Share

Bab 2

Author: Sansan
Kak Fiona menghela napas, membuka arsipku di komputer.

"Di dalam arsipmu tertulis bahwa selama lima tahun kamu bekerja di Wilayah Saloka, kamu secara sukarela membantu pembangunan di wilayah perbatasan, menghadapi berbagai kondisi sulit, dan berhasil menyelesaikan pekerjaanmu dengan sempurna."

"Benar sekali."

"Tapi …." Kak Fiona merendahkan suaranya.

"Untuk tiga proyek yang kamu pimpin … dalam laporan tertulis, kontributor utamanya adalah Sandra Owen."

Aku tertegun.

"Mana mungkin? Itu hasil kerjaku …."

"Kamu sudah menandatangani surat persetujuannya."

Kak Fiona membuka sebuah dokumen, lalu menunjukkannya padaku.

"Lihatlah, ini surat persetujuan yang kamu tanda tangan lima tahun lalu. Kamu setuju bahwa hasil proyek ini akan menjadi hasil bersama tim."

Ini memang tanda tanganku.

Namun, aku tidak ingat pernah tanda tangan surat persetujuan ini.

"Karena saat itu kamu terburu-buru pergi, banyak dokumen yang diurus oleh Pak Henry."

Kak Fiona tampak ragu untuk mengatakannya.

"Linda, ada beberapa hal .… Ah, sudahlah, pergilah ke meja kerjamu."

Meja kerjaku berada di sebelah mesin printer pojok ruangan, banyak barang berantakan di atas meja itu.

Beberapa rekan kerja lewat di sampingku, beberapa pura-pura tidak melihatku, tetapi ada juga yang menyapaku dengan menganggukkan kepala.

Hanya Kak Winda yang menghampiriku, lalu berbisik, "Kenapa kamu pulang?"

"Proyek selesai."

"Lalu kamu …."

Kak Winda melirik ke ruangan Sandra.

"Hati-hati. Sandra sekarang menjabat sebagai manajer, Pak Henry juga adalah suaminya."

Aku menaruh tas.

"Aku tahu."

Sorenya, ponselku berbunyi.

Nomor Henry.

Aku tidak angkat.

Pria itu menghubungiku lagi, tiga kali berturut-turut.

Panggilan keempat kalinya baru kuangkat.

"Linda, ayo kita bicara."

"Nggak ada yang perlu kita bicarakan."

"Sandra sedang hamil anak kedua. Dokter bilang kandungannya belum kuat, jadi dia nggak boleh sampai stres."

Suaranya terdengar lelah.

"Boleh nggak … jangan muncul di hadapan kami sementara waktu?"

Terdengar suara anak kecil di seberang telepon.

"Ayah, Ibu muntah!"

"Ya, Ayah segera datang."

Henry buru-buru berkata, "Itu saja. Anggap saja aku memohon padamu."

Telepon ditutup.

Aku menatap layar ponsel, mengingat kejadian lima tahun lalu.

Pada hari aku dapat surat perintah mutasi, aku menghubungi Henry sambil menangis.

Pria itu berkata, "Tunggu ya, aku hampir sampai."

Lalu, Henry memelukku sambil berkata, "Pergilah, anggap saja ini sebagai pelatihan. Aku tunggu kamu pulang, lalu kita menikah."

Hari itu aku mencium aroma parfum di tubuhnya, tetapi bukan parfum yang biasa dia pakai.

Sekarang aku tahu, ternyata itu aroma parfum Sandra.

Aku pergi ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan kesehatan menyeluruh.

Dokter melihat hasil pemeriksaan, alisnya berkerut.

"Nona Linda, kondisi Anda …."

"Katakan saja, Dok."

"Anda mengalami Endometriosis, fungsi ovarium Anda mengalami penurunan serius."

Dokter membetulkan posisi kacamatanya.

"Peluang hamil nol."

Aku menggenggam hasil laporan pemeriksaan erat-erat, hingga pinggiran kertas melukai tanganku.

"Apa karena faktor lingkungan kerja?"

"Beban kerja yang tinggi selama bertahun-tahun, tekanan berat, ditambah lagi cuaca di Wilayah Saloka ...."

Dokter terdiam sejenak.

"Anda masih muda. Jika mulai perawatan sekarang, mungkin masih ada kesempatan."

Aku keluar dari ruang dokter, di lorong rumah sakit terlihat ada beberapa ibu hamil sedang duduk.

Mereka mengelus perut, wajah mereka sangat bahagia.

Ada suami yang berlutut, mendengarkan gerakan janin di dalam perut istrinya.

Aku memiringkan tubuh saat berjalan melewati mereka, lalu mendorong pintu tangga darurat.

Tidak ada orang di ruang tangga darurat.

Aku berjongkok, menyembunyikan wajahku di antara kedua lutut.

Tidak boleh menangis.

Menangis artinya kalah.

...

Tiga hari kemudian, tibalah pesta tahunan perusahaan.

Aku awalnya tidak mau hadir, tetapi Kak Winda berkata, "Kamu ini karyawan lama, harus hadir."

Aku mengenakan gaun hitam dan berdiri di pojok ruangan.

Lampu sangat terang benderang, alunan musik sangat keras.

Henry masuk sambil menggandeng Sandra, semua orang mengerumuni mereka.

"Pak Henry, Bu Sandra, selamat!"

"Punya anak kedua merupakan suatu berkah!"

Sandra tersenyum sambil mengucapkan terima kasih, tangannya terus mengelus perut.

Henry memeluk pinggangnya, menunduk sambil menatap Sandra dengan lembut.

Seseorang melihatku, dia memanyunkan bibir.

Orang-orang itu langsung hening sejenak, lalu kembali ramai.

Sandra menghampiriku dengan perut buncitnya.

"Linda, lama nggak jumpa!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terjebak dalam Gurun Kebohongan   Bab 10

    Henry menangis histeris.Aku berbalik dan berjalan menuju ke gerbang keberangkatan, tanpa menoleh sedikit pun.Saat pesawat akan lepas landas, aku menerima pesan dari Henry.[Maafkan aku. Aku mencintaimu.]Setelah membaca pesan ini, teringat dia pernah bilang "aku sengaja memindahkanmu" dengan wajah dingin, aku pun langsung memblokir nomor kontaknya.Cinta?Pantaskah dia mengatakan cinta?Setelah kembali ke Wilayah Saloka, aku sepenuhnya fokus pada pekerjaan.Proyek baru berjalan lancar. Tim yang kupimpin berhasil mendapatkan penghargaan internasional.Dalam acara penghargaan, pembawa acara memperkenalkanku, "Ilmuwan muda ini bekerja selama lima tahun di lingkungan yang keras, dan berhasil membuat terobosan di bidang teknologi bagi negara."Terdengar suara tepuk tangan menggema di seluruh ruangan.Aku berpikir, inilah tujuan hidupku.Perusahaan Henry bangkrut.Ayahnya meninggal setelah terkena stroke. Sebelum meninggal, ayahnya masih memarahinya karena tidak berguna.Aku sedang melakuk

  • Terjebak dalam Gurun Kebohongan   Bab 9

    Kak Winda mengatakan lewat telepon."Semua orang di perusahaan mengatakan bahwa kamulah pakar teknologi yang sebenarnya, Sandra itu penipu."Aku masih terdiam.Reputasi Sandra benar-benar hancur.Dia membanting barang di rumah, lalu berteriak kepada Henry, "Semua gara-gara kamu! Kamu yang menghancurkan hidupku! Kalau bukan kamu yang menyuruhku melakukannya, kejadian hari ini nggak akan terjadi!"Henry baru sadar, ternyata dirinya juga bagian dari rencana Sandra.Sandra sejak awal hanya memanfaatkannya untuk naik jabatan, sedangkan anak itu adalah anak kandung Sandra dan Heru. Sandra hanya butuh seseorang untuk dijadikan kambing hitam.Ibu Henry, yaitu Nyonya Frida menemukan keberadaanku.Aku mendengar suara tangisannya dari balik pintu."Linda, aku tahu kami bersalah padamu, tapi Henry juga ditipu. Hidupnya selama lima tahun ini juga menderita."Nyonya Frida berlutut di luar."Kumohon, ampuni keluarga kami. Suamiku marah sampai terkena stroke, sekarang dirawat di rumah sakit …."Aku te

  • Terjebak dalam Gurun Kebohongan   Bab 8

    Dalam beberapa email itu, Henry juga membalas.[Ubah sesuai pendapat Sandra, hasilnya menjadi milik bersama.]"Milik bersama?" Aku tersenyum sinis."Bu Linda, kami merasa Anda diperlakukan nggak adil," ucap Martin."Anda yang mati-matian bekerja, justru dia yang mendapat pengakuan."Aku menyalin semua email itu. Saat pergi, Martin mengejarku."Bu Linda, hati-hati. Keluarga Suwandi merupakan keluarga berpengaruh di kota ini.Aku mengangguk.Yang paling ironis, aku menemukan fakta bahwa anak kedua Sandra juga bukan anak kandung Henry.Perawat di rumah sakit Sandra adalah istri dari rekan kerjaku di Wilayah Saloka. Dia yang diam-diam memberitahuku, "Saat Sandra hamil, sering ada seorang pria menemuinya. Pria itu memakai kacamata dan terlihat sopan. Aku pernah dengar mereka bilang, setelah mendapatkan kekayaan Keluarga Suwandi, mereka akan kabur."Dia mengeluarkan sebuah foto yang buram.Itu adalah tangkapan layar dari kamera pengawas di tempat parkir. Pria itu terlihat dari samping, tetap

  • Terjebak dalam Gurun Kebohongan   Bab 7

    Tidak ada informasi pengirimnya.Paket itu kubuka, isinya adalah hasil Tes DNA.Instansi pemeriksa adalah RSUD, pemeriksaan dilakukan lima tahun lalu.[Sampel Pemeriksaan: Henry (terduga ayah) dan Rio (anak).][Kesimpulan: Tingkat kecocokan DNA sebesar 0%, tidak memiliki hubungan biologis ayah-anak.]Aku tertegun.Anak yang menjadi alasan Henry memilih Sandra, ternyata bukan anak kandungnya.Aku membalik halaman terakhir dengan tangan gemetar. [Tanda Tangan Pemeriksa: Juan Wongso]Nama ini tidak asing bagiku, dia adalah Mantan Kepala Departemen Genetika RSUD.Aku mendapatkan alamatnya dari kenalan lamaku.Setelah pintu rumah dibuka, aku langsung menyampaikan maksud kedatanganku. Melihat kedatanganku, dia langsung mengalihkan pandangan."Nona Linda, aku nggak bisa membantumu."Dia hendak menutup pintu. Aku menahan pintu dengan kaki."Dokter Juan, aku hanya ingin tahu kebenarannya."Dia menghela napas, lalu mengizinkanku masuk.Aku duduk di sofa, dia menuangkan segelas air untukku.Tanga

  • Terjebak dalam Gurun Kebohongan   Bab 6

    Dia duduk di kursi roda, selimut menyelimuti lututnya, dan dia membaca buku dengan kepala tertunduk.Wajah sampingnya tampak tirus, tetapi tatapannya lembut.Saat berjalan lewat sampingnya, dia mendongak melihatku."Kamu juga periksa?" Dia tanya.Langkahku terhenti."Ya."Dia tertawa. "Aku sudah enam bulan dirawat, tapi baru pertama lihat kamu."Dia menutup buku berjudul "Bertahan"."Namaku Gwen Wijaya," katanya."Dulu, aku seorang guru piano."Aku melihat bagian celana di kaki kanannya menggantung kosong, tetapi aku tidak berani bertanya.Dia juga tidak mempermasalahkannya, lalu melanjutkan bicara, "Aku mengalami kecelakaan dua tahun lalu, salah satu kakiku harus diamputasi. Suamiku kabur dengan wanita lain, aku juga kehilangan pekerjaan."Dia menceritakannya dengan santai, seolah sedang menceritakan kisah orang lain."Saat kondisiku terpuruk, aku ingin mengakhiri hidup."Dia menunjuk ke buku."Lalu, aku baca buku ini. Saat baca bagian tokoh utama tetap memilih hidup walaupun seluruh

  • Terjebak dalam Gurun Kebohongan   Bab 5

    Dalam waktu tiga bulan, berat badanku turun banyak.Udara lembap kota kecil di selatan terasa di kulitku. Kamar kecil yang kusewa berada di lantai enam dan tanpa lift.Setiap naik tangga, napasku selalu terengah-engah.Sebuah cermin tergantung di belakang pintu. Aku melihat sosok bayangan di dalam cermin, seorang wanita berambut pendek dan berantakan, tulang pipi menonjol, dan lingkaran mata di bawah mata.Aku sudah tidak mengenalinya lagi.Penyewa rumah sangat baik hati. Setiap melihatku bekerja sebagai penerjemah setiap hari, dia sering membawakanku sepiring sup."Nona, jangan terlalu lelah," katanya.Aku berterima kasih, lalu kembali menghadap komputer dan mengetik.Obat tidurku yang awalnya satu tablet, lama-lama jadi dua, lalu harus tiga tablet baru bisa tidur beberapa jam.Mimpiku selalu pemandangan di padang gurun, panasnya menyengat wajahku.Begitu bangun, bantalku sudah basah.Sorenya, setelah selesai menerjemahkan sebuah dokumen, aku langsung terkapar di atas meja.Ponsel ber

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status