LOGIN
Henry menangis histeris.Aku berbalik dan berjalan menuju ke gerbang keberangkatan, tanpa menoleh sedikit pun.Saat pesawat akan lepas landas, aku menerima pesan dari Henry.[Maafkan aku. Aku mencintaimu.]Setelah membaca pesan ini, teringat dia pernah bilang "aku sengaja memindahkanmu" dengan wajah dingin, aku pun langsung memblokir nomor kontaknya.Cinta?Pantaskah dia mengatakan cinta?Setelah kembali ke Wilayah Saloka, aku sepenuhnya fokus pada pekerjaan.Proyek baru berjalan lancar. Tim yang kupimpin berhasil mendapatkan penghargaan internasional.Dalam acara penghargaan, pembawa acara memperkenalkanku, "Ilmuwan muda ini bekerja selama lima tahun di lingkungan yang keras, dan berhasil membuat terobosan di bidang teknologi bagi negara."Terdengar suara tepuk tangan menggema di seluruh ruangan.Aku berpikir, inilah tujuan hidupku.Perusahaan Henry bangkrut.Ayahnya meninggal setelah terkena stroke. Sebelum meninggal, ayahnya masih memarahinya karena tidak berguna.Aku sedang melakuk
Kak Winda mengatakan lewat telepon."Semua orang di perusahaan mengatakan bahwa kamulah pakar teknologi yang sebenarnya, Sandra itu penipu."Aku masih terdiam.Reputasi Sandra benar-benar hancur.Dia membanting barang di rumah, lalu berteriak kepada Henry, "Semua gara-gara kamu! Kamu yang menghancurkan hidupku! Kalau bukan kamu yang menyuruhku melakukannya, kejadian hari ini nggak akan terjadi!"Henry baru sadar, ternyata dirinya juga bagian dari rencana Sandra.Sandra sejak awal hanya memanfaatkannya untuk naik jabatan, sedangkan anak itu adalah anak kandung Sandra dan Heru. Sandra hanya butuh seseorang untuk dijadikan kambing hitam.Ibu Henry, yaitu Nyonya Frida menemukan keberadaanku.Aku mendengar suara tangisannya dari balik pintu."Linda, aku tahu kami bersalah padamu, tapi Henry juga ditipu. Hidupnya selama lima tahun ini juga menderita."Nyonya Frida berlutut di luar."Kumohon, ampuni keluarga kami. Suamiku marah sampai terkena stroke, sekarang dirawat di rumah sakit …."Aku te
Dalam beberapa email itu, Henry juga membalas.[Ubah sesuai pendapat Sandra, hasilnya menjadi milik bersama.]"Milik bersama?" Aku tersenyum sinis."Bu Linda, kami merasa Anda diperlakukan nggak adil," ucap Martin."Anda yang mati-matian bekerja, justru dia yang mendapat pengakuan."Aku menyalin semua email itu. Saat pergi, Martin mengejarku."Bu Linda, hati-hati. Keluarga Suwandi merupakan keluarga berpengaruh di kota ini.Aku mengangguk.Yang paling ironis, aku menemukan fakta bahwa anak kedua Sandra juga bukan anak kandung Henry.Perawat di rumah sakit Sandra adalah istri dari rekan kerjaku di Wilayah Saloka. Dia yang diam-diam memberitahuku, "Saat Sandra hamil, sering ada seorang pria menemuinya. Pria itu memakai kacamata dan terlihat sopan. Aku pernah dengar mereka bilang, setelah mendapatkan kekayaan Keluarga Suwandi, mereka akan kabur."Dia mengeluarkan sebuah foto yang buram.Itu adalah tangkapan layar dari kamera pengawas di tempat parkir. Pria itu terlihat dari samping, tetap
Tidak ada informasi pengirimnya.Paket itu kubuka, isinya adalah hasil Tes DNA.Instansi pemeriksa adalah RSUD, pemeriksaan dilakukan lima tahun lalu.[Sampel Pemeriksaan: Henry (terduga ayah) dan Rio (anak).][Kesimpulan: Tingkat kecocokan DNA sebesar 0%, tidak memiliki hubungan biologis ayah-anak.]Aku tertegun.Anak yang menjadi alasan Henry memilih Sandra, ternyata bukan anak kandungnya.Aku membalik halaman terakhir dengan tangan gemetar. [Tanda Tangan Pemeriksa: Juan Wongso]Nama ini tidak asing bagiku, dia adalah Mantan Kepala Departemen Genetika RSUD.Aku mendapatkan alamatnya dari kenalan lamaku.Setelah pintu rumah dibuka, aku langsung menyampaikan maksud kedatanganku. Melihat kedatanganku, dia langsung mengalihkan pandangan."Nona Linda, aku nggak bisa membantumu."Dia hendak menutup pintu. Aku menahan pintu dengan kaki."Dokter Juan, aku hanya ingin tahu kebenarannya."Dia menghela napas, lalu mengizinkanku masuk.Aku duduk di sofa, dia menuangkan segelas air untukku.Tanga
Dia duduk di kursi roda, selimut menyelimuti lututnya, dan dia membaca buku dengan kepala tertunduk.Wajah sampingnya tampak tirus, tetapi tatapannya lembut.Saat berjalan lewat sampingnya, dia mendongak melihatku."Kamu juga periksa?" Dia tanya.Langkahku terhenti."Ya."Dia tertawa. "Aku sudah enam bulan dirawat, tapi baru pertama lihat kamu."Dia menutup buku berjudul "Bertahan"."Namaku Gwen Wijaya," katanya."Dulu, aku seorang guru piano."Aku melihat bagian celana di kaki kanannya menggantung kosong, tetapi aku tidak berani bertanya.Dia juga tidak mempermasalahkannya, lalu melanjutkan bicara, "Aku mengalami kecelakaan dua tahun lalu, salah satu kakiku harus diamputasi. Suamiku kabur dengan wanita lain, aku juga kehilangan pekerjaan."Dia menceritakannya dengan santai, seolah sedang menceritakan kisah orang lain."Saat kondisiku terpuruk, aku ingin mengakhiri hidup."Dia menunjuk ke buku."Lalu, aku baca buku ini. Saat baca bagian tokoh utama tetap memilih hidup walaupun seluruh
Dalam waktu tiga bulan, berat badanku turun banyak.Udara lembap kota kecil di selatan terasa di kulitku. Kamar kecil yang kusewa berada di lantai enam dan tanpa lift.Setiap naik tangga, napasku selalu terengah-engah.Sebuah cermin tergantung di belakang pintu. Aku melihat sosok bayangan di dalam cermin, seorang wanita berambut pendek dan berantakan, tulang pipi menonjol, dan lingkaran mata di bawah mata.Aku sudah tidak mengenalinya lagi.Penyewa rumah sangat baik hati. Setiap melihatku bekerja sebagai penerjemah setiap hari, dia sering membawakanku sepiring sup."Nona, jangan terlalu lelah," katanya.Aku berterima kasih, lalu kembali menghadap komputer dan mengetik.Obat tidurku yang awalnya satu tablet, lama-lama jadi dua, lalu harus tiga tablet baru bisa tidur beberapa jam.Mimpiku selalu pemandangan di padang gurun, panasnya menyengat wajahku.Begitu bangun, bantalku sudah basah.Sorenya, setelah selesai menerjemahkan sebuah dokumen, aku langsung terkapar di atas meja.Ponsel ber







