabatanmu …."

"Aku tahu, jabatanku sudah ditempati Sandra …."

Aku menaruh koper di pojok.

"Nggak apa-apa, pindahkan aku ke jabatan biasa."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terjebak dalam Gurun Kebohongan   Bab 10

    Henry menangis histeris.Aku berbalik dan berjalan menuju ke gerbang keberangkatan, tanpa menoleh sedikit pun.Saat pesawat akan lepas landas, aku menerima pesan dari Henry.[Maafkan aku. Aku mencintaimu.]Setelah membaca pesan ini, teringat dia pernah bilang "aku sengaja memindahkanmu" dengan wajah dingin, aku pun langsung memblokir nomor kontaknya.Cinta?Pantaskah dia mengatakan cinta?Setelah kembali ke Wilayah Saloka, aku sepenuhnya fokus pada pekerjaan.Proyek baru berjalan lancar. Tim yang kupimpin berhasil mendapatkan penghargaan internasional.Dalam acara penghargaan, pembawa acara memperkenalkanku, "Ilmuwan muda ini bekerja selama lima tahun di lingkungan yang keras, dan berhasil membuat terobosan di bidang teknologi bagi negara."Terdengar suara tepuk tangan menggema di seluruh ruangan.Aku berpikir, inilah tujuan hidupku.Perusahaan Henry bangkrut.Ayahnya meninggal setelah terkena stroke. Sebelum meninggal, ayahnya masih memarahinya karena tidak berguna.Aku sedang melakuk

  • Terjebak dalam Gurun Kebohongan   Bab 9

    Kak Winda mengatakan lewat telepon."Semua orang di perusahaan mengatakan bahwa kamulah pakar teknologi yang sebenarnya, Sandra itu penipu."Aku masih terdiam.Reputasi Sandra benar-benar hancur.Dia membanting barang di rumah, lalu berteriak kepada Henry, "Semua gara-gara kamu! Kamu yang menghancurkan hidupku! Kalau bukan kamu yang menyuruhku melakukannya, kejadian hari ini nggak akan terjadi!"Henry baru sadar, ternyata dirinya juga bagian dari rencana Sandra.Sandra sejak awal hanya memanfaatkannya untuk naik jabatan, sedangkan anak itu adalah anak kandung Sandra dan Heru. Sandra hanya butuh seseorang untuk dijadikan kambing hitam.Ibu Henry, yaitu Nyonya Frida menemukan keberadaanku.Aku mendengar suara tangisannya dari balik pintu."Linda, aku tahu kami bersalah padamu, tapi Henry juga ditipu. Hidupnya selama lima tahun ini juga menderita."Nyonya Frida berlutut di luar."Kumohon, ampuni keluarga kami. Suamiku marah sampai terkena stroke, sekarang dirawat di rumah sakit …."Aku te

  • Terjebak dalam Gurun Kebohongan   Bab 8

    Dalam beberapa email itu, Henry juga membalas.[Ubah sesuai pendapat Sandra, hasilnya menjadi milik bersama.]"Milik bersama?" Aku tersenyum sinis."Bu Linda, kami merasa Anda diperlakukan nggak adil," ucap Martin."Anda yang mati-matian bekerja, justru dia yang mendapat pengakuan."Aku menyalin semua email itu. Saat pergi, Martin mengejarku."Bu Linda, hati-hati. Keluarga Suwandi merupakan keluarga berpengaruh di kota ini.Aku mengangguk.Yang paling ironis, aku menemukan fakta bahwa anak kedua Sandra juga bukan anak kandung Henry.Perawat di rumah sakit Sandra adalah istri dari rekan kerjaku di Wilayah Saloka. Dia yang diam-diam memberitahuku, "Saat Sandra hamil, sering ada seorang pria menemuinya. Pria itu memakai kacamata dan terlihat sopan. Aku pernah dengar mereka bilang, setelah mendapatkan kekayaan Keluarga Suwandi, mereka akan kabur."Dia mengeluarkan sebuah foto yang buram.Itu adalah tangkapan layar dari kamera pengawas di tempat parkir. Pria itu terlihat dari samping, tetap

  • Terjebak dalam Gurun Kebohongan   Bab 7

    Tidak ada informasi pengirimnya.Paket itu kubuka, isinya adalah hasil Tes DNA.Instansi pemeriksa adalah RSUD, pemeriksaan dilakukan lima tahun lalu.[Sampel Pemeriksaan: Henry (terduga ayah) dan Rio (anak).][Kesimpulan: Tingkat kecocokan DNA sebesar 0%, tidak memiliki hubungan biologis ayah-anak.]Aku tertegun.Anak yang menjadi alasan Henry memilih Sandra, ternyata bukan anak kandungnya.Aku membalik halaman terakhir dengan tangan gemetar. [Tanda Tangan Pemeriksa: Juan Wongso]Nama ini tidak asing bagiku, dia adalah Mantan Kepala Departemen Genetika RSUD.Aku mendapatkan alamatnya dari kenalan lamaku.Setelah pintu rumah dibuka, aku langsung menyampaikan maksud kedatanganku. Melihat kedatanganku, dia langsung mengalihkan pandangan."Nona Linda, aku nggak bisa membantumu."Dia hendak menutup pintu. Aku menahan pintu dengan kaki."Dokter Juan, aku hanya ingin tahu kebenarannya."Dia menghela napas, lalu mengizinkanku masuk.Aku duduk di sofa, dia menuangkan segelas air untukku.Tanga

  • Terjebak dalam Gurun Kebohongan   Bab 6

    Dia duduk di kursi roda, selimut menyelimuti lututnya, dan dia membaca buku dengan kepala tertunduk.Wajah sampingnya tampak tirus, tetapi tatapannya lembut.Saat berjalan lewat sampingnya, dia mendongak melihatku."Kamu juga periksa?" Dia tanya.Langkahku terhenti."Ya."Dia tertawa. "Aku sudah enam bulan dirawat, tapi baru pertama lihat kamu."Dia menutup buku berjudul "Bertahan"."Namaku Gwen Wijaya," katanya."Dulu, aku seorang guru piano."Aku melihat bagian celana di kaki kanannya menggantung kosong, tetapi aku tidak berani bertanya.Dia juga tidak mempermasalahkannya, lalu melanjutkan bicara, "Aku mengalami kecelakaan dua tahun lalu, salah satu kakiku harus diamputasi. Suamiku kabur dengan wanita lain, aku juga kehilangan pekerjaan."Dia menceritakannya dengan santai, seolah sedang menceritakan kisah orang lain."Saat kondisiku terpuruk, aku ingin mengakhiri hidup."Dia menunjuk ke buku."Lalu, aku baca buku ini. Saat baca bagian tokoh utama tetap memilih hidup walaupun seluruh

  • Terjebak dalam Gurun Kebohongan   Bab 5

    Dalam waktu tiga bulan, berat badanku turun banyak.Udara lembap kota kecil di selatan terasa di kulitku. Kamar kecil yang kusewa berada di lantai enam dan tanpa lift.Setiap naik tangga, napasku selalu terengah-engah.Sebuah cermin tergantung di belakang pintu. Aku melihat sosok bayangan di dalam cermin, seorang wanita berambut pendek dan berantakan, tulang pipi menonjol, dan lingkaran mata di bawah mata.Aku sudah tidak mengenalinya lagi.Penyewa rumah sangat baik hati. Setiap melihatku bekerja sebagai penerjemah setiap hari, dia sering membawakanku sepiring sup."Nona, jangan terlalu lelah," katanya.Aku berterima kasih, lalu kembali menghadap komputer dan mengetik.Obat tidurku yang awalnya satu tablet, lama-lama jadi dua, lalu harus tiga tablet baru bisa tidur beberapa jam.Mimpiku selalu pemandangan di padang gurun, panasnya menyengat wajahku.Begitu bangun, bantalku sudah basah.Sorenya, setelah selesai menerjemahkan sebuah dokumen, aku langsung terkapar di atas meja.Ponsel ber

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status